Hari III

Judul

Topik

Sumber

Pembahas

Hari 3: Jumat

14 Oktober

Peran dan pengelolaan asosiasi profesional kedokteran dalam menangani distribusi dokter, mengurangi praktik ganda, dan meningkatkan insentif profesional.

9.00 – 10.30

Policy Briefs – Pendayagunaan Tenaga Kesehatan

Pengaturan (governance) profesi kesehatan – pengalaman internasional

Capacity Building to Strengthen Health Workforce Governance in Indonesia: Qualitative methodology

 

 

 

 

 

 

Stephanie Short (USYD)

Jane Stephens (CEO AMA)

 

 

11.00 – 12.00

Pengantar Diskusi
Diskusi Umum: Peran asosiasi profesi dalam regulasi dan pengambilan kebijakan

12.00  – 13.30 Makan Siang dan Sholat Jumat

 

 

13.30 – 14.30

(termasuk rehat)

Kelompok diskusi. Setiap kelompok memiliki tujuan khusus sebagai berikut:    

  • Organisasi profesi kedokteran di Indonesia: Bagaimana menyeimbangkan misi kepentingan anggota dan kebutuhan masyarakat dan sistem kesehatan.     
  • Kementrian Kesehatan: Bagaimana bekerja sama dengan asosiasi profesional di berbagai aspek dalam sistem kesehatan    
  • Universitas Gadjah Mada: Pengembangan agenda penelitian dan bantuan teknis untuk mengatasi dukungan asosiasi profesional untuk memperkuat sistem kesehatan

 

 

 

14.30 – 16.00

Diskusi dan Laporan dari:  

 

16.00 – 16.30 Rehat

16.30 – 17.00 Penutupan

 

 

 agen1 kiri 

Hari II

Judul

Topik

Sumber

Pembahas

Hari 2: Kamis 13 Oktober

Mengatasi ketidakmerataan dalam distribusi dokter

9.00 – 10.30

Hasil penelitian:

Solusi masalah sistem kesehatan:
Apakah Ideologi berperan?

Cakupan Semesta dalam konteks isu  distribusi tenaga dokter dan faktor-faktor yang mempengaruhi di Indonesia

10.30 – 11.00 Rehat

 

 

UGM

 

 

 

 

11.00 – 12.30

Cara mengatasi masalah & mendukung / menarik dokter di lokasi pedesaan dan terpencil di Australia

Attracting and Supporting Doctors to Rural and Remote Medical Practice

Meeting with the Medical Professional Associations
of Indonesia

12.30 – 13.30 Makan Siang

 

Jenny Johnson

 

 CEO-Rural Doctors Association of Australia

Ian Fraser – Royal Australian College of Physicians

 

 

13.30 – 14.30

Peran Manajemen dan governans dari organisasi profesi di Australia

 

 

 

 

Royal Australasian College of Surgeons (RACS)

 

Rural Doctor Association of Australia

Royal Australian College of Physicians

Michael Grigg – Royal Australian College of Surgeons

Australian College of Surgeons

 

14.30 – 15.30         

Variasi dalam pendapatan dokter;  dan keterlibatan dengan pemerintah dalam kebijakan pendapatan medis

 

Addressing problems and supporting/attracting doctors in rural and remote locations

15.30 – 16.00 Rehat

 

Christijogo

PERDATIN/PP IDSAI

 

 

Sally Aman Nasution (PAPDI)

 

 

 

 

 

16.00 – 17.00

Diskusi dan komentar

 

 

  agen1 kiri                                    

Hari I

Judul

Topik

Sumber

Pembahas

Hari 1: Rabu

12 Oktober

Asosiasi profesional kedokteran dan pembuatan kebijakan

9.00 – 10.30

Pembukaan:

Mengapa perhimpunan profesi merupakan aktor kunci dalam sistem kesehatan?

Hasil penelitian:

Memahami ‘profesionalisme’ tenaga kesehatan , pendapatan profesi, model bekerja, dan implikasinya

10. 30 – 11.00 Rehat

 

 

Laksono Trisnantoro

 

 

 

Andreasta Meliasta, UGM

 

11.00 – 12.30

National Registration and accreditation Scheme

Model keterlibatan antara asosiasi profesional dan pembuat kebijakan di Australia

 

 

 

12.30 – 13.30 Makan Siang

 

AHPRA

 

Peter Dohrmann

(Medical Board of Australia)

Francis Sullivan

(AMA/Australian Medical Association)

Michael Ryan

(DoH, Unit MedicAid)

 

 

13.30 – 17.00

Identifying key policy issues for the MoH and for the Medical Profession

The role and Function of indonesian medical association in protecting its members and the community

Isu-isu kebijakan kunci bagi kementerian kesehatan dan bagi profesi medis

Standard of medical professional

 

Kementrian Kesehatan

 

 

IDI

 

 

KKI

 

 

KKI

 

works                                                                               agen2 kanan_thumb_medium_40

Forum Mutu “IHQN 2011”

 

Pendahuluan
Dunia pelayanan kesehatan internasional pada saat ini telah menggunakan berbagai macam pendekatan untuk meningkatkan mutu dan keselamatan pasien yang diberikan oleh berbagai jenis sarana pelayanan kesehatan. Pendekatan tersebut meliputi penggunaan tehnologi baik software (termasuk e-health) maupun hardware, penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan untuk peningkatan komptensi baik secara formal maupun informal serta pelaksanaan penelitian baik terapan maupun keilmuan.

Inisiatif pelaksanaan berbagai pendekatan tersebut berasal dari berbagai institusi, baik dari regulator (seperti Kementerian atau Dinas Kesehatan, organisasi profesi, lembaga pembiayaan kesehatan ataupun NGO) maupun dari provider pelayanan kesehatan (seperti RS dan Puskesmas).

Berdasarkan pendekatan tersebut maka Forum Mutu Indonesian Healthcare Qulality Network (IHQN) tahun 2011 ini yang merupakan Forum ke 7 kalinya, akan diselenggarakan dengan mengusung tema Peran e-health, tehnologi kesehatan, pendidikan dan penelitian dalam peningkatan mutu dan keselamatan pasien di Indonesia. Tema forum ini sesuai dengan tema yang akan digunakan pada forum sejenis ditingkat internasional yang diselenggarakan oleh International Society for Quality in Healthcare (ISQua) di Hong Kong pada tahun ini.
 
Tujuan
Forum Mutu IHQN 2011 diadakan untuk memfasilitasi pembahasan konsep dan pengalaman upaya-upaya peningkatan mutu dan keselamatan pasien di Indonesia. Terdiri dari 5 bentuk kegiatan: Seminar, Workshop, Pameran Poster, Pelatihan dan Studi Banding 
 
Peserta
Peserta yang diharapkan hadir berasal dari:

  • Regulator: Kementerian Kesehatan, Dinas Kesehatan, Organisasi Profesi, lembaga asuransi/pembiayaan kesehatan, lembaga sertifikasi/akreditasi, LSM dan sebagainya
  • Pengelola sarana pelayanan kesehatan: Direktur RS, Manajer RS, Kepala Puskesmas dan Pimpinan sarana pelayanan kesehatan lainnya
  • Klinisi: Dokter spesialis, dokter umum, dokter gigi, perawat, bidan, penunjang medik
  • Mahasiswa: S1, S2, Pendidikan dokter spesialis, S3
  • Pemerhati mutu pelayanan kesehatan: Perguruan tinggi, Peneliti, Konsultan

Workshop, Melbourne 12-14 Oktober 2011

Latar Belakang 
Nossal Institute for Global Health bersama – sama dengan Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan FK Universitas Gadjah Mada telah melakukan berbagai penelitian tentang sistem kesehatan di Indonesia. Penelitian-penelitian tersebut mengidentifikasikan beberapa tantangan utama yang dihadapi oleh sistem kesehatan Indonesia saat ini, antara lain:

  • Tidak meratanya distribusi tenaga kerja kesehatan, khususnya dokter spesialis. Situasi ini ditandai dengan kurangnya dokter spesialis di provinsi yang terletak di daerah terpencil, dan sebagian besar  terkonsentrasi di pulau Jawa dan Bali;
  • Meningkatnya permintaan layanan kesehatan, khususnya pleh masyarakat pendapatan yang tinggi, dan kecenderungan menggunakan layanan swasta daripada layanan pemerintah;
  • Kualitas pelayanan publik yang buruk, terutama di daerah terpencil;
  • Kesenjangan pendapatan antara dokter yang bekerja dalam sistem jaminan kesehatan, dibandingkan dengan mereka yang bekerja di praktek swasta.

Saat ini Indonesia memiliki kebijakan Universal Coverage (Cakupan Semesta) untuk melindungi masyarakat dari bencana pengeluaran belanja kesehatan akibat sakit. Dalam 10 tahun terakhir, berbagai sistem asuransi kesehatan nasional telah dibentuk, yang dimulai dengan Jaring Pengaman Sosial Kesehatan kemudian menjadi Askeskin, Jamkesmas, dan baru-baru ini ada Jampersal. Namun, karena distribusi tenaga kesehatan yang tidak merata serta terbatasnya fasilitas kesehatan di wilayah terpencil dan sulit, sistem jaminan dan asuransi kesehatan nasional menghadapi berbagai masalah serius, termasuk adanya ketidakmerataan geografis.

Dalam situasi ini, dukungan perhimpunan dokter/spesialis  untuk mengurangi masalah  distribusi dokter spesialis, dan menyikapi ketidakmerataan merupakan hal penting. Namun di Indonesia, asosiasi profesional dokter belum banyak terlibat dalam penyusunan kebijakan sistem kesehatan. Bahkan keputusan tentang pengaturan jasa profesi  dalam sistem asuransi kesehatan, ternyata belum ada  negosiasi formal antara asosiasi profesi dan pemerintah. Disamping itu untuk mengurangi masalah distribusi dokter spesialis di seluruh wilayah, belum ada kebijakan strategis yang dikembangkan oleh pemerintah dengan dukungan asosiasi profesional.

Sebagai catatan: Perhimpunan spesialis di Indonesia adalah sub-bagian dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI), dan semuanya terhimpun dalam IDI. Disamping itu ada kolegium yang didirikan terutama untuk menangani kompetensi yang dibutuhkan untuk pelatihan spesialisasi tertentu. Pemberian pendidikan spesialis dilakukan melalui universitas. Anggota kolegium adalah para spesialis  senior dari berbagai spesialisasi, dan biasanya juga anggota perhimpinan ahli. Dalam meningkatkan kualitas dan profesionalisme dokter dan dokter gigi, Indonesia memperkuat pendaftaran profesional medis melalui pembentukan sebuah Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) yang mengelola pendaftaran semua profesional dokter. KKI memiliki tanggung jawab untuk pengawasan pelaksanaan praktek dokter.

Baru-baru ini dalam sebuah diskusi antara pemerintah, perhimpunan profesi dan peneliti Universitas Gadjah Mada, terungkap bahwa masih belum ada definisi  jelas tentang apa yang disebut “misi asosiasi untuk melayani kepentingan masyarakat”. Sebagian besar perhimpunan profesi berfokus untuk mempertahankan standar perilaku bagi para anggota dan pengembangan pengetahuan ilmiah. Sementara itu beberapa perhimpunan cenderung berfokus pada kepentingan profesional. Oleh karena itu, ada kebutuhan untuk mengembangkan pengetahuan, penelitian, dan dialog kebijakan dalam rangka memperkuat peran perhimpunan asosiasi profesi di sistem kesehatan yang dilandasi nilai kepentingan masyarakat.

Tujuan Workshop
Dengan latar belakang tersebut akan diselenggarakan workshop di Melbourne  yang dilakukan  bersama dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Konsil Kedokteran Indonesia (KKI),  berbagai perhimpunan dokter spesialis, terutama yang terkait dengan kesehatan ibu dan anak (spesialis obsgin, anestesi, bedah, dan anak), bidan, pembuat kebijakan dari Kementerian Kesehatan, Media (Kompas) dan peneliti PMPK FK UGM.

Tujuan umum Workshop:

  • Memahami peran Asosiasi Profesional Dokter, Badan Pengawas Praktisi Kesehatan Australia, dan Konsil Kedokteran Australia dalam sistem kesehatan 
  • Mengidentifikasi potensi kontribusi perhimpunan dokter, dokter spesialis, dan bidan dalam mengatasi beberapa tantangan utama yang dihadapi oleh sistem kesehatan

Tujuan khusus:

  • Membandingkan peran dan tanggung jawab perhimpunan dokter di Indonesia dengan pengalaman internasional, khususnya pengalaman Australia 
  • Mencari tindakan strategis perhimpunan dokter  untuk mengatasi masalah distribusi, retensi, praktek ganda, dan insentif dokter dan dokter spesialis di Indonesia berdasarkan pengalaman dan praktik  internasional .

granadi

Usulan Topik Forum Nasional III

 

Untuk mengisi Usulan Topik Forum Nasional III di Surabaya 2012,

Silahkan isi pada form komentar yang sudah disediakan dibawah ini .{jcomments on}

 

Laporan Pembukaan Forum Nasional II

Acara di buka di Hotel Horison Makassar dengan dihadiri oleh sekitar 183 peserta.

Setelah sebelumnya Forum Nasional Kebijakan Kesehatan I sukses diselenggarakan di Jakarta setahun yang lalu, Forum Nasional II diselenggarakan di Makasar pada tanggal 28 sampai dengan 30 September. Jumlah peserta forum yang berlangsung di Hotel Horison kali ini meningkat cukup signifikan. Tahun lalu hanya dihadiri sekitar 120an peserta, tahun ini menjadi lebih dari 180 orang.

Acara ini diselenggarakan bekerja sama dengan Universitas Hasanudin dan dibuka oleh Dr Trihono, PhD, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementrian Kesehatan mewakili Menteri Kesehatan. Upacara Pembukaan berlangsung semarak dengan ditampilkannya tarian khas Sulawesi Selatan. Acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan oleh Prof dr Laksono Trisnantoro, M.Sc, Ph.D selaku ketua panitia penyelenggara dan koordinator jaringan kebijakan kesehatan indonesia ,dilanjutkan oleh Prof dr Alimin Maidin, MPH, Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanudin Makasar.
Berikut poin-poin sambutannya:

Pengantar program disampaikan oleh Koordinator Jaringan Kebijakan Kesehatan Indonesia

Ada beberapa poin penting dalam sambutannya:

  1. Pertemuan Jaringan Kebijakan Kesehatan Indonesia ini berasal dari acara tahunan kelompok peneliti dan pengambil keputusan yang berusaha secara rutin bertemu setahun sekali untuk membahas pelaksanaan desentralisasi kesehatan sejak tahun 2002. Pada tahun 2010 yang lalu, kelompok ini merubah diri menjadi Jaringan Kebijakan Kesehatan Indonesia. Jaringan ini bersifat informal untuk mengembangkan kemampuan penelitian kebijakan kesehatan serta untuk meningkatkan efektifitas pengambilan keputusan.
  2. Dalam dua hari ke depan akan ada 48 peneliti dari seluruh Indonesia yang menyajikan hasil penelitian untuk dibahas para pengambil kebijakan di pusat ataupun di daerah. Dengan format ini diharapkan ada komunikasi antara peneliti dengan pengambil kebijakan. Semua presentasi merupakan isu-isu terkini mengenai kebijakan kesehatan di Indonesia.  Tema pertemuan ini memang membahas proses penyusunan kebijakan mulai dari perumusan agenda sampai ke monitoring dan evaluasi kebijakan. Topik yang dibahas secara khusus adalah kebijakan Jampersal dan BOK.
  3. Di hari ketiga akan dibahas pengembangan kelompok kebijakan di perguruan tinggi dan teknik advokasi. Di dalamnya  termasuk bagaimana menangani aspek ideologi dan keterpihakan peneliti di bidang kebijakan kesehatan. Di sela-sela pertemuan ilmiah akan dilakukan kegiatan memperkuat Jaringan Kebijakan Kesehatan Indonesia.

Sambutan Selamat Datang Dekan FKM Universitas Hasanudin

  1. Forum ini merupakan kesinambungan dari pertemuan Forum Nasional I pada tahun 2010 di Jakarta. Forum ini merupakan ajang para peneliti untuk membahas hasil penelitiannya, bagaimana kaitannya dengan penetapan kebijakan-kebijakan kesehatan yang akan ditetapkan oleh pemerintah.
  2. Kebijakan kesehatan di Indonesia saat ini sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor di luar bidang kesehatan. Keberagaman  pengaruh tadi hendaknya tidak membuat suatu kebijakan tidak berpihak pada kepentingan rakyat yang akan merasakannya. Oleh karena itu sangat diperlukan beragam pendekatan kemasyarakatan melalui berbagai studi kasus dan penelitian bidang kesehatan yang diharapkan dapat mendukung pengambilan kebijakan yang tepat .
  3. Selama tiga hari berturut-turut para peneliti akan berbicara mengenai berbagai penelitian kebijakan kesehatan terkini. Dari pertemuan ini diharapkan para peserta dapat menimba ilmu tentang Kebijakan Kesehatan yang diprensentasikan oleh keynote speakers dan para peneliti dari berbagai latar belakang disiplin ilmu.

Sambutan Menteri Kesehatan

Dalam sambutannya, Menteri Kesehatan yang diwakili oleh Dr Trihono, PhD, Ka Badan Litbangkes, Kemenkes menyatakan sangat mendukung acara yang diselenggarakan forum kebijakan kesehatan ini. Menteri Kesehatan yang juga adalah peneliti senior menyatakan bahwa pengambilan kebijakan harus berdasarkan bukti (evidence based policy). Untuk itu Kemenkes dalam hal ini Balitbangkes selalu menyelenggarakan penelitian yang dimulai dari SKRT (Survei Kesehatan Rumah Tangga) sejak tahun 1990an. Kemudian metode penelitian dan instrumennya terus disempurnakan.

Terakhir dilakukan penelitian Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) dan Risfaskes (Riset Fasilitas Kesehatan). Dari berbagai penelitian ini salah satu hasil yang penting adalah ditetapkannya Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM). Indeks ini sangat bermanfaat dalam penyusunan kebijakan kesehatan di daerah. Karena dengan indeks ini akan dapat diketahui aspek mana yang bisa diintervensi. Misalnya, di daerah ditemukan bahwa Indeks untuk aspek persalinan oleh tenaga kesehatan rendah, maka intervensi dapat dilakukan dengan meningkatkan promosi dan sosialisasi serta penyediaan SDM yang sesuai. Dari IPKM ini telah dapat dipetakan daerah mana yang perlu program Penanggulangan Daerah Bermasalah Kesehatan.

Program ini pada intinya adalah pendampingan ke daerah yang IPKMnya rendah, dan dijalankan selama 3-5 tahun. Tampak bahwa beberapa daerah tertentu IPKMnya memang meningkat. Bila terdapat daerah yang mendapatkan peningkatan IPKM yang sangat signifikan, maka Kemenkes akan memberikan IPKM award. Inisitatif seperti ini adalah bukti komitmen dari Pemerintah untuk terus mendukung pengambilan kebijakan berdasarkan bukti ilimiah.

 

Strategi Mengkomunikasikan Kebijakan

Hasil penelitian mengenai kebijakan kesehatan seringkali mengandung istilah atau jargon yang sulit dimengerti oleh para politisi atau pengambil kebijakan kesehatan sendiri. Laporan penelitian juga seringkali terlalu panjang dan “untuk menyampaikan satu ide membutuhkan 10 halaman” demikian kata Pauline Dole, dari Internasional Development Research Centre (IDRC), Kanada. Hal ini membuat pengambil kebijakan dan politisi, yang memiliki jadwal padat, tidak sempat mencerna dengan baik laporan tersebut dan akhirnya hasil penelitian kebijakan tersebut terabaikan. Oleh karena itu diperlukan strategi khusus untuk menyampaikan hasil penelitian tentang kebijakan kesehatan.

IDRC, sebuah lembaga non pemerintah di Kanada, di sela-sela Kongres International Health Economic Association, menyelenggarakan pelatihan mengenai Strategic Communication di Sheraton Center, Toronto. Dalam pelatihan tersebut nara sumber Pauline Dole, Senior Public Outreach Officer and Public Affairs, menyampaikan berbagai kritik terhadap akademisi dan peneliti yang seringkali terasing dari dunia nyata. Pauline menyatakan bahwa dalam mengkomunikasikan kebijakan kesehatan banyak media yang dapat dimanfaatkan misalnya policy brief, press release, kartun atau bahkan petisi.

Kelemahan utama para peneliti adalah bagaimana menyimpulkan hasil penelitian dalam bahasa yang dipahami oleh orang yang bukan ahli. Selain itu  cara penyampaian juga harus hati-hati. Salah seorang peserta dari Malaysia mengakui hal tersebut. “Saya merasa frustasi ketika harus berhadapan dengan pengambil kebijakan karena hasil penelitian saya tidak dipakai”, demikian katanya. “Saya memang kritis terhadap kebijakan pemerintah jadi mungkin hasil penelitian saya tidak disukai” tambahnya.

Tips dari Pauline dalam mengkomunikasikan hasil penelitian sehingga dapat dimanfaatkan oleh pengambil kebijakan adalah sebagai berikut:

  1. Perhatikan betul “pesan” atau “message” dari hasil penelitian anda. Pesan yang disampaikan harus jelas dan ringkas. Oleh karena kalau ruang lingkup penelitian anda komprehensif dan luas maka harus dipisahkan dalam beberapa pesan.
  2. Kalau perlu ulangi pesan tersebut dalam berbagai kesempatan pertemuan, baik informal maupun formal. Pauline mengilustrasikan bahwa seorang strategic communicator yang baik adalah yang dapat menyampaikan pesannya kepada 3 orang yang berbeda, dan ketika 3 orang tersebut bertemu mereka dapat mengulangi pesan itu kembali “hampir kata demi kata”.
  3. Jangan sampai pengambil kebijakan menerima pesan justru dari orang lain padahal sebenarnya anda sudah pernah menyampaikan pesan yang sama yang berasal dari penelitian anda. Untuk itu “present yourself well” kata Pauline.
  4. Pengambil kebijakan biasanya mempunyai beberapa staf yang mengerti hal-hal teknis. Anda harus menjalin hubungan baik dengan mereka karena mereka adalah orang-orang yang mempunyai kontak intensif dengan pengambil kebijakan atau politisi tersebut.

Download Presentasi dan Materi dari Pauline Dole 

Pembukaan Kongres Dunia International Health Economic Association

Laporan Hari III

Hari ini, Senin 11 Juli 2011, Konggres resmi di buka. Konggres ini diikuti oleh 1900 peserta dari lebih 50 negara dan akan mempresentasikan 1100 makalah yang membahas berbagai isu terkait ekonomi kesehatan. Terdapat 9 makalah dari Indonesia, yang dipresentasikan oleh peneliti dari UGM, UI, dan Unpad. UGM diwakili oleh 5 makalah, UI 3 makalah dan Unpad 1 makalah.

Pada pembukaan kongres dipresentasikan Keynote speech dari Katherine Ho, Associate Professor dari Columbia University. Isu yang dibahas dalam keynote speech adalah mengenai pengaruh insentif dokter dalam memilih rumah sakit rujukan. Katherine Ho adalah peneliti yang mendapat penghargaan Kenneth J Arrow karena tulisannya mengungkap teori baru dalam ekonomi kesehatan. Dalam kongres ini juga ada beberapa pembicara yang di dunia ekonomi kesehatan cukup terkenal seperti Adam Wagstaff dan Martin Feldstein.

Datang ke kongres dengan ribuan makalah dan peserta seperti ini dapat diibaratkan datang ke supermarket atau departemen store. Kalau anda tidak punya rencana membeli sesuatu, anda akan bingung. Oleh karena itu dalam laporan kali ini saya hanya akan berbagi beberapa topik yang menarik dan relevan untuk kasus Indonesia, seperti topik-topik berikut ini.

Kemungkinan Amerika Serikat mempunyai Single payer Health Insurance

Sesi ini menarik karena saat ini RUU BPJS yang sedang diperdebatkan di  Indonesia akan menggabungkan asuransi kesehatan dalam satu lembaga. Sesi diselenggarakan dalam bentuk debat dengan pembicara William Hsiao dari Harvard University dan Pembahas Stepen Parente dari University of Minnesota, Menarik bahwa dalam debat tersebut terdapat dua kubu universitas yang mendukung dan menentang single payer system. Dalam argumentasinya Hsiao mengatakan bahwa single payer system sebenarnya mungkin di Amerika karena saat ini system Medicare (asuransi kesehatan untuk orang tua) dan Medicaid (asuransi kesehatan untuk orang miskin) juga sudah merupakan single payer. Namun Parente menganggap bahwa dengan single payer Amerika akan lebih dalam terjebak dalam defisit anggaran, pertumbuhan ekonomi akan terhambat dan “amerika akan kembali ke dalam depresi ekonomi”. Melihat perdebatan tersebut tampaknya ada kemiripan dengan Indonesia. Dan tampaknya perdebatan akan sangat panjang, seperti juga di Indonesia.

Inequity (ketidakadilan) dalam akses pelayanan kesehatan di Asia Pasific.

Sesi ini dibuat khusus untuk anggota Equitap, suatu jaringan peneliti dari berbagai negara Asia Pacific. Di sesi ini berbagai negara berbagi hasil penelitiannya mengenai inequity dalam pembiayaan kesehatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Indonesia termasuk yang masih belum baik kinerjanya dalam menjamin equity dan equality. Indonesia termasuk negara yang menurut Ravindra Rannan-Eliya (Institute for Health Policy, Sri Lanka) pelayanan kesehatannya masih lebih banyak dinikmati oleh orang yang relatif kaya. Tidak seperti Hongkong yang, orang kaya ataupun miskin, dapat memanfaatkan pelayanan kesehatan yang disediakan pemerintah. Hal itu juga terjadi di India dan Vietnam. Menariknya, di Vietnam, penduduk miskin dapat lebih mudah memanfaatkan layanan kesehatan rawat jalan daripada di Indonesia.  Namun tentu saja analisis ini memerlukan akurasi data. Sayangnya masih terdapat data yang kurang akurat yang harus diperbaiki.

Makalah Dari Indonesia

Pada hari Senin dipresentasikan makalah dari Dr. Budi Hidayat, dari Universitas Indonesia. Ahli ekonomi kesehatan dari Fakultas Kesehatan Masyarakat ini meneliti dampak dari program keluarga harapan (PKH) terhadap perilaku mencari pelayanan kesehatan. PKH sebenarnya adalah pemberian uang kepada keluarga miskin agar mereka teratur melakukan pemeriksaan kesehatan, imunisasi dan persalinan ke tenaga kesehatan. Dr Budi Hidayat kemudian menganalisis apakah betul setelah dijanjikan imbalan uang, kelurga miskin betul-betul memanfaatkan pelayanan kesehatan. Analisisnya, dengan menggunakan teori dan perhitungan ekonometrik yang cukup rumit, membuktikan bahwa betul, terjadi peningkatan pemanfaatan layanan kesehatan pada masyarakat miskin. Pertanyaan yang harus dijawab adalah, apakah PKH perlu diteruskan? Hal ini karena saat ini masih dalam tahap uji coba. Dan apabila diteruskan bagaimana sumber pembiayaannya?

Selain itu terdapat presentasi dari Dr. Henni Djuhaeni dari Universitas Pajajaran Bandung. Dalam makalahnya Dr. Henni menyampaikan makalah mengenai upaya kabupaten/kota di propinsi Jawa Barat untuk menjamin kesehatan masyarakatnya. Setelah desentralisasi kesehatan, banyak daerah yang ingin membentuk lembaga Jaminan Kesehatan daerah. Bu Henni mendapatkan bahwa seluruh kabupaten/kota di Jawa Barat saat ini sudah membentuk lembaga jaminan tersebut. Namun karena keinginan untuk membayar asuransi kesehatan dari masyarakat masih kurang dan dasar hukum pembentukan masih belum jelas, maka diperlukan upaya yang lebih keras.

Pengorganisasian Kongress

Satu hal yang dapat dipelajari dari penyelenggaraan kongres ini adalah dalam hal manajemen penyelenggaraan. Mengorganisasikan 1900 peserta dan 1100 makalah adalah bukan pekerjaan mudah. Untuk itu panitia telah menyiapkannya setahun sebelumnya. Teknologi internet sangat dioptimalkan pemanfaatannya. Semua pemberitahuan dilakukan lewat website dan email. Seluruh ruangan dilengkapi dengan jaringan wi-fi. Disediakan beberapa laptop statis untuk peserta apabila mereka ingin membuka email atau website. Pengaturan waktu presentasi dilakukan terintegrasi dari website. Panitia, yang diketuai Bill Swan, merekrut lebih dari 200 sukarelawan mahasiswa untuk membantu peserta. Kongres ini juga disponsori oleh 26 perusahaan dan lembaga termasuk International  Development Research Center, Canada; USAID dan lainnya.

Makalah Katherine Ho

The Effects of Conditional Cash Transfer Program on Basic Health Care                                               Services in Indonesia

Makalah Equity

Kuliah Umum Prof. Martin Feldstein dari Universitas Harvard.