Post Graduate Forum
Laporan Hari I
Laporan Hari II
Point Sesi Oral Presentation Pertama:
21 May 12/ Room 1 / Theme: Health Policy / Health Promotion
- Evidence based budgeting policy in maternal and child health program: Do they work?
(Deni Harbianto, Digna Purwaningrum, M. Faozi Kurniawan, Tiara Marthias ; Gadjah Mada University Indonesia)
Point presentasi: Meskipun jumlah yang relatif besar MNCH dana di Papua, keterbatasan sumber daya manusia menimbulkan masalah serius dalam skala untuk intervensi prioritas. Kendala utama dalam kebijakan kesehatan penganggaran adalah komitmen pemerintah daerah masih rendah. Masalah-masalah ini mungkin juga berlaku untuk daerah lain di Indonesia sebagai efek dari desenftralisasi kesehatan.
- Improving mental health policy in the case of schizophrenia in Thailand: Evidence-based information for efficient solutions
(Pudtan Phanthunane; Naresuan University, Thailand)
Point presentasi:
Skizofrenia adalah salah satu penyakit yang membutuhkan biaya perawatan relatif mahal. Saat ini skizofrenia sudah menimbulkan dampak ekonomi tinggi pada pasien dan keluarga, perubahan kebijakan yang mendorong biaya kesehatan ke pasien mungkin menyebabkan efek jangka panjang negatif bagi pasien dan pemerintah jika terjadi peningkatan pada pasien yang tidak diobati. Dengan mengupayakan intervensi yang lebih efektif dan dengan kombinasi penggunaan risperidone generik, diharapkan hal ini menjadi solusi tepat bagi pasien skizofrenia. Para pembuat kebijakan dan dokter perlu mempertimbangkan kebutuhan riil pasien. - Global initiatives to improve access to essential medicines and health products for neglected tropical diseases (NTDs)
(Ahmed Amara; United Nations University International Institute for Global Health)
Point presentasi:
Peningkatan akses terhadap obat-obatan esensial yang berkualitas untuk masyarakat miskin tetap merupakan masalah kritis. Saat ini kemitraan internasional, termasuk perusahaan farmasi yang terlibat dalam penyediaan obat-obatan atau melakukan penelitian dan pengembangan untuk NTDs. - Cervical cancer in Malaysia: can we improve our screening and preventive practice?
(Shanthi Varatharajan; Majdah M.; Syed Al-Junid3; Won- Sun Chen; Mukarramah A and Chee-Meng Yong; UNU-IIGH Malaysia)
Point presentasi:
Saat ini Malaysia sedang berusaha untuk mengatur ulang dan memperbaharui program screening kanker serviks. Pendekatan praktis dan hemat biaya perlu dikembangkan. Proses ini harus termasuk peneliti dan praktisi dari berbagai disiplin ilmu dan menggunakan pendekatan berbasis bukti. - Medical pluralism in diabetes care among the urban poor of Yogyakarta: closing the gap in healthcare reform?
(Retna Siwi Padmawati; Universitas Gadjah Mada)
Point presentasi:
Pola pengobatan diabetes pada masyarakat miskin sangat bervariasi. Mencari obat yang cocok, kebosanan, keputusasaan, tingginya biaya pengobatan formal, dan tekanan sosial adalah penyebab pluralisme tersebut. Asuransi bagi masyarakat miskin telah mendukung merawat pasien diabetes, tetapi pengeluaran keluarga yang memiliki anggota keluarga pasien diabetes termasuk yang tertinggi di lingkungan itu. Skema asuransi tidak diberikan kepada semua pasien diabetes. Hambatan yang ada bagi pasien yang memiliki jaminan asuransi kesehatan adalah waktu pelayanan, informasi, prosedur, cost sharing, percaya kepada penyedia, dan pilihan pengobatan. Hambatan-hambatan inilah yang terkadang memaksa orang-orang terpinggirkan untuk memilih sumber non kesehatan formal. - Service infrastructure and health workforce in Bangladesh: Experience of an NGO
(Mohammad Fazlul Haque, JatiyaTarun Sangha; Bangladesh)
Point presentasi:
Bangladesh memiliki permasalahan utama dalam hal kurangnya sumber daya manusia dan infrastruktur memadai untuk pelayanan kesehatan. Pelatihan gadis-gadis muda untuk bekerja sebagai paramedis masyarakat di Bangladesh dan keterlibatan masyarakat untuk pembangunan infrastruktur pelayanan kesehatan dapat meningkatkan pelayanan kesehatan di tingkat akar rumput.
Point Presentasi Scientific Award:
21 May 2012 / Room 1/ Scientific Merit Symposium O1
- Oral manifestations among 20-25 year old women in Bangalore City suspected with eating disorders
(Pallavi Vasantrao, M.R.Ambedkar; Dental College, Bangalore India)
Point presentasi:
Penelitian ini membahas tentang pentingnya deteksi dini manifestasi oral dari gangguan makan (eating disorder). Dokter gigi memegang peranan penting dalam mendeteksi manifestasi oral gangguan makan dan mencegah apa saja kemungkinan yang memperparah situasi ini. - What does health system need to act on informal drug dispensaries? The case of self-medication in Yogyakarta Province.
(Eunice Setiawan, Mubasysyir Hasanbasri, Laksono Trisnantoro; Gadjah Mada University, Indonesia)
Point presentasi:
Peningkatan jumlah apotik tidak resmi di Yogyakarta perlu mendapat respon dari otoritas kesehatan provinsi dan kabupaten dalam bentuk pengawasan dan pengaturan. Studi ini menunjukkan bahwa apotik tidak resmi memperoleh pasokan obat dari distributor farmasi yang tidak terdaftar. - Patient-reported outcomes after one year of periodontal treatment at public specialist dental clinics in Peninsular Malaysia.
(Tuti Ningseh Mohd Dom, Syed Mohamed Al Junid, Mohd Rizal Abd Manaf, Khairiyah Abd
Muttalib, Ahmad Sharifuddin Mohd Asari, Rasidah Ayob, Yuhaniz Yaziz, Noorlin Ishak,
Hanizah Abdul Aziz and Noordin Kasan; UKM-UNU IIGH, Malaysia)Point presentasi:
Pelayanan kesehatan gigi di klinik kesehatan gigi milik pemerintah terbukti dapat meningkatkan kualitas hidup dan status kesehatan gigi-mulut pasien. Dengan melakukan analisis efektivitas pelayanan kesehatan gigi dan mulut, diharapkan hal ini dapat meningkatkan kualitas layanan kesehatan itu sendiri. - Health impact of intimate partner violence and implication on services
(Tengku Nur, Siti Hawa, Halim Salleh, Mohamed Yusoff; University of Sciences of Malaysia)
Point presentasi:
Perempuan menderita konsekuensi kesehatan fisik dan mental karena intimate partner violence. Sektor kesehatan telah mulai menunjukkan perhatian terhadap masalah ini, namun masih perlu ditingkatkan melalui pemahaman yang lebih baik tentang isu-isu dan inisiatif manajemen dari penyedia layanan kesehatan. - Home-based family-assisted therapy for people with stroke: Findings from a Randomised Controlled Trial
(Nor Azlin Mohd Nordin, Noor Azah Aziz, Saperi Sulong, Syed Aljunid; UKM-UNU IIGH, Malaysia)
Point presentasi:
Terapi perawatan rumah berbasis keluarga merupakan cara efektif untuk meningkatkan kualitas hidup pasca stroke. Program ini dapat menjadi alternatif dalam proses rehabilitasi pasca perawatan di rumah sakit. - Using the adjusted clinical group to determine morbidity burden and healthcare resource use of diabetes patients at Buddhachinaraj Hospital, Phitsanulok
(Roongkarn Pannarunothai; Naresuan University, Thailand)
Point presentasi:
Penelitian ini menunjukkan kemungkinan penggunaan sistem ACG (Adjusted Clinical Group) untuk menentukan morbiditas pasien dengan diabetes dan bagaimana menjelaskan penggunaan layanan kesehatan dan biaya yang dikeluarkan. - Selection of HMG-coenzyme A reductase inhibitors using multiattribute scoring tool
(Azuana Ramli, Syed Mohamed Aljunid, Saperi Sulong, Faridah Aryani Mohd. Yusof; UKM-UNU IIGH, Malaysia)
Point presentasi:
The multiattribute utility scoring tool telah berhasil membuat sistematika model pembuatan keputusan untuk penggunaan statin. Berdasarkan skor total penggunaan hasil model MAST, atorvastatin dan simvastatin sebaiknya dipertimbangkan menjadi obat lini pertama bagi kasus hiperkolesterolemia. - Role of microRNAs in the pathophysiology of sporadic colorectal cancer
(Fung Lin, Chee Wei, Chee Woon; UM-UNU IIGH, Malaysia)
Point presentasi:
MiRNAs dapat menjadi sumber informatif dalam menyoroti mekanisme molekuler yang mendasari patogenesis CRC sporadis. Penelitian lebih lanjut ke profil darah MiRNAs akan menjelaskan peran potensinya sebagai biomarker noninvasif dalam CRC.


Konsep yg mendasari pentingnya tools ini adalah pembiayaan berbasis hasil, artinya mengaitkan insentif dengan kinerja tertentu. Konsep ini bisa diterapkan baik di sisi supply (performance based financing, misalnya), mau pun di sisi demand (conditional/unconditional cash transfer dan vouchers, misalnya).
Kemudian disajikan mengenai kasus hasil evaluasi contracting di Pakistan (kasus tersedia dalam bahan bacaan yg harus dibaca peserta). Contracting di Pakistan dilakukan pada level Basic Health Units (BHU) yang menyediakan pelayanan primer. Hal ini dilakukan karena masyakarat menganggap pelayanan di sector public buruk, dokter tidak ada di tempat, akibatnya masyarakat lebih suka pergi ke fasilitas swasta. Oleh karena itu disusunlah kontrak dengan pihak swasta (PRSP) untuk menyediakan pelayanan yang dibutuhkan. Daerah dibagi ke dalam cluster, dimana 3 BHU dikelompokkan ke dalam 1 cluster dan dimanajemeni oleh seorang dokter. Saat itu ada 12 dokter, kemudian PRSP merekrut 23 dokter baru. Insentif yang ditawarkan menarik: termasuk peningkatan gaji sebesar 150% tetapi mereka dilarang melakukan praktek pribadi, pinjaman tanpa bunga untuk mobil, dan lain-lain. Setelah masa kontrak berakhir terlihat dari evaluasi bahwa utilitas pelayanan meningkat, kepuasan pasien terhadap pelayanan meningkat, fasilitas di-upgrade dan dokter tersedia. Hal-hal ini tersedia walau pun nilai kontrak yang diberikan tidak lebih mahal daripada nilai yang dikeluarkan pemerintah selama ini untuk sector public, jadi secara umum ada peningkatan efisiensi dan cost-effectiveness. Namun ada satu hal yang tidak masuk di dalam kontrak yaitu kualitas, sehingga evaluasi tidak menunjukkan bahwa kualitas (clinical care quality) berubah (tidak bertambah baik walau pun juga tidak bertambah buruk).
Strategi yg dilakukan adalah market domination: karena tanpa market share yg besar, PhilHealth akan sulit bernegosiasi dengan providers. Dan sebaliknya, bagaimana kita bisa melakukan market domination jika kita tidak tahu siapa market kita. Oleh karena itu kunci dari strategi ini adalah sistem informasi: PhilHealth saat ini memiliki informasi yg paling lengkap mengenai rumahsakit di Filipina, jauh lebih lengkap dari data yg dimiliki pemerintah (depkes).
Hari ketiga dimulai dengan ringkasan dari hari kedua. Sama seperti kemarin, peserta yang menyajikan ringkasan ini. Peserta hari ini cukup kreatif karena kali ini ringkasan disajikan dalam bentuk seolah-olah dua peserta melakukan Tanya jawab dalam sebuah acara TV. Hal ini membuat presentasi ringkasan lebih menarik untuk diikuti dan kadang-kadang diselipi lelucon.
Hari kedua dimulai dengan penyajian ringkasan dari sesi-sesi pada hari pertama. Menariknya, peserta yang diminta membuat dan menyajikan ringkasan, sehingga ini bisa menjadi indikasi pemahaman peserta terhadap materi yang disampaikan.


