Call For Abstract Forum Nasional Kebijakan Kesehatan Indonesia ke VII

Call For Abstract

Forum Nasional Kebijakan Kesehatan Indonesia ke VII

“Monitoring Kebijakan Jaminan Kesehatan Nasional
Menuju Pencapaian UHC 2019”
dan
“Pengalaman Empirik Dalam Penyusunan Kebijakan Kesehatan di Level Pemerintah Pusat atau Daerah”

PENGANTAR

Kebijakan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) telah berlangsung sejak 2014 dengan tujuan utama untuk memberikan perlindungan cakupan kesehatan semesta (universal health coverage/UHC) yang ditargetkan bisa mencakup seluruh rakyat Indonesia pada tahun 2019. Sebagaimana ditunjukkan oleh skema proses kebijakan, yang telah berada pada tahap pelaksanaan. Pelaksanaan kebijakan JKN telah berlangsung selama 3 tahun, sehingga perlu sebuah pemantauan untuk melihat sejauh mana kebijakan ini berkembang. Apakah JKN mampu bertahan sehingga menjadi kebijakan yang berkelanjutan ? Apakah di tahun 2019 benar bisa tercapai jaminan kesehatan semesta untuk seluruh rakyat Indonesia ?

Oleh karena itu, Jaringan Kebijakan Kesehatan Indonesia (JKKI) sedang melakukan kegiatan monitoring JKN di tahun 2014-2016 yang dilaksanakan melalui website http://www.kebijakankesehatanindonesia.net/ pada bulan Januari hingga Oktober 2017. Kegiatan puncaknya adalah pada Forum Nasional pada tanggal 23-27 Oktober 2017 yang membahas hasil dari kerangka evaluasi untuk memberikan prediksi pencapaian UHC di tahun 2019.

Dalam rangka Forum Nasional ini, kami mengundang para peneliti, dosen, praktisi kesehatan untuk berkontribusi mengirimkan hasil penelitian dengan topik “Monitoring Kebijakan Jaminan Kesehatan Nasional”. Abstrak harus merupakan hasil penelitian yang telah dilakukan, baik secara mandiri mau pun sebagai kelompok.

Penelitian mengenai JKN dapat berfokus pada salah satu bidang ini :

  1. Pelaksanaan JKN dan dampaknya dengan program kesehatan tertentu (misalnya KIA, HIV/AIDS, TB, PTM, gizi, dll);
  2. Aspek pembiayaan dan kebijakan pembiayaan JKN;
  3. Aspek kepersertaan JKN;
  4. Aspek regulasi dan implementasi regulasi JKN ;
  5. Aspek mutu pelayanan dalam pelaksanaan kebijakan JKN;
  6. Aspek institusi dan pemangku kepentingan kebijakan JKN ;
  7. Dan lain-lain

Disamping penelitian mengenai Monitoring dan Evaluasi JKN, Forum JKKI di tahun 2017 ini mengharapkan Call for Abstract yang berisikan penelitian atau pengalaman yang terkait dengan Proses Penyusunan Kebijakan Kesehatan. Call for Abstract ini merupakan hal baru yang diharapkan dapat mengembangkan kemampuan para peneliti untuk mempengaruhi kebijakan di level pemerintah pusat ataupun daerah. Hal ini sangat penting mengingat bahwa di masa mendatang diharapkan kebijakan kesehatan ditetapkan berdasarkan bukti yang tepat. Diharapkan para peneliti atau analis kebijakan dapat memberikan abstrak yang mencakup:

  • Pengusulan isu dalam Agenda Setting kebijakan kesehatan di pemerintahan pusat, propinsi, atau kabupaten;
  • Pengalaman melakukan penelitian implementasi dan monitoring kebijakan kesehatan yang berjalan;
  • Metode Evaluasi Kebijakan;
  • Analisis Kebijakan Kesehatan;
  • Proses Advokasi untuk pengembangan kebijakan kesehatan,
  • Dan berbagai hal terkait dengan proses penyusunan kebijakan di pemerintah pusat dan daerah.

Tanggal-tanggal Penting:

  • Registrasi dengan harga khusus : 03 Juni – 10 September 2017
  • Registrasi dengan harga normal : 11 September – 21 Oktober 2017
  • Batas akhir pengumpulan abstrak : 1 Agustus 2017
  • Pengumuman abstrak yang diterima : 15 Agustus 2017
  • Pre-Forum Nasional : 23, 24 Oktober 2017
  • Forum Nasional : 25 – 27 Oktober 2017

Ketentuan Penulisan

Format Abstrak:

  1. Abstrak ditulis dalam bahasa Indonesia;
  2. Judul dan teks abstrak tidak lebih dari 300 kata;
  3. Tidak menggunakan akronim dan simbol untuk tujuan menyingkat;
  4. Diketik dengan program Microsoft Word diketik 1 spasi, dengan program Windows Microsoft Word tahun 1997 ke atas, tipe huruf Times New Roman, font size 12, dan margin kiri, kanan, atas, dan bawah semuanya sebesar masing-masing 2,54 cm pada kertas ukuran A4.;
  5. Abstrak berisi minimal:
    1. Abstrak Penelitian:
      • Pendahuluan (latar belakang, tujuan, dan rumusan masalah atau hipotesis);
      • Metode (desain penelitian, subjek, pengumpulan data, dan analisis data);
      • Hasil dan bahasan;
      • Kesimpulan dan saran/implikasi untuk kebijakan kesehatan.
    2. Abstrak Pengalaman Empirik dalam proses kebijakan
      • Pendahuluan (latar belakang dalam konteks proses kebijakan kesehatan)
      • Tujuan Penulisan Paper pengalaman:
      • Uraian;
      • Kesimpulan dan saran/implikasi untuk proses kebijakan.
    3. File abstrak disertai identitas peneliti/pengirim, meliputi:
      • nama penulis; apabila penulis lebih dari satu, maka tandai penulis yang akan presentasi dengan menggarisbawahi nama.
      • nama institusi peneliti;
      • nomor telepon /kontak peneliti; dan
      • alamat e-mail peneliti

Abstrak haruslah hasil penelitian terkait kebijakan dan monitoring kebijakan yang telah selesai dilakukan. Abstrak tidak boleh merupakan abstrak yang telah dikirimkan dan dipresentasikan di konferensi/seminar lain.

Pengiriman abstrak dikirim ke :
[email protected] atau [email protected]

atau melalui web:
https://kebijakankesehatanindonesia.net/jkki

Pembayaran & Rewards

  • Biaya registrasi sebesar Rp 1.000.000,00 (sampai tanggal 10 September 2017)
  • Registrasi setelah tanggal 10 September 2017 akan dikenai harga normal Rp. 1.500.000,-
  • Bagi abstrak yang terpilih akan mendapatkan free biaya registrasi dan seminar Forum KKI VI
  • Penulis dapat mengirimkan makalah lengkap untuk diterbitkan sebagai proceeding (dengan nomor ISBN) dalam Jurnal Kebijakan Kesehatan Indonesia.
  • Peserta yang mengikuti seluruh rangkaian Forum Nasional selama 3 hari akan mendapat sertifikat dengan SKP (IDI, IAKMI, PPNI, IBI)

Pre-Forum Nasional

Forum Nasional juga akan menghadirkan beberapa pelatihan sebagai bagian dari Pre-Forum Nasional. Kegiatan adalah sebagai berikut:

Tanggal Judul Pelatihan Biaya Registrasi terakhir
23 Oktober 2017 Pengembangan Teknik Advokasi dan Diseminasi dengan Media Sosial Rp. 500.000,-/orang 10 September 2017 ATAU setelah peserta mencapai jumlah maksimal 30 orang
23 Oktober 2017 Perencanaan dan penganggaran berbasis bukti dan kebijakan Rp. 500.000,-/orang 10 September 2017 ATAU setelah peserta mencapai jumlah maksimal 30 orang
24 Oktober 2017 Penulisan Policy Brief Rp. 500.000,-/orang 10 September 2017 ATAU setelah peserta mencapai jumlah maksimal 30 orang
24 Oktober 2017 Sinkronisasi RPJMN dan RPJMD Rp. 500.000,-/orang 10 September 2017 ATAU setelah peserta mencapai jumlah maksimal 30 orang

KONTAK

Pendaftaran dapat dilakukan melalui website www.kebijakankesehatanindonesia.net, dan Abstrak dapat dikirimkan melalui email [email protected] atau [email protected] Informasi lebih lanjut terkait Forum Kebijakan Kesehatan Indonesia VII dapat di akses pada alamat website https://kebijakankesehatanindonesia.net/ 

CP: Putri Sulistyo Aji
Hp 0811 1019 077
Email: [email protected] 

 

 

Sesi Pembukaan

Jennifer Adams.
Acting Assistant Administrator for Global Health, USAID, and Ketua Steering Committee Forum 2017 ini.

jenniTahun lalu, 2016, forum ini membahas mengenai mobilisasi resources. Saat ini di tahun 2017, kita akan menekankan bahwa dana yang ada harus dibelanjakan secara efisien. Tahun ini kita membahas bagaimana inovasi-inovasi dan berbagai hal yang mungkin kontroversial mengenai efisiensi dalam pelayanan kesehatan. Diharapkan efisiensi akan meningkatkan akses.

“Why efficiency matters?”

Pembelian pelayanan kesehatan sangat perlu karena pemerintah mempunyai banyak pilihan dalam membelanjakan pelayanan kesehatan. Sistem kesehatan harus berada dalam situasi yang baik untuk mendapatkan value yang diinginkan. Negara harus menambah anggaran kesehatan, namun di sisi lain juga harus produktif dan menambah efek untuk pelayanan kesehatan. Ini dapat dilihat dari kebijakan dalam meningkatkan insentif untuk efisiensi; bagaimana hubungan antara kelompok di kementerian keuangan dengan kesehatan dapat duduk dan melakukan diskusi bersama. Apa yang kita perlu lakukan adalah bagaimana pakar ekonomi dan profesional kesehatan dapat diskusi bersama. Ini penting agar ada pemahaman bersama.

Apa yang USAID harapkan dalam pertemuan ini? Pertama adalah mendukung partner pemerintah untuk meningkatkan akses terhadap mutu pelayanan kesehatan dalam situasi pembiayaan yang sulit. Mobilisasi resources perlu kita lakukan terus. Kita sadari bahwa budget kesehatan dipengaruhi banyak pihak. USAID juga mendorong agar cakupan kesehatan harus mampu didapatkan banyak pihak dan bersifat adil (equity). Bagaimana pelayanan kesehatan dapat terjangkau (affordable) dan dinikmati semua orang. Disamping itu bagaimana potensi private sector, perlu dikembangkan. Pertemuan ini juga diharapkan dapat memicu perkembangan teknologi, data dan banyak hal terkait untuk peningkatan efisiensi.

Semoga semua program dapat berjalan baik.

Keith Hansen. Wapres,
Human Development Global Practice Group, World Bank Group, US

keithGerakan untuk mencapai UHC semakin banyak, bahkan tahun ini jumlahnya meningkat. Demanduntuk pertemuan ini semakin besar. Saat ini kita sudah akan melihat UHC 2030. Besok akan dibahas mengenai Healthy System for UHC. December untuk UHC day akan dijalankan di Jepang untuk kegiatan ini. Tahun 2017 ini merupakan penting untuk UHC.

Disamping ada berbagai momentum, tantangan pendanaan ini masih sangat banyak. Masih banyak yang dibutuhkan untuk pengembangan pelayanan kesehatan. Billion dolar besarnya. Bagaimana cara untuk mendapatkan dana untuk UHC merupakan hal yang sangat penting. Namun yang penting dana yang ada saat ini perlu dibelajakan secara bijaksana.

Bagaimana mencari sumber inefisiensi dalam pelayanan kesehatan akan dibahas pada pertemuan 2 hari ini. Kalau kita bisa mencari sumber inefisiensi akan sangat banyak jumlahnya. Kira-kira 20-40 persen dari anggaran kesehatan disia-siakan di pelayanan kesehatan. Tugas kita adalah bagaimana mencari cara untuk melakukan perbaikan. Di sini bagamana kita mencari kerjasama lintas sektoral. Kemajuan dalam kesehatan tergantung pada sektor lain. Jadi kita perlu pengembangan multi-sektoral untuk kesehatan. Selamat mengikuti.

Christoph Kurowski.
Global Lead, Health Financing. World Bank Group US

Pembicara ketiga menggunakan slide untuk memulai paparannya.

fiscalEfisiensi merupakan satu hal kunci dalam lingkaran komponen fiscal space. Pertemuan Forum 1 pada tahun 2016 telah mengidentifikasi adagap financingyang perlu dicari untuk pelayanan kesehatan. Banyak faktor yang mempengaruhi fiscal space. Di sisi lain, ada in-efficiency seperti yang terdapat pada slide.

materi presentasi 

 

 

 

 

Dengan mengurangi waste ini akan terdapat pembiayaan yang lebih bisa dipakai untuk kegiatan kesehatan lainnya. Namun sumber waste banyak sekali dan dapat menghabiskan dana besar seperti yang ada di slide berikut:

slide

Tapi pengeluaran rendah juga menjadi sumber inefisiensi. Misal; pengeluaran out-of-pocket yang tinggi. Kekurangan economis of scale, pengeluaran besar pada pelayanan-pelayanan yang mahal/kompleks, sampai berbagai disharmonisasi peraturan.

“Apa itu efficiency?”

Doing the right things, in the right place, in the right way. Tidak ada formula yang jelas untuk ini. Yang menarik banyak tantangan untuk efisiensi. Mengapa? Karena tidak ada yang menjadi pemenang jelas kecuali masyarakat.

Pembicara menutup dengan berbagai pernyataan menarik. Untuk meningkatkan efisiensi, perlu mengembangkan kemampuan strategic purchasing yang terkait dengan: mengidentifikasi manfaat secara spesifik, melakukan kontrak, mengelola pembayaran untuk pemberi pelayanan sampai monitoring program dengan baik.

Silahkan klik untuk membaca reportase terkait:

  

 

 

 

{jcomments on}

Referensi untuk pertemuan ini:

Second Annual Universal Health Coverage Financing Forum (20 – 21 April 2017)

Reportase terkait silhakan klik link berikut:

  

 

 

 

 

Ringkasan Eksekutif Concept Note

Second Annual Universal Health Coverage Financing Forum
20 – 21 April 2017

wdc

Karakteristik dan Dampak dari Inefisiensi Pada Sektor Kesehatan

Konsep efisiensi di sektor kesehatan meliputi melakukan tindakan yang tepat, setting yang tepat dan dengan cara yang tepat. Sistem kesehatan yang efisien mampu menghasilkan luaran kesehatan dan proteksi finansial yang optimal.

Inefisiensi pada sistem kesehatan dapat ditemukan pada setiap aspek :

  1. Melakukan hal yang tidak tepat (Contoh : mendanai program/intervensi berbiaya tinggi berdampak rendah namun tidak mendanai program/intervensi berbiaya rendah dengan dampak tinggi, terutama pada layanan tingkat tersier)
  2. Melakukan hal yang tepat pada setting yang tidak tepat (Contoh : tidak memprioritaskan pelayanan kesehatan tingkat primer lebih dari rumah sakit)
  3. Manajemen kebijakan yang lemah (Contoh : membiarkan obat-obatan menjadi kadaluarsa atau disimpan pada tempat yang kurang baik).

Apabila semua bentuk inefisiensi dihitung, sebuah negara bisa menyia-nyiakan 20-40 persen dari sumber daya yang dimiliki sehingga kehilangan kesempatan untuk menggunakan sumber daya dengan lebih efisien agar hasil yang dicapai lebih optimal.

Sumber-sumber Inefisiensi

Inefisiensi bisa ditimbulkan dari sumber yang beragam dan sudah terdokumentasikan dengan baik. Beberapa berhubungan dengan faktor utama pendorong biaya dalam sistem kesehatan : obat-obatan, tenaga kesehatan, infrastruktur dan fasilitas kesehatan, terutama rumah sakit.

Namun karakteristik dan sifat inefisiensi dapat berbeda tergantung setting. Beberapa negara dapat lebih efisien di bagian atau sektor tertentu tapi tidak begitu efisien di area lainnya. Adalah penting bagi sebuah negara untuk menilai dan mengkaji sebab-sebab terjadinya inefisiensi (menggunakan check list terlampir di dokumen ini) untuk mengetahui dimana saja sumber inefisiensi itu muncul, lalu memutuskan mana yang paling mungkin dilakukan, dengan mempertimbangkan aspek teknis maupun situasi politik.

Setiap negara kemudian perlu mengembangkan pilihan strategi, termasuk mengembangkan agenda perubahan yang terjadwal, dan juga mengembangkan strategi monitoring perkembangan tersebut.

Implikasi pentingnya adalah setiap negara perlu memutuskan indikator mana yang akan digunakan untuk menilai perkembangan capaian kebijakan terkait dengan sumber utama penyebab inefisiensi.

Meningkatkan Efisiensi

Banyak alternatif pilihan strategi untuk meningkatkan efisiensi, dan setiap negara dapat bertindak untuk mencapai luaran kesehatan dan proteksi finansial yang lebih baik dengan sumber daya yang dimiliki.

Beberapa opsi strategi terdapat di sistem pembiayaan kesehatan. Opsi ini termasuk:

  • meningkatkan pendapatan negara secara lebih efektif,
  • menggunakan instrumen pajak untuk mengurangi konsumsi produk yang berdampak buruk bagi kesehatan,
  • mengurangi fragmentasi pada proses pooling dana,
  • memastikan dana yang terkumpul tersebut digunakan untuk membiayai intervensi dengan value for money terbaik, dan
  • memodifikasi mekanisme pembiayaan penyedia layanan kesehatan untuk mendorong kualitas dan juga efisiensi.

Solusi lain membutuhkan tindakan pada sistem kesehatan lebih luas. Sebagai contoh, dengan meningkatkan efisiensi pada pengadaan obat-obatan dapat meningkatkan kemampuan untuk membeli di harga terendah, memodifikasi regulasi atau legislasi untuk mendorong penggunaan obat generik termasuk strategi untuk mengelola keraguan penyedia layanan kesehatan dan pasien terhadap kualitas obat generik, dan mendorong penggunaan obat-obatan secara rasional.

Dalam prakteknya, dinamika dan situasi politik dapat menjadi sangat kompleks ketika akan implementasi kebijakan, terutama ketika mendapatkan oposisi kuat dari pihak-pihak yang berkepentingan.

Alternatif solusi lain dapat memberikan dampak positif bagi sektor kesehatan, seperti :

  • Instrumen pajak untuk mengurangi konsumsi produk berdampak buruk bagi kesehatan
  • Meningkatkan fleksibilitas pembiayaan
  • Kebijakan obat generik, termasuk memastikan transparansi dan tender kompetitif untuk pengadaan obat-obatan
  • Memberikan kesempatan bagi tenaga kesehatan di tingkat lokal untuk mengambil tanggungjawab lebih besar ketika dimungkinkan (task shifting)

Kebijakan lain bisa saja membutuhkan investasi jangka pendek namun mengharuskan komitmen jangka panjang sebelum hasilnya terlihat. Salah satu contoh adalah mengalihkan pembelian (purchasing) ke model aktif (active purchasing : pembelian berdasarkan kajian kebutuhan, harga, dan nilai kemanfaatan) membutuhkan keterampilan staf dan sistem informasi berbasis teknologi yang membutuhkan waktu untuk berkembang.

Untuk mendampingi kebijakan-kebijakan ini, kolaborasi internasional dibutuhkan dalam rangka proses pencarian suatu teknologi yang dapat menjadi unggulan. Kolaborasi ini juga bertujuan untuk mengidentifikasi peluang untuk meningkatkan kesehatan dan menjamin kondisi finansial dengan biaya rendah. Aktivitas ini dapat termasuk mengadakan teknologi yang sudah ada ke setting berbiaya rendah, seperti vaksin untuk Hepatitis C dan HIV/AIDS.

Kontroversi dan Informasi yang Belum Lengkap

Meskipun sifat dan karakteristik inefisiensi dan kemungkinan solusinya telah berhasil diidentifikasi, namun tidak sedikit jumlahnya hal-hal yang masih belum diketahui dan yang berpotensi menimbulkan ketidaksepakatan.

Saat ini belum banyak diketahui mana kebijakan yang mampu memberikan dampak secara sistemik. Pertanyaan yang banyak:

  • Bagaimana efisiensi rumah sakit dapat ditingkatkan?
  • Apa peran yang tepat bagi sektor privat dalam mendorong efisiensi?
  • Bagaimana mekanisme pemberian insentif yang dapat mendorong motivasi para staf dan mendorong kualitas pelayanan, dan saat yang bersamaan berbiaya rendah?

Riset empiris hingga saat ini belum mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan ini secara definitif.

Bagian dari persoalan tersebut disebabkan oleh banyaknya studi yang melihat intervensi spesifik seperti pembiayaan berbasis hasil/performa memilih fokus pada utilisasi dan kualitas layanan kesehatan, tanpa atau sedikit mengkaji dan mempertimbangkan aspek biaya. Tren riset seperti ini menyulitkan para pengambil kebijakan untuk menilai apakah intervensi/program perlu diadopsi untuk memberikan value for money tertinggi, dan jika demikian apakah intervensi tersebut dapat dibiayai jangka panjang.

Dalam kasus yang lain, metode untuk melakukan analisa tidak selalu dapat berguna. Sebagai contoh, health technology assessment yang mendasarkan pada cost effectiveness analysis seringkali digunakan untuk membantu dalam mengambil kebijakan, memberikan pertimbangan kombinasi intervensi mana yang mampu memberikan manfaat yang paling besar dengan biaya yang rendah relative terhadap opsi lainnya.

Metode ini tepat digunakan pada negara-negara berpendapatan tinggi dimana persoalan utama ada pada perubahan pengeluaran secara marginal, diatas dari paket layanan yang sudah tersedia. Sementara itu, di banyak negara-negara berpendapatan rendah perubahan kebijakan tidak jarang membutuhkan perubahan besar, membuat kerangka analitik cost effectiveness analysis tidak selalu dapat diterapkan. Kemampuan teknik untuk menilai kombinasi intervensi yang tepat perlu tersedia di level primer, mengharuskan level primer memiliki kapasitas untuk mempertimbangkan dan menghitung biaya serta dampak yang dapat bervariasi sesuai dengan skala dan cakupan intervensi. Belum lagi staf yang dapat melakukan cost effective tersedia di level tersebut. Metode HTA juga cukup terbatas dalam menilai kombinasi intervensi yang tepat antara layanan kesehatan level individu dengan populasi. Ini adalah area dimana metode HTA perlu dikembangkan untuk menjawab persoalan tersebut.

Terakhir, keterbatasan utama setiap negara yang ingin menjadikan agenda meningkatkan efisiensi adalah persoalan sangat terbatasnya ketersediaan data untuk mengkaji secara formal penyebab-penyebabnya dan menilai perkembangan capaian dari waktu ke waktu. Hal ini salah satunya disebabkan oleh beberapa negara saat ini melakukan penilaian efisiensi mereka secara reguler, sehingga indikator yang tersedia biasanya dikumpulkan untuk tujuan lain.

Rekomendasi

{tab title=”Negara” class=”orange”}

  • Melakukan penilaian atas penyebab utama inefisiensi dan opsi apa yang dapat ditempuh dalam jangka waktu pendek, menengah, dan panjang.
  • Mengembangkan dan implementasikan strategi untuk meningkatkan efisiensi dalam jangka waktu pendek hingga menengah. Sebaiknya strategi ini adalah bagian dari strategi pembiayaan kesehatan, meskipun beberapa tindakan perlu melihat diluar pembiayaan kesehatan.
  • Memulai investasi jangka panjang dalam bentuk legislasi, konsultasi, sistem informasi, dan keterampilan staf untuk mempersiapkan opsi strategi jangka panjang.
  • Melakukan analisis situasi politik dan kapasitas teknis untuk menilai reformasi apa yang memiliki kemungkinan berhasil paling tinggi, lalu membangun dukungan dan menegasikan oposisi.
  • Mengembangkan indikator-indikator efisiensi spesifik sesuai dengan persoalan penyebab inefisiensi di negara tersebut, dan mengembangkan agenda untuk meningkatkan capaian kesehatan dengan sumber daya yang tersedia.
  • Melakukan investasi dalam pengembangan metode untuk mengumpulkan data-data indikator dan evaluasi perkembangan capaian secara teratur.
  • Melakukan identifikasi area yang berpotensi dilakukannya aksi secara inter dan multi-sektor yang dapat memaksimalkan dampak kesehatan, serta feasibilitas situasi politik untuk mempengaruhi sektor lain dalam implementasinya. Hal ini dapat membantu kementerian kesehatan untuk mengidentifikasi kementerian-kementerian kunci secara cepat.

{tab title=”Komunitas Internasional” class=”blue”}

  • Menilai secara rutin biaya serta dampak dari strategi/kebijakan untuk meningkatkan efisiensi sehingga kementerian kesehatan dapat menilai dan mempertimbangkan efisiensi serta keberlanjutan pembiayaan dari opsi-opsi kebijakan yang tersedia.
  • Mengembangkan agenda untuk mengidentifikasi cost-effectiveness dari intervensi-intervensi untuk mengurangi health inequalities sebagai bagian dari diskusi efficiency dan equity.
  • Mengembangkan metode yang dapat membantu kementerian kesehatan untuk menilai opsi-opsi aktivitas/agenda inter dan multi-sektoral yang dapat meningkatkan derajat kesehatan lebih luas.
  • Melanjutkan investasi pada teknologi yang berpotensi “shift the frontier”, melakukan identifikasi peluang untuk meningkatkan kesehatan dengan biaya rendah seperti pengembangan vaksin untuk Hepatitis C dan HIV/AIDS.

 

{/tabs}

Laporan oleh: Laksono Trisnantoro

Silahkan klik untuk membaca reportase terkait:

  

 

 

 

{jcomments on}

Seminar Eksekutif Lanskap Sektor Swasta dalam Pelayanan Kesehatan di Indonesia

Seminar Eksekutif
Lanskap Sektor Swasta dalam Pelayanan Kesehatan di Indonesia

Pusat Kebijakan dan Manajemen Kebijakan
Fakultas Kedokteran, Universitas Gadjah Mada

Pengantar

Penyedia layanan kesehatan non-pemerintah merupakan salah satu komponen utama dalam sistem kesehatan di Indonesia yang telah beroperasi selama lebih dari 100 tahun. Dalam 10 tahun terakhir, sektor ini telah mengalami perkembangan yang pesat. Dengan perubahan demografi dan epidemiologi yang progresif disertai dengan pertumbuhan ekonomi di Indonesia, permintaan akan teknologi pelayanan kesehatan yang lebih canggih dan pelayanan sekunder terus meningkat. Kebijakan deregulasi saat ini diterapkan oleh pemerintah Indonesia yang memungkinkan pembentukan fasilitas kesehatan non-pemerintah baru, mulai dari klinik ke rumah sakit internasional skala besar, telah meningkatkan peran sektor non-negara dalam sistem kesehatan di Indonesia. Sistem JKN saat ini juga mendorong adanya pertumbuhan sektor swasta. Seminar ini mencoba untuk membahas peran sektor swasta selama implementasi JKN berjalan.

Tujuan

  1. Menggambarkan dinamika sektor privat di Indonesia selama implemetasi JKN berjalan.
  2. Mendiskusikan hambatan yang dialami pemerintahan sistem kesehatan dalam memanfaatkan pertumbuhan sektor swasta.
  3. Menguatkan peran Dinas Kesehatan sebagai lembaga pelayanan dan penyelenggara sistem kesehatan.


Peserta

Peserta kegiatan ini adalah:

  1. Peserta Pelatihan Kemitraan Sektor Swasta untuk cakupan Kesehatan Semesta
  2. Penyelenggaran Rumah Sakit & Klinik Swasta
  3. Dinas Kesehatan Provinsi DIY
  4. Peneliti, Praktisi, dan Akademisi

Agenda

Diskusiakan diselenggarakan pada Jumat, 28 April 2017; pukul 13:30 – 15:30 WIB; bertempat di Laboratorium Leadership dan Kepemimpinan, Gedung IKM Lama Lantai 3 Fakultas Kedokteran, Universitas Gadjah Mada. Bapak/ Ibu/ Sdr yang tidak dapat hadir secara tatap muka dapat tetap mengikusi diskusi webinar melalui link registrasi berikut:

https://attendee.gotowebinar.com/register/4750028052158418178
Webinar ID 885-244-659 

Pembiayaan Kesehatan dan JKN dapat diakses selengkapnya melalui http://www.kebijakankesehatanindonesia.net/.
Pemateri

  • Prof.dr.Laksono Trisnantoro, M.Sc., Ph.D
  • Elisabeth Listyani, S.E

Moderator

  • Shita Dewi

Pembahas

  • Yayasan YAKKUM

Susunan Acara

Waktu Materi Pemateri/ Pembahas
13:30-13:40 Pembukaan Moderator
13:40-14:10 Pemateri Sesi 1 Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc., Ph.D
14:10-14:40 Pemateri Sesi 2 Elisabeth Listyani, S.E
14:40-15:00 Pembahas Yayasan YAKKUM
15:00-15:30 Diskusi/tanya-jawab Pemateri/ Pembahas
15:30 Kesimpulan /Penutup Moderator

Pembiayaan kontribusi peserta

  • Peserta webinar dikenakan biaya Rp 50.000,00 /orang;
  • Peserta Executive Seminar dikenakan biaya Rp 100.000,00/orang

*Peserta yang mengikuti selama 5 kali executive seminar akan mendapatkan Sertifikat SKP IDI, IAKMI


Informasi dan pendaftaran

Maria Lelyana (Lely)
Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan
Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Yogyakarta
Telp/Fax. (0274) 549425 (hunting), 081329760006 (HP/WA)
Email: [email protected] 
Website: http://www.kebijakankesehatanindonesia.net/  

 

 

Reportase World Congress on Public Health – Hari 5

Merayakan Hari Kesehatan Dunia

Margareth ChanMargaret Chan, Director General WHO, melalui video konferens menyampaikan ucapan selamat untuk WFPHA atas pencapaiannya selama lebih dari 50 tahun di World Health Day 2017. Apa saja pencapaian kita? Saat ini angka kematian akibat Malaria di Afrika telah menurun sampai 60%. Lebih dari 80 juta ODHA yang hidup dalam kemiskinan saat ini telah menerima ARV. Insidensi tuberculosis sudah jauh menurun dalam 3 dekade terakhir. Tapi tidak hanya itu, kita perlu juga merayakan pencapaian kita akan kolaborasi yang telah dilakukan oleh para ahli dan pemerhati kesehatan masyarakat.

Isu determinan sosial, politik, ataupun komersial kesehatan merupakan sesuatu yang tidak mungkin didiskusikan 15 tahun yang lalu, namun saat ini kita sudah berani mendiskusikannya. Ini adalah salah satu wujud kolaborasi yang telah terbentuk dengan baik. Saat ini kita sudah mempunyai banyak bukti ilmiah mengenai isu-isu tersebut, misalnya: bagaimana faktor sosial ekonomi berperan penting pada penurunan insidensi tuberculosis, menurunkan angka kematian ibu dan eradikasi polio. Visi ke depannya sangat penting bagi kita untuk mempertahankan dan meningkatkan kekuatan kita dengan melibatkan sektor-sektor lain di bidang kesehatan.

Rudiger KrechRudiger Krech, Direktur Sistem dan Inovasi Kesehatan WHO melanjutkan dengan pentingnya menjaga keseimbangan antara aspek ‘teknis’ dan ‘politis’. “Kita perlu tetap memahami isu politik yang terjadi, sementara kita harus tetap kuat di aspek teknis yang sudah menjadi keahlian praktisi kesehatan masyarakat”, ujar Krech. Krech menutup dengan ekspektasi bahwa WFPHA tetap menjadi satu asosiasi yang mempengaruhi isu public health di ranah internasional dan tetap berkomitmen untuk membuat perbedaan dan perubahan.

Young People Voices

SM FinlayAda yang menarik dengan plennary di hari penutup ini. Tidak hanya menampilkan ahli-ahli kesehatan masyarakat senior, ahli-ahli muda dan siswa SMU pun diundang untuk menyampaikan visi mereka akan isu kesehatan.

Summer May Finlay, peneliti muda berdarah Indigenous, menggarisbawahi betapa minimnya kekuatan yang dimiliki oleh populasi Aboriginal dalam menentukan nasib mereka sendiri. “Nothing about us without being led but us”, seharusnya itu yang terjadi. Finlay memberi contoh pemerintah Western Australia yang memutuskan menutup lebih dari 200 komunitas Aborigin tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan masyarakat Aborigin tersebut. Penelitian nasional tentang Indigenous Health juga dipimpin dan dilaksanakan oleh peneliti non-Indigenous. “Seharusnya tidak satu pihak pun yang berbicara atas nama orang Indigenous. Saya berharap suara dari orang Indigenous dihargai dan diprioritaskan untuk masalah yang menyangkut hajat hidup mereka”, sambung Finlay. Albert Einstein berkata orang gila adalah yang melakukan berkali-kali hal yang sama tapi mengharapkan hasil yang berbeda, itulah yang terjadi di Australia. Finlay mengharapkan ke depannya non-Indigenous lagi tidak terlalu banyak mencampuri urusan Indigenous dan pentingnya memberikan kesempatan bagi kaum Indigenous untuk menemukan visi dan solusi-nya sendiri.

Nicola Hames dari Warwick High School menyampaikan keprihatinannya terhadap kesehatan jiwa remaja di seluruh dunia. Di Australia diperkirakan 30% remaja menghadapi masalah kejiwaan. Kita perlu penatalaksanaan kesehatan jiwa yang memberikan dukungan dan pertolongan tidak hanya di fasilitas kesehatan tapi juga untuk peer-to-peer.

Siswa lainnya, menyoroti bagaimana visi ke depan tentang kesehatan. Kesehatan tidak melulu mengenai pengobatan untuk menyembuhkan penyakit, tetapi juga untuk mencegah penyakit. Teknologi sangat berkembang saat ini dan perlu dimanfaatkan untuk kesehatan. Salah satu strategi yang dapat dilakukan yaitu mendata jumlah anak yang ada dan mengintegrasikan data kesehatan dengan data sekolah.

}

demand for action

Laetitia Rispell dari Universitas Witwatersrand Afrika Selatan, Presiden WFPHA terpilih, menyampaikan ajakan bagi praktisi kesehatan masyarakat di dunia untuk membuat aksi nyata. Adanya globalisasi saat ini membuat satu manusia dengan manusia lainnya semakin terhubung. Bukti ilmiah menunjukkan bahwa faktor sosial, politik, ekonomi dan lingkungan berdampak pada kesehatan masyarakat. Kesehatan individu hanya akan tercapai apabila ada kesinambungan sistem kesehatan negara masing-masing. Sistem kesehatan di satu negara akan berdampak pada kesehatan di negara lain.

Untuk itu, kami sebagai organisasi non-pemerintah yang mewakili pemerhati dan praktisi kesehatan masyarakat di dunia, menyatakan berkomitmen untuk meningkatkan status kesehatan untuk semuanya, dengan mengatasi inequity sebagai kontributor utama tidak tercapainya status kesehatan terutama pada anak, perempuan, indigenous, masyarakat miskin dan rentan. Apa yang akan kami lakukan berlandaskan pada Declaration of Alma-Ata 1978, The Ottawa Charter on Health Promotion 1986, the Rio Political Declaration on Social Determinants of Health in 2011, the United Nations Sustainable Development Goals 2016, the Shanghai Declaration on Promoting Health in the 2030 Agenda for Sustainable Development 2016, serta deklarasi dari World Congress on Public Health di tahun-tahun yang lalu. Kami akan melaksanakan komitmen kami dengan berbagai cara kepada berbagai pemangku kepentingan: pemerintah, industri, sektor swasta, akademisi, serta masyarakat untuk mendorong upaya promosi kesehatan dan pencegahan. Kami akan menggagas dan memanfaatkan berbagai inovasi mulai dari inovasi sosial sampai teknologi untuk mendukung pemerintah serta memberdayakan masyarakat menggunakan pengetahuan dan keterampilan yang kami miliki dalam rangka mendorong tercapainya equity dan social inclusion.

Laetitia Rispel OKKami berharap apa yang kami deklarasikan ini dapat diterapkan juga oleh seluruh lapisan pemerintahan mulai dari pemerintah lokal, nasional dan internasional, masyarakat termasuk organisasi masyarakat sipil, akademisi, serta perusahaan dan sektor swasta. Kami ingin seluruh pihak tadi bahu-membahu mewujudkan regulasi, legislasi dan skema pajak yang kuat bagi produk-produk yang membahayakan kesehatan, menerapkan kebijakan fiskal yang mendukung pembiayaan kesehatan, menentang kesepakatan-kesepakatan internasional yang tidak mendukung equity, mendukung perjanjian internasional yang mengurangi risiko kesehatan misalnya Framework Convention on Tobacco Control, serta meningkatkan dukungan biaya untuk sistem kesehatan yang berkesinambungan dan universal health coverage.

Sebagai asosiasi praktisi kesehatan masyarakat, kami berkomitmen dan mengajak seluruh praktisi kesehatan masyarakat untuk mendorong upaya proteksi, promosi kesehatan serta upaya preventif melalui: mempraktikkan good governance, meningkatkan kapasitas petugas kesehatan, melaksanakan advokasi yang lebih efektif, serta mengupayakan pengumpulan dan diseminasi bukti-bukti ilmiah terkait kesehatan masyarakat.

Dokumen Demand for Action dapat diunduh pada link berikut:
http://wcph2017.com/d/WCPH2017-Melbourne-Demand-for-Action.pdf 

Reporter: Like Prawidya Putri

  REPORTASE TERKAIT :

Reportase World Congress on Public Health – Hari 4

Tantangan Mencapai Equity di Wilayah Asia Pasifik

shin yong sooShin Young-Soo, Direktur Western Pacific Regional dari World Health Organization mendeskripsikan situasi equity di wilayah Asia Pasifik. Pencapaian MDGs sebagian besar telah memenuhi target, tetapi inequity tetap terjadi. Terjadi perbedaan U5MR tergantung pada tingkat pendidikan, lokasi tempat tinggal. Populasi yang tidak pernah bersekolah selalu memiliki angka kematian tertinggi.

Western Pacific itu terdiri atas berbagai macam negara, mulai dari negara dengan advanced economies seperti Australia dan New Zealand, ada yang dalam situasi transition economies seperti China dan Mongolia, negara-negara middle-income countries di wilayah kepualuan Pasifik seperti Samoa, Fiji dan negara-negara yang memberlakukan sistem desentralisasi seperti Filipina.

Negara dengan advanced economies tentunya memiliki infrastruktur sosial yang baik dan mekanisme pembiayaan yang solid. Namun demikian, tetap ada kelompok populasi tertentu yang termarjinalisasi, misalnya saja di Australia yang selalu memiliki masalah inequity antara indigenous dan non-indegenous. Di negara dengan transition economies, misalnya China, telah terjadi perubahan penitikberatan penyelenggara kesehatan dari district level model of pelayanan primer menjadi komersialisasi dan privatisasi rumah sakit. Inequity antara miskin dan kaya semakin melebar.

Sementara itu negara-negara Pasifik kepulauan, misalnya Samoa, mengalami krisis SDM kesehatan karena tingginya brain drain dan ketersediaan SDM yang terkonsentrasi di rumah sakit. Ketergantungan pada donor tinggi dan ownership pemerintah nasional terhadap program-program kesehatan rendah. Tantangan terbesar saat ini yaitu meningkatnya insidensi penyakit tak menular serta melawan perubahan iklim dan dampaknya. Sedangkan untuk negara yang terdesentralisasi seperti Filipina, mengalami masalah sosial politik yang kompleks, terutama dengan adanya 1500 pemerintahan kabupaten/kota yang masing-masing memiliki kewenangan tersendiri. Pemerintah pusat menemui kendala besar dalam menerapkan kebijakan nasional ke seluruh kabupaten/kota di bawahnya.

WHO telah melakukan beberapa upaya untuk mempersempit jurang equity: salah satunya dengan mengkampanyekan universal health coverage (UHC). “Equity is a cornerstone of UHC. Dengan adanya UHC, akses kesehatan pada kelompok-kelompok masyarakat yang berbeda akan lebih merata”, ujar Shin. Regional action agenda lainnya yaitu “Leaving no-one behind”, dengan equity sebagai konsep intinya dan SDGs sebagai indikator-indikator prioritasnya.

WHO telah memberikan dukungan untuk membantu negara-negara dalam menyusun peta jalan untuk mencapai UHC, meningkatkan kapasitas leadership dari pemerintah untuk berkomitmen pada pembiayaan untuk UHC, serta memberikan pedoman-pedoman untuk mengevaluasi pencapaian UHC dan SDGs. Adanya SDGs merupakan tantangan tersendiri bagaimana kita bisa merangkul lebih banyak pihak untuk mempercepat pencapaian SDGs itu sendiri.

Sebagai praktisi kesehatan masyarakat, apa tugas kita selanjutnya?

Ada 3 hal: informing, influencing, dan institutionalising. Informing: praktisi kesehatan masyarakat harus memahami kaitan antara social determinant of health dan health equity, memahami bagaimana sektor-sektor lain dapat turut berkontribusi serta prioritas-prioritas yang dimiliki sektor lain tersebut, serta memahami kebutuhan dari perspektif masyarakat. Influencing: praktisi kesehatan masyarakat harus memperkuat kemampuan untuk mengadvokasi dan menggandeng sektor lainnya, memobilisasi dukungan politik dan finansial, dan memanfaatkan adanya kebijakan dengan efektif. Institutionalising: praktisi kesehatan masyarakat secara aktif mengangkat isu-isu prioritas tertentu dan mendiseminasikan bagaimana upaya yang dapat ditempuh untuk mencapai target yang diinginkan.

Bagaimana pendidikan kesehatan masyarakat ke depannya?

Dengan tantangan yang ada saat ini, perlu membentuk para praktisi kesehatan masyarakat yang ahli dalam berkolaborasi, advokasi dan memperkuat proses pembuatan kebijakan. Tidak hanya ketrampilan untuk promosi kesehatan saja yang dipersiapkan bagi para calon praktisi kesehatan masyarakat, tetapi juga kemampuan untuk aware terhadap isu politik dan ekonomi yang berkembang, reseptif pada perkembangan terbaru serta responsif pada kebutuhan masyarakat.

Kesimpulannya, public health saat ini mau tidak mau dipengaruhi isu sosial dan politik, sehingga penting untuk memahami determinan-determinan dari equity dari aspek sosial, politik serta faktor lain yang jarang tersentuh sebelumnya, seperti aspek komersial. Inequity terjadi di mana-mana, tapi dalam bentuk yang berbeda-beda. Kita perlu cermat menganalisis apa bentuk equity yang terjadi di wilayah atau negara kita, dengan mempertimbangkan konteks dan situasi yang ada.

Kesehatan sebagai Kompas untuk Menuntun Arah Inovasi

11apr 3Ada dua pesan utama yang disampaikan oleh Rüdiger Krech dari Department Sistem dan Inovasi Kesehatan WHO yaitu pentingnya regulasi dan inovasi dalam pencapaian tujuan kesehatan ke depannya. “Saat ini, mobilitas manusia luar biasa besar, yaitu 3.6 milyar penumpang pesawat internasional dan diperkirakan akan naik dua kali di tahun 2035. Semakin tinggi tingkat perpindahan manusia, semakin cepat pula kuman menyebar”, papar Krech memulai pidatonya. Krech memberikan contoh penyebaran virus Zika di tahun lalu. Ini salah satu faktor risiko transmisi penyakit menular yang pasti kita hadapi ke depannya. Krech juga mengingatkan kita pada epidemi Ebola beberapa waktu silam. Saat itu, data dari google berupa jumlah pencarian gejala Ebola memberikan informasi yang lebih real time mengenai potensi wabah dibandingkan data dari sektor kesehatan. Kejadian-kejadian tersebut menekankan pentingnya inovasi dan berpikir jauh ke depan dalam upaya pengendalian penyakit.

Teknologi yang maju dan akan semakin maju merupakan peluang yang mutlak perlu dimanfaatkan oleh praktisi kesehatan masyarakat. Pemeriksaan kesehatan jarak jauh, yang lagi-lagi berbasis teknologi, sangat pesat berkembang. Pemanfaatan aplikasi berbasis smartphone untuk promosi dan upaya pencegahan kesehatan pun sudah begitu luas dipraktikkan. Apakah inovasi hanya sebatas teknologi? Tentunya tidak. Berbagai inovasi juga dikembangkan mengenai di dunia sosial dan ekonomi, misalnya: sistem pembiayaan, pendekatan sosial, sistem penjualan produk, dan sebagainya.

Namun, siapa yang dapat memutuskan inovasi apa yang baik ataupun kurang baik? Dunia ini penuh dengan berbagai inovasi dan kesehatan dapat menjadi indikator untuk menentukan apakah satu inovasi layak terus dikembangkan atau perlu perbaikan. “Kesehatan dapat menjadi kompas dalam pengembangan inovasi”, tegas Krech. Misalnya untuk inovasi terkait sistem sosial atau ekonomi, kita sebagai praktisi kesehatan masyarakat perlu memantau apakah dampaknya baik bagi kesehatan individu dan masyarakat? Perkembangan di dunia transportasi, bagaimana dampaknya bagi status kesehatan masyarakat? Perlu penelitian-penelitian antara lain terkait manfaat kesehatan, risiko kesehatan individu dan masayarakat.

Setelah kita mengetahui dampaknya bagi masyarakat, langkah selanjutnya yaitu menetapkan regulasi. Dengan adanya inovasi dalam hal transportasi, misalnya transportasi umum online, setelah kita tahu bagaimana dampaknya terhadap angka kecelakaan, maka perlu menginisiasi peraturan untuk melindungi kesehatan masyarakat. Dengan adanya inovasi produk makanan baru, perlu ada regulasi untuk mengendalikan peredaran atau kandungan tertentu di produk tersebut. Tidak hanya di tingkat nasional, perlu kesepakatan internasional untuk memastikan kesehatan manusia terlindungi.

Siapa yang jadi pemimpin dalam hal regulasi inovasi? Pemerintah dan masyarakat-lah yang harus aktif menginisiasi perlunya regulasi-regulasi tertentu. “Kita tidak bisa membiarkan sektor bisnis dan swasta untuk menentukan arah perkembangan dunia kita di kemudian hari. Kombinasi antara topdown regulasi pemerintah dan bottomup aspirasi masyarakat adalah alat legal yang paling efektif, tutup Krech.

Reporter: Likke Prawidya Putri

Reporter: Likke prawidya Putri

  REPORTASE TERKAIT :

Reportase World Congress on Public Health – Hari 3

Commercial Determinant for Health: Industri Alkohol dan Politik di Australia

Apa masalah kesehatan utama saat ini yang terkait dengan beban penyakit tidak menular? Ya, jawabannya adalah faktor risiko berupa gaya hidup tidak sehat. Selama ini kita berusaha menerapkan berbagai kebijakan tentang kawasan tanpa rokok, promosi pola makan dan olahraga yang sehat. Kita tidak sadar bahwa di balik semua itu terdapat raksasa industri yang secara ‘kasat mata’ menjadi tantangan terbesar kita. Sesi Plennary di hari ketiga ini menguak fakta-fakta bagaimana faktor komersial menjadi salah satu penentu penting status kesehatan masyarakat.

peter miller

Peter Miler dari University of Deakin mengangkat isu industri alkohol sebagai salah satu pihak yang ‘berkepentingan khusus’ yang memiliki vested interest. Saat ini marak asosiasi yang mempromosikan mengenai konsumsi alkohol dalam batas yang sehat dan aman, misalnya DrinkWise ataupun DrinkAware. Dengan adanya asosiasi tersebut, perilaku minum alkohol, yang termasuk gaya hidup yang berisiko, dianggap sesuatu yang aman untuk masyarakat. Namun demikian, kita tidak sadar bahwa industri alkohol sebenarnya memanfaatkan adanya asosiasi tersebut untuk membawa image positif pada produknya. Lebih parah lagi, terdapat beberapa penelitian yang didanai atau didukung oleh perusahaan-perusahaan tertentu, sehingga hasil penelitian yang ditampilkan kurang independent dan hanya melaporkan hal-hal yang mendukung industri. Hasil penelitian semacam ini juga sering tidak mencantumkan sponsor penelitian dalam acknowledgement-nya dan menuliskan bahwa tidak ada conflict of interest. Salah satu contoh penelitian tersebut yaitu adanya efek cardioprotective dari konsumsi alkohol dalam jumlah tertentu. Strategi lainnya terkait penelitian yaitu perusahaan-perusahaan ini mendanai penelitian tentang dampak konsumsi alkohol dalam jumlah sedang (moderate-level) saja tanpa melibatkan konsumsi alkohol dalam jumlah tinggi. Dalam salah satu penelitian, disebutkan intervensinya yaitu meminta responden untuk mengkonsumsi alkohol dalam jumlah tertentu.

Strategi kedua dari perusahaan ini yaitu dukungan kepada partai politik secara langsung maupun tidak langsung. Data di Australia menunjukkan bahwa partai-partai politik di Australia menerima dana cukup besar dari industri tembakau, alkohol dan gambling. Contoh lobi ‘halus’ lainnya yaitu begitu seringnya parlemen menyelenggarakan pesta atau pertemuan yang menyediakan minuman beralkohol yang disponsori oleh industri. Tak ketinggalan event olahraga yang disponsori oleh industri alkohol.

Strategi berikutnya adalah kemitraan dengan perusahaan lainnya, misalnya kerjasama antara DrinkWise dan Uber yang memfasilitasi layanan antar untuk minuman beralkohol. Di samping itu, adanya diversion tactic atau pengalihan yaitu dengan memberikan jargon yang terkesan aman misalnya bir rendah karbohidrat atau bir rendah kalori. Hal ini dilakukan juga industri rokok yang telah banyak mempromosikan adanya rokok rendah tar atau rokok untuk wanita.
Strategi lain yang cukup membahayakan yaitu dukungan industri pada media. Di Australia, Herald Sun, surat kabar yang terkemuka di Australia, mendapat pemasukan sangat besar per tahunnya dari iklan produk beralkohol. Dengan demikian media pun dapat ‘dibeli’ untuk menampilkan atau menyembunyikan informasi tertentu mengenai dampak alkohol bagi kesehatan. Strategi terakhir tapi tidak kalah berbahaya yaitu fenomena revolving door tokoh-tokoh politik yang setelah pensiun memasuki organisasi lobbying untuk alkohol ataupun industri ataupun sebaliknya. Misalnya mantan direktur pengawasan lisensi yang menjadi pimpinan di DrinkWise. Hal ini tentunya dapat sangat berpengaruh pada pengambilan kebijakan terkait alkohol di Australia.

Bagaimana dengan peran kita sebagai pemberi masukan? Penelitian, diseminasi dan menggandeng para tokoh politik harus dilakukan secara konsisten dan tidak mengenal putus asa. Peter Miller mencontohkan upaya yang dilakukannya untuk mengadvokasi tetapi ditolak mentah-mentah di depan publik. Meskipun media bukan menjadi ranah langsung dari kesehatan masyarakat, sangat penting untuk memastikan integritas dan transparansi dari media dalam menyampaikan berita tertentu. Di samping itu, kita perlu mendampingi pemerintah dalam memilah hasil-hasil studi yang ada untuk mendukung kebijakan ke depan.

Kebijakan Apa yang Paling Efektif Menurunkan Konsumsi Rokok?

prabhatProfessor Prabhat Jha, chair Dalla Lana School of Public Health Canada yang telah melakukan berbagai penelitian terkait dampak ekonomi dan kesehatan rokok, memulai sesinya dengan 5 poin kesimpulan: 1) perokok memiliki usia harapan hidup 10 tahun lebih pendek daripada bukan perokok; 2) berhenti merokok sebelum usia 40 tahun dapat mencegah 90% beban penyakit akibat merokok; 3) tembakau merupakan salah satu penyebab kemiskinan dan kebijakan pembatasan rokok berpotensi mengurangi angka kemiskinan, dan 4) menaikkan harga rokok 3 kali akan mengurangi 1/3 konsumsi rokok dan menghindari 200 juta kematian.

Perokok memiliki risiko mati lebih muda 10 tahun daripada bukan perokok. Bagaimana bila dibandingkan dengan konsumsi alkohol? Satu pesan dari Prabhat Jha, ‘don’t drink like Russian male’ dengan kata lain asalkan alkohol tidak dalam kadar sangat tinggi, yakni 1 botol vodka per hari (kandungan 40% alkohol). Sedangkan dibandingkan dengan obesitas, Studi Peto et al (2010) menunjukkan bahwa untuk mendapat dampak berkurangnya 10 tahun usia harapan hidup dari merokok, perlu mengalami obesitas dengan indeks BMI 40 – 50. Ilustrasi di atas menggambarkan betapa beratnya risiko penyakit seorang perokok.
Namun demikian ada ‘berita baik’ untuk perokok. Apabila berhenti merokok pada usia 35 – 44 tahun, maka usia harapan hidup yang hilang 10 tahun tadi akan kembali sebesar 9 tahun; berhenti pada usia 45 – 54 tahun akan mengembalikan 6 tahun harapan hidup Anda, seperti yang terlihat pada gambar di bawah ini:

years

Berita baik lainnya adalah dengan adanya teknologi kesehatan yang semakin baik, risiko kematian karena merokok jauh berkurang dalam 3 dekade terakhir. Tetapi, perlu diingat bahwa biaya yang dikeluarkan untuk membayar teknologi itu juga sangat besar.

Data yang dipaparkan Prabhat Jha menunjukkan bahwa perusahaan rokok membuat keuntungan $10,000 dollar setiap ada seorang perokok meninggal. Ironis bukan?

Studi menunjukkan bahwa menaikkan pajak rokok sampai dengan 100% dapat menurunkan 20% prevalensi merokok. Di Perancis, kenaikan harga rokok mulai diperkenalkan pada awal 1990-an yang mencapai 300% di tahun 2011, sementara rerata konsumsi rokok 6 batang per hari di awal 1990-an menurun drastis menjadi separuhnya di tahun 2011. Data dari ADB (2013) menunjukkan dampak dari kenaikan harga rokok hanya 6.4% yang ditanggung oleh masyarakat dengan status sosial ekonomi terendah tetapi manfaat yang diperoleh dalam hal kematian yang dapat dicegah yaitu 32%, lebih tinggi dari kematian yang akan dicegah di kelompok sosial ekonomi tertinggi. Dapat disimpulkan bahwa bila harga rokok naik, maka yang terkena dampak terkecil justru kalangan sosial ekonomi tertinggi, yang berarti mengurangi kesenjangan yang terjadi.

Tidak hanya itu, peningkatan harga rokok akan mengurangi pasar gelap serta memperkecil selisih harga antara rokok yang mahal dan murah.
Pajak atau cukai rokok yang naik sampai 3 kali lipat akan menurunkan konsumsi rokok sampai 1/3 dan mencegah sampai dengan 200 juta kematian. Sekali lagi perlu diingat, dampak-dampak tersebut hanya akan terlihat kalau harga pajak rokok naik sekurang-kurangnya 100%.

Kuncinya: Triple – Halve – Double. Naikkan harga rokok sampai 3 kali lipat, konsumsi akan berkurang separuhnya, pendapatan pemerintah dari tembakau akan naik 2 kali lipat.

Informasi lebih lanjut mengenai studi Prabhat Jha dan tim-nya dapat dilihat di www.cghr.org 

Apakah Kita Sudah 100% Anti Rokok?

11apr 2

Masih tentang industri tembakau, Bronwyn King, CEO Tobacco Free Portfolio menceritakan bagaimana semua orang di Australia sebenarnya berperan dalam membesarkan bisnis tembakau tanpa disadari. Berawal dari pengalaman King dalam mengurus superannuation (dana pensiun wajib yang diberlakukan di Australia). Dari agen marketing yang menawarkan program dana pensiun tersebut, King baru mengetahui bahwa dana tersebut diinvestasikan ke perusahaan-perusahaan tembakau. King mencari tahu ke provider dana pensiun lainnya dan hasilnya sama saja, bahwa fund manager tersebut berinvestasi ke perusahaan yang terkait dengan tembakau. Empat dari 5 perusahaan papan atas yang menjadi sasaran investasi fund manager bergerak dalam industri tembakau, yakni: British American Tobacco, Imperial Tobacco Group, Phillip Morris dan Swedish Match Company.

Mengapa fund manager tersebut berinvestasi ke industri tembakau? Faktanya, karena di atas kertas perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang tembakau dan rokok memiliki track record yang baik dalam segi finansial, yakni menguntungkan dan akuntabel, sehingga hampir selalu konsisten menempati peringkat tertinggi sebagai perusahaan terbaik di dunia. Para fund manager mungkin mengetahui tentang risiko tembakau, tetapi tidak atau kurang peduli pada dampak jangka panjang dari investasi tersebut.

King memberikan poin-poin penting supaya kita sebagai praktisi kesehatan masyarakat dapat lebih tajam dan menohok dalam mempromosikan dampak buruk rokok kepada bidang lain dan bagi masyarakat sebagai investor. Pertama, rokok tidak dapat dikonsumsi dalam jumlah yang aman. Sebatang rokok pun per hari dapat meningkatkan risiko penyakit kronis. Kedua, regulasi terkait rokok sudah sangat banyak dan akan semakin banyak, sehingga ke depannya dapat lebih berisiko bagi bisnis. Ketiga, bisnis rokok menginternalisasi profit dan mengeksternalisasi risiko biaya jangka panjang. Perusahaan rokok menerima keuntungan yang sangat besar, tetapi kerugian akibat rokok misalnya: biaya pengobatan kanker, penyakit jantung dan morbiditas lainnya akibat rokok ditanggung oleh pemerintah, bahkan masyarakat. Dengan kata lain, meskipun investor seakan-akan mendapat keuntungan, investor (masyarakat) pun mengalami kerugian karena harus menanggung biaya kesehatan akibat rokok melalui premi asuransi. Terakhir, bisnis tembakau telah membahayakan keamanan pangan di beberapa wilayah karena tergusurnya pertanian tanaman pangan serta 60% pekerjanya masih anak-anak.

Jadi, bagi Anda yang memiliki investasi saham, reksadana, ataupun tabungan dana pensiun dan sejenisnya, tanya pada manajer Anda apakah investasi Anda bebas rokok

Hidup untuk Makan, atau Makan untuk Hidup?

Demaio instagram

Usia harapan hidup di seluruh dunia telah berlipat ganda sejak tahun 1900, dan salah satu faktor penyebabnya adalah makanan. Proporsi kelaparan telah turun sampai 50% sejak 1969. Dr. Alessandro Demaio dari Department of Nutrition for Health and Deveopment WHO menjabarkan bahwa makanan telah menjadi penyelamat hidup manusia—makanan untuk hidup. Tapi saat ini gaya hidup telah membalik menjadi hidup untuk makan. Contoh gampangnya adalah kebiasaan untuk mengabadikan dan mengunggah makanan ke sosial media. Demaio juga menyebutkan bahwa sebagian besar foto yang diunggah ke Instagram adalah foto makanan.

Tidak bisa dipungkiri bisnis makanan merupakan bisnis yang besar. Salah satu contoh untuk salah satu retail burger di Australia, keuntungan yang diperoleh adalah 5 milyar dollar di tahun 2016—yang berarti 200 dollar per penduduk Australia. Sama halnya dengan makanan junk food, bisnis minuman soda juga sangat menguntungkan karena modalnya murah, prosesnya mudah, dan masyarakat mau membayar cukup tinggi—bandingkan antara minuman bersoda dan air mineral yang menggunakan bahan baku yang sama tetapi harga minuman bersoda mencapai 3 kali air mineral.

Di balik ‘ongkos produksi’ yang murah dan keuntungan tinggi yang diraup raksasa bisnis makanan, terdapat ‘ongkos tidak langsung’ yang akan ditanggung oleh negara dalam bentuk biaya pelayanan dan perawatan kesehatan—sama halnya dengan kasus bisnis tembakau. Masyarakat pun secara tidak langsung ikut menanggung beban itu karena menjadi pembayar premi asuransi. Demaio mengilustrasikan 3 tingkat dari ‘cost’ akibat tembakau: 1) yang konsumen bayar secara sadar, yaitu harga soda tersebut yang relatif murah; 2) yang konsumen bayar di kemudian hari tanpa sadar, yakni apabila kita akhirnya terkena penyakit akibat minuman bersoda, dan; 3) yang dibayar oleh seluruh masyarakat sebagai upaya menanggung risiko biaya perawatan akibat penyakit yang disebabkan oleh minuman bersoda, yakni premi asuransi.

Bagaimana hal ini terus-menerus terjadi? Lagi-lagi sama hal-nya dengan bisnis tembakau, yakni karena adanya promosi yang jor-joran, mendistraksi dari situasi yang sebenarnya ada. Hal inilah yang memicu ide adanya sin tax—perlu diingat bahwa kata-kata ‘sin tax’ ini bisa sensitif dan cenderung menimbulkan penolakan, sebaiknya diramu menjadi “true pricing for product” atau biaya riil total. Produsen perlu ikut andil bertanggung jawab pada dampak biaya jangka panjang yang ditimbulkan. Kita perlu memperkuat bukti ilmiah di sini sehingga advokasi ke arah tersebut dapat segera terwujud.

Kunci utamanya: kebijakan, kebijakan dan kebijakan. Kita perlu kebijakan kesehatan yang kuat untuk menekan promosi dan peredaran produk makanan minuman yang kurang sehat serta promosi ke masyarakat mengenai risiko negatif sebagai dampak produk tersebut. Kita perlu kebijakan yang menguak tentang beban biaya yang seharusnya ditanggung oleh perusahaan-perusahaan tersebut. Kita perlu kebijakan yang berbasis bukti untuk memperkuat proses advokasi.

Reporter: Likke prawidya Putri

  REPORTASE TERKAIT :

Reportase World Congress on Public Health – Hari 2

Plennary hari kedua mengusung tema Sustainable Development Goals dan tantangannya di berbagai belahan dunia. Sesi ini diisi oleh ahli dari Afrika, Pasifik serta representatif dari World Health Organization.

Permasalahan Kesehatan di Dunia

Colin Tukuitonga day 2Dimulai oleh Profesor Alex Ezeh, Direktur Eksekutif dari African Population and Health Research Center (APHRC) yang menunjukkan bahwa angka prevalensi dan insidensi penyakit di Afrika mengalami penurunan bermakna, meskipun tetap lebih tinggi dibandingkan dengan rerata penduduk dunia. Afrika mengalami tidak hanya double, triple, tetapi quadruple burden of disease yaitu: tingginya angka kematian ibu dan anak yang gagal mencapai target Millenium Development Goals (MDGs), beban penyakit menular yang masih tinggi terutama Malaria dan HIV/AIDS, kecelakaan lalu lintas dan beban penyakit tak menular termasuk kesehatan jiwa.

Beberapa faktor yang mempengaruhi kondisi ini yaitu tingginya tingkat pertumbuhan penduduk, bencana alam yang cukup sering terjadi, krisis pangan yang terus menerus terjadi akibat kemarau panjang, buruknya pengelolaan limbah, serta lemahnya sistem kesehatan. Tetapi yang cukup ironis adalah di saat media internasional menaruh perhatian pada bencana tanah longsor di Addis Ababa, ribuan penduduk Afrika meninggal setiap harinya karena pengelolaan limbah yang buruk. Ini adalah bukti di mana faktor lingkungan sebagai determinan kesehatan masih kurang diperhatikan.

Seperti hal-nya di Afrika, status kesehatan masyarakat di Pasifik pun mengalami peningkatan dalam beberapa dekade terakhir secara rerata, akan tetapi selalu berada jauh di belakang rerata negara-negara di dunia. Usia harapan hidup di Nauru, justru mengalami penurunan. Bertolak belakang dengan situasi Afrika yang sebagian besar masalah kesehatannya disebabkan oleh situasi dalam benua itu sendiri, permasalahan kesehatan di negara-negara Pasifik timbul karena situasi atau perilaku dari bagian dunia lainnya. “Wilayah Pasifik yang meliputi 1/3 bagian dari keseluruhan permukaan bumi dan didominasi wilayah perairan, saat ini mengalami ancaman besar dari climate change, tingginya polusi di wilayah perairan, dan overfishing, yang justru terjadi di wilayah lainnya tetapi dampaknya diderita oleh wilayah Pasifik”, ungkap Colin Tukuitange, Dirjen dari Secretary of Pacific Community.

Hal yang cukup ironis adalah dengan wilayah didominasi perairan, cakupan akses pada air bersih di wilayah Pasifik 40% lebih rendah dari seluruh penduduk di dunia. Masih terkait dengan faktor lingkungan, peningkatan permukaan serta tingkat keasaman air laut sebagai dampak dari climate change dapat mengancam keamanan pangan. Cuaca ekstrim yang juga dampak dari climate change, telah menyebabkan kerugian di negara-negara Pasifik yang dipengaruhi. Dalam kurun waktu 8 tahun terakhir, terjadi 8 bencana alam berskala nasional yang menyebabkan beban biaya 2.6% sampai 64% dari total GDP per tahun negara yang terkena.

Ilustrasi di kedua wilayah di atas, Afrika dan Pasifik, menunjukkan betapa tingginya pengaruh lingkungan pada pencapaian kesehatan masyarakat.

Maria Neira day 2Maria Neira, Direktur Department of Public Health and Environment World Health Organization, menegaskan bahwa polusi udara merupakan kegawatdaruratan kesehatan masyarakat saat ini. Data menunjukkan bahwa Polusi udara menyebabkan 3.5 juta kematian di tahun 2012 dan polusi udara dari kegiatan rumah tangga menyebabkan kematian lebih dari 4 juta kasus di tahun yang sama. 41% penduduk dunia masih menggunakan kayu bakar atau batubara atau materi padat lain untuk kegiatan memasak, yang berkontribusi pada tingginya polusi udara indoor. Tingginya polusi udara berkorelasi dengan tingginya prevalensi penyakit pernapasan.

Di samping masalah polusi udara, permasalahan lingkungan lain pun semakin tinggi. 23% beban penyakit di seluruh dunia dipengaruhi secara langsung ataupun tidak langsung oleh masalah lingkungan. Perubahan iklim menyebabkan turunnya produksi pangan, serta tidak adanya akses air bersih dan sanitasi menyebabkan tingginya prevalensi penyakit yang ditularkan melalui air dan/atau makanan. 1 dari 3 penduduk perkotaan tinggal di wilayah kumuh.

5 SDGs saat ini sangat terkait dengan lingkungan: SDG 2 tentang malnutrisi, SDG 3 tentang kesehatan, pelayanan kesehatan dan dampak determinan pada status kesehatan, SDG 6 tentang akses pada air bersih dan sanitasi, SDG 7 tentang akses pada sumber energi modern, dan SDG 11 tentang polusi udara di perkotaan.

Solusi ke Depan

Maria memaparkan: “Mengurangi polusi udara, serta mengatasi permasalahan lingkungan yang berdampak pada kesehatan, memerlukan kolaborasi antara penggunaan clean energy, perbaikan perumahan, tatakota yang ramah lingkungan dan efisien, sarana transportasi yang rendah emisi, serta sektor industri dengan pengelolaan limbah yang baik”. Beberapa aspek yang akan menjadi fokus utama intervensi di Afrika telah sesuai dengan konsep yang yakni: menekan perkembangan wilayah kumuh, memperbaiki pengelolaan limbah, serta mengatasi permasalahan lingkungan.

Sementara itu di Pasifik, “Selama ini perhatian tersebar pada berbagai permasalahan kesehatan, tetapi kita justru melupakan hal dasar, yaitu akses pada air bersih”, tutur Colin. Ke depannya, perlu lebih selektif dan fokus pada satu intervensi supaya lebih besar daya yang dikeluarkan. “Usaha apapun untuk meningkatkan kesehatan masyarakat Pasifik tidak akan bermakna tanpa intervensi untuk meminimalkan dampak climate change. Kita harus mendukung Paris agreement”, tutup Colin.

Demikian juga yang ditegaskan oleh Maria Neira, bahwa game changer dalam dunia kesehatan masyarakat saat ini adalah “Energy”. Saat ini sudah ada Paris agreement, convention Minamata, dan berbagai dokumen kesepakatan lainnya, tetapi belum terlaksana dengan optimal. Di samping itu, 97% budget untuk kesehatan dialokasikan pada healthcare atau upaya kuratif, hanya 3% yang dialokasikan untuk mendukung upaya promotif preventif.

Inilah saatnya kita mulai mempromosikan pentingnya lingkungan yang sehat untuk mencapai status kesehatan yang lebih baik. Kita perlu menggandeng sektor swasta untuk lebih banyak berinvestasi pada isu-isu preventif dari lingkungan seperti: sanitasi, industri yang ramah lingkungan, tatakota yang menjunjung tinggi nilai-nilai kesehatan serta energi yang terbarukan.

Komunikasi Dr. Adang Bachtiar, PhD dengan Presiden WFPHA yang baru:

Dear Mr. Michael Moore
President of the WFPHA

It is nice to talk to you in the WCFPH venue today and thanks for the name card you gave me.

The world dialogue on oral health was very productive of many points:

  1. The global charter people’s health is the future for all health professions moving from just an autonomy of health providers to a significant roles of people to establish an autopoesis system ie a self perpetuating system to achieve a healthier life style.
  2. Indonesia has implemented the dental immunization and to the perception of audiences including Dr.Bettina of WFPHA, it is one example practice of the global charter.  We do hope further development of Dental immunization in other countries. In fact I’ve met several audiences who express their interest to have collaboration including from Australia.  Dr. Bettina expressed her interest that this Dental Immunization can be presented in WFPHA-WHO workshop in Geneve.
  3. One structural dilemma to achieve the Charter is mono loyalty mono health discipline with difficulties in interprofessional collaboration. I believe that WFPHA should take a serious action of this situation and move further from just inviting dental professionals in the Congress but also as a part of the WFPHA. In my country we are on that direction as a rainbow coalition.

Thanking you again to have an opportunity to meet you.

adang

Dr. Adang Bahtiar, PhD

Reporter: Likke prawidya Putri

  REPORTASE TERKAIT :

Reportase World Congress on Public Health – Hari 1

epi visible

We have voices, we have vision, it’s now time for action

Sesi pembukaan di hari pertama diisi oleh sederet akademia dan pemangku kebijakan di bidang kesehatan di Australia.
Profesor Helen Keleher, ketua dari kongres ini membuka dengan memberikan deskripsi dari kegiatan dalam 5 hari ke depan. Kemudian, diikuti oleh Michael Moore selaku Presiden dari WFPHA yang menjelaskan makna dari ‘voices, vision, action’ pada logo kongres ke 15 ini. Begitu banyak bukti-bukti penelitian yang ada dalam ranah kesehatan masyarakat, dari bukti-bukti yang ada kita mendapatkan satu idea atau nilai baru untuk diterapkan. Namun demikian, kendala utamanya adalah bagaimana menindaklanjuti atau melakukan ‘action’ dari hasil penelitian dan ide pemecahan masalah yang kita miliki.

Inti dari kesehatan masyarakat adalah solidaritas, ungkap Bettina Borusch. Bagus atau tidaknya program kesehatan masyarakat tampak dari bagaimana wanita dan grup minoritas menerima manfaat dari program tersebut. Solidaritas akan terwujud bila kita dapat mengajak pihak lain untuk bersama-sama mewujudkan suatu tujuan. Namun perlu diingat bahwa solidaritas bukan semata-mata mengajak pihak lain, sebagaimana pemerhati kesehatan mengajak lintas sektor untuk bersama-sama memperhatikan program kesehatan, tetapi juga memastikan bahwa lintas sektor atau pihak lain mendapatkan manfaat dari ajakan kita tersebut.

Pentingnya solidaritas dan mempertimbangkan semua pihak, khususnya masyarakat sebagai yang menikmati program dan kebijakan kesehatan. DeMichelle DeShong, CEO Australian Indigenous Governance Institute menceritakan pengalaman dalam membangun kesehatan masyarakat Aborigin dengan memperkenalkan konsep kemandirian. “Bukan self-government, tetapi self-governance”, ungkap DeShong. “Selama ini pemerintah memberikan dana untuk program tertentu untuk dikelola oleh masyarakat Aborigin, sebenarnya yang dibutuhkan bukan hanya dana tetapi kewenangan untuk memasukkan ide dan nilai budaya pada program yang ada”, lanjut DeShong lagi dalam sesi keynote speech.

Aksi Nyata Apa yang Benar-Benar ‘Nyata’?

Berbicara tentang aksi atau tindak lanjut nyata kebijakan kesehatan, sangat tergantung pada peran praktisi kesehatan masyarakat dalam meyakinkan pembuat kebijakan untuk menetapkan program tertentu. Melalui video conference, Tabaré Vasquez, Presiden Uruguay di periode ini, bertutur tentang keberanian Uruguay dalam mengambil aksi nyata mengurangi dampak buruk kesehatan akibat konsumsi tembakau. “Kanker merupakan penyakit yang dapat dicegah melalui edukasi dan komunikasi; merupakan tugas kita (praktisi kesehatan masyarakat) untuk memberi edukasi tersebut”, Tabaré menegaskan di awal sesinya.

Perusahaan Phillip Morris menghasilkan pendapatan lebih tinggi dari 2 kali GDP Uruguay dalam setahun, sementara tembakau menjadi salah satu penyebab tingginya belanja kesehatan di Uruguay. Pemerintah Uruguay telah menetapkan berbagai larangan, antara lain: larangan merokok di dalam ruangan di fasilitas umum, larangan promosi tembakau dalam bentuk apapun di semua media televisi, radio dan internet – termasuk untuk jenis rokok elektrik, larangan sponsorship dari perusahaan rokok, menghilangkan jargon rokok tipe tertentu yang mengusung konsep ‘light’, ‘menthol’ atau sejenisnya, merancang kemasan rokok dengan peringatan yang signifikan, serta pemungutan pajak rokok. Saat ini prevalensi perokok usia 13 – 17 tahun telah turun menjadi kurang dari 10%, insidensi infark miokard akut berkurang 22%, serta Uruguay mendapat keuntungan lebih dari USD100 juta berkat kebijakan tersebut. Inilah contoh keberanian Uruguay dalam ‘mengalahkan’ kekuasaan rokok.

Dr. Ilona Kickbusch, Direktur the Global Health Centre Geneva mengungkapkan aksi nyata di Finlandia dalam mengatasi determinan sosial kesehatan, yakni dengan menetapkan Universal Basic Income (UBI). Dalam skema UBI ini, pengangguran di Finlandia akan menerima uang tunjangan sebesar 560 euro per bulan, tanpa meminta pengangguran tersebut untuk melakukan apapun (unconditional). Skema ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas pekerjaan masyarakat karena masyarakat akan lebih memilih pekerjaan dengan jaminan yang baik, menurunkan angka kemiskinan, yang pada akhirnya akan meningkatkan status kesehatan. Skema ini kabarnya akan diperkenalkan di beberapa negara di Eropa, antara lain Belanda, serta India.

Tantangan dari Dunia Politik

Dalam pidatonya yang tajam, Martin McKee, Presiden World Federation of Public Health Association (WFPHA) menyebutkan betapa sejarah telah banyak menceritakan bagaimana dampak politik pada kesehatan. Kita harus menerima dan menyadari bahwa isu kesehatan masyarakat sangat sering berbau politik. Dalam pidatonya yang bertajuk “Enemies of the People: Public Health in an Era of Populist Politics” memaparkan bahwa seorang praktisi kesehatan masyarakat harus lihai memanfaatkan skills dan knowledge-nya untuk mencegah para politisi melakukan hal yang buruk untuk kesehatan masyarakat. Kebijakan dan regulasi yang ditetapkan oleh para politikus, akan secara langsung ataupun tidak langsung mempengaruhi kesehatan masyarakat, keluarga dan individu.

Sebagai contoh Brexit dan dampaknya pada kesehatan. Data menunjukkan bahwa 10% dokter, 16% bidan dan 5% perawat di UK berasal dari Uni Eropa. 20% dokter bedah di UK memperoleh pendidikan di Uni Eropa serta lebih dari 300 juta euro dana penelitian kesehatan dari Uni Eropa research fund telah dialirkan untuk institusi-institusi di UK sejak 2014. Terjadinya Brexit dapat berarti memperkecil atau menutup berbagai peluang yang ada untuk mencapai kesehatan masyarakat yang baik di UK. Sebagai praktisi kesehatan masyarakat, kita memegang kunci dalam: memberi wawasan mengenai suatu isu kebijakan kesehatan kepada pemangku kebijakan, menunjukkan dan menggarisbawahi konsekuensi dari kebijakan tertentu, serta senantiasa memeriksa fakta-fakta yang ada dengan memanfaatkan kemampuan analisis epidemiologi serta skills lainnya. “Epidemiologi dapat menjadi alat yang kuat untuk mengatasi determinan politik untuk kesehatan. Epidemiologi membuat yang tak terlihat menjadi terlihat”, tutup McKee.

What’s next?

Dalam sesinya ‘A time for hope: pursuing a vision of a fair, sustainable and healthy world’, Sharon Friel dari School of Regulation and Global Governance ANU melihat bahwa situasi saat ini penuh dengan keputusasaan, tetapi masih ada celah peluang yang dapat menjadi pengharapan. Dunia ini penuh dengan permasalahan pelik: manusia membunuh buminya sendiri dan banyak permasalahan kesehatan yang disebabkan oleh manusia itu sendiri. Pertumbuhan ekonomi yang seharusnya menjadi wahana mencapai tujuan malah menjadi tujuan itu sendiri. Namun demikian, kita perlu optimis bahwa ada peluang yang dapat dimanfaatkan untuk mencapai tujuan bersama, yang utama adalah pentingya ‘network of hope’. Network of hope, atau dapat juga disebut sebagai jejaring harapan, akan terbentuk saat sekelompok orang memiliki visi yang sama untuk memperbaiki keadaan. Pergerakan dan inisiatif yang diusung masing-masing kelompok tersebut akan semakin memperkuat dan memperlebar jejaring harapan. Satu aspek yang tidak boleh diabaikan yaitu kekuatan organisasi masyarakat sipil, yang dicontohkan dengan suksesnya program nutrisi global yang didominasi oleh organisasi masyarakat sipil dan donor. Menariknya, sangat sedikit peran dari sektor swasta dan industri. Di sinilah kekuatan praktisi kesehatan masyarakat untuk mampu menggerakkan masyarakat sendiri dengan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki. “Kita adalah ‘penjual ide’ dan inovator yang kadang membuat kekisruhan. Evidence is power. Dengan analisis yang baik dari fakta yang ada, yang mengupayakan perubahan regulasi, merangkul berbagai aktor dengan jejaring yang terorganisir, maka kita akan mampu membuka pintu bersama-sama pada perubahan status quo di dunia kesehatan”, pesan Friel.

Reporter: Likke prawidya Putri

  REPORTASE TERKAIT :