Reportase 2 Oktober

r3okto

The Knowledge Sector Conference 2012
“Tracing Indonesia New Path : Revitalizing Knowledge To Reduce Poverty”

2 Oktober 2012

Konferensi

Konferensi Knowledge Sector yang diadakan hari ini diHotel Aryaduta, diawali dengan pembahasan mengenai Tracing Indonesia New Path : Revitalizing Knowledge To Reduce Poverty dengan pilihan tema mengurangi kemiskinan di dalam masyarakat. Fokus penting dalam hal ini ialah memberdayakan sumber daya manusianya. Langkah ini dapat dilakukan melalui peningkatan pendidikan dasar dan pendidikan lainnya sehingga memberikan manfaat bagi semua orang. Peningkatan-peningkatan tersebut akan membawa dampak positif pada kesehatan, kesetaraan gender, dan lain-lain.

Peningkatan tersebut tidak lepas dari peran lembaga-lembaga penelitian yang memberikan kontribusinya dalam memberikan data yang akurat dan komprehensif. Penelitian dan pengetahuan dapat memberikan masukan kepada pemerintah dan masyarakat dalam meningkatkan sistem pendidikan dan kesehatan. Oleh karena itu, penelitian yang terfokus dapat membantu pemerintah untuk membuat kebijakan yang mensejahterakan masyarakat Indonesia.

Maka diperlukan peningkatan di bidang kesehatan dan pendidikan untuk mengurangi angka kemiskinan. Hal tersebut dilakukan melalui universitas dan lembaga riset yang ada. Lembaga penelitian dapat memberikan usulan yang independen dengan menggunakan bukti-bukti yang ada. Saran dari lembaga penelitian yang kompeten akan memberikan kualitas data dan analisis yang terjadi di dalam masyarakat sehingga dapat membantu mempengaruhi kebijakan publik yang kelak akan mensejahterakan masyarakat Indonesia.

Press Conference

Debat dan dialog yang akan dilakukan pada hari kedua (3-4 Oktober) akan memberikan gambaran tentang investasi untuk sektor pengetahuan dan pendidikan. Menurut para pakar internasional dan think tank (lembaga kebijakan) terkemuka, pengetahuan dan penelitian merupakan pendukung penting dalam pembangunan negara-negara bekembang dan bependapatan menengah. Fokus dari konferensi ini adalah “Menyusuri Jejak Baru Indonesia : Revitalisasi Pengetahuan Untuk Pengentasan Kemiskinan” melalui penelitian yang berkelanjutan untuk menumbuhkan perekonomian dan pembangunan di Indonesia. Kesejahteraan Indonesia di masa depan akan bergantung dalam pengelolaan dan pemanfaatan pengetahuan oleh para pimpinannya.

Dalam dialog tersebut akan dibahas mengenai perencanaan strategis apa yang akan dilakukan dalam membentuk sebuah lembaga penelitian yang komprehensif. Knowledge sector akan memberikan perencanaan strategis di dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapi masyarakat saat ini. Selain itu, strategi ini akan membantu untuk mempengaruhi kebijakan pemerintah di bidang kesehatan dan pendidikan. Penelitian yang pernah dilakukan diharapkan tidak hanya menjadi pencapaian seseorang ataupun lembaga tertentu tetapi dapat memberikan kontribusi dalam pengambilan keputusan yang dilakukan oleh pemerintah demi kesejahteraan masyarakat Indonesia (Ika).

 

r3okto

eHealth in the Americas

PAHO/WHO KMC Seminar Series:

” eHealth in the Americas “

Website: bit.ly/S7uTe3

The Member States of the Pan American Health Organization approved in 2011, the implementation of a Regional eHealth Strategy and Plan of Action to all the countries in the Americas Region. One of the key elements of the strategy is knowledge and information sharing among member states and stakeholders.

The proposed KMC Seminar series on eHealth aim at contributing to this important debate by bringing different themes of relevance and key players working on eHealth globally to ensure knowledge sharing among people and institutions and convergence in the implementation of eHealth National Strategies and plan of actions; and also to inform public health stakeholders and other decision makers in the health sector, to better take part in the debate.

Seminar Nº1: eHealth and The Rockefeller Foundation Experience and Vision

By Karl Brown, Associate Director, Applied Technology at Rockefeller Foundation

Karl Brown joined the Rockefeller Foundation in 2006. As Associate Director of Applied Technology, Brown is focused on the application of information technology to the programmatic work of the foundation. He is working on exploring and nurturing imaginative uses of technology by Rockefeller grantees, and improving collaboration and knowledge management within the Foundation.

Prior to joining the Rockefeller Foundation, Brown worked as the Chief Technical Officer of GNVC, an NGO that fostered entrepreneurship in Ghana . Previously, Brown was a technical team lead with Trilogy, where he developed and deployed enterprise systems and consumer-facing websites for Fortune 500 companies such as Ford and Nissan. Brown received a Bachelor of Science in Computer Science from Stanford University and a Master of International Affairs from Columbia ‘s School of International and Public Affairs.

When            : Friday October 5th. 2012
Language     : English
Time             : 2:00 pm – 3:00 pm – EST ( Washington , DC USA ) To check your time zone, see the World Clock

Virtual room : http://www.paho.org/virtual/ict4health

Agenda

2:00

Welcome Remarks – Marcelo D’Agostino KMC Area Manager PAHO/WHO

2:05

eHealth and The Rockefeller Foundation Experience and Vision
Karl Brown, Associate Director, Applied Technology at Rockefeller Foundation

2:30

Comments, Questions & Answers
Moderator: PAHO/WHO

3:00

Concluding Remarks :
Marcelo D’Agostino KMC Area Manager PAHO/WHO


To participate online:

To login to the Virtual session, use the link below and type your name on the sign in page:

URL: http://new.paho.org/virtual/ehealth
 

Related material:

PAHO/WHO eHealth portal: http://new.paho.org/ict4health

CD51/13 — PAHO/WHO Strategy and Plan of Action on eHealth
CD51/13 — OPS/OMS Estrategia y Plan de acción sobre eSalud
CD51/13 — OPAS/OMS Estratégia e Plano de Ação para eSaúde
CD51/13 — OPS/OMS Stratégie et Plan d’action sur la cybersanté
 

Additional information:

·  The KMC Seminar series will happen every two months
·  All Seminars will be life-streamed, and opened for participation via Elluminate, or via telephone line.
·  For those who cannot follow the live seminar, we will have the recordings and presentations available at

Knowledge Sector Conference

“Knowledge Sector Conference”

Developing Influential Think Tanks: what does it take to be one?’

Arya Duta Hotel, Jakarta

2-4 October 2012

Hosted by AusAID

Reportase Hari I  Reportase Hari II  Reportase Hari III

Lembaga kajian strategis memiliki kesempatan untuk dapat terlibat dengan pembuat kebijakan. Mereka menghadapi berbagai tantangan untuk membangun mereka sendiri menjadi semakin kuat dan berkesinambungan. Banyak perjuangan untuk menemukan sumber dana yang berkelanjutan dan menjaga dengan baik perpustakaan dan fasilitas.

Jadi apa yang membuat sebuah lembaga kajian strategis menjadi kredibel dan sukses? Dibalik semua itu banyak hal yang dapat dicapai untuk menuju kesuksesan dari lembaga tersebut.

Maka melalui “Konferensi Knowledge Sector” akan menyelidiki semua bahan-bahan kunci yang ada di dalam pemikiran para pemimpin Lembaga Kajian Strategis di seluruh dunia; mulai dari bagaimana memepertahankan dan merekrut staff yang baik, menjaga jaringan dengan akademisi ataupun organisasi sipil lainnya, media dan pemerintah: perencanaan strategis, profil institusi, mekanisme jaminan kualitas dan model pembiayaan.

Dalam memantapkan pencapaian pembentukan lembaga Kajian Strategis maka pada hari kedua diadakan Workshop mempersilahkan lembaga kajian strategis yang berasal dari Indonesia untuk berbagi pengalamannya menjadi lembaga kajian strategis yang sukses dengan mitra di luar negeri.

Sasaran dari kegiatan yang bertema “Membentuk Lembaga Kajian Strategis yang Berpengaruh” akan difasilitasi oleh tim dari INSPIRIT yaitu membahas langkah-langkah pembentukan sebuah lembaga kajian strategis (think tank) yang mapan serta memiliki pengaruh terhadap perumusan kebijakan publik di Indonesia. AusAID akan mengundang para pemimpin kajian lembaga strategis yang berasal dari Indonesia dan luar negeri untuk berbagi pembelajaran mengenai kepemimpinan, tantangan pendanaan, proyek lawan pendanaan inti, agenda penelitian, independensi, dan manajemen secara umum dari lembaga kajian strategis.

Melalui Knowledge Sector Program tujuan utama AusAID ingin memperkuat kebijakan lembaga riset atau Lembaga Kajian Strategis di Indonesia. Aksi program belajar menunjukkan bahwa perencanaan strategis memberikan lembaga kajian strategis kesempatan keleluasaan untuk fokus pada isu-isu. AusAID berharap melalui pertemuan ini akan membantu lembaga kajian strategis dapat menampilkan keberhasilan mereka dan mempelajari praktik-praktik dalam meningkatkan organisasi mereka menjadi lebih baik serta dapat memberikan pengaruh pada kebijakan supaya lebih baik.

TIMING

TOPIC

EXPLANATION

09:30 – 10:00

REGISTRATION

 

10:00 – 10:30

Opening of ‘TRACING INDONESIA’S NEW PATH: REVITALISING KNOWLEDGE TO REDUCE POVERTY’

Jacqui De Lacy (Head of AusAID Indonesia)

BAPPENAS: *Prof. Dr. Armida S. Alisjahbana (State Minister for National Development Planning/Head of BAPPENAS)

Prof. Dr. Pratikno (Rector, Gadjah Mada University)

10:30 – 11:00

Key Note: Greg Moriarty, Australia’s Ambassador to Indonesia

‘Indonesia at the Crossroads’

11:00 – 11:30

Morning Tea & Press Conference for AusAID; BAPPENAS; UGM

11:30 – 12:45

SESSION I: KNOWLEDGE AND INDONESIA’S FUTURE PROSPERITY

Moderator/ Host: Irma Natalia Hutabarat

Flash talk: Indonesia in the Global Knowledge Economy, (Anies R. Baswedan, Paramadina University)

TALK SHOW:

  1. Fasli Jalal (Former Vice Minister of Education and Culture)
  2. Dewi Fortuna Anwar (VP Office)
  3. Edwin Utama (BCG)
  4. Martine Letts (Lowy Institute)

12:45 – 13:45

Lunch

13:45 – 14:15

Angklung: Performance and Interactive Play

14:15 – 15:30

SESSION II: DEMOCRACY AND DEBATE: THE ROLE OF KNOWLEDGE

Moderator/Host: Desi Anwar (Metro TV)

Flash talk: Rizal Sukma (CSIS)

TALK SHOW:

  1. Denny Indrayana (Wamen HUKUM HAM)
  2. Hari Azhar (Wakil Ketua Komisi XI DPR, Harry Azhar Azis)
  3. Nicolas Ducote (Argentine Republic)
  4. Yuna Farhan (FITRA)

15:30 – 15:45

Afternoon Tea

15:45 – 16:45

SESSION III: INVESTING IN RESEARCH FOR INDONESIA’S FUTURE

 

Moderator/Chair: Bima P. Santosa (Paramadina University)

 

Flash talk:Suahasil Nazara (TNP2K)

TALK SHOW:

  1. *Prof. Dr. Ir. H. Musliar Kasim, M.S. (Vice Minister, Kemendikbud)
  2. Martin Lardone  (expert on research financing)
  3. Fritz Simandjuntak (Rajawali)
  4. Sangkot Marzuki (AIPI)

16:45- 17:00

Closing Remarks – Where to next for Indonesia’s Knowledge Sector?

Petra Karetji (AusAID)

Developing Influential Think Tanks: what does it take to be one?

LOCATION Arya Duta Hotel, Jakarta, 3-4 October2012 hosted by AusAID,

BACKGROUND

Think tanks in Indonesia are in interesting times. While there are many opportunities to engage with policy makers, they face many challenges in establishing themselves as strong and sustainable institutes. Many struggle to find sustainable funding sources and maintain good library and facilities; meanwhile, government policy makers are getting better equipped to discuss policies;

Despite the challenges, it is not uncommon to hear think tanks inject themselves into public policy debates about issues from corruption to poverty reduction. At the same time, many of these organisations are working to influence policy through informal channels like networking with Parliamentarians and commissioned studies ordered by policy makers themselves.

So what makes a think tank credible and successful? Behind the ‘end product’ of influencing policy, there is a lot that goes on behind the scenes in making a successful think tank. This conference will investigate these key ingredients that are on the minds of think tank leaders all over the world; from retaining and recruiting good staff, to maintaining networks with academia, other civil society organisations, media and government; strategic plans, institutional profile; quality assurance mechanisms and financing models.

THE MEETING: DEVELOPING INFLUENTIAL THINK TANKS: WHAT DOES IT TAKE TO BE ONE?

AusAID plans to host a two day meeting to allow think tanks from Indonesia to share their experiences in becoming successful think tanks with overseas’ counterparts. The conference will also raise the profile of think tanks in Indonesia, highlight the important role of think tanks in creating knowledge for policy making and provide space to hear directly from policy makers about what they need.

AusAID will invite a series of experienced think tank leaders from Indonesia and abroad to share their lessons on leadership, funding challenges, projects versus core funding, research agendas, independence, and general think tank management. The idea is that the think tanks can share lessons and get a better idea of what does and doesn’t work when trying to influence policy. This will enable AusAID partner think tanks to identify ways in which they can further improve their management, research outputs and networking abilities.

The meeting will:

  1. explore the ability of think tanks to influence public policy
  2. provide an opportunity to share experiences in building leading think tanks
  3. discuss new directions, practices and approaches needed for research institutes to best support organisational change
  4. identify opportunities for research institutes to invest in their future to ensure they continue to thrive

DRAFT PROGRAM –3-4 October 2012

DEVELOPING INFLUENTIAL THINK TANKS IN INDONESIA

DAY ONE 3 October 2012 Workshop Agenda

Time

Topic

Speaker / Facilitator

08.30-09.00

Welcome Remarks

AusAID

09.00-09.30

Workshop Orientation and Introductions

INSPIRIT

09.30-10.30

Debate: What are the most effective ways to influence policy?

PRESENTATION: Enrique Mendizabal (onthinktanks blog author and Independent Consultant)

PANEL DISCUSSION:

*Teten Masduki (Transparency International)

*Dodi Ambardi (Lembaga Survei Indonesia)

Prof. Laksono Trisnantoro (Centre for Health Service Management UGM)

10.30-11.00

Coffee

11.00-12.30

Learning from International Think Tanks

Antonia Mutoro (IPAR Rwanda)

Arun Mahizhnan (IPS Singapore)

Martine Letts (Lowy Institute Australia)

Goran Buldioski (Think Tank Fund Hungary)

12.30-13.30

Lunch

All

13.30-14.30

Learning from Indonesian Think Tanks

Rizal Sukma (CSIS)

Ilham Candekia Srimarga (Pattiro)

Daniel Dhakidae (LP3ES)

Nurul Widyaningrum (Akatiga)

14.30-15.30

Policy and Decision-making in Indonesia

Dr Ali Ghufron Mukti, MSc, PhD (Wamen MenKes)

*Pungky Sumadi (Bappenas)

* Raden Siliwanti (Bappenas)

15.30-16.00

Coffee

16.00-17.30

Identifying Strengths of Think Tanks in Indonesia

INSPIRIT

19.00

Evening Reception followed by Dinner

Information Market and Exhibition.

Display area to be prepared for participants to share their work.

DAY TWO 4 October 2012 Workshop Agenda

Time

Topic

Speaker / Facilitator

08.30-09.00

Recap and Review of Day 1

INSPIRIT

09.00-10.30

Visioning Indonesia’s Think Tanks of the Future

INSPIRIT

10.30-11.00

Coffee

11.00-12.30

Change for Engagement:
What Needs to Happen for Indonesia’s Think Tanks to Successfully Influence Indonesian Public Policy

INSPIRIT

12.30-13.30

Lunch

13.30-15.00

Think Tank Clinic 1:
Research and Writing Skills

  1. Writing a Research Proposal
  2. Writing a Policy Brief
  3. Setting a Research Agenda
  1. Martin Lardone; IRE; ICAIOS; and SMERU
  2. Arun Mahizhnan; Antonia Mutoro; KPMAK; and Mitra Samya
  3. Goran Buldioski; Survey Meter; Komunitas Konservasi Indonesia Warsi

15.00-15.30

Coffee

15.30-17.00

Think Tank Clinic 2:
Communication and Engagement

  1. Producing a useful communication strategy
  2. Writing in the media
  3. Linking with policy makers
  1. Enrique Mendizabal; ICW; Jurnal Celebes
  2. Arun Mahizhnan; PUSKAPOL UI; SEKNAS FITRA
  3. Antonia Mutoro; JIKTI/ BAKTI; KOPEL MAKASSAR

17.00-17.30

Participants Reflections

INSPIRIT

17.30

Closing Remarks

AusAID

AUSAID AND SUPPORTING INDONESIA’S KNOWLEDGE SECTOR

One of the aims of AusAID’s Knowledge Sector Program is to strengthen policy research institutions – or Think Tanks – in Indonesia. AusAID currently supports seven policy research organisations through the Asia Foundation’s Action Learning Program. This number is set to increase with the next round of selection set to be completed in 2012.

The Action Learning Program showed that the problems faced by think tanks in Indonesia are common to think tanks all over the world. For example, they find it difficult to attract sustainable funding sources; mostly influence policy through informal networks; juggle contract work and have little funding for base research; and have limited time and resources to build their organisational, technical and advocacy/ networking capacities.

The Action Learning Program showed that strategic planning gave think tanks the breathing space to focus on these issues. Along with space to do strategic planning, the pilots were also provided with core funding to implement activities identified in their strategic plans and to capture what they learned.

AusAID recognises that research organisations need flexible, long-term core funding to survive as strong and credible institutes. It also understands that many of these think tanks struggle to think strategically about their future over the next project cycle – and to imagine a world where policy makers actively seek out and use their research. This is mainly because most organisations survive on being contracted by foreign donors to complete targeted projects.

AusAID hopes that this meeting will help think tanks to showcase their successes and learn best practices in improving their organisation to better be able to influence policy better.

 

 

Tracing Indonesia’s New Path : Revitalising Knowledge to Reduce Poverty

BACKGROUND

Indonesia is at a critical point in time. It has a once-in-a-generation chance to move beyond its commodities-based economy, large population with cheap labour.

Indonesia is being seriously considered as a candidate to join the BRICS (Brazil, Russia, India China and South Africa); a group of middle income countries touted as being the new centre of world economic power.

Future competition amongst middle income countries will be fought over how strong the base of human and intellectual capital is in driving innovation and supporting continued economic growth.

Countries such as Mexico, Brazil, South Africa, Korea and India are investing heavily in their higher education systems and research and development they need to compete and innovate.

However, Indonesia currently invests far less the knowledge and its higher education institutions. Now is the time for Indonesia to consider the role of knowledge for Indonesia’s future prosperity.

THE MEETING: INDONESIA IN THE GLOBAL KNOWLEDGE ECONOMY

The National Development Planning Agency (BAPPENAS), AusAID and the Gadjah Mada University plan to host a one day meeting to debate how Indonesia can better produce knowledge for its future development. The conference will feature three sessions focusing on: 1. The importance of knowledge for Indonesia’s future prosperity; 2. How knowledge can be used in policy making; and, 3. Building a national financing system for Indonesia’s knowledge sector. Each panel will be made up of a mix of government policy makers, parliament members, media personalities, experts from universities and international organisations, and leading experts from around the world.

The meeting will:

  1. build a constituency to advocate for the importance of knowledge for Indonesia’s continued economic growth and development
  2. encourage debate about ways to support Indonesia’s knowledge sector
  3. discuss international directions, practices and approaches in supporting knowledge sectors in other countries and their relevance for Indonesia
  4. identify opportunities to invest in Indonesia’s knowledge sector

CONFERENCE AGENDA 2 October 2012

TIMING

TOPIC

EXPLANATION

09:30 – 10:00

REGISTRATION

10:00 – 10:30

Opening of ‘TRACING INDONESIA’S NEW PATH: REVITALISING KNOWLEDGE TO REDUCE POVERTY’

Jacqui De Lacy (Head of AusAID Indonesia)

BAPPENAS: *Prof. Dr. Armida S. Alisjahbana (State Minister for National Development Planning/Head of BAPPENAS)

Prof. Dr. Pratikno (Rector, Gadjah Mada University)

10:30 – 11:00

Key Note: Greg Moriarty, Australia’s Ambassador to Indonesia

‘Indonesia at the Crossroads’

11:00 – 11:30

Morning Tea & Press Conference for AusAID; BAPPENAS; UGM

11:30 – 12:45

SESSION I: KNOWLEDGE AND INDONESIA’S FUTURE PROSPERITY

Moderator/ Host: Irma Natalia Hutabarat

Flash talk: Indonesia in the Global Knowledge Economy, (Anies R. Baswedan, Paramadina University)

TALK SHOW:

  1. Fasli Jalal (Former Vice Minister of Education and Culture)
  2. Dewi Fortuna Anwar (VP Office)
  3. Edwin Utama (BCG)
  4. Martine Letts (Lowy Institute)

12:45 – 13:45

Lunch

13:45 – 14:15

Angklung: Performance and Interactive Play

14:15 – 15:30

SESSION II: DEMOCRACY AND DEBATE: THE ROLE OF KNOWLEDGE

Moderator/Host: Desi Anwar (Metro TV)

Flash talk: Rizal Sukma (CSIS)

TALK SHOW:

  1. Denny Indrayana (Wamen HUKUM HAM)
  2. Hari Azhar (Wakil Ketua Komisi XI DPR, Harry Azhar Azis)
  3. Nicolas Ducote (Argentine Republic)
  4. Yuna Farhan (FITRA)

15:30 – 15:45

Afternoon Tea

15:45 – 16:45

SESSION III: INVESTING IN RESEARCH FOR INDONESIA’S FUTURE

 

Moderator/Chair: Bima P. Santosa (Paramadina University)

 

Flash talk:Suahasil Nazara (TNP2K)

TALK SHOW:

  1. *Prof. Dr. Ir. H. Musliar Kasim, M.S. (Vice Minister, Kemendikbud)
  2. Martin Lardone  (expert on research financing)
  3. Fritz Simandjuntak (Rajawali)
  4. Sangkot Marzuki (AIPI)

16:45- 17:00

Closing Remarks – Where to next for Indonesia’s Knowledge Sector?

Petra Karetji (AusAID)

*To be confirmed.

AUSAID AND SUPPORTING INDONESIA’S KNOWLEDGE SECTOR

AusAID is in the final stages of planning a 15-year investment in developing Indonesia’s knowledge sector – the overall institutional landscape of government, private sector, and civil society organisations that support the development of public policy.

While AusAID plans a fairly large investment in the sector, AusAID can only do so much. For real change to occur requires Indonesia to develop its own ‘knowledge sector roadmap’.

This conference is the first in a series of meetings that encourage dialogue and debate on the importance of investing in knowledge to support Indonesia’s future development.

Ringkasan Hasil Forum Nasional III Kebijakan Kesehatan Indonesia di Surabaya.

ftringfn3

ftringfn3

Apa yang dapat dimanfaatkan dari pertemuan besar seperti ini?

Di sisi yang buruk, pertemuan besar nasional dapat terjebak sebagai sebuah Pesta Kembang Api, ibarat Habis Terang terbitlah gelap. Setelah kegiatan yang terang benderang selama seminar, peserta pulang dan tidak membahas lagi dan mengembangkan materinya. Dengan demikian dapat menjadi kegiatan yang Talking Only. Di sisi yang baik, dalam pertemuan minggu lalu peserta mendapatkan Ilham mengenai kebijakan kesehatan, bertemu dengan teman-teman, adanya dialog antara peneliti dengan pengambil kebijakan, melakukan networking, dan merencanakan kegiatan pengembangan kebijakan kesehatan di masa mendatang.

Pertanyaan Kritis mengenai pertemuan kebijakan kesehatan ini:

Apakah pertemuan ini bisa langsung merubah kebijakan? Jawabannya adalah tentu tidak mungkin langsung merubah, apalagi tidak semua pengambil kebijakan datang. Dalam hal ini perlu follow-up yang focus pada aspek-aspek kebijakan. Dibutuhkan detailing kebijakan dimana dilakukan advokasi kebijakan secara terus menerus dan sistematis seperti apa yang dilakukan oleh detailer-obat.

Kelompok-kelompok kecil/individu yang mempunyai focus diharapkan meneruskan kegiatan ini.

Siapa yang melakukan kegiatan dalam kelompok lebih kecil pasca Forum ini?

Dari sela-sela pertemuan di Surabaya minggu lalu, terkumpul informasi beberapa kelompok yang terus bergerak pasca Forum Nasional, antara lain:

Kelompok sesuai tema Forum Nasional di Surabaya:

  • Kelompok Pembiayaan (termasuk BPJS) akan terus bergerak.
  • Kelompok kebijakan KIA akan mengembangkan website sebagai sarana komunikasi antara pengambil kebijakan dengan peneliti. Berbagai kegiatan followup akan direncanakan;

Kelompok-kelompok kebijakan yang bukan tema Forum Nasional III:

  • Kelompok Reproduksi: segera melakukan kegiatan setelah pertemuan dan diselenggarakan di Surabaya pula;
  • Kelompok AIDS akan mengembangkan Call for Paper untuk penelitian kebijakan AIDS;
  • Kelompok TB dan Malaria yang tergabung dalam Global Fund akan melakukan pertemuan di awal Oktober.
  • Kelompok SDM akan ada pertemuan besar pada akhir September ini di Jakarta
  • Kelompok Kebijakan Pendidikan Tinggi Kedokteran akan bertemu dalam akhir September di Bali.

Ada kemungkinan Forum Pertemuan mendatang akan menggabungkan berbagai kelompok focus ini menjadi satu kesatuan.

Dalam detailing kebijakan ini diharapkan proses advokasi kebijakan ini dilakukan secara sistematis. Oleh karena itu ada pertanyaan dalam pertemuan di Surabaya; Apa fungsi Jaringan dalam advokasi kebijakan?

Kegiatan advokasi kebijakan oleh kelompok-kelompok focus ini dapat didukung oleh Jaringan dengan cara:

  • Meningkatkan kemampuan advokasi (akan dilakukan di web dan tatap muka);
  • Melakukan publikasi di website;
  • Menyusun policy brief dan mengarahkan ke target pengambil kebijakan,
  • Penulisan Artikel di Jurnal mass-media, dan
  • Melakukan dukungan untuk penelitian kebijakan kesehatan.

Di pertemuan Surabaya dibahas pula kegiatan mendatang di Jaringan Kebijakan Kesehatan Indonesia, antara lain:
 

  1. Penguatan tata kelola Jaringan oleh tim kecil yang tersusun atas sekitar 20 orang peneliti/dosen di kesehatan masyarakat dan kedokteran.
  2. Pengembangan kerjasama penelitian antara peneliti kesehatan masyarakat dan biomedik;
  3. Pelatihan hybrid jarak jauh dan tatap muka untuk kemampuan meneliti kebijakan kesehatan (perorangan, Angkatan II);
  4. Pelatihan hybrid jarak jauh dan tatap muka untuk peningkatan kemampuan kapasitas penelitian kebijakan (Angkatan III);
  5. Pelatihan Penyusunan Policy Brief dan Jurnal; dan
  6. Pelatihan penyusunan artikel di Jurnal.

Catatan mengenai isi :
Rangkuman dari tema memang belum detil dilakukan. Namun dapat dirumuskan sebagai berikut: Persiapan pelaksanaan BPJS dirasa belum mantap. Perlu adanya suatu rencana operasional. MDG4dan5: Perlu kerja keras dengan penanganan lintas sektoral. Metode Kebijakan dan Advokasi masih perlu dikembangkan dan dilatih.

Kapan dan dimana Forum Nasional ke IV ?

Pertemuan Forum Nasional IV Tahunan ke IV akan diselengarakan di Kupang, bersamaan dengan Kongres IAKMI (1-3 Juli 2013). Penyelenggara: Jaringan Kebijakan Kesehatan Indonesia dengan organisasi baru. Tuan rumah diharapkan adalah Universitas Nusa Cendana.



Catatan kecil: Berapa biaya ke Kupang?

Tiket pesawat: Jakarta Kupang pp: sekitar Rp 4 juta.
Hotel 3 malam: Rp 1,500,000,-.
Fee Kongres: Rp 1.000.000,- (kira-kira).
Lum-sum 4 hari: Rp 1,500,000.
Total: l.k Rp 8 juta ,
Kalau tambah wisata: Rp 2.5 juta.

Diharapkan para calon peserta Forum Nasional ke IV sudah menyiapkan dana ini dalam anggaran kegiatan di tahun depan.

Sampai bertemu kembali di Forum Tahunan Kebijakan Kesehatan ke IV.

 

Jadual Kegiatan Tanggal 18 September 2012

  Jadual Kegiatan Tanggal 18 September 2012

08.30 – 09.00: Sesi 1

Pembukaan: Dekan FK Universitas Airlangga
Perkenalan peserta, dan Overview Kegiatan

Fasilitator:
Laksono Trisnantoro

09.00 –09.45: Sesi 2a

Kebutuhan penelitian kebijakan kesehatan dan kemampuan perguruan tinggi

Fasilitator : Laksono Trisnantoro

09.45 – 10.30: Sesi 2b

Assessment diri sendiri

Fasilitator : Shita Dewi

10.45 – 12.00: Sesi 3

Tata Kelola Unit Penelitian Kebijakan dan Independensinya

Fasilitator : Laksono Trisnantoro

Break: Makan siang dan sholat

13.00 – 14.00: Sesi 4

Kebijakan di Sistem Kesehatan, BPJS, dan hubungan antara unit penelitian Fakultas Kesehatan Masyarakat dan Fakultas Kedokteran.

Kasus: Kebijakan mencapai indikator MDG4 dan MDG5, dan Kebijakan BPJS.

Fasilitator:
Laksono Trisnantoro
Siswanto Agus Wilopo

14.00 – 14.30: Sesi 5

Memahami Renstra dan Business Plan untuk Lembaga Penelitian

Fasilitator :
Yos Hendra
Laksono Trisnantoro

Break singkat: 14.30 – 14.45

14.45 – 15.45 : Sesi 6

15.45 – 16.30:

  • Pengembangan Jaringan Kebijakan Kesehatan
  • Pengembangan Jurnal Kebijakan Kesehatan
  • Pengembangan Website Kebijakan Kesehatan

Fasilitator:
Laksono Trisnantoro
Nyoman Anita

16.30 – 16.45: Penutup dan PoA untuk kegiatan sampai bulan Mei 2013.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kebijakan Merokok

 

NO.

NAMA

INSTANSI

JUDUL

1

Made Kerta Duana, Ketut Suarjana, Partha Muliawan

IKM FK Universitas Udayana

Persepsi Masyarakat Pengguna Tempat Umum Di Kota Denpasar Terhadap Rancangan Peraturan Daerah Kawasan Tanpa Rokok

2

Alfarabi, S.Sos

Fisip Univ Bengkulu

Aktifitas Remaja Dalam Ruang Rokok

3

Dewi

Dinkes Kab Bantul

Perilaku Merokok Karyawan Puskesmas Kabupaten Bantul Provinsi DIY Tahun 2011

4

Didik Joko Nugroho, S.Ant dan Tutik Istiyani,S.Sos

Fakultas Kedokteran UGM

Evaluasi Implementasi Peraturan Gubernur DIY Nomor 42 Tahun 2009 Tentang Kawasan Dilarang Merokok di Provinsi di Yogyakarta

5

Yayi Suryo Prabandari&Retna Siwi Padmawati

Quit Tobbaco Indonesia FK UGM

The Effectiveness of Tobacco Free Area Policy in Controlling Tobacco at University Sites