Modul 3.C.2 Policy Paper

Modul 3.C.2 Policy Paper

 

  Tujuan Pembelajaran

Memahami format dan cara penulisan makalah kebijakan sebagai salah satu sarana mengkomunikasikan hasil penelitian kepada pembuat kebijakan

 

Makalah kebijakan agak sulit didefinisikan tetapi ia harus memenuhi kriteria berikut:

  • Isu yang dituju harus merupakan sebuah isu kebijakan kontemporer yang sahih dan nyata.
  • Harus terdapat alternative yang jelas untuk kebijakan saat ini.
  • Harus ada data yang cukup untuk disediakan kepada audiens target (yaitu pembuat keputusan) dengan informasi untuk membuat keputusan tentang usulan kebijakan

Namun yang pasti adalah, makalah kebijakan bukanlah:

  • Analisis historis. Makalah kebijakan harus berfokus pada isu kebijakan kontemporer.
  • Studi komparasi atau studi kasus. Biasanya studi komparasi atau studi kasus lebih tepat menjadi makalah penelitian atau naskah akademik.
  • Deskripsi suatu kebijakan.

Beberapa hal yang mencirikan makalah kebijakan adalah:

  • Makalah kebijakan harus memberikan beberapa alternative kebijakan. Sebagai aturan umum, biasanya setidaknya terdapat tiga alternative kebijakan. Alternative kebijakan bisa saja termasuk mempertahankan kebijakan yang sudah ada.
  • Selain itu harus ada kriteria yang jelas untuk mengevaluasi masalah yang dihadapi dan alternative kebijakan untuk dipertimbangkan. Ini akan melibatkan/memprioritaskan antara berbagai pilihan yang mungkin. Trade-off adalah jantung dari proses pembuatan kebijakan. Menentukan kriteria yang jelas dari awal akan sangat membantu pengembangan analisis biaya-manfaat.
  • Makalah kebijakan harus memiliki semacam analisis biaya-manfaat. Analisis ini dapat berupa kuantitatif atau kualitatif. Analisis biaya-manfaat harus secara serius mempertimbangkan kelayakan implementasi, tidak hanya dalam hal implikasi ekonomi atau sosial, tetapi juga dalam hal kelayakan politik. Selain itu, analisis dampak mungkin tidak sepihak. Selalu ada beberapa manfaat/keuntungan dan beberapa biaya/kerugian untuk setiap proposal kebijakan. Tidak ada usulan yang begitu baik sehingga tidak memiliki biaya/kerugian yang terkait, untuk setidaknya satu pihak.
  • Makalah kebijakan juga memuat prediksi: Apa hasil kemungkinan dari berbagai alternative kebijakan? Jadilah spesifik dan cukup rinci. Pada tingkat kepastian seperti apa mereka dapat diyakinkan? Dan apakah criteria yang digunakan (untuk mengevaluasi masalah) akan menunjukkan keberhasilan?

Walau pun kelihatannya sama dengan policy brief, makalah kebijakan biasanya lebih panjang (setidaknya berkisar antara 30 – 35 halaman) dan lebih lengkap cakupannya. Format makalah kebijakan bergantung kepada tipe penelitian, namun secara umum akan mengandung beberapa komponen berikut:

Ringkasan Eksekutif

Walau pun ringkasan eksekutif terdapat pada bagian awal dari makalah kebijakan, namun saat yang terbaik untuk menulis bagian ini adalah pada saat terakhir, karena ringkasan eksekutifg ini akan berfungsi sebagai ringkasan dari seluruh makalah.

Minimal, ringkasan eksekutif harus mencakup:

  1. Pernyataan kebijakan terkini
  2. Alasan insiasi perubahan
  3. Opsi kebijakan yang dipertimbangkan
  4. Kelebihan dan kekurangan tiap-tiap opsi
  5. Langkah tindakan yang direkomendasikan
  6. Alasan mengapa memilih tindakan tersebut

Batang Tubuh

Bagian utama dari makalah harus didedikasikan untuk membangun latarbelakang dan mendiskusikan alasan di balik rekomendasi kebijakan Anda. Berikut ini adalah garis besar menggambarkan apa yang harus ada di tulisan utama:

  1. Tinjauan / Latar Belakang
    Tinjauan/latar belakang biasanya memuat:
    1. Pernyataan tujuan – Mengapa pembuat kebijakan diminta untuk mempertimbangkan perubahan kebijakan saat ini?
    2. Tinjauan kebijakan saat ini – Apa yang sedang kita lakukan, mengapa kita lakukan ini, apa persepsi masyarakat mengenai kebijakan ini? Nilai seberapa baik ini bekerj atau seberapa tidak baiknya
    3. Pernyataan perlunya perubahan – Kondisi apa (misal, perubahan pada pemerintah, kepemimpinan, masyarakat, dll.) yang telah berubah sehingga menyebabkan diperlukannya pendekatan baru?
       
  2. Diskusi
    Diskusikan alternative pilihan kebijakan saat ini dengan menghitung dan menjelaskan setiap opsi kebijakan secara bergantian. Pro dan kontra dari setiap pilihan kebijakan harus didiskusikan. Mengidentifikasi implikasi politik, ekonomi, dan social untuk setiap pilihan. Setiap pilihan kebijakan harus dibandingkan dan dikontraskan dengan pilihan lain dan juga dengan kebijakan saat ini. Inia dalah bagian paling penting dari makalah.
     
  3. Rekomendasi
    Identifikasi pilihan mana yang direkomendasikan dan pilihan mana yang tidak direkomendasikan. Jelaskan mengapa pilihan tersebut yang menjadi rekomendasi, dan mengapa pilihan tersebut lebih tepat dibandingkan pilihan-pilihan yang lain.
     
  4. Implementasi
    Tuliskan rekomendasi yangh spesifik dan langkah-langkah bagaimana mengimplementasikan rekomendasi tersebut.

 Lampiran

  1. Lampiran, jika ada.
  2. Catatan akhir, jika catatan akhir yang digunakan, bukan catatan kaki.
  3. Tabel, grafik, peta, dll. Dapat menjadi bagian dari batang tubuh jika sesuai.
  4. Bibliografi

 

  Bahan belajar

Contoh policy paper

Contoh policy paper Bappenas, dapat dibuka pada link: http://www.bappenas.go.id/print/2839/policy-paper/

 

 

 

Modul 3.A Beberapa konsep dasar penyampaian hasil riset kebijakan

Modul 3.A Beberapa konsep dasar
penyampaian hasil riset kebijakan

 

  Tujuan Pembelajaran

Modul ini membahas beberapa konsep dasar dalam penyampaian hasil riset kebijakan medik, khususnya kepada pembuat kebijakan dan secara umum kepada masyarakat luas. Modul ini juga menyoroti kompleksitas stakeholder dari kebijakan medik.

 

  Tujuan Pembelajaran

Setelah mempelajari modul ini, peserta akan lebih memahami berbagai konsep dasar dalam menyampaikan hasil penelitian kepada para pemangku kepentingan dan pengambil keputusan.

 

Untuk dapat mengkomunikasikan hasil-hasil riset kebijakan, terdapat empat hal dasar yang perlu diingat:

  1. Mendefinisikan isu kebijakan secara efektif
    Salah satu tugas pertama peneliti adalah memastikan bahwa isu-isu yang terkait dengan kebijakan yang menjadi dasar penelitian telah didefinisikan dan diartikulasikan dengan jelas. Untuk meningkatkan relevansi isu, faktor eksternal (misal: stakeholders) dapat dilibatkan di dalam proses identifikasi isu ini. Semakin jelas isu didefinisikan, semakin mudah pengidentifikasian potensi kemanfaatan dari hasil riset dan semakin mudah untuk membangun hubungan komunikasi dengan pihak-pihak yang berkepentingan. Jadi, sangat penting untuk mengidentifikasi pertanyaan kebijakan sejak awal riset.
  2. Transfer pengetahuan merupakan dialog dua arah
    Untuk melakukan transfer pengetahuan dengan lebih baik dibutuhkan sebuah cara yang melebihi model diseminasi satu arah (di mana peneliti menyajikan hasil penelitiannya). Peneliti seharusnya secara aktif mengembangkan dialog dengan para penerima manfaat riset (misalnya pembuat kebijakan dan masyarakat luas). Relevansi dan dampak dari pengetahuan dapat di transformasikan melalui keterlibatan mereka (pembuat kebijakan dan masyarakat luas). Istilah "Keterlibatan" menjadi pilihan kata untuk menunjukkan komunikasi aktif dua arah.
  3. Menciptakan tim komunikasi dan diseminasi
    Mengkomunikasikan hasil riset atau rekomendasi kebijakan sebaiknya bukan merupakan tanggungjawab satu orang, melainkan sebuah tim. Selain itu, diseminasi dan advokasi bukanlah pekerjaan satu kali atau sesaat namun harus berlangsung terus menerus, sehingga dibutuhkan stamina yang cukup bertahan lama. Oleh karena itu, kegiatan komunikasi dan diseminasi dan advokasi sebaiknya tidak dilakukan oleh satu orang. Tim diseminasi seharusnya melibatkan paling tidak satu anggota, yang bekerja sama dengan seorang koordinator, yang bertanggung jawab membuat materi diseminasi yang terkait dengan kebijakan dan menyusun strategi komunikasi, diseminasi dan advokasi. Karena pentingnya tugas pengkomunikasian kebijakan ini, maka kemampuan menulis yang sangat baik diperlukan.
  4. Mengidentifikasi audien: kelompok target yang relevan
    Untuk siapa riset ini penting? Pertanyaan tersebut harus ditanyakan berulang-ulang selama penelitian untuk mendapatkan jawaban yang mengungkapkan dengan siapa persisnya peneliti harus berkomunikasi. Hal ini sederhana, namun merupakan cara yang efektif untuk mengidentifikasi audien.

Kebijakan medik memiliki sifat kekhasan yang perlu dipahami sensitifitasnya. Kebijakan medik biasanya disusun oleh (atau ditujukan untuk) profesi medis yang terbiasa mengambil keputusan medis/klinis secara cepat dan mandiri demi kepentingan keselamatan/kesehatan pasien. 'Kebiasaan' ini menjadi terbawa dalam situasi dimana kebijakan medik diambil untuk kepentingan yang lebih luas dan untuk memenuhi tujuan dari sebuah organisasi atau suatu sistem (lebih lanjut mengenai hal ini dapat dibaca dalam bahan bacaan yang direkomendasikan).

Di level mikro (misalnya: kebijakan medik di rumah sakit), dapat saja terjadi situasi dimana sekelompok professional (tenaga medis) memiliki kepentingan dan otoritas untuk mengambil keputusan yang tidak selalu sejalan atau tidak selalu dipahami oleh sekelompok professional lain (manajer/administrator rumah sakit). Karena teknologi baru, regulasi, dan persaingan dalam industri pelayanan kesehatan, tenaga medis (baca: dokter) dan administrator rumah sakit menjadi lebih tergantung satu sama lain, dan perbedaan antara kebijakan medik dan kebijakan administrasi menjadi kabur. Contohnya: isu mengenai apakah rumah sakit harus memperluas aktivitas perawatan rawat jalan, mungkin dengan mengembangkan klinik satelit. Meskipun sejumlah pertimbangan pemasaran, strategi bisnis, perencanaan, dan pertimbangan terkait administrasi (misalnya peralatan, SDM, dll) terlibat dalam keputusan seperti itu, area kebijakan medik juga tercakup di dalamnya. Misalnya: masalah jenis pasien akan dirawat, triage, mixed-skill apa yang dibutuhkan (menentukan dokter apa saja yang perlu terlibat), penentuan hak/wewenang klinis, dan jenis hubungan rujukan. Keputusan untuk memperluas rawat jalan rumah sakit seringkali dapat menjadi kontroversial dan memecah belah karena langsung dapat mengancam staf medis yang ada yang mencoba untuk mempertahankan atau memperluas praktek pribadi mereka. Dengan demikian, pertimbangan administratif dan klinis yang terlibat dalam pengambilan keputusan di rumah sakit menjadi bertambah penting.

Di level makro, kebijakan medik yang diambil untuk memenuhi tujuan sistem kesehatan daerah atau nasional membuat situasinya lebih kompleks lagi. Dalam hal ini, kompleksitas bisa terjadi karena kebijakan medik tersebut harus mempertimbangkan perbedaan faktor geografis, konteks social budaya, dan terkait dengan aktor-aktor lain di dalam sistem misalnya pihak ketiga (asuransi) atau pembayaran melalui sistem jaminan, dewan penjamin mutu pelayanan, regulator, kemampuan ekonomi, kekuatan politik, bahkan antar berbagai profesi medis sendiri. Tenaga medis bukanlah satu kesatuan homogen. Mereka memiliki karakteristik yang berbeda tergantung pada spesialisasi yang berbeda, senioritas, lokasi geografis, di samping ada pula perbedaan karakter pribadi and filosofi/nilai yang dianutnya. Diversifikasi ini harus dipahami karena ini berarti ada berbagai kelompok tenaga medis yang berbeda yang berkepentingan dalam pengambilan kebijakan medik terkait program pelayanan baru/tambahan, teknologi baru yang akan diadopsi atau reorganisasi sistem pelayanan.

Di level meso, kebijakan medik yang diambil untuk memenuhi tujuan suatu program juga tidak kurang kompleks. Misalnya, program akselerasi penurunan angka kematian ibu membutuhkan kebijakan medik yang melibatkan kebijakan-kebijakan terkait kesiapan berbagai jenis dan jumlah berbagai tenaga medis yang harus tersedia pada level primer, sekunder dan tersier; kebijakan atas berbagai profesi medis yang terkait; kebijakan yang memastikan adanya dukungan peralatan, persediaan, bahan habis pakai, obat dan alat kesehatan pada level primer, sekunder dan tersier; kebijakan terkait rujukan; kebijakan terkait pelayanan yang tercakup dalam sistem pembiayaan, dan lain-lain.

Dengan demikian, semakin tajam peneliti dapat merumuskan isu kebijakan yang menjadi sasaran, dan di level apa kebijakan medic itu berada, maka semakin jelas pulalah target audiens dan para pemangku kepentingan/stakeholders dari kebijakan tersebut. Kemudian, peneliti dapat memulai membentuk tim untuk membantunya dalam menyusun strategi komunikasi, diseminasi dan advokasi yang bersifat dua-arah.

Modul berikutnya akan membahas mengenai keterampilan yang dibutuhkan untuk dapat menyampaikan hasil penelitian dan advokasi kebijakan serta media apa yang dapat digunakan.

 

  Bahan belajar

A comparison of decision-making by physicians and administrators in healthcare settings,
Matheson, D.S and Kissoon, N., Critical Care, 2006, 10:163 

Mending the Gap between Physicians and Hospital Executives,
Waldman, J.D. and Cohn, K.H., in "The Business of Healthcare", Cohn, K.H and Hough, D.E (eds), Praeger: 2007.

 

  Tugas

Identifikasi sejak awal siapa target audiens dari kebijakan medik yang Anda susun. Semakin detil target audiensnya, semakin baik. Target audiens inilah yang akan menjadi target audiens dari rencana diseminasi And nantinya.

Misalnya:

  1. "Manajemen Rumah Sakit" adalah target audiens umum; yang lebih khusus misalnya "Direktur Pelayanan Medik", "Direktur Keuangan", "SMF bagian X", dan seterusnya.
  2. "Pemerintah Daerah" adalah target audiens umum; yang lebih khusus misalnya, "DPRD Komisi X", "Sekda", "Bupati", "Dinas Kesehatan bagian Kesehatan Keluarga", dan seterusnya.

 

 

 

 

Pengantar Modul 3

Pengantar Modul 3. Mengkomunikasikan hasil-hasil riset kebijakan
kepada pengambil keputusan

 

  Deskripsi

Pemanfaatan hasil riset kebijakan kesehatan merupakan salah satu isu yang berkembang dibicarakan di antara para analis kebijakan. Beberapa penelitian kebijakan dapat memberikan manfaat berupa temuan yang disitasi oleh peneliti atau penelitian lain. Namun beberapa peneliti lainnya bergerak lebih jauh dengan mencoba memasuki ranah proses pembuatan kebijakan. Menurut mereka, suatu kebijakan atau proses pembuatan kebijakan seyogyanya merupakan hasil atau setidaknya mendapat masukan dari hasil-hasil riset kebijakan. Dalam konteks inilah upaya mengkomunikasikan hasil-hasil riset kebijakan kepada pengambil keputusan menjadi relevan.

Modul 3 akan membahas beberapa saluran yang dapat digunakan dan ketrampilan yang dibutuhkan untuk mengkomunikasikan hasil-hasil riset kebijakan kepada pengambil keputusan atau pemangku kepentingan (stakeholders) lain. Tanpa mengecilkan arti saluran lain yang ada dan ketrampilan lain yang dibutuhkan, modul 3 secara khusus akan membahas mengenai:

3.A Beberapa konsep dasar dalam penyampaian hasil (28 - 29 Mei 2013)
3.B Ketrampilan untuk menyampaikan hasil (30 Mei – 2 Juni 2013)
3.C Berbagai media menyampaikan hasil riset kebijakan

3.C.1 Policy Brief
3.C.2 Policy Paper
3.C.3 Policy Memorandum 

 

 

Modul 2.C.3. Lensa Etnografis

Modul 2.C.3. Lensa Etnografis

 

  Tujuan Pembelajaran
 

  1. Memahami prinsip Lensa Etnografi
  2. Memahami prinsip menjaga kualitas dalam strategi lensa etnografi

 

  Isi Modul

Pendekatan klasik dalam etnografi umumnya melibatkan masa kerja di lapangan yang panjang, imersi dalam kehidupan sehari-hari pada suatu setting melalui observasi, interaksi, berdiskusi dengan anggota dari suatu dunia sisal tertentu dan mempelajari berbagai dokumen dan artefak. Dokumentasi yang dihasilkan berupa sintesis batas impresi peneliti yang terekan dalam catatan lapangan, observasi atau data wawancara – seringkali dalam bentuk tulisan tangan, namun semakin sering dijumpai terdokumentasi dengan bantuan alat perekam.

Pendekatan etnografi klasik jarang diterapkan dalam penelitian kesehatan bukan hanya karena kendala waktu dan operasional, namun juga terkait benturan dengan pendekatan positivist dalam sebagian besar penelitian kesehatan. Meskipun demikian, berbagai variasi etnografi tradisional yang dilakukan oleh antropolog ataupun sosiolog kedokteran sesungguhnya dapat memberikan pencerahan untuk pemahaman isu kebijakan dan sistim kesehatan:

  1. Etnografi yang mengikuti kehidupan individu-individu atau kelompok-kelompok yang memiliki kondisi kesehatan tertentu telah mengembangkan pemahaman kita atas bagaimana dan mengapa mereka terhambat (atau terfasilitasi) dalam upaya mereka memanfaatkan layanan dan mengelola kondisi mereka.
  2. Etnografi yang secara eksplisit berfokus pada praktisi dan sosialisasi profesional mereka dalam sistim kesehatan memperjelas feasibilitas dari suatu intervensi sistim kesehatan yang mengasumsikan (atau merubah) hirarki profesional atau pola kerja tertentu.
  3. Etnografi yang berfokus pada organisasi mengkaji bagaimana aktifitas kerja membentuk dan mepertahankan institusi, menganalisis prosedur ideologis yang membuat proses tersebut akuntabel dan mengeksplorasi bagaimana proses kerja berhubungan dengan proses-proses sosial yang lain. Dalam konteks ini, lensa etnografi dapat menjelaskan bagaimana struktur formal organisasi dipengaruhi oleh sistim informal yang dibentuk oleh individu-individu dan kelompok-kelompok dalam organisasi.
  4. Etnografi juga dapat berfokus pada kontroversi atau perdebatan untuk memperjelas benturan antara retorika dan praktik dalam hubungan-hubungan sistim kesehatan.

Peneliti kebijakan dan sistim kesehatan dapat mengambil manfaat dari etnografi klasik untuk memahami bingkai teoritis dan konteks sosial, politis dan historis perumusan kebijakan serta kajian kritis atas bagaimana kebijakan diterjemahkan dalam sistim kesehatan lokal. Pendekatan etnografi juga dapat diaplikasikan dalam studi dengan waktu terbatas untuk menghasilkan analisis yang kaya dan mendalam akan hubungan antara kekuasaan, pengetahuan dan praktik dalam sistim kesehatan dan bagaimana upaya perubahan dapat memberikan hasil yang berbeda dalam kondisi yang berebeda . Dengan demikian lensa etnografidapat bermanfaat dalam studi yang bertujuan mengeksplorasi dan menjelaskan pengalaman-pengalaman seputar kebijakan dan sistim kesehatan.

Kualitas studi etnografi berpijak pada tiga karakteristik utama metodologis:

  1. Mengadopsi metode-metode yang terbuka, mendalam dan fleksibel untuk menangkap berbagai dimensi dan memberikan perhatian utama pada perspektif dan pengalaman responden. Beberapa peneliti secara khusus melakukan triangulasi untuk meningkatkan validitas, namun juga untuk mengeksplorasi berbagai perspektif.
  2. Analisis interpretatif, menempatkan makna suatu kebijakan dan praktik sistim kesehatan dalam konteks sosial, politik dan historis.
  3. Refleksi posisi peneliti terhadap fenomena yang dikaji, menjelaskan bagaimana posisi mereka sebagai peneliti dan observer-partisipan (dalam kasus tertentu) membentuk area minat, pertanyaan dan lensa interpretatif.

 

  Bahan belajar

Béhague&Storeng (2008) Collapsing the vertical-horizontal divide: an ethnographic study of evidence-based policymaking in maternal health.Am J Public Health.98(4):644-9.

 

 

 

 

Modul 2.C.1 Perspektif potong-lintang

Modul 2.C.1 Perspektif potong-lintang

 

  Tujuan Pembelajaran
 

  1. Memahami prinsip perspektif potong lintang
  2. Memahami prinsip menjaga kualitas dalam strategi perspektif potong lintang

 

  Isi Modul

Studi-studipotong lintang dapat bertujuan untuk mengeksplorasi, mendeskripsikan atau menjelaskan suatu fenomena pada suatu titik waktu. Karakteristik ini yang memdedakannya dengan studi longitudinal dan studi lain yang mendeskripsikan atau menganalisis perubahan seiring dengan waktu, dan studi eksperimental yang melibatkan suatu intervensi. Karena studi lintas potong pada umumnya memerlukan sumber daya yang lebih sedikit dibanding dengan strategi penelitian lain, maka strategi ini paling banyak digunakan dan dilaporkan dalam HPSR.

Studi potong lintang meliputi spektrum perspektif disiplin yang luas dan metode yang bersumber dari tradisi positivist maupun relativist. Dalam studi potong lintang, pengumpulan data dapat menggunakan metode tunggal (kuantitatif atau kualitatif) hingga mixed (kuantitatif dan kualitatif) ataupun multi—metode (misal dalam studi dimana pentahapan metode postivist dan realtivist memungkinkan triangulasi pendekatan pengumpulan data, triangulasi epistemiologis, dan juga penggunaan data sekunder). Studi potong lintang yang menggunakan mixed-method memiliki beberapa kesamaan karakteristik dengan studi kasus, namun tidak berarti akan selalu mengikuti prosedur analitik yang sama.

Mixed-method dalam HPSR dapat digunakan untuk memenuhi beberapa tujuan, antara lain:

  1. Dalam proses pengembangan instrumen, wawancara kualitatif dapat mendahului pengembangan instrumen kuantitatif dimana belum dijumpai instrumen yang standar ataupun dikarenakan kekhususan konteks fenomena yang dikaji menuntut pendekatan yang lebih spesifik.
  2. Survey kuantitatif dapat dilakukan untuk mendapatkan sampling frame bagi pemilihan kasus dalam suatu studi kualitatif.
  3. Untuk mengembangkan analisis dan interpretasi, beberapa studi dapat ditriangulasikan untuk menghasilkan beberapa perspektif terhadap satu pertanyaan atau menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berbeda.

Tergantung pada tujuannya, pengumpulan data dalam penelitian mixed-method dapat bersifat konkuren ataupun sekuensial (Cresswel & Plano-Clark, 2007). Temuan dari studi tersebut dapat berupa serangkaian praktik yang terkait dan disatukan untuk menghasilkan solusi permasalahan dalam situasi yang konkrit (Denzin & Lincoln, 1998:3). Komponen-komponen studi memberikan insight yang berbeda terhadap suatu fenomena dan dipadukan untuk menjelaskan fenomena tersebut.

Sebagaimana dalam strategi-strategi penelitian lain, validitas penelitian/trustworthiness dan realibilitas sangat penting dalam stud potong lintang, baik yang berbasis positivist maupun relativist. Kepentingan tersebut terutama dalam konteks HPSR yang bertujuan untuk menjelaskan dinamika dan hubungan yang kompleks antara pelaku-pelaku dan dimensi-dimensi sistim.

Validitas studi potong lintang dapat dipengaruhi oleh (Robson, 2002:171):

  1. Deskripsi yang kurang memadai/mencukupi atas fenomena yang dikaji
  2. Interpretasi yang bermasalah dikarenakan penggunaan data yang selektif dan pemaknaan yang dipaksakan terhdap data
  3. Penjelasan dikembangkan tanpa mempertimbangkan alternatif atau fakta yang bertentangan
  4. Kegagalan dalam menggunakan konsep atau teori dari referensi yang ada

Validitas studi potong lintang dapat diperkuat dengan (Pope & Mays, 2009):

  1. Triangulasi data, observer, pendekatan metodologis dan teori
  2. Member checking (meminta responden untuk memvalidasi temuan dan hasil analisis)
  3. Deksripsi detail metode pengumpulan dan analisis data
  4. Refleksi penulis (refleksi tentang bagaimana bias pribadi ataupun intelektual dapat mempengaruhi studi dan analisis

 

  Bahan belajar

Blaauw Det al (2010) Policy interventions that attract nurses to rural areas: a multicountry discrete choice experiment. Bull World Health Organ.88(5):350-6.

 

 

 

 

Pengembangan Keterampilan Advokasi

Pengembangan Keterampilan Advokasi

 

 Pengantar

Advokasi merupakan salah satu bentuk komunikasi persuasif, yang bertujuan untuk mempengaruhi pemangku kepentingan dalam pengambilan kebijakan atau keputusan. Proses advokasi ini sangat penting bagi para peneliti dalam mengkomunikasikan hasil kajian dan isu-isu penting, dilakukan dengan perencanaan strategis dengan target utama adalah pengambil kebijakan dan korporasi.

Advokasi bukan revolusi, namun lebih merupakan suatu usaha perubahan sosial melalui semua saluran dan piranti demokrasi perwakilan, proses-proses politik dan legislasi yang terdapat dalam sistem yang berlaku. Keberhasilannya diperoleh bila proses dilakukan secara sistematis, terstruktur, terencana dan bertahap dengan tujuan yang jelas, untuk mempengaruhi perubahan kebijakan agar menjadi lebih baik.

Keterampilan advokasi merupakan sebuah ilmu dan seni, yang tentunya sangat dipengaruhi oleh kemampuan berkomunikasi tim peneliti. Peningkatan keterampilan komunikasi dapat membantu tim untuk meningkatkan kinerja, khususnya dalam melakukan advokasi.

Dalam modul ini dibahas penyelenggaraan advokasi yang direncanakan dan dilakukan dengan strategi yang tepat antara lain dengan menetapkan tujuan, fungsi dan monitoring, menentukan siapa yang akan melaksanakan, serta perlunya melakukan mengembangkan jaringan untuk melakukan advokasi.

 

  Tujuan Pembelajaran

Setelah mempelajari modul ini, peserta diharapkan dapat lebih memahami keterampilan advokasi yang diperlukan dalam penyampaian hasil penelitian kepada pemangku kepentingan dan pengambil keputusan.

Tujuan Pembelajaran Khusus

Setelah mempelajrai modul ini, peserta akan:

  1. Memahami langkah-langkah kegiatan advokasi
  2. Memahami keuntungan dari jaringan (networking) dalam kegiatan advokasi
  3. Mampu mengidentifikasi jenis kebijakan dan keterampilan advokasi yang mendukung

1. Kerangka Kerja Advokasi

  • Perencanaan

Bagian terpenting dari advokasi adalah aspek perencanaannya. Sebuah perencanaan lengkap yang kita sebut sebagai kerangka kerja (framework) advokasi yang mancakup hasil analisis kasus sesuai isu, aktivitas, dan situasi yang mempunyai peran dalam suatu advokasi. Kerangka kerja ini sangat diperlukan mengingat advokasi merupakan jalinan interaksi dari berbagai pihak, aktivitas dan situasi. Kerangka kerja advokasi terdiri dari beberapa kegiatan, yaitu:

  1. Identifikasi dan memahami masalah, yang akan diangkat menjadi isu strategis. Kriteria penentuan isu strategis meliputi:
    1. masalah yang paling prioritas dirasakan oleh stakeholder lokal dan mendapat perhatian publik dikaitkan dengan hasil penelitian,
    2. masalahnya mendesak (aktual) dan sangat penting untuk diberi perhatian segera, jika tidak diatasi akan segera berakibat fatal di masa depan,
    3. relevan dengan masalah-masalah nyata dan aktual yang dihadapi oleh masyarakat (sedang hangat atau sedang menjadi perhatian masyarakat).

Daftar tolok ukur analisa isu strategis:

    1. Aktual : apakah isu ini sedang jadi pusat perhatian?
    2. Urgensi : apakah isu ini mendesak?
    3. Relevansi : apakah isu ini sesuai kebutuhan?
    4. Dampak positif : apakah isu ini sesuai dengan visi & misi kita?
    5. Kesesuaian: dapatkah konstituen kita berpartisipasi dalam isu ini?
    6. Sensitivitas: apakah isu ini aman dari dampak sampingan?
       
  1. Pemanfaatan data sebagai bahan advokasi
    Dalam tahap ini dilakukan pula pengumpulan dan analisis data untuk dapat mengidentifikasi dan memilih masalah serta dikembangkan dalam tujuan advokasi, membuat pesan, memperluas basis dukungan dan mempengaruhi pembuat kebijakan. Data hasil riset akademik yang dilakukan mendukung pelaksanaan kegiatan advokasi, terutama untuk memperoleh gambaran umum tentang situasi problematik, keadaan sarana prasarana, dan kebijakan yang berlaku termasuk kebijakan anggaran. Kegaitan advokasi juga ditunjang oleh pakar secara akademis sehingga menghasilkan daya dorong kuat karena akan bersifat mendesak kepada stakeholder (isunya terbukti merupakan kepentingan publik) sekaligus sahih secara ilmiah.
     
  2. Tentukan tujuan advokasi
    Penentuan tujuan diharapkan fokus pada satu tujuan kunci, yang merupakan pernyataan apa saja harapan yang ingin dicapai dengan melakukan advokasi, baik dalam hal kebutuhan-kebutuhan kepada pembuat kebijakan maupun hasil-hasil jangka menengah. Tujuan merupakan penyataan umum tentang apa yang diharapkan dan akan dicapai dalam jangka panjang (tiga sampai lima tahun), disusun dengan prinsip SMART: Specific, Measurable, Achievable, Relevant, Time-bound
     
  3. Identifikasi target audiens
    Penentuan ini juga berkaitan dengan permasalahan yang ingin diatasi oleh komunikator melalui advokasi. Target audiens atau komunikan bisa merupakan kelompok-kelompok yang mewakili masyarakat umum ataupun yang mewakili pemuka masyarakat atau pengambil kebijakan.
    Siapa aktor kunci potensial, kita perlu melakukan analisis kepentingan mereka dan tingkat pengaruhnya. Sehingga menghasilkan matriks siapa-siapa yang mendukung, dapat diyakinkan, mungkin akan menentang, dan harus dinetralkan.
     
  4. Analisis SWOT
    Metode perencanaan strategi menggunakan analisis SWOT: Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats yang dirancang untuk membantu mengidentifikasi kekuatan internal, kelemahan organisasi atau kelompok dalam hubungannya dengan peluang dan ancaman yang ditemui dalam pelaksanaan kerja.
     
  5. Identifikasi peluang kerjasama :
    Organisasi / grup yang dapat menjadi patner:
    1. Institusi/organisasi atau individu yang memiliki komitmen terhadap tujuan yang sama
    2. Pengalaman dalam hal komunikasi (communication specialist)
  6. Peluang kerjasama ini dimaksudkan untuk membangun konstituen dalam hal mendukung keberhasilan advokasi. Semakin besar basis dukungan, semakin besar peluang keberhasilan. Kita perlu membangun aliansi dengan berbagai kelompok dan memanfaatkan berbagai media, antara lain membangun jejaring dengan organisasi melalui kegiatan-kegiatan bersama, pertemuan publik, media-media sosial, serta menggunakan jaringan berbasis internet.
     

  7. Agenda/aktivitas advokasi dan mengumpulkan/menyusun dokumen rencana strategi
    Penyusunan agenda kegiatan secara detail, terdiri:
    1. Rencana implementasi : tujuan yang akan dicapai per kegiatan, waktu pelaksanakan, melakukan apa oleh siapa, serta informasi yang mendukung
    2. Mengembangkan pesan dan memilih saluran komunikasi
    3. Anggaran kegiatan, sumber daya diperlukan untuk pengembangan dan penyebaran materi, perjalanan anggota tim peneliti untuk bertemu dengan pembuat keputusan dan menghasilkan dukungan, biaya komunikasi, dan keperluan logistik lainnya.
  • Pelaksanaan

Pelaksanaan advokasi mencakup banyak kegiatan, baik berurutan maupun serempak. Satu tujuan yang dapat diraih dengan melakukan beberapa hal secara serentak dan saling mendukung. Dalam pelaksanaannya setelah disusun kerangka kerja lengkap, kegiatan advokasi yang dapat dilakukan antara lain:

mod3-a

Berbagai pendekatan model komunikasi untuk mendefinisikan advokasi dalam mempengaruhi kebijakan publik dan masing-masing memiliki proses berbeda-beda, sebagai berikut:

  1. Legislasi, upaya yang dilakukan adalah di level legislatif dengan membangun payung hukum, misalnya legal drafting dan judicial review.
  2. Birokrasi, dilakukan untuk mengusulkan dan memperbaiki tata laksana suatu peraturan/payung hukum di level eksekutif pemerintah (melalui lobby, mediasi, audiensi, kapasitasi, dll) sehingga terjadi peningkatan pelayanan.
  3. Sosialisasi dan Mobilisasi, dilakukan untuk membangun suatu budaya (terutama budaya hukum) di masyarakat sebagai stakeholder utama (melalui pengembangan program komunikasi partisipatif, kampanye, penggalangan dukungan basis masa/networking, tekanan sosial, dll).

Gb. 1 . Proses advokasi melalui legislasi, birokrasi, sosialisasi dan mobilisasi

mod3-b

  • Evaluasi dan monitoring

Kegiatan evaluasi dan monitoring terjadi selama proses advokasi dilakukan, sebelum melaksanakan advokasi perlu ditentukan bagaimana akan memantau rencana pelaksanaannya. Dalam hal ini indikator sebagai ukuran kemajuan dan hasil yang dicapai, perlu dipersiapkan.Dapatkah kita secara realistis mengharapkan untuk membawa perubahan dalam kebijakan, program, atau dana sebagai hasil dari upaya? Secara spesifik, apa yang akan berbeda setelah selesainya kampanye advokasi? Bagaimana kita tahu bahwa situasi telah berubah?

Kegiatan advokasi yang sering kali dilakukan di lingkungan yang bergejolak. Seringkali, kita tidak memiliki kesempatan untuk mengikuti setiap langkah dalam proses advokasi sesuai dengan model yang disajikan di sini. Namun demikian, pemahaman yang sistematis dari proses advokasi akan membantu advokat merencanakan dengan bijaksana, menggunakan sumber daya secara efisien, dan tetap fokus pada tujuan advokasi.

 

2. Membangun Jejaring

Jaringan komunikasi

mod3-cDalam kamus Bahasa Indonesia, jaringan komunikasi adalah sejumlah kegiatan komunikasi yang saling bertautan. Dalam jaringan komunikasi ini tidak hanya mencakup satu atau dua orang saja, namun lebih luas lagi yaitu antar kelompok/komunitas atau pun masyarakat luas. Jaringan komunikasi adalah penggambaran bagian proses komunikasi "how say to whom" (siapa berbicara kepada siapa) dalam suatu sistem sosial. Dalam menggambarkan komunikasi interpersonal, dimana terdapat pemuka-pemuka opini dan pengikut yang saling memiliki hubungan komunikasi pada suatu topik tertentu yang erjadi dalam suatu sistem sosial tertentu seperti sebuah desa, sebuah organisasi, ataupun sebuah perusahaan (Gonzales, 1993).

Kita dapat melakukan analisa terhadap jaringan berdasarkan unit analisis hubungan diantara individu-indivu. Suatu perangkat hubungan yang biasa disebut personal network. Istilah ini menunjukkan lingkaran pergaulan langsung seseorang pada suatu topik tertentu. Network seseorang dapat bervariasi tergantung pada topik yang didiskusikan, ketika individu-individu lebih sering berinterakasi satu sama lain daripada dengan individu-individu lain dalam suatu kelompok yang lebih besar, maka mereka telah membentuk sebuah klik.

Peranan jaringan komunikasi dalam proses perubahan perilaku

Dalam suatu jaringan komunikasi, terdapat pemuka-pemuka opini, yaitu orang yang mempengaruhi orang-orang lain secara teratur pada isu-isu tertentu. Karakteristik pemuka-pemuka opini ini bervariasi menurut tipe kelompok yang mereka pengaruhi. Jika pemuka opini terdapat dalam kelompok-kelompok yang bersifat inovatif, maka mereka biasanya lebih inovatif daripada anggota kelompok, meskipun pemuka opini seringkali bukan termasuk inovator yang pertama kali menerapkan inovasi. Di pihak lain, pemuka-pemuka opini dari kelompok-kelompok yang konservatif juga bersikap agak konservatif (Gonzales, 1993). Pada proses difusi, yaitu proses masuknya inovasi dalam suatu kelompok sehingga terjadi perubahan perilaku, hampir semua pemuka-pemuka opini menyokong perubahan.

Pada beberapa peranan jaringan komunikasi dalam perubahan kelompok/organisasi, seperti disampaikan di atas adanya klik yang muncul di suatu organisasi yang disebabkan adanya adanya persamaan-persamaan tertentu (karena adanya tipe homofili), seseorang dalam suatu organisasi bisa menjadi anggota dari beberapa klik. Klik yang terlalu banyak dalam suatu klompok/organisasi biasanya terjadi karena banyaknya perbedaan, dan dapat mengakibatkan perpecahan dalam suatu organisasi. Tetapi bila klik dapat diatasi maka perubahan yang positif dalam organisasi dapat dicapai.

Perkembangan jaringan seiring dengan perkembangan teknologi

Perkembangan teknologi kian pesat. Perkembangan teknologi yang signifikan menjadikan perubahan yang mulai merambah dalam tiap hal yang dijajaki dan diperdalami oleh teknologi. Perkembangan computer, sistem data, dalam hardware dan software, hingga ke perkembangan komunikasi. Dengan perkembangan demikian membuat manusia kembali beradaptasi dan menyesuaikan seiring dengan perkembangan tersebut. Teknologi pun mewabah ke jaringan informasi yang ada, sehingga menjadikan perkembangan komunikasi yang mengalami perubahan dalam pemanfaatan teknologi. Dalam perkembangan teknologi Indonesia, perkembangan teknologi dalam jaringan kian pesat dan sudah mulai terkenal hingga melekat di hati pengguna. Semakin banyak yang harus dipahami, semakin banyak yang harus diketahui dan banyak yang mengalami perubahan. Perkembangan teknologi dalam jaringan sudah dijajaki oleh para produsen ternama, bahkan sudah mengembangkan hingga memiliki jaringan tersendiri. Dengan hal seperti ini, membuat persaingan di dunia komunikasi dan teknologi semakin menarik. Tidak hanya itu, jaringan yang ada bahkan sudah bayak diakses dan mulai dikenal orang banyak tanpa dengan adanya publikasi.

Saat ini untuk melakukan suatu komunikasi sangatlah mudah karena banyak dukungan teknologi dalam berkomunikasi dengan komunitas kita ataupun masyarakat luas, teknologi memberikan kemudahan dalalm kegiatan kita sehari-hari khususnya membangun suatu jaringan komunikasi.

Kesibukan membuat kita tidak dapat berkomunikasi dengan mudah namun saat ini komunikasi tidaklah sesulit seperti waktu lampau, siapapun dapat lebih mudah berkomunikasi dengan komunitas atau keluarganya walaupun terbatasi oleh jarak yang sangat jauh. Teknologi menghilangkan kesenjangan ruang dan waktu.

Jejaring Sosial

mod3-d

Saat ini orang mulai berbicara santai mengenai net dan kemudian world wide web, mereka mulai menyadari bahwa mereka pun saling terhubung sama seperti komputer mereka. Hubungan-hubungan jelas bersifat sosial, hingga sekarang nyaris semua orang akrab dengan laman dan situs web jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, Youtube, Linkedln, MySpace, DeviantART, Flickr, Friendster, Google, dan lainnya.

Social media membawa manfaat namun juga kerugian bagi penggunanya apabila tidak digunakan secara bijaksana. Nicholas dan James dalam bukunya Connected menjelaskan jejaring sosial sebagai barang indah yang rumit.

mod3-e

Gb. Jejaring. Nicholas A. Christakis & James H. Flower (2010)

Aturan dalam jejaring:

  1. Kita membentuk jejaring kita
    Manusia sengaja membuat dan merombak jejaring sosialnya sepanjang waktu, seperti tertulis dalam tipe jejaring homofili yaitu kecenderungan orang berkomunikasi dengan orang lain yang berkarakter sama. Kata homofili berarti "mencintai yang mirip".
    Memilih struktur jejaring dengan tiga cara:
    1. Berapa banyak orang yang berhubungan dengan kita
    2. Kita mempengaruhi seberapa akrab hubungan antar teman dan anggota keluarga kita
    3. Kita mengendalikan seberapa sentral diri kita dalam jejaring sosial
  2. Keragaman asal-usul sosial dan genesis dalam pilihan ini menghasilkan aneka ragam struktur jaringan dan menempatkan kita di lokasi unik dalam jaringan sosial.

  3. Jejaring kita membentuk kita
    Orang yang memiliki dan terlibat jejaring perilakunya akan dipengaruhi oleh jejaring itu sendiri. Orang yang tidak mempunyai teman akan punya kehidupan berbeda dengan orang yang mempunyai banyak teman.
     
  4. Teman mempengaruhi kita
    Dalam hal ini bukan hanya bentuk jejaring di sekeliling, namun apa yang mengalir melintasi sambungan-sambungannya. Biasanya orang mempunyai hubungan dengan berbagai bentuk dengan orang lain, dan setiap ikatan menawarkan kesempatan untuk saling mempengaruhi.
     
  5. Temannya teman mempengaruhi kita
    Dalam sebuah permainan 'pesan berantai', sebuah pesan dioper sepanjang rangkaian orang yang saling menerima dan menyampaikan. Pesan yang diterima tiap orang mengandung kesalahan yang dibuat oleh orang yang menyampaikannya. Hal ini mencerminkan bahwa orang meniru orang lain yang tidak berhubungan langsung dengannya, disebut sebagai penyebaran hiperdyadik. Sebagian hal mungkin tidak menyebar dengan cara demikian, namun lebih pada penyebaran fenomena yang lebih rumit. Misalnya jika kita akan menyuruh orang berhenti merokok tidak mungkin kita menggunakan pesan berantai, namun kita akan mengerahkan orang-orang yang tidak merokok mengerubungi seorang perokok.
     
  6. Jejaring punya kehidupan sendiri
    Sifat dan fungsi yang dimiliki dalam jejaring sosial tidak dikontrol atau disadari oleh orang-orang di dalamnya. Sifat tersebut dapat dipelajari dengan memahami dan mempelajari keseluruhan kelompok dan strukturnya, bukan mempelajari individu-individu di dalam secara tersendiri. Sifat yang dimiliki jejaring sosial ini adalah sifat emergen yaitu sifat-sifat baru yang timbul dari interaksi dan saling hubung antar bagian-bagiannya.

Berdasarkan aturan tersebut di atas secara emosional individu nilai positif yang dapat diambil antara lain adanya prinsip bahwa dukungan yang diberikan pasangan dapat banyak manfaat. Pasangan hidup saling memberi dukungan sosial dan saling menghubungkan dengan jejaring sosial yang lebih luas mencakup teman, tetangga, dan kerabat.

Cara bekerja Jaringan

Jaringan dapat dibentuk dan dimonitor melalui beberapa bentuk kegiatan, yaitu:

  1. Pertemuan tatap muka, dilakukan dengan menyelenggarakan melalui komunikasi interpersonal dengan stakeholder penting, diskusi/FGD, workshop dan seminar (diseminasi) untuk mendiskusikan hal-hal penting. Sampai saat ini bentuk kegiatan tatap muka cukup efektif karena berhadapan langsung dengan target audien yang tepat dan mendapatkan umpan balik secara langsung.
  2. Menggunakan media konvensional, melalui penyusunan opinisi, menyelenggarakan media briefing, dan broadcast (artikel, berita, opini) dengan melibatkan anggota jaringan yang akan dituju.
  3. Memanfaatkan media baru, dilakukan dengan membuat sites, email dan memanfaatkan jejaring sosial. Pada proses ini diskusi dan pembahasan dilakukan dapat secara terus menerus dengan melibatkan berbagai pihak. Metode ini cukup efektif karena mampu mengirimkan pesan ke target audiens dalam waktu yang relatif lebih cepat dan biaya yang tidak mahal.

Langkah dalam membangun jaringan

Berikut ini tips yang dapat dilakukan untuk membangun sebuah jaringan dan bagaimana meningkatkan pengelolaannya. Langkah yang dapat dilakukan meliputi:

  1. Identifikasi bidang program, tujuan dan kelompok minat untuk pengembangan jaringan
  2. Membangun hubungan melalui komunikasi yang tepat
  3. Membangun kesepakatan dengan pertemuan tatap muka antara manajemen puncak masing-masing lembaga
  4. Membahas bentuk dan mengembangkan jaringan, melalui analisis situasi
  5. Identifikasi sumber daya yang dibutuhkan
  6. Menetapkan pengukuran kinerja

Sedangkan untuk mengelola jaringan perlu dilakukan langkah monitoring dan evaluasi secara terus menerus untuk melihat keefektivitasan dan pencapaian tujuan. Untuk membangun jaringan yang bertahan lama dibutuhkan elemen esensial seperti saling menyajikan informasi terkini, saling percaya dan kebijaksanaan.

 

  Bahan Bacaan

National Association of Social Workers: Grassroots Advocacy Tools

Effective Advocacy Checklist

Children's Defense Fund: Advocacy That Works

American Planning Association: Effective Advocacy

 

 Tugas
 

  1. Identifikasi jejaring yang telah Anda miliki dan jejaring yang potensial untuk Anda. Apa minat utama mereka? Bagaimana Anda bisa mempergunakan jejaring ini untuk membantu kegiatan advokasi yang akan Anda lakukan?
  2. Buatlah sebuah rencana advokasi:
    1. Apa isu utama Anda dan tentukan sebuah tujuan advokasi
    2. Identifikasi siapa audien (primer dan sekunder) advokasi ini
    3. Identifikasi pihak pendukung dan pihak oposisi Anda, siapa yang akan dilibatkan dalam memperjuangkan kasus/isu tersebut dan sebagai apa posisi mereka dalam kasus ini?
    4. Buat pesan advokasi untuk anggota kunci dari audien target Anda, apa saja bentuk atau taktik pemanfaatan media yang bisa digunakan dan siapa saja sasaran penggunaan media tersebut?

 

Modul 2B4. Aplikasi Prinsip-Prinsip Etika Dalam Riset Kebijakan Medik

Modul 2B4. Aplikasi Prinsip-Prinsip Etika
Dalam Riset Kebijakan Medik

 

  Tujuan Pembelajaran
 

  1. Memahami prinsip-prinsip etika dalam Riset Kebijakan Medik
  2. Merumuskan upaya-upaya untuk menjaga etika dalam Riset Kebijakan Medik

 

  Isi Modul

Sebagaimana dalam penelitian-penelitian lain pada umummnya, prinsip-prinsip etika penting untuk dijaga dalam riset kebijakan medik. Meskipun fokus riset kebijakan medik berbeda dengan penelitian kesehatan lain, selalu terdapat isu kesenjangan kekuasaan antara peneliti dengan yang diteliti, sehingga ada potensi untuk perlakuan yang kurang adil atau kurang menghormati. Robson (2002) mengusulkan bahwa semua peneliti perlu mencermati sepuluh praktik dalam penelitian yang dapat dipertanyakan secara etis:

  1. Melibatkan orang tanpa persetujuan
  2. Memaksa/menekan orang untuk berpartisipasi dalam penelitian
  3. Menyembunyikan informasi mengenai esensi penelitian
  4. Mengelabui responden
  5. Mendorong responden untuk melakukan tindakan yang mengurangi rasa percaya diri
  6. Melanggar hak untuk memutuskan sendiri
  7. Memaparkan responden terhadap stress fisik ataupun mental
  8. Melanggar privasi
  9. Menahan manfaat bagi beberapa responden
  10. Memerlakukan responden secara kurang adil atau hormat

Pertanyaan-pertanyaan tersebut berlaku untuk semua penelitian kesehatan. Tantangannya lebih besar dalam konteks penelitian lintas-budaya, misalnya saat peneliti dari negara maju menjalankan riset kebijakan medik di negara berkembang (Molyneux et al 2009). Sehingga salah satu dari delapan prinsip etika yang diajukan oleh Emanuel et al (2004) untuk penelitian klinis adalah kemitraan kolaboratif antara peneliti dan sponsor dari negara maju dengan peneliti, pengambil kebijakan dan komunitas di negara berkembang. (Box 1).

Box 1. Prinsip-prinsip etika penelitian klinis di negara berkembang (Emanuel et al, 2004)

Meskipun demikian, karena memang riset kebijakan medik secara esensial berbeda dengan penelitian kedokteran, terdapat beberapa perdebatan dan tantangan etis di area ini. Molyneux et al (2009) merumuskan empat upaya sebagai berikut untuk menerjemahkan delapan prinsip di atas dalam konteks riset kebijakan dan sistim kesehatan berdasarkan pengalaman di beberapa negara. Dengan demikian, kedelapan prinsip tersebut sangat relevan untuk dicermati oleh para peneliti kebijakan medik.

Dalam riset kebijakan peneliti harus menjaga:

  • Validitas ilmiah dan trustworthiness data – melalui pelatihan yang cermat dan detail untuk semua staf peneliti, termasuk tenaga lapangan, untukmembekali mereka dengan sikap dan ketrampilan komunikasi yang diperlukan untuk menjalankan wawancara yang berkualitas dan mengatasi perbedaan kebangsaan, gender ataupun pendidikan dengan responden; Memerlakukan tenaga lapangan sebagai mitra sejati dalam penelitian, mengingat pengaruh penting mereka terhadap kualitas data.
  • Nilai sosial dan rasio risiko-manfaat penelitian – dengan secara cermat mempertimbangkan risiko dan manfaat partisipasi dalam studi baik pada tingkat individu maupun komunitas, melalui interaksi dengan berbagai pemangku kepentingan di awal penelitian dan review serta refleksi secara terus menerus selama penelitian
  • Informed consent dan respek bagi semua responden dan komunitas – dengan mengupayakan agar semua anggota tim peneliti memahami pesan-pesan utama penelitian dan dapat meminta bantuan bila menjumpai permasalahan etis yang tidak terduga; dan dapat menujukkan sikap hormat terhadap responden dalam semua interaksi dengan komunitas; dan re-negosiasi pola hubungan bila diperlukan daripada semata menekankan pada prosedur konsen formal (yang bisa jadi tidak dimungkinkan dalam riset kebijakan atau berdampak negatif pada hubungan dengan responden yang sangat diperlukan untuk pengumpulan data).
  • Review independen – dengan membantu komite etis untuk mencermati proses penelitian dan interaksi antara berbagai pelaku dalam riset kebijakan, sehingga tidak hanya menekankan pada disain studi dan instrumen.

Pada intinya "Hubungan sosial yang terjalin antara para peneliti, tim lapangan dan anggota komunitas, sangat penting untuk memenuhi aspek moral dari panduan etika" (Molyneux et al 2009). Hubungan-hubungan tersebut akan selalu penting dalam riset kebijakan medik, baik dalam konteks responden dari penyelenggara layanan medik ataupun pengambil kebijakan medik.

 

  Bahan belajar

Emanuel et al (2004) What Makes Clinical Research in Developing Countries Ethical? The Benchmarks of Ethical Research.
Journal of Infectious Diseases, 189:930–937

 

  Kegiatan Pembelajaran

Pertanyaan

Bagaimana anda akan menjaga prinsip-prinsip etika dalam penelitian anda?
Jelaskan ini di dalam proposal penelitian Anda.

 

 

 

Modul 2B3. Mengupayakan Kualitas Riset Kebijakan Medik

Modul 2B3. Mengupayakan Kualitas Riset Kebijakan Medik

 

  Tujuan Pembelajaran
 

  1. Memahami konsep kualitas dalam riset kebijakan medik
  2. Merumuskan upaya-upaya untuk meningkatkan kualitas dalam riset kebijakan medik

 

  Isi Modul

Secara umum kriteria-kriteria yang digunakan selama ini dalam menilai kualitas penelitian tergantung pada paradigma yang diikuti. Penelitian dengan paradigma positivist cenderung menekankan validitas dan realibilitas (diupayakan melalui disain penelitian, pengembangan instrumen dan pengumpulan data yang cermat serta analisis statistik yang sesuai), sedangkan penelitian dengan paradigma relativist mempertimbangkan trustworthiness analisis – seberapa jauh nilainya selain dalam contoh-contoh yang dipertimbangkan. Tabel 1 memaparkan kontras antara penelitian yang berbasis disain yang sudah ditetapkan (paradigma positivist) dan penelitian dengan basis disain yang fleksibel (paradigma relativist). Tabel 2 menguraikan bagaimana trustworthiness dapat diupayakan dengan memberikan informasi tentang disain penelitian, pengumpulan data serta proses analisis dan interpretasi data.

Tabel 1. Kriteria dan pertanyaan untuk meniilai kualitas penelitian (Robson, 2002)

Disain telah ditetapkan (fixed)

Disain fleksibel

Reliabilitas: apakah pengukuran variabel reliabel?

Konfirmabilitas: apakah data mengkonfirmasi temuan-temuan utama dan mengarah pada implikasi-implikasinya?

Validitas konstruk: apakah peneliti mengukur yang ingin diukur oleh peneliti?

Dependability : apakah proses penelitian logis dan terdokumentasi dengan baik

Validitas internal: apakah penelitian menunjukkan hubungan sebab-akibat secara logis?

Kredibilitas: apakah terdapat kecocokan antara pandangan responden dan rekonstruksi yang dilakukan oleh peneliti?

Validitas eksternal: apakah hasil penelitian dapat digeneralisasikan secara statistik?

Transferrabilitas: apakah penelitian menghasilkan insight yang dapat ditransfer ke setting lain?

Tabel 2. Proses untuk mengupayakan kualitas dalam studi kasus dan pengumpulan serta analisis data kualitatif

Prinsip

Deskripsi

Interaksi jangka panjang (prolonged engagement)

Dalam Riset Kebijakan Medik, peneliti sering harus mengandalkan wawancara yang panjang dan berulang dengan para responden, dan/atau berinteraksi berhari-hari/berminggu-minggu dalam satu setting studi kasus.

Penggunaan teori

Teori diperlukan untuk mengarahkkan seleksi sampel, pengumpulan data dan analisis, serta analisis interpretatif

Pemilihan kasus

Pemilihan purposif untuk menguji teori dan asumsi awal atau untuk mengkaji kasus yang umum atau pengecualian

Sampling

Orang, tempat, waktu, dsb, awalnya untuk meliputi sebanyak mungkin faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku mereka yang dikaji (selanjutnya diperluas berdasar temuan awal). Mengumpulkan pandangan dari berbagai perspektif dan responden untuk menghindari dominasi satu pandangan

Multiple method

Menggunakan beberapa metode sekaligus untuk studi kasus

Triangulasi

Mencari pola konvergensi dengan membandingkan hasil antar bukti, antar peneliti, antar metode, dengan teori

Analisis kasus negatif

Mencari bukti yang kontradiktif terhadap penjelasan peneliti dan teori, serta mempertajamnya berdasar bukti tersebut

Peer debriefing

Review temuan dan laporan oleh peneliti lain

Validasi responden
(member checking)

Review temuan dan laporan oleh responden

Audit trail

Dokumentasi semua aktifitas yang dapat dipelajari oleh orang lain dan memaparkan secara lengkap bagaimana metode penelitian berkembang

 

Pada intinya, riset kebijakan medik selalu memerlukan pendekatan kritis yang berbasis pada empat proses utama:

  • Proses mempertanyakan dan memeriksa secara aktif selama penelitian (Thomas, 1998): mempertanyakan bagaimana dan mengapa sesuatu terjadi – tidak hanya apa yang terjadi; memeriksa jawaban pertanyaan untuk mengidentifikasi isu-isu yang perlu ditindaklanjuti untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam
  • Proses konsepsualisasi dan rekonsepsualisasi (Thomas, 1998): menggunakan ide dan teori untuk mengembangkan pemahaman awal permasalahan atau situasi yang dikaji, untuk mengarahkan pengumpulan data namun juga menggunakan data yang terkumpul untuk mempertanyakan gagasan-gagasan dan asumsi-asumsi sebelumnya dan, bila diperlukan, merevisi gagasan mengikuti perkembangan bukti yang terkumpul
  • Merumuskan penilaian interpretatif (Henning, 2004) berbasis bukti yang cukup, terutama mengenai konteks. Untuk justifikasi kesimpulan dan juga pertimbangan yang cermat terhdapat bukti kontradiktif (analisis kasus negatif) dan kajian ulang interpretasi awal oleh responden (member checking)
  • Relektifitas peneliti: mengupayakan transparansi tentang bagaimana asumsi peneliti dapat mempengaruhi interpretasi dan menguji asumsi dalam analisis (Green & Thorogood, 2009)

 

  Bahan belajar

Gilson L et al. (2011). Building the field of health policy and systems research: social science matters.
PLoS Medicine 8(8):e1001079.

 

  Kegiatan Pembelajaran

Pertanyaan

Bagaimana anda akan mengupayakan supaya penelitian anda berkualitas?
Jelaskan hal ini dalam proposal Anda pada bagian "Metode".

 

 

 

  • toto
  • bandar togel 4d
  • live draw sgp
  • togel4d
  • slot777
  • scatter hitam
  • togel online
  • toto 4d/
  • toto slot
  • slot dana
  • bandar slot
  • scatter hitam
  • slot dana
  • slot resmi
  • bandar slot resmi
  • bandar slot
  • slot resmi
  • agen toto
  • slot dana
  • deposit 5000
  • login togel4d
  • link gacor
  • toto slot
  • situs slot
  • slot online
  • togel online
  • slot gacor
  • totoslot
  • wengtoto
  • bandar togel
  • toto slot
  • rajabandot
  • resmi 777
  • situs bandar slot
  • agen slot
  • bandar slot
  • slot online
  • bandar slot terbaik
  • slot resmi
  • slot88
  • slot 1000
  • jp togel
  • slot resmi terpercaya
  • slot gacor
  • slot resmi
  • slot online
  • rajabandot
  • togel4d
  • togel4d
  • togel4d
  • slot kasih maxwin
  • sultan slot
  • slot gacor bagi thr
  • bandar slot
  • slot777
  • slot asia
  • tototogel
  • jptogel
  • slot 1000
  • bandar slot asia
  • bandar slot terbesar
  • bandar slot gacor
  • situs bandar slot
  • slot online
  • toto 5000
  • href="https://www.socnatural.com/">toto5000 href="https://twsocial.co.uk/">slot asia href="https://vatrefundagency.co.za/">slot online resmi