Modul 2B2. Menyusun Rancangan Riset

Modul 2B2. Menyusun Rancangan Riset

 

 Deskripsi

Setelah menetapkan fokus dan pertanyaan riset, langkah penting berikutnya adalah menyusun rancangan atau desain riset. Rancangan riset yang mendefinisikan dengan jelas dasar, latar belakang dan tujuan riset akan menentukan keberhasilan sebuah riset. Seberapa baik riset dirancang, akan secara signifikan mempengaruhi pelaksanan riset. Proses penyusunan rancangan riset seharusnya dilakukan seawal mungkin dalam proses pengembangan gagasan dan topik riset. Fokus dan pertanyaan riset perlu "diterjemahkan" dalam langkah-langkah operasional sebagai sebuah "projek" riset agar menjadi lebih mudah untuk dilaksanakan. Bahasan dalam modul 2B.2 diharapkan dapat memperkaya wawasan peserta bahwasannya konteks riset sistem dan kebijakan kesehatan sangat luas dan dapat diteliti dengan berbagai rancangan riset untuk meningkatkan manfaat hasil riset.

 

  Tujuan pembelajaran

Tujuan pembelajaran modul 2B.2 tentang desain riset adalah :

  1. Peserta dapat menjelaskan dasar-dasar dilakukannya riset dan cara merancang atau menetapkan desain riset itu sendiri.
  2. Melengkapi penulisan proposal riset dengan rancangan atau desain sesuai dengan tujuan riset serta menetapkan berbagai strategi pengumpulan dan analisis data

Mengingat pelatihan ini berfokus pada kebijakan medik, maka penetapan desain yang tepat sesuai dengan tujuan risetriset ditujukan untuk meningkatkan manfaat sebesar-besarnya bagi pemangku kepentingan yang berkaitan dengan topik kebijakan medik tersebut, baik berupa rekomendasi atas sebuah kebijakan yang telah diimplementasikan atau penyiapan untuk lahirnya sebuah kebijakan baru.

 

 Isi Modul

Mendesain riset merupakan salah satu langkah awal yang harus dilakukan peneliti untuk menyusun sebuah riset. Dalam suatu sumber disebutkan bahwa mendesain riset atau membuat rancangan riset adalah menyusun rencana tentang cara mengumpulkan dan mengolah data agar sebuah riset dapat dilaksanakan dengan baik untuk mencapai tujuan. Namun demikian, merancang riset tidak hanya soal cara pengumpulan data, melainkan serangkaian langkah mulai dari penentuan tujuan riset sebagai pengarah bagi peneliti untuk membuat strategi pengumpulan dan analisis data. Selain penentuan tujuan, yang termasuk dalam lingkup rancangan riset adalah penetapan jenis riset, populasi, sampel, sampling, instrumen riset, cara pengumpulan dan pengolahan data, teknik analisis, serta cara pengambilan kesimpulan.

Kerangka rancangan riset

  1. Penetapan tujuan sebagai dasar dalam menentukan desain riset.
  2. Pertanyaan-pertanyaan tertentu yang harus dijawab
  3. Strategi pengumpulan dan analisis data
  4. Strategi sampling
  5. Teori yang digunakan dalam riset

Tujuan dalam rancangan Riset

Tujuan riset akan menentukan strategi yang akan dirancang, meliputi pengumpulan data baru dan analisis data yang tersedia. Namun demikian, tujuan riset tergantung pada paradigma pengetahuan yang digunakan oleh peneliti. Sebagaimana telah dipelajari dalam modul sebelumnya, yang dimaksud dengan paradigma adalah sudut pandang peneliti terhadap riset yang akan dilakukan. Paradigma riset tersebut terdiri dari paradigm positivist dan relativist atau pula paradigm yang berada di antaranya, yaitu Critical Realism Berdasarkan tujuannya, rancangan riset kemudian dibedakan menjadi riset yang bersifat eksploratif, deskriptif, analitik dan eksperimental, untuk setiap paradigma riset.

Paradigma Positivist:

Berdasarkan paradigma positivist, tujuan riset dibedakan dalam kelompok eksplanatori, deskriptif, dan eksploratori.

Dalam kelompok eksplanatori, tujuan riset adalah untuk memberikan eksplanasi atau penjelasan tajam tentang sebuah isu kebijakan medik yang diteliti. Pengumpulan data dapat dilakukan dengan dengan eksperimen dan kuasi-eksperimen, misalnya untuk riset pre-post (sebelum dan sesudah). Analisis yang digunakan pada umumnya adalah dengan menggunakan model simple dan multiple-variable.

Sementara, dalam kelompok deskriptif, dengan tujuan riset untuk menggambarkan atau mendeskripsikan sebuah isu dan permasalahan kebijakan medik, maka pengumpulan data umumnya dilakukan dengan survei. Penyelenggaraan survei yang dimaksud adalah dengan menyebarkan kuesioner, melakukan wawancara, dan melakukan observasi langsung. Survei yang dilakukan berulang juga diperbolehkan dalam kelompok deskriptif ini untuk analisis kecenderungan (trend analysis) dalam periode waktu tertentu. Sedangkan, analisis data dapat dilakukan dengan cara analisis data sekunder (seperti data sensus dan catatan data yang telah terekam). Selain itu, analisis juga bisa dilakukan dengan analisis pendekatan kuantitatif dari berbagai sumber.

Kelompok eksploratori, sesuai dengan tujuannya untuk menggali informasi maka pada umumnya dalam bentuk survei atau pilot research.

Paradigma Relativist

Pada paradigm relativist, tujuan riset juga dapat terdiri dari riset ekplanatoris, deskriptif, dan eksploratoris.

Dalam kelompok tujuan riset ekspalanatori, pengumpulan data baru dilakukan dengan desain riset kasus dan dengan pendekatan teori Grounded (untuk membentuk atau membangun teori baru).

Rancangan riset kasus yang dimaksud dapat merupakan pendekatan longitudinal. Pendekatan longitudinal adalah riset yang dilakukan pada periode waktu tertentu, untuk melihat perubahan yang terjadi mulai awal sampai waktu yang ditentukan secara berurutan Sedangkan analisis terhadap data yang telah tersedia dapat dilakukan dengan melakukan analisis isi (content analysis) secara kualitatif, misalnya dengan analisis diskursus yang berkembang (discourse analysis) dan analisis terhadap fakta sejarah (historical analysis). (Penjelasan tentang desain riset kasus akan didapatkan lebih terinci pada modul tersendiri)

Berikutnya, untuk mencapai tujuan riset deskriptif, pengumpulan data dapat dilakukan pula dengan riset kasus atau desain etnografi dengan fokus terhadap observasi secara langsung atau tidak langsung secara tidak terstruktur. Sebagai contoh, adalah narrative inquiry dan critical ethnography.

Secara selintas, Etnografi dapat dijelaskan sebagai bentuk kajian tentang kehidupan dan kebudayaan suatu masyarakat atau etnik, misalnya tentang adat-istiadat, tradisi atau kebiasaan, hukum, seni, religi, dan bahasa. Bidang kajian vang sangat berdekatan dengan etnografi adalah etnologi, yaitu kajian perbandingan tentang kebudayaan dari berbagai masyarakat atau kelompok (Richards dkk.,1985). Penjelasan lebih lanjut tetang etnografi akan diperoleh pada modul berikutnya.

Adapun untuk riset yang bersifat eksporatif pada paradigma relativist, tujuan riset dapat dicapai metoda pengumpulan data yang disesuaikan dengan desain lapangan (field design) atau desain etnografi dengan penekanan pada narasumber, sebagai contoh auto-etnografi, autobiografi, sejarah hidup seseorang. Artinya, narasumber dijadikan sebagai sumber ekplorasi dari kajian yang tengah diteliti. Pengumpulan data untuk membuat riset eksplorasi juga dapat dilakukan dengan riset kasus (sehingga menghasilkan kategorisasi dari berbagai data kajian yang baru ditemukan) dan riset dengan pendekatan kualitatif, antara lain melalui wawancara.

Strategi Riset

Strategi riset terbagi dalam dua kelompok utama berdasarkan karakteristik yang membedakan keduanya, yaitu : desain yang "tetap atau konstan" (fix) dan desain yang fleksibel (flexible) Desain yang konstan (fix design) dibangun sebelum data dikumpulkan dan berkembang selama riset dilakukan (Robson, 2002). Data yang dikumpulkan biasanya berupa angka sehingga pengolahannya menggunakan pendekatan kuantitatif. Sementara, yang dimaksud karakteristik fleksibel dalam metode riset adalah desain riset yang lebih "bebas, tidak kaku, dapat berubah", dan dapat mulai disusun pada saat data dikumpulkan, tergantung pada data yang berhasil dikumpulkan. Biasanya data bukan berupa angka sehingga proses analisis dilakukan dengan pendekatan kualitatif. Namun pada strategi fleksibel pun, data kuantitatif juga dapat digunakan sehingga riset berkembang menjadi riset multi-method.

Berdasarkan tipe desain riset yang menyeluruh, fix dan flexible design sama-sama dapat menggunakan metode pengumpulan data primer dan sekunder. Pada fix design, pengumpulan data primer dilakukan dengan pendekatan eksperimen yang secara umum lebih mengarah pada quasi eksperimental dan bukan eksperimen penuh. Bentuk pertanyaan riset pada kedua strategi inipun berbeda. Pada fix design, bentuk pertanyaan riset misalnya adalah : apa dampak dari sebuah kebijakan, serta mengapa dan bagaimana kebijakan dapat berdanpak, dengan sebuah catatan bahwa peneliti memiliki "kontrol" terhadap kejadian atau pelaksanaan kebijakan tersebut serta memiliki pengetahuan dan data "riil" dengan keterlibatan dalam mekanisme yang berlangsung, sehingga gambaran " Apa" yang ingin diketahui pun menjadi lebih definitif, meliputi ,misalnya, gambaran berapa banyak, siapa, dan dimana.

Pada flexible design bentuk pertanyaan risetnya akan lebih mengarah pada "bagaimana" dan "mengapa", dan peneliti hanya memiliki sedikit kontrol terhadap kejadian juga informasi atau data serta keterlibatan yang relatif lebih terbatas pada mekanisme riil yang berlangsung. Contoh metode pengumpulan data yang sering digunakan pada fix design adalah Interview terstruktur dan semi terstruktur (termasuk pertanyaan open ended), melakukan perekaman data atau informasi dan mereviewnya secara berkala. Sedangkan flexible design. Lazim dilakukan dengan wawancara mendalam atau diskusi kelompok terarah (Focus Group Discussion), selain observasi, dan juga telaah dokumen. Prinsip sampling dalam menetapkan sampel serta analisis dan interpretasi data dari kedua strategi ini juga menunjukkan perbedaan.

Metode Gabungan (Mix method):

Selain fix dan flexible design, terdapat pula metode riset gabungan yang memadukan kedua desain tersebut. Mix Method risetes mengkombinasikan elemen-elemen pada fix design dan flexible design" untuk memperluas ruang lingkup dan kedalaman sudut pandang yang dibentuk (Sandelowski,2000).

Beberapa manfaat penggunaan metode gabungan pada riset kebijakan medik adalah sebagai berikut:

•  Untuk menangkap dimensi berbeda dari fenomena utama pada fokus riset
•  Menggunakan kombinasi sampling, pengumpulan data dan teknik analisis data untuk tujuan triangulasi,
•  Mengelaborasi hasil melalui data analisis yang lebih lengkap,
•  Mengembangkan riset dengan memperkaya identifikasi sampling, pengumpulan data dan analisis data

Riset dengan metode gabungan dapat digunakan antara lain untuk sebuah riset intensif skala kecil, dengan pendekatan kualitatif terlebih dahulu agar diperoleh pemahaman mendetil tentang fenomena yang ada. Kemudian dapat diikuti dengan survei terstruktur dalam skala lebih besar untuk membangun pemahaman yang lebih luas dari fenomena yang telah diperoleh secara kualitatif dan detil pada riset awal. Atau dapat pula dilakukan sebaliknya, survei awal terstruktur dengan pendekatan random sampling dilakukan lebih dulu untuk mendapatkan pengetahuan tentang fenomena yang ada pada populasi responden. Metode ini menyediakan dara dasar untuk penggalian lebih lanjut melalui purposive sampling dari populasi yang sama, sehingga didapatkan penggalian lebih mendetil dan pemahaman lebih mendalam dari hasil survei awal.

Apapun pendekatan yang digunakan, metode riset gabungan atau campuran berfokus pada fenomena khusus dan manfaat dari kombinasi metode untuk mencapai tujuan riset, Metode gabungan atau campuran ini dapat pula dilakukan dengan mengkombinasikan analisis data dan mengintepretasikan kumpulan hasil riset yang berbeda atau dengan merubah tipe data agar dapat dilakukan analisis statistik daru data kualitatif, misalnya.

Menyusun kerangka teori dalam menginformasikan kebijakan

Dengan kompleksnya fenomena dalam riset sistem kebijakan medik,, teori berperan penting dalam penetapan berbagai rancangan dan desain riset dalam sebuah riset (fix design, flexible design, mix method,ataupun pada fokus dan tujuan riset yang berbeda-beda, apakah implementasi. atau evaluasi kebijakan, analysis of policy atau analysis for policy). Dalam riset evaluasi sebagai contoh ada perkembangan pengetahuam mengenai theory driven inquiry yang bertujuan untuk menelusuri kausalitas yang kompleks (de Savigny & Adam,2009)

Fungsi Kerangka Teori Kebijakan

Modul ini juga membahas fungsi kerangka teori kebijakan. Sejumlah teori dapat ditangkap dari sebuah kerangka berfikir yang menawarkan penjelasan dan prediksi tentang perilaku, atau outcome yang secara sederhana mengidentifikasi elemen hubungan yang relevan. Kerangka berpikir untuk mengarahkan desain riset dapat dibangun dengan menelaah berbagai bukti empirik yang relevan serta literatur teoritis. Terlebih lagi sebuah kerangka konseptual dapat ditinjau ulang pada saat berlangsungnya analisis data temuan, atau dalam bentuk lain kerangka konsep dapat dibangun sebagai hasil dari proses analisis data.

Oleh karena itu riset kebijakan medik tidak terpaku pada pembentukan bukti empiris dalam menyediakan informasi kepada pengambil kebijakan, namun lebih pada mengkombinasikan riset empiris dan teoritis atau mengutamakan teori namun tetap memelihara relevansinya. Kombinasi riset empiris dan teoritis membantu memahami norma, nilai, budaya atau tradisi yang mempengaruhi pembuatan kebijakan dalam sistem kesehatan, termasuk berbagai konteks khusus lainnya dalam kebijakan. (Riewpaiboon, et,al, 2005; Seikh and Porter. 2010). Kombinasi ini diharapkan memberi ruang yang lebih luas untuk mengetahui dan menganalisis pola hubungan dan pengaruh antar waktu dari perubahan kebijakan pada tingkat lokal, nasional maupun global .(Walt, Lush & Ogden, 2004).

Theory Driven Evaluation juga menjadi bahasan dalam bagian ini, untuk mendukung riset yang menjelaskan bagaimana kebijakan baru dan intervensinya mempengaruhi operasionalisasi sistem medik (Marchal, Dedzo & Kegels, 2010) Kombinasi riset teoritis dan empiris juga dapat membangun pemikiran tentang bagaimana mempengaruhi agenda kebijakan (Shiffman, 2007: Advocacy in agenda setting) atau mengelola perubahan kebijakan (Walker & Zgilson, 2004; managing front line providers acting as street level bureaucrats).

Riset teoritis dapat membimbing pada cara baru dalam menggambarkan kompleksitas sistem kesehatan atau apakah pengaruhnya pada kinerja kebijakan serta dapat pula mengantarkan pada pemahaman tentang faktor pemicu bagi aktor dalam pengambilan kebijakan.

Dengan upaya tersebut riset kebijakan medik memberikan informasi kebijakan dengan memperluas pemahaman tentang apakah yang tercakup dalam upaya penguatan sistem dan kebijakan kesehatan sebagai dasar identifikasi fokus, pertanyaan an berikutnya rancangan riset.

 

 Bahan belajar

Charmaz, Kathy (2006) Constucting Grounded Theory: A practical Guide trough Qualitative Analysis. SAGE Published Ltd. California

Congdon, Justin.D, Dunham, Arthur E. 1999. Defining the Beginning: The Importance of Research Design. IUCN/SSC Marine Turtle Specialist Group Publication No. 4, 1999. http://mtsg.files.wordpress.com/2010/07/14-defining-the-beginning.pdf

Gilson Lucy. Health Policy and Systems Research: A Methodology Reader. WHO. 2012.

Buku ini dapat di download dari website WHO.

Robson C (2002). Real world research: a resource for social scientists and practitioner-researchers, 2nd ed. Oxford, Blackwell Publishing.

 

 Kegiatan pembelajaran

Di dalam proposal Anda pada bagian metode riset, silakan periksa:

  1. Telah sesuaikah rancangan atau desain riset sesuai dengan tujuan riset dalam proposal riset yang anda ajukan? Bagaimana hubungan ini dinyatakan?
  2. Berikutnya, telah selaras dan sesuaikah dasar riset anda (permasalahan, paradigma yang digunakan dalam memandang permasalahan, fokus atau pertanyaan riset dan tujuan) dengan strategi pengumpulan dan analisis data riset?

 

 

 

 

Penyusunan proposal penelitian yang sesuai dengan parameter donor

Penyusunan proposal penelitian yang
sesuai dengan parameter donor

 

Biasanya request for proposal (RFP) mendetilkan ekspektasi dan parameter penilaian yang akan digunakan para donor untuk menentukan apakah sebuah proposal berkualitas tinggi atau tidak.

Sebagian proposal yang masuk biasanya akan di short list, atau diikutsertakan ke dalam penilaian tahap selanjutnya. Sementara, sebagian proposal akan dinilai tidak memenuhi kriteria minimum dan akan gagal di tahap awal.

Beberapa parameter yang sangat menentukan keberhasilan sebuah proposal adalah:

Kualitas Pertanyaan Penelitian

Pertanyaan penelitian merupakan "nyawa" sebuah proposal riset. Mengajukan pertanyaan yang tepat adalah kunci awal keberhasilan sebuah riset. Beberapa check list yang perlu diingat dalam membuat sebuat pertayaan penelitian adalah:

  • Apakah pertanyaan penelitian ini dapat dijawab?
  • Pertanyaan penelitian merupakan isu yang penting untuk diteliti dan belum pernah diteliti sebelumnya
  • Pertanyaan penelitian ini memiliki poin tambahan yang akan menarik bagi donor

Check list di atas dapat dijawab setelah mempelajari RFP secara mendalam. Contoh RFP dapat diunduh dari modul ini.

Misalnya, dalam RFP mengenai "Implementation Research Platform", WHO menyatakan bahwa bidang penelitian yang menarik untuk RFP ini adalah:

m3

Terlihat dari keterangan di atas, bahwa penelitian yang dicari adalah implementation research, yang berbeda dari penelitian atau riset klasik. Maka dari itu, pertanyaan penelitian harus dibuat sesuai dengan permintaan dan spesifik akan mengatasi peningkatan intervensi untuk pencapaian MDG 4 dan 5.

Disain Metode Penelitian

Metode penelitian, seperti dalam penelitian yang bagus, harus bisa menjawab pertanyaan penelitian dan menggunakan metode yang jelas.
Kedua bagian ini (Pertanyaan Penelitian dan Metode) berhubungan erat dan para penilai proposal akan melihat bagaimana metode penelitian dapat menjawab semua pertanyaan penelitian dan apakah metode ini bisa dilakukan dalam time frame yang diberikan.

Background & Rationale

Bagian ini adalah tempat yang tepat untuk menunjukkan apakah para pembuat proposal menguasai konteks lokal dan global serta merupakan ahli di bidang yang akan diteliti.

Bagian ini juga penting untuk menunjukkan:

  1. Konteks lokal yang dapat mengantarkan ke permasalahan penelitian
  2. Penelitian sebelumnya dan di mana gap pengetahuan akan dijawab oleh proposal ini

Rencana Analisa Data

Tentunya, bagian ini menunjukkan seberapa canggih dan tepat analisa yang akan dilakukan untuk menjawab pertanyaan penelitian.

Bagian ini juga biasanya mencakup jenis dan manajemen data yang akan dilakukan oleh calon peneliti. Para penilai proposal akan melihat kemampuan analisa dan statistik (apabila merupakan penelitian kuantitatif) yang ditawarkan oleh proposal tersebut.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menulis bagian ini adalah:

  1. Analisa data harus dihubungkan dengan semua pertanyaan penelitian dan tujuan penelitian. Pastikan bahwa setiap tujuan penelitian dapat dengan jelas tercapai melalui analisa yang ditulis di dalam proposal
  2. Terkadang penulis tidak menjelaskan dengan detail analisa data yang cukup kompleks. Perlu diingat bahwa penilai proposal bisa jadi bukan ahli di bidang tersebut, jadi metoda analisa perlu dijelaskan dengan cukup sederhana namun komprehensif
  3. Analisa kualitatif juga harus dijelaskan dengan rinci, bagaimana data akan dioleh, termasuk jenis analisa tematik apa saja yang akan dilakukan

Ethical Consideration

Bagian ini merupakan bagian yang juga perlu ditulis dengan baik, karena donor sangat mencermati bagian etik ini. Bagian etik ini perlu mengacu pada, misalnya, apakah akan ada data yang bersifat sensitif dan bagaimana peneliti akan menjaga kerahasiaan data serta subyek penelitian.
Bagian ini juga merupakan tempat untuk menunjukkan rencana pengajuan peninjauan etika penelitian di institusi peneliti.

Manajemen Proyek & Timeline

Bagian ini menunjukkan sebaik apa para peneliti akan mengatur proyek penelitian ini dan bagaimana ketepatan waktu yang direncanakan di dalam proposal. Timeline dapat berupa tabel timeline atau berupa grafik yang menjelaskan secara detail semua langkah yang akan dilakukan selama penelitian berlangsung.

Timeline atau waktu pelaksanaan setiap langkah penelitian harus masuk akal. Misalnya, waktu pengumpulan data yang melibatkan banyak pihak bisa jadi membutuhkan waktu lebih panjang, sementara desk review tidak terlalu lama.

Contoh yang menunjukkan timeline yang kurang tepat:

  1. Data collection kualitatif ke 400 responden masing-masing di 5 kabupaten= 2 minggu
  2. Desk review dokumen = 2 bulan

Waktu untuk data collection panahkkterlalu singkat dan terlihat tidak mungkin dapat dilakukan
Waktu untuk desk review panahkkterlalu panjang, kecuali diberi keterangan bahwa desk review ini akan melihat banyak dokumen dan merupakan inti dari penelitian tersebut

Kapasitas Tim Peneliti & Pembagian Kerja

Di bagian ini, penulis proposal perlu mencantumkan keahlian tim yang akan melaksanakan proyek tersebut. Kapasitas tim harus dapat memenuhi semua langkah penelitian, mulai dari pengumpulan data, analisa data serta penulisan laporan dan diseminasi hasil penelitian.

Bagian ini juga menjelaskan apa saja yang akan dilakukan masing-masing anggota tim peneliti dan bagaimana pembagian kerja yang akan dilaksanakan.

Contoh bagian Kapasitas Tim Peneliti / Team Capacity & Responsibilities dapat diunduh dari modul ini sebagai rujukan.

Penulisan Bahasa Inggris dan Format

Apabila proposal akan dikirimkan ke donor internasional, maka penulisan menggunakan Bahasa Inggris sangat perlu diperhatikan. Kesalahan eja dan grammar dapat mengurangi kejelasan proposal serta mengurangi keseluruhan penilaian terhadap proposal tersebut.

Apabila dibutuhkan, institusi yang mengeluarkan proposal tersebut dapat meminta editor profesional yang akan memeriksa ulang penulisan bahasa serta format proposal.

Penugasan:

  1. Buatlah dua paragraf (maksimal 250 kata) yang dapat menjelaskan bagian Goal & Objectives berdasarkan RFP dari WHO mengenai Implementation Research Platform, dalam bahasa Inggris
  2. Buatlah draft timeline untuk sebuah penelitian mengenai evaluasi Jampersal (atau jenis pembiayaan kesehatan lainnya) yang akan berlangsung selama 12 bulan. Buatlah timeline ini dalam bentuk grafik dan tabel

 

 

Modul 2B1. Identifikasi fokus dan pertanyaan penelitian

Modul 2B1. Identifikasi fokus dan pertanyaan penelitian

 

 Deskripsi

Dalam pengembangan suatu studi HPSR terdapat empat langkah penting yang harus dilakukan oleh semua peneliti:

  1. Mengidentifikasi fokus dan pertanyaan penelitian
  2. Membuat rancangan penelitian
  3. Menjaga kualitas penelitian
  4. Menerapkan prinsip-prinsip etika

Dalam menilai kualitas dari suatu studi HPSR empiris, kesemua langkah diatas harus dipertimbangkan. Modul 2B1 akan menjabarkan langkah pertama: identifikasi fokus dan pertanyaan penelitian

 

  Tujuan pembelajaran Modul 2B.1.

Mempelajari modul 2B.1 menjadi sangat penting bagi peserta untuk :

  1. Membantu mempertajam identifikasi permasalahan dan fokus penelitian pada latar belakang proposal penelitian.
  2. Menyusun pertanyaan penelitian

Setelah mempelajari Modul 2B.1 ini diharapkan para peserta dapat melanjutkan proses penulisan yang telah diawali sebelumnya (bab pendahuluan dari modul pertama). Pada tahap ini, proposal penelitian diharapkan menjadi lebih lengkap dan menunjukkan arah dan tujuan yang jelas.

 

 Isi Modul

Proses pengembangan studi HPSR dimulai dengan identifikasi topik yang akan menjadi fokus – masalah yang akan dikaji – dan pertanyaan-pertanyaan terkait. Hal ini dikarenakan setidaknya dua alasan:

  1. Keunikan HPSR terletak pada topik atau pertanyaan yang dikaji, bukan pada perspektif disiplin tertentu ataupun metode pengumpulan dan analisis data tertentu
  2. HPSR selalu diupayakan relevan untuk kebijakan dan mempengaruhi keputusan pihak-pihak yang berperan dalam menentukan arah kebijakan dalam sistim kesehatan. Relevansi untuk kebijakan merupakan salah satu kriteria utama penilaian etika suatu studi HPSR (Henning, 2004).

Secara praktis, identifikasi topik dan pertanyaan penelitian studi HPSR disarankan meliputi:

  1. Networking dengan pelaku kebijakan dan peneliti-peneliti lain
  2. Berpikir kreatif untuk menemukan area-area baru atau pendekatan-pendekatan baru
  3. Eksplorasi teori dan pemahaman-pemahaman konseptual yang relevan untik HPSR
  4. Melalukan tinjauan pustaka untuk mengidentifikasi publikasi dan hasil penelitian yang relevan

Pada akhirnya prinsip pragmatism akan sangat penting dalam menentukan pertanyaan penelitian. Penelitian harus feasible, sesuai dengan waktu dan sumber daya yang tersedia (Varkevisser, Pathmanathan & Brownlee, 2003).

Berinteraksi dengan pelaku kebijakan dan peneliti lain memastikan bahwa topik dan pertanyaan penelitian benar-benar relevan bagi kebijakan. Kedua kelompok tersebut, melalui pengalaman di berbagai setting, memiliki pemahaman akan tantangan dan peluang yang dihadapi sistim kesehatan. Networking juga dapat menstimulasi berpikir secara kreatif. Selain itu, explorasi pemahaman konseptual dan teori dapat memfasilitasi identifikasi area baru yang jarang dipertimbangkan sebelumnya, atau cara baru untuk meneliti suatu topik yang pernah diteliti sebelumnya.

Tinjauan pustaka sangat diperlukan dalam HPSR untuk mengetahui penelitian-peneltian relevan apa yang telah dilakukan sebelumnya untuk menghindari duplikasi dan menegmbangkan penelitian lebih lanjut. Kajian pustaka yang sistimatis atas penelitian-penelitian yang telah dilakukan di settinglain sangat diperlukan, meskipun peneliti yang bersangkutan memiliki pemahaman yang cukup baik atas setting penelitian yang akan dilakukan.

Tantangan-tantangan utama

  1. Membingkai pertanyaan HPSR yang bermanfaat dan relevan bagi kebijakan melalui networking dengan pengguna hasil penelitian. Jenis topik dan pertanyaan yang dianggap penting akan bervariasi antar pelaku kebijakan, tergantung pada peran dan tanggung jawab mereka dalam sistim kesehatan. Pengelola program misalnya sering lebih tertarik pada penelitian mengenai bagaimana memperkuat programm tertentu dan kurang berminat terhadap komponen ataupun fungsi-fungsi umum dalam sistim kesehatan. Dengan demikian Peneliti HPSR harus memperhatikan batasan yang kabur antara HPSR dan manajemen program dengan implikasi membantu pengelola program untuk melakukan riset operasional atau mengidentifikasi ranah yang lebih sistemik atas pertanyaan penelitian yang diidentifikasi.
  2. Mengidentifikasi pertanyaan penelitian yang relevan bagi berbagai pelaku kebijakan sekaligus berkontribusi terhadap pengembangan ilmu. Peneliti HPSR dapat mengupayakan relevansi bagi berbagai pelaku kebijakan melalui berbagai cara. Misal, bagaimana suatu kajian untuk memperpendek waktu tunggu di apotik rumah sakit dikembangkan menjadi kajian yang relevan bagi kementerian kesehatan untuk memperpendek waktu tunggu di semua rumah sakit. Peneliti HPSR juga dapat mempertimbangkan bagaimana sebuah kajian dalam konteks program tertentu dapat menghasilkan pembelajaran dalam kebijakan dan sistim kesehatan yang bermanfaat bagi program-program lain.

Identifikasi tujuan penelitian

Peneliti HPSR dalam mengembangkan pertanyaan oenelitian sebaiknya juga mempertimbangkan tujuan penelitian secara umum, terutama terkait dengan:

  1. Apa yang ingin dicapai? Mengapa diteliti?
  2. Bagi siapa penelitian akan bermanfaat
  3. Bagaimana penelitian akan bermanfaat
  4. Bagaimana penelitian akan berkontribusi bbagi pengembangan ilmu

Seiring dengan proses pengembangan pertanyaan penelitian, empat aspek berikut sebaiknya dipertimbangkan:

  1. Kebijakan tertentu atau keseluruhan area. Apakah penelitian akan fokus pada kebijakan terterntu dan mendukung implementasinya atau mengkaji keseluruhan area sehingga mengembangkan pengetahuan atas fungsi-fungsi utama dalan sistim kesehatan
  2. Normatif/evaluatif (menyangkut penilaian berbasis norma tertentu) atau deskriptif/eksplanatori
  3. Analisis tentang kebijakan atau analisis untuk kebijakan
  4. Tujuan utama penelitian untuk pengembangan ilmu atau melakukan perubahan

Tujuan penelitian semestinya mencerminkan tingkat pengetahuan atas suatu topik. Penelitian eksploratif sangat penting saat pengetahuan akan suatu topik masih sangat terbatas atau saat teori mennunjukkan cara baru untuk mengkaji dan memahaminya; penelitian deskriptif memerlukan pengetahuan yang cukup ekstensif atas sitausi yang dikaji untuk dapat menentukan apa yang bermanfaat untuk diteliti. Pada kenyataannya, peneliti HPSR sering memiliki lebih dari satu tujuan sekaligus.

Multidisiplin dalam HPSR

Dalam HPSR berbagai perspektif disiplin dapat meghasilkan pertanyaan penelitian yang berbeda atas topik yang sama sehingga menghasilkan pemahaman-pemahaman yang relevan dan bervariasi atas suatu topik kajian. Dengan demikian peneliti HPSR sebaiknya mempertimbangkan bagaimana dapat memberdayakan berbagai perspektif disiplin dalam meneliti suatu topik.

Finalisasi pertanyaan penelitian

  1. Pada akhirnya, penelitian yang baik memiliki ciri sebagai berikut (Robson, 2002)
  2. Jelas – tidak membingungkan dan mudah dipahami
  3. Spesifik – memperjelas jawaban seperti apa yang diharapkan
  4. Dapat dijawab – mengindikasikan jenis data yang diperlukan dan bagaimana mengumpulkannya
  5. Saling terkait – serangakian pertanyaan saling berhubungan secara bermakna dan koheren
  6. Relevan secara substantif – pertanyaan yang diajukan layak untuk diupayakan dengan investasi waktu dan tenaga yang dibutuhkan.

 

 Bahan belajar

Sheikh K et al. (2011). Building the field of health policy and systems research: framing the questions. PLoS Medicine 8(8):e1001073.

Varkevisser CM, Pathmanathan I, Brownlee A (2003). Parsons W (1995). Public policy: an introduction to Designing and conducting health systems research the theory and practice of policy analysis. Aldershot, projects: Volume 1: proposal development and fieldwork Edward Elgar. [e-book]. Amsterdam, KIT Publishers, International Development Research Centre

 

 Kegiatan pembelajaran

Dalam proposal penelitian anda, mohon:

  1. Periksa kembali di bagian perumusan masalah, apakah anda telah membuat pertanyaan penelitian yang baik sesuai dengan apa yang telah diuraikan dalam modul ini
  2. Kembangkan fokus dan pertanyaan penelitian dengan mempertimbangan perspektif berbagai disiplin ilmu
  3. Buatlah sebuah tinjauan pustaka singkat sebagai dasar dalam menetapkan fokus dan pertanyaan penelitian anda.

 

 

 

Modul 2A4. Memahami Konteks Sosial dan Politik dalam HPSR

Modul 2A4. Memahami Konteks Sosial dan Politik dalam HPSR
(Understanding the Nature of Social and Political Reality)

 

 Deskripsi

Keberadaan konteks amat berarti bagi sebuah kebijakan untuk berbagai alasan yang saling terkait. Pertama, konteks membentuk kemungkinan perubahan kebijakan, misalnya, terjadinya reformasi akan menjadi konteks yang mendasari tuntutan perubahan kebijakan. Kedua, konteks membentuk posisi dan perspektif kepentingan para aktor atau pelaku kebijakan. Ketiga, konteks menentukan efektifitas atau kesesuaian dari setiap tindakan atau keputusan yang berbeda. Dalam beberapa konteks, akan menjadi lebih efektif untuk mengambil pilihan atau tindakan tertentu, namun pada konteks lain, bertindak dengan cara yang sama belum tentu akan efektif. (Nash et al., 2006).

Konteks sosial dan politik sangat erat kaitannya dengan sistem kesehatan. Dengan demikian, dalam riset sistem dan kebijakan kesehatan, konteks sosial dan politik menjadi tidak terpisahkan bahkan sangat mempengaruhi. Analisis terhadap pengaruhnya pun tergantung pada paradigm yang dipakai, apakah positivis, relativis, atau critical paradigm.

 

 Tujuan pembelajaran

Tujuan pembelajaran dari modul ini antara lain:

Dengan mempelajari modul ini, diharapkan peserta

  1. Mengetahui berbagai paradigm yang dapat dipakai sebagai sudut pandang peneliti untuk melakukan analisis kebijakan dalam riset kebijakan dan sistem kesehatan .
  2. Membantu peneliti menetapkan sudut pandang/paradigma dalam menyusun proposal penelitian sebagai dasar pengajuan jenis penelitian, disain studi dan pembahasan serta analisis temuan dari riset kebijakan dan sistem kesehatan yang dilakukan nantinya.

 

  Isi Modul

Modul ini menekankan pada cara memahami sudut pandang (paradigm/worldview) peneliti pada topik penelitian (apa yang tengah diteliti). Paradigma peneliti akan mempengaruhi pemilihan jenis penelitian, juga berikutnya disain serta analisis terhadap temuan penelitian. Diskusi tentang paradigma penelitian telah menjadi bahasan umum dalam ilmu-ilmu sosial, namun relatif masih jarang terjadi di riset kesehatan (Gibson, 2009; Lincoln & Gubba, 2000 dalam Creswell, 2010).

Beberapa ahli lebih suka menyebutnya sebagai pandangan-dunia (worldviews), karena memiliki arti "kepercayaan dasar atau keyakinan yang memandu tindakan" (Guba, 1990:17, dalam Creswell, 2010. Seluruh riset akan dipengaruhi oleh paradigma atau sudut pandang peneliti dalam memahami dan memaknai konteks, realita, dan keilmuan. Penting bagi seorang peneliti untuk mengenali dan menetapkan sudut pandang atau paradigma yang digunakan terhadap suatu permasalahan karena akan mempengaruhi jenis pertanyaan yang akan diajukan serta strategi riset yang dipilih.

Kerangka Penelitian

Pengajuan kerangka atau desain sebuah penelitian diawali dengan menetapkan sudut pandang (paradigm). Dalam ilmu-ilmu sosial dan ilmu lain yang berkait dengan kemanusiaan. paradigma membantu kita memahami fenomena serta membangun asumsi untuk melaksanakan penelitian sebagai bentuk kontribusi dalam penyelesaian berbagai masalah, pengembangan ilmu pengetahuan dan kebijakan berbasis bukti. (Firestone, 1978; Gioia&Pietre, 1990; Kuhn, 1970). Pembahasan tentang paradigm meliputi teori, konsep atau metode dan pendekatan dan terus berkembang, dibedakan menurut dasar ilmu serta sering dipertentangkan (Philips, 1987). Terdapat dua paradigma yang secara luas dibahas dalam literature, yaitu paradigma kualitatif dan paradigma kuantitatif (Philips, 1987; Reichardt & Cook, 1979; Webb, Beals, & White, 1986). Paradigm kuantitatif dinyatakan sebagai paradigma tradisional, positivist, eksperimental, atau empiris. Pemikiran kuantitatif berasal dari tradisi empiris yang dikembangkan para ahli seperti Comte, Mill, Durkheim, Newton, dan Locke (J. Smith, 1983). Paradigm kualitatif menyatakan pendekatan konstruktif atau naturalist (Lincoln & Guba, 1985), pendekatan interpretatif (J. Smith, 1985), atau sudut pandang postpositivist atau postmodern (Quantz, 1992). Pendekatan ini berawal sebagai tindakan balasan terhadap tradisi positivist di akhir abad 19 melalui para penulis seperti Dilthe, Weber, dan Kant (J. Smith, 1983).

Dalam HPSR, diperkenalkan dan dibahas tentang paradigm positivist, relativist, dan critical realism, sebagai beberapa terminologi yang menggambarkan tiga cara untuk melihat dan mencari tahu tentang permasalahan manusia dengan lingkungannya. Paradigma tersebut akan berpengaruh terhadap bagaimana cara peneliti memandang sebuah isu atau permasalahan dan kemudian menjadi acuan bagi peneliti untuk menetapkan dan memilih teori, metode atau pendekatan dalam menjalankan riset.

Elemen kunci dari paradigma pengetahuan yang diterapkan dalam HPSR

Paradigma pengetahuan pada riset akan mempengaruhi : jenis pertanyaan yang ditujukan, perspektif disiplin ilmu yang berkaitan, dan metode serta pendekatan inti riset yang digunakan peneliti.

Ketiganya akan berbeda manakala digunakan paradigma yang berbeda, apakah itu positivis, relativis atau di antaranya yaitu critical realism. Selengkapnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

2a4

Luasnya pemahaman tentang ilmu dan realitas sosial (yang dipengaruhi oleh politik, ideologi dan berbagai konteks lain), mendasari HPSR analysis dengan memperkenalkan pula perspektif causality, generalizability dan learning. Pada riset kebijakan dan sistem kesehatan, bila mengacu pada pemahaman sistem, maka jelas pengaruh konteks politik, ekonomi dan sosial pada skala lokal, nasional bahkan internasional tidak bisa ditepiskan.

2a42 

Untuk mengubah tuntutan menjadi sebuah kebijakan,misalnya, suatu sistem harus mampu mengatur penyelesaian-penyelesaian pertentangan atau konflik dan kemudian komitmen terhadap resolusi yang telah dihasilkan. Karena sistem kebijakan tersebut dibangun berdasarkan elemen-elemen yang mendukung sistem tersebut, maka dinamika berlangsungnya sistem tersebut akan bergantung pada interaksi antar berbagai subsistem. (David Easton, Analisis Sistem Politik dalam Mohtar Mas'oed dan Colin MacAndrews, Perbandingan Sistem Politik (Yogyakarta : Gadjah Mada University Press, 2001) hal. 5-6.).

Pandangan tersebut dikuatkan oleh Ronald H. Chilcote(1981), dengan memberikan penjelasan tentang Teori Sistem Kebijakan dan Struktur Politik. Argumentasi yang dibangun adalah bahwa kebijakan merupakan suatu rangkaian logis yang terdiri dari input, proses dan output, dan dipengaruhi oleh infrastruktur politik dan suprastruktur politik. ( Ronald H. Chilcote, Teori Perbandingan Politik-Penelusuran Paradigma (PT Raja Grafindo Persada, Jakarta) 2004, edisi ke-2.

 

 Bahan belajar

http://ethesis.helsinki.fi/julkaisut/kay/kasva/vk/kerosuo/boundari.pdf

http://shura.shu.ac.uk/1759/1/Prof_Boundaries_FINAL_REPORT.pdf

http://www.jmpk-online.net/images/jurnal/2008/Vol_11_No_2_2008/03_mk_dumilah%20ayuningtyas.pdf

http://www.jmpk-online.net/images/jurnal/2009/Vol_12_No_3_2009/03_mk_dumilah.pdf

 

 Kegiatan pembelajaran
 

  1. Apakah anda telah menetapkan sebuah paradigm atau sudut pandang dalam proposal penelitian yang anda susun sebagai dasar untuk merancang strategi penelitian (jenis dan disain penelitian) serta sudut analisis anda terhadap temuan penelitian nantinya.
  2. Jelaskan pemahaman anda tentang paradigma yang digunakan dalam HPSR (positivism, realism, critical realism) dan apa implikasinya terhadap HPSR
  3. HPSR merupakan penelitian kebijakan kesehatan yang memandang sebuah permasalahan kesehatan tertentu secara sistemik, di dalam sebuah lingkungan yang dipengaruhi oleh konteks politik dan sosial. Apakah anda telah mempertimbangkan konteks tersebut sebagai dasar dalam menetapkan paradigma penelitian anda?

 

Jawaban dikirim ke pengelola dengan cara:
File ditulis dalam word dan diberi kode: XYYYM2A4.doc

Keterangan:

X       = nomor fasilitator anda.
YYY   = kode nama peserta
M2A4 = Modul2A4

 

  Kirim tugas ke This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it..

Jangan lupa memberi cc ke email setiap fasilitator yang telah ditunjuk untuk anda.

Tugas paling lambat dikirim tanggal 25 April 2013, jam 24.00

Minggu kedua

Tim Penyusun Proposal

 

Perlu dipahami bahwa agensi donor (seperti USAID, AusAID, dan lainnya) menerima puluhan bahkan ratusan proposal untuk setiap proyek yang mereka danai. Biasanya:

  • 50% proposal tidak ditulis dengan baik dan tidak akan dinilai lebih lanjut
  • Kesempatan untuk memenangkan proyek tersebut kurang dari 5% saja

Jadi, apa yang membuat sebuah proposal dapat memenangkan kompetisi donor?

  1. Ide yang hebat, dengan dampak yang masuk akal dapat dicapai
  2. Memberikan metode dan langkah-langkah yang jelas untuk mencapai ide tersebut
  3. Rencana penelitian/konsultasi yang efektif (waktu dan uang)
  4. Akan dilaksanakan oleh ahli-ahli di bidangnya
  5. Dibuat oleh organisasi yang jelas dan kredibel
  6. Mudah dibaca – jelas, singkat dan padat
  7. Menawarkan nilai tambah terhadap grant yang ditawarkan
  8. Memiliki hubungan baik dengan pemberi grant

Proposal kegiatan adalah investasi PERTAMA yang organisasi Anda akan lakukan dalam bisnis penelitian atau konsultasi. Tanpa proposal yang sempurna, maka organisasi akan sulit bertahan dalam dunia kompetitif ini. Jadi, investasi ini membutuhkan tim yang akan memastikan bahwa setiap proposal yang dihasilkan:

  • menjawab semua kebutuhan klien
  • berkualitas tinggi
  • ditulis dalam bahasa yang dapat dipahami
  • dan menunjukkan kapabilitas organisasi

Tim yang dimaksud adalah Tim Penyusun Proposal, dan rangkaian penyusunan proposal dapat terdiri dari bagian-bagian berikut:

mgg2

 

Pertanyaan yang perlu dijawab saat penentuan apakah akan membuat proposal atau tidak:

  1. Apakah yang diinginkan klien:
    1. Masuk akan dan mungkin dicapai? (secara waktu, uang dan teknis)
  2. Apakah organisasi kita memiliki kemampuan yang dibutuhkan?
  3. Apakah kita memiliki tim yang diperlukan?
  4. Bagaimana kesempatan kita dalam bersaing dengan organisasi lain?
  5. Apakah kita memiliki cukup waktu untuk melengkapi tim kita?
     

TIM BIRU

Merupakan tim awal yang memulai proses penulisan proposal.

Terdiri dari:

  • Proposal leader/pemimpin proposal:
    Adalah satu orang yang ditugaskan untuk memastikan kelancaran proses penulisan proposal dan memastikan bahwa semua tenggat waktu dapat dipenuhi. Proposal leader dapat ikut serta menulis proposal.
  • Penulis proposal
    Merupakan anggota (dapat terdiri dari satu orang atau lebih) yang dapat menuangkan ide proposal ke dalam kata-kata yang mudah dimengerti.
    Perlu diingat bahwa penulis proposal bisa jadi ahli di bidangnya, tapi bisa juga bukan. Penulis mendapatkan masukan teknis dari konsultan ahli, sehingga berperan sebagai penyambung lidah antara ahli teknis dengan klien yang akan menilai proposal tersebut.
  • Ahli / konsultan ahli
    Dipilih berdasarkan ide dan jenis proyek yang akan dituangkan ke dalam proposal. Tim ahli berperan penting dalam menjamin bahwa isi proposal menggunakan istilah awam yang digunakan dalam bidang tertentu dan menonjolkan kemampuan organisasi yang akan ditawarkan dalam proyek tersebut.
    Konsultan ahli bisa jadi direkrut dari organisasi lain, atau didapatkan melalui kerjasama dengan institusi lain. Misalnya, di suatu organisasi yang bergerak lebih banyak di bidang penelitian epidemiologis membutuhkan masukan dari ahli di bidang kebijakan. Ahli kebijakan ini dinilai akan memberi poin tambahan apabila bersedia untuk ikut sebagai tim peneliti. Maka dua organisasi ini dapat melakukan kerjasama, baik dalam menyusun proposal maupun saat melaksanakan kegiatan nantinya.
    Kerjasama antar organisasi / institusi ini wajar dilakukan dan merupakan basis jaringan kerjasama yang akan sangat berguna untuk pengembangan kemampuan riset & konsultasi sebuah organisasi
  • Anggota tim

Tugas awal TIM BIRU:

  1. Menjawab pertanyaan apakah proposal akan ditulis?
  2. Menentukan langkah-langkah untuk melengkapi tim? (seperti merekrut ahlidari organisasi lain, atau bekerjasama dengan institusi lain)
  3. Melakukan rapat brainstorming untuk menentukan bentuk dan ide awal proposal
  4. Menentukan pembagian kerja penulisan proposal
  5. Menentukan strategi pendanaan/budget
  6. Mencatat apa saja poin-poin yang ingin ditekankan pada klien agar organisasi dapat menunjukkan kemampuan mereka melalui proposal
     

TIM MERAH

Bertugas untuk melakukan review terhadap draft proposal.

Tim ini berperan seolah-olah sebagai calon klien yang sedang menilai "harga" sebuah proposal, berdasarkan poin berikut:

  • Kriteria Penilaian yang diberikan dalam RFP (request for proposal)
  • Memenuhi semua ketentuan dan poin yang harus dimasukkan ke dalam proposal tersebut

Kunci sukses sebuah proposal:

  • Semua bagian ditulis dengan lengkap, diedit dan di review berulang kali
  • Semua bagian ditulis sesuai dengan instruksi yang ada didalam RFP
  • Tidak ada bagian yang dihilangkan
  • Hasil review diperbaiki dan direview lagi

Setelah review pertama oleh tim MERAH, langkah berikut adalah memperbaiki proposal tersebut:

  • Menanggapi semua hasil kritik dari tim MERAH
  • Memperbaiki dan merapikan semua grafik, kalimat, format proposal
  • Memastikan semua kriteria penilaian telah dipenuhi
  • REVIEW ULANG OLEH TIM MERAH

Setelah review ulangan (bisa lebih dari 2 kali), dan setelah proposal leader dan penulis puas dengan hasilnya, maka proposal dapat dikirimkan.

TIM HIJAU

Merupakan tim yang menyusun budget atau anggaran proyek untuk proposal.

  • Harus berhubungan terus dengan Proposal Leader dan Penulis Proposal, agar dapat membuat budget yang sesuai dengan tahapan proyek
  • Memperhatikan aturan-aturan pendanaan yang berbeda-beda antar donor
  • Membuat perbaikan sesuai dengan masukan dari TIM MERAH.
  • Biasanya merupakan anggota organisasi yang biasa membuat budget proyek dan paham mengenai keuangan proyek

Pembuatan budget proposal akan dibahas lebih lanjut pada minggu ke-4 pelatihan ini.

Baca Ulang dan Kirimkan

Setelah review dan revisi selesai dilakukan, keseluruhan proposal perlu dibaca lagi. Ini termasuk bagian budgetnya.

Proses final ini dapat dilakukan oleh manager atau pimpinan divisi / institusi. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi kesalahan bermakna yang mungkin terlewat dalam proses review.

Catatan:

Anggota tim dapat bersifat sangat fleksibel. Misalnya, Proposal Leader untuk proyek tertentu bisa berperan sebagai konsultan ahli atau penulis untuk proposal lainnya.

Penugasan:

Setelah membaca detail tiap tim yang terdapat dalam tim penyusun proposal, buatlah diagram atau daftar sederhana tim penyusun proposal untuk organisasi Anda. Tuliskan apa kualitas yang dimiliki oleh anggota-anggota tersebut yang membuat dia sesuai menjadi anggota tim (Proposal Leader, Tim Biru, Tim Merah, dan Tim Hijau)

Tugas paling lambat dikumpulkan paling lambat tanggal 24 April 2013 pukul 24.00 WIB

 

Modul 2A3.. Analisis Kebijakan

Modul 2A3. Analisis Kebijakan

 

 Deskripsi

Modul ini berfokus pada pemahaman analisis kebijakan dan penelitian kebijakan. Pemahaman ini penting karena memang sering ada pertanyaan apakah analisis kebijakan membutuhkan penelitian dimana ada pengumpulan data primer dan menggunakan metode-metode tertentu. Dalam hal ini memang jawabannya bisa ya bisa tidak. Analisis kebijakan dapat menggunakan berbagai sumber misalnya dokumen-dokumen kebijakan, data statistik, yang tentunya harus terpercaya. Oleh karena itu para peserta diharapkan memahami analisis kebijakan dengan membaca berbagai literature secara teliti.

 

 Tujuan pembelajaran Modul

  1. Memahami arti analisis kebijakan dan hubungannya dengan penelitian kebijakan
  2. Menggunakan pemahaman analisis kebijakan kesehatan untuk menyusun proposal (khususnya pada Bab 4.2. Perumusan masalah, tujuan penelitian, hipotesis/pertanyaan penelitian)

 

ismod Isi Modul

Anda diharapkan membaca buku William Dunn dan artikel dari Gill Walt dkk (ada dalam pustaka). Di dalam buku Dunn banyak dibahas analisis kebijakan. Silahkan anda baca. Kemudian, harap anda perhatikan statemen dari Walt dkk:

In this paper we argue that the field of health policy analysis would be advanced if researchers approached it more systematically, developing clear and testable propositions about the issue they are studying, within explicit frameworks.

Dalam kalimat di atas, orang yang melakukan analisis kebijakan kesehatan sudah disebut sebagai peneliti. Mereka diharapkan melakukan analisis kebijkaan secara lebih sistematis, mengembangkan proposisi yang jelas dan dapat dites, dengan kerangka yang jelas. Untuk itu para pembaca diharapkan memahami mengenai kerangka dasar analisis kebijakan yang disampaikan oleh Walt dkksebagai berikut:

There are a number of widely used frameworks and theories of the public policy process.1 We discuss some of the more enduring examples; those which have been utilized most in the published public policy literature (Gilson and Raphaely 2007).Frameworks organize inquiry by identifying elements and relationships among elements that need to be considered for theory generation (Ostrom 2007). They do not, of themselves, explain or predict behaviour and outcomes (Schlager 2007).

The best known public policy framework is the stages heuristic (Lasswell 1956; Brewer and deLeon 1983). It divides the public policy process into four stages:

  1. agenda setting,
  2. formulation,
  3. implementation, and
  4. evaluation.

Catatan:

William Dunn menyebutkannya dalam lima langkah: (1) penyusunan agenda, formulasi kebijakan, adopsi kebijakan, pelaksanaan kebijakan, dan penilaian kebijakan.

Petikan dari Walt dkk:

Agenda setting is the issue sorting stage during which a small number of the many problems societies face rise to the attention of decision-makers. In the formulation stage, legislatures and other decision- making bodies design and enact policies. In the implementation stage, governments carry out these policies, and in the evaluation stage impact is assessed.

Analysts have criticized the stages heuristic for presuming a linearity to the public policy process that does not exist in reality, for postulating neat demarcations between stages that are blurred in practice, and for offering no propositions on causality (Sabatier 2007). Nevertheless, the heuristic offers a useful and simple way of thinking about the entire public policy process, and helps researchers situate their research within a wider framework.

Walt and Gilson (1994) developed a policy analysis frame- work specifically for health, although its relevance extends beyond this sector. They noted that health policy research focused largely on the content of policy, neglecting actors, context and processes. Their policy triangle framework is grounded in a political economy perspective, and considers how all four of these elements interact to shape policy-making. The framework has influenced health policy research in a diverse array of countries, and has been used to analyse a large number of health issues, including mental health, health sector reform, tuberculosis, reproductive health and antenatal syphilis control (Gilson and Raphaely 2007).

Dengan kerangka tersebut maka analisis kebijakan selalu berfokus pada sebuah kebijakan yang mempunyai proses. Dunn di Bab 3, menyatakan bahwa analisis kebijakan mencakup sebuah prosedur yang meliputi:

  • Pemantauan yang memungkinkan kita untuk menghasilkan informasi tentang sebab-sebab masalah lalu dan akibat dari kebijakan;
  • Peramalan yang memungkinkan kita untuk menghasilkan informasi tentang konsekuensi yang akan datang dari kebijakan;
  • Evaluasi yang mencakup produksi informasi tentang kegunaan dari kebijakan di masa lalu dan masa mendatang;
  • Rekomendasi yang memungkinkan untuk menghasilkan informasi tentang kemungkinan bahwa serangkaian tindakan yang akan datang akan mendatangkan akibat-akibat yang bernilai.

Disamping itu ada Perumusan Masalah adalah fase di dalam proses pengkajian di mana si analis yang dihadapkan pada informasi mengenai konsekuensi beberapa kebijakan mengalami suatu "situasi yang menyulitkan, membingungkan, dimana kesulitan memang tersebar ke seluruh situasi, yang kesemuanya membentuk suatu keutuhan kesatuan masalah".

Secara diagram Dunn menyusun proses analisis kebijakan secara menarik (Baca lebih lanjut di halaman 112).

gb2a2

 

Dengan mengacu pada pemahaman Dunn, harap anda pahami proses analisis kebijakan ini untuk masukan saat anda merumuskan masalah penelitian kebijakan anda. Disamping itu dalam hal analisis kebijakan, perlu dipahami mengenai:

  1. Analisis tentang kebijakan (analysis of policy),
  2. Analisis untuk kebijakan (analysis for policy).

Silahkan anda baca kedua analisis dari buku William Dunn dan Kent Buse dkk.

 

 Bahan belajar

Buse K, Mays N, Walt G. Making Health Policy. Understanding Public Health. Open University. 2010

Dunn, William. Pengantar Analisis Kebijakan Publik. Edisi kedua. Terjemahan. Public Policy Analysis: An Introduction 2nd Ed. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. 2003.

Gilson Lucy. Health Policy and Systems Research: A Methodology Reader. WHO. 2012.

Walt G, Shiffman J, Schneider H, Murray SF, Brugha R, and Gilson L.'Doing' health policy analysis: methodological and conceptual reflections and challenges. Health Policy and Planning 2008;23:308–317  

 

 Kegiatan pembelajaran

Harap anda mulai mengisi form proposal dan kemudian cermati kembali penulisan anda pada bagian 4.1. (latar Belakang) dan bagian 4.2. (Perumusan masalah, tujuan penelitian, hipotesis/pertanyaan penelitian) di form proposal anda:

  1. Kebijakan apa yang akan anda teliti? Apakah di level makro, meso, atau mikro.
  2. Apa kerangka analisis kebijakan yang akan anda pergunakan? Apakaha anda akan menggunakan segitiga kebijakan atau kerangka lainnya.
  3. Apakah anda sudah siap untuk melakukan prosedur analisis kebijakan dengan menggunakan pendekatan Dunn? Jika sudah siap apakah dapat anda masukkan ke Latar Belakang dan Perumusan Masalah?
  4. Apakah penelitian anda merupakan analysis of policy, ataukah analysis for policy, atau kombinasi keduanya.

Sambil menjawab, harap anda kembangkan Latar Belakang dan Perumusan Masalah. Jawaban dikirim ke pengelola dengan cara:

File ditulis dalam word dan diberi kode: XYYYM2A3.doc

Keterangan:

X        = nomor fasilitator anda.
YYY    = kode nama peserta
M2A3 = Modul 2A3

 

 Kirim tugas ke This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it..

Jangan lupa memberi cc ke email setiap fasilitator yang telah ditunjuk untuk anda.

Tugas paling lambat dikirim tanggal 19 April 2012, jam 24.00

 

 

 

 

Modul 2.A.2 Introduction to health policy and System research (HPSR): The Boundaries.

Modul 2.A.2 Introduction to health policy and
System research (HPSR): The Boundaries.

 

 Deskripsi

Modul ini berfokus pada berbagai aspek, isu pokok atau area yang melingkupi riset kebijakan dan sistem kesehatan. Sebagai bidang "kajian" yang terbilang baru dan masih terus berkembang, tidaklah mudah untuk dengan tajam menetapkan lingkup "HPSR" dan membedakannya dengan area riset kesehatan pada umumnya. Empat elemen penting yang telah dipaparkan pada modul sebelumnya,-seperti sistem kesehatan dan perkembangannya, kebijakan kesehatan dan analisis kebijakan- menjadi dasar dari topik bahasan modul ini. Aspek dan isu pokok yang relevan dengan HPSR berada pada area dan lingkup yang luas, termasuk keterlibatan aktor-aktor pada tingkat lokal, nasional, bahkan global.

Bagaimanapun, riset kebijakan dan sistem kesehatan memiliki ruang lingkup yang "samar", beririsan, saling membaur dan tumpang tindih dengan riset pelayanan kesehatan dan riset operasional lainnya, serta ada banyak area abu-abu di antara riset jenis ini dengan aspek manajemen dan riset disiplin ilmu lainnya.
 

 Tujuan pembelajaran Modul 2A2

Mempelajari ruang lingkup riset kebijakan dan sistem kesehatan menjadi sangat penting untuk:

  1. Mengetahui bagaimana berbagai aspek dan faktor lingkungan (internal & eksternal), - secara langsung atau pun tidak-, mempengaruhi proses penetapan & pelaksanaan kebijakan dan sistem kesehatan serta kemudian mengetahui apa yang dapat dilakukan untuk memperbaiki implementasi kebijakan serta fungsi-fungsi sistem kesehatan.
  2. Membantu para peserta untuk menyusun latar belakang dengan lebih baik lagi.

  Isi Modul

"Achieving greater equity in health is a goal in itself, and achieving the various specific global health and development targets without ensuring equitable distribution across and within populations is of limited value (Blas and Sivasankara Kurup, 2010)."

Pernyataan tersebut menjadi penting untuk menekankan bahwa pencapaian target pembangunan kesehatan tanpa pemerataan merupakan pengurangan nilai dan kebermanfaatan dari pembangunan kesehatan itu sendiri. Tidak dapat dipungkiri, statistika nasional terkadang belum terpaparkan secara transparan, antara lain untuk menutupi disparitas dan kesenjangan yang terlalu besar. Upaya untuk mengurangi disparitas memang membutuhkan penyelesaian dengan pendekatan yang luas, dengan menyertakan bahasan faktor-faktor penentu sosial untuk mengurangi ketidakadilan dalam kinerja program dan dampak kesehatan melalui kerja nyata lintas sektor, partisipasi dan pemberdayaan masyarakat. Dengan kata lain, diperlukan wawasan yang cukup perihal faktor-faktor atau lingkungan yang mempengaruhi kondisi kesehatan masyarakat dalam suatu wilayah.

Untuk menganalisis isu yang terkait dengan determinan sosial dan pemerataan dalam program kesehatan masyarakat, Badan Kesehatan Internasional (WHO) telah menyusun dan mengembangkan lima tingkat kerangka kerja. Lima tingkat kerangka kerja tersebut menganalisis: "socioeconomic context and position, differential exposure, differential vulnerability, differential health and outcomes, differential consequences (Blas and Sivasankara Kurup, 2010). Kerangka analisis tersebut dapat menjadi acuan bagi seorang peneliti dalam melakukan studi terkait ruang lingkup kebijakan kesehatan yang tidak lepas dari sistem kesehatan itu sendiri. Sistem kesehatan merupakan sistem yang kompleks, terbentuk dari sekian faktor seperti aspek sosial, politik, SDM, dan seterusnya.

"Pelembagaan" atau institusionalisasi sektor kesehatan berada pada sebuah sistem terbuka yang disebut sistem kesehatan. Oleh karena itu, sistem kesehatan tidak berdiri sendiri dalam menjalankan perannya. Dukungan dari lingkungannya, seperti lembaga legislatif, masyarakat, atau organisasi pemerintah pada sektor lainnya sangat diperlukan, termasuk pula konteks sosial, budaya, politik dsb.

Kebijakan kesehatan merujuk pada keputusan, rencana, dan tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan target pelayanan kesehatan yang spesifik. Sebuah kebijakan yang jelas dapat mendefinisikan sebuah visi untuk masa depan untuk mewujudkan pencapaian dan tujuan jangka pendek dan menengah. Kebijakan kesehatan yang jelas pun memberikan arah pandang dan garis besar atas prioritas dan peran yang diharapkan dari berbagai kelompok; selain membangun konsensus serta memberikan kejelasan "informasi" bagi masyarakat (WHO)

Penelitian kebijakan dan sistem kesehatan semakin berkembang, antara lain karena adanya dorongan untuk meningkatkan proses alokasi sumberdaya kesehatan untuk peningkatkan kualitas dan pemerataan akses pelayanan kesehatan. (Hanney, Stephen R et al, 2002). Juga ada tekanan internasional terhadap tata kelola dan penguatan sistem kesehatan untuk meningkatkan akuntabilitas, partisipasi dan tranparansi. Secara subtantif, pelaksanaan riset kebijakan dan sistem kesehatan memiliki sasaran utama untuk meningkatkan demokratisasi dalam pembangunan kesehatan

Dengan demikian, mempelajari ruang lingkup riset kebijakan dan sistem kesehatan menjadi sangat penting untuk mengetahui bagaimana berbagai aspek dan lingkungan (internal dan eksternal), -secara langsung atau pun tidak-, mempengaruhi proses penetapan & pelaksanaan kebijakan dan sistem kesehatan serta kemudian mengetahui apa yang dapat dilakukan untuk memperbaiki implementasi kebijakan serta fungsi-fungsi sistem kesehatan.

fig1 

fig12 

fig13 

Respon sistem kesehatan terhadap kebutuhan masyarakat dan ekspektasinya adalah dengan cara:

  1. Meningkatkan derajat kesehatan individu, keluarga dan masyarakat
  2. Melindungi masyarakat dari ancaman kesehatan
  3. Melindungi masyarakat dari konsekuensi finansial akibat sakit
  4. Menyediakan akses yang setara bagi semua untuk mendapatkan pelayanan berbasis masyarakat
  5. Memberdayakan masyarakat untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan terkait kesehatan mereka dan terkait sistem kesehatan

fig3

Health system memberikan kerangka yang lebih menyeluruh dan komprehensif dengan mempertimbangkan berbagai konteks dalam lingkungan sistem kesehatan dan menelusuri hubungan serta kerterkaitan antar building block dalam sistem kesehatan. Adapun Health Policy & System Research mempertimbangkan faktor-faktor pada tingkat sistem dan relasi antar building block dalam mempengaruhi berbagai komponen, konteks, kontent dan aktor kebijakan kesehatan secara sistemik

HPSR memfokuskan analisisnya pada kondisi kesehatan, pelayanan dan program kesehatan khusus untuk melihat pengaruh sistem kesehatan dan konteks kebijakan yang memiliki pengaruh kritis terhadap berbagai intervensi atau opsi kebijakan yang berkelanjutan. (Travis et all, 2004). Karenanya HPSR mengarah pada keseluruhan building block dari sistem kesehatan dan tidak hanya terfokus pada pelayanannya saja. Oleh karena itu, dapatlah dikatakan bahwa fokus analisis HPSR mengacu pada faktor-faktor dalam sistem yang mempengaruhi kinerja kesehatan

fig14

 

The Fuzzy Boundaries

Ada beragam terminologi yang lazim digunakan untuk menjelaskan pengertian riset di bidang kesehatan. Istilah yang lebih dahulu dan populer dipakai adalah Health Service Research atau riset pelayanan kesehatan. Riset ini memiliki starting point "service delivery function of health syearch stem", sehingga berangkat pada masalah atau area berlangsungnya fungsi pelayanan kesehatan, misalnya hubungan antara pasien dengan pemberi layanan kesehatan. Sementara HPSR mencakup lebih luas, memulai dari salah satu building block dan memberikan perhatian khusus pada policy process juga berbagai pengaruh lingkungan bahkan hingga ke tingkat global

HPSR diperkenalkan oleh Alliance for Health Policy System Research, dan alih-alih mencoba menetapkan sebuah batasan tegas dan tajam tentang HPSR, aliansi ini menetapkan adalah lebih baik untuk memandang lingkup HPSR sebagai area yang beririsan, saling membaur dan tumpang tindih, karena sejatinya HPSR mengambil pendekatan yang lebih luas dibandingkan riset yang lebih "kaku" dan "konvensional". HPSR analysis akan mengarah pada tatakelola dan kepemerintahan dalam sistem kesehatan serta fokus pada pemahaman untuk mengetahui bagaimana munculnya perubahan, sehingga pertanyaan dalam sebuah analisis atau studi HPSR akan lebih mengarah pada : "What Actually happens and why", rather than "Why is there an implementation gap". Sudut pandang HPSR akan melihat sebuah fenomena dan peristiwa dari sisi organisasi, sosial, proses politik yang lebih kaya dibanding memotretnya sebagai sebuah proses yang terkontrol dan nyaris bersifat mekanik. Pada intinya studi HPSR mengarah pada Health Policy dan Health system.

Ruang Lingkup analisis HPSR:
Ruang lingkup HPSR meliputi berbagai hal yang diimplementasikan di berbagai elemen dan dimensi dari sistem kesehatan.Kajian HPSR mungkin melibatkan pertimbangan satu atau lebih aspek berikut:

  1. di arena yang luas dari kebijakan (tingkat makro analisis);
  2. proses dan kelembagaan di mana perubahan kebijakan ini dikembangkan dan diimplementasikan (tingkat meso analisis)
  3. dampak perubahan kebijakan khusus terhadap orang (tingkat mikro analisis), keseimbangan struktur (kelembagaan) dan agensi (otonomi) yang membentuk tindakan tersebut (and Hudson & Lowe, 2004).

 

Tujuan HPSR:

  1. Sistem kesehatan seperti apa yg optimal dan bagaimana mereka berjalan
  2. Apa yang perlu diperbuat untuk memperkuat sistem kesehatan untuk meningkatkan performa dari manfaat kesehatan dan manfaat sosial lain
  3. bagaimana mempengaruhi agenda kebijakan untuk merangkul tindakan yang memperkuat sistem kesehatan
  4. bagaimana mengembangkan dan menerapkan tindakan-tindakan dalam cara yang akan meningkatkan kesempatan mereka untuk mencapai kinerja yang lebih baik.

Box 1 : Topik Penelitian HPSR yang disarankan

Keuangan dan SDM :

• Pembiayaan kesehatan berbasis masyarakat dan sistem asuransi nasional
• SDM untuk kesehatan di tingkat kabupaten
• SDM untuk kesehatan di tingkat nasional 

Pengorganisasian pelayanan :

• keterlibatan masyarakat
• Pelayanan yang equitable, efektif dan efisien
• Pendekatan pengorganisasian pelayanan
• Kebijakan obat dan tindakan

Governance, stewardship, dan knowledge management

• Tatakelola dan akuntabilitas
• SIK
• Priority-setting dan evidence-informed policy-making
• Pendekatan intersektoral

Pengaruh Global :

• Pengaruh inisiatif dan kebijakan global (termasuk perdagangan, lembaga donor, dan lembaga internasional) terhadap sistem kesehatan nasional
• Riset ilmiah mengenai tindakan /teknologi /obat baru
• Penilaian efektifitas klinis dari tindakan /obat/teknologi baru
• Pengukuran kesehatan masyarakat dan polanya

Box 2: Topik yang dibahas dalam kajian empiris HPSR

  • Penjelasan dan penilaian building blocks sistem kesehatan (misalnya desentralisasi dan pembiayaan kesehatan);
  • Pengalaman dari suatu kebijakan dalam konteks tertentu;

  • Penjelasan bagaimana perusahaan multinasional mempengaruhi kebijakan nasional atau transnasional (misalnya oleh pabrik rokok);

  • Penjelasan aspek tertentu yang mempengaruhi pengambilan keputusan (misalnya health-seeking behavior; motivasi kerja tenaga kesehatan);

  • Penilaian intervensi yang dapat meningkatkan performance dan sampai seberapa peningkatannya (misalnya assessment terhadap grant conditions), dan cost-effectiveness dari intervensi alternatif;

  • Memahami kekuatan dan posisi stakeholder mengenai kebijakan tertentu, dan kemungkinan implikasi dari kebijakan tertentu;

  • Memahami implementasi kebijakan dan variasinya dalam berbagai setting;

  • Penjelasan atas kinerja sistem kesehatan (misalnya cross-national analysis of catastrophic health expenditure levels)

 

 Bahan belajar

http://ethesis.helsinki.fi/julkaisut/kay/kasva/vk/kerosuo/boundari.pdf

http://shura.shu.ac.uk/1759/1/Prof_Boundaries_FINAL_REPORT.pdf

http://www.jmpk-online.net/images/jurnal/2008/Vol_11_No_2_2008/03_mk_dumilah%20ayuningtyas.pdf

http://www.jmpk-online.net/images/jurnal/2009/Vol_12_No_3_2009/03_mk_dumilah.pdf

 

 Kegiatan pembelajaran

Untuk buku, misal:
Nugroho RD. Kebijakan publik untuk Negara-negara berkembang, Elex Media Komputindo, Jakarta, 2006.

Untuk Jurnal, misal:
Sia D, Fournier P, Kobiané J-F, Sondo BK. Rates of coverage and determinants of complete vaccination of children in rural areas of Burkina Faso (1998-2003). BMC Public Health. 2009; 9:416- 25.

Bahan dari internet:
Penulis....... "Judul ..." http://www.kebijakankesehatanindonesia.net .... (diakses tanggal .... bulan...tahun ....)

Pertanyaan-pertanyaan

  1. Apakah latar belakang penelitian anda termasuk dalam upaya Health system strengthening. Uraikan...
  2. Apakah anda sudah memasukkan ciri HSPR dalam latar belakang proposal anda? Uraikan
  3. HPSR memfokuskan kajian kebijakan kesehatan pada tingkatan sistem. Apakah hubungan lingkungan kontekstual (konteks politik, sosial, ekonomi, budaya) dalam sistem kesehatan di Indonesia/daerah anda sudah dimasukkan dalam pendahuluan anda?
  4. Apakah ada komponen health system building block pada riset yang anda usulkan?
  5. Apakah anda sudah menjelaskan bagaimana hubungan riset anda (menggunakan HPSR) dengan mekanisme pengambilan kebijakan di daerah anda?

Jawaban dikirim ke pengelola dengan cara:

File ditulis dalam word dan diberi kode: XYYYM2A2.doc

Keterangan:

X        = nomor fasilitator anda.
YYY    = kode nama peserta
M2A2 = Modul 2A2

 

  Kirim tugas ke This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it..

Jangan lupa memberi cc ke email setiap fasilitator yang telah ditunjuk untuk anda.

Tugas paling lambat dikirim tanggal 13 April 2013, jam 24.00

 

 

Modul 2 PJJ Kebijakan Medik

Modul 2

Modul ini secara umum membahas berbagai metode riset untuk kebijakan. Dengan mempelajari Modul 2 peserta akan diperkenalkan pada riset kebijakan dan sistem kesehatan (HSPR), langkah-langkah dalam melakukan riset kebijakan dan sistem kesehatan, serta pengenalan terhadap berbagai metode riset untuk kebijakan dan sistem kesehatan. Dengan mengikuti Modul 2, para peserta akan menghasilkan proposal riset kebijakan dan sistem kesehatan sebagai tugas akhir. Proposal ini akan diseleksi, dan peserta yang proposalnya terpilih akan diundang untuk presentasi proposal dan mengikuti proses pengembangan lebih lanjut (tatapmuka) selama 2 hari pada awal Juni 2013

Modul 2 terdiri dari tiga bagian besar yaitu:

Modul 2A : Pengenalan terhadap riset kebijakan dan system kesehatan (HSPR)

2.A.1 Karakteristik riset kebijakan dan sistem kesehatan: 8 - 10 April 2013
2.A.2 Batasan riset kebijakan dan sistem kesehatan : 11 - 13 April 2013
2.A.3 Analisis Kebijakan Kesehatan : 14 - 19 April 2013
2.A.4 Memahami konteks sosial-politik sistem kesehatan: 20 - 25 April 2013

Modul 2B : Langkah-langkah melakukan riset kebijakan dan sistem kesehatan

2.B.1 Identifikasi fokus penelitian dan pertanyaan penelitian: 26 - 30 April 2013
2.B.2 Menyusun Rancangan Riset : 1 - 6 Mei 2013
2.B.3 Mengupayakan kualitas Riset Kebijakan Medik : 7 - 12 Mei 2013
2.B.4 Penerapan prinsip-prinsip etika penelitian: 13 - 17 Mei 2013

Modul 2C : Berbagai strategi riset :

2.C.1 Perspektif potong-lintang
2.C.2 Pendekatan Studi Kasus
2.C.3 Lensa etnografis
2.C.4 Evaluasi dampak
2.C.5 Action Research

 

Batas akhir pengumpulan Proposal: 22 Mei 2013

Form Proposal 

Pengumuman : 24 Mei 2013

 

 

  • toto
  • bandar togel 4d
  • live draw sgp
  • togel4d
  • slot777
  • scatter hitam
  • togel online
  • toto 4d/
  • toto slot
  • slot dana
  • bandar slot
  • scatter hitam
  • slot dana
  • slot resmi
  • bandar slot resmi
  • bandar slot
  • slot resmi
  • agen toto
  • slot dana
  • deposit 5000
  • login togel4d
  • link gacor
  • toto slot
  • situs slot
  • slot online
  • togel online
  • slot gacor
  • totoslot
  • wengtoto
  • bandar togel
  • toto slot
  • rajabandot
  • resmi 777
  • situs bandar slot
  • agen slot
  • bandar slot
  • slot online
  • bandar slot terbaik
  • slot resmi
  • slot88
  • slot 1000
  • jp togel
  • slot resmi terpercaya
  • slot gacor
  • slot resmi
  • slot online
  • rajabandot
  • togel4d
  • togel4d
  • togel4d
  • slot kasih maxwin
  • sultan slot
  • slot gacor bagi thr
  • bandar slot
  • slot777
  • slot asia
  • tototogel
  • jptogel
  • slot 1000
  • bandar slot asia
  • bandar slot terbesar
  • bandar slot gacor
  • situs bandar slot
  • slot online
  • toto 5000
  • href="https://www.socnatural.com/">toto5000 href="https://twsocial.co.uk/">slot asia href="https://vatrefundagency.co.za/">slot online resmi