Indonesia Timur Masih Jadi Daerah Tertinggi Endemis Malaria

1. Sebanyak 10,7 juta penduduk tinggal di daerah endemis malaria

Sampai akhir 2017, 266 kabupaten/kota di Indonesia atau 50 persen telah mencapai eliminasi malaria, atau setara 188 juta penduduk. Sebanyak 72 persen penduduk Indonesia sudah tinggal di daerah bebas malaria. Artinya, masih ada 10,7 juta penduduk yang tinggal di daerah endemis menengah dan tinggi malaria.

"Indonesia sudah on the track dalam upaya mengeliminasi malaria, sudah setengah jalan. Diperlukan komitmen dan upaya lebih kuat untuk mencapai target 2030, karena yang tersisa cukup berat," kata Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotic Kemenkes Jane Soepardi di Kementerian Kesehatan, Jakarta, Senin (23/4).

2. Daerah timur jadi terdampak malaria tertinggi

Jane menjelaskan, pada 2017 jumlah kasus malaria mencapai 261.000 kasus dan 90 persen berasal dari Papua, Papua Barat, dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Hal itu menunjukkan beban terbesar malaria saat ini adalah kawasan timur Indonesia.

3. Pemerintah menargetkan Indonesia bebas malaria 2030

Jane menjelaskan, upaya untuk membebaskan malaria pada 2030 antara lain penyediaan alat diagnosis dan obat malaria, pemberian dan kampanye penggunaan kelambu anti nyamuk secara massal di daerah endemis tinggi, pengendalian vektor, screening malaria pada ibu hamil, dan lain-lain.

"Karena faktor yang memengaruhi kejadian malaria cukup kompleks, diperlukan kontribusi semua sektor terkait, termasuk masyarakat dan swasta, Kementerian PUPR (Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kemendes, dan Kementerian Pariwisata," kata Jane.

source: https://news.idntimes.com/

 

 

Survei: Masyarakat RI yang Peduli Kesehatan Hanya 20 Persen

Kesadaran masyarakat Indonesia tentang hidup higienis sepintas terlihat cukup mapan. Apalagi arus informasi seputar bagaimana hidup bersih dan sehat telah bertebaran di media sosial.

Namun nyatanya masyarakat tidak cukup teredukasi. Hal ini ditunjukkan oleh data Kementerian Kesehatan. Tercatat bahwa hanya 20 persen dari total masyarakat Indonesia yang peduli terhadap kebersihan dan kesehatan.

Selain itu berdasarkan data Ditjen P2P tahun 2016 yang menyebutkan bahwa masih terdapat 6,8 juta kasus diare di masyarakat Indonesia dan mengancam kesehatan bahkan keselamatan nyawa. Angka tersebut sebenarnya masih bisa ditekan dengan pola hidup higienis.

Ketua Perhimpunan Ahli Mikrobiologi Klinik Indonesia (PAMKI) DKI Dr. Wani Devita Gunardi, SpMK, menyebutkan bahwa edukasi masyarakat soal kebersihan adalah hal yang penting.

"Bakteri berbahaya ada di sekitar kita, bahkan rumah yang kita anggap bersih bisa menjadi sumber penyakit. Karena itu dibutuhkan perhatian yang lebih besar untuk mengedukasi masyarakat terkait masalah higienitas," katanya dalam sambutannya di pembukaan IHF, Chubb, Jakarta Pusat, Senin 23 April 2018.

Karenanya berdasarkan hal tersebut Unilever memprakarsai dibentuknya wadah kolaborasi yang diberi nama Indonesia Hygiene Forum.

"Tingkat higiene di Indonesia rendah, hanya 20 persen populasi yang memikirkan higiene secara serius. Untuk itu kami memprakarsai terbentuknya Indonesia Hygiene Forum (IHF) untuk dapat menjadi wadah komunikasi dan kolaborasi pihak yang terlibat di dalam kesehatan dan higienitas tersebut, melalui pendekatan edukasi dan ilmu pengetahuan," kata Hemant Bakshi, Presiden Direktur PT. Unilever Indonesia, Tbk.

Selain edukasi, Indonesia juga membutuhkan standardisasi higienis yang dapat diterapkan secara umum dan menyeluruh serta bisa difungsikan sebgai indikator evaluasi pemerintah dan masyarakat Indonesia.

Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Prof. Purnawan Junaidi mengemukakan bahwa bukan hanya perorangan, untuk mewujudkannya dibutuhkan tim khusus.

"Untuk menyelesaikan masalah ini buth dibentuk tim khusus yang akan menentukan standar-standar higienis di Indonesia. Standar ini bisa dijadikan bahan evaluasi agar penyakit-penyakit yang terkait higienitas tidak mudah menjangkit masyarakat," kata

Lebih lanjut Purnawan mengatakan, secara konsep higiene bukan hanya kebersihan tapi kondisi (akses), perilaku (pengetahuan), dan budaya tentang kebersihan itu.

sumber: https://www.viva.co.id/

 

Indonesia Darurat Sedentari, Pemicu Kematian Tertinggi

Gaya hidup masa kini cenderung gemar mengonsumsi makanan instan dan cepat saji, serta minimnya aktivitas fisik. Gaya hidup demikian juga dikenal dengan istilah sedentari, yang menjadi pemicu kematian tertinggi di Tanah Air.

Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, sebanyak 24 persen penduduk Indonesia menjalani gaya hidup sedentari lebih dari 6 jam per hari. Kondisi ini mengkhawatirkan karena rentan memicu penyakit tidak menular yang berdampak pada kematian.

"Hal ini mengkhawatirkan karena menjadi salah satu faktor penyebab kematian tertinggi di Indonesia dan dunia termasuk di antaranya adalah penyakit tidak menular seperti stroke, penyakit jantung, dan diabetes mellitus," ujar Direktur Kesehatan Kerja dan Olahraga, Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, drg. Kartini Rustandi, M.Kes melalui keterangan tertulis, Senin 23 April 2018.

Menindaklanjuti isu tersebut, pemerintah Indonesia menginisiasi Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) untuk menciptakan masyarakat yang lebih sehat dengan mempromosikan aktivitas fisik 30 menit setiap hari, melakukan diet seimbang, dan periksa kesehatan secara rutin.

Untuk itu, dalam perayaan 'Ayo Indonesia Bergerak' Kartini bergabung dengan 5.500 pecinta gaya hidup sehat dan aktif untuk menyambut pelari dan pesepeda yang telah melengkapi rute estafet Yogyakarta – Jakarta sejauh 600 KM melewati Kebumen, Purwokerto, Ciamis, Bandung, serta Bogor sebelum akhirnya mencapai titik finish di Jakarta pada Minggu, 22 April 2018 kemarin.

"Kampanye ‘Ayo Indonesia Bergerak’ adalah sebuah ajakan kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk melawan gaya hidup tidak aktif (sedentari). Kampanye ini tidak hanya menginsipirasi dan mendorong masyarakat Indonesia untuk lebih aktif, namun juga sebagai bentuk komitmen Fonterra dan Anlene dalam menciptakan masyarakat Indonesia yang lebih kuat, lebih sehat, dan bahagia," ujar Technical Marketing Advisor, Fonterra Brands Indonesia, Rohini Behl. (mus)

https://www.viva.co.id/

 

Menkes RI Tegaskan Penanganan Tiga Isu Penting Kesehatan di Indonesia

Menteri Kesehatan Republik Indonesia (Menkes RI) Prof Dr dr Nila Farida Moeloek SpM (K) mengatakan bahwa pemerintah menjadikan tiga isu penting kesehatan sebagai fokus penanganan.

Tiga isu itu yakni stunting, tuberculosis dan imunisasi.

“Kami akan garap ini dengan memanfaatkan seluruh sektor. Satu diantara upaya dengan menerapkan program Indonesia sehat melalui 12 Indikator,” ungkapnya saat diiwawancarai usai Rapat Kerja Kesehatan Daerah (Rakerkesda) Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2018 di Hotel Kapuas Palace Pontianak, Rabu (18/4/2018).

Ia menambahkan Indonesia menempati urutan kedua penderita tuberculosis (TBC) di dunia. Di sisi lain, angka stunting juga terbilang tinggi di Indonesia di atas angka target yang ditetapkan WHO.

Menkes menimpali isu kesehatan di Indonesia memang paling menarik digali sekaligus diselesaikan.

Khusus tuberculosis, yang ditakutkan adalah resistensi dari obat. Pendampingan harus dipastikan berjalan kontinyu dan optimal.

“Semua harus saling bahu-membahu menuntaskan masalah ini. Jika sudah terjadi resistensi, itu dapat merugikan negara baik secara ekonomi maupun hubungan dengan negara lain. Pemberian imunisasi kepada anak sejak dini adalah dasarnya,” katanya.

Apabila stunting tidak disikapi serius, Menkes pesimis Indonesia siap menghadapi bonus demografi. Selain masalah penyakit menular, pemerintah tengah fokus dalam penanganan penyakit tidak menular diantaranya penyakit jantung dan Diabates.

“Untuk mengentaskan permasalah ksehatan, kita tidak bisa bekerja sendiri dari jajaran Kemenkes. Namun, kerjasama yang baik tentu itu yang diharapkan. Misalnya, dalam memberikan dakwah, berikan dakwah tentang kesehatan,” tukasnya.

Artikel ini telah tayang di tribunpontianak.co.id dengan judul Menkes RI Tegaskan Penanganan Tiga Isu Penting Kesehatan di Indonesia , http://pontianak.tribunnews.com/2018/04/18/menkes-ri-tegaskan-penanganan-tiga-isu-penting-kesehatan-di-indonesia 
Penulis: Rizky Prabowo Rahino
Editor: Dhita Mutiasari

 

Teknologi dan Distribusi Layanan Kesehatan

Isu kesehatan berkaitan dengan banyak sektor salah satunya layanan kesehatan. Hingga saat ini, masyarakat di daerah terpencil masih sulit untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang mumpuni.

Jangankan daerah terpencil, permasalahan distribusi akses layanan kesehatan di Jakarta saja masih menjadi momok hingga saat ini. Contoh paling besar ialah 1 rumah sakit di DKI Jakarta saja diperuntukkan untuk penanganan 1.000 penduduk, dan ini melebihi kapasitas yang seharusnya.

Lewat permasalahan inilah, perusahaan swasta berusaha berkontribusi dengan memberi inovasi teknologi terhadap penyedia layanan kesehatan. Saat ditemui di acara Forum Diskusi Philips Indonesia di EV Hive D.Lab, Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat pada Jumat (13/4), Suryo Suwignjo selaku Presiden Direktur Philips Indonesia juga mejabarkan langkah yang telah Philips tempuh dalam mengatasi hal ini.

“Philips telah mengambil peranan dalam upaya meningkatkan pemikiran progresif mengenai isu-isu terkait layanan kesehatan di Indonesia, penguatan kesadaran akan hidup sehat, dan peningkatan upaya kolaborasi antara pemerintah dengan instansi-instansi terkait dalam rangka mencari dan memberi solusi terhadap permasalahan yang dihadapi industri kesehatan,” papar Suryo dalam forum diskusi ini.

Fajaruddin Sihombing selaku perwakilan dari Asosiasi Rumah Sakit Swasta Indonesia juga memaparkan bahwa era digitalisasi yang tak terhindari ini harusnya menjadi pemicu agar semua pihak dalam bidang kesehatan bersiap untuk saling bersinergi sehingga dapat memberikan pelayanan kesehatan yang efisien dan menyeluruh.

Teknologi harus dimanfaat sebaik mungkin agar bisa menjawab permasalahan seperti penghitungan biaya rumah sakit, lama perawatan hingga ketenagaan medis. Selain itu teknologi di bidang kesehatan yang telah ada saat ini diharapkan mampu menjadi langkah preventif juga deteksi dini bagi para masyarakat daripada harus menanggulangi ketika sudah terserang suatu penyakit.

http://www.1health.id/id/article/category/sehat-a-z/teknologi-dan-distribusi-layanan-kesehatan.html

 

Peran WHO dalam Membantu Pemerintah Indonesia

World Health Organization atau biasa disebut WHO adalah organisasi internasional yang didirikan pada tanggal 7 April 1948 yang bermarkas di Jenewa, Swiss. WHO adalah organisasi internasional di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mempunyai tanggungjawab untuk memberikan arah dan kebijakan dalam penanganan kesehatan masyarakat dunia.

WHO terdiri atas Lembaga Perwakilan atau The World Health Assembly dan Badan Eksekutif atau Executive Board. Lembaga perwakilan beranggotakan 193 negara dan badan eksekutif WHO terdiri atas 34 orang yang dipilih setiap tiga tahun sekali.

Badan eksekutif terdiri dari orang-orang yang memiliki keahian khusus dalam bidang kesehatan, sedangkan lembaga perwakilan yang menentukan siapa yang akan menjadi Direktur Jenderal, merencanakan anggaran organisasi, dan membahas laporan badan eksekutif WHO.

WHO memiliki tujuan untuk mencapai kesehatan maksimal bagi seluruh masyarakat dunia, untuk mencapai tujuannya, WHO aktif melakukan tugas-tugas yang diantaranya sebagai berikut, bertugas menanggulangi kesehatan dengan cara membantu melakukan pembatasan terhadap penyakit-penyakit menular, memberikan bantuan kesehatan kepada negara-negara yang membutuhkan, membantu meningkatkan kesejahteraan dan kesehatan ibu dan anak, serta mendorong dan membantu pelaksanaan penelitian-penelitian dalam bidang kesehatan.

Menurut deklarasi WHO 1948, WHO memiliki fungsi yang di antaranya adalah sebagai berikut, bertindak, mengarahkan dan mengkoordinir kewenangan otoritas dalam upaya kesehatan internasional, membantu pemerintah dalam meningkatkan pelayanan kesehatan, berkerjasama dengan badan-badan khusus lain jika perlu, untuk mencegah terjadinya kerugian nyata terkait dengan kesehatan masyarakat dunia, membantu perkembangan kesehatan mental, terutama yang mempengaruhi keselarasan hubungan antarmanusia, dan mempromosikan dan melakukan riset dalam bidang kesehatan.

Indonesia mempunyai tuntutan perubahan dalam tingkat global untuk memajukan ketatakelolaan yang baik di semua sektor, termasuk sektor kesehatan. Tuntutan ini tidak hanya dimiliki oleh Indonesia secara khusus, namun seluruh negara-negara dunia. WHO sebagai organisasi internasional juga dituntut untuk menerapkan mekanisme kerjasama yang mengedepankan transparansi, adil, dan setara.

Pada 23 Mei 1950, Indonesia resmi menjadi anggota WHO hingga saat ini. Dalam kurun waktu 68 tahun sejak Indonesia resmi menjadi anggota WHO, WHO banyak memberikan dukungan program kesehatan di Indonesia, khususnya dalam meningkatkan kapasitas institusi maupun individu guna mendukung kebijakan kesehatan tingkat nasional maupun komitmen global.

Tidak hanya itu, WHO juga berperan dalam membantu pemerintah untuk mengatasi maraknya peredaran obat palsu melalui kerjasama dengan Departemen Kesehatan dan Badan Pengawas Obat dan makanan serta organisasi non-pemerintah seperti Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) untuk mengumpulkan data-data yang kemudian diserahkan dan dipergunakan oleh pemerintah Indonesia untuk membuat suatu kebijakan dalam bidang kesehatan berkaitan dengan obat palsu.

WHO juga mempunyai peran dalam mengatasi virus flu burung (H5N1) di Indonesia. Wabah flu burung (Avian influenza) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh burung tipe A strain virus influenza.

Penyakit ini mulai terindentifikasi sejak tahun 2003 di China dan Vietnam. Pada tahun 2005, flu burung mulai masuk ke wilayah indonesia dan mulai memakan korban dan dinyatakan 13 orang meninggal akibat menderita flu burung.

Dalam hal ini, WHO telah menyerahkan bantuan untuk Indonesia berupa 22 unit ambulans dan beasiswa bagi 48 mahasiswa untuk melakukan pelatihan field epidemoligy, WHO juga meminta pemerintah Indonesia menyerahkan sampel virus flu burung untuk dijadikan penelitian, serta memberi bantuan berupa 36 ribu box tamiflu. WHO juga membantu dalam meningkatkan pengawasan, manajemen terhadap serangan penyakit, dan menyiapkan rumah sakit.

sumber: https://kumparan.com/deyan-nugraha/peran-who-dalam-membantu-pemerintah-indonesia-pada-sektor-kesehatan

 

Penyakit Infeksi dan Degeneratif, Beban Ganda Dunia Kesehatan Indonesia

JAKARTA, (PR).- Pakar gizi Susianto Tseng menilai Indonesia sedang menghadapi beban ganda dalam bidang kesehatan yang harus ditindaklanjuti dengan langkah yang serius.

"Sekarang ini, baik disadari atau tidak, Indonesia dihadapkan pada masalah beban ganda di bidang kesehatan, yakni selain masalah penyakit infeksi yang belum tuntas ditangani, muncul masalah baru berupa penyakit degeneratif yang memerlukan biaya kesehatan yang lebih mahal," kata doktor lulusan UI yang banyak mendalami kajian terkait manfaat tempe itu di Jakarta, Selasa, 3 April 2018, seperti dilansir Kantor Berita Antara.

Ia menambahkan, kurangnya energi dan protein (KEP), anemia gizi besi (AGB), kurang vitamin A (KVA), dan gangguan akibat kurang iodium (GAKI) masih tetap menjadi masalah gizi buruk di Indonesia yang harus diselesaikan.

Sementara penyakit degeneratif, seperti penyakit jantung, stroke, hipertensi,kanker, diabetes melitus, obesitas, osteoporosis juga menjadi masalah lain yang sedang dihadapi oleh masyarakat Indonesia.

"Kondisi ini diperparah lagi dengan munculnya berbagai penyakit dari hewan, seperti flu burung dan antraks," kata Susianto yang juga Sekjen Indonesia Vegetarian Society (IVS) itu.

Bahkan ia mencatat penyakit jantung, tekanan darah tinggi (hipertensi), stroke, dan kanker yang selama ini menduduki tempat utama penyebab kematian di Amerika Serikat dan negara maju lainnya kini mulai menjadi ancaman yang sama di Indonesia.

Ia mengatakan, penyakit kardiovaskular yang pada awal mula merupakan penyebab kematian nomor 11 yaitu sebanyak 5,1 persen pada 1971, tetapi meningkat menjadi nomor 3 sebanyak 9,7 persen pada 1986.

Selanjutnya pada 1995 meningkat menjadi nomor 1 (18,9 persen) dan 26 persen pada 2001, terutama terjadi di kota-kota besar di Indonesia.

"Telah terjadi peningkatan jumlah penderita yang berusia muda yakni di bawah umur 45 tahun dari 7 persen pada 1985 meningkat menjadi 17 persen pada 1989," katanya.

Ia mengutip data Susenas (2003) dan Depkes (2005) yang mencatat bahwa masalah gizi lebih pada usia dewasa di Indonesia tergambar dari indeks massa tubuh (IMT) lebih dari 25 sebanyak 21,0 persen (gemuk), IMT lebih dari 27 sebanyak 11,1 persen (obesitas), dan IMT lebih dari 30 sebanyak 3,9 persen.

"Peningkatan pola konsumsi makanan cepat saji (fast food) yang tinggi kolesterol, lemak jenuh, garam, namun rendah serat, dan minuman soft drink yang tinggi gula serta gaya hidup yang rendah aktivitas fisik pada masyarakat perkotaan meningkatkan prevalensi terjadinya gangguan penyakit-panyakit itu," katanya.

Perbanyak buah dan sayur
Oleh karena itu, ia menyarankan agar Pemerintah dan masyarakat di Indonesia mulai menggalakan pola makan sehat khususnya memperbanyak pangan berbasis nabati terutama di daerah perkotaan dengan mengonsumsi lebih banyak sayur dan buah.

"Upaya ini dapat dilakukan melalui program KIE (komunikasi, informasi, edukasi) untuk mencegah dan menanggulangi penyakit degeneratif yang sudah menjadi masalah kesehatan masyarakat Indonesia," kata Susianto.

sumber: http://www.pikiran-rakyat.com/

 

Ingin Tenaga Kesehatan Indonesia 'Kompak', Kemenristekdikti Adaptasi Sistem Pelayanan Kesehatan Inggris

JAKARTA -- Dalam upaya meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia terutama untuk konsentrasi tenaga kesehatan. Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) serta Kementerian Kesehatan (Kemenkes) berkolaborasi dengan Kedutaan Besar (Kedubes) Inggris untuk mengadakan workshop dan seminar pendidikan kesehatan.

Seminar yang berlangsung pada 23-24 Maret 2018 di Fairmomt Hotel Jakarta ini mengusung tema praktif kolaboratif interpersonal untuk para tenaga kesehatan dan yang terkait dalam bidang pendidikan kesehatan. Direktur Jenderal Sumber Daya Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Pendidikan Tinggi Kemenristekdikti Ali Ghufron Mukti mengatakan bahwa paradigma masyarakat Indonesia terlalu fokus pada satu bidang permasalahan.

"Paradigma masyarakat ini kan kalau sudah menangani orang sakit jantung ya jantungnya saja yang diurusi. Padahal, semua di dalam tubuh juga terkait itu," ungkapnya, Jumat (23/3/2018).

Ghufron menyatakan sangat penting bagi para tenaga kesehatan untuk berkolaborasi satu sama lain agar terjadi peningkatan pelayanan kesehatan di Indonesia dan pasien pun terlayani secara maksimal.

"Jadi, kita juga belajar dari sistem pelayanan kesehatan Inggris atau biasa disebut National Health Service. Sistem ini paling besar dan modern di dunia, jadi para tenaga kesehatan di sana bekerja sama satu dengan lainnya," lanjutnya.

Ghufron menambahkan akan ada banyak ide inovatif yang dapat diadaptasi Indonesia dalam bidang pendidikan antarprofesi dan praktek kolaboratif tenaga kesehatan. Pemerintah meyakini bahwa keahlian serta pengalaman kolaboratif tenaga kesehatan dari Inggris bisa menjadi contoh sebagai panduan model kolaboratif tenaga kesehatan di Indonesia.

Untuk melihat dan menguji hasil kolaborasi yang diharapakan tersebut, Kemenristekdikti dan Kemenkes sepakat untuk melakukan percobaan kolaborasi interpersonal di lima rumah sakit terpilih yakni rumah sakit Universitas Indonesia (UI), Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), rumah sakit Universitas Gajah Mada (UGM), rumah sakit Universitas Airlangga (Unair), rumah sakit Universitas Padjajaran (Unpad), dan rumah sakit Universitas Hasanuddin (Unhas).

sumber: http://kabar24.bisnis.com/