Modul 2.C.5. Action Research

<< Back

 

Modul 2.C.5. Action Research

  Tujuan Pembelajaran

• Memahami prinsip strategi action research
• Memahami prinsip menjaga kualitas dalam strategi action research

 

  Isi Modul

Action research secara historis berawal dari penelitian-penelitian pengembangan organisasi dan komunitas. Strategi ini kini juga banyak diterapkan dalam penelitian-penelitian yang terkait upaya peningkatan mutu pelayanan dan penelitian-penelitian kebijakan dan sistim kesehatan. Namun belum banyak jasil penelitian-penelitian dengan strategi Action research dalam konteks kebijakan dan sistim kesehatan yang terpublikasi di jurnal.

Pada prinsipnya, strategi action research bertujuan untuk menghasilkan pengetahuan tentang suatus sistim sosial sambil, pada saat yang bersamaan, mencoba merubahnya (Meyer, 2001). Kadang—kadang peneliti sendiri adalah pelaku praktik yang diteliti. Kadang-kadang ada peneliti eskternal yang memfasilitasi refleksi partisipan terhadap praktik dan pengalaman mereka, dan sekaligus bertidank sebagai fasilitator pelaksanaan intervensi yang diteliti. Penelitian yang menggunakan strategi action research dituntut fleksibel dan responsif terhadap kebutuhan partisipan yang berubah seiring dengan umpan balik temuan-temuan yang direfleksikan dan ditindaklanjuti. Action research sering menggunakan berbagai metode, namun pada umumnya kualitatif dan sering dilaporkan dalam bentuk studi kasus.

Mengingat peran aktif peneliti dalam proses dan karakteristik action research, setidaknya ada tiga upaya yang perlu dilakukan peneliti untuk meminimalkan bias (Meyet, 2001):

• Triangulasi berbagai sumber data dan kontekstualisasi yang kaya
• Refleksi peneliti
• Umpan balik partisipan terhadap temuan (member checking)

 

  Bahan Belajar

Khresheh R & Barclay L (2008) Implementation of a new birth record in three hospitals in Jordan:
a study of health system improvement. Health Policy Plan 23 (1): 76-82.

Referensi Modul 2C-5

 

 

Modul 2.C. Strategi penelitian dalam HPSR

 

Modul 2.C. Strategi penelitian dalam HPSR

  Deskripsi

Implementasi HPSR yang baik sangat tergantung pada pemahaman akan strategi penelitian yang mana yang sesuai bagi pertanyaan yang akan dikaji. Strategi bukan semata disain ataupun metode, namun mewakili keseluruhan pendekatan penelitian yang mempertimbangkan metode pengumpulan data dan sampling yang paling tepat bagi tujuan dan pertanyaan penelitian. Modul 2C tersusun atas berbagai strategi penelitian yang diharapkan dapat menstimulasi penelitian-penelitian baru yang tidak hanya mengandalkan analisis potong lintang deskriptif yang hingga kini masih mendominasi sebagain besar publikasi dalam HPSR. Strategi-strategi penelitian yang dipaparkan dalam modul 2C terpilih untuk mendemonstrasikan spektrum strategi penelitian dalam HPSR, meliputi pendekatan yang dominan maupun yang sedang berkembang:

•  Perspektif potong lintang
•  Pendekatan studi kasus
•  Lensa etnografis
•  Evaluasi dampak
•  Action Research

 

 

 

Modul 2.C.4. Evaluasi Dampak

<< Back

 

Modul 2.C.4. Evaluasi dampak

  Tujuan Pembelajaran

•  Memahami prinsip strategi evaluasi dampak
•  Memahami prinsip menjaga kualitas dalam strategi evaluasi dampak

 

  Isi Modul

Dalam beberapa tahun ini terlihat semakin marak tuntutan untuk evaluasi intervensi dalam sistim kesehatan. Seiring dengan perkembangan di bidang evaluasi program sosial, pendekatan critical realist dalam evaluasi sistim kesehatan semakin diminati. Pendekatan tersebut mengkaji "intervensi apa yang bekerja bagi siapa dalam kondisi apa."

Terdapat berbagai definisi dampak dalam literatur evalusi, namun dalam perkembangan terkini dampak diartikan sebagai mekanisme kausasi – perubahan dalam keluaran yang disebabkan oleh suatu intervensi. Fokus pada mekanisme kausasi ini menuntut pengukuran yang objektif atas perubahan yang terjadi akibat suatu intervensi/program. Titik awal untuk mengukur dampak tersebut adalah prinsip counterfactual, yaitu mempertimbangkan apa yang akan terjadi bila tidak dilakukan intervensi - sehingga dapat menjustifikasi bahwa perubahan yang diamati disebabkan oleh intervensi. Berbagai perkembangan metodologi yang muncul belakangan ini berfokus pada prinsip counterfactual ini, dan bagaimana bisa menekan berbagai jenis bias seleksi.

Evaluasi dampak juga mementinngkan validitas eksternal – seberapa jauh temuan evaluasi dapat digeneralisasi ke setting lain. Validitas eksternal menuntut pemahaman atas mekansime kausasi, mencermati alur kausasi dan menguji validitas asumsi rute antara intervensi dan dampak, untuk melihat apakah asumsi tersebut akan tetap berlaku dalam konteks lain. Validitas eksternal juga menuntut peneliti untuk mencermati implementasi intervensi dan bagaiamana implementasi dapat mempengaruhi dampak suatu intervensi.

Dua jenis rancangan penelitian digunakan dalam evaluasi dampak:

  1. Disain eksperimental: dalam disain ini dilakukan randomisasi atas kelompok interevsi dan kontrol, dengan implikasi bahwa variabel pengganggu yang tidak teramati juga akan terdistribusi secara random, sehingga meminimalkan bias.
  2. Disain quasi-experimental: ini dapat berupa eksperimen alami yang memanfaatkan suatu kebijakan atau perubahan lain yang menghasilkan kelopmpok kontrol yang sesuai. Peneliti kemudian membandingkan antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol; membandingkan sebelum dan sesuah intervensi; atau memanfaatkan implementasi kebijakan yang bertahap sehingga terdapat variasi dalam durasi paparan intervensi.

Karakteristik intervensi sistim kesehatan mempengaruhi pendekatan evaluasi yang dipilih. Intervensi sistim kesehatan seringkali bekerja melalui alur kausasi yang kompleks dan dipengaruhi oleh karakteristik konteks implementasi dan kebijakan. Dalam evaluasi intervensi sistim kesehatan peneliti perlu:

  1. Mengembangkan pemahaman teoritis yang baik atas mekanisme perubahan
  2. Mengantisipasi risiko kegagalan implementasi dengan melakukan evaluasi proses
  3. Mencermati pengaruh pada perilaku individu, dan merancang studi yang mempertimbangkan aspek ini
  4. Mengadopsi berbagai ukuran keluaran, termasuk konsekuensi yang tidak diharapkan
  5. Menyadari bahwa protokol seringkali tidak bisa diikuti secara kaku, dan kemungkinan intervensi harus diadaptasi sesuai konteks lokal

De Savigny & Adam (2009) menggarisbawahi perlunya adaptasi rancangan penelitian konvensional apabila akan diterapkan untuk mengevaluasi intervensi sistim kesehatan, menekankan pentingnya mengukur beberapa keluaran (baik yang diharapkan maupun yang tidak diharapkan) dan analisis komprehensif faktor-faktor kontekstual yang mungkin dapat menjelaskan keberhasilan atau kegagalan suatu intervensi.

Karakteristik lain dari rancangan evaluasi untuk intervensi sistim kesehatan adalah sulitnya aplikasi prinsip counterfactual melalui penggunaan kelompok kontrol, misal dalam kasus dimana kebijakan jaminan pembiayaan kesehatan yang diterapkan secara nasional, sehingga tidak ada kelompok yang dapat dijadikan kontrol.

Karena dua tantangan diatas – kompleksitas dan kesulitan aplikasi prinsip counterfactual – beberapa pakar merekomendasikan bahwa semua evaluasi intervensi sistim kesehatan harus berdasar teori program yang kuat, untuk meningkatkan kualitas evaluasi tersebut (White, 2000). Pendekatan evaluasi berbasis teori ini merupakan jenis rancangan evaluasi dampak yang ketiga. Pendekatan ini berbasis pada teori program yang eksplisit dan menjabarkan hubungan antara input, output dan dampak serta menguji hubungan kausasi dengan memadukan metode kuantitatif dan kualitatif.

 

  Kegiatan Pembelajaran

Marchal B, Dedzo M, Kegels G (2010). A realist evaluationof the management of a well-performing regionalhospital in Ghana.BMC Health Services Research 10:24.

Referensi Modul 2C4

 

 

 

 

2.C.3. Lensa Etnografis

 

2.C.3. Lensa etnografis

  Tujuan Pembelajaran

•  Memahami prinsip lensa etnografi
•  Memahami prinsip menjaga kualitas dalam strategi lensa etnografi

 

  Isi Modul

Pendekatan klasik dalam etnografi umumnya melibatkan masa kerja di lapangan yang panjang, imersi dalam kehidupan sehari-hari pada suatu setting melalui observasi, interaksi, berdiskusi dengan anggota dari suatu dunia sisal tertentu dan mempelajari berbagai dokumen dan artefak. Dokumentasi yang dihasilkan berupa sintesis batas impresi peneliti yang terekan dalam catatan lapangan, observasi atau data wawancara – seringkali dalam bentuk tulisan tangan, namun semakin sering dijumpai terdokumentasi dengan bantuan alat perekam.

Pendekatan etnografi klasik jarang diterapkan dalam penelitian kesehatan bukan hanya karena kendala waktu dan operasional, namun juga terkait benturan dengan pendekatan positivist dalam sebagian besar penelitian kesehatan. Meskipun demikian, berbagai variasi etnografi tradisional yang dilakukan oleh antropolog ataupun sosiolog kedokteran sesungguhnya dapat memberikan pencerahan untuk pemahaman isu kebijakan dan sistim kesehatan:

  1. Etnografi yang mengikuti kehidupan individu-individu atau kelompok-kelompok yang memiliki kondisi kesehatan tertentu telah mengembangkan pemahaman kita atas bagaimana dan mengapa mereka terhambat (atau terfasilitasi) dalam upaya mereka memanfaatkan layanan dan mengelola kondisi mereka.
  2. Etnografi yang secara eksplisit berfokus pada praktisi dan sosialisasi profesional mereka dalam sistim kesehatan memperjelas feasibilitas dari suatu intervensi sistim kesehatan yang mengasumsikan (atau merubah) hirarki profesional atau pola kerja tertentu.
  3. Etnografi yang berfokus pada organisasi mengkaji bagaimana aktifitas kerja membentuk dan mepertahankan institusi, menganalisis prosedur ideologis yang membuat proses tersebut akuntabel dan mengeksplorasi bagaimana proses kerja berhubungan dengan proses-proses sosial yang lain. Dalam konteks ini, lensa etnografi dapat menjelaskan bagaimana struktur formal organisasi dipengaruhi oleh sistim informal yang dibentuk oleh individu-individu dan kelompok-kelompok dalam organisasi.
  4. Etnografi juga dapat berfokus pada kontroversi atau perdebatan untuk memperjelas benturan antara retorika dan praktik dalam hubungan-hubungan sistim kesehatan.

Peneliti kebijakan dan sistim kesehatan dapat mengambil manfaat dari etnografi klasik untuk memahami bingkai teoritis dan konteks sosial, politis dan historis perumusan kebijakan serta kajian kritis atas bagaimana kebijakan diterjemahkan dalam sistim kesehatan lokal. Pendekatan etnografi juga dapat diaplikasikan dalam studi dengan waktu terbatas untuk menghasilkan analisis yang kaya dan mendalam akan hubungan antara kekuasaan, pengetahuan dan praktik dalam sistim kesehatan dan bagaimana upaya perubahan dapat memberikan hasil yang berbeda dalam kondisi yang berebeda . Dengan demikian lensa etnografidapat bermanfaat dalam studi yang bertujuan mengeksplorasi dan menjelaskan pengalaman-pengalaman seputar kebijakan dan sistim kesehatan.

Kualitas studi etnografi berpijak pada tiga karakteristik utama metodologis:

  1. Mengadopsi metode-metode yang terbuka, mendalam dan fleksibel untuk menangkap berbagai dimensi dan memberikan perhatian utama pada perspektif dan pengalaman responden. Beberapa peneliti secara khusus melakukan triangulasi untuk meningkatkan validitas, namun juga untuk mengeksplorasi berbagai perspektif.
  2. Analisis interpretatif, menempatkan makna suatu kebijakan dan praktik sistim kesehatan dalam konteks sosial, politik dan historis.
  3. Refleksi posisi peneliti terhadap fenomena yang dikaji, menjelaskan bagaimana posisi mereka sebagai peneliti dan observer-partisipan (dalam kasus tertentu) membentuk area minat, pertanyaan dan lensa interpretatif.

 

  Bahan Belajar

Béhague&Storeng (2008) Collapsing the vertical-horizontal divide: an ethnographic study of evidence-based policymaking in maternal health.
Am J Public Health.98(4):644-9.

Referensi Modul 2C3

 

 

Modul 2.C.2 Pendekatan Studi Kasus

<< Back

Modul 2.C.2 Pendekatan Studi Kasus

  Deskripsi :

Sebagaimana telah dipelajari sebelumnya, aspek atau isu pokok yang relevan dengan riset kebijakan dan sistem kesehatan berada pada area dan lingkup yang luas, termasuk keterlibatan aktor-aktor pada tingkat lokal, nasional, bahkan global. Oleh karena itu Health Policy & System Research akan mempertimbangkan bagaimana aspek dan faktor lingkungan (internal & eksternal), - secara langsung atau pun tidak-, mempengaruhi proses penetapan & pelaksanaan kebijakan dan sistem kesehatan. Keseluruhan interaksi antar faktor-faktor pada kebijakan dan sistem kesehatan dipengaruhi dan sekaligus melekat pada berbagai komponen, konteks, konten dan aktor kebijakan kesehatan secara sistemik dalam batas yang beririsan, saling membaur. HPSR akan melihat sebuah fenomena dan peristiwa pada sebuah organisasi, sistem sosial, atau proses politik maupun kebijakan dari sudut pandang yang lebih kaya. Pendekatan studi kasus menjadi sebuah alternatif strategi penelitian yang sesuai untuk memotret kekayaan interaksi faktor dan lingkup HPSR.

 

  Tujuan pembelajaran Modul :

Setelah mempelajari tentang pendekatan studi kasus dalam HPSR, diharapkan para peserta :

  1. Dapat menjelaskan tentang batasan, karakteristik, disain dan prinsip kualitas studi kasus
  2. Dapat mempertimbangkan kesesuaian penggunaan pendekatan studi kasus pada permasalahan penelitian yang diajukan dalam penyusunan proposal HPSR

 

   Isi Modul :

Pengertian
Berbagai batasan telah dikemukakan oleh para ahli tentang studi kasus, antara lain, ketiga pengertian berikut ini:

- "A case study is a story about how something exist within a real world context that is created by carefully examining an instance. It counts real life situations that present individuals with a dilemma or uncertain outcome." (Commonwealth Association for Public Administration and Management, 2010 ).

- "The Case study approach is a research strategy entailing an empirical investigation of a contemporary phenomenon within its real life context using multiple sources of evidence, and is especially valuable when the boundaries between the phenomenon and context are blurred " (Yin, 2009)

- Studi kasus adalah sebuah "kisah" tentang sesuatu yang unik, spesial , dan menarik, dari berbagai subjek, dapat meliputi individu, organisasi, proses, program, pelembagaan atau kebijakan. Suatu studi kasus akan mampu memberikan gambaran dan cerita mengenai bagaimana suatu hal dapat terjadi. Penjelasan yang didapat dari studi kasus dapat mengantarkan pada pemahaman yang lebih baik tentang suatu hal dan bahkan membuka kesempatan untuk menggali lebih mendalam sebuah permasalahan yang lebih besar (Neale,dkk,2006).

Karakeristik dan lingkup

Sebagian ahli beranggapan bahwa pendekatan studi kasus merupakan penelitian kualitatif deskriptif. Alasan yang dikemukakan adalah penelitian ini berfokus pada satu obyek tertentu yang kemudian secara intensif dipelajari sebagai suatu kasus, meskipun data yang dibutuhkan untuk mempelajarinya dapat diperoleh dari berbagai sumber terkait. Dengan kata lain, pendekatan studi kasus berlaku untuk kasus tunggal dan penggaliannya bersifat kualitatif (Nawawi, 2003)

Pandangan berbeda dikemukakan oleh Yin, 2009, yang meyakini dasar penerapan pendekatan studi kasus dalam sebuah penelitian adalah untuk menginvestigasi suatu fenomena, penerapan sebuah teori serta tujuan eksplanatori atau deskripsi dari suatu kondisi. Oleh karena itu, suatu studi kasus dapat berupa kasus tunggal ataupun kasus jamak (multiple). Pelaksanan pendekatan studi kasus juga dapat berupa penelitian kuantitatif maupun kualitatif.

Yin membedakan dasar atau karakter penetapan studi kasus tunggal atau jamak. Dalam studi kasus tunggal umumnya tujuan atau fokus penelitian langsung mengarah pada konteks atau inti dari permasalahan, berbeda dengan studi kasus jamak (multiple) yang justru untuk mengukur seberapa besar dampak yang ditimbulkan dari suatu fenomena tersebut. Artinya pada studi kasus jamak objek yang diteliti tidak hanya sebuah fenomena atau proses dan kejadian melainkan bagaimana objek di sekitarnya terkena dampak dari kejadian atau fenomena tersebut.( Yin, 2009)

Penegasan tentang lingkup studi kasus dalam HPSR dibahas pula dalam modul ini. Kisaran area, fokus yang relevan dan menjadi bagian dari studi kasus dalam HPS cukup beragam meliputi : -

-  individuals, communities, social groups, organizations;
-  events, relationships, roles, processes, decisions, particular policies, specific policy development processes,
-  health system decision-making units, particular health care facilities, particular countries.

(Robson, 2002; Thomas, 1998; Gilson & Raphaely, 2008)

Pendekatan Studi Kasus pada HPSR :

Batas dan lingkup yang samar dan saling membaur pada HPSR menjadi sebab mengapa pendekatan studi kasus sering digunakan dalam riset kebijakan dan sistem kesehatan, dengan pertimbangan luasnya disiplin ilmu yang terkait, seperti ilmu politik, sosiologi, psikologi komunitas, manajemen organisasi dan perencanaan, juga administrasi publik.

Tiga alasan utama mengapa studi kasus menjadi amat relevan untuk digunakan sebgai pendekatan dalam HPSR adalah sebagai berikut :

  1. Berbagai faktor kontekstual amat kuat mempengaruhi dan melekat pada kebijakan dan sistem kesehatan, sehingga keseluruhan konteks tersebut pun harus menjadi bagian dari fokus penelitian (Gilson et al. 2011).
  2. Studi HPSR dan fokus serta pertanyaan penelitian yang dibangun kerap kali membutuhkan penggalian informasi dan pendalaman tentang kompleksitas perilaku dan relasi ataupun interaksi subjek penelitian yang mempengaruhi perubahan kejadian , termasuk perubahan dari waktu ke waktu. Semua kompleksitas dan dinamika tersebut akan sesuai sekali bila "dipotret" dengan pendekatan studi kasus.
  3. Pendekatan studi kasus cukup kaya untuk dapat dimanfaatkan pada beberapa fokusi penelitian yang berbeda. Pertama adalah untuk analisis pengembangan kebijakan sehingga hasil analisis dapat memberikan informasi pendukung bagi kebijakan yang akan dilahirkan. Berikutnya, studi kasus juga sering digunakan untuk dengan detil menganalisis kebijakan yang telah dihasilkan atau diimplementasikan

Penjagaan Kualitas Studi Kasus :
Upaya menjaga kualitas pada pelaksaan riset dengan menggunakan pendekatan studi kasus dibahas pula dalam modul ini, mengacu pada prinsip-prinsip berikut : (Gilson, 2012):

-  Confirmability
-  Dependability
-  Credibility
-  Transferability

Yin menekankan peran penting desain pada studi kasus yang menentukan kualitas dari pelaksanaan studi kasus, dengan sebutan sebagai " guiding the investigator" . Sebuah desain studi kasus karenanya perlu memaksimalkan empat hal yang akan mempengaruhi kualitas desain :

  1. Construct validity
    Memastikan tersedianya suatu pengukuran operasional atau definisi operasional mengenai konsep yang sedang dipelajari.
  2. Internal validity
    Mengupayakan tersedianya gambaran hubungan sebab akibat dalam fenomena, kejadian dari objek penelitian atau kasus yang didalami. Penggambaran satu fenomena selazimnya mengacu pada fenomena yang lain sehingga hubungan dari setiap fenomena kejadian dapat dipelajari.
  3. External validity
    Studi kasus didisain untuk mengupayakan agar temuan dari sebuah kasus dengan dasar sebuah teori tertentu dapat menjadi dasar replikasi kerangka berpikir sehingga temuan-temuan tersebut dapat berlaku pula secara luas dan general.
  4. Reliability
    Studi kasus dapat dikatakan terjaga kualitasnya bila hasil dari studi kasus dapat dikaji ulang melaui penelitian yang lain dengan hasil yang kurang-lebih sama.

Berikut rangkuman penjelasan di atas :

2c2

 

Langkah praktis dan tahapan pelaksanaan studi kasus dipaparkan oleh Yin dkk sebagai berikut : Pentingnya Enam Langkah Case Study Research

(Robert E. Stake, Helen Simons, and Robert K. Yin)

  1. Menentukan dan menjelaskan pertanyaan riset
  2. Memilih kasus dan menentukan cara pengumpulan data dan teknis analisis
  3. Menyiapkan pengumpulan data
  4. Mengumpulkan data di lapangan
  5. Mengevaluasi dan menganalisis data
  6. Menyiapkan laporan

Beberapa buku juga membahas detil tentang bagaimana pelaksanaan studi kasus dalam penelitan, namun prinsip penting yang menjadi bahasan penutup dalam modul HPSR justru membahas tentang: Pemggunaan Teori, Penyeleksian Kasus, Kontekstualisasi serta Analisis dan Generalisasi .

 

  Bahan belajar

2012. Health Policy and System Research: A Methodology Reader. Gilson, Lucy, Editor.
Alliance for Health Policy and Systems Research and World Health Organization

Creswell, John. Research Design: Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan Mixed. Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2010, hal 304 – 337

Miles, Matthew B & Huberman, Michael. Analisis Data Kualitatif: Buku Sumber Tentang Metode-Metode Baru, UI Press, Jakarta, 2009, hal 389 – 456

Neale, Palena. Shyam thapa, dkk.2006. preparing a case study : a guide for designing and conducting a case study for evaluation input.
Pathfinder international

Tashakkori, Abbas & Teddlie, Charles. Handbook of Mixed Methods in Social & Behavioral Research.
SAGE Publications, Inc., London, UK, 2010, page 1 – 45

Sugiyono. Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Methods). Penerbit Alfabeta, Bandung, 2011, hal. 395 – 470

http://www.biomedcentral.com/content/pdf/1471-2288-11-100.pdf

http://www.capam.org/_documents/reportoncasestudymethodologies.pdf

 

  Kegiatan pembelajaran

Pertanyaan-pertanyaan :

  1. Pelajari dan cermati permasalahan dan fokus penelitian pada proposal yang anda susun, kemudian tetapkan , apakah memenuhi syarat untuk dilakukan dengan pendekatan dibuat studi kasus? Jelaskan alasannya, mengapa ya atau tidak.
  2. Jika anda telah menetapkan untuk menggunakan pendekatan studi kasus, sebutkan metoda pengumpulan informasi/data yang akan dilakukan untuk studi kasus tersebut (Sebutkan dan jelaskan siapa saja yang menjadi informan , jelaskan metoda untuk setiap jenis informan dan alasannya, dst)
  3. Sebutkan model triangulasi yang anda akan gunakan untuk meningkatkan hasil analisis studi kasus tersebut. Jelaskan

Jawaban dikirim ke pengelola dengan cara:

File ditulis dalam word dan diberi kode: XYYYM2C2.doc

Keterangan:

X        = nomor fasilitator anda.
YYY    = kode nama peserta
M2C2 = Modul2C2

 

 Kirim tugas ke This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it..

Jangan lupa memberi cc ke email setiap fasilitator yang telah ditunjuk untuk anda.

Tugas paling lambat dikirim tanggal 25 Desember 2012, jam 24.00

 

 

 

2.C. Strategi penelitian dalam HPSR

 

Modul 2.C.1 Perspektif potong-lintang

  Tujuan Pembelajaran

• Memahami prinsip perspektif potong lintang
• Memahami prinsip menjaga kualitas dalam strategi perspektif potong lintang

 

   Isi Modul

Studi-studipotong lintang dapat bertujuan untuk mengeksplorasi, mendeskripsikan atau menjelaskan suatu fenomena pada suatu titik waktu. Karakteristik ini yang memdedakannya dengan studi longitudinal dan studi lain yang mendeskripsikan atau menganalisis perubahan seiring dengan waktu, dan studi eksperimental yang melibatkan suatu intervensi. Karena studi lintas potong pada umumnya memerlukan sumber daya yang lebih sedikit dibanding dengan strategi penelitian lain, maka strategi ini paling banyak digunakan dan dilaporkan dalam HPSR.

Studi potong lintang meliputi spektrum perspektif disiplin yang luas dan metode yang bersumber dari tradisi positivist maupun relativist. Dalam studi potong lintang, pengumpulan data dapat menggunakan metode tunggal (kuantitatif atau kualitatif) hingga mixed (kuantitatif dan kualitatif) ataupun multi—metode (misal dalam studi dimana pentahapan metode postivist dan realtivist memungkinkan triangulasi pendekatan pengumpulan data, triangulasi epistemiologis, dan juga penggunaan data sekunder). Studi potong lintang yang menggunakan mixed-method memiliki beberapa kesamaan karakteristik dengan studi kasus, namun tidak berarti akan selalu mengikuti prosedur analitik yang sama.

Mixed-method dalam HPSR dapat digunakan untuk memenuhi beberapa tujuan, antara lain:

  1. Dalam proses pengembangan instrumen, wawancara kualitatif dapat mendahului pengembangan instrumen kuantitatif dimana belum dijumpai instrumen yang standar ataupun dikarenakan kekhususan konteks fenomena yang dikaji menuntut pendekatan yang lebih spesifik.
  2. Survey kuantitatif dapat dilakukan untuk mendapatkan sampling frame bagi pemilihan kasus dalam suatu studi kualitatif.
  3. Untuk mengembangkan analisis dan interpretasi, beberapa studi dapat ditriangulasikan untuk menghasilkan beberapa perspektif terhadap satu pertanyaan atau menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berbeda.

Tergantung pada tujuannya, pengumpulan data dalam penelitian mixed-method dapat bersifat konkuren ataupun sekuensial (Cresswel & Plano-Clark, 2007). Temuan dari studi tersebut dapat berupa serangkaian praktik yang terkait dan disatukan untuk menghasilkan solusi permasalahan dalam situasi yang konkrit (Denzin & Lincoln, 1998:3). Komponen-komponen studi memberikan insight yang berbeda terhadap suatu fenomena dan dipadukan untuk menjelaskan fenomena tersebut.

Sebagaimana dalam strategi-strategi penelitian lain, validitas penelitian/trustworthiness dan realibilitas sangat penting dalam stud potong lintang, baik yang berbasis positivist maupun relativist. Kepentingan tersebut terutama dalam konteks HPSR yang bertujuan untuk menjelaskan dinamika dan hubungan yang kompleks antara pelaku-pelaku dan dimensi-dimensi sistim.

Validitas studi potong lintang dapat dipengaruhi oleh (Robson, 2002:171):

•  Deskripsi yang kurang memadai/mencukupi atas fenomena yang dikaji
•  Interpretasi yang bermasalah dikarenakan penggunaan data yang selektif dan pemaknaan yang dipaksakan terhdap data
•  Penjelasan dikembangkan tanpa mempertimbangkan alternatif atau fakta yang bertentangan
•  Kegagalan dalam menggunakan konsep atau teori dari referensi yang ada

Validitas studi potong lintang dapat diperkuat dengan (Pope & Mays, 2009):

•  Triangulasi data, observer, pendekatan metodologis dan teori
•  Member checking (meminta responden untuk memvalidasi temuan dan hasil analisis)
•  Deksripsi detail metode pengumpulan dan analisis data
•  Refleksi penulis (refleksi tentang bagaimana bias pribadi ataupun intelektual dapat mempengaruhi studi dan analisis

 

 Bahan Belajar

Blaauw Det al (2010) Policy interventions that attract nurses to rural areas: a multicountry discrete choice experiment. Bull World Health Organ.88(5):350-6.

Referensi Modul 2C1

 

 

Modul 2B-4

 

2.B.4. Aplikasi Prinsip-Prinsip Etika Dalam HPSR

  Tujuan Pembelajaran

•  Memahami prinsip-prinsip etika dalam HPSR
•  Merumuskan upaya-upaya untuk menjaga etika dalam HPSR

 

  Isi Modul

Sebagaimana dalam penelitian-penelitian lain pada umummnya, prinsip-prinsip etika penting untuk dijaga dalam HPSR. Meskipun fokus HPSR berbeda dengan penelitian kesehatan lain, selalu terdapat isu kesenjangan kekuasaan antara peneliti dengan yang diteliti, sehingga ada potensi untuk perlakuan yang kurang adil atau kurang menghormati. Robson (2002) mengusulkan bahwa semua peneliti perlu mencermati sepuluh praktik dalam penelitian yang dapat dipertanyakan secara etis:

•  Melibatkan orang tanpa persetujuan
•  Memaksa/menekan orang untuk berpartisipasi dalam penelitian
•  Menyembunyikan informasi mengenai esensi penelitian
•  Mengelabui responden
•  Mendorong responden untuk melakukan tindakan yang mengurangi rasa percaya diri
•  Melanggar hak untuk memutuskan sendiri
•  Memaparkan responden terhadap stress fisik ataupun mental
•  Melanggar privasi
•  Menahan manfaat bagi beberapa responden
•  Memerlakukan responden secara kurang adil atau hormat

Pertanyaan-pertanyaan tersebut berlaku untuk semua penelitian kesehatan. Tantangannya lebih besar dalam konteks penelitian lintas-budaya, misalnya saat peneliti dari negara maju menjalankan HPSR di negara berkembang (Molyneux et al 2009). Sehingga salah satu dari delapan prinsip etika yang diajukan oleh Emanuel et al (2004) untuk penelitian klinis adalah kemitraan kolaboratif antara peneliti dan sponsor dari negara maju dengan peneliti, pengambil kebijakan dan komunitas di negara berkembang. (Box 1).

Meskipun demikian, karena memang HPSR secara esesnial berbeda dengan penelitian kedokteran, terdapat beberapa perdebatan dan tantangan etis di area ini. Molyneux et al (2009) merumuskan empat upaya sebagai berikut untuk menerjemahkan delapan prinsip di atas dalam konteks HPSR berdasarkan pengalaman menjalankan HPSR di beberapa negara .

Peneliti HPSR harus menjaga:

  1. Validitas ilmiah dan trustworthiness data – melalui pelatihan yang cermat dan detail untuk semua staf peneliti, termasuk tenaga lapangan, untukmembekali mereka dengan sikap dan ketrampilan komunikasi yang diperlukan untuk menjalankan wawancara yang berkualitas dan mengatasi perbedaan kebangsaan, gender ataupun pendidikan dengan responden; Memerlakukan tenaga lapangan sebagai mitra sejati dalam penelitian, mengingat pengaruh penting mereka terhadap kualitas data.
  2. Nilai sosial dan rasio risiko-manfaat penelitian – dengan secara cermat mempertimbangkan risiko dan manfaat partisipasi dalam studi baik pada tingkat individu maupun komunitas, melalui interaksi dengan berbagai pemangku kepentingan di awal penelitian dan review serta refleksi secara terus menerus selama penelitian
  3. Informed consent dan respek bagi semua responden dan komunitas – dengan mengupayakan agar semua anggota tim peneliti memahami pesan-pesan utama penelitian dan dapat meminta bantuan bila menjumpai permasalahan etis yang tidak terduga; dan dapat menujukkan sikap hormat terhadap responden dalam semua interaksi dengan komunitas; dan re-negosiasi pola hubungan bila diperlukan daripada semata menekankan pada prosedur konsen formal (yang bisa jadi tidak dimungkinkan dalam HPSR atau berdampak negatif pada hubungan dengan responden yang sangat diperlukan untuk pengumpulan data).
  4. Review independen – dengan membantu komite etis untuk mencermati proses penelitian dan interaksi antara berbagai pelaku dalam HPSR, sehingga tidak hanya menekankan pada disain studi dan instrumen.

Pada intinya "Hubungan sosial yang terjalin antara para peneliti, tim lapangan dan anggota komunitas, sangat penting untuk memenuhi aspek moral dari panduan etika" (Molyneux et al 2009). Hubungan-hubungan tersebut akan selalu penting dalam HPSR, baik dalam konteks responden dari masyarakat umum maupun elit politik.

Box 1. Prinsip-prinsip etika penelitian klinis di negara berkembang (Emanuel et al, 2004)

tb2b4 

 

  Bahan belajar

Emanuel et al (2004) What Makes Clinical Research in Developing Countries Ethical? The Benchmarks of Ethical Research.
Journal of Infectious
Diseases, 189:930–937

http://www.kebijakankesehatanindonesia.net/images/2012/IDRC/Referensi_Modul_2B4.pdf

 

  Kegiatan Pembelajaran

Pertanyaan
Bagaimana anda akan menjaga prinsip-prinsip etika dalam penelitian anda ?

Jawaban dikirim ke pengelola dengan cara:
File ditulis dalam word dan diberi kode: XYYYM2B4.doc

Keterangan:

X       = nomor fasilitator anda.
YYY    = kode nama peserta
M2B4 = Modul2B4

 

  Kirim tugas ke This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it..

Jangan lupa memberi cc ke email setiap fasilitator yang telah ditunjuk untuk anda.

Tugas paling lambat dikirim tanggal 22 Desember 2012, jam 24.00

 

Modul 2B-3

2.B.3. Mengupayakan Kualitas Penelitian

  Tujuan Pembelajaran

• Memahami konsep kualitas dalam HPSR
• Merumuskan upaya-upaya untuk meningkatkan kualitas dalam HPSR

 

  Isi Modul

Secara umum kriteria-kriteria yang digunakan selama ini dalam menilai kualitas penelitian tergantung pada paradigma yang diikuti. Penelitian dengan paradigma positivist cenderung menekankan validitas dan realibilitas (diupayakan melalui disain penelitian, pengembangan instrumen dan pengumpulan data yang cermat serta analisis statistik yang sesuai), sedangkan penelitian dengan paradigma relativist mempertimbangkan trustworthiness analisis – seberapa jauh nilainya selain dalam contoh-contoh yang dipertimbangkan. Tabel 1 memaparkan kontras antara penelitian yang berbasis disain yang sudah ditetapkan (paradigma positivist) dan penelitian dengan basis disain yang fleksibel (paradigma relativist). Tabel 2 menguraikan bagaimana trustworthiness dapat diupayakan dengan memberikan informasi tentang disain penelitian, pengumpulan data serta proses analisis dan interpretasi data.

Pada intinya, HPSR selalu memerlukan pendekatan kritis yang berbasis pada empat proses utama:

  • Proses mempertanyakan dan memeriksa secara aktif selama penelitian (Thomas, 1998): mempertanyakan bagaimana dan mengapa sesuatu terjadi – tidak hanya apa yang terjadi; memeriksa jawaban pertanyaan untuk mengidentifikasi isu-isu yang perlu ditindaklanjuti untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam
  • Proses konsepsualisasi dan rekonsepsualisasi (Thomas, 1998): menggunakan ide dan teori untuk mengembangkan pemahaman awal permasalahan atau situasi yang dikaji, untuk mengarahkan pengumpulan data namun juga menggunakan data yang terkumpul untuk mempertanyakan gagasan-gagasan dan asumsi-asumsi sebelumnya dan, bila diperlukan, merevisi gagasan mengikuti perkembangan bukti yang terkumpul
  • Merumuskan penilaian interpretatif (Henning, 2004) berbasis bukti yang cukup, terutama mengenai konteks. Untuk justifikasi kesimpulan dan juga pertimbangan yang cermat terhdapat bukti kontradiktif (analisis kasus negatif) dan kajian ulang interpretasi awal oleh responden (member checking)
  • Relektifitas peneliti: mengupayakan transparansi tentang bagaimana asumsi peneliti dapat mempengaruhi interpretasi dan menguji asumsi dalam analisis (Green & Thorogood, 2009)

Tabel 1. Kriteria dan pertanyaan untuk meniilai kualitas penelitian (Robson, 2002)

Disain telah ditetapkan

Disain fleksibel

Reliabilitas: apakah pengukuran variabel reliabel?

Konfirmabilitas: apakah data mengkonfirmasi temuan-temuan utama dan mengarah pada implikasi-implikasinya?

Validitas konstruk: apakah peneliti mengukur yang ingin diukur oleh peneliti?

Dependability : apakah proses penelitian logis dan terdokumentasi dengan baik

Validitas internal: apakah penelitian menunjukkan hubungan sebab-akibat secara logis?

Kredibilitas: apakah terdapat kecocokan antara pandangan responden dan rekonstruksi yang dilakukan oleh peneliti?

Validitas eksternal: apakah hasil penelitian dapat digeneralisasikan secara statistik?

Transferrabilitas: apakah penelitian menghasilkan insight yang dapat ditransfer ke setting lain?

Tabel 2. Proses untuk mengupayakan kualitas dalam studi kasus dan pengumpulan serta analisis data kualitatif

Prinsip

Deskripsi

Interaksi jangka panjang (prolonged engagement)

Dalam HPSR, peneliti sering harus mengandalkan wawancara yang panjang dan berulang dengan para responden, dan/atau berinteraksi berhari-hari/berminggu-minggu dalam satu setting studi kasus.

Penggunaan teori

Teori diperlukan untuk mengarahkkan seleksi sampel, pengumpulan data dan analisis, serta analisis interpretatif

Pemilihan kasus

Pemilihan purposif untuk menguji teori dan asumsi awal atau untuk mengkaji kasus yang umum atau pengecualian

Sampling

Orang, tempat, waktu, dsb, awalnya untuk meliputi sebanyak mungkin faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku mereka yang dikaji (selanjutnya diperluas berdasar temuan awal). Mengumpulkan pandangan dari berbagai perspektif dan responden untuk menghindari dominasi satu pandangan

Multiple method

Menggunakan beberapa metode sekaligus untuk studi kasus

Triangulasi

Mencari pola konvergensi dengan membandingkan hasil antar bukti, antar peneliti, antar metode, dengan teori

Analisis kasus negatif

Mencari bukti yang kontradiktif terhadap penjelasan peneliti dan teori, serta mempertajamnya berdasar bukti tersebut

Peer debriefing

Review temuan dan laporan oleh peneliti lain

Validasi responden
(member checking)

Review temuan dan laporan oleh responden

Audit trail

Dokumentasi semua aktifitas yang dapat dipelajari oleh orang lain dan memaparkan secara lengkap bagaimana metode penelitian berkembang

 

  Bahan belajar

Gilson L et al. (2011). Building the field of health policy and systems research: social science matters.
PLoS Medicine 8(8):e1001079.

http://www.kebijakankesehatanindonesia.net/images/2012/IDRC/Referensi_Modul_2B3.pdf

 

  Kegiatan Pembelajaran

Pertanyaan
Bagaimana anda akan mengupayakan supaya penelitian anda berkualitas ?

Jawaban dikirim ke pengelola dengan cara:
File ditulis dalam word dan diberi kode: XYYYM2B3.doc

Keterangan:

X       = nomor fasilitator anda.
YYY   = kode nama peserta
M2B3 = Modul2B3

 

 Kirim tugas ke This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it..

Jangan lupa memberi cc ke email setiap fasilitator yang telah ditunjuk untuk anda.

Tugas paling lambat dikirim tanggal 19 Desember 2012, jam 24.00

 

 

 

  • toto
  • bandar togel 4d
  • live draw sgp
  • togel4d
  • slot777
  • scatter hitam
  • togel online
  • toto 4d/
  • toto slot
  • slot dana
  • bandar slot
  • scatter hitam
  • slot dana
  • slot resmi
  • bandar slot resmi
  • bandar slot
  • slot resmi
  • agen toto
  • slot dana
  • deposit 5000
  • login togel4d
  • link gacor
  • toto slot
  • situs slot
  • slot online
  • togel online
  • slot gacor
  • totoslot
  • wengtoto
  • bandar togel
  • toto slot
  • rajabandot
  • resmi 777
  • situs bandar slot
  • agen slot
  • bandar slot
  • slot online
  • bandar slot terbaik
  • slot resmi
  • slot88
  • slot 1000
  • jp togel
  • slot resmi terpercaya
  • slot gacor
  • slot resmi
  • slot online
  • rajabandot
  • togel4d
  • togel4d
  • togel4d
  • slot kasih maxwin
  • sultan slot
  • slot gacor bagi thr
  • bandar slot
  • slot777
  • slot asia
  • tototogel
  • jptogel
  • slot 1000
  • bandar slot asia
  • bandar slot terbesar
  • bandar slot gacor
  • situs bandar slot
  • slot online
  • toto 5000
  • href="https://www.socnatural.com/">toto5000 href="https://twsocial.co.uk/">slot asia href="https://vatrefundagency.co.za/">slot online resmi