Pemerintah Naikkan Insentif Tim Nusantara Sehat

11mei

11meiKementerian Kesehatan (Kemkes) menaikkan penghasilan pokok dan insentif bagi para dokter dan tenaga kesehatan yang tergabung dalam Tim Nusantara Sehat (NS). Kenaikan itu diharapkan dapat menjadi stimulus bagi para dokter dan tenaga kesehatan untuk ditempatkan di daerah terpencil.

“Pada tahun kedua ini, tim NS akan berangkat akhir Mei 2016 sebanyak 38 tim, mencakup 196 dokter dan tenaga kesehatan,” kata Sekjen Kemkes, Untung Suseno Sutarjo usai penandatanganan memorandum of understanding (MoU) dengan 27 bupati daerah tertinggal, perbatasan dan kepulauan (DTPK) terkait program NS, di Jakarta, Rabu (11/5).

Dijelaskan, MoU dengan kepala daerah dilakukan guna menjamin keselamatan dan keamanan tenaga kesehatan penugasan khusus berbasis tim. Selain menyediakan sarana, prasarana dan fasilitas tempat tinggal yang layak bagi tenaga kesehatan.

“Pemerintah juga akan menerbitkan Surat Izin Praktik (SIP) untuk mereka sesuai dengan peraturan perundang-undangan,” ujar Untung.

Ditambahkan, program yang dilaksanakan sejak 2015 lalu itu telah sebanyak 696 tenaga kesehatan yang tersebar lebih dari 100 Puskesmas di 14 provinsi. Tim diberangkatkan dalam dua tahap pada Juni dan Oktober.

“Tahun ini, 38 tim NS pada tahap pertama akan berangkat 194 tenaga kesehatan. Mereka akan bekerja di 38 Puskesmas yang tersebar di 25 Kabupaten DTPK,” katanya.

Tim NS adalah tenaga kesehatan dengan beragam keahlian mulai dari dokter, dokter gigi, perawat, bidan, tenaga kesehatan masyarakat, tenaga kesehatan lingkungan, analisis laboratorium, tenaga gizi dan tenaga kefarmasian.

Pelaksanaan program NS melalui 6 tahap yaitu survey dan penentuan lokasi, seleksi online dan penilaian langsung, hingga pelatihan pembekalan peserta sebelum berangkat. Mereka akan menjalani tugas selama 2 tahun.

Tentang penghasilan dan insentif bagi tim NS tahun ini ada kenaikan yang cukup signifikan. Untung Suseno menyebutkan untuk profesi dokter umum/gigi diberikan Tim NS Rp11,1 juta, dan Rp9,6 juta untuk S1 profesi selain dokter umum/gigi.

Ditambahkan, untuk lulusan S1 dan diploma IV diberikan sebesar Rp7,9 juta serta dana Rp 6,2 juta bagi lulusan diploma III kesehatan lainnya. “Penghasilan tim NS tahun ini lebih besar dibanding tahun 2015 lalu yang diberikan sebesar Rp 4,4 juta hingga Rp7,8 juta,” ucap Untung menegaskan. (TW)

 

Report Calls for Sustained Funding for Global Health Emergencies

The United States remains by far the most important source of funds for medical research and development for scores of diseases well-known to the developing world.

According to the latest available data from the independent research group Policy Cures, global donors contributed over $2 billion in public funding for research into what the medical community calls neglected diseases. The U.S. government accounted for over 70 percent of the amount.

But a new report from the Global Health Technologies Coalition, a group of nonprofits that promotes creation of vaccines and other tools to improve global health, says that over the past five years, funding has largely been flat. This is in contrast to the first decade of the 21st century, which saw a doubling of financial support.

Budget sequestration

“We have seen a decline or stagnation in funding since 2009, and I think one of the biggest reasons for that is the budget sequestration in the U.S. government in 2013,” said Erin Will Morton, GHTC executive director. “It really was detrimental for agency funding across the board and certainly made global health R&D take a hit in terms of funding levels.”

Usually, U.S. administrations make yearly budgetary requests to Congress for funds for global health programs. In other cases, emergency requests are made. Critics say the amounts granted often fall short of what’s needed to ensure the development of drugs and other health products, especially for fast-breaking pandemics.

Recently, the White House announced it might divert funding for controlling Ebola to fighting the spread of the Zika virus. Morton said that’s a bad idea.

“We are not in the clear with Ebola,” she said. “We still don’t have the tools we need to fight [it], and so we risk a lot by moving that money to fight the next public health crisis. Zika happened very shortly after Ebola and we weren’t necessarily finished with that, and we don’t know what’s coming next. Moving funds around from one public health crisis to the next is an unsustainable way to address global health issues.”

R&D incentives

The GHTC report asks the U.S. government to encourage private sector involvement in R&D with prizes, small-business innovation awards, tax credits and other incentives. It also recommends improved cooperation among the seven U.S. agencies involved in global health.

“Getting those agencies to work closely together is an effective strategy for better using the dollars that we do have,” Morton said. “So it doesn’t always have to be about new money, but better using the money we have. We saw this in the response to Ebola … where there was great coordination” by federal agencies to solicit new innovations to help stop the outbreak.

Morton said the government could work with middle-income countries like Brazil, India and South Africa to enhance their own R&D efforts. The U.S. Food and Drug Administration could provide scientific guidance to regulatory authorities as they review health products. Morton said the FDA could also help boost the regulatory capacity needed by lower- and middle-income countries seeking to adopt new medical technologies.

“The regulatory authorities that oversee new products and drugs in any country are crucial in protecting citizens from adverse effects from tools or technologies that are not safe,” she said. “Those guidelines or restrictions can be different from country to country,” so it’s a matter of “making sure the regulatory authorities are able to understand the populations within the country and then the tools, drugs, diagnostics that will be used by those populations and communities.”

New medications

The GHTC report says U.S. investment has helped develop a pipeline of 500 tools that could be effective in treating neglected diseases. They include new medications for malaria, tuberculosis and Ebola, a microbicide ring for preventing the transmission of HIV/AIDS, and a new class of antibiotics for drug-resistant diseases.

The cost of developing new global health products will most likely increase as they go from laboratory testing to clinical trials. Now is not the time, Morton said, to pull back U.S. investments and put that arc of progress at risk.

http://www.voanews.com/

 

PROGRAM IMUNISASI: Mencari Solusi Pemerataan Vaksin Di Indonesia

Tiga tahun lalu, Soesi bermimpi dapat memberikan kehidupan yang lebih layak untuk putra semata wayang-nya yang baru lahir dengan hijrah ke Jakarta. Dalam bayangannya, hidup di Ibukota akan melepaskannya dari jerat kemiskinan di kampung halamannya di Jawa Tengah.

Pekerjaan sebagai tukang cuci-setrika dan asisten rumah tangga di sebuah rumah kos pun dilakoninya agar bisa terus menyuapi anaknya, Najwa. Si kecil yang kini menginjak usia tiga tahun kerap ditinggal sen-diri saat ibunya sedang bekerja.

Kesibukan tak jarang membuat Soesi lupa akan kebutuhan dasar balitanya akan imunisasi. Di benaknya, dia berpikir ‘Tak perlulah kontrol rutin ke Puskesmas atau Posyandu, toh anakku sehat-sehat saja sejauh ini; usianya sudah menginjak 3 tahun.’

Menurutnya, kelengkapan vaksinasi bukan hal yang harus dirisau-kan. Lebih penting baginya untuk mencari uang agar perut anaknya bisa kenyang setiap hari dan kelak, bila sudah waktunya, bisa masuk sekolah. “Biaya sekolah mahal. Mikirin itu saja susah,” kesahnya.

Soesi hanyalah secarik guntingan potret sebagian orang tua di Indonesia yang belum menyadari pentingnya imunisasi bagi buah hati mereka. Vaksin dan imunisasi, oleh sebagian kalangan, belum dinilai sebagai ‘investasi’ bagi masa depan tumbuh kembang jasmani anak.

United Nations Children’s Emergency Fund (Unicef) bahkan menempatkan Indonesia pada posisi keenam sebagai negara yang memiliki jumlah terbanyak bayi yang tidak divaksinasi atau belum mendapatkan imunisasi lengkap.

Di republik ini, setiap tahunnya ada sekitar 700.000 bayi yang tidak menerima layanan imunisasi. Ironisnya, banyak di antara mereka justru berada di daerah perkotaan berpendapatan rendah. Sebut saja, seperti di Cilincing, Jakarta Utara.

Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) memprediksi 1,5 juta nyawa meregang setiap tahun akibat kurangnya vaksinasi. Satu dari lima anak juga diprediksi tidak mendapatkan imunisasi rutin untuk tetanus, difteri, dan pertusis.

Bayi yang hidup di tengah jerat kemiskinan ditengarai lebih berisiko kurang imunisasi. Itu pula yang menjadi penjelasan mengapa di Indonesia penyakit seperti wabah campak, polio, dan diphtheria masih saja ditemukan.

Menilik latar belakang tersebut, Unicef meminta agar Pemerintah Indonesia segera bertindak untuk mengubah situasi ‘darurat imunisasi’ tersebut.

Organisasi naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) itu mengajak pemerintah melakukan intervensi. Salah satu gagasan yang diusulkan Unicef adalah penggunaan teknologi komunikasi mutakhir untuk membenahi sistem pemantauan bayi yang diimunisasi, sebagai ganti dari sistem pendataan yang selama ini gagal berfungsi.

Innovation Lead Unicef Indonesia Jeffrey Hall, dalam newsletter terbarunya yang diterima Bisnis.com, memaparkan di daerah berpendapatan rendah, petugas kesehatan kerap dihadang kendala dalam melacak dan memonitor setiap anak yang menerima vaksin yang diperlukan.

“Itulah mengapa dibutuhkan program baru ini. Tahun lalu, Unicef mulai membuat percontohan teknologi RapidPro; sebuah program yang menggunakan pesan singkat SMS untuk mengumpulkan, memonitor, dan menyebarkan informasi kesehatan,” jelasnya.

Teknologi RapidPro memungkinkan petugas kesehatan untuk mengidentifikasi lokasi lingkungan yang berisiko tinggi dan memverifikasi vaksin bulanan pada pusat-pusat kesehatan.

Di samping itu, teknologi tersebut dapat melacak bayi-bayi yang belum mendapatkan dosis vaksinasi yang tepat. Keunggulan lainnya, RapidPro dapat mengirimkan reminder kepada orang tua tentang jadwal vaksinasi bagi buah hatinya.

“RapidPro adalah software open source yang memungkinkan spesialis program dan noncoder menjalankan pemantauan dan pelaporan berbasis SMS. Ini memanfaatkan teknologi komunikasi dalam mempercepat dan memperkuat hasil untuk anak-anak,” kata Jeffrey.

PARTISIPASI PEMUDA

Solusi yang ditawarkan oleh Unicef tersebut dibangun di Innovations Lab dengan meli batkan partisipasi pemuda untuk memikirkan, menciptakan, mencoba, dan menguji solusi alternatif untuk meningkatkan kualitas hidup anak-anak di Indonesia.

Di Indonesia sendiri, Innovations Lab baru dimulai pada 2013 dan disokong bantuan dana dari U.S. Fund’s Next Generation, yang teridiri atas kelompok pemimpin muda, pengusaha, dan inovator berusia 20-30 tahun yang menjadi supporters aktif Unicef.

Belum lama ini, mereka terbang jauh-jauh dari Negeri Paman Sam khusus untuk melihat langsung kondisi di lapangan bagaimaa Indonesia menangani pelayanan vaksinasi bagi bayi-bayi di lingkungan berpendapatan rendah.

Salah satu dari kegiatan selama sepekan itu adalah meninjau kawasan Cilincing untuk memantau bagaimana ratusan anak menerima vaksinasi polio. Dengan melihat langsung ke lokasi, mereka dapat memikirkan alternatif solusi bagi masalah darurat vaksin di Tanah Air.

“Saya memutuskan untuk mengunjungi Indonesia karena saya ingin tahu mengenai peran Unicef di negara-negara berpenghasilan menengah, terutama bagaimana peran ini berinteraksi dengan program pemerintah,” ujar salah satu peserta, Bonner Campbell, yang juga analis keuangan senior di Netflix.

Sebenarnya, pemerintah tidak tutup mata dan lepas tangan terhadap masalah darurat vaksin untuk anak di Tanah Air. Melalui Kementerian Kesehatan dan kerjasama dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI), berbagai upaya pemerataan imunisasi telah digencarkan.

Sehubungan dengan Pekan Imunisasi Dunia yang diperingati setiap akhir April, upaya untuk membangun infrastruktur kesehatan guna memudahkan akses terhadap vaksinasi di seluruh pelosok Tanah Air pun kembali digaungkan.

Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes, Yosephine Hutapea, menjelaskan pemerintah akan semakin menekankan akses terhadap imunisasi bagi bayi di bawah 1 tahun serta booster bagi anak sekolah dasar.

“Dengan imunisasi, cacat dan penyakit menular bisa dicegah. Ini adalah intervensi yang paling efektif. Bahkan, bisa dikatakan, angka kematian bisa dicegah sampai 1,5 juta jiwa jika situasi imunisasi global membaik,” ujarnya.

Sejauh ini, RI telah berhasil membasmi wabah cacar dan mengklaim pembersihan terhadap wabah polio dengan bukti sertifikat dari WHO. Target pemerintah selanjutnya adalah mengeradikasi pertusis, tetanus, dan campak.

“Tantangan kita saat ini adalah meningkatkan cakupan imunisasi dan vaksinasi. Sebab, selama ini masyarakat berpikir bahwa imunisasi itu hanya untuk anak bayi saja.

Apalagi, dukungan layanan kesehatan masih relatif kurang. Belum lagi, adanya provokasi kontraimunisasi yang bertentangan dengan harapan kita bersama.”

Lantas, kapan hak-hak anak untuk mengakses imunisasi bisa benar-benar terpenuhi? Jangan sampai slogan Pekan Imunisasi yang dibuat pemerintah, “Menutup Senjang Imunisasi: Imunisasi untuk Semua Sepanjang Hidup”, hanya berakhir menjadi kata-kata mutiara semata.

http://lifestyle.bisnis.com/

 

 

Tingkat Keberhasilan Bayi Tabung di Indonesia Sudah 49 Persen

4mei

4meiFaktor usia ternyata memainkan peran dalam keberhasilan program bayi tabung. Program tersebut sebaiknya dilakukan pada usia antara 20-30 tahun. Diatas usia itu, kesuburan seorang perempuan sudah mulai menurun.

“Kebanyakan pasien ikut program bayi tabung sudah diatas 35 tahun, dalam kondisi tingkat kesuburan yang menurun,” kata Irsal Yan, dokter spesialis kebidanan dr Klinik Fertilitas Teratai RS Gading Pluit, Jakarta, Rabu (4/5).

Dijelaskan, Klinik Teratai yang berdiri sejak 2006 berhasil mengembangkan program bayi tabung dengan tingkat keberhasilan sekitar 49 persen. Angka itu masih lebih tinggi dari angka keberhasilan di dunia sekitar 30 persen.

“Kami berharap pada pasangan pasutri yang tahu ada masalah pada organ reproduksinya, bisa segera berobat ke dokter. Karena semakin dini usia, peluang keberhasilannya semakin tinggi,” ucapnya.

Irsal Yan menyebut, pasutri yang berhasil memiliki anak yang diidamkan secara keseluruhan sejak 2006 sebanyak 300 orang. “Bayi tabung lahir pertama pada 2008. Hingga Desember 2011, lahir 160 bayi, terdiri dari 92 bayi tunggal, 50 bayi kembar dua dan 18 bayi kembar tiga,” tuturnya.

Ditambahkan prevalensi gangguan kesuburan di Indonesia diperkirakan 10-11 persen dari pasangan usia subur. Sementara badan kesehatan dunia WHO menyebut angka infertilitas global mencapai 50-80 juta dari pasangan usia subur.

“Kini masalah infertilitas bisa diatasi lebih mudah berkat kemajuan teknologi di dunia medis,” ucap Irsal Yan yang didampingi koleganya, dr Indra NC Anwar.

Klinik Fertilitas Teratai memiliki konsep “One Stop Fertility Services” yang ditunjang fasilitas canggih seperti laboratorium andrologi, laboratorium embriologi, instalasi Radiologi dan ruang Laparoscopy. Teratai sendiri merupakan akronim dari Teknologi Reproduksi Anak Tabung Indonesia.

Hal senada dikemukakan Indra Anwar. Katanya, infertilitas karena faktor istri mencakup 45 persen. Masalahnya bisa terdapat pada saluran telur (40 persen), ovulasi (15-25 persen), periterium/endometriosis (25 persen), mulut rahim (5 persen) dan rahim (5 persen).

Sedangkan faktor suami sekitar 40 persen. Dari pria, sumber masalahnya kemungkinan berasal dari kelainan pengeluaran sperma (3 persen), kelainan produksi dan pematangan sperma, penyempitan saluran mani karena infeksi bawaan (6 persen).

“Selain itu lada faktor imunologik/antibodi, anti sperma (2,9 persen), serta faktor gizi. Sisanya sebesar 10-15 persen merupakan faktor-faktor yang tidak terjelaskan,” kata Indra menandaskan. (TW)

 

Teknologi DBS, Membuat Penderita Parkinson Kembali Bebas Bergerak

3mei-2

3mei-2Teknologi Deep Brain Stimulation (DBS) saat ini telah menjadi standar pengobatan di dunia bagi penderita parkinson yang ingin kembali bebas bergerak. Teknologi tersebut kini sudah bisa dilakukan sejumlah rumah sakit di Indonesia.

“Teknologi DBS membuat kualitas hidup penderita parkinson menjadi lebih baik,” kata
dokter spesialis bedah syaraf Rumah Sakit (RS) Siloam Hospitals Kebon Jeruk, Frandy Susatia dalam diskusi media di Jakarta, Selasa (3/5).

Dijelaskan, parkinson adalah satu penyakit yang menyerang otak. Gejala utama berupa gangguan gerak yang disebabkan berkurangnya dopamin (zat yang membantu mengirimkan sinyal dalam sistem syaraf) di otak.

Kondisi ini terjadi akibat kematian sel substansia nigra atau otak tengah. Hingga kini belum diketahui pasti penyebab terjadinya parkinson. Namun diduga parkison disebabkan oleh gabungan dari sejumlah faktor seperti genetik (keturunan), lingkungan dan juga penuaan.

“Karena semakin tua, jumlah dopamin dalam otak akan semakin berkurang. Kalau berkurangnya sudah sampai 80 persen, maka biasanya muncul gejala-gejala parkinson,” ujar Frandy.

Sebelum ini, lanjut Frandy, pengobatan parkinson dilakukan dengan minum obat-obatan, yang bisa menimbulkan efek samping berat bagi penderitanya. Karena itu, teknologi DBS menjadi terobosan yang luar biasa pengobatan parkinson.

Hal senada dikemukakan dokter syaraf RS Siloam Kebon Jeruk lainnya, Made Agus M Inggas. Perasi stimulasi otak atau DBS membuat pasien bisa hidup kembali normal, dan tidak tergantung dengan obat-obatan oral lagi.

“Pada umumnya pasien bisa kembali pulih seperti semula. Tak ada lagi gemetar atau tremor, kekakuan sendi, melambatnya seluruh gerak, serta gangguan postur tubuh,” kata Made Agus.

Teknologi DBS, lanjut Made Agus, tidak bisa diterapkan pada semua penderita parkinson. Teknologi itu untuk pasien yang sudah lebih dari 5 tahun minum obat, tidak mengalami gangguan jiwa dan gangguan memori.

Operasi DBS di Siloam Hospitals dilakukan oleh tim dokter multidisiplin yang solid, terdiri dari dokter spesialis saraf, dokter spesialis bedah saraf, psikiater, rehabilitasi medis, terapi bicara hingga ahli gizi.

Sebelum ditemukannya DBS, terapi pembedahan dilakukan dengan cara lesi atau membakar bagian otak paling dalam. Terapi lesi sudah lama ditinggalkan karena hanya mengurangi gejala parkinson secara sementara.

DBS telah diakui Food Drug Administration (FDA) Amerika sejak 2002 lalu. Tindakan tersebut mulai dikembangkan tak hanya untuk parkinson tetapi juga pada untuk penyakit lainnya yang berhubungan dengan otak tengah seperti distonia, gangguan obsessive compulsive, dan epilepsi.

“Keuntungan lainnya dari DBS, selain tidak merusak otak, programnya dipasang sesuai kebutuhan,” kata Made Agus seraya menyebutkan RS Siloam saat ini telah berhasil melakukan operasi DBS pada 12 pasien parkinson.

Dijelaskan, DBS adalah tindakan pembedahan di otak dengan menaruh kabel kejut untuk mendorong dopamin agar kembali bekerja normal. Kabel kejut memiliki baterai kecil yang dipasang di dada pasien.

“Baterai bertahan selama 5 tahun. Setelah habis akan diperbaharui lagi. Sambil dievaluasi kesehatannya. Karena penyakit parkinsonnya tidak hilang. Hanya lebih terkontrol saja,” ujar Made Agus.

Disinggung soal biaya operasi DBS, pihak RS Siloam Kebon Jeruk menyebut angka Rp399 juta. Masih terbilang mahal, karena komponen berbiaya tinggi yaitu baterai pemicu dopamin masih diimpor dari Amerika. (TW)

 

Ribuan Peluang Beasiswa Pascasarjana Bagi Profesi Dosen

3Mei

3MeiKementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) bekerja sama dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) meluncurkan program beasiswa Unggulan Dosen Indonesia (BUDI). Tersedia 300 beasiswa pendidikan pascasarjana di luar negeri dan 2 ribu beasiswa di dalam negeri.

“Kerja sama ini diharapkan bisa menjadi milestone untuk kegiatan lintas kementerian,” kata Menristekdikti Muhammad Nasir usai penandatangan naskah kerja sama di Puspiptek Serpong, usai peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) pada Senin (2/5).

Nasir menambahkan, peluang beasiswa bagi dosen sangat penting karena hingga saat ini masih ada sekitar 59 ribu dosen yang bergelar sarjana. Padahal idealnya, menurut aturan Undang-Undang (UU) Guru dan Dosen, tak boleh ada lagi dosen yang bergelar sarjana saja.

“Untuk berkompetisi mendapatkan BUDI, dosen bisa masuk ke website http://budi.ristekdikti.go.id ,” ujarnya.

Karena meski dananya dari LPDP, lanjut Nasir, proses prekrutan dilakukan Kemristekdikti. Karena itu, dosen yang berhak mendaftar dalam BUDI, harus memiliki Nomor Induk Dosen Nasional (NIDN) atau Nomor Induk Dosen Khusus (NIDK).

Direktur Utama LPDP, Eko Prasetyo menjelaskan, dana beasiswa yang diberikan meliputi uang kuliah dan biaya hidup maksimal 24 bulan untuk program S2. Sedangkan pada program S3, menggunakan skema 3+1, yang mana dana terdistribusi menjadi dua bagian.

“Dana diberikan penuh untuk 3 tahun dan dana 1 tahun terakhir akan dibagi dalam 2 bagian. Dana tahun ke-4 itu harus diajukan dengan karyasiswa dan diberikan kepada pihak yang memenuhi syarat,” ujar Eko Prasetyo.

Program BUDI akan menggunakan standar LPDP, baik dalam besaran maupun mekanisme penyalurkan dana beasiswanya. LPDP akan memantau perkembangan kemajuan studi para penerima beasiswa.

Pada kesempatan yang sama, Kemristekditi juga meluncurkan program Sistem Verifikasi Ijazah (SIVIL). Dengan demikian, pengecekan keaslian ijazah kini bisa dilakukan secara online.

“Sistem tersebut tak hanya praktis, tetapi juga dapat menangkal peredaran ijazah palsu,” ucap Nasir.

Nasir menjelaskan, SIVIL dibuat setelah maraknya kasus ijazah palsu, selama tahun 2015-2016. Kemristekdikti, bahkan dalam 10 bulan terakhir menerima banyak surat verifikasi keabsahan ijazah baik perorangan, lembaga swadaya masyarakat dan instansi pemerintah.

“Selama kurun waktu itu, lebih dari 3.000 ijazah diverifikasi oleh Kemristekdikti. Sebanyak 90 persen ijazah dinyatakan absah, dan sekitar 10 persen ijazah harus diverifikasi Kopertis dan perguruan tinggi terkait,” ujarnya.

Melalui layanan tersebut, lanjut Nasir, masyarakat bisa lebih cepat, tepat dan akurat dalam mendapat informasi data pemilik ijazah. Namun, data yang ditampilkan tidak detil, dengan alasan kerahasiaan.

“Untuk masuk sistem cukup nomor, bukan nama orang untuk menjaga kerahasian,” tuturnya. (TW)

 

Pengendalian Malaria: Seluruh Warga di Daerah Endemis Dapat Kelambu Anti Nyamuk

2mei-2

2mei-2Guna mengendalikan penyebaran malaria di daerah endemis, setiap warga diupayakan akan mendapat kelambu anti nyamuk. Lima daerah endemis yaitu Papua, Papua Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), Maluku dan Maluku Utara.

“Hingga akhir 2015 masih ada sekitar 209.413 kasus positif malaria di Indonesia. Jumlah itu turun dibanding tahun 2010 yang mencapai angka 465.764 kasus,” kata Direktur Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang, Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemkes, R Vensya Sitohang dalam seminar bertajuk “Tatalaksana Kasus Malaria Terkini” di Jakarta, Sabtu pagi (30/4).

Disebutkan, sampai akhir 2015 cakupan penduduk berisiko tinggi Malaria yang mendapat kelambu anti nyamuk di daerah endemis tinggi telah mencapai 87 persen. “Diharapkan pada tahun ini cakupannya sudah mencapai 100 persen,” ujarnya.

Malaria masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di tingkat global, kendati dalam 5 tahun terakhir terjadi penurunan kasus. Menurut badan kesehatan dunia WHO, masih ada sekitar 3,2 milyar jiwa atau hampir separuh penduduk dunia yang berisiko tertular Malaria.

“Pada 2015, WHO memperkirakan ada sekitar 214 juta kasus baru malaria dengan kematian sekitar 438 ribu orang di seluruh dunia. Dari jumlah itu, sepertiga atau 306 ribu terjadi pada balita,” kata Vensya.

Sementara itu, di Indonesia tercatat masih ada 212 dari 514 kabupaten/kota rawan terhadap malaria. Untuk itu, Vensya menambahkan, dibutuhkan komitmen yang kuat dari pemerintah daerah guna meraih pencapaian eliminasi malaria.

“Tanpa dukungan daerah, berbagai upaya yang dilakukan pemerintah pusat guna mencapai daerah bebas malaria akan sulit tercapai,” ujarnya.

Hadir dalam kesempatan itu, Kepala Dinas Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat, dr Andreas Ciokan. Kabupaten Teluk Bintuni mencatat prestasi dalam pengendalian malaria, dari 112 kasus per 1000 penduduk pada 2009 turun menjadi 2,4 kasus per 1000 penduduk pada akhir 2015.

Ditambahkan, meski jumlah daerah endemis malaria terbilang masih tinggi, namun jika dilihat dari kasus penderita malaria dalam 5 tahun terakhir terjadi penurunan yang signifikan. Yaitu, dari 422.447 kasus pada 2011 menjadi berjumlah 217.025 pada 2015.

“Penurunan kasus malaria bisa terjadi, salah satunya karena upaya pengendalian yang pemerintah lakukan lewat program bernama Gerakan Berantas Kembali Malaria (Gebrak Malaria),” ucapnya. (TW)

 

Growing threat of noncommunicable diseases to survival in pregnancy and childbirth

Geneva, 2 May 2016. More women in Mexico than previously thought are dying of indirect causes of maternal mortality – such as type 2 diabetes and hypertension – conditions that often predate their pregnancies, according to a study published today.

The study, by authors in Mexico and the United States of America, appears in a special issue of the Bulletin of the World Health Organization.

Fewer women in low and middle-income countries die due to conditions related to pregnancy and childbirth than 10 years ago (1). The study highlights the risk that noncommunicable diseases could undermine recent progress in improving maternal survival.

“We are winning the battle against the traditional causes of maternal death – such as post-partum haemmorhage, but not against the indirect causes of maternal death,” said co-author Dr Rafael Lozano, from the National Institute of Public Health of Mexico.

Lozano and his colleagues’ findings add to mounting evidence on the causes of deaths during pregnancy in Mexico and are consistent with the latest global analyses that more than a quarter of maternal deaths worldwide are due to indirect causes (2).

Maternal death – when a woman dies during pregnancy, childbirth or in the 42 days after she gives birth – is an important measure of a country’s level of development and of how well its health system is performing.

Direct maternal deaths result from obstetric complications during pregnancy and childbirth. Indirect maternal deaths result from an often pre-existing disease made worse by pregnancy and include noncommunicable conditions, such as type 2 diabetes and cardiovascular disorders, as well as infectious and parasitic diseases such as HIV infection, tuberculosis, hepatitis, influenza or malaria.

The authors identified and re-classified 1214 deaths as maternal deaths, revealing that such deaths in Mexico had been underestimated by about 13%. As a result, Mexico’s maternal mortality figures for the study period were corrected from 7829 to 9043.

The additional maternal deaths were identified using a new method of intentional search and review of maternal deaths and their reclassification, called Búsqueda Intencionada y Reclasificación de Muertes Maternas or BIRMM (5).

Applying the new method to data from the eight-year study period, the authors found that maternal deaths from direct obstetric causes declined from 46.4 to 32.1 per 100?000 live births during the study period and that maternal deaths from indirect causes had remained steady with 12.2 deaths per 100?000 live births in 2006 compared with 13.3 deaths per 100?000 live births in 2013.

“The direct maternal deaths concern women living in the poorest municipalities, but the women who died of indirect causes had fewer pregnancies, were better educated and tended to live in wealthier municipalities,” Lozano said.

Like many middle-income countries Mexico has seen a rapid increase in high levels of cholesterol and obesity in recent years. This puts women of reproductive age at higher risk for pre-existing hypertensive disorders and type 2 diabetes (2).

Seven out 10 Mexicans are overweight, while three of those seven are obese (3). A person with a body mass index (BMI) of 25 or more is considered overweight, and with a BMI of 30 or more is considered obese.

In addition, the age-adjusted prevalence of diabetes in adult Mexicans increased from 10.2% to 10.7% between 2010 and 2014, according to the World Health Organization’s (WHO) Global status report on NCDs. In 2014, Mexico had the highest prevalence of diabetes among the Organisation for Economic Cooperation and Development’s 34 countries.

The study adds to increasing evidence of the “obstetric transition”, a term recently coined to describe the shift in the causes of maternal deaths from direct to indirect.

“Maternal health programmes tend to focus on making skilled birth attendants and emergency obstetric care available, and on what happens at the time of the delivery,” said Dr Flavia Bustreo, Assistant Director-General for Family, Women’s and Children’s Health at the World Health Organization (WHO).

“There has been a huge improvement in the provision of these interventions in low and middle-income countries and this has reduced maternal mortality globally. But the vast majority of maternal deaths from indirect deaths cannot be averted through these delivery-focused interventions,” Bustreo said.

“In the absence of the intense review process by the study authors these deaths would not have been counted and the true magnitude of maternal mortality in Mexico would have been underestimated,” Bustreo said.

She said it was vital that governments and the international community continue to invest in civil registration systems to ensure that every maternal death is counted and that the correct cause of death is registered in each case. Specialized systems, such as maternal death surveillance and response and confidential enquiries, can provide critical information on the events that led up to a maternal death and identify the improvements that urgently need to be made to prevent future deaths.

The new Global Strategy for Women’s, Children’s and Adolescents’ Health (2016-2030) proposes key actions governments can take to end all kinds of preventable maternal mortality, Bustreo said.

These include: strengthening the health workforce and scaling up efforts to ensure universal coverage of essential health services, including pre-pregnancy detection and management of noncommunicable diseases and their risk factors (e.g. obesity).

The study by Lozano and his colleagues is one of a special collection of articles published in the May issue of the Bulletin of the World Health Organization that is devoted to new evidence and key lessons from efforts over the past 15 years to reduce maternal, child and adolescent deaths.

The collection of articles is timely because many countries are just starting to implement the global strategy, which aims to prevent deaths and improve overall health and well-being.

The Mexican study highlights the need for maternal, newborn and child health services to be designed to meet new challenges, such as the emerging threat of noncommunicable diseases to maternal health.

“To reduce indirect maternal deaths, obstetricians and other health-care personnel attending to women during pregnancy and the postpartum period need to be trained to care for women’s health holistically and not just her pregnancy,” Bustreo said.

“This special issue presents important new findings on actions that countries can take to ensure that women, children and adolescents not only survive, but thrive,” she said.

http://www.eurekalert.org

 

Peristiwa Mina: 8 Bulan Dirawat di Jeddah, Culan Kasim Akhirnya Kembali ke Tanah Air

2mei

2meiCulan Kasim binti Kasim (55), jemaah haji Indonesia tahun 2015 korban heat stroke pada peristiwa Mina akhirnya kembali ke Tanah Air, setelah 8 bulan di rawat di rumah sakit di Jeddah, Arab Saudi.

Perempuan asal Sumatera Barat tersebut akan mendapat rawatan lanjutan terlebih dahulu di Rumah Sakit (RS) Fatmawati, Jakarta sebelum di pulang ke kampung halamannya.

Serah terima pasien oleh Kerajaan Arab Saudi yang diwakilkan petugas RS Garda Nasional kepada Menteri Kesehatan (Menkes) Nila FA Moeloek dilakukan di bandara Halim Perdanakusumah, Jakarta, Minggu (1/5) siang.

Culan Kasim tampak diturunkan dari pesawat khusus Medevac (Aeromedical Evacuation) yang diterbangkan langsung dari bandara internasional King Abdul Aziz Jeddah, pada Sabtu (30/4) sekitar pukul 7 malam waktu setempat.

Suasana haru terlihat menyelimuti keluarga Culan Kasim saat menerima kedatangan pasien yang berpisah selama 8 bulan. Mereka menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada pemerintah Indonesia dan Kerajaan Saudi Arabia yang telah berupaya memulangkan orangtuanya melalui hubungan diplomatik.

Pemulangan Culan Kasim merupakan bentuk pemulangan istimewa, sebab proses yang dilakukan hanya memakan waktu sekitar 5 minggu. Kejadian itu merupakan yang pertama dalam sejarah dunia perhajian di Indonesia.

Sebelumnya, upaya pemulangan jemaah sakit yang memerlukan fasilitas khusus seperti ventilator telah berulang kali diusahakan Kantor Urusan Haji Indonesia (KUHI) KJRI Jeddah, namun hal itu tak dapat dilakukan mengingat tidak ada maskapai regular yang siap dengan ventilator.

“Hanya Medevac yang menyediakan hal demikian. Selain itu, biaya pemulangan jemaah sakit dengan ventilator juga cukup besar yaitu lebih dari Rp 2 miliar,” ujar Menkes.

Pemberangkatan Culan Kadim dari RS Garda Nasional dilepas oleh segenap jajaran pejabat Perwakilan Konsulat Jenderal RI (KJRI) dan KUHI.

Hadir petugas RS Garda Nasional Saudi Arabia, Nikmah Nur Hasan Matasif dan Zuheir Thahir Abdurrahim Jawa, warga negara Arab Saudi keturunan Indonesia itu yang selama ini memonitor dan mendorong pemulangan pasien, Culan Kasim pulang ke Tanah Air.

Sebelumnya, Menkes Nila FA Moeloek sempat menjenguk Culan Kasim saat melakukan kunjungan kerja ke RS Garda Nasional Arab Saudi pada Maret 2016. Dengan itikad baik, Menkes Nila berharap agar pasien dapat dirawat dan berkumpul dengan keluarga di Tanah Air.

Menkes selanjutnya menjajagi kemungkinan melakukan pendekatan dengan pihak Arab Saudi melalui ibu Nimah warga negara Arab Saudi asal Palembang yang bekerja di RS Garda Nasional, untuk membawa Culan Kasim kembali dan dirawat di Indonesia.

“Kami senang karena upaya ini membuahkan hasil. Hingga ibu Culan Kasim hadir saat ini,” tutur Menkes.

Pasien dievakuasi dengan menggunakan alat bantu nafas. Saat ini kondisi Cullan Kasim tampak stabil, setelah sebelumnya sempat koma sejak sakit pada September 2015.

Anak dan suami Culan Kasim pada Desember 2015 lalu diundang dan tinggal di kota Jeddah selama satu bulan.

Menkes menjelaskan, heat stroke merupakan salah satu ancaman kesehatan bagi jemaah haji hingga 10 tahun kedepan, sebagai konsekuensi periode haji yang bersamaan dengan musim panas di Arab Saudi.

Untuk itu Menkes mengimbau calon jemaah haji untuk senantiasa menjaga kondisi untuk tetap sehat melalui Pemeriksaan Kesehatan dan Pembinaan Kesehatan.

“Pemeriksaan kesehatan dan tindak lanjutnya paling baik dilakukan setidaknya 9 bulan sebelum keberangkatan ibadah haji,” ujar Nila Moeloek.

Selain itu, calon jemaah haji harus memiliki kartu BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) Kesehatan. Selain selalu menjaga perilaku hidup bersih dan sehat.

“Dan tak kalah penting adalah mengikuti tata cara menjaga kesehatan saat ibadah haji dan antisipasi cuaca ekstrim panas. Serta waspadai ancaman penyakit pernafasan seperti MERS-COV,” kata Menkes menandaskan. (TW)

{jcomments on}

Africa: World’s Poorest Face Large Ongoing Health Bills

By 2040, people in developing countries will continue to spend a greater proportion of their own money on healthcare than those in the developed world as national health spending is failing to keep up with demand, a Lancet study warns.

The researchers say that low-income countries only spend around 3 US cents on health for each dollar that rich countries spend. This is unlikely to change in the next 25 years despite growing wealth, according to the paper.

This means people living in these countries will have to spend a larger share of their own income on private healthcare than those in rich countries – or forego important health treatments, the authors say.

In 2040, the proportion of health spending coming from government is expected to be lowest in South Asia, where it will meet just 33 per cent of demand. Countries in Sub-Saharan Africa are forecast to pay for 36 per cent of health costs, while governments in all other regions are likely to meet at least half the costs of their citizen’s healthcare, according to lead author Joseph Dieleman.

By comparison, Western European countries are expected to pay for close to 90 per cent of healthcare costs by that time, according to the 13 April study.

The research also found that donor money for health services in developing countries is levelling off after tripling between 2000 and 2010. Funding for maternal and child health is growing, but money to care for people with health problems such as HIV/AIDS tuberculosis and malaria is decreasing, the study says.

“We have seen an overall stagnation in donor funding for global health,” says Dieleman, a researcher at the Institute for Health Metrics and Evaluation in the United States. “The slowdown comes just after the global financial crisis that impacted many donor countries.”

But to address the situation, countries need more detail on local disparities in healthcare access and spending, which the study’s use of national spending per person does not provide, says Divya Parmar, a public health researcher at City University London, United Kingdom.

Parmar also notes that countries may start taxing unhealthy food and substances, such as tobacco and sugar, using the money to improve healthcare. Better infrastructure could further reduce the health burden in the poorest countries, she says.

“[These countries] need to improve the cost-effectiveness of healthcare services by expanding access to primary healthcare, safe water and sanitation,” she explains.

http://allafrica.com/