PKMK-Jakarta. Dialog ini merupakan acara yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan untuk menandai diluncurkannya buku Arsitektur Sistem Informasi Pendanaan Kesehatan yang ditulis bersama oleh tim gabungan Pusat Data dan Informasi serta Pusat Pembiayaan Kesehatan, Kementerian Kesehatan. Dialog tersebut dilaksanakan di Jakarta pada Rabu (30/9/2026).
Sistem Informasi Pendanaan Kesehatan (SIPK) merupakan platform untuk menyatukan seluruh data anggaran kesehatan di Indonesia. Sistem ini dirancang agar aman, mudah dikembangkan, saling terhubung, dan bisa dipakai dalam jangka panjang. Cara kerjanya cukup praktis: data dari berbagai instansi ditarik melalui ketikan manual, unggahan berkas, atau sistem otomatis (API). Seluruh data tersebut disaring dalam satu wadah terpusat untuk mencegah adanya data ganda. Agar sistem ini berjalan lancar, banyak pihak yang harus ikut mengisi datanya. Mulai dari internal Kemenkes, Kemenkeu, Kemendagri, BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan, pemerintah daerah, rumah sakit atau puskesmas, hingga perusahaan swasta dan lembaga sosial.
Dokumen ini berusaha menjawab tantangan pengumpulan data yang saat ini masih menggunakan aplikasi yang terpisah-pisah, standar pencatatannya berbeda antar-lembaga, dan banyak pengguna yang belum melek digital. Masalah ini terjadi dari pusat hingga daerah. Akibatnya, laporan sering terlambat, petugas harus menginput data berulang kali, dan tim masih harus mengecek dokumen secara manual. Hal ini otomatis memperlambat penyatuan data daerah seperti Provincial Health Account (PHA) dan District Health Account (DHA) ke pusat. Jika SIPK berjalan secara optimal, ini sangat membantu pemerintah pusat dan daerah untuk membuat kebijakan anggaran yang tepat sasaran berlandaskan data riil. Pemerintah bisa memantau ke mana saja belanja kesehatan mengalir, mengevaluasi program JKN, bahkan menghitung biaya riil pelayanan rumah sakit.
Sebuah peta jalan disusun untuk membenahi masalah teknis ini secara bertahap, terdiri atas 4 pilar utama yaitu Arsitektur Layanan, Arsitektur Data, Arsitektur Teknologi dan Arsitektur Keamanan. Fokus utamanya adalah merapikan tata kelola data, menyamakan format laporan, membuat sistem otomatis yang saling terhubung, serta melatih kemampuan digital para petugas. Oleh karena itu, di Kementerian Kesehatan terdapat pembagian peran yang jelas terkait peta jalan ini. Pusdatin akan fokus mengamankan data dan memperkuat infrastruktur teknologi. Sementara itu, Pusat Pembiayaan Kesehatan akan mengawal fungsi analisis dan layanannya. Di sisi lain, instansi terkait dan pemerintah daerah wajib menyesuaikan sistem kerja mereka agar sejalan dengan standar digital pemerintah (Sistem Pemerintah Berbasis Elektronik/SPBE) yang berlaku.
Acara dibagi ke dalam dua panel. Panel pertama membahas data belanja kesehatan (National Health Account), sementara panel kedua membahas mengenai penilaian teknologi kesehatan (Health Technology Assessment).
National Health Account
Panel pertama dibuka oleh paparan “Advancing Health Accounts in the Digital Era” yang disampaikan oleh Intan Novia Fatma Nanda (Ketua Tim Analisis Belanja Kesehatan, Pusat Pembiayaan Kesehatan Kemenkes). Beberapa hal yang disampaikan antara lain pertama tren kenaikan anggaran kesehatan: total belanja kesehatan Indonesia pada estimasi NHA 2025 melonjak hingga Rp664 triliun (USD 41 miliar), atau meningkat 17,7% dibanding 2020. Skema publik menyumbang 59,3% (Rp393,8 T) dan skema non-publik sebesar 40,7% (Rp270,2 T). Kedua terjadi tekanan besar pada JKN yaitu lonjakan biaya ini paling besar didorong oleh pengeluaran program JKN untuk penyakit katastropik. Sebagai contoh, belanja penyakit jantung di Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjut (FPKTL) meningkat tajam hingga 174% (dari Rp7,7 T menjadi Rp21,1 T) seiring kenaikan jumlah kunjungan sebesar 118% sejak 2020. Ketiga, upaya pelaporan tepat waktu (T-1 Production). Sejak 2022, Indonesia menerapkan produksi data National Health Account (NHA) berbasis T-1 (pelaporan data setahun sebelumnya). Hal ini bertujuan agar bukti-bukti belanja kesehatan bisa disajikan lebih cepat dan dekat dengan siklus penentuan kebijakan. Ini bukan hal mudah karena proses penyusunan NHA ini sangat kompleks karena mentransformasikan berbagai sumber data (anggaran pemerintah, data JKN, survei rumah tangga, pembiayaan swasta) melalui penyaringan ketat, pemetaan klasifikasi System of Health Accounts (SHA), serta penjaminan kualitas untuk menghasilkan output multidimensi.
Oleh karena itu, Pusat Pembiayaan Kesehatan menyambut baik adanya SIPK sebagai bagian dari digitalisasi pendanaan Kesehatan. Langkah operasional digital ini didukung penuh oleh penguatan regulasi melalui PP Nomor 28 Tahun 2024 serta usulan Rancangan Keputusan/Peraturan Menteri Kesehatan (RKMK) Pendanaan Kesehatan.
Dalam panel terdapat pula pembicara dari dinas kesehatan, dan rumah sakit untuk menyampaikan perspektif yang berbeda. Berbagai tantangan pengisian dan analisis District Health Account dibahas. Hasil analisis DHA di Kabupaten Sampang menunjukkan belanja kesehatan terbesar masih ada belanja obat, SDM dan operasional. Sumber terbesarnya secara proporsional masih dana BPJS-K khususnya sektor RS, sementara OOP hampir seimbang dengan itu. Belanja UKP masih mendominasi dibandingkan UKM. Di sisi lain, RS menyoroti tuntutan pelaporan data keuangan yang diwajibkan tersebut, dan menggarisbawahi pertanyaan mendasar tentang apa manfaat dan timbal balik yang didapat RS.
Panel kedua dibuka oleh paparan “Membangun Masa Depan PTK Indonesia: Penguatan Bukti, Data, dan Inovasi Digital” yang disampaikan oleh Pusat Kebijakan Sistem Sumber Daya Kesehatan (SSDK). Disampaikan bahwa sistem kesehatan di Indonesia saat ini menghadapi peningkatan beban penyakit, terbatasnya sumber daya anggaran, lonjakan biaya pembiayaan, serta maraknya perkembangan teknologi medis baru berbiaya tinggi. Oleh karena itu, penilaian Teknologi Kesehatan (PTK) hadir sebagai jembatan ilmiah antara sains (keamanan, efikasi, efektivitas klinis, biaya) dan kebijakan makro maupun mikro. Diharapkan bahwa keputusan pembiayaan program pemerintah dan JKN menjadi lebih efisien ketika seluruh karakteristik serta dampak teknologi dipertimbangkan secara matang.
Proses PTK di Indonesia telah berevolusi dari fungsi asesmen biasa menjadi instrumen kebijakan strategis lewat tiga reformasi utama:
Adaptive HTA: Menerapkan metode cepat (Rapid CEA dan Rapid Review) dengan mengoptimalkan penggunaan data sekunder yang tersedia. Langkah ini berhasil meningkatkan jumlah rekomendasi kebijakan secara signifikan sejak tahun 2024 (dari 31 rekomendasi, 61,3% sukses masuk ke paket manfaat JKN/program kesehatan). Fokus utama kajian sejauh ini didominasi oleh obat (23 topik) dan teknologi medis (14 topik).
Value-Based Pricing (VBP): Menyelaraskan harga obat atau alkes dengan nilai klinis dan ekonominya. Mekanisme ini terbukti sangat efektif memangkas anggaran karena harga negosiasi obat dapat ditekan hingga lebih dari 50%.
Stakeholder-Led Submission (SLS) / PTK Mandiri: Membuka jalur mandiri satu pintu digital bagi pemangku kepentingan untuk melakukan studi HTA secara mandiri. Terdapat 42 topik yang masuk dalam skema SLS ini (18 siap diajukan tahun 2026, dan 24 direncanakan tahun depan).
Selain itu dibahas pula mengenai Izin Edar Perangkat Lunak (Kepmenkes 951/2026) yang mengatur tata cara izin edar perangkat lunak medis mandiri (SaMD), tertanam (SiMD), maupun aplikasi kecerdasan buatan (Al). Aturan ini mewajibkan adanya dokumen bukti klinis, validasi klinis lokal bagi alkes AI impor agar sesuai demografi populasi Indonesia, serta integrasi wajib dengan platform SATUSEHAT menggunakan standar interoperabilitas (DICOM, HL7, FHIR). Integrasi ini sekaligus bertindak sebagai Real-World Data (RWD) untuk evaluasi PTK jangka panjang. Di sisi lain, Kementerian Kesehatan juga akan memanfaatkan AI untuk mempercepat proses PTK.
Leimena Conference 2026 diselenggarakan sebagai monumen intelektual yang menjembatani sejarah panjang kesehatan publik Indonesia dengan ambisi besar menuju Indonesia Emas 2045. Konferensi ini tidak sekadar menjadi ajang pertukaran data ilmiah, melainkan sebuah reaktualisasi dari semangat “Bandung Plan” 1951. Gagasan visioner yang diletakkan oleh dr. Johannes Leimena dan dr. Abdul Patah ini merupakan fondasi pelayanan kesehatan primer yang bahkan mendahului konsensus global Deklarasi Alma Ata tahun 1978.
Konferensi ini mempertemukan para pembuat kebijakan, akademisi, dan praktisi untuk memperkuat integrasi layanan primer (ILP). Melalui forum ini, narasi transformasi kesehatan diposisikan bukan sebagai program teknokratis semata, melainkan sebagai mesin penggerak kualitas hidup bangsa. Penyelenggaraan tahun ini menjadi sangat krusial karena menandai titik balik transisi sistem kesehatan nasional yang semakin responsif terhadap dinamika demografis dan tantangan global, yang secara teknis memerlukan standarisasi dan validasi berbasis data yang presisi di seluruh pelosok Indonesia.
Transformasi Layanan Primer Menjadi Fokus Utama Pembukaan Leimena Conference 2026
PKMK-Jakarta – Leimena Conference 2026 resmi dibuka dengan menegaskan komitmen pemerintah dan para mitra pembangunan dalam memperkuat transformasi layanan kesehatan primer sebagai fondasi sistem kesehatan Indonesia. Rangkaian pembukaan menghadirkan Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kementerian Kesehatan RI, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Duta Besar Australia untuk Indonesia, serta Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Seluruh pembicara menyoroti pentingnya kolaborasi, inovasi, dan kebijakan berbasis bukti untuk mewujudkan layanan kesehatan primer yang merata dan berkelanjutan.
Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kementerian Kesehatan RI, dr. Maria Endang Sumiwi, M.P.H., membuka sesi ilmiah bertajuk Setting the Stage: PHC Stronger Together: Indonesia’s Integrated Approach to Primary Health Care. Dalam paparannya, Maria menjelaskan bahwa transformasi layanan kesehatan primer terus dipercepat melalui implementasi Integrasi Layanan Primer (ILP), penguatan kapasitas kader Posyandu, serta pembangunan sistem pelayanan berbasis populasi hingga tingkat desa dan kelurahan.
Hingga pertengahan 2026, implementasi ILP telah menjangkau sekitar 9.000 Puskesmas atau 87 persen dari total 10.300 Puskesmas di Indonesia. Menurutnya, transformasi ini mengubah pendekatan pelayanan dari yang sebelumnya berbasis program menjadi pendekatan berbasis siklus hidup (life cycle approach) sehingga pelayanan menjadi lebih terintegrasi dan berpusat pada kebutuhan masyarakat. Penguatan sumber daya manusia juga menjadi perhatian utama. Sebanyak 1,5 juta kader Posyandu telah didata sebagai bagian dari standardisasi nasional, sementara 485.000 kader telah mengikuti uji kompetensi pada 25 keterampilan dasar untuk meningkatkan mutu layanan di tingkat komunitas.
Maria juga memperkenalkan rencana implementasi Unit Pelayanan Kesehatan Desa/Kelurahan (UPKDK) yang akan diawali melalui tahap percontohan sebelum diterapkan secara nasional. Kehadiran UPKDK memungkinkan identifikasi populasi dalam kelompok kecil, sekitar 500 hingga 1.000 penduduk, sehingga intervensi kesehatan dapat dilakukan secara lebih tepat sasaran. Selain itu, sebanyak 698 abstrak penelitian yang terkumpul dalam konferensi diharapkan menjadi sumber bukti ilmiah bagi pengembangan kebijakan kesehatan berbasis evidence.
Selanjutnya, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si., menyampaikan materi Strengthening Primary Health Care through National Research and Innovation. Ia menegaskan bahwa riset dan inovasi merupakan fondasi utama dalam membangun sistem kesehatan yang tangguh, terutama melalui pengembangan teknologi kesehatan, genomik, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), serta komputasi berperforma tinggi (High-Performance Computing/HPC).
Arif menjelaskan bahwa perubahan iklim telah memengaruhi kualitas pangan, termasuk penurunan kandungan zat gizi mikro, sehingga diperlukan inovasi varietas tanaman yang lebih resilien. Di sisi lain, BRIN mendukung modernisasi seluruh Puskesmas melalui penyediaan teknologi diagnostik seperti USG dan X-ray.
Pihaknya juga menyampaikan bahwa Indonesia telah memiliki fasilitas HPC yang termasuk salah satu yang tercanggih di Asia Tenggara dan masuk dalam jajaran Top 500 dunia. Infrastruktur tersebut menjadi modal penting bagi pengembangan precision public health, genomik, dan kecerdasan buatan. Menurutnya, pemanfaatan AI perlu berkembang dari sekadar decision support menuju execution support atau robotic medicine agar pelayanan medis menjadi semakin presisi. Namun demikian, inovasi kesehatan nasional tetap membutuhkan validasi global dan kolaborasi internasional agar mampu memberikan dampak yang lebih luas.
Perspektif internasional disampaikan oleh Rod Brazier, Duta Besar Australia untuk Indonesia, melalui sesi A Shared Vision for Health Equity: Journey Toward Universal Primary Health Care. Ia menegaskan bahwa kemitraan Indonesia dan Australia terus diperkuat melalui berbagai program, termasuk Kita Sehat dan Partnerships for Healthy Region, sebagai upaya mendukung transformasi layanan kesehatan primer.
Rod menekankan bahwa keberhasilan layanan kesehatan primer tidak hanya ditentukan oleh besarnya investasi, tetapi juga oleh kualitas interaksi antara tenaga kesehatan dan masyarakat. Rod mengapresiasi konsistensi Indonesia dalam menjaga momentum reformasi kesehatan yang berorientasi pada hasil serta menilai bahwa investasi di sektor kesehatan merupakan investasi pembangunan yang akan meningkatkan produktivitas ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Kolaborasi kedua negara diharapkan mampu memperkuat kemandirian sistem kesehatan Indonesia sekaligus meningkatkan ketahanan kesehatan kawasan.
Pada sesi sambutan pembukaan, Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin, menegaskan bahwa transformasi kesehatan merupakan strategi utama untuk meningkatkan produktivitas nasional dan membawa Indonesia keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle-income trap) menuju negara maju.
Menteri Kesehatan menjelaskan bahwa Indonesia perlu meningkatkan pendapatan nasional bruto (GNI) per kapita hingga sekitar USD14.000 agar dapat mencapai status negara maju. Menurutnya, bonus demografi pada periode 2035–2040 hanya akan memberikan manfaat apabila penduduk usia produktif tetap sehat dan memperoleh layanan kesehatan yang optimal.
Pihaknya juga mengingatkan bahwa struktur penduduk Indonesia telah berubah. Saat ini jumlah lansia mencapai sekitar 30 juta orang, melampaui jumlah balita yang sekitar 22 juta. Kondisi tersebut menuntut perubahan pendekatan pelayanan kesehatan dari yang berorientasi pada penyakit (disease-based) menjadi pelayanan yang berpusat pada manusia (people-centered) dengan pendekatan siklus hidup.Budi Gunadi Sadikin menekankan bahwa transformasi kesehatan tidak dapat hanya menjadi program pemerintah, tetapi harus berkembang menjadi gerakan bersama seluruh elemen masyarakat. Pihaknya juga mendorong para peneliti menghasilkan riset yang memberikan dampak nyata bagi keselamatan dan kualitas hidup masyarakat, bukan sekadar memenuhi target akademik maupun publikasi ilmiah. Dalam kesempatan tersebut, ia mengajak seluruh peserta untuk menjadikan warisan pemikiran dr. Johannes Leimena sebagai inspirasi dalam membangun layanan kesehatan yang hadir pada setiap fase kehidupan masyarakat Indonesia.
Sebagai puncak rangkaian pembukaan, Menteri Kesehatan bersama Kepala BRIN, Duta Besar Australia untuk Indonesia, serta Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas secara resmi meluncurkan Pedoman Unit Pelayanan Kesehatan Desa/Kelurahan (UPKDK). Peluncuran tersebut menjadi simbol dimulainya implementasi nasional UPKDK sebagai bagian dari transformasi layanan kesehatan primer di Indonesia.
Pedoman ini diharapkan menjadi acuan dalam mendekatkan layanan kesehatan hingga tingkat desa dan kelurahan melalui pendekatan berbasis populasi. Dengan sistem yang lebih terintegrasi, responsif, dan inklusif, UPKDK diharapkan mampu memperkuat pemantauan kesehatan masyarakat pada setiap fase kehidupan sekaligus mendukung terwujudnya visi Indonesia Emas 2045.
Keynote Speech
PHC Today, Tomorrow, and Beyond: A Global Vision for Our Region Lluis Vinyals Torres (Director Division of Health Systems and Services, WHO WPRO)
WHO WPRO menyoroti bahwa cakupan Kesehatan semesta tidak mungkin dapat tercapai tanpa layanan primer yang kuat. OOP turun ke 20% dalam 40 tahun terakhir, salah satunya didorong oleh pengurangan kemiskinan dan tersedianya mekanisme cakupan Kesehatan semesta. Untuk memastikan layanan primer yang kuat, Indonesia harus segera mengatasi isu kesenjangan dan maldistribusi SDM Kesehatan, karena hanya 65% Puskesmas di Indonesia yang memiliki seluruh profesi Kesehatan yang diperlukan untuk menyediakan layanan yang komprehensif. Walau pun Indonesia telah menerapkan Jaminan Kesehatan Nasional, di antara kelompok termiskin populasi, 80% lebih masih memiliki risiko pengeluaran katastropik Ketika mengakses layanan Kesehatan. Oleh karena itu, WHO WPRO berharap Indonesia terus melanjutkan upaya dan prioritisasi layanan primer. WHO WPRO akan mendukung dalam kolaborasi dengan Pemerintah Indonesia untuk menerjemahkan bukti dan praktik baik global yang cocok untuk diterapkan di Indonesia.
Regional Policy Dialogue on Primary Health Care – Learning from the Western Pacific: Innovations in Integrated Primary Health Care Moderator: Lluis Vinyals Torres (Director, Division of Health Systems and Services, WHO WPRO)
Japan – Haruka Sakamoto – Healthy Ageing and Community-Based Integrated Care
Fokus Utama dari pembicara adalah tentang sistem perawatan terintegrasi berbasis komunitas untuk menghadapi populasi yang menua (aging population). Jepang memiliki system cakupan Kesehatan semesta pada tahuan 1961 ketika populasinya masih “muda”, namun kini harus mengadaptasi layanannya karena populasinya semakin menua.
Poin Pembelajaran (Key Takeaways):
Pengembangan layanan jangka panjang (long-term care insurance) yang terhubung langsung dengan fasilitas kesehatan primer.
Layanan terintegrasi yang berbasis komunitas di Jepang difokuskan kepada kombinasi antara GP dan home visit, frailty screening untuk usia 75 tahun ke atas, perumahan yang diadaptasi untuk kebutuhan lansia, dan daily allowance support serta system transportasi yang juga disesuaikan. Layanan berbasis komunitas ini dikomandoi oleh care manager (seorang perawat), dan sistemnya dikepalai oleh masing-masing municipality, bukan oleh sektor Kesehatan.
Kolaborasi erat antar-sektor di tingkat komunitas (community-based) guna memastikan lansia tetap mandiri, aktif, dan mendapatkan akses perawatan kesehatan yang berkesinambungan di lingkungan tempat tinggal mereka.
Fiji – Roderick Salenga, Delivering Primary Health Care in Small Island and Remote Settings
Fokus Utama pembicara adalah strategi distribusi layanan kesehatan primer di wilayah kepulauan kecil dan daerah terpencil (remote settings), karena Fiji merupakan salah satu negara kepulauan kecil di Pasifik.
Poin Pembelajaran (Key Takeaways):
Adaptasi model pelayanan kesehatan yang fleksibel untuk mengatasi tantangan geografis, keterbatasan logistik, serta akses transportasi.
Penguatan peran petugas kesehatan garis depan (frontline health workers) dan pendekatan penjangkauan (outreach services) guna menjangkau populasi yang terisolasi secara geografis.
WHO mendukung 21 negara kepulauan di Pasifik melalui Multi country Cooperation Strategy (MCCS) 2024 – 2029. Fiji sebagai negara kepulauan kecil (populasi kurang dari 1 juta penduduk) menjadikan layanan primer sebagai tulang punggungnya.
Bulan lalu, dokumen kebijakan strategis Fiji yang baru mengubah focus dari fragmented program menjadi coordinated team-based primary care, dan pola layanan yang seragam diubah menjadi fleksibel sesuai kebutuhan wilayah.
Essential health benefit package kemudian disesuaikan untuk mencerminkan pola layanan tersebut. Hal ini penting karena titik awal essential health benefit tidak dilihat sebagai paket manfaat seragam yang cenderung ‘over-promised’ untuk sisi penyedia layanan yang belum tentu siap untuk melaksanakannya.
China, Ruikan Yang, NPO WHO Office China – Integrated People-centered care
Fokus Utama pembicara adalah transformasi layanan kesehatan melalui pendekatan yang berpusat pada masyarakat dan terintegrasi (Integrated People-Centered Care / IPCC). Hal ini penting karena kebutuhan Kesehatan yang berubah membutuhkan cara yang berbeda untuk menyediakan layanan, padahal saat ini terjadi beberapa mismatch antara kebutuhan dengan setting layanan. Sebagai contoh, dengan kelompok Masyarakat yang semakin menua membutuhkan layanan yang bersifat long-term dan continuous care, sedangkan system Kesehatan saat ini diorganisir untuk layanan yang bersifat episodic.
Poin Pembelajaran (Key Takeaways):
Pentingnya integrasi layanan mulai dari tingkat pencegahan, promotif, kuratif, hingga rehabilitatif dalam satu sistem rujukan yang mulus. PCIC difokuskan pada kesetaraan dan akses, integrasi dan kontinuitas, kualitas dan efisiensi, dan tujuan akhirnya adalah ketahanan Kesehatan.
Komponen PCIC adalah model layanan sepanjang life course, didukung oleh team cased care and input dari spesialis, didukung oleh pembayran menginsentif continuity of care, quality and outcome, serta digitalisasi.
PCIC menggunakan siklus belajar : global evidence menginformasi reform design, proses adaptasi menjadi local reform, dan akhirnya ditetapkan sebagai national policy.
Mr. Jinam Choi, Republic of Korea – Digital tools supporting quality improvement
Fokus Utama pembicara adalah pemanfaatan digitalisasi untuk meningkatkan mutu dan efisiensi layanan primer.
Poin Pembelajaran (Key Takeaways):
Integrasi teknologi dan pengelolaan data kesehatan berbasis digital membantu tenaga medis dalam pengambilan keputusan klinis yang lebih akurat.
Di Korea, HIRA (big data infrastruktur) menjadi jembatan antara data Kementrian FDA, penyedia layanan/faskes, NHIS (system informasi asuransi), Kementerian Kesehatan, Kementerian Kehakiman (untuk informasi imigran), Kementerian Dalam Negeri (untuk informasi penduduk). HIRA menjalankan system untuk 140juta kasus per tahun, dan memungkinkan pemanfaatannya untuk AI.
Namun, untuk memastikan HIRA dan bridging berbagai system ini, diperlukan standarisasi data.
Digitalisasi mempercepat pemantauan indikator mutu layanan, pelaporan, serta akses pasien terhadap rekam medis yang terintegrasi.
Dr. Mrunal Shetye, UNICEF Indonesia – Strengthening Community Health Systems for Integrated Primary Health Care
Fokus Utama pembicara adalah bagaimana penguatan sistem kesehatan komunitas untuk mendukung integrasi layanan primer (ILP) di Indonesia.
Poin Pembelajaran (Key Takeaways):
UNICEF menyampaikan pentingnya community-outreach sebagai tulang punggung layanan primer. Oleh karena itu, diperlukan penguatan kapasitas kader posyandu dan tenaga kesehatan desa sebagai garda terdepan promotif-preventif.
Pentingnya dukungan lintas sektor dan kemitraan strategis sektor Kesehatan dengan sektor lain (seperti bersama UNICEF) dalam memastikan sistem kesehatan di tingkat akar rumput memiliki resiliensi dan sumber daya yang memadai.
Regional Policy Dialogue on Primary Health Care -Accelerating Primary Health Care in South-East Asia: Country Experiences, Digital Innovation, and Future Readiness
Moderator: Ibadat Dhillon (Unit Head Primary Health Care, Human Resources for Health, and Traditional Complementary and Integrative Medicine, WHO SEARO)
PKMK-Jakarta. Sesi dialog kebijakan regional ini mempertemukan para pembuat kebijakan dan pakar kesehatan dari berbagai negara di kawasan Asia Tenggara dan Selatan untuk berbagi pengalaman terbaik (best practices) dalam mentransformasi layanan kesehatan primer (PHC). Diskusi dibuka oleh moderator dengan sorotan khusus dari WHO mengenai bagaimana akselerasi pertumbuhan penduduk lansia di Asia meningkat dari 7% ke 14% dari populasi hanya dalam waktu 2 dekade, jauh lebih cepat dari Kawasan lain. Oleh karena itu di kawasan Asia, transformasi Kesehatan berlangsung masif dan terjadi pergeseran yang mirip yaitu fokus pada layanan primer.
India – Kiran Gopal Vaska, CEO of India’s Ayushman Bharat Digital Mission & Additional CEO of National Health Authority Topik: Digital Health and Integrated Information System
Kiran menyampaikan sejumlah poin kunci diantaranya, India membagikan pengalamannya dalam membangun fondasi kesehatan digital nasional melalui Ayushman Bharat Digital Mission (ABDM). Sistem ini dirancang untuk menciptakan interoperabilitas data kesehatan secara mulus melalui penciptaan identitas kesehatan digital unik bagi setiap warga negara. Interoperabilitas menjadi kunci penting dalam transformasi Kesehatan di India yang semula berupa silo-silo. Kini, ada unique identifier di seluruh platform yang ada di sektor kesehatan. Hal ini memungkinkan pemerintah memiliki longitudinal health records untuk setiap anggota populasi, dan masyarakat juga bisa akses data mereka sendiri untuk melihat pola akses layanan kesehatan yang mereka lakukan, dan ringkasan (yang dibuat oleh AI) riwayat kesehatan mereka. Menariknya, data ini tersedia baik mereka mengakses layanan publik atau pun swasta. Integrasi informasi yang masif ini terbukti mampu memangkas birokrasi layanan, mempercepat rujukan, serta memastikan kesinambungan riwayat medis pasien dari fasilitas kesehatan tingkat pertama hingga lanjutan
Thailand – Dr. Tawaytibhongs Orawan, Deputy Director, Primary Care Support Division, Ministry of Public Health Thailand – Topik: Primary Health Care Reform and Universal Health Coverage
Tawaytibhongs menekankan keberhasilan Universal Health Coverage (UHC) sangat bergantung pada ketahanan layanan kesehatan primer di tingkat akar rumput. Reformasi PHC di Thailand berfokus pada penguatan peran jaringan relawan kesehatan desa yang berkolaborasi erat dengan tenaga medis profesional. Pendekatan ini digabungkan dengan tata layanan kesehatan primer sebelumnya. Hasilnya adalah model “3 Doctors” yang sarat dengan task-shifting. “Dokter pertama” sebenarnya adalah perawat atau kader Kesehatan desa, yang merupakan ujung tombak layanan berbasis komunitas. Apabila ada hal-hal yang mereka tidak bisa tangani, “dokter pertama” akan berkonsultasi dengan dokter kedua. Dokter kedua adalah dokter yang berbasis di faskes tingkat pertama. Sebagian fungsi dan wewenangnya didelegasikan kepada “dokter pertama”. Apabila ada hal-hal yang tidak bisa ditangani oleh dokter kedua, ia akan berkonsultasi dengan dokter ketiga. Dokter ketiga adalah dokter dengan spesialisasi family medicine. Pendekatan ini memastikan alokasi sumber daya yang adil, efisiensi pendanaan kesehatan, serta pendekatan preventif dan promotif yang menjangkau seluruh lapisan masyarakat secara merata.
Srilanka – Dr. S Kumarawansha, Director – Primary Care Services, Ministry of Health and Mass Media – Topik: Family medicine and comprehensive PHC
Kumarawansha memaparkan model pelayanan berbasis kedokteran keluarga (family medicine) sebagai inti dari layanan primer yang komprehensif. Hal ini dilakukan sebagai bagian dari pergeseran layanan primer yang terfragmentasi dan bersifat reaktif menjadi layanan yang berpusat pada masyarakat (people-centered), terintegrasi dan bersifat proaktif. Pendekatan ini menempatkan dokter keluarga dan tim medis sebagai kontak pertama yang berkesinambungan, tidak hanya menangani penyakit akut tetapi juga memantau kesehatan preventif jangka panjang keluarga. Srilanka menggunakan GIS mapping untuk melakukan utilisasi optimal dari klinik komunitas yang ada, upgrade (obat dan alkes layanan dasar + laboratorium diagnosis) dan melengkapinya dengan tim dokter keluarga. Masing-masing klinik bertanggungjawab atas 7000-10000 penduduk. Tim dibagi ke dua kelompok: tim layanan komunitas dan kunjungan rumah, dan tim berbasis faskes. Tim dokter keluarga di komunitas melakukan mapping kebutuhan populasinya, kemudian melakukan tim berbasis faskes menindaklanjuti dengan screening (PTM dan kanker untuk usia 30-an, dan skrining khusus lansia untuk usia 65an). Paket manfaat di-bundle untuk 17 paket layanan. Integrasi layanan komprehensif ini sukses menekan angka rujukan yang tidak perlu ke rumah sakit sekunder maupun tersier.
Dr. Eduardo P. Banzon, ADB Topik: AI on the Frontline of Care: Lessons from Global Experience
Banzon memaparkan bagaimana teknologi kecerdasan buatan (AI) mulai mengubah lanskap layanan kesehatan primer secara global. AI di garis depan pelayanan terbukti membantu tenaga medis dalam mempercepat penegakan diagnosis awal, mengurangi kesalahan manusia, serta melakukan triase pasien secara efisien. Dukungan AI menjadi penting karena adanya layanan CKG akan meningkatkan beban penyedia layanan, sehingga AI di Indonesia harus diposisikan sebagai ‘penolong’ yang dapat mempercepat proses skrining, diagnosis, memberi rekomendasi tindakan, dan bahkan membantu proses pengambilan keputusan untuk dokter, serta mengurangi beban dokumentasi/pencatatan/pelaporan. ADB mendorong negara-negara di kawasan untuk mulai menyiapkan kerangka regulasi, infrastruktur etis, dan investasi strategis agar adopsi AI dapat diintegrasikan secara aman dan merata ke dalam sistem layanan primer.
Keynote Speech
Pembicara: Jend. Pol. (Purn.) Prof. Drs. H. Tito Karnavian, M.A., Ph.D. (Menteri Dalam Negeri RI) Topik: Kepemimpinan Pemerintah Pemerintah Daerah dalam Mendukung Transformasi Pelayanan Kesehatan Primer
Menteri Dalam Negeri menekankan bahwa kepala daerah (Gubernur, Bupati, dan Wali Kota) memegang kendali kunci dalam memastikan keberhasilan transformasi layanan kesehatan primer di tingkat daerah. Kebijakan desentralisasi menuntut komitmen kepala daerah untuk mengintegrasikan program kesehatan nasional ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) dan penganggaran APBD yang berpihak pada preventif serta promotif.
Kementerian Dalam Negeri terus mendorong sinkronisasi pusat dan daerah agar fasilitas kesehatan tingkat pertama (Puskesmas, Pustu, hingga Posyandu) mendapatkan dukungan fiskal dan administratif yang memadai. Menteri Dalam Negeri berharap agar sektor Kesehatan terus melakukan perbaikan karena Presiden menunjukkan komitmen yang tinggi untuk meningkatkan kualitas masyarakat Indonesia.
Leaders Talk: Dari Komitmen ke Dampak
Moderator: dr. Widyastuti, MKM (Sekjen ADINKES) Topik: Praktik Kepemimpinan Daerah dalam Memperkuat Pelayanan Kesehatan Primer
Sesi pleno ini menyoroti peran strategis kepemimpinan pemerintah pusat dan daerah dalam mengawal serta mengeksekusi transformasi layanan kesehatan primer (PHC) di Indonesia. Diskusi berfokus pada transisi dari sekadar komitmen politik menuju penciptaan dampak nyata di lapangan melalui sinergi lintas sektor, penguatan tata kelola pemerintahan daerah, serta optimalisasi sumber daya lokal. Diskusi berlangsung dalam format talkshow.
Perspektif kebijakan nasional Panelis : dr. Benjamin Paulus Octavianus, Sp.P(K). (Wakil Menteri Kesehatan RI)
Wamenkes memaparkan peta jalan transformasi layanan primer yang bertumpu pada pendekatan siklus hidup manusia, digitalisasi layanan Posyandu, serta penguatan jejaring pelayanan hingga tingkat desa. Wamenkes menyampaikan beberapa prioritas Kementerian Kesehatan, misalnya peningkatan akses melalui pendirian RS di berbagai wilayah, upgrade peralatan Puskesmas, serta percepatan layanan preventif melalui cek kesehatan gratis.
Kolaborasi erat dengan Kementerian Dalam Negeri dan pemerintah daerah menjadi syarat mutlak agar standar pelayanan minimal (SPM) bidang kesehatan dapat tercapai secara merata di seluruh wilayah Indonesia.
DKI Jakarta: Inovasi Perkotaan dan Integrasi Layanan Megapolitan Panelis: Ali Maulana Hakim (Asisten Kesra DKI Jakarta)
Beliau menyoroti tantangan unik pengelolaan kesehatan primer di wilayah perkotaan padat penduduk. Strategi difokuskan pada penguatan Puskesmas kelurahan, pemanfaatan ekosistem digital kesehatan terintegrasi, serta pelibatan aktif masyarakat urban dalam deteksi dini penyakit tidak menular (PTM). Komitmen Pemda DKI tercermin kuat di mana pada era efisiensi anggaran pun, Gubernur berpesan bahwa ini dikecualikan bagi pendidikan dan kesehatan melalui yang telah tepat sasaran.
Kota Bandung: Transformasi Berbasis Kolaborasi Digital dan Komunitas Panelis: Muhammad Farhan, S.E. (Wali Kota Bandung, Prov. Jawa Barat)
Wali Kota Bandung membagikan praktik baik pemanfaatan teknologi informasi untuk memangkas antrean dan mempermudah akses layanan kesehatan primer bagi warga perkotaan melalui pemanfaatan kerjasama dengan swasta. Namun, tantangannya adalah beban kualitas Kesehatan lingkungan wilayah perkotaan yang belum optimal. Beliau mengakui bahwa sampai saat ini satuannya hanya berani mengukur kualitas udara, sementara kualitas air belum. Dan beliau juga mengakui bahwa salah satu dampaknya adalah stunting yang tinggi. Selain itu, beliau menyadari peran commercial determinant of health di perkotaan, salah satunya adalah kuliner di Bandung yang memberi dampak risiko PTM tinggi, sehingga diinisiasi kegiatan olahraga di sekolah ditingkatkan dari sekali seminggu menjadi 3 kali seminggu. Tingginya kerentanan lansia dan disabilitas juga membuat Kota Bandung memberi perhatian khusus pada layanan kesehatan jiwa, serta dukungan kebijakan sosial.
Kabupaten Dharmasraya: Mengatasi Tantangan Geografis dan Akses Perdesaan Panelis: Annisa Suci Ramadhani, SH., LL.M (Bupati Dharmasraya, Prov. Sumatera Barat)
Bupati Dharmasraya menggarisbawahi pentingnya pemerataan infrastruktur kesehatan dasar untuk menjangkau masyarakat di wilayah kabupaten yang luas dan menantang secara geografis. Keberhasilan daerah ini didorong oleh alokasi anggaran yang tepat sasaran, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan di Puskesmas pembantu (Pustu), serta pendekatan jemput bola ke masyarakat.
Kabupaten Banyuwangi: Inovasi Pelayanan Publik dan Integrasi Posyandu Panelis: Hj. Ipuk Fiestiandani, S.Pd., M.KP. (Bupati Banyuwangi, Prov. Jawa Timur)
Bupati Banyuwangi memaparkan keberhasilan program integrasi layanan primer yang berfokus pada penanganan stunting dan peningkatan layanan kesehatan ibu dan anak melalui inovasi berbasis digital di tingkat desa. Konsistensi kepemimpinan lokal dan keterlibatan aktif organisasi masyarakat terbukti mampu mengubah Posyandu menjadi pusat layanan kesehatan preventif yang modern dan adaptif.
Reporter: dr. Garin Frige Janitra dan Shita Dewi (PKMK FKKMK UGM)
Hari Ke-2
Sesi Pleno I
Model Pelayanan Kesehatan Primer Terintegrasi
Peta Jalan dan Kemajuan Implementasi Integrasi Pelayanan Kesehatan Primer (Moderator: Prof. dr. Ari Natalia Probandari, MPH, Ph.D – Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret)
Implementasi Integrasi Pelayanan Kesehatan Primer (ILP) telah memasuki fase yang semakin penting. Setelah diperkenalkan sebagai salah satu strategi utama Transformasi Sistem Kesehatan Indonesia, berbagai daerah mulai menerjemahkan konsep tersebut ke dalam praktik pelayanan sehari-hari. Namun, bagaimana kemajuan implementasinya? Apa tantangan yang dihadapi daerah? Dan bagaimana memastikan integrasi benar-benar menghasilkan pelayanan yang lebih berpusat pada masyarakat?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi pembuka Sesi Pleno I yang dimoderatori oleh Prof. dr. Ari Natalia Probandari, MPH, Ph.D. Dalam pengantarnya, Prof. Ari menekankan bahwa implementasi ILP kini tidak lagi berhenti pada tataran kebijakan, tetapi telah memasuki fase pembelajaran implementasi (implementation learning). Berbagai daerah telah mulai mengembangkan model pelayanan kesehatan primer yang terintegrasi dengan karakteristik dan tantangan yang berbeda-beda. Oleh karena itu, pembelajaran dari pengalaman lapangan menjadi sangat penting untuk memperkaya kebijakan nasional sekaligus mempercepat adopsi praktik baik di berbagai wilayah Indonesia.
Keynote Speech
dr. Elvieda Sariwati, M.Epid. – Direktur Tata Kelola Pelayanan Kesehatan Primer, Kementerian Kesehatan RI Mengawal Transformasi Pelayanan Kesehatan Primer: Capaian dan Arah ILP
Membuka sesi pleno, dr. Elvieda Sariwati memaparkan arah implementasi ILP sebagai bagian dari transformasi sistem kesehatan Indonesia. Pihaknya menegaskan bahwa perubahan model pelayanan kesehatan primer bukan sekadar penyederhanaan layanan, melainkan respons terhadap perubahan pola penyakit dan tantangan kesehatan yang dihadapi Indonesia.
Berdasarkan berbagai hasil survei nasional, termasuk Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS), Indonesia mengalami pergeseran pola kematian. Jika sebelumnya perhatian lebih banyak tertuju pada penurunan angka kematian ibu dan bayi, kini beban kematian semakin didominasi oleh kelompok usia dewasa dan lanjut usia akibat penyakit tidak menular. Perubahan epidemiologi ini juga berdampak pada meningkatnya pembiayaan kesehatan yang harus ditanggung sistem kesehatan nasional.
Menurut dr. Elvieda, kondisi tersebut tidak dapat diatasi hanya dengan memperkuat pelayanan kuratif. Sebaliknya, Indonesia perlu membangun sistem kesehatan yang lebih berorientasi pada upaya promotif dan preventif, dengan pelayanan kesehatan primer sebagai fondasi utama.
“Pelayanan kesehatan primer merupakan titik kontak pertama masyarakat dengan sistem kesehatan. Oleh karena itu, penguatan layanan primer menjadi investasi jangka panjang untuk membangun sistem kesehatan yang tangguh,”jelasnya.
Dalam konteks tersebut, ILP mengubah paradigma pelayanan dari pendekatan berbasis program (programme-based services) menjadi pelayanan yang berorientasi pada siklus hidup (life-course approach). Melalui pendekatan ini, masyarakat diharapkan memperoleh pelayanan yang lebih komprehensif sesuai kebutuhan kesehatannya pada setiap fase kehidupan, tanpa terfragmentasi oleh berbagai program vertikal.
Transformasi tersebut juga memerlukan perubahan cara kerja di tingkat pelayanan. Tidak hanya memperkuat kapasitas tenaga kesehatan, tetapi juga membangun pelayanan berbasis tim, memperkuat pemberdayaan kader kesehatan, serta mengoptimalkan jejaring pelayanan mulai dari Posyandu, Pustu, hingga Puskesmas.
Sebagai landasan implementasi, Kementerian Kesehatan telah menerbitkan Permenkes Nomor 19 Tahun 2024 tentang Penyelenggaraan Pusat Kesehatan Masyarakat, yang menjadi dasar operasional pelaksanaan ILP di seluruh Indonesia. Regulasi tersebut diharapkan mampu mendorong penyelenggaraan Upaya Kesehatan Berbasis Siklus Hidup secara lebih terintegrasi, sekaligus memberikan fleksibilitas bagi daerah untuk menyesuaikan implementasi dengan konteks lokal masing-masing.
Menutup paparannya, dr. Elvieda menekankan bahwa penguatan ILP bukan sekadar program jangka pendek, melainkan investasi strategis untuk membangun ketahanan sistem kesehatan Indonesia. Keberhasilan implementasinya sangat bergantung pada kemampuan pemerintah pusat dan daerah dalam menjaga keberlanjutan kebijakan, memperkuat kolaborasi lintas sektor, serta memastikan bahwa transformasi pelayanan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.
Dr. dr. Trihono, M.Sc – Coordinator Primary Health Care (PHC) Consortium Pemetaan Capaian Indeks ILP di Indonesia: Analisis Ranking Kabupaten/Kota
Melengkapi paparan mengenai arah kebijakan nasional, Dr. dr. Trihono, M.Sc. memperkenalkan Indeks Integrasi Pelayanan Kesehatan Primer (Indeks ILP) sebagai instrumen untuk mengukur sejauh mana implementasi ILP telah berjalan di tingkat kabupaten/kota maupun Puskesmas.
Menurutnya, transformasi pelayanan kesehatan memerlukan sistem pemantauan yang mampu menunjukkan perkembangan implementasi secara objektif dan terukur. Oleh karena itu, Indeks ILP dikembangkan dengan memanfaatkan indikator-indikator yang tidak hanya mencerminkan pilar-pilar utama ILP, tetapi juga tersedia secara rutin dalam sistem informasi kesehatan nasional sehingga dapat diperbarui setiap tahun.
Namun demikian, penyusunan indeks tersebut tidak terlepas dari berbagai tantangan. Salah satu kendala utama adalah belum tersedianya sebagian indikator proses di tingkat nasional, sehingga pengukuran lebih banyak menggunakan indikator keluaran (output indicators) yang telah terdokumentasi secara konsisten, seperti cakupan imunisasi dasar lengkap dan indikator pelayanan kesehatan primer lainnya.
Meski demikian, Dr. Trihono menegaskan bahwa keberadaan Indeks ILP merupakan langkah penting dalam membangun budaya pengambilan keputusan berbasis data. Indeks ini diharapkan bukan hanya menjadi alat monitoring dan evaluasi implementasi ILP, melainkan juga dapat dimanfaatkan sebagai dasar pembelajaran antar daerah, penyusunan kebijakan, hingga pemberian apresiasi bagi pemerintah daerah yang berhasil mempercepat transformasi pelayanan kesehatan primer.
Lebih jauh, pihaknya menekankan bahwa keberhasilan implementasi ILP tidak cukup diukur dari keberadaan regulasi ataupun jumlah kegiatan yang dilaksanakan, namun sejauh mana integrasi pelayanan mampu menghasilkan pelayanan kesehatan yang lebih efektif, efisien, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat di sepanjang siklus kehidupannya
Talkshow – Suara dari Lapangan: Tantangan dan Inovasi Implementasi ILP
Setelah memperoleh gambaran mengenai arah kebijakan nasional dan perkembangan implementasi ILP melalui dua keynote speech, sesi pleno dilanjutkan dengan talkshow bertajuk “Suara dari Lapangan: Tantangan dan Inovasi Implementasi ILP.” Berbeda dengan sesi sebelumnya yang berfokus pada kebijakan dan pengukuran implementasi, diskusi ini menghadirkan pengalaman nyata dari pemerintah daerah dan Puskesmas dalam menerjemahkan konsep Integrasi Pelayanan Kesehatan Primer ke dalam praktik sehari-hari.
Meskipun berasal dari wilayah dengan karakteristik geografis, kapasitas sumber daya, dan tantangan yang sangat beragam, para narasumber menyampaikan pesan yang serupa. Keberhasilan implementasi ILP tidak hanya ditentukan oleh tersedianya regulasi, tetapi juga oleh kepemimpinan daerah, kemampuan beradaptasi terhadap kondisi lokal, penguatan jejaring layanan, serta kolaborasi lintas sektor yang berkelanjutan.
Dr. dr. Agus, M.Kes, Sp.KKLP Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tengah
Mengawali diskusi, Dr. dr. Agus menggambarkan kompleksitas implementasi ILP di Provinsi Papua Tengah. Menurutnya, tantangan terbesar bukan hanya berasal dari keterbatasan fasilitas kesehatan, melainkan juga kondisi geografis yang menyebabkan akses pelayanan kesehatan dan distribusi logistik menjadi jauh lebih sulit dibandingkan banyak daerah lain di Indonesia.
Selain tantangan geografis, rendahnya jumlah Puskesmas yang telah terakreditasi juga berdampak pada keterbatasan sumber daya manusia kesehatan, terutama tenaga dokter. Kondisi tersebut berimplikasi pada kapasitas fasilitas kesehatan dalam menjalankan pelayanan yang terintegrasi sesuai prinsip ILP.
Namun demikian, keterbatasan tersebut tidak menjadi alasan untuk menghentikan transformasi pelayanan kesehatan primer. Dengan dukungan pemerintah daerah, Papua Tengah mulai menerjemahkan kebijakan ILP ke dalam berbagai strategi yang disesuaikan dengan kondisi lokal. Komitmen pemerintah daerah menjadi modal penting untuk memastikan bahwa integrasi pelayanan tetap dapat berjalan, meskipun menghadapi tantangan geografis yang tidak sederhana.
dr. Cristin Englin W. Liu Kepala UPT Puskesmas Niki-Niki, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Timur
Pengalaman serupa juga disampaikan oleh dr. Cristin Englin W. Liu, yang menceritakan perjalanan implementasi ILP di Puskesmas Niki-Niki. Puskesmas ini telah menjadi lokasi uji coba Posyandu ILP sejak 2022, sehingga telah melalui berbagai proses penyesuaian seiring berkembangnya petunjuk teknis implementasi.
Hingga saat ini, baru 16 dari 30 Posyandu yang berhasil menerapkan pendekatan siklus hidup. Rendahnya cakupan tersebut tidak terlepas dari tantangan yang dihadapi wilayah pelayanan, mulai dari sulitnya akses geografis hingga keterbatasan tenaga kesehatan. Puskesmas hanya memiliki satu dokter yang sekaligus menjabat sebagai kepala puskesmas, didukung oleh satu tenaga promosi kesehatan, tanpa dokter gigi maupun analis kesehatan.
Dalam kondisi tersebut, keberhasilan implementasi ILP sangat bergantung pada kemampuan membangun kolaborasi dengan pemerintah desa dan masyarakat. Puskesmas secara aktif memperkuat koordinasi dengan kepala desa untuk meningkatkan pemahaman mengenai ILP, termasuk mendorong dukungan terhadap kader kesehatan yang selama ini masih menghadapi keterbatasan insentif. Selain itu, penempatan tenaga PPPK kesehatan di Puskesmas Pembantu (Pustu) menjadi salah satu solusi untuk memperkuat pelayanan di wilayah yang sulit dijangkau.
Pengalaman ini menunjukkan bahwa keberhasilan implementasi ILP di daerah terpencil ditentukan tidak hanya oleh ketersediaan sumber daya, tetapi juga oleh kapasitas untuk beradaptasi dan membangun kolaborasi dengan berbagai pihak di tingkat lokal.
dr. Karyadi Kepala Puskesmas Plantungan, Kabupaten Kendal, Provinsi Jawa Tengah
Berbeda dengan tantangan geografis yang dihadapi Papua Tengah maupun Timor Tengah Selatan, dr. Karyadi menyoroti perubahan budaya organisasi sebagai faktor utama dalam implementasi ILP.
Menurutnya, keberhasilan transformasi tidak cukup hanya dengan menerbitkan kebijakan. Dibutuhkan komitmen bersama dari pemerintah daerah, dinas kesehatan, hingga seluruh tenaga kesehatan di Puskesmas untuk mengubah cara kerja yang sebelumnya berorientasi pada program-program vertikal menjadi pelayanan yang terintegrasi berdasarkan siklus hidup.
dr Karyadi menjelaskan bahwa proses adaptasi di Puskesmas Plantungan berlangsung relatif cepat. Dalam waktu sekitar 20 hari setelah mempelajari petunjuk teknis, seluruh tim mulai menerapkan pendekatan baru melalui penataan ulang pembagian tugas sesuai klaster siklus hidup, pelaksanaan pelatihan internal, serta penguatan komunikasi rutin antar petugas.
Perubahan tersebut tidak hanya berdampak pada organisasi pelayanan, tetapi juga mengubah cara pandang terhadap keberhasilan pelayanan kesehatan. Jika sebelumnya pencapaian lebih banyak diukur melalui target program, implementasi ILP mendorong tenaga kesehatan untuk lebih berfokus pada hasil kesehatan masyarakat (outcome). Menurutnya, transformasi tersebut hanya dapat berjalan apabila didukung oleh sistem informasi kesehatan yang terintegrasi serta kolaborasi lintas sektor yang kuat.
dr. Hari Pratono, M.Kes Kepala Puskesmas Berbah, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
Menutup sesi diskusi, dr. Hari Pratono menunjukkan bahwa transformasi pelayanan kesehatan primer juga dapat dipercepat melalui inovasi digital yang lahir dari tingkat Puskesmas.
dr Hari menjelaskan bahwa implementasi ILP di Puskesmas Berbah menghadapi tantangan yang umum dijumpai di banyak daerah, seperti keterbatasan sumber daya manusia, kompleksitas pencatatan pelayanan, integrasi data, serta kebutuhan peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dan kader.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Puskesmas Berbah mengembangkan Sistem Pencatatan Terpadu Puskesmas Berbah (SITAPANDU PUBER), sebuah inovasi yang mendigitalisasi proses pencatatan Posyandu sehingga kader tidak lagi harus mengisi berbagai format pelaporan secara manual. Sistem ini juga dilengkapi notifikasi apabila ditemukan ketidaksesuaian data, sekaligus memungkinkan pemerintah desa dan kecamatan mengakses informasi secara lebih cepat untuk mendukung pengambilan keputusan.
Selain itu, Puskesmas Berbah mengembangkan KARO KASEH, sebuah sistem digital yang mendukung pelaksanaan kunjungan rumah secara lebih efektif melalui pelaporan real-time dan mekanisme penyelesaian masalah yang lebih cepat.
Sesi Pleno II
Digitalisasi Integrasi Layanan Primer
Digitalisasi Pelayanan Kesehatan Primer – Kebijakan, Inovasi, dan Implementasi di Indonesia (Moderator: Hon. Associate Prof. Dewi Nur Aisyah, SKM, MSc, DIC, PhD – Head of Operations Kesprimkom P2, TTDK Kemenkes RI)
Pada pembukaan sesi, moderator menekankan bahwa transformasi digital kesehatan di Indonesia merupakan proses yang terus berkembang, bahkan mengalami percepatan sejak pandemi COVID-19. Pengembangan SATUSEHAT sebagai ekosistem data kesehatan nasional diarahkan untuk mewujudkan keterhubungan antar sistem informasi kesehatan melalui interoperabilitas. Transformasi tersebut merupakan perjalanan jangka panjang yang membutuhkan kolaborasi lintas sektor, standardisasi, serta penguatan tata kelola agar manfaat digitalisasi dapat dirasakan secara optimal oleh seluruh pemangku kepentingan.
Keynote Speech
Eko Sulistijo, SH, MT – Kepala Pusat Data dan Teknologi Informasi, Kemenkes RI Transformasi Sistem Informasi Kesehatan untuk Mendukung Integrasi Pelayanan Kesehatan Primer (ILP)
Eko Sulistijo, SH, MT menjelaskan bahwa digitalisasi merupakan fondasi yang menopang seluruh enam pilar Transformasi Kesehatan Indonesia. Meskipun Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) menjadi salah satu pilar tersendiri, perannya sesungguhnya melintasi seluruh transformasi melalui penyediaan standar dan integrasi sistem informasi kesehatan. Tantangan implementasi masih dihadapi, baik dari aspek regulasi maupun kesiapan sumber daya manusia. Melalui regulasi terbaru yang diterbitkan pada 2024, pemerintah menegaskan bahwa penerapan sistem informasi kesehatan merupakan kebutuhan yang bersifat wajib, bukan lagi pilihan. Pihaknya juga memaparkan berbagai upaya penyederhanaan aplikasi kesehatan melalui konsolidasi sistem, termasuk pengembangan ASIK-CKG dan SIMPUS agar lebih efisien dan terstandarisasi. Saat ini sekitar 92% Puskesmas telah mengirimkan data melalui Rekam Medis Elektronik (RME), meskipun kualitas dan kelengkapan pencatatan masih menjadi ‘pekerjaan rumah’. Selain itu, ia menyoroti pentingnya penguatan kapasitas SDM teknologi informasi di fasilitas pelayanan primer untuk mendukung keamanan siber dan keberlanjutan implementasi sistem. Kolaborasi dengan BPJS Kesehatan juga terus diperkuat guna mewujudkan ekosistem digital yang semakin terintegrasi, sederhana, dan mampu mengurangi duplikasi data tenaga kesehatan maupun pasien.
Setiaji, ST, M.Si – Direktur Teknologi Informasi BPJS Kesehatan Integrasi Ekosistem Digital JKN untuk Mendukung Transformasi Pelayanan Kesehatan Primer
Setiaji, ST, M.Si mengawali paparannya dengan menyoroti tingginya beban administratif yang masih dihadapi fasilitas kesehatan akibat banyaknya aplikasi yang harus digunakan secara bersamaan. Kondisi tersebut menyebabkan duplikasi input data oleh tenaga kesehatan, menurunkan kualitas data, serta memperpanjang waktu pelayanan kepada pasien. Menurutnya, sebagian besar aplikasi dikembangkan berdasarkan kebutuhan pelaporan program atau penyakit tertentu, sehingga belum mendukung pelayanan yang terintegrasi. Tantangan serupa juga masih ditemui pada ekosistem digital BPJS Kesehatan, termasuk Mobile JKN yang saat ini masih berbasis poli dan belum sepenuhnya mendukung pendekatan layanan berbasis klaster dalam ILP. Sebagai solusi, BPJS Kesehatan bersama Kementerian Kesehatan dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tengah mendorong implementasi kebijakan “No RME, No Claim” sebagai strategi percepatan adopsi Rekam Medis Elektronik secara nasional. Dengan RME yang terintegrasi, data pelayanan diharapkan cukup dicatat satu kali dan dapat dimanfaatkan oleh berbagai pihak tanpa perlu penginputan ulang pada aplikasi lain. Selain memperkuat interoperabilitas antar sistem, BPJS juga terus mengembangkan aplikasi P-Care agar dapat dimanfaatkan oleh fasilitas kesehatan yang belum memiliki SIMPUS. Setiaji menekankan bahwa tujuan akhir transformasi digital bukan sekadar digitalisasi pencatatan, melainkan membangun ekosistem layanan kesehatan yang lebih efisien, saling terhubung, dan berorientasi pada kebutuhan pasien.
Talkshow – Inovasi Digital dari Akar Rumput: Praktik Baik Dinas Kesehatan dan Puskesmas
dr. Achmad Rheza, Sp.OG., Subsp, F.E.R – Kepala Dinas Kesehatan Kota Mojokerto, Provinsi Jawa Timur Praktik Baik Digitalisasi Pelayanan Kesehatan di Kota Mojokerto
Achmad Rheza, Sp.OG., Subsp, F.E.R memaparkan pengalaman Kota Mojokerto dalam mengembangkan inovasi digital yang berawal dari upaya menurunkan angka kematian ibu dan bayi. Berangkat dari tantangan pelayanan kesehatan maternal dan neonatal, Pemerintah Kota Mojokerto mengembangkan aplikasi GAYATRI, sebuah sistem terpadu yang mendukung pemantauan kesehatan ibu dan bayi, pelaksanaan program triple eliminasi, hingga perluasan layanan seperti Pemeriksaan Kesehatan Gratis. Inovasi ini memungkinkan pemerintah daerah memantau kondisi kesehatan masyarakat secara lebih komprehensif dan memberikan intervensi yang lebih tepat sasaran. Selain penguatan sistem digital, keberhasilan implementasi juga didukung oleh peran kader kesehatan PRAMESWARI yang aktif melakukan pemantauan kesehatan masyarakat di tingkat komunitas. Menurutnya, komitmen kuat pemerintah daerah, koordinasi lintas sektor, serta kerja sama seluruh pemangku kepentingan menjadi faktor penting dalam keberhasilan transformasi digital di Mojokerto. Berbagai inovasi tersebut telah berkontribusi pada penurunan prevalensi stunting dan menghasilkan penghargaan berupa insentif fiskal bagi Kota Mojokerto.
dr. Carlof, M.MRS, MQM – Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat SIAGA PRIMA KSB: Sistem Integrasi dan Akselerasi Gerakan Primer Berbasis Risiko
Carlof, M.MRS, MQM menjelaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat mengembangkan program KSB Maju Kesehatan, yaitu sistem layanan terintegrasi berbasis keluarga yang menghubungkan berbagai pelayanan kesehatan dalam satu aplikasi. Melalui Kartu KSB Maju yang dilengkapi QR Code, setiap keluarga dapat mengakses berbagai layanan kesehatan serta bantuan pembiayaan secara lebih mudah. Sistem ini juga terintegrasi dengan Tim Reaksi Cepat (TRC), sehingga setiap laporan masyarakat dapat langsung dicatat dan ditindaklanjuti melalui aplikasi. Hingga saat ini, lebih dari 22 ribu masyarakat telah memperoleh manfaat dari inovasi tersebut. Keberhasilan implementasi KSB Maju kemudian menjadi fondasi pengembangan SIAGA PRIMA, yang dibangun atas tiga pilar utama, yaitu SIAGA Layanan, SIAGA Sistem, dan SIAGA Data. Data risiko kesehatan masyarakat dikumpulkan dan divisualisasikan melalui dashboard digital yang mendukung pengambilan keputusan secara cepat. Ke depan, Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat berencana mengembangkan Command Center sebagai pusat kendali layanan berbasis data sehingga informasi risiko dapat segera diterjemahkan menjadi intervensi pelayanan kesehatan yang lebih responsif dan tepat sasaran.
Oktovina Alfrida Reba, S.ST., M.Kes – Kepala Puskesmas Arso 3, Kab. Keerom, Provinsi Papua Melalui ILP: Memperkuat Puskesmas Melayani Masyarakat
Oktovina Alfrida Reba, S.ST., M.Kes membagikan pengalaman Puskesmas Arso 3 sebagai salah satu lokasi percontohan Implementasi Integrasi Layanan Primer (ILP) pada tahun 2022–2023. Setelah pendampingan dari Kementerian Kesehatan, penguatan kapasitas dilanjutkan melalui dukungan PATH pada tahun 2024, terutama dalam pembentukan dan pengembangan kader kesehatan. Seluruh kader memperoleh pelatihan 25 kompetensi dasar dan diformalkan melalui kerja sama dengan pemerintah kampung, sehingga mampu menjalankan fungsi pendataan, skrining kesehatan, pelayanan Posyandu, hingga kunjungan rumah secara lebih sistematis. Oktovina juga memperkenalkan penggunaan aplikasi KaderKita sebagai sarana pencatatan dan pemantauan kegiatan kader. Aplikasi tersebut terbukti membantu Puskesmas dalam mengidentifikasi kebutuhan masyarakat serta menjadi dasar penyusunan Rencana Usulan Kegiatan (RUK). Namun demikian, hingga saat ini KaderKita belum terintegrasi dengan Rekam Medis Elektronik (RME) di Puskesmas sehingga tenaga kesehatan masih menghadapi beban duplikasi pencatatan. Meski demikian, implementasi ILP telah memberikan dampak positif terhadap peningkatan capaian Standar Pelayanan Minimal (SPM), yang menjadikan Puskesmas Arso 3 sebagai salah satu Puskesmas dengan capaian terbaik di Kabupaten Keerom. Sebagai penutup, ia menyampaikan pesan inspiratif, “ILP terbang tinggi, Cenderawasih terbang rendah; berdiri sama tinggi, duduk sama rendah,” sebagai simbol semangat kolaborasi dalam mewujudkan pelayanan kesehatan primer yang inklusif.
Rohyani Tri Rahayu, SKM, MM – Kepala Puskesmas Purbalingga, Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah Praktik Baik Digitalisasi di Puskesmas Purbalingga
Rohyani Tri Rahayu, SKM, MM membuka paparannya dengan menggambarkan tantangan digitalisasi di fasilitas pelayanan primer, di mana jumlah aplikasi yang harus digunakan bahkan melebihi jumlah pegawai yang tersedia. Untuk menjawab tantangan tersebut, Puskesmas Purbalingga bersama Dinas Kesehatan mengimplementasikan SPHERES sebagai platform yang mendukung penguatan pelayanan kesehatan masyarakat melalui pemanfaatan data secara real-time. Inisiatif ini bukan hanya meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan dalam mengelola dan menganalisis data, melainkan juga mempercepat penyebaran pengetahuan untuk mendukung perumusan kebijakan di tingkat lokal hingga nasional. Rohyani menjelaskan bahwa implementasi SPHERES didukung oleh berbagai inovasi, seperti Public Health Data Theater (PHDT), dashboard SPHERES yang menampilkan indikator-indikator kinerja utama, serta forum DOJO Shinjitsu, yaitu diskusi intelektual berbasis data untuk mengevaluasi pelayanan kesehatan dan mendorong pengambilan keputusan yang lebih objektif. Upaya peningkatan kualitas data juga dilakukan melalui sosialisasi, kalibrasi, serta monitoring pengumpulan data secara berkala. Hasilnya, kualitas data klinis meningkat dan mendukung perbaikan diagnosis hipertensi sebagai tindak lanjut program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Selain itu, pemanfaatan teknologi Optical Character Recognition (OCR) dan aplikasi KuApps turut mempercepat proses pencatatan dan pengelolaan data di Puskesmas.
Titin Sumarni, S.ST., SKM., Bdn., M.Kes – Bidan Koordinator Puskesmas Karangpawitan, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat Praktik Baik Digitalisasi di Puskesmas Karangpawitan
Titin Sumarni, S.ST., SKM., Bdn., M.Kes memaparkan bahwa digitalisasi di Puskesmas Karangpawitan lahir dari kebutuhan untuk mengatasi berbagai hambatan operasional, seperti proses pencatatan yang masih manual, data yang tersebar dan terfragmentasi, serta kebutuhan pencetakan dokumen yang berulang. Sebagai solusi, Puskesmas mengembangkan pemanfaatan KuApps, sebuah aplikasi yang dapat digunakan baik secara daring maupun luring (offline), sehingga tetap mendukung pencatatan layanan meskipun di wilayah dengan keterbatasan jaringan internet. Penggunaan aplikasi ini juga menyederhanakan pelaporan Posyandu, sehingga kader dapat lebih fokus pada pelayanan dan interaksi langsung dengan masyarakat. Ia menjelaskan bahwa sebelum pelaksanaan Posyandu, bidan dan kader terlebih dahulu berkoordinasi untuk menetapkan sasaran pelayanan, sementara proses edukasi dan pemantauan masyarakat dilakukan melalui grup WhatsApp, termasuk untuk skrining kesehatan dan kepatuhan konsumsi obat. Digitalisasi memungkinkan data tersedia secara real-time sehingga mendukung pengambilan keputusan yang lebih cepat, baik di tingkat Posyandu maupun Puskesmas. Selain itu, pembentukan grup respons cepat untuk pemantauan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) memperkuat tindak lanjut terhadap kasus-kasus prioritas. Meskipun wilayah kerja memiliki tantangan geografis yang berat, cakupan digitalisasi telah mencapai sekitar 95% dan terbukti meningkatkan efektivitas pelayanan kesehatan di Posyandu.
Peran PKMK UGM dalam Diseminasi Hasil Riset pada Leimena Conference 2026
Pada hari ke-2, Universitas Gadjah Mada, melalui Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK-KMK UGM, turut mengambil peran strategis dalam The Leimena Conference 2026 dengan menyampaikan sejumlah paparan hasil riset dan pendampingan kebijakan kesehatan.
Shita Listya Dewi, S.IP, MM, MPP Konsep dan Pelaksanaan Mekanisme Umpan Balik Kebijakan dalam Evaluasi Kebijakan Berbasis Bukti – Sesi Paralel Kebijakan Berbasis Bukti, Peran Riset dalam ILP
Shita Listya Dewi tampil dalam Sesi Paralel “Kebijakan Berbasis Bukti: Peran Riset dalam ILP” membawakan topik Konsep dan Pelaksanaan Mekanisme Umpan Balik Kebijakan dalam Evaluasi Kebijakan Berbasis Bukti. Paparan ini menyoroti tantangan koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah di era desentralisasi, serta menawarkan usulan mekanisme umpan balik kebijakan melalui BKPK yang melibatkan penguatan ekosistem Health System and Policy Research Institutions (HPSRI). Gagasan tersebut dikembangkan dan diinisiasi oleh Results for Development (R4D) bekerja sama dengan UGM dan Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) sebagai upaya memperkuat ekosistem riset kebijakan berbasis bukti. Inisiatif ini bertujuan membangun mekanisme yang mampu menjembatani pembelajaran dari implementasi kebijakan di daerah agar dapat diterjemahkan secara sistematis ke dalam proses perumusan kebijakan di tingkat nasional.
Dalam paparannya, Shita memaparkan hasil analisis situasi di Jawa Barat, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Barat, sekaligus memperkenalkan instrumen penilaian yang mencakup empat dimensi yakni translasi, implementasi, evaluasi, dan komunikasi kebijakan, yang saat ini tengah diujicobakan. Instrumen tersebut diharapkan dapat menjadi jembatan agar pengalaman dan masukan implementasi dari daerah mengalir secara terinstitusionalisasi ke tingkat nasional, sehingga menghasilkan kebijakan yang lebih adaptif, responsif, dan berakar pada bukti lapangan.
Muhammad Asrullah, MPH, Ph.D Penguatan Keberlanjutan Siaga Prima Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat – Sesi Paralel Adopsi Implementasi ILP melalui dukungan Health System Insight
Muhammad Asrullah membawakan paparan Penguatan Keberlanjutan SIAGA PRIMA Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat dalam Sesi Paralel “Adopsi Implementasi ILP melalui Dukungan Health System Insight”. Paparan ini menampilkan model ekosistem “Data–Keputusan–Aksi” yang mengubah bank data (MATASIDIK) menjadi keputusan lapangan konkret melalui analisis ARRIMES, penganggaran berbasis kebutuhan PRASANA, hingga penjangkauan proaktif TRC Ambulans, selain itu Asrullah juga menekankan pentingnya keputusan kelembagaan dan anggaran agar keberlanjutan program tidak sekadar bersifat aspirasional.
Likke Prawidya Putri, MPH, Ph.D Panelist dari Integrated Panel Discussion: Decoding Decentralization – Lessons from PHC Strengthening in NTB – Sesi Paralel Decoding Decentralization for Better Essential Health Service Delivery: Lessons from PHC Strengthening in NTB
Likke Prawidya Putri, MPH, Ph.D., berperan sebagai salah satu panelis yang memaparkan hasil evaluasi program penguatan pelayanan kesehatan primer di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dan empat kabupaten. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program berhasil meningkatkan kapasitas dalam perencanaan, tata kelola, dan pengelolaan BLUD, serta mendorong inovasi pelayanan di tingkat puskesmas. Namun, keberlanjutan implementasi memerlukan dukungan pemerintah daerah melalui regulasi, penguatan SDM, pembiayaan, dan supervisi yang berkelanjutan agar dampaknya dapat dirasakan secara merata.
Reporter: Muhammad Asrullah & Dhea Keyle Fortunandha (PKMK FK-KMK UGM)
Hari Ke-3
Sesi Pleno III
Pembiayaan Integrasi Pelayanan Kesehatan Primer (ILP)
Mewujudkan Pelayanan Kesehatan Primer yang Kuat Melalui Pendanaan yang Berkelanjutan (Moderator: Ery Setiawan, S.K.M., M.E., Ph.D., AAK)
Mengawali sesi, moderator menjelaskan bahwa keberhasilan implementasi Integrasi Layanan Primer (ILP) ditopang oleh tiga domain utama. Pertama, perubahan paradigma pelayanan kesehatan, dari pendekatan yang sebelumnya berorientasi pada penyakit dan layanan per poli menjadi pelayanan yang holistik, berpusat pada individu, serta berorientasi pada siklus hidup. Kedua, perubahan struktur organisasi dan tata kelola layanan di tingkat Puskesmas, Puskesmas Pembantu (Pustu), dan Posyandu agar mampu mendukung model layanan yang lebih terintegrasi. Ketiga, penguatan Pemantauan Wilayah Setempat (PWS) sebagai instrumen untuk memantau kondisi kesehatan masyarakat dan menjadi dasar pengambilan keputusan berbasis data. Pihaknya menekankan bahwa ketiga domain tersebut memerlukan dukungan pembiayaan yang memadai agar dapat diimplementasikan secara efektif dan berkelanjutan. Oleh karena itu, aspek pendanaan menjadi elemen strategis yang tidak hanya menopang operasional layanan, tetapi juga memastikan transformasi pelayanan kesehatan primer dapat berjalan secara optimal dan memberikan dampak yang berkelanjutan bagi masyarakat.
Keynote Speech
Diah Lenggogeni, ST, M.Sc – Direktur Kesehatan dan Gizi Masyarakat BAPPENAS Strategi Nasional Pembiayaan Pelayanan Kesehatan Primer Berkelanjutan
Diah Lenggogeni, ST, M.Sc. memaparkan tren anggaran kesehatan Indonesia dalam lima tahun terakhir. Belanja negara di sektor kesehatan terus mengalami peningkatan sekitar, dengan lonjakan yang lebih signifikan pada periode 2024–2026. Selain itu, porsi belanja kesehatan terhadap APBN juga meningkat. Peningkatan ini mencerminkan komitmen pemerintah dalam memperkuat sistem kesehatan nasional sekaligus mendukung agenda prioritas, termasuk program pemenuhan gizi. Di sisi lain, pihaknya juga menyoroti adanya perubahan komposisi pembiayaan kesehatan. Alokasi Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik Kesehatan menunjukkan tren penurunan secara bertahap hingga sekitar Rp1,8 triliun pada 2026, sementara DAK Non Fisik Kesehatan tetap relatif stabil di kisaran Rp12,68 triliun. Kondisi ini menunjukkan adanya pergeseran fokus pendanaan dari pembangunan infrastruktur menuju penguatan operasional dan penyelenggaraan pelayanan kesehatan di daerah, sehingga diharapkan mampu mendukung keberlanjutan transformasi pelayanan kesehatan primer di Indonesia.
Prof. Dr. Wahyu Pudji Nugraheni, SKM., M.Kes. – Kepala Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi, BRIN Strategi Pembiayaan Penyakit Menular di Era Efisiensi Anggaran
Prof. Dr. Wahyu Pudji Nugraheni, SKM., M.Kes. menyoroti bahwa penyakit menular masih menjadi tantangan besar yang bukan hanya membebani sistem kesehatan, melainkan juga perekonomian. Di tengah kebijakan efisiensi anggaran, efisiensi tidak dimaknai sebagai pengurangan pembiayaan, melainkan memastikan setiap alokasi anggaran menghasilkan dampak kesehatan yang optimal. Beliau menekankan bahwa pembiayaan kesehatan saat ini masih didominasi untuk layanan kuratif, sementara investasi pada upaya promotif dan preventif masih terbatas, sehingga berpotensi menurunkan efektivitas program dalam jangka panjang.
Oleh karena itu, pendekatan yang berorientasi pada hasil (result-oriented financing) menjadi kunci dalam pengelolaan anggaran kesehatan. Dalam paparannya, ia juga menyampaikan hasil studi yang menunjukkan masih tingginya ketergantungan pemerintah daerah terhadap Dana Alokasi Khusus (DAK) dan Bantuan Operasional Kesehatan (BOK), sementara pemanfaatan skema pendanaan lain, seperti BLUD, belum optimal. Selain itu, struktur belanja kesehatan masih didominasi oleh belanja operasional sehingga perlu dilakukan penataan kembali agar lebih responsif terhadap kebutuhan epidemiologi. Beliau menegaskan bahwa pembiayaan kesehatan yang berkelanjutan memerlukan diversifikasi sumber pendanaan, alokasi anggaran yang berbasis kebutuhan, serta penguatan investasi pada upaya promotif dan preventif, sehingga setiap rupiah yang dibelanjakan dapat memberikan manfaat kesehatan yang lebih besar bagi masyarakat.
Talkshow – Merajut Pembiayaan Kesehatan: Dari Pusat hingga Desa
Prastuti Soewondo, S.E., M.P.H., Ph.D – Staf Khusus Menteri Kesehatan untuk Pembiayaan Kesehatan Strategi Pembiayaan Kesehatan untuk Mendukung Implementasi Integrasi Layanan Primer
Prastuti Soewondo, S.E., M.P.H., Ph.D menyoroti bahwa keberhasilan implementasi Integrasi Layanan Primer (ILP) sangat bergantung pada keberlanjutan pembiayaan, khususnya untuk memastikan pendekatan berbasis klaster dapat diimplementasikan secara optimal di tingkat pelayanan primer. Berdasarkan National Health Accounts (NHA) yang dipublikasikan Kementerian Kesehatan setiap tahun, proporsi belanja kesehatan Indonesia masih relatif rendah dibandingkan negara-negara lain dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang serupa. Meskipun pertumbuhan PDB per kapita terus meningkat, belanja kesehatan per kapita masih sekitar 32% di bawah tingkat yang seharusnya, sehingga masih terdapat ruang yang besar untuk memperkuat advokasi peningkatan investasi kesehatan, terutama bagi pelayanan kesehatan primer (Primary Health Care/PHC).
Ia juga menyoroti tren penurunan proporsi pembiayaan PHC dalam total belanja kesehatan nasional, yaitu dari 18% (2014), menjadi 15% (2019), dan kembali menurun menjadi 12,9% pada 2024. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri di tengah upaya memperkuat layanan primer. Di sisi lain, skema kapitasi JKN sebenarnya telah menyediakan peluang peningkatan pendanaan melalui mekanisme insentif berbasis kinerja. Fasilitas kesehatan dapat memperoleh tambahan kapitasi apabila memenuhi 13 indikator kinerja, termasuk indikator yang berkaitan dengan Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM), seperti pelaksanaan Free Medical Check-Up (CKG) dan pemanfaatan data Pemantauan Wilayah Setempat (PWS) sebagai bagian dari penguatan pelayanan kesehatan primer.
Friendy Parulian Sihotang, S.Sos., M.T. – Direktur Fasilitasi dan Pemanfaatan Dana Desa, Kementerian Desa dan PDTT Penggunaan Dana Desa untuk Dukungan Integrasi Layanan Primer
Friendy Parulian Sihotang, S.Sos., M.T., memaparkan peran strategis Dana Desa dalam mendukung implementasi Integrasi Layanan Primer (ILP). Narasumber menjelaskan bahwa regulasi penggunaan Dana Desa telah memberikan ruang yang luas bagi pemerintah desa untuk mendukung sektor kesehatan, diantaranya melalui pembiayaan kader kesehatan desa, penguatan UPKD/K, serta operasional Posyandu sebagai pelayanan kesehatan berbasis masyarakat. Berbagai program kesehatan, seperti penanganan stunting, pemberian makanan tambahan, pengendalian tuberkulosis, pelayanan kesehatan ibu hamil, hingga edukasi kesehatan bagi remaja dan calon ibu, telah didukung melalui pemanfaatan Dana Desa. Dalam paparannya, ia juga menekankan bahwa besarnya kontribusi Dana Desa terhadap sektor kesehatan sangat bergantung pada proses perencanaan di tingkat desa, khususnya melalui musyawarah desa (musdes) dan pra-musdes. Oleh karena itu, kader kesehatan dan para pemangku kepentingan di desa diharapkan berperan aktif dalam mengadvokasi agar kesehatan menjadi salah satu prioritas pembangunan desa. Dengan perencanaan yang partisipatif dan berbasis kebutuhan masyarakat, Dana Desa dapat dioptimalkan untuk memperkuat layanan kesehatan primer sekaligus meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di tingkat desa.
R. Wisnu Saputro, S.E., M.A.P – Kasubdit Badan Layanan Umum Daerah, Direktorat BUMD, BLUD, dan Barang Milik Daerah, Ditjen Keuangan Daerah, Kemendagri Akuntabilitas BLUD dalam Konteks Pengelolaan Keuangan Daerah
Wisnu Saputro, S.E., M.A.P., Kasubdit Badan Layanan Umum Daerah, Direktorat BUMD, BLUD, dan Barang Milik Daerah, Ditjen Keuangan Daerah Kemendagri, menjelaskan bahwa penerapan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) pada puskesmas merupakan peluang strategis untuk meningkatkan kinerja layanan melalui pengelolaan keuangan yang lebih fleksibel. Sebagai salah satu pola pengelolaan keuangan, BLUD memungkinkan pendapatan puskesmas dikelola langsung melalui rekening kas BLUD, sehingga memberikan keleluasaan dalam memanfaatkan sumber daya keuangan untuk mendukung peningkatan pelayanan. Salah satu keunggulan utama BLUD adalah fleksibilitas dalam mengelola sisa anggaran (SILPA) yang dapat dimanfaatkan kembali sesuai Rencana Bisnis dan Anggaran (RBA), berbeda dengan mekanisme non-BLUD yang mengharuskan sisa dana kapitasi diperhitungkan sebagai dana tahun berikutnya. Kemudian beliau menekankan bahwa fleksibilitas tersebut membuka peluang bagi puskesmas untuk terus berinovasi dan mengembangkan pelayanan sesuai kebutuhan masyarakat, sehingga puskesmas tidak hanya berfokus pada pelayanan rutin, tetapi juga mampu menjawab tantangan kesehatan yang terus berkembang. Meski demikian, keberhasilan implementasi BLUD tidak hanya bergantung pada kapasitas pengelola puskesmas, tetapi juga memerlukan dukungan regulasi dan komitmen pemerintah daerah. Dengan prinsip kemandirian dan akuntabilitas dalam pengelolaan keuangan, BLUD diharapkan menjadi instrumen penting dalam memperkuat tata kelola puskesmas serta meningkatkan kualitas layanan kesehatan primer.
dr. Maya Febriyanti Purwandari, M.H. – Asisten Deputi Manajemen Inovasi dan Pengembangan BPJS Kesehatan Optimalisasi Pembiayaan Kapitasi untuk Penguatan Implementasi Integrasi Layanan Primer
Maya Febriyanti Purwandari, M.H. memaparkan bahwa mekanisme pembayaran kapitasi telah menjadi skema yang familiar bagi seluruh Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan. Meskipun demikian, BPJS Kesehatan tidak mengatur secara rinci pemanfaatan dana kapitasi di tingkat fasilitas kesehatan, selain ketentuan umum mengenai proporsi penggunaannya, yaitu sekitar 60% untuk jasa pelayanan dan 40% untuk biaya operasional. Oleh karena itu, keberhasilan optimalisasi dana kapitasi sangat bergantung pada kemampuan manajemen masing-masing FKTP dalam mengalokasikan sumber daya secara efektif untuk mendukung pelayanan kesehatan primer. Lebih lanjut, pihaknya menjelaskan bahwa sejak 2023 besaran dana kapitasi telah mengalami peningkatan, disertai penguatan skema Kapitasi Berbasis Kinerja (KBK) melalui pemberian insentif bagi fasilitas kesehatan yang memenuhi indikator Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis). Skema ini diharapkan dapat mendorong FKTP untuk lebih proaktif dalam mengelola pasien penyakit kronis secara komprehensif sehingga komplikasi dapat dicegah sejak dini. Dengan pengelolaan Prolanis yang optimal, BPJS Kesehatan berharap pembiayaan yang selama ini banyak terserap untuk pelayanan kuratif dapat dialihkan menuju upaya promotif dan preventif yang sejalan dengan penguatan implementasi Integrasi Layanan Primer (ILP).
Sesi Pleno IV
Sumber Daya Manusia Kesehatan ILP
Kader Kesehatan Unggul untuk Pelayanan Kesehatan Primer yang Berdampak (Moderator: Dr. dr. Andreasta Meliala, M.Kes. – Direktur Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada)
Mengawali sesi, Dr. dr. Andreasta Meliala, M.Kes., menyoroti pentingnya penguatan kader kesehatan sebagai salah satu pilar utama dalam transformasi pelayanan kesehatan primer. Penguatan kader tidak hanya berkaitan dengan peningkatan insentif dan kapasitas melalui pelatihan, tetapi juga membutuhkan dukungan kebijakan yang mampu menempatkan kader sebagai pengungkit utama kesehatan masyarakat. Pihaknya memberikan contoh praktik di berbagai negara yang telah mengembangkan kader dengan peran spesifik, seperti kader farmasi, pendamping terapi jangka panjang, hingga kader yang membantu masyarakat mengakses sistem jaminan kesehatan. Melalui diskusi yang menghadirkan pemangku kepentingan dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, hingga kader di lapangan, sesi ini bertujuan merumuskan strategi penguatan kader yang lebih komprehensif untuk mendukung implementasi Integrasi Layanan Primer (ILP).
Keynote Speech
dr. Niken Wastu Palupi, MKM – Direktur Promosi Kesehatan dan Kesehatan Komunitas, Kemenkes RI Arah Kebijakan Nasional Penguatan Kader Posyandu dalam Mendukung ILP
Niken Wastu Palupi, MKM menjelaskan bahwa keberhasilan implementasi Integrasi Layanan Primer (ILP) tidak dapat dipisahkan dari peran Posyandu sebagai pelayanan kesehatan berbasis masyarakat. Transformasi Posyandu menjadi Posyandu Siklus Hidup mengintegrasikan pelayanan bagi seluruh kelompok sasaran, mulai dari bayi dan balita, ibu hamil dan menyusui, usia sekolah dan remaja, hingga lansia. Perubahan ini menuntut kader memiliki kapasitas yang lebih komprehensif, sehingga Kementerian Kesehatan telah menyusun 25 kompetensi dasar kader yang dikelompokkan dalam lima komponen pelayanan sesuai siklus hidup.
Selain itu, diterapkan pula sistem stratifikasi kompetensi kader menjadi tingkat Madya, Purna, dan Utama sebagai acuan pengembangan kapasitas secara berkelanjutan. Lebih lanjut, narasumber menekankan bahwa penguatan kader tidak hanya bergantung pada pelatihan, tetapi juga memerlukan ekosistem pendukung yang kuat. Komitmen pemerintah desa, dukungan mitra pembangunan, regulasi yang mendukung implementasi ILP, keterlibatan aktif masyarakat, serta pembiayaan dari berbagai sumber yang sah menjadi faktor penting untuk memastikan Posyandu mampu menjalankan perannya secara optimal. Dengan dukungan tersebut, kader diharapkan mampu menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan primer yang memberikan pelayanan promotif, preventif, hingga deteksi dini secara berkesinambungan di tingkat komunitas.
Nitta Rosalin, SE., MA – Direktur Fasilitasi LKAD PKK Posyandu, Ditjen Bina Pemdes, Kemendagri Kader Posyandu: Dari Relawan Menjadi Agen Transformasi Kesehatan
Nitta Rosalin, SE., MA menegaskan bahwa Posyandu saat ini telah bertransformasi dari sekadar kegiatan pelayanan kesehatan menjadi bagian dari kelembagaan desa yang memiliki peran strategis dalam pembangunan masyarakat. Sebagai Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM), Posyandu mengedepankan partisipasi masyarakat dengan kader sebagai penggerak utama pelayanan di tingkat desa. Sejalan dengan implementasi Posyandu enam Standar Pelayanan Minimal (SPM), kader kini dituntut menguasai sedikitnya 25 kompetensi dasar agar mampu menjawab berbagai tantangan kesehatan masyarakat di setiap tahapan siklus hidup. Menurutnya, transformasi Posyandu hanya dapat berjalan apabila didukung oleh penguatan kelembagaan, peningkatan kapasitas dan kesejahteraan kader, serta apresiasi yang memadai atas kontribusi mereka. Selain itu, pelayanan promotif dan preventif perlu terus diperkuat agar Posyandu benar-benar menjadi pintu pertama masyarakat dalam memperoleh layanan kesehatan. Nitta menekankan bahwa transformasi Posyandu pada akhirnya bukan hanya tentang perubahan sistem, tetapi juga membangun kembali kepercayaan masyarakat terhadap layanan kesehatan yang dekat, mudah diakses, dan berkualitas.
Talkshow Menguatkan Peran Kader Kesehatan: Praktik Baik, Tantangan, dan Inovasi Daerah
I Made Wira Dharmajaya, SH., MM. – Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah Kabupaten Badung Provinsi Bali Menguatkan Peran Kader Kesehatan: Praktik Bai, Tantangan, dan Inovasi Daerah
I Made Wira Dharmajaya, SH., MM. memaparkan komitmen Pemerintah Kabupaten Badung dalam mengintegrasikan implementasi ILP ke dalam dokumen perencanaan pembangunan daerah. Menurutnya, ILP tidak lagi dipandang sebagai program milik Dinas Kesehatan semata, melainkan telah menjadi bagian dari agenda pembangunan daerah yang dituangkan dalam RPJMD Kabupaten Badung periode 2025-2030. Pendekatan ini memungkinkan seluruh perangkat daerah dan pemangku kepentingan terlibat dalam mendukung penguatan layanan kesehatan primer melalui perencanaan yang lebih terpadu. Selain aspek kebijakan, Pemerintah Kabupaten Badung juga telah menyiapkan proyeksi pembiayaan untuk mendukung implementasi ILP dalam jangka menengah. Meskipun alokasi tersebut masih bersifat proyeksi, langkah ini menunjukkan komitmen daerah dalam memastikan keberlanjutan program melalui dukungan anggaran yang terencana. Menurutnya, keberhasilan penguatan kader kesehatan memerlukan sinergi lintas sektor sehingga setiap program yang dirancang dapat diterjemahkan menjadi kegiatan nyata yang berdampak bagi masyarakat.
dr. Billy Daniel Messakh, Sp.B. – Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur Integrasi Layanan Primer dan Kader Surabaya Hebat sebagai Ujung Tombak Ekosistem Kesehatan Kota Surabaya
Billy Daniel Messakh, Sp. B membagikan praktik baik Kota Surabaya dalam memperkuat peran kader melalui transformasi digital. Pemerintah Kota Surabaya mengembangkan aplikasi Sehat Warga yang terintegrasi dengan Pemantauan Wilayah Setempat (PWS) sehingga aktivitas dan kinerja kader dapat dipantau secara real time. Selain memudahkan pemantauan pelayanan di masyarakat, sistem ini juga menjadi dasar evaluasi kinerja kader melalui indikator yang berbasis merit sehingga pembinaan dapat dilakukan secara lebih objektif dan terukur. Pihaknya juga menekankan bahwa motivasi kader tidak hanya dibangun melalui insentif finansial, tetapi juga melalui pemberian penghargaan bagi kader teladan dan Posyandu berprestasi. Dengan organisasi kader yang tertata, sistem digital yang terintegrasi, dan mekanisme penghargaan yang jelas, Surabaya berupaya menciptakan ekosistem pelayanan kesehatan primer yang lebih responsif dan berkelanjutan. Menurutnya, kader yang kuat akan menjadi fondasi utama dalam menghadirkan layanan kesehatan yang lebih dekat dengan masyarakat.
Jusri Snae – Kader Pustu Oinlasi Puskesmas Siso Kabupaten Timor Tengah Selatan Kader ‘Digital’ Mendukung Capaian ILP
Jusri Snae membagikan pengalaman sebagai kader kesehatan di wilayah Timor Tengah Selatan dalam mendukung implementasi ILP melalui pendekatan digital. Bersama tenaga kesehatan, kader bertanggung jawab melaksanakan pelayanan Posyandu siklus hidup, kunjungan rumah rutin maupun khusus, serta melakukan tindak lanjut terhadap masyarakat berisiko menggunakan aplikasi Pemantauan Wilayah Setempat (PWS). Pembagian wilayah kerja yang jelas membantu kader menjangkau seluruh sasaran pelayanan, namun perubahan menuju sistem digital juga menghadirkan tantangan baru, terutama dalam memahami pengisian formulir elektronik dan penggunaan berbagai aplikasi pendukung. Di sisi lain, pihaknya menyoroti bahwa besaran insentif yang diterima kader masih sangat terbatas dibandingkan dengan tanggung jawab yang semakin besar. Kebutuhan akan kuota internet, biaya transportasi untuk kunjungan rumah, hingga tuntutan penguasaan 25 kompetensi dasar menjadi tantangan tersendiri bagi kader di lapangan. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa transformasi digital perlu diiringi dengan dukungan pembiayaan, pendampingan teknis, serta peningkatan kesejahteraan agar kader dapat menjalankan perannya secara optimal.
Sofia Turrifqi – Kader Posyandu Mawar 3 Desa Bekutuk, Kab. Blora, Prov. Jawa Tengah Menguatkan Peran Kader Kesehatan: Praktik Baik, Tantangan, dan Inovasi Daerah
Sofia Turrifqi menyampaikan bahwa kader Posyandu saat ini menghadapi berbagai tantangan seiring perubahan kebijakan, peningkatan beban administrasi, serta adaptasi terhadap penggunaan aplikasi digital yang belum sepenuhnya diimbangi dengan dukungan fasilitas maupun peningkatan kesejahteraan. Di tengah tuntutan untuk memastikan masyarakat tetap sehat dan produktif, ia juga menyampaikan harapan agar kader memperoleh perlindungan melalui BPJS Ketenagakerjaan sebagai bentuk penghargaan atas kontribusi mereka dalam pelayanan kesehatan masyarakat. Meski dihadapkan pada berbagai keterbatasan, Posyandu Mawar 3 terus menghadirkan inovasi untuk meningkatkan kualitas pelayanan, di antaranya BASKARA Posyandu untuk sistem presensi berbasis QR Code, PENATA BUKIA untuk mempermudah pencatatan Buku KIA, TIKAR JAMILAH untuk meningkatkan kunjungan remaja melalui kolaborasi dengan sekolah, KEREN BEKEN untuk skrining lansia, PELANGI Sehat Jiwa sebagai inovasi promosi kesehatan mental, serta KURMA RESTO untuk memperkuat kunjungan rumah. Berbagai inovasi tersebut menunjukkan bahwa kader memiliki potensi besar sebagai agen perubahan di masyarakat apabila didukung oleh kebijakan, pendampingan, dan sumber daya yang memadai.
Peran PKMK UGM dalam Diseminasi Hasil Riset pada Leimena Conference 2026
Pada hari ke-3, Universitas Gadjah Mada, melalui Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK-KMK UGM, turut mengambil peran strategis dalam The Leimena Conference 2026 dengan menyampaikan sejumlah paparan hasil riset dan pendampingan kebijakan kesehatan.
Likke Prawidya Putri, MPH, Ph.D. – Penilaian Awal Proyek ACTION terhadap Kesiapan Implementasi ILP Sesi Paralel Potret Supply, Demand, dan Tata Kelola Implementasi ILP di Kota Bekasi dan Kabupaten Bogor
Likke Prawidya Putri memaparkan hasil Baseline Assessment Proyek ACTION yang dilaksanakan PKMK FK-KMK UGM bersama CHAI Indonesia untuk menilai kesiapan implementasi Integrasi Layanan Primer (ILP) di Kota Bekasi dan Kabupaten Bogor. Melalui pendekatan mixed methods yang melibatkan 583 partisipan, studi ini mengidentifikasi kesiapan implementasi ILP dari aspek tata kelola, pembiayaan, pelayanan kesehatan, logistik, sistem digital, serta pemanfaatan layanan oleh masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun kedua daerah telah memiliki komitmen dalam implementasi ILP melalui kebijakan dan penyesuaian struktur layanan, masih terdapat berbagai tantangan pada aspek pembiayaan, kapasitas sumber daya manusia, integrasi sistem informasi, serta koordinasi lintas sektor yang perlu diperkuat untuk mendukung implementasi ILP secara berkelanjutan.
Muhammad Asrullah, MPH, Ph.D. – Indeks Maturitas Integrasi Layanan Primer sebagai bagian dari – Penilaian Awal Proyek ACTION terhadap Kesiapan Implementasi ILP – Sesi Paralel Potret Supply, Demand, dan Tata Kelola Implementasi ILP di Kota Bekasi dan Kabupaten Bogor
Muhammad Asrullah melanjutkan sesi dengan memperkenalkan Indeks Maturitas ILP sebagai instrumen yang dirancang untuk mengukur tingkat kematangan implementasi ILP secara lebih komprehensif. Dalam paparannya, narasumber menjelaskan bahwa indeks tersebut dikembangkan berdasarkan hasil penilaian awal implementasi ILP di Kota Bekasi dan Kabupaten Bogor. Pengembangan indeks ini bertujuan melengkapi pendekatan pengukuran implementasi yang selama ini masih didominasi oleh indikator administratif, sehingga harapannya mampu memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai kualitas dan tingkat kematangan implementasi ILP di lapangan.
Berbeda dengan pengukuran administratif, Indeks Maturitas ILP ini dapat menilai kesiapan implementasi di seluruh level pelaksana, mulai dari kabupaten/kota, puskesmas, pustu, hingga desa, melalui 4 dimensi utama: tata kelola dan pembiayaan, pelayanan terintegrasi, sistem digital dan logistik, serta keterlibatan masyarakat. Indeks ini diharapkan menjadi acuan bagi pemerintah pusat dan daerah untuk memantau kemajuan implementasi ILP, mengidentifikasi kesenjangan, serta menyusun strategi penguatan yang lebih terarah dan berbasis bukti.
Shita Listya Dewi, S.IP, MM, MPP – Perlukan Opsi Integrasi Layanan Kesehatan Primer untuk Menjawab Tantangan Sumber Daya Kesehatan di Indonesia? Sesi Paralel Presentasi Kategori Kesehatan Keluarga
Shita Dewi mempresentasikan hasil penelitian yang terpilih pada Leimena Conference 2026 mengenai implementasi Integrasi Layanan Primer (ILP) di Kabupaten Sumbawa Barat. Penelitian yang merupakan kolaborasi antara PKMK UGM dan Health Systems Insight (HSI) ini bertujuan menganalisis bagaimana konteks lokal mempengaruhi implementasi ILP, mulai dari tahap pelaksanaan hingga faktor-faktor yang menentukan keberlanjutannya. Melalui studi kasus di Kabupaten Sumbawa Barat, penelitian ini mengeksplorasi kesiapan sumber daya kesehatan, kapasitas sistem, serta dinamika kebijakan daerah dalam mendukung penerapan ILP sebagai model pelayanan kesehatan primer yang terintegrasi. Temuan penelitian diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai posisi implementasi ILP saat ini sekaligus mengidentifikasi tantangan dan peluang untuk replikasi di daerah lain.
PKMK UGM – Sesi Paralel Penggunaan Alat Bantu Perencanaan dan Penganggaran Satuan Biaya Nasional (PRASANA) untuk ILP
Pada kesempatan di sesi paralel lainnya, PKMK UGM bersama Health Systems Insight juga menyerahkan hasil diseminasi penelitian yang telah dilakukan termasuk salah satunya terkait penggunaan ARRIMES serta penelitian lainnya selama beberapa tahun kepada Direktur Tata Kelola Pelayanan Kesehatan Primer (Takel PKP), Kementerian Kesehatan RI. Penyerahan ini menjadi simbol komitmen kolaborasi antara akademisi, mitra pembangunan, dan pemerintah dalam menghasilkan bukti ilmiah (evidence) yang dapat dimanfaatkan untuk memperkuat kebijakan serta implementasi transformasi layanan kesehatan primer di Indonesia. Hasil penelitian tersebut diharapkan menjadi salah satu referensi dalam pengembangan model ILP yang adaptif terhadap konteks dan kebutuhan daerah, sehingga mampu mendukung keberlanjutan transformasi sistem kesehatan nasional.
Reporter: Muhammad Asrullah & Dhea Keyle Fortunandha (PKMK FK-KMK UGM)
The 20th Postgraduate Forum on Health Systems and Policies "Strengthening Health Systems For Global Health Security and Equity”
Faculty of Medicine, Prince of Songkla University, Hat Yai, Songkhla, Thailand 13-14 Juli 2026
Hari Ke-1
Hari Ke-2
Hari Ke-3
Hari Ke-1
Konferensi Internasional The 20th Postgraduate Forum on Health Systems and Policies mengusung tema “Strengthening Health Systems for Global Health Security and Equity” resmi dibuka di Conference Center, Faculty of Medicine, Prince of Songkla University, Thailand pada Senin (13/7/2026).
Welcome and Brief Introduction
Kegiatan ini dibuka oleh Prof. Tippawan Liabsuetrakul, Head, Departement of Epidemology, Prince of Songkla University Thailand. Prof. Tippawan menegaskan bahwa penguatan sistem kesehatan menjadi kebutuhan mendesak di tengah meningkatnya tantangan kesehatan global, seperti penyakit infeksi yang terus bermunculan, ketimpangan kesehatan, transisi demografi, hingga ancaman perubahan iklim. Menurutnya, sistem kesehatan yang tangguh dan berkeadilan merupakan fondasi penting untuk menjamin keamanan kesehatan global sekaligus memastikan setiap masyarakat memperoleh akses layanan kesehatan yang setara. Forum ini diharapkan bukan hanya menjadi ajang akademik bagi mahasiswa pascasarjana, melainkan juga wadah bagi akademisi, peneliti, dan pembuat kebijakan untuk berbagi hasil riset, memperkuat kapasitas sumber daya manusia, serta membangun kolaborasi regional dan internasional di bidang sistem dan kebijakan kesehatan. Forum yang telah memasuki penyelenggaraan ke-20 ini merupakan hasil kolaborasi tiga perguruan tinggi di Asia Tenggara, yaitu Prince of Songkla University (Thailand), Universitas Gadjah Mada (Indonesia), dan Universiti Kebangsaan Malaysia (Malaysia), sebagai upaya bersama dalam menghasilkan penelitian berkualitas yang mampu menjawab kebutuhan kesehatan di tingkat nasional maupun global.
Opening Session
Sambutan berikutnya disampaikan oleh Asst. Prof. Kittipong Riabroi, Dean of Faculty of Medicine, Prince of Songkla University, Thailand. Dalam sambutannya, Prof. Kittipong menegaskan bahwa tema “Strengthening Health Systems for Global Health Security and Equity” sangat relevan dengan dinamika kesehatan global saat ini. Berbagai krisis yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa keamanan kesehatan dan keadilan kesehatan merupakan dua aspek yang tidak dapat dipisahkan. Menurutnya, sistem kesehatan tidak akan benar-benar tangguh apabila belum mampu menjamin akses layanan kesehatan yang berkualitas bagi seluruh masyarakat, khususnya kelompok rentan yang paling membutuhkan perlindungan. Selama dua hari ke depan, forum ini diharapkan menjadi wadah yang mempertemukan beragam perspektif global untuk mengeksplorasi kebijakan inovatif, berbagi hasil riset terbaru, serta merancang strategi praktis guna membangun sistem kesehatan yang tangguh menghadapi krisis di masa depan sekaligus mempersempit kesenjangan kesehatan. Prof. Kittipong mengajak seluruh peserta untuk terlibat aktif dalam pertukaran pengetahuan dan kolaborasi tersebut.
Keynote Virtual Session “ The Future of Global Health Systems: A vision for 2030 and beyond” (Prof. Hao Li School of public Health, Wuhan University, China)
Sesi keynote speech pertama disampaikan oleh Prof. Hao Li, Department of Global Health, School of Public Health, Wuhan University, Tiongkok, yang mengangkat topik “The Future of Global Health Systems: A Vision for 2030 and Beyond”.
Prof. Hao menjelaskan bahwa sistem kesehatan global tengah menghadapi tantangan besar menjelang target Sustainable Development Goals (SDGs) 2030. Berbagai faktor seperti konflik geopolitik, perubahan iklim, dampak pasca pandemi, keterbatasan pendanaan, hingga meningkatnya beban utang negara berkembang telah memperlambat penguatan sistem kesehatan di banyak negara. Mengacu pada kerangka WHO, ia menekankan bahwa sistem kesehatan yang kuat tidak hanya bergantung pada sixbuilding blocks, tetapi juga pada keterkaitan antarkomponen tersebut untuk membangun sistem yang tangguh dalam menghadapi ancaman kesehatan global.
Lebih lanjut, Prof. Hao mengajak peserta melihat kembali evolusi kesehatan global melalui perspektif sejarah, mulai dari era penjelajahan dunia hingga konflik geopolitik modern yang turut mempengaruhi penyebaran penyakit, ketimpangan kesehatan, dan tata kelola kesehatan global. Menurutnya, kesehatan global saat ini perlu dimaknai sebagai upaya bersama untuk mewujudkan health for all melalui penguatan kebijakan, kolaborasi, dan praktik yang berkeadilan. Pihaknya juga menyoroti pentingnya transisi menuju sistem kesehatan yang lebih mandiri di setiap negara, dengan menempatkan kepemilikan nasional, keadilan, serta kerja sama bilateral dan multilateral sebagai fondasi utama dalam memperkuat sistem kesehatan global menuju 2030 dan seterusnya.
Reporter: Via Angraini dan Karlina Sukarno
Plenary Session 1: “Strengthening Primary Healthcare for Global Health Security”
Primary health care infrastructure for health security
Assoc. Prof Aznida dari dari Faculty of Medicine, Universiti Kebangsaan Malaysia, menyoroti berbagai = tantangan yang dihadapi sistem kesehatan saat ini, termasuk ketahanan dalam menghadapi wabah (outbreak resilience), keamanan layanan kesehatan, serta keberlanjutan pendanaan untuk melindungi masayarakt dari ancaman biologis. Selain itu, peran sektor kesehatan swasta dinilai masih belum dimanfaatkan secara optimal dalam mendukung ketahanan sistem kesehatan. Berdasarkan pola health seeking behavior, pengguna layanan kesehatan saat ini didominasi oleh kelompok lanjut usia dengan penyakit kronis. Hal ini menunjukkan bahwa pemanfaatan layanan masih lebih berfokus pada pengobatan dibandingkan pencegahan dan promosi kesehatan.
Assoc. Prof. Aznida kemudian membandingkan berbagai pendekatan penguatan layanan kesehatan primer di berbagai negara di Asia Tenggara. Thailand memberdayakan relawan kesehatan desa untuk melakukan promosi kesehatan di tingkat komunitas, meskipun keberlanjutan pendanaannya masih menjadi tantangan. Singapura berhasil membangun integrasi layanan kesehatan primer yang sangat baik serta memanfaatkan kecerdasan buatan (artificial intelligence) dalam manajemen penyakit. Namun model tersebut dinilai membutuhkan sumber daya yang besar sehingga tidak selalu sesuai untuk wilayah dengan keterbatasan infrastruktur. Sementara itu, Vietnam menekankan penguatan konektivitas layanan hingga daerah terpencil dan optimalisasi layanan kesehatan primer dalam menghadapi krisis kesehatan maupun wabah lokal.
Di Malaysia, inovasi dilakukan melalui “SKIM PERUBATAN MADANI”, yaitu model kolaborasi pemerintah dan sektor swasta dalam penyediaan layanan kesehatan primer. Selain itu, Malaysia juga mengembangkan inovasi manajemen layanan kesehatan primer yaitu “MySejahtera” yang digunakan untuk memastikan keamanan pelayanan kesehatan yang diterima masyarakat. Pada 2026, sekitar 500 dari 3000 klinik telah mengadopsi sistem digital dengan akses penuh. Pemerintah menargetkan lebih dari 2000 klinik terintegrasi melalui implementasi Cloud-based Clinical Management Systems (CCMS), integrasi Electronic Medical Record, serta penguatan integrasi MyVAS dan jaringan Nadi.
Dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan primer, tantangan terkait retensi tenaga kesehatan masih menjadi perhatian karena banyak tenaga kesehatan berpindah ke sektor swasta. Untuk menjamin keberlanjutan pelayanan kesehatan primer, dilakukan penguatan terhadap PHC Security Triad, yang terdiri dari infrastruktur fisik (klinik, puskesmas), infrastruktur digital (Persada, CCMS), serta human infrastructure (keluarga, dokter, dokter spesialis, dan aktor kesehatan lainnya). Dalam konteks regional ASEAN, ketahanan layanan kesehatan primer perlu didukung melalui penguatan ekonomi dan pengembangan arsitektur data yang terstandarisasi. Penguatan ekonomi bertujuan memastikan keberlanjutan pembiayaan domestik sehingga tidak bergantung pada emergency budgets. Sementara itu, standardisasi data dan indikator layanan kesehatan primer diperlukan untuk mendukung benchmarking, pemantauan kinerja, serta respons yang lebih terkoordinasi terhadap krisis iklim maupun ancaman biologis.
Reporter : Ovilia dan Abi (PKMK FK-KMK UGM)
Preparedness of primary health care systems for equity
Professor Apichai Wattanapisit, M.D., Ph.D. dari Faculty of Medicine, Prince of Songkla University, Thailand menyampaikan paparan bertajuk “Preparedness of a Primary Healthcare System for Equity”. Dalam paparannya, Prof. Apichai menekankan bahwa pencapaian kesetaraan kesehatan (health equity) memerlukan reposisi fundamental layanan kesehatan primer. Di tengah tantangan global yang dinamis, sistem kesehatan perlu berevolusi dari sekadar penyedia layanan medis menjadi mekanisme yang mampu mengatasi hambatan sistemik dan merespon kebutuhan masyarakat secara inklusif.
Layanan Kesehatan Primer (Primary Health Care/ PHC) merupakan fondasi penting dalam mewujudkan kesetaraan kesehatan. Prof Apichai menjelaskan terdapat perbedaan besar antara kesamaan equality dan equity. Jika equality memberikan dukungan yang sama kepada semua orang, equity menyesuaikan dukungan berdasarkan kebutuhan masing-masing individu untuk mengatasi ketimpangan sosial dan ekonomi yang ada. kesenjangan antara kondisi ideal dan realitas saat ini masih lebar, terutama karena distribusi sumber daya kesehatan sering kali tidak sejalan dengan kebutuhan masyarakat. Dalam konteks tersebut, PHC memiliki peran strategis karena berfokus pada kebutuhan masyarakat secara menyeluruh, bukan hanya pelayanan kuratif. Mengacu pada studi OECD tahun 2020, Prof. Apichai menjelaskan bahwa sistem kesehatan dengan PHC yang kuat cenderung lebih efektif, efisien, dan adil. Namun, untuk mencapai potensi tersebut diperlukan model pelayanan yang lebih inovatif, termasuk insentif ekonomi yang tepat dan peran pasien yang lebih besar dalam pengambilan keputusan.
Guna mencapai tujuan SDGs nomor 3 dan cakupan kesehatan semesta (Universal Health Coverage/UHC), kerangka PHC harus mencakup tiga komponen utama: kebijakan multisektoral yang melibatkan berbagai sektor masyarakat, pemberdayaan individu dan komunitas, serta integrasi layanan kesehatan primer dengan fungsi kesehatan masyarakat dasar. Dalam kerangka ini, kesetaraan bukan sekadar tujuan akhir, melainkan prinsip utama yang harus dipertimbangkan dalam setiap perencanaan dengan memperhatikan perbedaan gender serta status sosial ekonomi di tingkat lokal. Tantangan dalam mencapai dampak kesetaraan yang optimal memang besar, namun integrasi layanan yang berpusat pada manusia menjadi kunci utama.
Di akhir paparannya, Prof. Aphicai menekankan bahwa kkesiapsiagaan sistem kesehatan primer harus dibangun sejak dini sebelum krisis terjadi guna menjamin keberlanjutan layanan esensial, penguatan kapasitas tenaga kerja kesehatan, dan pembangunan kepercayaan masyarakat. Adaptasi terhadap konteks lokal sangat penting karena hambatan akses kesehatan berbeda-beda di setiap wilayah. kesiapsiagaan untuk kesetaraan bukan sekedar tentang menghadapi krisis berikutnya, melainkan tentang membangun sistem kesehatan yang tangguh, inklusif, dan responsif setiap hari untuk semua orang.
Reporter: Latifah Alifiana dan Candra (PKMK FK-KMK UGM)
Community groups, structural vulnerabilities and pandemic readiness
Prof. Yodi Mahendradata, M.Sc, Ph.D, FRSPH dari Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, Universitas Gadjah Mada, melanjutkan sesi dengan paparan berjudul “From preparedness to justice: communities structural vulnerabilities and pandemic readiness”. Dalam papparannya, Prof Yodi menyoroti pentingnya konsep justice di era pandemi. Menurutnya, pandemi COVID-19 bukan hanya krisis kesehatan, melainkan juga stress test yang mengungkap sekaligus memperdalam berbagai kerentanan sosial yang telah lama ada di masyarakat. Prof. Yodi menjelaskan bahwa meskipun virus secara biologis tidak membedakan individu, dampak pandemi sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial, ekonomi, dan lingkungan tempat seseorang hidup. Kelompok rentan seperti pekerja informal, masyarakat tanpa tempat tinggal, migran, dan kelompok marjinal menghadapi risiko yang jauh lebih besar karena keterbatasan akses terhadap tempat tinggal yang layak, air bersih, layanan kesehatan, perlindungan sosial, hingga identitas administratif. Melalui hasil penelitiannya terhadap masyarakat yang hidup di jalanan di Indonesia, Yodi menunjukkan bahwa banyak pesan kesehatan masyarakat, seperti stay at home atau mencuci tangan secara rutin, sulit diterapkan oleh kelompok yang bahkan tidak memiliki tempat tinggal maupun akses air bersih. Selain itu, bantuan pemerintah sering kali tidak menjangkau mereka karena tidak memiliki dokumen kependudukan atau alamat tetap, sehingga mereka menjadi “tidak terlihat” dalam sistem perlindungan sosial.
Lebih lanjut, Prof. Yodi memperkenalkan konsep pandemic justice, yaitu paradigma yang menempatkan keadilan sosial sebagai fondasi utama kesiapsiagaan pandemi. Menurutnya kerentanan bukanlah karakteristik individu semata, melainkan merupakan hasil dari ketimpangan struktural dalam perumahan, pendidikan, pekerjaan, perlindungan sosial, akses digital, serta kepercayaan terhadap institusi. Oleh karena itu, kesiapsiagaan pandemi tidak cukup hanya diukur melalui kapasitas laboratorium, sistem surveilans, atau jumlah tempat tidur ICU, tetapi juga melalui kemampuan sistem dalam melindungi kelompok yang paling rentan.
Sebagai langkah ke depan, Prof. Yodi mengusulkan penguatan sistem perlindungan sosial yang adaptif, intervensi kesehatan masyarakat yang lebih inklusif sesuai kondisi masyarakat, desentralisasi kesiapsiagaan melalui pemberdayaan pemerintah daerah dan komunitas, serta pelibatan masyarakat sipil dan kelompok rentan dalam proses pengambilan keputusan. Menutup paparannya, pihaknya menegaskan bahwa keberhasilan kesiapsiagaan pandemi tidak hanya ditentukan dari seberapa cepat suatu negara mampu mendeteksi virus atau mengembangkan vaksin, melainkan juga dari kemampuan memastikan bahwa tidak ada seorang pun yang tertinggal, sehingga setiap individu memiliki kesempatan yang setara untuk bertahan, pulih, dan hidup dengan bermartabat ketika krisis kesehatan terjadi.
Pada sesi diskusi, peserta mengajukan pertanyaan bagaimana pemerintah dapat mengoptimalkan penerapan prinsip justice dan equity dalam sistem kesehatan. Menanggapi hal tersebut, Assoc. Prof. Aznida menekankan pentingnya membangun ruang dialog dan forum yang mampu meningkatkan keterlibatan masyarakat terhadap isu-isu kesehatan tertentu dengan menghadirkan data dan bukti yang relevan. Menurutnya, keterlibatan publik merupakan langkah awal untuk membangun kesadaran dan dukungan terhadap kebijakan yang lebih berkeadilan. Prof. Apichai menambahkan bahwa sektor kesehatan perlu berpikir melampaui pelayanan kesehatan itu sendiri. Upaya mewujudkan keadilan kesehatan harus mempertimbangkan kualitas hidup masyarakat secara lebih luas serta berbagai faktor yang memengaruhi kesehatan di luar sektor kesehatan. Sementara itu, Prof. Yodi menekankan bahwa berbagai sistem yang ada saat ini pada dasarnya masih berakar pada ketidakadilan struktural yang telah berlangsung lama. Oleh karena itu, perubahan menuju sistem yang lebih adil tidak dapat dicapai dalam waktu singkat, melainkan membutuhkan kontribusi dan kolaborasi dari berbagai pihak untuk merumuskan solusi yang berkelanjutan.
Pertanyaan berikutnya, bagaimana isu kesetaraan dan keadilan kesehatan dapat diadvokasikan kepada pemangku kepentingan di luar sektor kesehatan, mengingat banyak faktor penentunya berada di luar sistem kesehatan. Menanggapi hal ini, Prof. Yodi menegaskan pentingnya memahami perspektif dan kepentingan para pemangku kepentingan tersebut serta membangun dialog yang konstruktif dengan mereka. Menurutnya, kesehatan tidak dapat dipisahkan dari proses politik sehingga advokasi kebijakan juga harus dipahami sebagai bagian dari proses politik yang melibatkan berbagai sektor. Prof. Apichai mengibaratkan upaya mewujudkan keadilan kesehatan sebagai menyusun sebuah puzzle besar yang membutuhkan kontribusi dari berbagai pihak. Setiap sektor memiliki peran yang saling melengkapi sehingga dibutuhkan waktu, kolaborasi, dan komitmen bersama untuk mencapai tujuan tersebut. Senada dengan itu, Assoc. Prof. Aznida menekankan pentingnya membangun jejaring dengan individu dan organisasi yang memiliki kepedulian terhadap isu yang sama, serta memastikan bahwa proses advokasi didukung oleh informasi dan bukti yang diperoleh dari para ahli. Menurutnya, kolaborasi dan penggunaan bukti ilmiah merupakan fondasi penting dalam mendorong perubahan kebijakan yang lebih adil dan inklusif.
Reporter: Monita Destiwi (PKMK)
Hari Ke-2
Keynote Virtual Session “Human Resources for Health: Addressing Global Shortages and Retention”
Pada sesi keynote virtual bertajuk “Human Resources for Health: Addressing Global Shortages and Retention”, Prof. Viroj Tangcharoensathien, M.D., Ph.D. dari International Health Policy Program, Thailand., membahas tantangan global terkait kekurangan tenaga kesehatan, faktor-faktor yang memengaruhi retensi tenaga kesehatan, serta berbagai strategi untuk memperkuat keberlanjutan sumber daya manusia kesehatan dalam mendukung pencapaian Universal Health Coverage (UHC).
Menurut Prof. Viroj, WHO memproyeksikan dunia akan mengalami kekurangan sekitar 11 juta tenaga kesehatan pada 2030, dengan dampak terbesar dirasakan oleh negara-negara berpendapatan rendah dan menengah. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk terbatasnya kapasitas pendidikan dan pelatihan, pembiayaan yang belum memadai, kondisi kerja yang kurang mendukung, tingginya angka burnout, serta distribusi tenaga kesehatan yang tidak merata.
Lebih lanjut, Prof. Viroj menjelaskan bahwa migrasi internasional tenaga kesehatan dipengaruhi oleh faktor pendorong (push factors) dan faktor penarik (pull factors). Faktor pendorong dari negara asal meliputi rendahnya insentif, terbatasnya peluang karier, serta isi kondisi kerja yang kurang memadai. Di sisi lain, negara tujuan menawarkan gaji yang lebih tinggi, fasilitas kesehatan yang lebih baik, dan jenjang karir yang lebih menjanjikan. Untuk mengatasi tantangan tersebut, Prof. Viroj menekankan pentingnya implementasi WHO Global Code of Practice on the International Recruitment of Health Personnel, penguatan strategi retensi tenaga kesehatan, pemanfaatan teknologi digital kesehatan, serta penerapan task shifting. Sebagai contoh praktik baik, Thailand telah mengembangkan berbagai kebijakan, antara lain rekrutmen mahasiswa dari daerah pedesaan, penempatan wajib tenaga kesehatan di wilayah rural, pemberian insentif bagi tenaga kesehatan di daerah terpencil, reformasi jalur karier, serta penguatan jaringan relawan kesehatan masyarakat untuk meningkatkan pemerataan tenaga kesehatan. Menutup paparannya, Prof. Viroj menegaskan bahwa penyelesaian krisis tenaga kesehatan membutuhkan investasi jangka panjang dan kolaborasi internasional guna membangun sistem kesehatan yang lebih tangguh dan berkelanjutan.
Reporter: Via Angraini dan Karlina Sukarno (PKMK FK-KMK UGM)
Plenary session 2a. Addressing Health Equity: Social Determinants, Financial Protection, and Strategic Health Financing
Dr. Diah Ayu Puspandari, Apt, MBA, M Kes dari FK-KMK UGM menyoroti pencapaian ekuitas kesehatan di Indonesia sangat dipengaruhi oleh determinan sosial dan kompleksitas geografis negara kepulauan. Meskipun program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) telah berperan sebagai instrumen perlindungan finansial selama lebih dari satu dekade, tantangan dalam pemerataan akses layanan kesehatan dan distribusi tenaga kesehatan masih menjadi persoalan utama. Selain itu, kelompok masyarakat berpendapatan rendah masih menghadapi berbagai hambatan non medis, seperti biaya transportasi menuju fasilitas kesehatan dan kebutuhan caregiver, yang belum sepenuhnya terakomodasi dalam skema pembiayaan kesehatan, terutama di daerah terpencil dan sulit terjangkau.
Berdasarkan data National Health Account (NHA) 2024, total belanja kesehatan Indonesia mencapai sekitar 2,9% dari Produk Domestik Bruto (PDB), dengan sebagian besar pembiayaan berasal dari sektor pembiayaan publik dan JKN. JKN juga dinilai berhasil meningkatkan perlindungan finansial masyarakat dengan menurunkan proporsi pengeluaran kesehatan langsung rumah tangga (out-of-pocket expenditure) menjadi 28,3%. Namun demikian, Dr. Diah menggarisbawahi adanya ketimpangan alokasi anggaran. Sebanyak 56% belanja terserap oleh layanan di rumah sakit dan 21,3% untuk obat-obatan, sedangkan layanan kesehatan primer (PHC) hanya mendapatkan porsi sekitar 20% dari total belanja kesehatan. Struktur belanja yang intensif pada layanan kuratif ini dinilai rentan terhadap tekanan fiskal, terutama dengan meningkatnya beban penyakit tidak menular.
Tekanan finansial diprediksi akan semakin meningkat seiring dengan perubahan demografi Indonesia. Meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia yang kini telah mencapai 7,1% dari total penduduk akan mendorong kebutuhan terhadap layanan kuratif dan perawatan jangka panjang (long-term care) yang membutuhkan biaya tinggi. Oleh karena itu, Dr. Diah menekankan pentingnya menggeser investasi kesehatan ke arah penguatan layanan kesehatan primer serta upaya promotif dan preventif guna mengurangi kebutuhan layanan rumah sakit yang lebih mahal.
Menutup paparannya, Dr. Diah menjelaskan bahwa konsep equitable rebalancing bukan berarti mengurangi anggaran rumah sakit, melainkan mengarahkan sumber daya baru dan hasil efisiensi sistem untuk memperkuat layanan kesehatan primer, upaya promotif dan preventif, pengembangan tenaga kesehatan, serta pelayanan di wilayah yang masih kurang terlayani. Menurutnya, keberlanjutan pembiayaan dapat tetap terjaga melalui implementasi yang bertahap, penetapan prioritas yang jelas, dan penerapan strategic purchasing. Dengan pendekatan tersebut, pembiayaan kesehatan tidak hanya berfungsi sebagai mekanisme pembayaran layanan, tetapi juga sebagai instrumen strategis untuk mengurangi ketimpangan sosial dan geografis serta memperkuat kapasitas sistem kesehatan dalam mewujudkan keadilan kesehatan bagi seluruh masyarakat Indonesia.
Reporter: Latifah Alifiana (PKMK FK-KMK UGM)
Plenary session 2b. Heath System Responses to Social Determinant of Health in South East Asia
Prof. Tippawan Liabsuetrakul dari Faculty of Medicine, Prince of Songkla University, Thailand, menekankan bahwa penyakit sering kali berakar jauh sebelum seseorang datang ke fasilitas kesehatan. Menurutnya, berbagai masalah kesehatan dipengaruhi oleh kondisi sosial, komunitas, komersial, dan politik yang membentuk kehidupan masyarakat sehari-hari. Pandangan tersebut disampaikan dalam paparannya mengenai respons sistem kesehatan terhadap penentu sosial kesehatan di kawasan Asia Tenggara.
Prof. Tippawan menjelaskan bahwa penentu sosial kesehatan (Social Determinants of Health/SDoH) seperti tingkat pendidikan, pendapatan, keamanan finansial, hingga lingkungan tempat tinggal, memiliki pengaruh besar terhadap status kesehatan masyarakat. Pendidikan yang lebih tinggi, misalnya, sering dikaitkan dengan peluang pekerjaan yang lebih baik, kondisi hidup yang lebih layak, dan perilaku kesehatan yang lebih positif. Namun, selain faktor sosial, sistem kesehatan saat ini juga menghadapi tantangan besar dari penentu komersial kesehatan (Commercial Determinants of Health/CDoH). Menurutnya, jika penentu sosial menjelaskan kondisi yang memengaruhi kesehatan, maka penentu komersial membantu menjelaskan siapa yang membentuk kondisi tersebut. Praktik bisnis seperti pemasaran produk yang tidak sehat, strategi penetapan harga, ketersediaan produk, hingga lobi kebijakan dapat memengaruhi kesehatan masyarakat secara signifikan dan perlu menjadi perhatian dalam upaya mewujudkan keadilan kesehatan.
Lebih lanjut, Prof. Tippawan menyoroti perubahan demografis dan perilaku yang sedang terjadi di Asia Tenggara. Diproyeksikan pada 2030, sekitar 10 hingga 20% populasi di Thailand, Malaysia, dan Indonesia akan berusia 60 tahun ke atas, diiringi dengan laju urbanisasi yang melonjak tajam hingga mencapai 60 hingga 80%. Hal ini diperburuk dengan pergeseran perilaku masyarakat seperti peningkatan penggunaan tembakau, pola makan tidak sehat, dan kurangnya aktivitas fisik. Untuk mengatasi beban kesehatan ini, peran Cakupan Kesehatan Semesta (Universal Health Coverage/UHC) sangatlah krusial. Belajar dari pandemi COVID-19 yang sempat melumpuhkan layanan esensial seperti imunisasi dan kesehatan ibu, ketahanan (resilience) kini telah menjadi fungsi wajib dari setiap sistem kesehatan. Oleh karena itu, ketahanan sistem kesehatan harus menjadi fungsi inti yang dibangun sebelum krisis terjadi, bukan sekadar respons ketika sistem telah kewalahan menghadapi lonjakan kebutuhan layanan.
Menurut Prof. Tippawan, sistem kesehatan yang responsif bukan hanya ditentukan oleh kualitas layanan medis, melainkan juga oleh tingkat kepercayaan masyarakat terhadap institusi kesehatan. Pihaknya menekankan pentingnya pendekatan “Health in All Policy“, yaitu prinsip bahwa kesehatan tidak hanya menjadi tanggung jawab sektor kesehatan, melainkan juga harus dipertimbangkan dalam seluruh kebijakan pembangunan. Sektor pendidikan, keuangan, pertanian, perumahan, hingga transportasi perlu berkontribusi untuk menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan masyarakat dan mengurangi ketimpangan kesehatan.
Sebagai ilustrasi, Prof. Tippawan mengangkat kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Asia Tenggara. Menurutnya, DBD bukan semata-mata persoalan penyakit menular atau keberadaan nyamuk, melainkan juga berkaitan erat dengan faktor sosial, lingkungan, dan tata kelola pemerintahan. Kepadatan permukiman, sanitasi yang kurang memadai, serta sistem drainase yang buruk dapat meningkatkan risiko perkembangbiakan nyamuk. Di sisi lain, pembangunan perkotaan yang pesat dan meningkatnya limbah plastik juga berkontribusi terhadap munculnya lingkungan yang mendukung penyebaran penyakit.
Oleh karena itu, pengendalian DBD memerlukan pendekatan yang terintegrasi melalui tiga tingkatan intervensi yang saling melengkapi, yaitu layanan klinis untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian, intervensi kesehatan masyarakat seperti pengendalian vektor dan pemberdayaan komunitas untuk memutus rantai penularan, serta intervensi kebijakan yang mencakup pengelolaan lingkungan, manajemen limbah, dan perencanaan tata kota yang lebih sehat. Ketiga aspek tersebut perlu berjalan secara simultan agar pengendalian penyakit dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Menutup paparannya, Prof. Tippawan mengingatkan bahwa luaran kesehatan masyarakat dibentuk oleh faktor sosial, komersial, lingkungan, dan politik, bukan sekadar dari fasilitas perawatan medis. Membangun sistem kesehatan yang tangguh dan berkeadilan membutuhkan tindakan kolektif (collective action) yang melibatkan pemerintah, masyarakat, akademisi, dan sektor swasta. Menurutnya, diplomasi kesehatan, kebijakan berbasis bukti, serta kepemimpinan yang kuat sangat esensial untuk menerjemahkan penelitian menjadi kebijakan dan tindakan nyata yang mampu meningkatkan kesehatan masyarakat secara berkelanjutan.
Reporter: Candra ( PKMK FK-KMK UGM)
Plenary Session 2c. The Role of Social Determinants, Financial Protection, and Strategic Health Financing
From Health to Social Policy: Building Equity Across Sectors
Sesi penutup Plenary Session 2 disampaikan oleh Emeritus Professor Dato’ Dr. Syed Mohamed Aljunid dari School of Medicine, International Medical University (IMU), Malaysia. Dalam paparannya, Prof. Syed mengajak peserta melihat kesehatan dari perspektif yang lebih luas. Menurutnya, derajat kesehatan masyarakat bukan hanya ditentukan oleh pelayanan kesehatan, melainkan juga oleh berbagai social determinants of health, seperti pendidikan, tempat tinggal, pekerjaan, dan pendapatan. Oleh karena itu, kebijakan sosial pada hakikatnya juga merupakan kebijakan kesehatan dan membutuhkan kolaborasi lintas sektor melalui pendekatan Health in All Policies.
Prof. Syed juga menyoroti bahwa banyak negara masih lebih berfokus pada pembangunan rumah sakit dan layanan kuratif dibandingkan penguatan pelayanan kesehatan primer serta upaya promotif dan preventif. Di sisi lain, tingginya proporsi pengeluaran kesehatan yang masih ditanggung langsung oleh masyarakat (out-of-pocket expenditure), termasuk di Malaysia yang mencapai 38,8%, menunjukkan bahwa perlindungan finansial kesehatan masih menjadi tantangan dalam mewujudkan akses layanan yang merata dan berkeadilan.
Menutup paparannya, Prof. Syed menegaskan bahwa pencapaian health equity membutuhkan komitmen politik yang kuat serta sinergi antarsektor, khususnya antara Kementerian Kesehatan dan Kementerian Keuangan. Dengan menempatkan kesehatan sebagai pertimbangan dalam setiap kebijakan publik, sistem kesehatan yang lebih adil, inklusif, dan berkelanjutan dapat terwujud, sehingga kesehatan benar-benar menjadi hak bagi seluruh masyarakat, bukan hanya bagi kelompok tertentu.
Plenary 3a. Menerapkan Jejaring Layanan Primer untuk Akses yang Lebih Baik: Belajar dari Thailand
Prof. Supasit Pannarunothai dari Centre for Health Equity Monitoring Foundation, Thailand mengajak peserta menelusuri perjalanan tiga dekade reformasi sistem layanan primer di Thailand sekaligus merefleksikan bagaimana jejaring layanan primer seharusnya dibangun untuk mewujudkan akses dan pemerataan kesehatan yang lebih baik. Ia membuka presentasi dengan membandingkan ketersediaan layanan primer di Inggris (United Kingdom) dan Thailand—yang menurutnya masih mengalami kekurangan—lalu menegaskan atribut inti praktik layanan primer yang menjadi rujukan sepanjang paparan: berpusat pada orang (person-centred), holistik, terkoordinasi, berfokus pada komunitas, berkesinambungan, dan mudah diakses.
Tiga dekade reformasi layanan primer Thailand
Titik balik reformasi Thailand adalah Undang-Undang Jaminan Kesehatan Nasional tahun 2002 (National Health Security Act), yang meletakkan struktur jejaring layanan primer (primary care network, PCN) secara jelas melalui skema contracting unit for primary care (CUP) beserta unit-unit layanan primer (primary care units, PCU) di bawahnya, dengan pembiayaan kapitasi prabayar. Berdirinya National Health Security Office (NHSO) sebagai pengelola anggaran kapitasi dari pemerintah menjadi daya ungkit bagi lahirnya beragam inovasi jejaring: klinik swasta yang berperan sebagai PCU, apotek berkualitas, fisioterapis, perawat kunjungan rumah, telemedicine dan telepharmacy, hingga kebijakan rawat jalan di mana saja (outpatient anywhere).
Meski demikian, Prof. Supasit mencatat bahwa inisiatif jejaring layanan primer dari lembaga lain—seperti Kantor Layanan Primer Kementerian Kesehatan Masyarakat yang dipayungi Undang-Undang Sistem Layanan Primer 2019, maupun Royal College of Family Physicians—terbukti memiliki cakupan efektif yang terbatas. Di sisi lain, kebijakan desentralisasi layanan kesehatan ke pemerintah daerah menuntut adanya sistem pemantauan dan evaluasi jejaring layanan primer yang seragam demi akses dan pemerataan kesehatan yang lebih baik.
Belajar dari Inggris: Integrated Care System
Sebagai pembanding, Prof. Supasit memaparkan konsep sistem layanan terintegrasi (Integrated Care System, ICS) di Inggris sebagai istilah kunci dalam membangun jejaring layanan primer. NHS Inggris mengelola dan mendukung badan-badan NHS untuk bekerja bersama melalui ICS, dengan komisi kualitas layanan yang secara independen mengkaji dan menilai kinerjanya. ICS terdiri dari dua badan utama. Pertama, Integrated Care Board (ICB), beranggotakan direktur non-eksekutif yang dinominasikan oleh NHS trusts atau foundation trusts, pemerintah daerah, praktik umum, serta individu dengan keahlian di bidang kesehatan jiwa. Kedua, Integrated Care Partnership (ICP), yang beranggotakan perwakilan pemerintah daerah, ICB, Healthwatch, dan mitra lainnya. Kedua badan inilah yang membentuk struktur kemitraan dan arah layanan.
Secara geografis, ICS bekerja pada tiga level. Pada level system (mencakup populasi 1–2 juta jiwa), kolaborasi melibatkan NHS trusts—termasuk layanan akut, spesialis, dan kesehatan jiwa—serta relawan komunitas, wirausaha sosial, dan sektor mandiri. Pada level place (populasi 250–500 ribu jiwa), kemitraan berbasis lokasi menghimpun badan kesehatan dan kesejahteraan, ICB, Healthwatch, pemerintah daerah, VCSE, NHS trusts, dan layanan primer. Adapun pada level neighbourhood (populasi 30–50 ribu jiwa), jejaring layanan primer diisi oleh dokter umum (GP), apotek komunitas, dokter gigi, dan dokter mata. Kualitas layanan primer sendiri dinilai melalui sebelas dimensi, di antaranya tata kelola, aspek ekonomi, pengembangan tenaga kesehatan, akses terhadap layanan, kesinambungan layanan, koordinasi layanan, dan kekomprehensifan layanan.
COVID-19 dan lompatan telemedicine
Pandemi COVID-19 menjadi momen krusial. Sistem kesehatan Thailand sempat kolaps, dan jumlah kunjungan pasien menurun tajam—di Bangkok, dari 66.411 orang pada 2021 menjadi 46.777 pada 2022. Justru dari tekanan inilah jejaring layanan primer berbasis digital terbentuk: telemedicine melesat dan menjadi kanal layanan yang bertahan hingga kini, memperluas pilihan akses bagi masyarakat.
Desentralisasi: peluang yang belum tentu mulus
Bagian yang tak kalah menarik adalah temuan riset tentang dampak desentralisasi. Studi mengenai pengalihan rumah sakit promosi kesehatan tingkat subdistrik ke organisasi administratif tingkat provinsi menunjukkan penurunan drastis pada cakupan skrining diabetes melitus, hipertensi, activities of daily living (ADL), dan pemantauan pertumbuhan anak. Analisis pemanfaatan layanan (healthcare utilization) juga memperlihatkan pola menarik pada layanan rumah sakit: pemanfaatan layanan hipertensi tidak terpengaruh oleh kebijakan akses gratis, sementara layanan kardiovaskular justru terpengaruh. Secara umum, desentralisasi layanan primer ke pemerintah daerah diikuti penurunan intensitas layanan, dan dampaknya terhadap atribut inti layanan primer bervariasi antarlokasi.
Dari kajian di tiga lokasi, kualitas layanan diukur melalui serangkaian atribut: relevansi budaya, keterlibatan komunitas, orientasi dan keberpusatan pada keluarga, layanan komprehensif, menjadi pilihan kontak pertama, akses kontak pertama, kesinambungan layanan dan manajemen, kesinambungan layanan dan sistem informasi, serta sistem yang terintegrasi dan komprehensif. Temuan-temuan ini menegaskan bahwa tujuan jejaring layanan primer perlu dikonsolidasikan dengan tujuan sistem kesehatan secara keseluruhan, melalui integrasi strategis di berbagai level.
Penutup: diseragamkan atau dibiarkan beragam?
Prof. Supasit menutup sesinya dengan pertanyaan fundamental yang ia lempar kepada peserta: apakah jejaring layanan primer perlu diseragamkan, atau justru dibiarkan beragam—khususnya dalam hal penyelenggaraan layanan, pembiayaan, serta pemantauan dan evaluasi—agar sesuai dengan ekosistem sistem kesehatan masing-masing, di tengah era artificial intelligence yang penuh tantangan? Pertanyaan ini terasa sangat relevan bagi Indonesia yang tengah menata jejaring layanan primernya sendiri melalui Integrasi Layanan Primer (ILP): pelajaran dari Thailand menunjukkan bahwa struktur pembiayaan yang jelas, ruang inovasi, dan sistem pemantauan yang kuat sama pentingnya dengan semangat desentralisasi itu sendiri.
Plenary Session 3.bDigital Transformation in Public Primary Care: Lessons from Malaysia
Mohd Rizal Abdul Manaf, M.D., M.P.H., Ph.D. dari Department of Public Health Medicine, Faculty of Medicine, Universiti Kebangsaan Malaysia, memaparkan pengalaman transformasi digital layanan kesehatan primer swasta di Malaysia. Menurutnya, transformasi digital di sektor kesehatan merupakan pilar ketahanan nasional, terutama setelah pandemi COVID-19 yang mengubah cara sistem kesehatan merespons kebutuhan masyarakat dan mengelola layanan kesehatan.
Perjalanan transformasi digital di Malaysia ini dimulai sejak 1997 melalui pengembangan layanan telemedicine. Upaya tersebut terus berkembang hingga tercapainya integrasi data kesehatan pada 2017. Pada 2026, Malaysia mengembangkan Cloud-Based Clinical Management System (CCMS) dengan proyek percontohan di Sarawak. Sistem ini dirancang untuk meningkatkan kontinuitas pelayanan melalui integrasi data pasien antar fasilitas kesehatan, sehingga informasi kesehatan dapat diakses secara lebih mudah dan efisien oleh tenaga kesehatan. Dalam jangka panjang, CCMS diproyeksikan berkembang menjadi Lifetime Health Record pada 2038, yang memungkinkan riwayat kesehatan individu terdokumentasi secara komprehensif sepanjang hidupnya.
Mohd Rizal menegaskan bahwa keberhasilan transformasi digital bukan hanya bergantung pada kesiapan teknologi, melainkan juga pada kemampuan individu dan organisasi dalam memanfaatkan teknologi tersebut untuk mendorong perubahan. Oleh karena itu, pendekatan people-first menjadi sangat penting, termasuk melalui integrasi alur kerja, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, dan penguatan budaya digital di sektor kesehatan.
Meski demikian, berbagai tantangan masih dihadapi dalam proses transformasi ini. Tantangan tersebut meliputi keterbatasan konektivitas di wilayah pedesaan, perbedaan standar data antara fasilitas kesehatan pemerintah dan swasta, serta berbagai isu kebijakan dan tata kelola, termasuk yang berkaitan dengan sektor asuransi kesehatan swasta. Menurutnya, transformasi digital merupakan proses jangka panjang yang memerlukan komitmen berkelanjutan dari berbagai pemangku kepentingan agar dapat mendukung akses layanan kesehatan yang lebih merata dan berkeadilan bagi seluruh masyarakat.
Plenary 3c. Interoperable Health Information Systems to Support Continuum of Care in Primary Health Centers: Lessons from Indonesia
Sesi plenary ketiga ditutup dengan paparan dari Lutfan Lazuardi, M.D., M.P.H., Ph.D dari FK-KMK UGM dengan tajuk “Interoperable Health Information Systems to Support Continuum of Care in Primary Health Centers: Lessons from Indonesia”. Lutfan membuka paparannya dengan menggambarkan perjalanan layanan kesehatan masyarakat yang dimulai sejak pelayanan antenatal, persalinan, hingga pemantauan tumbuh kembang dan imunisasi anak. Seluruh layanan tersebut berlangsung di berbagai tingkat fasilitas kesehatan dan melibatkan banyak tenaga kesehatan. Oleh karena itu, kesinambungan pelayanan (continuum of care) hanya dapat terwujud apabila informasi kesehatan dapat dipertukarkan secara efektif antar fasilitas dan antar penyedia layanan.
Menurut Lutfan, Indonesia memiliki sumber data kesehatan yang sangat besar, baik yang berasal dari pencatatan manual maupun berbagai aplikasi digital yang berkembang di tingkat nasional, daerah, fasilitas pelayanan kesehatan, hingga komunitas. Namun, keberadaan sekitar 400 aplikasi kesehatan pada 2023 menunjukkan bahwa data masih tersebar dalam berbagai sistem yang belum saling terhubung, sehingga belum mampu menghasilkan informasi yang optimal untuk mendukung pelayanan kesehatan dan pengambilan keputusan.
Upaya untuk mengatasi fragmentasi tersebut, Kementerian Kesehatan mengembangkan SATUSEHAT sebagai platform interoperabilitas data kesehatan nasional. Implementasi rekam medis elektronik yang diwajibkan sejak tahun 2023 menjadi salah satu langkah penting dalam membangun pertukaran data kesehatan antar fasilitas pelayanan. Melalui SATUSEHAT, data kesehatan diharapkan dapat terintegrasi dan dimanfaatkan secara lebih efektif, sekaligus memberikan akses kepada masyarakat terhadap riwayat kesehatannya melalui Personal Health Records (PHR).
Lutfan menekankan bahwa interoperabilitas tidak hanya berkaitan dengan teknologi. Keberhasilannya juga bergantung pada penerapan standar data yang seragam, tata kelola yang kuat, serta komitmen berbagai pemangku kepentingan untuk berbagi dan memanfaatkan data secara bertanggung jawab. Menurutnya, interoperabilitas merupakan fondasi penting untuk memperkuat sistem rujukan, meningkatkan kesinambungan pelayanan, dan memastikan bahwa informasi kesehatan dapat mengikuti pasien di setiap titik layanan.
Menutup paparannya, Lutfan menegaskan bahwa interoperabilitas merupakan bagian dari transformasi kebijakan kesehatan sekaligus fondasi bagi terwujudnya learning health system. Dengan data yang saling terhubung dan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan, sistem kesehatan akan mampu belajar dari praktik pelayanan sehari-hari, meningkatkan mutu layanan, serta mendukung pengambilan kebijakan berbasis bukti menuju sistem kesehatan yang lebih terintegrasi, berpusat pada pasien, dan berkelanjutan.
Reporter: Sensa Gudya Sauma Syahra (PKMK)
Discussion session
Pada sesi diskusi, salah satu peserta mengangkat pertanyaan mengenai pengelolaan dan integrasi data kesehatan, khususnya terkait pengembangan data repository yang dapat mendukung pelayanan kesehatan sekaligus penelitian.
Menanggapi pertanyaan tersebut, Mohd Rizal Abdul Manaf menjelaskan bahwa tantangan utama dalam integrasi data bukan hanya terletak pada aspek teknologi, tetapi juga pada tata kelola dan komitmen antarorganisasi untuk berbagi data. Menurutnya, saat ini banyak institusi masih menggunakan sistem yang berjalan secara paralel sehingga terjadi duplikasi pencatatan dan pelaporan. Oleh karena itu, diperlukan kebijakan yang kuat dan dukungan regulasi yang jelas untuk mendorong integrasi data antarsistem. Di sisi lain, perlindungan kerahasiaan dan privasi pasien tetap harus menjadi prioritas dalam setiap proses pertukaran data.
Sementara itu, Lutfan Lazuardi menekankan bahwa data kesehatan yang dikumpulkan di fasilitas pelayanan kesehatan memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan sebagai sumber data penelitian dan pengambilan keputusan berbasis bukti. Namun, pemanfaatan tersebut perlu didukung oleh peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dalam pengelolaan, analisis, dan pemanfaatan data. Menurutnya, penguatan interoperabilitas dan integrasi data sangat penting karena data yang tersedia di fasilitas kesehatan pada dasarnya merepresentasikan kondisi kesehatan masyarakat di komunitas. Oleh sebab itu, data perlu dikelola secara baik, aman, dan berkelanjutan agar dapat memberikan manfaat yang optimal bagi pelayanan kesehatan, penelitian, maupun perumusan kebijakan.
Para panelis sepakat bahwa penguatan tata kelola data, perlindungan privasi, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia merupakan prasyarat penting dalam mewujudkan sistem informasi kesehatan yang terintegrasi dan mendukung learning health system di masa depan.
Hari Ke-3
Visiting Hospital Bangkok, Hatyai
Rabu, 15 Juli 2026
Kunjunganke Bangkok Hospital Hat Yai diawali dengan pemaparan profil rumah sakit oleh pihak manajemen. Bangkok Hospital Hat Yai merupakan rumah sakit yang berada di bawah naungan Bangkok Dusit Medical Services Public Company Limited (BDMS) dan berlokasi di Jalan Phetkasem Soi 15, Distrik Hat Yai, Provinsi Songkhla, Thailand. Rumah sakit ini mulai beroperasi sejak 1997 sebagai bagian dari kebijakan BDMS untuk memperluas akses terhadap layanan kesehatan modern dan berkualitas tinggi di kota-kota utama di berbagai wilayah Thailand.
Kegiatan kemudian dibuka dengan sambutan dari Dr. Sanson, yang menekankan bahwa perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), serta analitik data telah membuka berbagai peluang baru untuk meningkatkan mutu dan efisiensi pelayanan kesehatan. Menurutnya, kunjungan ini menjadi kesempatan yang berharga bagi kedua institusi untuk saling bertukar pengalaman, memperluas wawasan, serta memperkuat kolaborasi dalam mendukung transformasi digital di sektor kesehatan.
Sesi kemudian dilanjutkan oleh Tony, selaku Head of Customer Experience, yang memperkenalkan profil Bangkok Hospital Hat Yai beserta nilai-nilai organisasi yang menjadi landasan pengembangan layanan rumah sakit, yaitu Beyond Excellence, Deep Empathy, Moral Commitment, dan Service Hospitality. Nilai-nilai tersebut menjadi pedoman dalam menghadirkan pelayanan yang berorientasi pada kualitas, empati, profesionalisme, dan pengalaman pasien yang optimal.
Pada sesi “Digital Health Transformation Strategies and Implementation”, Kanitha Sariyasunton, Strategic Management Manager, menjelaskan bahwa transformasi digital di Bangkok Hospital Hat Yai tidak sekadar berfokus pada digitalisasi dokumen, tetapi pada perancangan ulang proses pelayanan agar lebih berpusat pada pasien (patient-centered care). Inisiatif yang mulai dikembangkan sejak 2024 ini didukung oleh tim multidisiplin yang terdiri atas tenaga klinis, analis data, analis manajemen strategis, pengembang perangkat lunak, hingga industrial engineer.
Berbagai inovasi digital dikembangkan dalam satu ekosistem layanan yang saling terintegrasi, antara lain Sandbox Care+, Health Risk Assessment, Telehealth, Shopping World, dan My B+. Seluruh platform tersebut didukung oleh sistem Clinical Practice Guidelines (CPG) yang dapat diakses secara real-time, serta pendekatan cross care yang bertujuan memperkuat kolaborasi lintas departemen dan mengurangi pemeriksaan yang tidak perlu atau berulang.
Kanitha juga memaparkan pemanfaatan berbagai dashboard berbasis Looker Studio dan Power BI, termasuk CSI Online untuk memantau kepuasan pasien. Berbagai instrumen tersebut tidak hanya digunakan untuk visualisasi data, tetapi juga menjadi dasar dalam pengambilan keputusan klinis dan manajerial secara lebih cepat dan berbasis bukti. Seluruh proses transformasi digital tersebut didukung oleh tata kelola data yang mengacu pada Personal Data Protection Act (PDPA) Thailand, guna memastikan keamanan, privasi, dan kerahasiaan informasi pasien.
Sesi terakhir disampaikan oleh Sirawit Ahiran Suwanphithak, Industrial Engineer, Strategic and Innovation Management, yang memaparkan bagaimana transformasi digital diterapkan di sepanjang patient journey. Melalui aplikasi My B+, pasien dapat mengakses berbagai layanan sejak tahap pre-arrival, seperti pra-registrasi, skrining berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), verifikasi asuransi secara otomatis, dan pembuatan janji temu secara daring.
Selama dirawat di rumah sakit, pasien didukung oleh berbagai layanan digital yang dirancang untuk meningkatkan efisiensi dan kenyamanan, antara lain sistem antrian real-time, Smart OPD, kios biometrik, serta sistem pembayaran digital. Setelah pasien pulang, konektivitas layanan tetap terjaga melalui fitur telehealth, pengingat konsumsi obat, dan akses terhadap rekam kesehatan pribadi (personal health record).
Menurut Sirawit, tujuan utama transformasi digital bukan sekadar menghadirkan teknologi baru, melainkan membangun ekosistem pelayanan yang terintegrasi dan berpusat pada pasien. Pendekatan ini diharapkan dapat meningkatkan pengalaman pasien, mendukung pengambilan keputusan berbasis data, serta menjaga continuum of care secara berkelanjutan pada setiap tahapan pelayanan kesehatan.
Reporter: Sensa Gudya Sauma Syahra & Karlina Dewi Sukarno (PKMK FK-KMK UGM)
Hospital Tour
Setelah sesi diskusi, tim UGM melakukan hospital tour di lantai 2 Bangkok Hospital Hat Yai yang dipandu oleh tim rumah sakit. Dalam kunjungan tersebut, tim memperoleh gambaran mengenai model pelayanan yang berorientasi pada continuum of care dan berpusat pada pasien. Pelayanan kesehatan dirancang secara terintegrasi mulai dari tahap pra-rumah sakit (pre-hospital care), pelayanan selama perawatan (in-hospital care), hingga tindak lanjut pasca-perawatan (post-hospital care). Integrasi tersebut didukung oleh sistem informasi rumah sakit yang terhubung secara digital serta pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) untuk mendukung pelayanan dan pengelolaan pasien.
Rumah sakit juga memanfaatkan posisi Thailand sebagai salah satu tujuan utama medical tourism di kawasan Asia Tenggara. Dukungan kebijakan pemerintah, konektivitas transportasi, dan infrastruktur kesehatan yang kuat menjadi faktor penting dalam menarik pasien internasional. Salah satu keunggulan Hat Yai adalah keberadaan Bandara Internasional Hat Yai yang memiliki konektivitas dengan berbagai negara, termasuk kawasan Timur Tengah. Kondisi ini membuka peluang bagi rumah sakit untuk mengembangkan pelayanan bagi pasien internasional, termasuk menyediakan paket layanan kesehatan yang disesuaikan dengan kebutuhan jamaah haji dan umrah. Rumah sakit juga menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk penyedia layanan transportasi, guna mempermudah mobilitas pasien selama menjalani perawatan.
Selain melayani pasien dari Timur Tengah, Bangkok Hospital Hat Yai juga menargetkan pasien dari negara-negara tetangga, khususnya Malaysia dan Indonesia. Letak geografis Hat Yai yang berada di wilayah selatan Thailand menjadikannya mudah diakses oleh masyarakat dari kedua negara tersebut. Untuk mendukung pasar internasional, rumah sakit menyediakan tenaga kesehatan dan staf pendukung yang mampu berkomunikasi dalam berbagai bahasa, termasuk Bahasa Melayu dan Bahasa Indonesia. Informasi layanan juga tersedia dalam berbagai pilihan bahasa melalui situs web rumah sakit. Selain itu, tersedia unit pendaftaran dan layanan pelanggan khusus bagi pasien internasional guna memastikan proses pelayanan berlangsung lebih nyaman dan efisien.
Gambar 1. Heart Center
Heart Center merupakan salah satu layanan unggulan Bangkok Hospital Hat Yai. Unit ini berada di lantai 2, sedangkan fasilitas Cath Lab terletak di lantai 3. Salah satu keunggulannya adalah efisiensi pelayanan yang memungkinkan pasien operasi jantung terbuka menyelesaikan proses perawatan, mulai dari admisi hingga pulang, dalam waktu sekitar tujuh hari apabila tidak terdapat komplikasi selama masa pemulihan.
Gambar 2. Wellness Center
Selain pelayanan kuratif, Bangkok Hospital Hat Yai juga mengembangkan pelayanan promotif dan preventif melalui Wellness Center, yang menjadi salah satu unit dengan tingkat kunjungan yang tinggi, mencapai sekitar 100 pasien per hari. Unit ini menyediakan layanan kesehatan komprehensif yang didukung oleh berbagai fasilitas, antara lain Nurse Station, Examination Room, Specimen Storage Room, Alternative Wellness Room, dan Exclusive Room. Alternative Wellness Room digunakan untuk berbagai layanan kesehatan preventif, termasuk terapi dan injeksi vitamin, sedangkan Exclusive Room dimanfaatkan untuk kegiatan konsultasi privat maupun pertemuan edukasi kesehatan.
Selain menyediakan layanan kesehatan, Wellness Center juga menawarkan berbagai produk kesehatan, termasuk produk Royalife yang dikembangkan oleh jaringan rumah sakit BDMS. Untuk meningkatkan kenyamanan pasien, unit ini dilengkapi dengan fasilitas pendukung yang memadai, seperti ruang tunggu yang nyaman dan lingkungan pelayanan yang dirancang untuk mendukung pengalaman pasien secara menyeluruh. Dengan pendekatan tersebut, Wellness Center tidak hanya berfokus pada pengobatan penyakit, tetapi juga pada pemeliharaan kesehatan, pencegahan penyakit, dan peningkatan kualitas hidup masyarakat.
Gambar 3. Mild Hyperbaric Oxygen Chamber for Wellness
Salah satu layanan unggulan lainnya adalah Hyperbaric Oxygen Therapy (HBOT), yaitu terapi yang memberikan oksigen murni di dalam ruang bertekanan tinggi untuk meningkatkan suplai oksigen ke jaringan tubuh. Terapi ini digunakan sebagai terapi penunjang pada berbagai kondisi medis, termasuk penyembuhan luka kronis, pemulihan pasca operasi, serta beberapa kondisi yang memerlukan peningkatan oksigenasi jaringan. Dalam kunjungan tersebut, peserta memperoleh penjelasan mengenai mekanisme kerja HBOT, indikasi penggunaannya, serta pengelolaan layanan hiperbarik sebagai bagian dari pelayanan rumah sakit modern. Kunjungan ini memberikan wawasan mengenai bagaimana inovasi teknologi dan pengembangan layanan unggulan dapat menjadi bagian dari strategi rumah sakit dalam meningkatkan mutu pelayanan, pengalaman pasien, dan daya saing layanan kesehatan di era modern.
Gambar 4. Ruang Fisioterapi
Rumah sakit juga memiliki ruang fisioterapi yang dilengkapi teknologi stimulasi otot dasar panggul (pelvic floor muscle stimulation) berbasis gelombang elektromagnetik. Teknologi non-invasif ini digunakan untuk membantu memperkuat otot dasar panggul dan mendukung penanganan berbagai gangguan terkait fungsi dasar panggul. Layanan ini menjadi salah satu contoh pemanfaatan teknologi rehabilitasi modern untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan kenyamanan pasien.
Reporter: Lia dan Via (PKMK FK-KMK UGM)
Sesi Diskusi
Pada sesi diskusi, berbagai topik dibahas, mulai dari strategi pemasaran medical tourism hingga transformasi digital dan inovasi layanan kesehatan di Bangkok Hospital Hat Yai. Terkait strategi pemasaran medical tourism, pihak rumah sakit menjelaskan bahwa situs web resmi tidak hanya berfungsi sebagai media informasi, tetapi juga sebagai platform digital untuk memasarkan layanan kesehatan preventif kepada pasien internasional. Melalui platform tersebut, calon pasien dapat mengakses informasi layanan, membandingkan berbagai paket medical check-up, melihat rincian manfaat yang ditawarkan, serta melakukan pembelian secara daring menggunakan sistem pembayaran elektronik.
Produk yang dipasarkan terutama berupa pelayanan kesehatan preventif, seperti paket skrining kesehatan dan medical check-up. Paket yang telah dibeli dapat digunakan hingga satu tahun setelah transaksi, sehingga memberikan fleksibilitas bagi pasien dalam merencanakan kunjungan ke Thailand. Untuk menjangkau pasar internasional, situs web tersedia dalam beberapa bahasa, antara lain bahasa Thailand, Inggris, Indonesia/Melayu, dan Arab. Menurut pihak rumah sakit, Indonesia dan Malaysia merupakan dua pasar utama layanan medical tourism Bangkok Hospital Hat Yai, sehingga penyediaan layanan multibahasa menjadi salah satu strategi penting untuk meningkatkan aksesibilitas dan kenyamanan calon pasien dari kedua negara tersebut.
Selanjutnya, pihak Bangkok Hospital menjelaskan bahwa keberhasilan dalam menarik pasien internasional tidak hanya ditentukan oleh kualitas pelayanan medis, tetapi juga oleh pengalaman pasien secara keseluruhan. Untuk mendukung hal tersebut, rumah sakit memiliki International Customer Support Center yang secara khusus mendampingi pasien internasional sejak tahap perencanaan kunjungan, selama menjalani perawatan, hingga setelah pelayanan selesai.
Unit ini berperan dalam membantu penjadwalan konsultasi, memberikan informasi medis, memfasilitasi komunikasi lintas bahasa, mendampingi selama proses pelayanan, serta mengoordinasikan kebutuhan perjalanan apabila diperlukan. Layanan tersebut didukung oleh staf multibahasa yang menguasai bahasa Inggris, Mandarin, Arab, Indonesia, Melayu, dan Thailand, sehingga mampu memberikan pendampingan yang lebih personal sesuai dengan kebutuhan pasien dari berbagai negara. Pihak rumah sakit menegaskan bahwa pendekatan yang mengintegrasikan kualitas klinis, pelayanan pelanggan, dan dukungan bagi pasien internasional merupakan faktor penting dalam memperkuat daya saing Bangkok Hospital sebagai destinasi medical tourism di kawasan Asia Tenggara.
Diskusi juga membahas transformasi digital dan inovasi layanan kesehatan yang diterapkan di Bangkok Hospital. Pihak rumah sakit menjelaskan bahwa sistem digital health telah digunakan di seluruh jaringan Bangkok Dusit Medical Services (BDMS), sementara pengembangan inovasi dilakukan secara terpusat di Thailand. Pengembangan sistem dikerjakan secara internal oleh tim yang terdiri atas tenaga IT, software developer, dan data analyst, sehingga memungkinkan proses inovasi yang lebih cepat sekaligus mengurangi ketergantungan pada pihak ketiga.
Untuk mendukung pengembangan teknologi, rumah sakit memiliki innovation sandbox yang terpisah dari sistem operasional utama, sehingga berbagai inovasi dapat diuji tanpa mengganggu pelayanan sehari-hari. Selain itu, teknologi Artificial Intelligence (AI) mulai dimanfaatkan untuk membantu proses skrining awal pasien rawat jalan, terutama dalam mengidentifikasi pasien yang memerlukan pemeriksaan lanjutan berdasarkan kondisi tertentu. Namun demikian, keputusan klinis tetap berada di tangan tenaga medis.
Dari sisi operasional, sekitar 60% pasien menggunakan skema asuransi, 20% berasal dari sistem rujukan, dan 20% lainnya membayar secara langsung (out-of-pocket payment). Setiap hari, rumah sakit melayani sekitar 700 kunjungan rawat jalan serta 44–50 pasien rawat inap. Secara keseluruhan, integrasi antara inovasi digital, pelayanan yang berpusat pada pasien, dan strategi pemasaran internasional menjadi faktor penting yang mendukung posisi Bangkok Hospital Hat Yai sebagai salah satu destinasi unggulan medical tourism di kawasan Asia Tenggara.
From Evidence to Action: The application of Health Technology Assessment, Priority Setting, and Strategic Purchasing for Population Health in enhancing Health System Performance and advancing Universal Health Coverage
Prof. Laksono Trisnantoro Guru Besar Kebijakan dan Manajemen Kesehatan, FKKMK UGM
Prof. Yingyao Chen Direktur NHC Key Laboratory of Health Technology Assessment, Universitas Fudan, Shanghai, Tiongkok.
09.15 – 10.00
Gambaran Umum Health Technology Assessment (HTA) dan Pengalaman Implementasinya di Tiongkok
Prof. Yingyao Chen
10.00 – 11.00
Pengembangan Kebijakan Nasional Health Technology Assessment sebagai Dasar Pengambilan Keputusan: Pengalaman Indonesia
Prof. Laksono Trisnantoro
11.00 – 11.30
Istirahat dan Jamuan Ringan
–
11.30 – 12.30
Pemanfaatan Health Technology Assessment untuk Meningkatkan Keadilan Sistem Kesehatan: Kebijakan, Tantangan, dan Pengalaman Program Universal Coverage Scheme di Thailand
Prof. Siripen Supakankunti Centre of Excellence for Health Economics, Fakultas Ekonomi, Universitas Chulalongkorn, Thailand.
12.30 – 14.00
Istirahat Makan Siang
–
14.00 – 15.00
Dari Bukti Ilmiah Menjadi Kebijakan: Pembelajaran dari Health Technology Assessment Vaksin di Indonesia untuk Mendukung Pengambilan Keputusan Program Imunisasi yang Berkelanjutan
Prof. Jarir At Thobari Departemen Farmakologi dan Terapi; Pusat Kajian Epidemiologi dan Biostatistik Kesehatan (CEBU); Pusat Kajian Kesehatan Anak (PKKA-PRO), Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada; Indonesia Technical Advisory Groupon Immunization (ITAGI); serta Indonesia Health Technology Assessment (Ina-HTA).
15.00 – 16.00
Peran Health Technology Assessment dalam Pengendalian Biaya dan Pembiayaan Kesehatan yang Strategis
Prof. Sharifa Ezat Wan Puteh Departemen Kedokteran Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Universitas Kebangsaan Malaysia, Kuala Lumpur, Malaysia.
16.00 – 16.30
Istirahat dan Jamuan Ringan
–
16.30 – 17.30
Sintesis Bukti untuk Menilai Keamanan dan Efektivitas dalam HTA: Prinsip Meta-Analisis dan Praktik Penggunaan RevMan
Prof. Madya Pei Wang Universitas Fudan, Shanghai, Tiongkok.
Hari 2 – Kamis, 4 Juni 2026
09.00 – 10.00
Metode Evaluasi Ekonomi dalam Health Technology Assessment: Analisis Cost-Effectiveness dan Implementasinya Menggunakan Microsoft Excel
Prof. Madya Yan Wei NHC Key Laboratory of Health Technology Assessment, Universitas Fudan, Shanghai, Tiongkok.
10.00 – 11.00
Penetapan Prioritas dan Peran Strategis Health Technology Assessment
Prof. Madya Shimeng Liu NHC Key Laboratory of Health Technology Assessment, Universitas Fudan, Shanghai, Tiongkok.
11.00 – 11.15
Istirahat dan Jamuan Ringan
–
11.15 – 12.15
Metode Evaluasi Ekonomi dalam Health Technology Assessment: Analisis Dampak Anggaran (Budget Impact Analysis)
Prof. Min Hu NHC Key Laboratory of Health Technology Assessment, Universitas Fudan, Shanghai, Tiongkok.
12.15 – 13.30
Istirahat Makan Siang
–
13.30 – 14.15
Pembelian Strategis dalam Universal Coverage Scheme Thailand
Prof. Chantal Herberholz Direktur Centre of Excellence for Health Economics, Fakultas Ekonomi, Universitas Chulalongkorn, Bangkok, Thailand.
14.15 – 15.00
Penetapan Prioritas Berbasis HTA untuk Meningkatkan Kesehatan Masyarakat
Prof. Eng-Kiong Yeoh Direktur Centre for Health Systems and Policy Research, JC School of Public Health and Primary Care, The Chinese University of Hong Kong.
15.00 – 15.45
Pembelian Strategis untuk Mendukung Pencapaian Universal Health Coverage dan Peningkatan Kesehatan Masyarakat
Prof. Eng-Kiong Yeoh
15.45 – 16.15
Istirahat dan Jamuan Ringan
–
16.15 – 17.00
Diskusi dan Refleksi Pelatihan
–
DAY 1
Strategic Purchasing and Health Technology Assessment
PKMK-Shanghai. Dalam sambutannya, Prof. dr Laksono Trisnantoro, M.Sc, PhD menyampaikan apresiasi dan rasa hormat kepada seluruh peserta yang hadir dalam pertemuan ilmiah bertajuk “Dari Bukti ke Tindakan: Penerapan Penilaian Teknologi Kesehatan (Health Technology Asessment/ HTA), Penetapan Prioritas, dan Pembelian Strategis untuk Kesehatan Masyarakat dalam Meningkatkan Kinerja Sistem Kesehatan dan Memajukan Cakupan Kesehatan Universal.” Kegiatan yang diselenggarakan oleh Jaringan Asia-Pasifik untuk Penguatan Sistem Kesehatan (ANHSS) bersama Fudan University, Tiongkok ini diharapkan menjadi ruang pembelajaran, diskusi, dan pertukaran pengalaman antarnegara dalam memperkuat sistem kesehatan berbasis bukti.
Prof. Laksono menyoroti bahwa implementasi HTA di berbagai negara masih menghadapi sejumlah kendala, antara lain faktor politik, keterbatasan kapasitas dan pemahaman, serta keterbatasan sumber daya dan pendanaan. Selain itu, masih terdapat negara yang belum memiliki kebijakan dan tata kelola HTA yang kuat. Padahal, HTA memiliki peran penting dalam mendukung pengambilan keputusan yang lebih efektif, efisien, dan berkeadilan dalam sektor kesehatan.
Lebih lanjut, pihaknya menjelaskan bahwa pertemuan ini akan membahas dua dimensi utama HTA, yakni:
Aspek Kebijakan dan Manajemen Kesehatan dalam HTA Dalam pelatihan ini, peserta akan mempelajari berbagai pengalaman negara dalam menginstitusionalisasikan HTA ke dalam sistem kesehatan mereka. Pembahasan akan mencakup mekanisme tata kelola (governance), keterlibatan para pemangku kepentingan, serta strategi penguatan kapasitas lembaga HTA. Dari perspektif kebijakan dan manajemen kesehatan, pelatihan ini juga akan mengeksplorasi berbagai kerangka kerja yang dapat digunakan untuk memperkuat tata kelola HTA, memperkuat proses institusionalisasi, serta membangun kapasitas yang diperlukan dalam mendukung proses penetapan prioritas berbasis bukti (Evidence-Informed Priority Setting/EIPS).
Aspek Teknis HTA Selain aspek kebijakan, pelatihan ini juga akan membahas berbagai landasan metodologis utama dalam Health Technology Assessment. Peserta akan memperoleh pemahaman mengenai penerapan berbagai alat analisis dan platform HTA secara praktis, termasuk penggunaan metode meta-analisis melalui perangkat lunak RevMan serta pemodelan ekonomi menggunakan Microsoft Excel.
Kedua dimensi tersebut akan dikaitkan dengan upaya mendukung penetapan prioritas, pembelian strategis, peningkatan mutu layanan, dan percepatan pencapaian Cakupan Kesehatan Universal (UHC). Menutup sambutannya, Prof. Laksono berharap kegiatan ini menjadi tonggak awal dalam memperkuat penerapan HTA di negara-negara anggota jaringan untuk meningkatkan efisiensi, efektivitas, dan keadilan sistem kesehatan. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Prof. Y. Chen beserta tim, para pembicara, narasumber, dan seluruh peserta atas kontribusi dan partisipasinya. Melalui lokakarya dan kursus ini, diharapkan lahir berbagai gagasan, pembelajaran, dan kolaborasi yang dapat mendukung penguatan sistem kesehatan di tingkat nasional maupun regional.
Reporter: Laksono Trisnantoro (FK-KMK UGM)
Pendahuluan Kajian Teknologi Kesehatan (HTA) dan Pengalaman dari Cina
Speaker: Professor Yingyao CHEN, Director, NHC Key Laboratory of Health Technology Assessment, Fudan University (Shanghai, China)
Pada sesi ini dijelaskan bahwa Health Technology Assessment (HTA) di Tiongkok lebih banyak digunakan untuk menilai obat-obatan dan telah menjadi bagian penting dalam proses penentuan obat yang akan dimasukkan ke dalam National Reimbursement Drug List (NRDL), yaitu daftar obat yang biayanya dapat ditanggung oleh sistem jaminan kesehatan nasional.
Terdapat beberapa aktor utama yang terlibat dalam proses tersebut. National Healthcare Security Administration (NHSA), yaitu lembaga pemerintah pusat yang bertanggung jawab atas pengelolaan sistem jaminan kesehatan nasional di Tiongkok, berperan sebagai pembayar (payer) sekaligus pengambil keputusan terkait cakupan manfaat (benefit package) dan pembiayaan obat. Sementara itu, National Center for Medicine and Health Technology Assessment, yang berada di bawah China National Health Development Research Center (CNHDRC), bertugas mengembangkan metodologi HTA serta menghasilkan bukti ilmiah (evidence) yang menjadi dasar pengambilan keputusan.
Selain itu, berbagai universitas dan pusat penelitian berkontribusi melalui pelaksanaan kajian dan penelitian HTA. China Health Insurance Association (CHIRA) juga berperan dalam mendorong pemanfaatan HTA sebagai dasar pengambilan keputusan terkait pembiayaan dan penggantian biaya pelayanan kesehatan (reimbursement).
Sistem HTA di Tiongkok menunjukkan tingkat integrasi yang sangat kuat dengan proses penetapan pembiayaan obat. Dalam sistem ini, NHSA tidak hanya berperan sebagai pembayar, tetapi juga sebagai pengambil keputusan utama. Hasil kajian HTA digunakan secara langsung dalam proses negosiasi harga obat, sehingga membantu pemerintah menentukan obat yang layak ditanggung sekaligus memperoleh harga yang lebih efisien dan sesuai dengan nilai manfaat yang dihasilkan.
Mengembangkan Kebijakan Nasional tentang Kajian Teknologi Kesehatan (HTA) untuk Mendasari Pengambilan Keputusan: Pengalaman dari Indonesia
Speaker: Professor Laksono TRISNANTORO, Professor of Health Policy and Management, Department of Health Policy and Management, Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, Universitas Gadjah Mada (Indonesia)
Health Technology Assessment (HTA) atau Kajian Teknologi Kesehatan mulai diterapkan secara lebih sistematis di Indonesia seiring dengan implementasi Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) pada 2014. Sebagai upaya untuk mendukung pelaksanaan HTA, Kementerian Kesehatan membentuk Komite HTA melalui Surat Keputusan Menteri Kesehatan yang berlaku selama empat tahun. Dalam menjalankan tugasnya, Komite HTA mengacu pada Pedoman HTA yang telah diperbarui pada 2022.
Secara umum, proses HTA di Indonesia terdiri atas beberapa tahapan, yaitu:
Identifikasi topik dan penyusunan ruang lingkup kajian (scoping);
Pengumpulan data dan pengajuan usulan kajian (submission);
Penilaian aspek klinis dan ekonomi;
Proses appraisal (penelaahan dan penilaian hasil kajian) serta konsultasi dengan pemangku kepentingan;
Penyusunan rekomendasi dan pengambilan keputusan kebijakan;
Implementasi, pemantauan, dan evaluasi hasil kebijakan.
Pendanaan pelaksanaan HTA di Indonesia sebagian besar berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan BPJS Kesehatan. Selain itu, beberapa kajian juga memperoleh dukungan pendanaan dari industri farmasi dan perusahaan alat kesehatan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Saat ini, tantangan penguatan HTA di Indonesia tidak hanya berada pada tingkat kebijakan nasional (makro), tetapi juga pada tingkat organisasi pelayanan kesehatan (meso) dan tingkat pelayanan klinis (mikro). Oleh karena itu, diperlukan upaya penguatan yang komprehensif melalui tiga strategi utama, yaitu:
Memperkuat regulasi dan landasan hukum HTA;
Membangun tata kelola HTA yang jelas, transparan, dan akuntabel;
Memperkuat kelembagaan serta kapasitas sumber daya manusia yang mendukung pelaksanaan HTA.
Sebagai tindak lanjut dari diskusi dan pembelajaran yang diperoleh dalam pertemuan di Shanghai, terdapat dua agenda utama yang perlu dilakukan untuk memperkuat institusionalisasi HTA di Indonesia.
Benchmarking Praktik Terbaik HTA Internasional Proses benchmarking ini bertujuan memperoleh pembelajaran yang dapat diadaptasi sesuai dengan konteks sistem kesehatan Indonesia.
Pengembangan Kebijakan Publik HTA yang Lebih Kuat Penguatan regulasi dan pedoman HTA, untuk memastikan HTA menjadi bagian integral dari proses penetapan manfaat kesehatan, pengadaan teknologi kesehatan, formularium nasional, serta pembiayaan kesehatan.
Memanfaatkan Penilaian Teknologi Kesehatan untuk Meningkatkan Kesetaraan Sistem Kesehatan: Kebijakan, Tantangan, dan Pengalaman dari Skema Jaminan Kesehatan Universal di Thailand
Speaker: Professor Siripen SUPAKANKUNTI, Professor, Centre of Excellence for Health Economics, Faculty of Economics, Chulalongkorn University, Thailand
Pada sesi ini dipaparkan berbagai tantangan strategis yang dihadapi Thailand dalam mengimplementasikan Health Technology Assessment (HTA) atau Kajian Teknologi Kesehatan sebagai bagian dari proses pengambilan keputusan kebijakan kesehatan.
Menjaga Komitmen Politik dan Mengelola Kepentingan Para Pemangku Kepentingan Implementasi HTA sering kali menghadapi tekanan dari berbagai pihak yang memiliki kepentingan terhadap hasil pengambilan keputusan, termasuk industri farmasi, produsen alat kesehatan, penyedia layanan kesehatan, serta kelompok masyarakat yang terdampak oleh kebijakan pembiayaan kesehatan. Oleh karena itu, diperlukan komitmen politik yang kuat serta tata kelola yang transparan dan akuntabel untuk memastikan bahwa proses pengambilan keputusan tetap independen, objektif, dan berbasis bukti ilmiah.
Membangun Kapasitas dan Menjamin Keberlanjutan Kelembagaan Pelaksanaan HTA membutuhkan investasi jangka panjang dalam berbagai aspek, termasuk pengembangan sumber daya manusia, ketersediaan data yang berkualitas, penguatan metodologi kajian, serta pembangunan institusi yang mampu menjalankan fungsi HTA secara efektif. Tantangan utama yang dihadapi adalah memastikan tersedianya dukungan pendanaan, sumber daya, dan komitmen kelembagaan yang berkelanjutan agar pelaksanaan HTA dapat terus berjalan dan berkembang.
Meningkatkan Kepercayaan Publik terhadap Keputusan HTA Keputusan yang dihasilkan melalui proses HTA seringkali melibatkan pilihan yang tidak mudah, terutama dalam menentukan teknologi kesehatan, obat, atau intervensi yang layak dibiayai maupun yang tidak dapat diprioritaskan untuk pembiayaan. Oleh karena itu, tantangan penting yang dihadapi adalah bagaimana mengkomunikasikan dasar pertimbangan dan proses pengambilan keputusan tersebut secara terbuka, transparan, dan mudah dipahami oleh masyarakat. Kejelasan informasi akan membantu meningkatkan pemahaman serta kepercayaan publik terhadap keputusan yang diambil.
Keberhasilan HTA tidak hanya ditentukan oleh kualitas bukti ilmiah, tetapi juga oleh komitmen politik, kapasitas kelembagaan yang berkelanjutan, dan kepercayaan publik terhadap proses pengambilan keputusan.
Dari Bukti ke Kebijakan: Pelajaran dari Teknologi Kesehatan Vaksin Penilaian di Indonesia untuk Pengambilan Keputusan Imunisasi Berkelanjutan
Speaker: Professor Jarir At THOBARI, Department of Pharmacology and Therapy; Clinical Epidemiology and Biostatistics Unit (CEBU), Centre of Child Health Pediatric Research Office (CCH-PRO), Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta; The Indonesia Task Advisory Group for Immunisation (ITAGI); The Indonesia Health Technology Assessment (Ina-HTA)
Indonesia HTA’s Vaccine Framework menunjukkan bahwa keputusan introduksi vaksin baru di Indonesia dilakukan melalui proses yang sistematis, multidimensional, dan berbasis bukti. HTA tidak hanya menilai efektivitas dan biaya vaksin, tetapi juga mempertimbangkan aspek implementasi, penerimaan masyarakat, keadilan, dan keberlanjutan program imunisasi.
Proses dimulai dengan identifikasi beban penyakit (disease burden) untuk menentukan urgensi masalah kesehatan yang perlu diatasi. Selanjutnya dilakukan penilaian terhadap keamanan dan efektivitas vaksin, diikuti dengan evaluasi ekonomi yang mencakup Cost-Effectiveness Analysis (CEA) dan Budget Impact Analysis (BIA) untuk menilai nilai dan keterjangkauan vaksin.
Selain aspek klinis dan ekonomi, dilakukan penilaian kelayakan implementasi (feasibility assessment), termasuk kesiapan sistem kesehatan, rantai pasok, SDM, dan kapasitas program imunisasi. Aspek akseptabilitas dan keadilan (acceptability and equity) juga dievaluasi untuk memastikan vaksin dapat diterima masyarakat dan memberikan manfaat yang merata.
Hasil kajian kemudian ditelaah oleh Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) sebelum menjadi dasar pengambilan keputusan oleh Kementerian Kesehatan. Setelah vaksin diimplementasikan, dilakukan monitoring dan evaluasi pasca implementasi untuk menilai dampak nyata terhadap kesehatan masyarakat, penggunaan sumber daya, dan kinerja program.
Hasil evaluasi tersebut digunakan untuk penyempurnaan kebijakan (policy refinement) sehingga proses pengambilan keputusan vaksinasi menjadi suatu siklus pembelajaran berkelanjutan (continuous learning cycle). Dengan pendekatan ini, HTA tidak dipandang sebagai kajian satu kali, tetapi sebagai instrumen yang terus mendukung pengambilan keputusan imunisasi yang efektif, efisien, dan berkelanjutan.
Poin Penting:
HTA mendukung keputusan introduksi vaksin berbasis bukti.
Evaluasi vaksin harus mempertimbangkan lebih dari sekadar cost-effectiveness.
HTA menghubungkan bukti ilmiah dengan kebijakan imunisasi.
Monitoring pasca implementasi sama pentingnya dengan penilaian sebelum implementasi.
Pengambilan keputusan vaksin merupakan proses siklus berkelanjutan.
Hasil implementasi digunakan untuk memperbaiki kebijakan, memperbarui bukti, dan meningkatkan efektivitas program imunisasi di masa depan.
Peran Kajian Teknologi Kesehatan (HTA) dalam Pengendalian Biaya dan Pembiayaan Strategis
Speaker: Professor Sharifa Ezat Wan Puteh, Department of Public Health Medicine, Faculty of Medicine, National University of Malaysia (Kuala Lumpur, Malaysia) Mahtas fund from private company.
Malaysia memandang bahwa Health Technology Assessment (HTA) atau Kajian Teknologi Kesehatan perlu berkembang dari pendekatan yang bersifat one-time assessment (penilaian yang dilakukan satu kali sebelum suatu teknologi diadopsi) menuju konsep learning financing system, yaitu sistem pembiayaan kesehatan yang terus belajar, beradaptasi, dan memperbarui kebijakan berdasarkan bukti terbaru yang diperoleh selama implementasi.
Dalam paradigma ini, keputusan pembiayaan tidak berhenti pada saat suatu teknologi kesehatan dinilai dan disetujui untuk digunakan. Sebaliknya, teknologi tersebut akan terus dievaluasi sepanjang siklus hidupnya untuk memastikan bahwa manfaat yang dihasilkan tetap sebanding dengan biaya yang dikeluarkan serta relevan dengan kebutuhan sistem kesehatan.
Pendekatan ini terdiri atas beberapa tahapan utama sebagai berikut:
Assess (Penilaian Awal) Pada tahap ini dilakukan evaluasi klinis dan ekonomi untuk menilai efektivitas, keamanan, biaya, dan manfaat suatu teknologi kesehatan sebelum diadopsi ke dalam sistem kesehatan. Hasil penilaian menjadi dasar dalam pengambilan keputusan pembiayaan.
Adopt with Conditions (Adopsi dengan Persyaratan Tertentu) Apabila teknologi dinilai layak digunakan, adopsi dapat dilakukan dengan sejumlah persyaratan. Persyaratan tersebut dapat berupa pembatasan kelompok sasaran, negosiasi harga dengan penyedia teknologi, kewajiban pengumpulan data tambahan, atau kesiapan sistem dalam mengimplementasikan teknologi tersebut.
Monitor (Pemantauan) Setelah teknologi digunakan, dilakukan pengumpulan dan analisis Real-World Evidence (RWE) atau bukti yang diperoleh dari penggunaan teknologi dalam praktik pelayanan kesehatan sehari-hari. Tahap ini bertujuan untuk memastikan bahwa manfaat yang diperoleh di lapangan sesuai dengan hasil yang diperkirakan pada saat evaluasi awal.
Reassess (Penilaian Ulang) Penilaian ulang dilakukan secara berkala dengan mempertimbangkan data penggunaan aktual, perkembangan bukti ilmiah terbaru, perubahan biaya, perubahan kebutuhan kesehatan masyarakat, maupun munculnya ketidakpastian baru yang belum teridentifikasi pada saat penilaian awal.
Adjust (Penyesuaian Kebijakan) Berdasarkan hasil penilaian ulang, kebijakan pembiayaan dapat disesuaikan melalui berbagai mekanisme, seperti perluasan akses layanan, pembatasan penggunaan, revisi harga, perubahan kriteria penerima manfaat, atau bahkan penghentian pembiayaan (disinvestment) apabila teknologi tersebut tidak lagi memberikan manfaat yang optimal dibandingkan biaya yang dikeluarkan.
Prioritas Pengembangan HTA di Malaysia
Untuk mendukung transformasi tersebut, Malaysia menetapkan beberapa prioritas pengembangan HTA ke depan, yaitu:
Memperkuat evaluasi ekonomi sebagai salah satu dasar utama dalam pengambilan keputusan pembiayaan kesehatan.
Mengembangkan pemanfaatan Real-World Evidence (RWE) untuk mendukung pemantauan dan evaluasi pasca implementasi teknologi kesehatan.
Mendorong pelaksanaan penilaian ulang (reassessment) secara berkala agar keputusan pembiayaan tetap relevan dengan perkembangan bukti ilmiah terbaru.
Meningkatkan kesiapan dalam menilai teknologi kesehatan baru (emerging technologies) yang semakin kompleks, inovatif, dan berbiaya tinggi.
Memperkuat keterkaitan antara HTA dan mekanisme pembiayaan kesehatan, sehingga hasil kajian HTA dapat secara langsung diterjemahkan menjadi kebijakan alokasi sumber daya yang lebih efektif dan efisien.
Pembelajaran Utama :
Masa depan HTA bukan hanya menilai teknologi sebelum dibiayai, tetapi memastikan bahwa setiap keputusan pembiayaan terus dievaluasi, diperbaiki, dan disesuaikan berdasarkan bukti nyata yang dihasilkan selama implementasi.
Reporter: Diah Ayu Puspandari
DAY 2
Metode Evaluasi Ekonomi dalam HTA: Analisis Efektivitas Biaya dan Implementasi Excel
Speaker: Associate Professor Yan WEI, NHC Key Laboratory of Health Technology Assessment, Fudan University (Shanghai, China)
Pengambilan keputusan dalam Health Technology Assessment (HTA) atau Kajian Teknologi Kesehatan harus didasarkan pada bukti ilmiah yang kuat, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu, proses evidence synthesis atau sintesis bukti ilmiah menjadi pondasi utama dalam menghasilkan rekomendasi dan kebijakan kesehatan yang berbasis bukti.
Beberapa poin penting yang disampaikan dalam sesi ini antara lain:
Evidence synthesis berperan sebagai dasar utama dalam HTA untuk mengintegrasikan dan menilai berbagai hasil penelitian yang relevan sehingga dapat digunakan sebagai landasan pengambilan keputusan.
Meta-analisis, yaitu metode statistik yang menggabungkan hasil dari beberapa penelitian, dapat meningkatkan kekuatan statistik serta ketepatan estimasi efektivitas suatu teknologi kesehatan dibandingkan jika hanya menggunakan satu penelitian.
Penggunaan metodologi yang terstandar sangat penting untuk menjamin konsistensi, validitas, dan kredibilitas hasil kajian yang dihasilkan.
Penilaian kualitas bukti perlu dilakukan secara sistematis, antara lain melalui pendekatan Grading of Recommendations Assessment, Development and Evaluation (GRADE) yang digunakan untuk menilai tingkat kepastian bukti ilmiah, serta analisis risk of bias untuk mengidentifikasi potensi bias atau kelemahan dalam penelitian yang digunakan.
Transparansi dalam proses dan pelaporan hasil kajian merupakan faktor penting untuk meningkatkan reproduksibilitas (kemampuan suatu kajian untuk direplikasi dengan hasil yang serupa), akuntabilitas, serta kepercayaan para pemangku kepentingan terhadap hasil HTA.
Pendekatan Pemodelan dalam CEA
Karena data klinis sering kali hanya tersedia dalam periode yang terbatas, analisis ekonomi menggunakan model untuk memproyeksikan biaya dan outcome dalam jangka panjang. Beberapa model yang umum digunakan meliputi:
Partitioned Survival Model (PSM)
System Dynamics Model
Discrete Event Simulation (DES)
Pembelajaran : Dengan semakin meningkatnya kompleksitas teknologi kesehatan dan keterbatasan sumber daya kesehatan, kemampuan melakukan evidence synthesis yang berkualitas tinggi akan menjadi kompetensi yang semakin penting dalam mendukung kebijakan kesehatan yang efektif, efisien, dan berkelanjutan.
Penetapan Prioritas dan Peran Strategis HTA
Speaker: Associate Professor Shimeng LIU, NHC Key Laboratory of Health Technology Assessment, Fudan University (Shanghai, China)
Dalam sistem kesehatan yang menghadapi keterbatasan sumber daya, proses penetapan prioritas (priority setting) merupakan kebutuhan yang tidak dapat dihindari. Tidak semua teknologi, obat, atau intervensi kesehatan dapat dibiayai, sehingga diperlukan mekanisme yang mampu memastikan bahwa sumber daya yang tersedia dialokasikan kepada intervensi yang memberikan manfaat kesehatan terbesar bagi masyarakat. Dalam konteks ini, HTA berperan sebagai instrumen yang membantu pengambil kebijakan melakukan prioritas secara lebih rasional, transparan, dan berbasis bukti. Dalam proses tersebut, evaluasi ekonomi, termasuk analisis cost-effectiveness dan indikator seperti Incremental Cost-Effectiveness Ratio (ICER), menjadi komponen yang sangat penting. Namun demikian, nilai ICER tidak menjadi satu-satunya dasar dalam menentukan prioritas pembiayaan. Pengambilan keputusan kesehatan harus mempertimbangkan berbagai faktor lain, seperti tingkat keparahan penyakit, kebutuhan yang belum terpenuhi (unmet need), dampak terhadap kelompok rentan, keterjangkauan anggaran, serta tujuan kebijakan kesehatan yang lebih luas.
Selain itu, semakin berkembang pemahaman bahwa perspektif pasien perlu menjadi bagian integral dalam HTA. Bukti mengenai preferensi pasien, misalnya yang diperoleh melalui metode Discrete Choice Experiment (DCE), memberikan informasi mengenai atribut layanan atau teknologi yang dianggap paling bernilai oleh masyarakat. Integrasi preferensi pasien ke dalam HTA memungkinkan keputusan yang dihasilkan menjadi lebih berpusat pada pasien (patient-centered) dan lebih mencerminkan nilai-nilai yang hidup di masyarakat.
Secara keseluruhan, pengalaman China menegaskan bahwa HTA merupakan instrumen tata kelola yang mendukung pengambilan keputusan kesehatan yang transparan, akuntabel, dan berbasis bukti. Keberhasilan HTA tidak hanya ditentukan oleh kualitas evaluasi ekonomi, tetapi juga oleh kemampuannya mengintegrasikan berbagai dimensi nilai, termasuk efektivitas klinis, efisiensi ekonomi, keadilan sosial, dan preferensi masyarakat dalam proses penetapan prioritas kesehatan.
Metode Evaluasi Ekonomi dalam HTA: Analisis Dampak Anggaran
Speaker: Professor Min HU, NHC Key Laboratory of Health Technology Assessment, Fudan University (Shanghai, China) Role of BIA, Key differences BIA vs CEA,
Budget Impact Analysis (BIA) merupakan metode evaluasi ekonomi yang digunakan untuk memperkirakan konsekuensi finansial dari adopsi suatu teknologi atau intervensi kesehatan baru terhadap anggaran payer pelayanan kesehatan dalam periode tertentu.
Menurut HTA Glossary, BIA menilai dampak suatu teknologi terhadap anggaran operasional dan modal suatu organisasi atau pemerintah. ISPOR mendefinisikan BIA sebagai analisis perubahan pengeluaran sistem kesehatan setelah implementasi intervensi baru.
Dengan demikian, BIA menjawab pertanyaan: “Mampukah sistem kesehatan membiayai teknologi ini?” Sementara CEA menjawab: “Apakah teknologi ini memberikan nilai yang baik dibandingkan biayanya?”
Perbedaan antara Budget Impact Analysis BIA dan Cost-Effectiveness Analysis (CEA)
Cost-Effectiveness Analysis (CEA) : berfokus pada efisiensi penggunaan sumber daya dengan membandingkan biaya dan outcome kesehatan dari suatu intervensi terhadap alternatifnya. Analisis biasanya dilakukan pada kohort pasien tertentu dengan horizon waktu jangka panjang atau seumur hidup. Outcome yang dihasilkan berupa QALY, life years gained, dan ICER untuk mendukung keputusan alokasi sumber daya antar intervensi.
Budget Impact Analysis (BIA) :berfokus pada keterjangkauan dan keberlanjutan anggaran. Analisis dilakukan pada seluruh populasi yang berpotensi menerima intervensi dalam periode tertentu, umumnya 1–5 tahun. Outcome yang dihasilkan berupa perubahan total biaya, kebutuhan anggaran tahunan, serta dampak terhadap pembiayaan program kesehatan.
Oleh karena itu, suatu teknologi dapat saja: Cost-effective menurut CEA, tetapi tidak terjangkau menurut BIA. Kondisi inilah yang sering menjadi tantangan dalam pengambilan keputusan pembiayaan kesehatan.
Strategic Purchasing: Skema Jaminan Kesehatan Semesta di Thailand
Speaker: Professor Chantal HERBERHOLZ, Director, Centre of Excellence for Health Economics, Faculty of Economics, Chulalongkorn University (Bangkok, Thailand)
Pengalaman Thailand menunjukkan bahwa keberhasilan Strategic Purchasing dalam Universal Coverage Scheme (UCS) tidak hanya ditentukan oleh mekanisme pembayaran pelayanan kesehatan, tetapi juga oleh kemampuan membangun hubungan yang efektif antara pembeli layanan (purchaser), masyarakat (consumer), penyedia layanan (provider), dan pemerintah.
Pada hubungan purchaser–consumer, Thailand memperkuat akuntabilitas melalui keterlibatan masyarakat dalam struktur tata kelola, peningkatan kesadaran hak peserta, serta penyediaan mekanisme pengaduan dan umpan balik yang mudah diakses. Pendekatan ini meningkatkan responsivitas sistem terhadap kebutuhan masyarakat.
Pada hubungan purchaser–provider,strategic purchasing didukung oleh penggunaan HTA untuk pengembangan paket manfaat, sistem akreditasi fasilitas kesehatan untuk menjaga mutu layanan, mekanisme pembayaran yang memberikan insentif terhadap kinerja, serta sistem monitoring dan audit yang berkelanjutan. Kombinasi instrumen ini membantu meningkatkan efisiensi dan kualitas pelayanan kesehatan.
Pada hubunganpurchaser–government, pemerintah berperan menyediakan kerangka regulasi yang kuat, menjamin alokasi anggaran yang memadai, membangun infrastruktur pelayanan kesehatan, serta memastikan akuntabilitas lembaga pembeli layanan kesehatan. Tata kelola yang kuat menjadi fondasi keberhasilan strategic purchasing di Thailand.
Meskipun demikian, Thailand masih menghadapi sejumlah tantangan. Beban pasien yang tinggi di fasilitas kesehatan publik, tekanan keuangan akibat sistem pembayaran tertutup (closed-ended payment), meningkatnya kebutuhan teknologi kesehatan yang mahal, inflasi medis, serta perubahan demografi menimbulkan risiko terhadap keberlanjutan finansial UCS. Selain itu, ketergantungan yang tinggi pada pendanaan pemerintah dan fragmentasi skema jaminan kesehatan (CSMBS, SSS, dan UCS) masih menjadi tantangan dalam menciptakan efisiensi dan pemerataan sistem kesehatan.
Poin Penting:
Strategic purchasing memerlukan keseimbangan hubungan antara purchaser, provider, consumer, dan government.
HTA, akreditasi, dan mekanisme pembayaran provider merupakan instrumen utama untuk meningkatkan mutu dan efisiensi layanan.
Keterlibatan masyarakat memperkuat akuntabilitas sistem kesehatan.
Keberlanjutan finansial menjadi tantangan utama UHC.
Integrasi dan harmonisasi skema pembiayaan kesehatan menjadi agenda penting ke depan. Fragmentasi skema pembiayaan dapat mengurangi efisiensi, meningkatkan ketimpangan manfaat, dan menghambat optimalisasi pengelolaan sumber daya kesehatan.
Kajian Teknologi Kesehatan (HTA) Memberikan Informasi yang Dibutuhkan untuk Penetapan Prioritas Kesehatan Populasi.
Speaker: Professor Eng-Kiong YEOH, Director, Centre for Health System and Policy Research, JC School of Public Health and Primary Care, The Chinese University of Hong Kong (HKSAR, China)
Narasumber menggambarkan bagaimana bukti ilmiah dapat diterjemahkan menjadi kebijakan dan implementasi yang menghasilkan dampak nyata bagi sistem kesehatan. Pendekatan ini menempatkan Health Technology Assessment (HTA) dan Strategic Purchasing sebagai dua instrumen utama yang menghubungkan proses penetapan prioritas kesehatan dengan pencapaian tujuan Universal Health Coverage (UHC).
Tahap pertama adalah Evidence Base, yaitu pengumpulan dan sintesis bukti dari berbagai sumber, termasuk data beban penyakit, cost-effectiveness, serta praktik terbaik internasional. Pada tahap ini, sistem kesehatan mengidentifikasi intervensi yang berpotensi memberikan manfaat terbesar bagi masyarakat berdasarkan kebutuhan kesehatan dan efisiensi penggunaan sumber daya.
Tahap kedua adalah Value Appraisal, di mana bukti yang tersedia dievaluasi melalui proses HTA. Penilaian dilakukan terhadap manfaat klinis, biaya, dampak ekonomi, dan kesesuaiannya dengan konteks lokal. Tujuannya adalah menentukan nilai suatu teknologi atau intervensi kesehatan serta menilai apakah teknologi tersebut layak menjadi prioritas pembiayaan.
Tahap ketiga adalah Active Selection, yaitu proses penerjemahan hasil HTA ke dalam paket manfaat kesehatan (Health Benefits Package). Pada tahap ini ditentukan layanan atau teknologi apa yang akan dijamin, siapa yang berhak menerima manfaat, serta bagaimana kebijakan tersebut dapat mendukung keadilan dan perlindungan finansial masyarakat.
Tahap keempat adalah Strategic Purchasing, yaitu implementasi keputusan melalui mekanisme pembelian layanan kesehatan. Pembeli layanan kesehatan mengelola kontrak dengan fasilitas kesehatan, menyusun sistem pembayaran provider, memantau mutu pelayanan, serta memastikan bahwa insentif yang diberikan mendorong efisiensi, mutu, dan responsivitas pelayanan.
Tahap kelima adalah System Impact, yaitu evaluasi dampak kebijakan terhadap sistem kesehatan secara keseluruhan. Keberhasilan proses ini diukur melalui peningkatan akses layanan, pencapaian UHC, perbaikan luaran kesehatan, pengurangan pengeluaran katastropik, serta penguatan keberlanjutan sistem kesehatan.
Kerangka ini tidak bersifat linear, melainkan siklus pembelajaran berkelanjutan. Informasi mengenai kinerja program, penggunaan anggaran, mutu pelayanan, dan dampak kesehatan akan kembali menjadi masukan untuk proses evaluasi dan penyempurnaan kebijakan berikutnya. Dengan demikian, evidence, priority setting, HTA, strategic purchasing, dan monitoring membentuk satu sistem yang terintegrasi untuk memastikan bahwa setiap sumber daya kesehatan digunakan secara optimal.
Pengadaan Strategis untuk Mendorong Cakupan Kesehatan Universal bagi Kesehatan Penduduk
Speaker: Professor Eng-Kiong YEOH, Director, Centre for Health System and Policy Research, JC School of Public Health and Primary Care, The Chinese University of Hong Kong (HKSAR, China)
Strategic Purchasing merupakan pendekatan pembelian layanan kesehatan yang aktif dan berbasis bukti (evidence-based), berbeda dengan passive purchasing yang hanya membayar layanan yang tersedia tanpa mempertimbangkan kebutuhan kesehatan masyarakat dan kinerja penyedia layanan.
Proses strategic purchasing dimulai dengan mengidentifikasi kebutuhan kesehatan masyarakat (population needs) dan kesenjangan pelayanan (service gaps). Berdasarkan analisis tersebut, pembeli layanan kesehatan menentukan intervensi yang perlu dibiayai dengan mempertimbangkan prioritas kesehatan dan efisiensi penggunaan sumber daya.
Setelah kebutuhan ditetapkan, pembeli memutuskan apakah layanan akan disediakan langsung (provide) atau dibeli dari penyedia layanan (purchase). Keputusan ini harus mempertimbangkan kapasitas, kualitas, aksesibilitas, dan efisiensi penyedia layanan, baik sektor publik maupun swasta.
Tahap berikutnya adalah menentukan aspek strategis pembelian, yaitu apa yang dibeli (what to buy), untuk siapa layanan dibeli (for whom to buy), dari siapa layanan dibeli (from whom to buy), dan bagaimana cara membelinya (how to buy). Keputusan ini mencakup penetapan paket manfaat, kelompok sasaran, pemilihan provider, mekanisme kontrak, serta metode pembayaran yang dapat mendorong mutu dan efisiensi pelayanan.
Strategic purchasing juga menekankan pentingnya monitoring dan akuntabilitas. Kinerja provider perlu dipantau secara berkala melalui indikator mutu, efisiensi, dan akses layanan. Selain itu, harus tersedia mekanisme yang jelas untuk menangani keluhan, sengketa, dan perbaikan kinerja agar tujuan sistem kesehatan dapat tercapai secara berkelanjutan.
Pesan Strategis :
Strategic purchasing dimulai dari kebutuhan masyarakat, bukan dari layanan yang tersedia.
Prioritas kesehatan harus menjadi dasar keputusan pembiayaan.
Strategic purchasing menjawab empat pertanyaan utama: Apa yang dibeli? (What to buy), Untuk siapa dibeli? (For whom to buy), Dari siapa dibeli? (From whom to buy), Bagaimana cara membelinya? (How to buy)
Provider harus dipilih berdasarkan mutu, aksesibilitas, efisiensi, dan kemampuan memenuhi kebutuhan masyarakat.
Monitoring dan akuntabilitas merupakan bagian integral dari strategic purchasing. Pembelian layanan harus disertai pemantauan kinerja dan mekanisme perbaikan yang berkelanjutan.
Private Health Insurance (PHI) for Sustainable Health Financing to Advance Universal Health Coverage (UHC)
Hong Kong, 1 June 2026
SAMBUTAN
DISKUSI PANEL 1
DISKUSI PANEL 2
BUKU PROGRAM
PENUTUP
SAMBUTAN
Ketua ANHSS – Prof dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc, PhD
Prof Laksono membuka Regional Knowledge Event yang bertajuk “Asuransi Kesehatan Swasta (untuk Pembiayaan Kesehatan yang Berkelanjutan demi Memajukan Cakupan Kesehatan Semesta (UHC)” di Hongkong (1/6/2026). Acara ini diselenggarakan oleh Jaringan Asia-Pasifik untuk Penguatan Sistem Kesehatan (ANHSS) bekerja sama dengan Pusat Penelitian Sistem dan Kebijakan Kesehatan di Sekolah Kesehatan Masyarakat dan Perawatan Primer Jockey Club, Universitas Cina Hong Kong.“Bagi kita semua apakah kita menyadari bahwa di dalam komunitas sektor kesehatan, peran asuransi kesehatan swasta dalam UHC masih menjadi perdebatan. Ada pro dan kontra. Meskipun isu ini kontroversial, semua orang telah berkumpul di Hong Kong. Kita berada di sini untuk berbagi pengalaman terkini, pengetahuan baru, dan gagasan mengenai peran asuransi kesehatan swasta di masa depan dalam UHC, terutama di negara-negara Asia-Pasifik. Secara lebih rinci, kita berada di sini untuk:
Menganalisis peran Asuransi Kesehatan Swasta (PHI) dalam mencapai tujuan sistem kesehatan, serta dalam konteks UHC di kawasan Asia-Pasifik.
Menganalisis kebutuhan dan tantangan sistem kesehatan
Menjelajahi berbagai model pembiayaan kesehatan, kelebihan, keterbatasan, dan potensi sinergi dengan Asuransi Kesehatan Swasta.
Membahas kerangka kebijakan dan regulasi yang diperlukan untuk memastikan kontribusi berkelanjutan asuransi kesehatan swasta terhadap pembiayaan kesehatan.
Selain itu, pertemuan ini bertujuan untuk memfasilitasi pertukaran pengetahuan guna mengatasi tekanan finansial di bidang layanan kesehatan sambil tetap menjaga aksesibilitas dan keadilan. Singkatnya, diharapkan bahwa “Pertemuan ini menjadi forum penting untuk bersama-sama mengembangkan pengetahuan di seluruh kawasan Asia Pasifik dan mempercepat pertukaran gagasan inovatif mengenai peran Asuransi Kesehatan Swasta dalam UHC.” Sebagai Ketua ANHSS, saya mendorong kita semua untuk memanfaatkan pertemuan ini guna mencari ide-ide segar demi peran yang lebih baik dari Asuransi Kesehatan Swasta dalam UHC, membangun kemitraan baru di seluruh negara di Asia Pasifik, serta mempersiapkan diri dalam menghadapi tantangan masa depan dalam pembiayaan kesehatan. Atas nama ANHSS, saya ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Prof. EK Yeoh dan timnya atas kerja keras tanpa lelah dalam menyelenggarakan acara ini. Juga kepada semua pembicara, narasumber, dan peserta pertemuan ini. Saya berharap Anda semua mendapatkan diskusi yang menarik, ide-ide yang menggugah pikiran, dan pertemuan yang sangat sukses. Terima kasih banyak.
DISKUSI PANEL 1
Membahas Mengenai Peran Askes Swasta dalam UHC
Panel Discussion Moderator : Professor Hong FUNG, JP Professor of Practice in Health Services Management Centre for Health Systems and Policy Research, JC School of Public Health & Primary Care, The Chinese University of Hong Kong
Raymond Wu sebagai Deputy Secretary for Health, Health Bureau HKASR, China.
Pelayanan kesehatan di Hong Kong telah mencapai standar global, meskipun porsi belanja kesehatan masih sekitar 8,1% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Namun, menjaga mutu dan akses pelayanan kesehatan bukanlah hal yang mudah. Saat ini, pendanaan kesehatan masih sangat bergantung pada pemerintah. Di sisi lain, Hong Kong menghadapi tantangan berupa penuaan populasi, peningkatan penyakit kronis, serta biaya pelayanan kesehatan yang terus meningkat. Kondisi ini menyebabkan kebutuhan pendanaan kesehatan semakin besar sehingga tidak dapat terus mengandalkan dana pemerintah. Selama beberapa dekade, pemerintah menanggung beban pembiayaan yang berat, yang salah satunya tercermin dari panjangnya antrean layanan kesehatan. Oleh karena itu, diperlukan sumber pendanaan baru agar dana pemerintah dapat lebih difokuskan sebagai jaring pengaman (safety net) bagi kelompok yang membutuhkan. Dalam konteks ini, peran pendanaan swasta menjadi semakin penting untuk menciptakan keseimbangan sistem pembiayaan kesehatan yang berkelanjutan.
Tantangan berikutnya adalah bagaimana meningkatkan kontribusi pendanaan swasta sesuai dengan semangat “Your Life, Your Health”, yang menekankan tanggung jawab masyarakat terhadap pembiayaan kesehatannya sendiri. Untuk itu, pemanfaatan asuransi kesehatan swasta perlu terus diperluas. Produk asuransi kesehatan harus dirancang dengan strategi penetapan harga yang tepat, sementara cakupan manfaat (coverage) juga perlu diatur secara jelas agar sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Namun, tidak ada satu model pembiayaan yang dapat menjadi solusi tunggal. Beberapa prinsip penting perlu diterapkan, antara lain penguatan sistem pelayanan kesehatan primer, penerapan mekanisme co-payment secara proporsional, perlindungan bagi kelompok miskin dan penyandang disabilitas melalui skema safety net, serta dukungan terhadap pembiayaan layanan primer. Selain itu, kualitas klinis harus terjaga melalui tata kelola yang baik dan sistem penjaminan mutu yang kuat. Dengan kombinasi berbagai pendekatan tersebut, sistem pembiayaan kesehatan dapat menjadi lebih berkelanjutan, adil, dan berkualitas.
Dr. Eduardo Banzon – Direktur Unit Kesehatan di ADB Manila
Sebagai Direktur Health Practice Team di Asian Development Bank (ADB) Manila, Dr. Banzon memaparkan perkembangan asuransi kesehatan swasta di berbagai negara Asia. Analisis dilakukan melalui perbandingan besaran pengeluaran kesehatan langsung oleh masyarakat (out-of-pocket expenditure) dan capaian cakupan kesehatan efektif. Selain itu, Dr. Banzon juga menyajikan perkembangan asuransi kesehatan swasta di berbagai kawasan Asia berdasarkan data National Health Accounts.
Di kawasan Asia Selatan, pengembangan asuransi kesehatan swasta masih relatif terbatas, kecuali di India. Sementara itu, Bangladesh masih sangat bergantung pada pembiayaan kesehatan melalui pengeluaran langsung masyarakat (out-of-pocket). Di Asia Tenggara, perkembangan asuransi kesehatan swasta di Indonesia dan Filipina dinilai belum optimal. Salah satu penyebabnya adalah belum terbangunnya koordinasi yang kuat antara skema asuransi kesehatan sosial dan asuransi kesehatan swasta, baik antara PhilHealth dan asuransi swasta di Filipina maupun antara BPJS Kesehatan dan asuransi swasta di Indonesia. Sebaliknya, Singapura menunjukkan integrasi yang lebih baik, sementara Thailand memiliki porsi pemanfaatan asuransi kesehatan swasta yang lebih besar. Vietnam juga menjadi contoh menarik karena mengalami pertumbuhan signifikan dalam pengembangan asuransi kesehatan swasta dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.
Dari kawasan Asia Timur, Korea Selatan dilaporkan semakin membuka ruang bagi peran asuransi kesehatan swasta dalam sistem kesehatannya. Sementara itu, sejumlah negara Eropa seperti Belanda dan Swiss telah lama mendorong pemanfaatan asuransi kesehatan swasta sebagai bagian dari sistem pembiayaan kesehatan nasional.
Dr. Banzon menekankan bahwa terdapat variasi pendekatan dalam pengembangan asuransi kesehatan swasta di berbagai negara dan kawasan. Tingginya pengeluaran kesehatan secara langsung oleh masyarakat menunjukkan bahwa asuransi kesehatan sosial tidak dapat bekerja sendiri dalam mencapai Cakupan Kesehatan Semesta (UHC). Diperlukan kebijakan yang mampu mengintegrasikan dan melengkapi peran asuransi kesehatan sosial dengan asuransi kesehatan swasta. Dengan regulasi yang tepat, asuransi kesehatan swasta dapat berfungsi sebagai pelengkap (complementary) maupun tambahan (supplementary) bagi pendanaan kesehatan pemerintah. Oleh karena itu, pembelajaran lintas negara menjadi penting untuk memahami strategi terbaik dalam mengintegrasikan asuransi kesehatan swasta ke dalam upaya pencapaian UHC.
Reporter: Laksono Trisnantoro
Insurance Regulation as an Enabler of Sustainable Universal Health Coverage
Speaker: Mr. Clement CHEUNG Wan-ching, GBS, JP Chief Executive Officer Insurance Authority Hong Kong Special Administrative Region
Jaring pengaman kesehatan publik (public healthcare safety net) telah menawarkan perawatan yang terjangkau dan andal kepada masyarakat Hong Kong selama beberapa dekade terakhir. Dilengkapi dengan layanan berkualitas yang diberikan oleh lembaga dan praktisi swasta. Sekitar 51 % populasi tercakup dalam asuransi individu maupun grup/kumpulan. Namun kendala yang dihadapi adalah meningkatnya populasi yang menua, kekurangan tenaga kerja dan kemajuan teknologi mulai dihadapi oleh dual track system ini. Terlepas dari upaya untuk mengatasi tantangan yang muncul seperti pengenalan Skema Asuransi Kesehatan Voluntary pada tahun 2019, pengeluaran rumah tangga sebesar 32 % dan tekanan subsidi pemerintah 52 % tetap relatif tinggi. Karena alasan inilah Otoritas Asuransi memutuskan untuk memulai tinjauan holistik bisnis asuransi kesehatan yang bertujuan untuk mempersempit kesenjangan perlindungan, melalui pengembangan data analitik untuk pengembangan desain produk. Juga mampu melakukan supervisi agar peserta dapat membuat keputusan, mendapatkan layanan yang adil. Di sisi lain Industri asuransi dapat melakukan kendali biaya untuk kelangsungan layanan. Pemerintah telah melakukan reformasi fees dan charges sejak 1 Januari 2026 menginisiasi IMACE (Institute for Medical Advancement and Clinical Excellent) untuk pengembangan protocol klinis.
Role of Private Health Insurance in Healthcare Financing to Advance Universal Health Coverage
Speaker : Professor Eng-kiong YEOH, GBS, OBE, JP Director, Centre for Health Systems and Policy Research JC School of Public Health and Primary Care. The Chinese University of Hong Kong, Hong Kong Special Administrative Region
Sebagai alat transfer risiko, Asuransi Kesehatan Swasta (Private Health Insurance) berfungsi melakukan pool risiko dan sumber pendanaan dari peserta dan mendistribusikannya untuk mengatasi risiko yang tidak terduga dan menimbulkan risiko pengeluaran katastropik dari para anggotanya. Asuransi Kesehatan Swasta memberikan peluang bagi pesertanya untuk meningkatkan pilihan. Literatur review terkait bagaimana peran askes swasta untuk UHC belum menunjukkan secara jelas tentang penjaminan pertama, duplikasi penjaminan dan supplementary. Sebagian besar temuan menjelaskan tentang peran utama askes swasta sebagai suplemen, diperlukan regulasi mendasar dan penguatan agar dapat berdampak konstruktif bagi UHC. Beberapa negara menjadikan PHI sebagai mandatori sepeti contoh di Belanda dan Switzeland, atau dalam bentuk insentif pajak atau system penalty seperti di Hongkong dan Australia.
Reporter: Diah Ayu Puspandari
DISKUSI PANEL 2
Membahas Mengenai Situasi Industri Asuransi Kesehatan di Hong Kong
Moderator: Prof. APril Wu. Chinese University of Hong Kong
PHI in practice: Industry Experiences Perspectives from Industry (Insurers, Pharmaceutical Manufacturers and Providers) Affordability after retired?
A Balancing Act – Keeping Private Health Insurance Afloat Under the Headwinds of Medical Inflation
Speaker: Ms. Sally Yuen-wai WAN Chairman of Governing Committee Hong Kong Federation of Insurers Hong Kong Special Administrative Region
Asuransi kesehatan swasta (PHI) berada di bawah tekanan yang makin meningkat dengan makin meningkatnya biaya medis, harapan konsumen yang bertambah, dan bertambahnya proporsi populasi yang menua. Berdasarkan data industri, presentasi oleh Federasi Asuransi Hong Kong ini meneliti factor-faktor yang mempengaruhi dan implikasinya terhadap keberlanjutan. Data jumlah klaim yang meningkat 68 %, terutama untuk peningkatan besaran klaim pasien rawat inap yang mencapai 75 %. Jika dilihat lebih detail, pemanfaatan layanan dari provider diluar jejaring meningkat 76,9 % yang berasal dari peserta individu. Perlu dievaluasi kembali pola pemanfaatan layanan (utilisasi) apakah memang diperlukan atau behaviour driven?
Analisis data sangat membantu untuk evaluasi peningkatan klaim dua digit (15 %) setiap tahun, besaran klaim akan meningkat 50 % setiap 5 tahun dan mencapai 10 % dalam 10 tahun ke depan. Beban ini masih ditambah dengan jumlah populasi menua yang meningkat. Perubahan kebijakan seperti co-payment, menentukan batas spending limit, review dan pengembangan desain produk menjadi strategi yang perlu dipertimbangkan.
Integrated Solutions for a Sustainable Healthcare Financing: Perspectives from the Pharmaceutical Industry
Speaker : Ms. Sabrina CHAN Senior Executive Director Hong Kong Association of the Pharmaceutical Industry Hong Kong Special Administrative Region
SDG 3.8 menyatakan bahwa sistem perawatan kesehatan harus memastikan “semua orang mengakses layanan kesehatan yang berkualitas termasuk obat-obatan dan vaksin tanpa menderita kesulitan keuangan”. Untuk mencapai hal ini, keterjangkauan pasien termasuk peningkatan akses ke obat-obatan inovatif sangat penting. Tetapi isu tersebut masih menjadi salah satu tantangan terbesar karena keterbatasan sumber daya. Sebagai bagian dari ekosistem, industri farmasi berupaya untuk bersama-sama mengembangkan solusi inovatif dengan pemangku kepentingan untuk membangun sistem pelayanan kesehatan yang berkelanjutan dengan kualitas luaran yang meningkat. Industri berupaya menjembatani kesenjangan pembiayaan dan mendukung layanan kesehatan bagi mereka yang membutuhkan. Akses yang tepat ke obat-obatan inovatif bagi pasien, memungkinkan mereka untuk mendapatkan manfaat dari kemajuan teknologi medis, mencapai hasil pasien yang lebih baik, dan meningkatkan kualitas hidup.
Aligning Incentives Across the Care Continuum: The Next Phase of Private Health Insurance in Hong Kong
Speaker : Dr. Yat CHOW Executive Medical Director Bupa Hong Kong, Hong Kong Special Administrative Region
Meningkatnya beban penyakit kronis, biaya perawatan kesehatan, dan fragmentasi memerlukan desain produk dapat berkembang untuk mendukung perawatan pencegahan, manajemen penyakit kronis, dan pengendalian biaya jangka panjang dengan lebih baik. Ini berfokus pada tiga pertanyaan yang saling terkait: apakah pendanaan berbasis kapitasi dapat diterapkan dalam asuransi kelompok untuk memberi insentif pencegahan, apakah Skema Asuransi Kesehatan Sukarela (VHIS) harus diperluas melampaui perawatan rawat inap, dan bagaimana perusahaan asuransi dapat melayani pasien dengan kondisi kronis umum seperti diabetes dan hipertensi dengan lebih baik.
Pendanaan berbasis kapitasi merupakan mekanisme untuk menyelaraskan kembali insentif terhadap pencegahan dan pengelolaan kesehatan penduduk. Dengan beralih dari model fee for service ke kapitasi mendukung intervensi lebih awal, integrasi pendanaan, jalur pelayanan yang lebih baik, dan manajemen risiko kesehatan yang longitudinal. Namun, penggunaannya yang efektif bergantung pada infrastruktur data yang matang, keahlian klinis dan aktuaria, penyesuaian risiko yang kuat, serta tata kelola yang kuat untuk memastikan kualitas dan akuntabilitas provider.
Batasan struktural utama dalam desain PHI saat ini: pemisahan cakupan rawat inap dan rawat jalan. Memperluas PHI untuk memasukkan perawatan primer dan pencegahan dapat memungkinkan cakupan yang lebih komprehensif sekaligus mengurangi risiko rawat inap.
Perusahaan asuransi dapat beralih dari model fee for service ke pendekatan berbasis nilai untuk penyakit kronis akan mengurangi hambatan akses obat-obatan esensial, pelayanan rutin, dan skrining pencegahan sehingga meningkatkan hasil sekaligus mengelola biaya secara lebih berkelanjutan.
Right Care, Right Time: Redesigning Healthcare Around Patient Needs and Real-World Barriers Addressing emotional, financial and practical factors that delay care
Speaker: Ms. Candy AU-YEUNG Chief Customer Operations & Health Officer Prudential Hong Kong Limited Hong Kong Special Administrative Region
Peran penting pasien sebagai peserta dalam ekosistem pelayanan kesehatan, bukan hanya sebagai penerima pelayanan medis yang pasif. Karena sistem pelayanan kesehatan menghadapi tekanan yang meningkat, pergeseran demografis hingga kenaikan biaya, kebutuhan untuk merancang model perawatan yang menggabungkan perspektif pasien sangat diperlukan.
Hasil survei yang dilakukan oleh Prudential menghasilkan : akses ke perawatan yang tepat waktu menjadi tantangan yang signifikan di Hong Kong. Hampir 60% responden melaporkan menunda perawatan medis dalam setahun terakhir dengan alasan tidak menganggap gejala sebagai cukup serius, belum tersedianya waktu dari care giver, dan keengganan untuk membebani orang lain. Temuan ini memberi gambaran bagaimana pertimbangan emosional, keuangan, dan praktis dapat menghalangi individu untuk mencari perawatan disaat dibutuhkan.
Penyedia layanan kesehatan swasta dan PHI dapat bekerjasama mengatasi kesenjangan ini dengan memudahkan akses, memandu pasien ke jalur pelayanan yang tepat, dan menyelaraskan biaya dengan value. Dengan menempatkan pasien sebagai pengambil keputusan pemberian layanan, PHI ini membantu memastikan perawatan yang tepat, waktu dan biaya yang tepat. Pada akhirnya dapat memberikan ketenangan yang lebih baik dari sisi emosional pasien dan memberikan luaran kesehatan yang lebih baik.
Sustainable Private Health Insurance by Addressing What Customers Want vs. What Customers Need
Speaker : Mr. Pang CHYE, FIA Principal & Consulting Actuary Milliman, Hong Kong Special Administrative Region
Dalam sesi ini, pembicara kembali menekankan bagaimana peserta PHI dapat dibiayai secara berkelanjutan. Tingginya premi bagi peserta lanjut usia, menjadi salah satu faktor tingginya kejadian Lapse (status tidak aktif) karena tunggakan. Angka kejadian Lapse pada peserta lanjut usia 5 kali lebih besar dibandingkan pada peserta di usia produktif. Pembiayaan klaim PHI 40 % ada pada peserta usia diatas 65 tahun, dan 25 % nya ada pada akhir masa hidupnya. Strategi yang saat ini digunakan adalah : 1. Mendesain produk dengan deductible range lebih lebar; 2. Produk saving untuk pre-fund deductible yang tinggi; 3. Claim based pricing.
Reporter: Diah Ayu Puspandari
BUKU PROGRAM
Abstrak dapat dicermati pada Buku Acara dibawah. Silahkan klik
PENUTUP
Knowledge Sharing Event ini menyimpulkan bahwa:
Peran asuransi kesehatan swasta sebagai supplementary dan complementary asuransi kesehatan sosial dalam UHC diperlukan. Pemerintah tidak bisa bekerja sendirian karena dana pemerintah terbatas.
Asuransi Kesehatan Swasta dapat difungsikan sebagai konektor yang menghubungkan segmen masyarakat mampu dengan kebutuhan layanan berbiaya tinggi. Dengan demikian asuransi kesehatan swasta diperlukan untuk shifting dan mereduksi Out of Pocket (OOP) di kalangan mampu.
Intervensi kebijakan asuransi kesehatan swasta diperlukan untuk menjamin agar asuransi kesehatan sosial dapat fokus memberikan kesempatan akses bagi lebih banyak peserta sebagai Jaring Pengaman Sosial (Safety Net), dan memberikan layanan/paket manfaat yang berkualitas berdasarkan prinsip keadilan.
Desain pengembangan produk asuransi kesehatan bervariasi di setiap negara untuk penguatan UHC. Perlu diperhatikan isu tentang pro-poor dan pro-rich, agar pemerintah tidak mengalokasikan anggaran untuk penduduk berpenghasilan sangat tinggi.
Asuransi Kesehatan Swasta merupakan industri yang sangat rumit, membutuhkan data, sistem informasi dan komunikasi yang baik agar dapat efisien serta memberikan keadilan bagi semua orang dalam kerangka UHC.
Bahan-bahan ini akan dibahas pada pertemuan tanggal 17 Juni 2026 di Indonesia.
Laporan negara-negara di Asia dapat dibaca di buku Program.
Senin memulai perjalanan PMAC 2026 dengan banyak pertemuan sampingan yang mengeksplorasi bagaimana sistem kesehatan, kesetaraan, dan perubahan demografis bersinggungan dalam dunia nyata. Beberapa topik yang menarik, antara lain:
Youth Leadership & Equity — Prince Mahidol Award Youth Program Conference 2026
Hari Senin dimulai dengan sesi yang dipimpin oleh para pembicara muda menyoroti kesetaraan, perubahan demografis, dan tata kelola kesehatan. Para advokat muda ini menggarisbawahi visi bersama: bahwa transisi demografis harus dipenuhi dengan sistem yang memberdayakan kaum muda sebagai mitra aktif dalam desain kebijakan, bukan hanya penerima manfaat layanan. Para peserta berulang kali menekankan bahwa kepemimpinan kaum muda sangat penting untuk mendorong solusi yang adil untuk kesehatan digital, ketahanan iklim, dan perawatan berbasis komunitas. “Jika kita menginginkan sistem kesehatan yang bekerja untuk semua generasi, kita harus mendesainnya bersama dengan suara generasi berikutnya di meja,” kata seorang pembicara dalam sesi ini, yang mencerminkan narasi keterlibatan yang lebih luas.
Shaping Health Policy amid Demographic Shifts and Diverse Geographies
Diselenggarakan oleh Bank Dunia, pertemuan sampingan tematik ini mengadakan dialog kebijakan komparatif tentang pemberian layanan yang adil dan pembiayaan berkelanjutan di bawah transisi demografis. Pembicara dari India, Nigeria, dan Indonesia mempresentasikan studi kasus yang menunjukkan bagaimana bonus demografis hanya dapat direalisasikan ketika sistem kesehatan dipersiapkan untuk lonjakan jumlash kelompok remaja dan meningkatnya kebutuhan perawatan terkait populasi yang menua.
Perwakilan pemerintah Indonesia menguraikan Proyek Transformasi Sistem Kesehatan Indonesia, sebuah reformasi ambisius yang memajukan akses universal di lebih dari 300.000 pusat kesehatan primer yang didukung oleh investasi terfokus dalam peningkatan kapasitas tenaga kerja, perhatian pada manajemen penyakit tidak menular, dan strategi pembiayaan yang tangguh. Strategi reformasi ini dirancang untuk menutup kesenjangan geografis dan mempersiapkan sistem kesehatan untuk Masyarakat Indonesia yang akan mengalamai penuaan populasi yang cepat.
Connected Futures: Equity, Climate, and Health — Health Diplomacy in a Complex Political Reality
Sesi ini menyelidiki bagaimana diplomasi kesehatan global harus berkembang di tengah krisis iklim dan tekanan demografis. Pembicara dan peserta menyoroti bahwa tantangan kesehatan tidak dapat dipisahkan dari penentu lingkungan dan politik, dan bahwa kerangka diplomatik regional diperlukan untuk menyelaraskan agenda kebijakan iklim, kesehatan, dan demografis. Pesan kuncinya adalah kerja sama multilateral, menekankan bahwa diplomasi yang berpusat pada kesetaraan dapat membuka tindakan terkoordinasi pada tantangan bersama seperti migrasi terkait iklim dan tata kelola kesehatan lintas batas.
Strengthening Global Health Governance: Integrated Approaches for Climate Health Initiatives in Geopolitical Dynamics
Perubahan iklim melemahkan sistem kesehatan selama meningkatnya ketegangan geopolitik. Meningkatnya suhu global dan peristiwa cuaca ekstrem seperti gelombang panas, banjir, dan badai meningkatkan insiden penyakit yang ditularkan melalui vektor (misalnya, malaria, demam berdarah) dan mengancam ketahanan pangan dan air. Dampak-dampak ini memotong perbatasan nasional dan secara tidak proporsional mempengaruhi masyarakat yang terpinggirkan. Fasilitas kesehatan juga rentan terhadap perubahan iklim, karena selama peristiwa cuaca, mereka cepat kelebihan beban tetapi sering harus ditutup karena dampak iklim. Persaingan atas sumber daya yang langka (misalnya, air, lahan subur) dan langkah-langkah keamanan kesehatan (misalnya, distribusi vaksin selama pandemi COVID-19) mengintensifkan ketegangan geopolitik, menghambat respons terkoordinasi.
Selain itu, struktur tata kelola kesehatan global tidak memadai untuk mengelola risiko perubahan iklim lintas batas. Tantangan utama termasuk sistem kesehatan yang terfragmentasi dengan sistem peringatan dini yang terisolasi, kesempatan yang terlewatkan untuk perencanaan dan kesiapsiagaan, dan kebijakan adaptasi yang tidak memadai karena banyak strategi kesehatan nasional tidak selaras dengan adaptasi iklim. Akibatnya, sistem kesehatan tetap rentan terhadap krisis iklim dan bencana terkait. Dengan menghubungkan solusi teknis dengan tata kelola yang efektif dan pergeseran demografis, kita dapat melindungi kesehatan, mempromosikan kesetaraan, dan menciptakan konteks geopolitik yang lebih stabil dan kolaboratif di masa depan.
Pertemuan membahas tata kelola strategis dan kerja sama untuk memperkuat ketahanan iklim sistem kesehatan di tengah ketidakpastian geopolitik. Pertemuan ini menyoroti bukti baru dan praktik terbaik tentang (1) tata kelola, kebijakan, dan perencanaan: Rencana Adaptasi Kesehatan Nasional, (2) solusi inovatif untuk mendeteksi risiko iklim dan meningkatkan sistem kesehatan cerdas iklim, dan (3) mempromosikan perlindungan risiko iklim kepada populasi yang terpinggirkan, termasuk pengungsi yang diakibatkan oleh iklim ekstrem.
Digital & Health Innovations for Inclusion
Topik digital health mendapatkan perhatian dari kebanyakan peserta. Beberapa sesi seperti Teknologi Digital untuk Perawatan Lansia di Asia dan Teknologi Digital untuk Inklusi PopulasiMil Terakhir (sebuah pembelajaran dari India) menunjukkan bagaimana teknologi dimanfaatkan untuk menjembatani kesenjangan dalam akses dan kesetaraan. Di seluruh sesi, pembicara mencatat bahwa solusi digital harus dipasangkan dengan tata kelola dan pelatihan inklusif sehingga orang dewasa yang lebih tua, penduduk pedesaan, dan kelompok yang kurang terlayani tidak lebih terpinggirkan oleh inovasi. Platform tele-health jarak jauh dapat memperluas jangkauan secara dramatis, tetapi hanya jika digabungkan dengan pelatihan petugas kesehatan masyarakat dan investasi infrastruktur.
Beberapa sesi lain pada hari ini mencakup isu-isu mulai dari perawatan jangka panjang (long term care), belanja layanan kesehatan strategis, kesetaraan kesehatan pedesaan (rural health equity), iklim ekstrem dan adaptasi berbasis data, dan mengatasi kesepian pada populasi yang lebih tua. Topik-topik ini mencerminkan sifat multidimensi dari kesehatan dan perubahan demografis. Secara kolektif, Hari 1 menyiapkan panggung untuk konferensi utama dengan memunculkan eksperimen kebijakan praktis, tantangan kesetaraan, dan bukti mendasar yang terkait langsung dengan transisi demografis global.
27 Januari 2026
Pertemuan hari Selasa dibangun di atas momentum hari Senin dengan fokus pada kesetaraan kesehatan perkotaan, masyarakat yang menua, kesehatan digital, penelitian sistem, dan model tata Kelola. Masing-masing tema dibingkai melalui lensa evolusi demografis.
Governance in the Concrete Jungle — Urban Health Systems
Salah satu sesi Hari 2 yang paling menonjol meneliti bagaimana urbanisasi yang cepat membentuk kembali sistem kesehatan di kota-kota di seluruh Asia — fenomena demografis dengan implikasi bagi kesetaraan dan akses. Panelis ahli menyoroti hambatan struktural yang dihadapi oleh penduduk perkotaan berpenghasilan rendah, termasuk beban keuangan, kesenjangan infrastruktur, dan fragmentasi tata kelola.
Pembicara berbagi perspektif dari India, Thailand, dan Cina, mengilustrasikan:
Bagaimana sistem tata kelola harus beradaptasi dengan pola akses variabel di lingkungan perkotaan;
Pentingnya perencanaan kota inklusif yang memprioritaskan kebutuhan kesehatan migran, orang miskin, dan pekerja informal;
Pengungkit kebijakan yang dapat mensubsidi perawatan dan mengurangi ketidaksetaraan di lingkungan padat penduduk.
Building the Future of Health Research in Southeast Asia
Asia Tenggara sedang mengalami pergeseran demografis dan lingkungan yang cepat. Urbanisasi, masyarakat yang menua, dan perubahan iklim membentuk kembali sifat ancaman kesehatan masyarakat di kawasan ini, yang menghadapi beban tiga kali lipat dalam bentuk penyakit menular, penyakit tidak menular (PTM) dan dampak kesehatan dari perubahan iklim. Integrasi intra-regional dan pembangunan ekonomi lebih lanjut juga telah menghasilkan lanskap kesehatan yang lebih saling berhubungan, di mana populasi Asia Tenggara memiliki tantangan yang semakin mirip, seperti yang terkandung dalam Prioritas Kesehatan ASEAN, termasuk: Mempromosikan Gaya Hidup Sehat, Menanggapi Bahaya dan Ancaman yang Muncul, Memperkuat Sistem Kesehatan. Untuk menanggapi tantangan ini, penelitian, keahlian, dan wawasan sangat dibutuhkan untuk memajukan pemahaman kita tentang penyakit yang muncul dan mengusulkan model perawatan yang inovatif.
Namun, riset kesehatan sendiri perlu beradaptasi dengan realitas baru ini. Para peneliti dan lembaga kesehatan masyarakat tidak lagi mampu bekerja dalam silo dalam konteks nasional mereka sendiri. Sebaliknya, mereka perlu menjangkau melampaui batas untuk berkolaborasi dan berinovasi. Kemitraan baru antara akademisi dan pemerintah juga penting untuk memastikan penyerapan penelitian terhadap kebijakan yang memungkinkan pemberian layanan kesehatan berbasis bukti dan pengambilan keputusan.
Sesi ini belajar dari keberhasilan kemitraan penelitian yang ada dalam mengeksplorasi masa depan penelitian kesehatan di Asia Tenggara selama 5 hingga 10 tahun ke depan dan peran sentral yang akan dimainkan oleh peneliti regional dalam mengatasi tantangan unik Asia Tenggara. Selanjutnya diperkenalkan program Developing Research Excellence and Mentorship in Southeast Asia (SEA DREAM). SEA DREAM (https://www.sea-dream.org) adalah program pertama dari jenisnya yang akan mendanai konsorsium penelitian multi-negara yang dipimpin Asia Tenggara yang berfokus pada penelitian kesehatan yang berdampak, dan mengembangkan generasi pemimpin penelitian regional berikutnya.
Selaras dengan itu, pada hari ke-dua ini, terjadi pula beberapa launching penting yang mendukung ekosistem riset, yaitu beberapa Bulletin WHO baru, serta The Lancet Global Health Comission on People-centered Care for Universal Health Coverage.
The Lancet Global Health Commission on People-Centered Care for Universal Health Coverage yang secara resmi diluncurkan pada Oktober 2024, menyatukan 34 anggota komisi dan 15 penasihat dari beragam latarbelakang institusi, dan bertujuan untuk bersama-sama menghasilkan definisi, pengukuran, dan strategi implementasi yang sangat memusatkan pengalaman hidup individu dan masyarakat dalam desain dan pembuatan kebijakan sistem kesehatan.
Sesi ini menampilkan studi kasus konkret tentang perawatan yang berpusat pada orang yang diambil dari LSM, sistem kesehatan masyarakat, dan penyedia inovatif di kawasan Asia Pasifik, menunjukkan bagaimana responsivitas dan inklusivitas terwujud dalam praktik di berbagai konteks dan populasi, termasuk populasi yang menua. Sesuai dengan fokus Komisi pada keterlibatan yang bermakna di setiap tahap pekerjaannya, peserta akan diundang tidak hanya untuk belajar dari contoh-contoh ini tetapi juga untuk menyumbangkan perspektif mereka sendiri—memastikan mereka menginformasikan agenda penelitian yang berkembang, pertimbangan kelompok kerja, dan rekomendasi yang akan diterbitkan Komisi pada tahun 2027.
Sintesis — Wawasan Dua Hari Pertama
Di Hari 1 dan 2, tiga wawasan yang muncul secara konsisten muncul:
Pertama, Kesetaraan Harus Disematkan Sejak Dini: Baik dalam perencanaan kota, inovasi digital, atau reformasi pembiayaan, pertimbangan kesetaraan disorot sebagai fondasi yang tidak dapat dinegosiasikan untuk sistem kesehatan yang beradaptasi dengan perubahan demografis.
Kedua, Kepemimpinan dan Keterlibatan Kelompok Muda dan Inovasi Sangat Penting: Suara pemuda/i dan pendekatan digital ditampilkan sebagai pengungkit utama untuk merancang bersama solusi kesehatan inklusif yang mencerminkan kebutuhan populasi di masa depan.
Ketiga, Tata Kelola Lintas Sektoral Sangat Penting: Sesi yang mencakup diplomasi, iklim, penuaan, dan kebijakan ekonomi semuanya menggarisbawahi bahwa pendekatan yang tertutup akan goyah — tata kelola kolaboratif lintas sektor sangat penting untuk resilience.
28 Januari 2026
Demografi global mengalami perubahan besar melalui populasi yang menua, menurunnya tingkat kesuburan, pola migrasi yang berkembang, tonjolan pemuda, dan urbanisasi yang cepat, yang bersinggungan dengan ketidaksetaraan yang melebar, kerentanan ekonomi, sistem kesehatan yang tegang, dan tekanan iklim. Negara-negara berpenghasilan tinggi menghadapi populasi yang menua dan menyusutnya tenaga kerja, sementara negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah mengelola populasi pemuda yang terus berkembang yang membutuhkan infrastruktur dan lapangan kerja yang diperluas. Investasi strategis dalam sumber daya manusia—termasuk pendidikan, pelatihan kejuruan, dan pembelajaran seumur hidup—di samping infrastruktur yang mendukung integrasi antargenerasi dapat mengubah tantangan ini menjadi peluang untuk pertumbuhan ekonomi dan kemajuan sosial yang inklusif, seperti yang ditunjukkan oleh dividen demografis Asia Timur pada akhir abad ke-20.
Populasi yang menua di negara-negara berpenghasilan menengah dan tinggi menciptakan kekurangan tenaga kerja dan tekanan ekonomi karena pekerja yang lebih muda mendukung populasi yang lebih tua di tengah meningkatnya biaya perawatan kesehatan dan kewajiban pensiun. Sistem perawatan kesehatan harus beradaptasi dengan meningkatnya penyakit tidak menular dan kebutuhan perawatan jangka panjang, sementara strategi komprehensif yang menangani perumahan, perencanaan kota, dan kesejahteraan masyarakat sangat penting untuk mendukung individu yang menua. Negara-negara seperti Jepang dan Singapura menawarkan model yang berharga melalui program perawatan lansia dan pelatihan ulang yang dibantu teknologi untuk pekerja yang lebih tua.
Kunjungan lapangan dalam Konferensi PMAC 2026 bertujuan untuk mengidentifikasi solusi yang dapat ditindaklanjuti melalui kebijakan kursus hidup yang memenuhi kebutuhan di semua demografi usia, menampilkan studi kasus berbasis bukti yang menginspirasi pembuat kebijakan untuk menerapkan strategi efektif untuk mengelola transisi demografis secara global. Pada hari ke-tiga ini, peserta tersebar ke beberapa Lokasi kunjungan lapangan. Salah satunya adalah untuk meninjau sebuah sandbox untuk layanan lansia di wilayah urban berbasis telemedicine, yang disebut Ratchaphiphat Sandbox Model.
Ratchaphiphat Sandbox Model
Model Ratchaphiphat Sandbox terletak di Rumah Sakit Ratchaphiphat di Distrik Bang Kae di Bangkok, Thailand. Program ini diluncurkan di sana sebagai bagian dari upaya oleh Administrasi Metropolitan Bangkok (BMA) untuk memperkuat layanan kesehatan berbasis masyarakat dan menguji coba pendekatan perawatan primer dan telemedicine yang inovatif di daerah perkotaan. Meskipun dimulai di Rumah Sakit Ratchaphiphat, layanan di bawah model ini — terutama unit telemedicine keliling dan komponen perawatan masyarakat — sedang dikerahkan di beberapa distrik Bangkok (termasuk Bang Khae, Nong Khaem, Thawi Watthana, Phasi Charoen dan Taling Chan) sebagai bagian dari fase percontohan dan strategi perluasan.
📍 Lokasi Utama: Rumah Sakit Ratchaphiphat, Distrik Bang Kae, Bangkok
📌 Area Cakupan Layanan (diperluas dalam percontohan): Bang Khae, Nong Khaem, Thawi Watthana, Phasi Charoen, Taling Chan dan komunitas lain di Bangkok sebagai bagian dari peluncuran model.
Beberapa fitur utama dari Ratchaphiphat sandbox model adalah:
Sistem Kesehatan Primer Terpadu yang Berpusat pada Masyarakat Model Sandbox dirancang untuk memperkuat layanan perawatan kesehatan primer di perkotaan Bangkok dengan mengintegrasikan beberapa entitas kesehatan masyarakat — termasuk rumah sakit, pusat kesehatan, kantor distrik, dan jaringan komunitas — ke dalam sistem perawatan kolaboratif. Tujuannya adalah untuk membuat layanan kesehatan lebih mudah diakses dan responsif di tingkat masyarakat, secara efektif berfungsi sebagai perpanjangan kapasitas rumah sakit ke lingkungan.
Telemedicine yang Ditingkatkan dan Unit Kesehatan Bergerak Elemen sentral dari model ini adalah pemberian perawatan yang didukung teknologi:
Ambulans yang Dilengkapi Telemedicine memungkinkan konsultasi medis dan dukungan darurat untuk menjangkau pasien secara langsung di komunitas melalui koneksi jarak jauh langsung dengan dokter.
Unit Bergerak (“Commulance” dan Motor-based Teams) menghadirkan layanan kesehatan primer — pemeriksaan, diagnostik, konsultasi, dan bahkan pengiriman obat — ke area di mana ambulans tradisional atau klinik tetap lebih sulit diakses.
Ini sangat penting untuk individu lanjut usia yang mungkin memiliki mobilitas terbatas atau kesulitan bepergian ke rumah sakit.
Perawatan Lansia Holistik dan Layanan Dukungan Berkelanjutan Model ini secara eksplisit mencakup layanan yang mendukung orang yang lebih tua dan populasi rentan:
Dukungan transportasi bagi lansia dan penyandang disabilitas untuk melakukan perjalanan ke klinik dan rumah sakit bila diperlukan.
Perawatan dan tindak lanjut berbasis rumah melalui tautan digital — mengintegrasikan konsultasi telemedicine dengan penjangkauan komunitas tindak lanjut, yang membantu orang yang lebih tua mempertahankan kesinambungan perawatan tanpa sering mengunjungi rumah sakit.
Layanan ini membantu meningkatkan kelangsungan perawatan dan mengurangi kunjungan rumah sakit yang tidak perlu dengan mendekatkan perawatan pencegahan, akut, dan rehabilitatif di mana mereka tinggal.
Penggunaan Kesehatan Digital dan Integrasi Data Teknologi memainkan peran strategis, dalam hal:
Platform telemedicine digunakan untuk menghubungkan pasien dengan profesional kesehatan secara real time.
Rencana untuk menghubungkan sistem digital — seperti catatan rumah sakit dan data Peta Kesehatan Bangkok — bertujuan untuk memungkinkan pasien menemukan layanan terdekat dengan mudah dan menerima perawatan yang lebih terintegrasi.
Integrasi digital ini meningkatkan navigasi layanan kesehatan, kesinambungan perawatan, dan pemantauan kondisi kronis, yang sangat lazim terjadi pada populasi yang lebih tua.
Mengurangi Hambatan Perawatan dan Memperkuat Kesetaraan Kesehatan Dengan mendesentralisasi perawatan primer:
Model ini mengurangi kebutuhan untuk bepergian ke rumah sakit yang jauh, mengatasi hambatan umum bagi orang dewasa yang lebih tua dan orang-orang dengan tantangan mobilitas.
Kolaborasi dengan mitra swasta dan jaringan masyarakat memperluas jangkauan layanan tanpa hanya bergantung pada anggaran pemerintah.
Hal ini berkontribusi pada akses yang lebih adil ke perawatan kesehatan di dalam komunitas perkotaan, terutama untuk orang dewasa yang kurang terlayani dan sangat membutuhkan.
Peningkatan Kapasitas dan Potensi Ekspansi Para pemimpin kota Bangkok memandang Model Sandbox sebagai bukti konsep untuk penskalaan:
Ada rencana untuk memperluas layanan – termasuk lebih banyak unit bergerak, jangkauan telemedicine yang ditingkatkan, dan koneksi pusat kesehatan masyarakat yang lebih kuat – di distrik tambahan.
Data percontohan menunjukkan meningkatnya serapan telemedicine dan perawatan berbasis rumah di distrik target, menginformasikan strategi ekspansi di masa depan.
Pendekatan berulang ini mendukung perbaikan berkelanjutan pada sistem kesehatan perkotaan, yang disesuaikan dengan kebutuhan demografis seperti populasi yang menua.
29 Januari 2026
Plenary Navigating Global Demographic Transition in a Time of Geopolotical Upheaval
Keynote speaker Chris Murray (Director IHME) menunjukkan modelling dengan data demografi dunia yang menunjukkan bagaimana mayoritas negara-negara di dunia akan mengalami penurunan tingkat penduduk dalam decade-dekade mendatang, namun pertumbuhan ekonomi yg buruk akan memperdalam jurang antara kelompok yang kaya dengan yang rentan. Selain itu, mayoritas penyakit-penyakit tidak menular akan mendominasi, dan bagian terbesarnya adalah penambahan despressive disorder, dan teridentifikasi pula sekitar 500 faktor risiko. Dari 500 faktor risiko tersebut, analisis dilakukan hingga terideintifikasi 17 ancaman utama dan apa ancaman tertingginya. Dari ancaman-ancaman utama terhadap Kesehatan tersebut, terdapat 5 ancaman di posisi teratas yang dapat diubah secara perilaku dan pendekatan system, yaitu obesitas (metabolic driver), Pendidikan rendah (social economy determinant), ketidaksetaraan ekonomi (social determinant), tembakau dan unhealthy aging.
Analisis ini kemudian dibahas oleh panelis terdiri dari Dennis Carrol (AS), Gabriel Leung (Hong Kong), Keizo Takemi (Jepang), Magda Robla (Guinea-Bissou), Melebono Previous Matsoso (Afrika Selatan) untuk melihat bagaimana dampaknya terhadap system Kesehatan. Pesan kunci dari diskusi ini adalah belum ada system Kesehatan yang saat ini siap dengan pooling system yang dapat menanggung beban piramida terbalik yang akan kita hadapi dalam waktu dekat. Sehingga pertanyaan besarnya adalah: siapa yang akan membayar system Kesehatan di masa depan.
Plenary Demographic Transition, Social Equity and Population Diversity
Sesi ini merupakan panel yang terdiri dari Alexander Sasha Bodiroza (UNFPA), Eduardo Banzon (ADB) Fekdemi Akinfaderin, Gretchen Donehower, Reiko Hayashi (Directorate General Social Affairs, Japan).
UNFPA menggarisbawahi konsiderasi ekuitas harus dimasukkan dari awal, bukan sebagai “after-thought”. Sebagai contoh, hak setiap orang untuk mendapatkan dokumentasi kependudukan, karena tanpa dokumen ini mereka akan ‘insivisible’ di dalam system perlindungan sosial dan rentan terhadap berbagai ancaman Kesehatan dan sosial. ADB menyoroti pentingnya penghargaan terhadap pendekatan nasional dan juga kebijaksanaan lokal. Sebagai contoh, di kebayakan negara system perlindungan sosial saat ini masih mengesampingkan layanan Kesehatan tradisional, padahal evidence menunjukkan bahwa Masyarakat membutuhkan dan menginginkan layanan yang bersifat holistic terhadap Kesehatan mereka.
No One Left Behind: Inclusive Policies for Vulnerable and At-Risks Groups in an Era of Demographic Change
Seiring dengan pergeseran demografi global—melalui populasi yang menua, urbanisasi, migrasi, dan perubahan struktur keluarga—kelompok rentan dan berisiko sering kali tetap dikecualikan dari manfaat pembangunan dan kemajuan sosial. Sesi ini mengeksplorasi bagaimana desain kebijakan inklusif dan intervensi inovatif dapat memastikan kesetaraan bagi kelompok rentan dan berisiko, seperti orang tua, penyandang disabilitas, migran, populasi adat, dan minoritas gender. Dengan contoh dari beragam konteks global, sesi ini menawarkan wawasan yang dapat ditindaklanjuti untuk membangun masyarakat yang kohesif secara sosial dan inklusif di tengah transisi demografis. Prof. Ilona Kickbusch (Global Health Centre, Graduate Institute Geneva, Switzerland) menyampaikan konteks mengapa inklusi lebih penting sekarang di tengah pergeseran demografi. Berikutnya disampaikan dua studi kasus tentang kebijakan yang inklusif.
Assoc.Prof. Trirat Jarutach (Chulalongkorn University, Thailand) menghadirkan model yang komprehensif dan action-driven untuk perumahan ramah lansia—mulai dari perbaikan interior tingkat mikro hingga desain perkotaan tingkat makro. Fokus pada perubahan praktis, sensitif budaya, dan keterjangkauan membuat pendekatan tersebut inklusif dan terukur di seluruh distrik perkotaan Thailand.
Federico Graña (Kementerian Pembangunan Sosial, Uruguay) menyampaikan pengembangan dan promosi undang-undang kesetaraan trans komprehensif Uruguay, yang dikenal sebagai Undang-Undang Komprehensif untuk Trans Persons (UU 19.684), yang diadopsi pada tahun 2018. Undang-undang ini bertujuan untuk membalikkan diskriminasi dan memajukan hak-hak individu transgender, termasuk akses ke perawatan kesehatan, pendidikan, perumahan, dan pekerjaan. Ini juga mencakup ketentuan untuk perawatan kesehatan yang menegaskan gender, seperti terapi hormon dan pembedahan, yang akan ditanggung oleh negara.
Sesi di kemudian dibahas oleh para panelis. Dr. Renu Khanna (Society for Health Alternatives, India) memberikan perspektif praktis tentang tantangan dan intervensi kebijakan untuk kelompok terpinggirkan, terutama perempuan, di Asia Selatan. Alberto Vásquez (Pusat Kebijakan Inklusif (CIP) dan Presiden, Sociedad y Discapacidad (SODIS), Peru) mengomentari bagaimana menanamkan hak-hak disabilitas dalam kebijakan publik seperti membangun kebijakan fiskal inklusif untuk penyandang disabilitas, mengadvokasi pendekatan sistem perawatan disabilitas berbasis hak, berpusat pada komunitas daripada pelembagaan. Dr.Viviane Oke, MD (Benin) memberikan kisah inspiratif tentang advokasi transformatif untuk kesehatan kaum muda dan wanita. Aplikasi ELLES (yang dia kembangkan) memberikan informasi kesehatan seksual dan reproduksi yang andal dan ramah kaum muda dan menghubungkan perempuan dan anak perempuan dengan profesional kesehatan di seluruh Afrika Sub-Sahara. Dr. Patricia DaSilva (UNFPA) menyampaikan proses perumusan pedoman untuk inklusi penyandang disabilitas yang lebih besar, dan mencakup aspek-aspek seperti prinsip-prinsip partisipasi yang lebih besar, penilaian kebutuhan, dan penggunaan data dalam penyusunan pedoman ini.
30 Januari 2026
Social Welfare System, Social Protection, and Fiscal Sustainability
Sesi ini mengeksplorasi model inovatif, tantangan yang muncul, dan solusi kebijakan untuk memperkuat sistem kesejahteraan sosial di berbagai konteks demografis. (Untuk mengeksplorasi bagaimana negara-negara dapat merancang sistem kesejahteraan sosial yang tangguh dan adil yang beradaptasi dengan perubahan demografis, populasi yang menua, dan tekanan fiskal—sambil memanfaatkan inovasi, pendekatan antargenerasi, dan kerja sama global.)
Rintaro Mori (Walikota Kota Takarazuka, Jepang) menyoroti strategi proaktif Jepang dalam pengasuhan, dukungan antargenerasi, dan investasi sosial lokal, bagaimana menyelaraskan anggaran dan layanan kota dengan kebutuhan populasi yang menua, serta menunjukkan peran penting kepemimpinan lokal dalam mengoperasionalkan kebijakan nasional
Aiko Kikkawa (Ekonom Senior, ADB) menyajikan sorotan dari publikasi unggulan ADB “Aging Well in Asia”. Kajian ini berfokus pada keamanan keuangan lansia menggunakan data mikro terperinci di delapan negara Asia, memeriksa kesiapsiagaan, kerentanan, dan kesenjangan dalam perlindungan, serta berbagi temuan pratinjau awal dari studi regional yang sedang berlangsung yang mengembangkan Indeks Kesiapsiagaan Keuangan Usia Tua. Indeks ini menyumbangkan perspektif ekonomi dan berbasis data regional tentang bagaimana merancang sistem kesejahteraan yang berkelanjutan secara fiskal dan inklusif secara sosial untuk populasi yang menua
Dr. Veerathai Santiprabhob (Ketua, TDRI) memberikan perspektif Thailand tentang keberlanjutan fiskal, utang, dan investasi jangka panjang dalam sistem kesejahteraan. Beliau mengeksplorasi trade-off dan prioritas dalam perencanaan anggaran nasional di tengah transisi demografis, serta menyoroti peran think tank ekonomi dalam membentuk kebijakan berbasis bukti yang inklusif
Andrew Reilly (OECD) membahas inovasi desain dalam sistem pensiun publik dan ekuitas antargenerasi. Perspektif OECD yag disampaikan adalah tentang bagaimana mempertahankan sistem pensiun di negara-negara berpenghasilan tinggi dan menengah, serta memperkenalkan alat untuk menilai kecukupan pensiun, cakupan, dan ketahanan fiskal
Sarah Shahyar (UNICEF) menyampaikan pentingnya advokasi untuk memprioritaskan perlindungan sosial yang sensitif terhadap anak di tengah kendala fiscal, serta menyoroti bukti global yang menghubungkan investasi awal dengan manfaat sosial jangka panjang. UNICEF menekankan sistem inklusif, terutama untuk keluarga yang terpinggirkan dan rentan
People-Centered Long-Term Care: Promising Multisectoral and Community-Based Approaches
Karena negara-negara di seluruh dunia mengalami transisi demografis yang ditandai dengan harapan hidup yang lebih panjang dan tingkat kesuburan yang menurun, permintaan untuk perawatan jangka panjang (LTC) tumbuh pesat. Populasi yang menua membentuk kembali struktur sosial, dinamika keluarga, dan prioritas kesehatan masyarakat. Sementara banyak sistem kesehatan tetap fokus pada perawatan akut, kebutuhan untuk memperkuat model perawatan jangka panjang, berpusat pada orang, dan berakar pada komunitas lebih mendesak dari sebelumnya. Pergeseran demografis juga menunjukkan perlunya pendekatan multisektoral yang melibatkan sektor publik dan swasta untuk memberikan perawatan yang berkelanjutan dan bermartabat di seluruh perjalanan hidup – semuanya dengan keterlibatan yang berarti dari orang dewasa yang lebih tua dalam perencanaan dan implementasi layanan ini.
Komunitas sering berfungsi sebagai garis dukungan pertama bagi orang dewasa yang lebih tua dan mereka yang memiliki kondisi kronis. Ketika diberdayakan, aktor berbasis masyarakat dapat memainkan peran transformatif dalam mengidentifikasi kebutuhan perawatan dan memastikan kesinambungan perawatan. Pada saat yang sama, LTC yang efektif membutuhkan struktur tata kelola yang menjembatani sektor dan skala—mulai dari kebijakan nasional hingga implementasi lokal. Sesi ini akan mengeksplorasi bagaimana negara-negara dapat membangun sistem LTC yang terintegrasi dan tangguh yang inklusif, dipimpin masyarakat, dan didukung oleh kolaborasi multisektoral yang kuat.
Sesi ini menghadirkan Professor Katsuya Ijima (Institute for Gerontology, Japan), yang adalah salah satu penginisasi ‘deklarasi Tokyo’. Professor Ijima menyampaikan pengalaman Jepang untuk mengatasi ‘masyarakat super-penuaan’ melalui strategi multisektoral, dan upaya terbaru menuju sistem yang lebih berkelanjutan sebagai berikut: 1) dari institusi ke komunitas, termasuk keterlibatan sosial, 2) dari penyembuhan ke perawatan, termasuk pencegahan kelemahan multi-segi (fisik, mental, dan sosial), dan 3) dari pemerintah hingga partisipasi multi-pemangku kepentingan, termasuk untuk pembiayaan dan tata kelola.
Sesi ini juga meyampaikan beberapa pendekatan inovatif untuk layanan lansia berbasis komunitas yg dapat dibaca berikut ini:
Securing the Future of Health and Well-Being for All at All Ages: Sustainable Financing Solutions
Sesi ini dilatarbelakangi oleh tantangan global khususnya tantangan pencapaian UHC yang tersisa tinggal 5 tahun lagi, perubahan demografi yang sangat cepat dengan bertambahnya kelompok usial lanjut dan juga kerentanan global akibat berkurangnya secara signifikan beberapa sumber pendanaan global. Sesi ini khususnya berfokus pada bagaimana dana bisa digalang (revenue and pooling), serta bagaimana innovative financing dapat diinisiasi khususnya untuk pembiayaan layanan Kesehatan di sepanjang siklus hidup.
Pertama, Jon Cylus (LSE) menyampaikan bahwa kemampuan negara untuk mengumpulkan pajak dari antara kelompok Masyarakat sangat bergantung pada, salah satunya, seberapa produktif orang pada kelompok usia tertentu; padahal di sisi lain pembiayaan Kesehatan dikumpulkan dengan cara yg selalu sama (konstan). Sehingga dalam waktu dekat, Ketika populasi menua, tentu saja akan muncul ancaman ketidakcukupan, akibatnya ada gap yg harus diisi melalui OOP. Solusinya, pertamaL diversifikasi pajak (misal: health taxes). Dua, Menyusun protecktif coverage policies yang melindungi OOP dari Masyarakat berdasarkan kemampuannya (misal: menggunakan income related cap)
Sesi ini dimoderatori oleh Akihito Watabe (ADB) dan Kiesha Prem (NUS).
Para pembahas kemudian menyampaikan beberapa pandangan dari perspektif negara maju dan middle-income.
Ayako Honda (Hitotsubashi Institute for Advanced Studies, Jepang) menyampaikan mengenai program pembiayaan khusus untuk long-term care yang tersedia di Jepang, memisahkannya dari pembiayaan Kesehatan kelompok usia lain, karena pembiayaan long-term care mencakup pula layanan-layanan berbasis komunitas dan preventif/promotive.
Huijun Cynthia Chen (NUS) menyampaikan strategi yang digunakan Singapura, yaitu (1) centralised purchasing, (2) value-based purchasing, dan (3) subsidi untuk obat kanker dan layanan kanker (tadinya Medihsield menggunakan cap untuk layanan kanker, sisanya dibayar melalui asuransi swasta; namun kemudian hal ini diganti dengan negosiasi layanan yang lebih efektif dan meningkatkan subsidi di layanan tersebut).
Soonman Kwon (Seoul National University, Korea Selatan) menyampaikan strategi lain dalam pengumpulan pendapatan untuk kesehatan. Salah satu contoh negara yang menunggunakan consumption tax dengan earmarked khusus untuk Kesehatan (misalnya Ghana); cara lain adalah contribution base payment, sebagai contoh di Korea pemotongan pajak untuk Kesehatan bukan hanya dari pendapatan gaji, melainkan juga pendapatan non gaji (misal: dividen). Selain itu, diperlukan mekanisme pembayaran lain, misalnya bundled payment karena kapitasi saja tidak akan memadai.
Lluis Vinyals Torres (WHO WPRO) menyampaikan beberapa pembelajaran utama dari regional ini. Pertama, produksi SDM yang berlebihan karena adanya masalah kekurangan tenaga tidak selalu menyelesaikan masalah, jika tidak ada kebijakan yang efektif untuk distribusi SDM tersebut. Kedua, terkadang mekanisme pembiayaan Kesehatan tidak selalu sinkron antara revenue, pooling dan payment.
Sesi ini juga menampilkan Ghina Fadhilla (Indonesia) yang menyampaikan bagaimana beberapa pendanaan (termasuk filantropi) digunakan untuk membiayai Kesehatan di Indonesia, misalnya melalui Dompet Dhuafa dan lain-lain, yang membantu pemerintah dalam pendanaan untuk penanggulangan bencara, layanan berbasis komunitas dan lain-lain. Namun tantangannya adalah pendanaan ini biasanya bersifat ad-hoc, tidak selalu terintegrasi dan tidak berkelanjutan.
Ghina menyarakankan mekanisme yang dapat digunakan Indonesia untuk memastikan bahwa filantropi terintegrasi dengan baik ke dalam prioritas kesehatan nasional. Ini meliputi: (1) Pemetaan sumber daya dan peran untuk mendokumentasikan aktor kunci di seluruh ekosistem pendanaan seperti, siapa yang memegang sumber daya keuangan, siapa yang membutuhkan pendanaan, aktor mana yang telah menerapkan program serupa, siapa penerima manfaat, siapa yang berfungsi sebagai mitra pelaksana, di mana pendanaan paling dibutuhkan. Pendekatan ini membantu memastikan pendanaan yang ditargetkan dengan baik, mendorong intervensi yang lebih komprehensif, mengurangi fragmentasi program dan jangka pendek, dan dapat digunakan untuk mengidentifikasi kesenjangan untuk program masa depan atau terkait; (2) Alat pemantauan dan evaluasi yang terpadu, terintegrasi, dan dapat diakses diperlukan untuk menangkap dan mendokumentasikan dampak pendanaan filantropi. Alat-alat tersebut dapat berfungsi sebagai instrumen pembelajaran untuk mendukung skalabilitas dan keberlanjutan program, membantu menarik pendanaan di masa depan, dan memberikan bukti kepada banyak pemangku kepentingan tentang hasil kesehatan yang didukung oleh filantropi; (3) Hasil bersama, terutama yang selaras dengan prioritas nasional dan regional, harus berfungsi sebagai referensi utama bagi organisasi filantropi saat merancang program mereka. (4) Forum multipihak yang transparan dan bebas konflik diperlukan untuk secara teratur membahas mobilisasi sumber daya domestik untuk keuangan kesehatan yang selaras dengan prioritas nasional. Forum semacam itu juga akan membantu mencegah fragmentasi dan mendukung tujuan yang lebih luas untuk memperkuat kolaborasi lintas sektoral. Bersama-sama, upaya ini harus didukung dengan revisi undang-undang pengumpulan uang dan barang, dan insentif pajak yang komprehensif untuk filantropi lokal.
Beberapa acara sampingan dalam PMAC 2026
Pelaksanaan PMAC juga seperti biasa diisi oleh berbagai kegiatan lain, misalnya penyampaian berbagai E-poster dan memberikan kesempatan pada hadirin yang tertarik untuk berdiskusi langsung dengan penyusun poster. Berikut ini adalah beberapa poster yang terdapat pada PMAC 2026.
Selain itu, PMAC juga didasari oleh prinsip penyelenggaraan acara yang sehat, yaitu pilihan makanan yang sehat, aktivitas fisik (di pagi hari tersedia program mindful walk di kuil dan taman), relaksasi (tersedia layanan pijat oleh para tunanetra) dan pameran seni yang dibuat oleh anak-anak dari wilayah pedesaan Thailand dan penjualan merchansdise berdasarkan karya seni tersebut. Seluruh kegiatan ini digunakan untuk menggalang donasi dari peserta acara.
Pameran Seni anak-anak terkait tema PMAC 2026.
Poster
Selain itu, PMAC juga didasari oleh prinsip penyelenggaraan acara yang sehat, yaitu pilihan makanan yang sehat, aktivitas fisik (di pagi hari tersedia program mindful walk di kuil dan taman), relaksasi (tersedia layanan pijat oleh para tunanetra) dan pameran seni yang dibuat oleh anak-anak dari wilayah pedesaan Thailand dan penjualan merchansdise berdasarkan karya seni tersebut. Seluruh kegiatan ini digunakan untuk menggalang donasi dari peserta acara.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan saat ini telah menyusun Rencana Induk Bidang Kesehatan (RIBK) sebagai acuan perencanaan strategis kesehatan nasional dan daerah pada periode 2025–2029. Dokumen RPJMN menjadi dasar penyusunan RIBK dan ditujukan untuk menyelaraskan kebijakan kesehatan antara pemerintah pusat dan pemerintah kabupaten/kota. Presiden Joko Widodo pada Rakerkesnas 2024, menekankan pentingnya integrasi program kesehatan di semua tingkat pemerintahan agar tidak berjalan parsial. Bappeda serta dinas kesehatan daerah diharapkan berpartisipasi aktif karena dipandang sebagai kunci penyusunan program kesehatan yang komprehensif dan relevan berdasarkan. RIBK juga menjawab amanat Undang‑Undang Kesehatan Nomor 17 Tahun 2023 memperkuat paradigma anggaran mengikuti program (money‑follow‑program) dan mengeliminasi mitos mandatory spending yang menganut ketentuan alokasi minimal 5% APBN dan 10% APBD dan menggantikannya dengan prinsip kebutuhan dan prioritas program kesehatan berbasis wilayah.
Anggaran Berbasis Kinerja (ABK) muncul sebagai instrumen penting untuk memperkuat efektivitas dan akuntabilitas penggunaan dana sektor publik. Studi pada RSUD Sidoarjo menunjukkan bahwa perencanaan, pelaksanaan, pelaporan, dan evaluasi yang berbasis kinerja secara signifikan mempengaruhi peningkatan akuntabilitas instansi pemerintah. Di beberapa daerah—seperti Kota Bandung—implementasi ABK telah berjalan dengan pendekatan yang relevan dan terukur, meskipun masih menghadapi keterbatasan seperti kurangnya dukungan informasi dan hambatan kolaborasi lintas OPD . Di sisi lain, evaluasi di Kabupaten Tapanuli Utara menyimpulkan bahwa pelaksanaan ABK belum efektif karena kelemahan dalam kemampuan sumber daya manusia, prosedur yang belum lengkap, dan kurangnya koordinasi tim antar unit kerja daerah.
RIBK dan amanah UU Nomor 17 Tahun 2023 memberikan peluang besar untuk memperkuat sistem penganggaran agar lebih efektif, sistemik, dan berorientasi pada hasil. Namun demikian, tantangan di lapangan tetap ada yang mencakup kesenjangan antara perencanaan dan realisasi anggaran yang berada antar-level pemerintahan. Webinar ini menjadi penting sebagai media untuk meningkatkan pemahaman, berbagi praktik baik, dan merumuskan strategi implementatif ABK di daerah sebagai respons terhadap penerapan RIBK.
Tujuan Kegiatan
Tujuan Umum
Meningkatkan pemahaman dan kapasitas pemangku kepentingan daerah dalam menerapkan anggaran berbasis kinerja untuk mendukung implementasi Rencana Induk Bidang Kesehatan.
Tujuan Khusus
Mensosialisasikan prinsip dan arah kebijakan RIBK di tingkat kabupaten/kota.
Memberikan pemahaman tentang konsep dan penerapan anggaran berbasis kinerja di sektor kesehatan.
Mendorong integrasi antara dokumen perencanaan daerah (RPJMD, Renstra) dengan RIBK.
Mengidentifikasi tantangan dan peluang penerapan ABK dalam pembangunan kesehatan di daerah.
Menyusun rekomendasi kebijakan dan strategi implementatif bagi pemerintah daerah.
Waktu dan Pelaksanaan
Hari/Tanggal : Kamis, 28 Agustus 2025
Waktu : 09.00 – 11.00 WIB
Peserta
Peserta yang diharapkan mengikuti kegiatan ini:
Bappeda Kabupaten/Kota
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
DPRD Komisi Kesehatan
RSUD
Puskesmas
Akademisi
Masyarakat praktisi bidang kesehatan
Agenda
Pukul
Agenda Kegiatan
09.00 – 09.05
Pembukaan
09.05 – 09.15
Pengantar: Prof. dr. Laksono Trisnantoro, MSc. PhD
Pencapaian Indikator Kesehatan melalui Perencanaan dan Penganggaran Berbasis Kinerja Galih Putri Yunistria, SKM, ME, MPMA (Ketua Tim Kerja Perencanaan 1 Biro Perencanaan dan Anggaran Kemenkes)
Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (PKMK FK-KMK UGM) menyelenggarakan Webinar Anggaran Berbasis Kinerja sebagai Respon Implementasi Rencana Induk Bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota secara daring pada Kamis (28/8/2025). Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kapasitas pemangku kepentingan daerah dalam menerapkan anggaran berbasis kinerja (ABK) untuk mendukung implementasi Rencana Induk Bidang Kesehatan.
Sebagai pengantar, Prof. dr. Laksono Trisnantoro, MSc, PhD menyampaikan bahwa saat ini PKMK FK-KMK UGM sedang mengembangkan website untuk perencanaan kesehatan yang dapat diakses oleh masyarakat untuk mempelajari terkait perencanaan kesehatan. Melalui webinar ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman dan pemangku kepentingan dalam menerapkan anggaran berbasis kinerja selain itu juga menekankan bahwa webinar ini menjadi langkah awal menuju pemahaman mendalam tentang ABK.
Selanjutnya, Rijadh Djatu Winardi, Ph.D memaparkan konsep dan urgensi ABK, termasuk praktik global yang bisa diadaptasi di Indonesia.
Menurutnya, ABK bukan sekadar mekanisme administratif, melainkan instrumen untuk mewujudkan transparansi, akuntabilitas, efisiensi, serta pengambilan keputusan berbasis bukti.
Dari perspektif lapangan, Muhamad Faozi Kurniawan, SE., Ak., MPH menguraikan praktik penerapan ABK di Dinas Kesehatan. Ia menekankan pentingnya keterkaitan program, kegiatan, sasaran, dan indikator dalam perencanaan daerah. Salah satu tantangan besar adalah memastikan bahwa indikator kinerja benar-benar relevan dengan intervensi program, serta adanya baseline data yang terintegrasi lintas OPD.
Terakhir, Galih Putri Yunistria, SKM, ME, MPMA dari Biro Perencanaan Kementerian Kesehatan menyampaikan salah satu cara untuk perhitungan kebutuhan anggaran berbasis kinerja dengan menentukan komponen biaya utama dan biaya per kegiatan. Jika terdapat gap anggaran, diperlukan adanya strategi untuk perencanaan penganggaran berikutnya dengan strategi utama inovasi dari segi pendanaan kesehatan maupun inovasi pelaksanaan anggaran. Sedangkan dari daerah masih memerlukan kejelasan mengenai konsep apakah penyusunan anggaran benar-benar berdasarkan kinerja (performance based budgeting) atau sebenarnya penyusunan anggaran masih berdasarkan pada ketersediaan anggaran (budget based budgeting).
Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan FK-KMK UGM bekerja sama dengan Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) menyelenggarakan webinar dengan topik “Global Health Finance after COVID-19 and the future of UHC” pada Kamis (24/7/2025). Webinar ini menghadirkan Prof. Peter Berman yang merupakan Professor University of British Columbia & Adjunct Professor of Global Health and Population, Harvard T.H. Chan School of Public Health sebagai narasumber.
Prof. dr. Laksono Trisnantoro, MSC, PhD menyampaikan pengantar mengenai pendanaan kesehatan di Indonesia. terdapat peningkatan pengeluaran kesehatan di Indonesia, dengan proporsi terbesar dari skema asuransi kesehatan sosial serta terdapat peningkatan skema out of pocket (OOP). Setelah COVID-19, BPJS Kesehatan kembali mengalami defisit. Ada kemungkinan kesulitan bagi pemerintah untuk meng-cover biaya klaim BPJS-Kesehatan di masa depan. Pelaksanaan Universal Health Coverage (UHC) di Indonesia saat ini masih belum tercapai, karena belum ada kesetaraan akses terhadap pelayanan kesehatan. Hal ini disebabkan masih terdapat ketimpangan antar segmen anggota BPJS, tantangan secara geografis, serta kebijakan kompensasi yang belum dijalankan oleh BPJS. (MATERI NARASUMBER)
Selanjutnya, Prof. Peter Berman menyampaikan gambaran pendanaan kesehatan global setelah COVID-19 dan masa depan dari UHC. Pandemi COVID-19 mempengaruhi kondisi ekonomi di tingkat global maupun nasional. Dampaknya setelah pandemi terdapat penurunan bantuan alokasi dana bantuan eksternal yang dapat berpengaruh terhadap program dan sistem kesehatan. Di sisi lain, terdapat tantangan baru bagi pendanaan kesehatan yakni perubahan iklim. UHC merupakan jaminan akses untuk semua layanan kesehatan penting untuk semua orang serta menyediakan perlindungan terhadap risiko finansial. Terdapat peningkatan tren UHC berdasarkan Service Coverage Index (SCI) setelah pandemi, sedangkan proporsi pengeluaran OOP secara global berkisar antara 10%-25%. Semua negara mengalami tantangan untuk mencapai keberlanjutan konsep dari UHC. Pada negara berpendapatan tinggi tantangannya berasal dari peningkatan populasi lansia dengan usia harapan hidup lebih lama, terdapat multi morbiditas, serta adanya peningkatan biaya untuk terapi baru. Sedangkan pada negara pendapatan rendah tingkat pembiayaan kesehatan saat ini sangat terbatas, sehingga perlu mencari keseimbangan antara luaran kesehatan populasi dan perlindungan terhadap risiko finansial. (MATERI NARASUMBER)
Indonesia mengalami beberapa tantangan seperti bagaimana keseimbangan antara kebutuhan dengan permintaan untuk layanan kesehatan kemudian bagaimana manajemen yang tepat dengan kondisi di Indonesia yang sangat beragam dalam hal kondisi geografis, suplai pelayanan kesehatan serta kondisi ekonomi. Saat ini cakupan kepesertaan JKN sudah lebih dari 80%, namun masih terdapat kesenjangan dan ketidaksetaraan distribusi manfaat. Pada layanan kesehatan primer, pendanaan lebih banyak berasal dari dana transfer pemerintah melalui berbagai aliran dibandingkan dari JKN. Faktanya, Indonesia sudah memiliki sistem jaminan kesehatan yang mumpuni, namun masih menghadapi tantangan dalam hal keberlanjutan finansial dan ketimpangan layanan.
Improving Financial Protection in Health: Strengthening the Evidence to Policy Pipeline
Sesi ini diselenggarakan bersama oleh World Bank dan World Health Organization/WHO. Tujuan sesi ini untuk berbagi temuan dan membahas bagaimana perlindungan finansial dalam kesehatan dapat ditangani dengan lebih baik. Diskusi difokuskan pada dua hal yaitu 1) Temuan dari rapid evidence assessment mengenai intervensi yang efektif serta 2) Pengembangan kerangka kerja sistem kesehatan untuk mendukung dialog kebijakan berbasis bukti.
Improving healthcare-related financial protection in low- and middle-income countries: a rapid evidence assessment
Presenter:Sophie Witter (Queen Margaret University, Edinburgh and ReBUILD for Resilience consortium)
Di tengah meningkatnya beban biaya kesehatan yang ditanggung langsung oleh masyarakat, isu perlindungan finansial menjadi semakin mendesak. Sophie Witter, akademisi dari Queen Margaret University sekaligus anggota konsorsium ReBUILD for Resilience, membuka sesi dengan menyampaikan hasil tinjauan penelitiannya terhadap 25 tahun literatur (1999-2024), meliputi 214 studi dari 40 negara. Fokusnya sederhana, namun krusial yaitu mencari tahu apa yang benar-benar berhasil dalam melindungi masyarakat dari beban biaya kesehatan yang melumpuhkan.
Penelitiannya menggali lebih dari sekadar efektivitas intervensi. Sophie mencoba memahami mengapa beberapa pendekatan berhasil, sementara yang lain gagal. Intervensi seperti asuransi kesehatan memang menjadi topik paling banyak diteliti, tetapi ada banyak dimensi yang selama ini luput dari perhatian terutama faktor sosial penentu kesehatan. Temuan dari studi ini juga menunjukkan bahwa pengeluaran langsung (out-of-pocket expenditure) masih menjadi indikator yang paling sering digunakan, namun hanya sebagian kecil studi yang mengkaji dampaknya terhadap keadilan sosial.
Sophie menyoroti tantangan lain yang tidak kalah penting: mengapa perlindungan finansial, meskipun secara konsep penting, masih jarang digunakan sebagai alat utama dalam perumusan kebijakan? Jawabannya, menurutnya, terletak pada kompleksitas. Banyak pembuat kebijakan kesulitan memahami konsep ini karena terlalu teknis dan rumus yang abstrak. Pihaknya menawarkan solusi sederhana namun kuat yaitu dengan membawa konsep ini ke dalam cerita.Data perlu diubah menjadi narasi yang mudah dipahami, dengan mengaitkannya pada pengalaman individu, agar lebih mudah dicerna dan relevan dalam diskusi publik.
A health system approach for addressing financial protection in policy dialogue
Presenters:Susan Sparkes (WHO), and Gil Shapira (WB) Setelah paparan tersebut, diskusi bergerak ke arah yang lebih struktural. Gil Shapira dari World Bank dan Susan Sparkes dari WHO memperkenalkan upaya bersama yang sedang mereka kembangkan: sebuah kerangka sistem kesehatan untuk mengidentifikasi akar masalah dari lemahnya perlindungan finansial. Kerangka ini dirancang untuk membantu negara melakukan diagnosis mendalam dan menyusun intervensi yang terarah berdasarkan faktor-faktor penyebab, bukan hanya gejalanya.
Shapira menjelaskan bahwa pendekatan ini lahir dari kebutuhan akan perubahan cara kita menangani isu perlindungan finansial. Selama ini, proses pemantauan dan pengumpulan data berlangsung terpisah dari arah penyusunan kebijakan, sehingga keduanya tidak saling terhubung. Tujuan dari kerangka ini adalah menjembatani keduanya menghubungkan hasil nyata di lapangan dengan kebijakan yang bisa mengubahnya.
Pendekatan yang mereka gunakan berpusat pada pengalaman individu (user-centered approach). Bagaimana seseorang merasakan kebutuhan akan pelayanan kesehatan, bagaimana ia mencari dan menerima perawatan, bagaimana biaya yang harus dibayar, dan sejauh mana kemampuan keuangan rumah tangga mempengaruhi semua itu. Seluruh proses itu kemudian dipetakan untuk mengungkap di titik mana intervensi bisa dilakukan, dan oleh siapa.
Susan Sparkes kemudian mengajak peserta melihat lebih jauh ke dalam “alat kebijakan” (policy levers), berbagai jenis kebijakan yang dapat digunakan untuk memperbaiki perlindungan finansial. Ia menunjukkan bahwa intervensi tidak selalu harus datang dari sektor pembiayaan. Banyak kebijakan lain yang bisa digunakan, dari pengaturan harga obat hingga pajak impor, dari strategi subsidi hingga pemberdayaan masyarakat. Semuanya saling berkaitan, dan semuanya bisa menjadi bagian dari solusi jika digunakan dengan pemahaman yang tepat dan kontekstual.
Sesi ini tidak hanya menyajikan data dan konsep, tetapi menawarkan sebuah cara pandang baru. Bahwa untuk benar-benar melindungi masyarakat dari beban finansial akibat penyakit, kita tidak bisa hanya mengandalkan teori atau instrumen tunggal. Kita perlu sistem yang memahami manusia, yang melihat kenyataan lapangan, dan yang cukup lentur untuk diterapkan dalam konteks yang berbeda.
Reporter: Ratri Mahanani, SE (PKMK FK-KMK UGM)
20 Juli 2025
Complex and Fragmented Financing Inhibits Innovation to Improve PHC Performance in LMICs: Evidence and Strategies for Reform
Di sini disajikan rangkaian temuan lapangan dari Kenya, Pakistan, Indonesia, dan Filipina—empat negara desentralisasi yang telah mengadopsi skema universal health coverage. Semua studi yang dipaparkan merupakan bagian dari portofolio penelitian yang didukung oleh Thinkwell, lembaga yang selama beberapa tahun terakhir memetakan persoalan pembiayaan dan tata kelola pelayanan kesehatan primer (PHC) di negara‑negara berpendapatan menengah ke bawah.
Para presentan menekankan bahwa akar fragmentasi terletak pada banyaknya aliran dana yang masuk ke fasilitas PHC: anggaran pusat, provinsi atau county, dana pemerintah daerah, donasi lembaga internasional (World Bank, DANIDA, dan lain‑lain), skema asuransi publik, hingga pembayaran langsung pasien. Setiap sumber dana membawa seperangkat aturan administrasi, format laporan, serta prioritas program yang sering kali tidak selaras satu sama lain. Akibatnya, tenaga manajerial di Puskesmas, county health centers, atau barangay health units tersandera oleh persyaratan birokrasi, sehingga ruang untuk berinovasi—misalnya dalam rantai pasok, remunerasi tenaga kesehatan, atau perluasan layanan imunisasi—mengecil drastis.
Di Kenya, Thinkwell mendokumentasikan bagaimana insentif yang saling tumpang‑tindih—dari global budget capitation, anggaran primary care network (PCN), hingga dana kabupaten—menciptakan sinyal kontradiktif bagi fasilitas. PCN sendiri dipuji karena mampu mengonsolidasikan pengelolaan keuangan dan pemantauan kinerja di sub‑wilayah, tetapi efektivitasnya terhambat oleh ketiadaan landasan hukum yang jelas. Sementara itu, studi di Pakistan menyoroti model outsourcing ala People’s Primary Healthcare Initiative (PPHI), yang memberi otonomi luas pada fasilitas sekaligus menuntut transparansi tinggi. Peneliti Pakistan menegaskan bahwa keberhasilan model ini bertumpu pada “trust from the Ministry of Finance and upgraded managerial capacity”—dua prasyarat yang kerap diabaikan dalam replikasi antar daerah.
Indonesia dan Filipina menunjukkan wajah lain fragmentasi: integrasi JKN atau PhilHealth kadang dipromosikan sebagai solusi penggabungan sumber dana, namun realitasnya justru bisa menciptakan koridor pelaporan baru jika tidak disertai sinkronisasi dengan anggaran publik dan donor. Diskusi juga menyinggung fenomena “donor‑driven parallel reporting”, ironisnya kian diperkuat oleh tuntutan standar teknis organisasi internasional, termasuk WHO.
Sejumlah rekomendasi mengemuka. Pertama, memperkuat kerangka hukum dan mandat kelembagaan—seperti memberi status legal kepada PCN di Kenya—agar alur pendanaan dan akuntabilitas menjadi pasti. Kedua, menerapkan sistem public financial management (PFM) terintegrasi yang memungkinkan visibilitas serta pelacakan lintas‑sumber; pesan ringkas salah satu panelis, terngiang: “UHC tanpa PFM ibarat bangunan tanpa fondasi.” Ketiga, mengonsolidasi program vertikal dalam bentuk block grants berbasis kinerja guna memangkas duplikasi laporan. Keempat, memberikan otonomi bertahap kepada fasilitas, sembari membangun kapasitas pelaporan keuangan dan mengasah budaya transparansi. Terakhir—dan ini menjadi catatan kritis moderator—diperlukan konsensus lintas‑negara tentang indikator kinerja PHC; tanpa definisi yang disepakati, dampak reformasi akan sulit diukur dan dibandingkan.
Sesi Thinkwell, yang menghadirkan pembahas ibu Mazda Novi Mukhlisa dari Kemenkes RI dan Eduardo Banzon dari ADB ini menutup dengan pengingat kuat: desentralisasi dan UHC bukanlah jaminan jika tata kelola keuangan publik masih terpecah‑pecah. Integrasi pendanaan harus berjalan seiring pembenahan struktur insentif dan peningkatan kapasitas birokrasi, bila inovasi PHC ingin benar‑benar menembus hambatan sistemik di negara‑negara berpendapatan menengah ke bawah.
Reportase: LIkke P (PKMK UGM)
Long-Term Care: Challenges and Future Directions
Sesi ini membahas mengenai perlunya kesiapan negara-negara di Asia untuk menghadapi layanan Kesehatan bagi populasi yang semakin menua (ageing society) karena kecepatan pertumbuhan kelompok usia lanjut dan semakin panjangnya angka harapan hidup.
Pembicara pertama, Dr. Mundiharno, MSi, CSA, GRCP, GRCA (Direktur Kepatuhan dan Hubungan Antar Lembaga BPJS Kesehatan) menyoroti perlunya system jaminan Kesehatan menyiapkan Sistem Perawatan Jangka Panjang yang Berkelanjutan untuk Indonesia dari perspektif asuransi kesehatan sosial.
Beliau membahas opsi kebijakan untuk mengintegrasikan LTC ke dalam sistem kesehatan nasional, termasuk model pendanaan, desain manfaat, dan pengaturan penyedia. Berdasarkan pengalaman internasional dan tren demografis Indonesia, studi ini mengidentifikasi elemen kunci untuk sistem LTC yang adil, terjangkau, dan selaras dengan JKN. Fokus khusus diberikan pada mekanisme pembiayaan, kriteria kelayakan, dan model pemberian layanan yang memastikan keberlanjutan jangka panjang dan dukungan bagi populasi yang menua.
Pembicara selanjutnya, Prof Yukata Horie (Dekan School of Health Sciences, Fujita Health) menceritakan mengenai bagaimana system perlindungan untuk LTC telah dilakukan sejak tahun 1961 di Jepang. Namun beliau mengingatkan negara-negara lain bahwa yang perlu dilakukan adalah penyiapan dan dukungan untuk memperpanjang angka harapan hidup sehat (HALE), bukan hanya harapan hidup, sehingga desain perlindungan LTC jangan terlalu terfokus pada benefit package dan healthcare (layanan Ketika lansia telah sakit atau rehabilitasi dan perawatan jangka panjang setelah keluar dari rumahsakit), namun pada peningkatan kualitas hidup lansia (menghindarkan frailty), pemberdayaan, dukungan sosial, sehingga system long term care harus mencakup layanan berbasis komunitas. Di Jepang (dan di Thailand) dimulai dengan adanya “care manager” di tingkat komunitas.
Selaras dengan itu, WHO WPRO yang diwakili oleh Gao Chen (National Program Officer Health Financing, WHO Western Pasific Regional Office) memperkenalkan strategi WHO tentang LTC, perkembangan global, praktik terbaik, dan tantangan di Kawasan Pasifik Barat. Ada berbagai contoh negara dalam membangun sistem pembiayaan LTC yang terjangkau, adil dan berkelanjutan dalam konteks pertumbuhan kelompok usia lanjut yang cepat, meningkatnya permintaan untuk layanan LTC dan ruang fiskal yang terbatas. Pendekatan utama yang didorong oleh WHO adalah integrasi antara institution-based care dengan layanan berbasis komunitas/rumah.
Using Economic Policy Instruments to Improve Health
Kongres IHEA dibuka secara resmi pada Minggu, 20 Juli 2025. Dalam acara pembukaan, terdapat dua pembicara kunci. Pertama, Menteri Kesehatan RI, memberikan sambutan pembukaan, kemudian disusul oleh topik utama dari kongres kali ini yaitu Pemanfaatan Instrumen Ekonomi untuk Peningkatan Kesehatan.
Dalam sambutannya, Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, menyampaikan bahwa walaupun kepesertaan JKN telah mencapai 98%, namun kepesertaan ternyata tidak menjamin akses layanan, melainkan baru menjamin hak terhadap akses pelayanan. Buktinya, menurut laporan WHO terakhir, posisi Indonesia dalam Universal Health Coverage baru 50%. Menteri Kesehatan menyatakan bahwa hal ini disebabkan karena Universal Health Coverageseharusnya mencakup kemampuan menyediakan layanan Kesehatan berkualitas yang dibutuhkan oleh semua peserta pada waktunya.
Oleh karena itu, Kementerian Kesehatan mencanangkan transformasi Kesehatan, dan secara khusus berfokus pada pelayanan Primer melalui Integrasi Layanan Primer dan menambah kemampuan layanan primer untuk melakukan screening dan diagnostic melalui upaya melengkapi alat Kesehatan yang diperlukan (USG, X-ray, dll) di 10,000 Puskesmas dan 514 lab secara bertahap melalui dana pinjaman dari World Bank, ADB, dan IDB. Namun, menurut beliau, kemampuan layanan primer tidak hanya dimungkinkan oleh adanya peralatan yang dibutuhkan, melainkan lebih penting lagi untuk memastikan ketersediaan nakes kompeten yang dibutuhkan.
Hal ini juga berlaku untuk layanan rujukan. Menyadari bahwa untuk mengatasi penyakit-penyakit katastropik penyebab kematian tertinggi di Indonesia akan membutuhkan penyebaran tenaga spesialis secara lebih merata dan teknologi Kesehatan yang memadai (misal CABG, Cath lab, PET CT, dll). Menteri Kesehatan juga menyampaikan beberapa terobosan yang dilakukan untuk memastikan ketersediaan dan distribusi tenaga spesialis, termasuk spesialis pelayanan primer.
Sebagai penutup, Menteri Kesehatan juga menyampaikan bahwa penguatan pembiayaan Kesehatan merupakan prasyarat untuk transformasi Kesehatan yang dicanangkan ini. Tentu saja berbagai sumber pembiayaan harus diupayakan, baik optimalisasi sumber pembiayaan yang ada saat ini (komitmen belanja public, peningkatan porsi asuransi swasta, dan pembiayaan inovatif) mau pun memastikan keberlanjutan JKN.
Pembicara kunci dalam pembukaan kongres adalah Prof Anne Marie Thow dari University of Sydney yang menyampaikan bagaimana instrumen kebijakan fiskal memiliki potensi berdampak positif pada sektor kesehatan. Tantangan dan Peluang Penyakit Tidak Menular (PTM) terkait diet seperti diabetes dan obesitas merupakan beban kesehatan, ekonomi, dan sosial yang signifikan secara global, dan khususnya di kawasan Asia-Pasifik. Instrumen ekonomi merupakan komponen penting dari respons kebijakan yang direkomendasikan. Prof Thow berfokus pada kebijakan fiskal dan perdagangan yang dimaksudkan untuk mengatasi PTM terkait diet.
Tahun 2024, panduan WHO memberikan berbagai rekomendasi mengenai potensi pemanfaatan kebijakan fiskal untuk mendorong pola makan sehat. Rekomendasi ini termasuk kebijakan fiskal yang mencegah mengonsumsi makanan yang berkontribusi pada pola makan yang tidak sehat dan mendorong konsumsi makanan sehat melalui subsidi dan dukungan lainnya.
Hal ini dilatarbelakangi oleh lingkungan makanan saat ini di mana banyak orang tinggal, bekerja, dan menghabiskan kehidupan sehari-hari mereka terdiri dari makanan yang sangat diproses dan biasanya tinggi lemak, gula, dan natrium tidak sehat. Banyak dari makanan ini juga banyak dipasarkan dan relatif murah. Akibatnya, konsumen sering menghadapi kendala untuk membuat keputusan terkait makanan sehat. Pola makan yang tidak sehat sekarang menjadi risiko kesehatan masyarakat global, berkontribusi pada penyakit tidak menular (PTM) termasuk obesitas, diabetes, penyakit jantung, stroke, dan kanker.
Pedoman WHO ini mencerminkan bukti yang menunjukkan bahwa pajak pada makanan tidak sehat seperti minuman berpemanis (SSB) dapat menyebabkan turunnya permintaan dan konsumsi yang lebih rendah. Sebaliknya, subsidi untuk makanan (dan sumber makanan) yang tepat dapat berkontribusi pada pola makan sehat, seperti buah dan sayuran, membuat makanan ini lebih mudah diakses dan terjangkau. Menerapkan kebijakan fiskal ini adalah pendekatan yang menjanjikan untuk mendorong konsumen menuju pilihan makanan yang lebih baik, menjadikan pilihan yang lebih sehat menjadi pilihan yang lebih mudah.
Pemerintah memainkan peran utama dalam mengurangi beban PTM terkait diet, mengatasi kekurangan gizi dalam segala bentuknya, dan mempromosikan pola makan sehat. Semakin banyak negara telah mengambil langkah-langkah untuk menerapkan kebijakan fiskal yang mempromosikan pola makan sehat. Pada tahun 2024, terdapat 115 negara yang telah menerapkan pajak minuman berpemanis, dan 41 Negara lain juga telah menerapkan pajak pada berbagai kategori makanan tidak sehat. Namun, di sisi lain, lebih sedikit negara yang menerapkan subsidi untuk mendorong konsumsi makanan dan minuman yang lebih sehat atau mengambil langkah-langkah untuk menghapus pajak makanan sehat dan subsidi makanan tidak sehat. Prof Thow mendorong pemerintah di negara-negara Asia Pasifik khususnya untuk mengeksplorasi kemungkinan pemanfaatan kebijakan fiskal dan subsidi serta perdagangan, yang disertai komitmen politik untuk meningkatkan Kesehatan dengan memanfaatkan instrument-instrumen ekonomi tersebut. Prof Thow juga mendorong para peneliti ekonomi Kesehatan dan kebijakan Kesehatan untuk berkontribusi melalui penelitian-penelitian ekonomi Kesehatan untuk menyajikan bukti-bukti kuat yang akan mendukung kebijakan-kebijakan yang kondusif bagi Kesehatan Masyarakat. Namun, lebih penting lagi, perlu ada dekolonisasi pengetahuan, atau kesetaraan pengetahuan (Knowledge equity). Artinya, bukti-bukti harus tersedia bukan hanya dari negara-negara maju, melainkan juga harus muncul dari negara-negara berkembang atau negara-negara dalam konteks keterbatasan sumberdaya.
Economic evaluation of health and related care interventions
Evaluation of policy, programs and health system performance
Health beyond the health system
Health, its valuation, distribution and economic consequences
Supply and regulation of health services and products
Health care financing & expenditures
23 Juli 2025
Mental Health Economics at a Crossroads
Tackling Key Challenges in the Field
PKMK- Nusa Dua. Sesi Closing Plenary pada IHEA Congress tahun ini menjadi penutup yang sangat kuat, dengan sorotan tajam pada isu yang semakin mendesak: kesehatan mental. Dipandu oleh Claire de Oliveira dari Centre for Addiction and Mental Health, sesi ini menghadirkan tiga pakar terkemuka, Prof. Rowena Jacobs (University of York), Dr. David Johnston (Monash University), dan Dr. Eduardo P. Banzon (Asian Development Bank) yang menyoroti kesehatan mental dari sudut pandang ekonomi global dan lintas sektor.
Rowena Jacobs membuka diskusi dengan menyampaikan lima alasan utama mengapa kesehatan mental perlu menjadi perhatian para ekonom, Pihaknya menekankan bahwa prevalensi gangguan mental seperti psikosis, kecemasan dan depresi terutama di kalangan anak-anak dan remaja, meningkat drastis dalam beberapa dekade terakhir. Namun lebih dari itu, dampaknya sangat terasa di dunia kerja, meningkatkan ketidakhadiran, rendahnya produktivitas, hingga ketidakaktifan ekonomi di usia produktif.
Kerugian ekonomi akibat kesehatan mental bukan angka yang kecil. Di Inggris, misalnya, biaya yang ditanggung akibat pengangguran, layanan kesehatan, dan penurunan kualitas hidup mencapai angka miliaran. Hal yang lebih menyedihkan, harapan hidup penderita gangguan jiwa bisa 15-20% lebih rendah dibanding populasi umum. Rowena juga mengangkat isu stigma, yang menciptaan perbedaan perlakuan antara penyakit fisik dan mental. Hal ini tidak hanya menyebabkan diskriminasi, tetapi juga mempengaruhi investasi dan pemanfaatan sumber daya manusia. Terakhir, Rowena menyoroti bahwa layanan kesehatan jiwa umumnya dibiayai oleh pemerintah namun sering kekurangan anggaran, sementara penanganannya membutuhkan pendekatan lintas sektor dan multidisipliner.
David Johnston mengajak audiens untuk melihat kesehatan jiwa sebagai fenomena yang memiliki dinamika ekonomi tersendiri. Dengan mencontohkan kasus bencana alam di Australia, Ia menunjukkan bagaimana konteks sosial dan lingkungan dapat memicu lonjakan kasus gangguan mental. Dalam hal ini, peran ekonomi adalah merancang model yang mampu memetakkan jalur penyebab dan memperkirakan kebutuhan serta permintaan layanan kesehatan mental.
David juga menekankan pentingnya investasi sejak dini, terutama dalam program anak dan remaja. Menurutnya, intervensi yang efektif perlu diarahkan dengan jelas melalui kriteria yang spesifik agar tepat sasaran dan efisien dari sisi biaya dan hasil.
Mewakili perspektif Asia, Eduardo P Banzon menjelaskan bahwa meski isu kesehatan mental makin diakui, mayoritas negara di Asia belum memiliki data nasional yang akuat mengenai prvalensi maupun alokasi anggaran untuk kesehatan jiwa. “Kita tidak bisa memperbaiki sesuatu yang tidak kita ukur,” tegasnya. Eduardo P Banzon kemudian menyampaikan tiga poin kunci: pertama kebutuhan akand ata spesifik nasional; kedua, potensi telemedicine dan ruang aman digital sebagai alat intervensi; dan ketiga, perlunya perhatina khusus pada kesehatan mental remaja melalui program sekolah dan pendanaan dari skema global seperti Global Fund. Selanjutnya, pihaknya mendorong integrasi indikator kesehatan mental dalam SDG agar isu ini menjadi prioritas pembangunan global. Banzon juga mengajak berpikir lebih luas dan disruptif: intervensi terhadap kesehatan jiwa tidak harus datang dari sektor kesehatan saja, bisa melalui reformasi cara kerja, pendekatan sosial, atau teknologi.
Diskusi Panel: Kemana Arah Kebijakan?
Ketiganya sepakat bahwa sistem pelayanan kesehatan mental perlu dibangun dengan lebih cepat, inklusif, dan tepat sasaran. Rowena mempaparkan kerang kerja “8 element plumbing framework” yang mencakup berbagai faktor seperti sistem kesehatan, status ekonomi, pendidikan, lingkungan, dan kejadian mendadak. Sedangkan David menyoroti urgensi membangun sistem yang berfokus pada anak dan remaja dan Eduardo menekankan pentingnya distruptive thinking untuk mengubah cara kita melihat intervensi kesehatan mental.
Tantangan di Negara Berpedapatan Rendah dan Menengah (LMIC)
Dalam konteks LMIC, tantangan semakin kompleks. Eduardo mempertanyakan kesiapan negara-negara dalam menyediakan fasilitas dasar yang memadai sebagai fondasi layanan kesehatan jiwa. David menambahkan bahwa program berbasis komunitas dan intervensi usia dini harus menjasi prioritas. Rowena menekankan pentingnya investasi pada infrastruktur dan riset berbasis data untuk mendukung kebijakan yang lebih tepat sasaran dan berkelanjutan.
Asian Development Bank menyelenggarakan forum Inclusive, Sustainable, Prosperous dan Resilient (INSPIRE) Health Systems in Asia and the Pacific pada 7 – 11 Juli 2025 di kantor pusat ADB di Manila, Filipina. Berbagai sesi yang diikuti oleh tim FK-KMK UGM yang berada di Manila dapat diikuti melalui laporan dibawah:
Hari 1 7 Juli 2025
Hari 2 8 Juli 2025
Hari 3 9 Juli 2025
Hari 4 10 Juli 2025
Hari 5 11 Juli 2025
Catatan Akhir
Special Event
ADB Health Leadership Course (the Future Health Accelerator Course)
Foto para peserta pelatihan Kepemimpinan Batch 1 dengan pejabat-pejabat ADB dan para pelatih
Dr. Eduardo Banzon, Director, Health Practice Team ADB
ADB menekankan bahwa leadership perlu dilatihkan dan ditangani sejak masa muda. Dimulai dari orang-orang yang belajar, seperti saat Dr. Banzon sekolah di LSHTM dulu. Berbagai mahasiswa berkumpul dari berbagai benua dan menjadi peers. Kita harus mulai dari leadership yang cross sektor sejak di masa pendidikan.
Ms Ayako Inagaki, Senior Director, Human and Social Development ADB
Dalam pembukaannya, Ayako menyatakan bahwa bagaimana sistem kesehatan diharapkan dapat menjawab tantangan kebutuhan masyarakat yang mencakup demokratisasi, equity, partisipasi sampai menjadi sistem yang mampu mendorong human development.
Sistem kesehatan harus mempunyai ketahanan yang berasal dari orang-orang di dalamnya. Mereka harus dipimpin oleh pemimpin. Kursus Kepemimpinan ADB ini bertujuan menyiapkan generasi baru yang berdasarkan jaringan sesama pemimpin yang diharapkan menjadi paper. Jaringan ini harus bisa mendobrak silo-solo yang ada di sektor kesehatan, melalui knowledge sharing dan pelatihan kepemimpinan.
Mrs Leah Gutierraz, Director General ADB
Leah menyatakan bahwa kursus ini menyasar sekumpulan policy maker, technical specialist, innovator, hingga health leaders. ADB bertekad untuk memperkuat usaha menjawab tantangan-tantangan sistem kesehatan dengan berbagai prinsip, antara lain: melakukan perubahan, peer to peer learning, mempraktekkan adaptive leadership, hingga melahirkan kepemimpinan yang bersifat action.
Kepemimpinan yang ada sekarang akan membentuk wajah sistem kesehatan di masa depan. Hal ini harus dikerjakan secara bersama-sama antar pemimpin di berbagai sektor. Oleh karena itu pelatihan ini penting sekali. Pelatihan ini baru dibuka untuk Batch 1. Selamat berlatih.
Reporter: Prof. Laksono Trisnantoro (FK-KMK UGM)
Special Event
Connected Health Systems for Better Health Outcomes: Breaking Down Digital Health Silos
Narasumber:
Eduardo Banzon, Director SD3, HSD, ADB
Dilip Hensman, Koordinator, Health Information & Intelligence, WHO WPRO
Yoonee Jeong, Senior Digital Health Specialist, ADB
Alvin Marcelo, Penggagas AeHIN, COIL, SILab
Sesi dibuka oleh Dr. Eduardo Banzon yang menekankan pentingnya interoperabilitas dalam mendukung pertukaran informasi kesehatan untuk mencapai hasil kesehatan yang lebih baik.
Pembicara pertama, Mr. Dilip Hensman, menekankan mengapa standar dan interoperabilitas sangat penting. Dilip memulai dengan menjelaskan definisi interoperabilitas, yaitu kemampuan berbagai sistem informasi, perangkat, dan aplikasi untuk mengakses, bertukar, mengintegrasikan, dan menggunakan data secara kolaboratif dan terkoordinasi, baik di dalam maupun lintas batas organisasi, guna menyediakan informasi yang tepat waktu serta mendukung kesehatan individu dan populasi.
Interoperabilitas mencakup arsitektur pertukaran data kesehatan, antarmuka aplikasi, serta standar-standar yang memungkinkan data diakses dan dibagikan secara tepat dan aman di seluruh spektrum layanan, dalam berbagai pengaturan, serta dengan para pemangku kepentingan yang relevan, termasuk individu.
Dilip juga memaparkan berbagai tingkat interoperabilitas, mulai dari:
Interoperabilitas organisasi, yang mencakup tata kelola organisasi, kebijakan, aspek sosial, hukum, dan kelembagaan untuk memfasilitasi komunikasi serta penggunaan data yang aman, efisien, dan tepat waktu antar organisasi dan individu.
Interoperabilitas teknis, yang terdiri atas:
Interoperabilitas struktural terkait dengan format, sintaksis, dan organisasi pertukaran data.
Interoperabilitas semantik, yang menyediakan model dasar dan kodifikasi data termasuk penggunaan elemen data dengan definisi standar untuk memberikan pemahaman dan makna yang seragam kepada pengguna.
Selanjutnya, Dr. Alvin Marcelo memperkenalkan inisiatif Standards and Interoperability Lab- ASIA yang telah dikembangkan seiring pertumbuhan Asia eHealth Information Network (AeHIN). AeHIN mengusung kerangka kerja “Mind the GAPS and Fill the GAPS”, yang merupakan hasil pembelajaran dari berbagai pertemuan AeHIN selama beberapa tahun terakhir.
Kerangka ini membantu mengidentifikasi dan mengelompokkan isu-isu kompleks dalam sistem informasi kesehatan (Health Information Systems/HIS), sehingga negara-negara anggota dapat melaksanakan rencana eHealth mereka secara lebih efisien dan efektif.
AeHIN mendorong negara-negara untuk membangun struktur dan kerangka tata kelola yang jelas guna membimbing perancangan dan implementasi cetak biru (blueprint) eHealth. Tata kelola ini penting agar semua pemangku kepentingan memahami dan mematuhi cetak biru serta standar yang diperlukan demi tercapainya interoperabilitas.
Terkait dengan Standards and Interoperability Lab – Asia (SIL-Asia), Dr. Alvin menjelaskan bahwa SIL-Asia merupakan laboratorium interoperabilitas kesehatan yang menyediakan dukungan teknis dan pengembangan kapasitas bagi negara-negara dalam membangun sistem dan aplikasi layanan kesehatan yang interoperabel. Ini dilakukan melalui pemanfaatan kerangka kerja kesehatan digital dasar, standar internasional, dan teknologi terkini.
Reporter: Dr Lutfan Lazuardi (FK-KMK UGM)
Special Event
Mobilizing Private Sector Innovation: Strengthening Health Systems in Asia and the Pacific
Sesi paralel bertajuk “Mobilizing Private Sector Innovation: Strengthening Health Systems in Asia and the Pacific” menghadirkan pemangku kepentingan dari organisasi internasional, pemerintah, dan perusahaan swasta untuk berbagi strategi kolaborasi inovatif antara sektor publik dan swasta dalam memperkuat sistem kesehatan. Sesi ini dibuka dengan penegasan dari Dr. Eduardo Banzon, Direktur Kesehatan ADB, bahwa peran sektor swasta harus selaras dengan tujuan pemerintah dalam meningkatkan kesehatan masyarakat. “Sektor swasta perlu menyelaraskan perannya untuk membantu sektor publik mencapai tujuan kesehatan yang telah ditetapkan pemerintah,” ujarnya dalam sambutan pembuka. Pernyataan ini menjadi pengantar bagi rangkaian diskusi tentang kolaborasi inovatif publik-swasta dalam memperkuat sistem kesehatan di kawasan.
Agenda dibuka dengan paparan Asian Development Bank (ADB) mengenai pendekatan mereka dalam berkolaborasi dengan sektor swasta, seperti Korea Health Industry Development Institute (KHIDI) dan Japan International Cooperation Agency (JICA). Tiga strategi utama yang disampaikan adalah mobilisasi investasi swasta untuk memperkuat sistem kesehatan, pengembangan kemitraan publik-swasta yang efektif di bidang kesehatan, serta peningkatan keterlibatan sektor swasta untuk hasil kesehatan yang lebih baik.
World Health Organization (WHO) kemudian menjelaskan prioritas strategisnya serta peluang untuk memperluas peran sektor swasta dalam mendukung pelayanan kesehatan universal (universal health coverage/ UHC). Dari Korea Selatan, dipaparkan praktik kemitraan kesehatan cerdas berbasis uji coba lokal dengan dampak global, serta kebijakan transformasi digital dan peluang kerjasama dengan negara-negara ASEAN.
Sesi juga menampilkan inovasi teknologi kesehatan yang ditawarkan tiga perusahaan swasta Korea, seperti penggunaan VR untuk pelatihan prosedur medis oleh Surgical Mind, perangkat diagnostik inovatif dari Bodytech, hingga jejaring RS global yang dibangun oleh Health on Cloud. Diskusi panel interaktif menyoroti pentingnya kemitraan sektor publik-swasta dalam meningkatkan kualitas, efisiensi, dan ketahanan sistem kesehatan, terutama di negara berkembang.
Acara ini menegaskan bahwa inovasi sektor swasta, bila didukung kerangka kebijakan yang tepat, berperan kunci dalam pencapaian tujuan UHC yang berkelanjutan di kawasan Asia dan Pasifik.
Plenary Session
Universal Health Coverage: Sustaining National Health Insurance & Launch of UHC PEERS
Sesi diskusi ini berlangsung di Auditorium ADB HQ, Manila, menghadirkan para pemimpin dan pakar kesehatan dari berbagai negara untuk berbagi pengalaman dan strategi memperkuat jaminan kesehatan nasional. Masih dalam rangkaian ADB Inspire Health Forum, sesi ini menyoroti tantangan sistem kesehatan pasca-pandemi, praktik inovatif dari Asia-Pasifik hingga EMRO, serta peluncuran inisiatif UHC PEERS sebagai wadah pembelajaran kolektif demi mewujudkan cakupan kesehatan semesta yang lebih adil dan berkelanjutan.
Masato Kanda — President, Asian Development Bank
Era pasca-pandemi memperlihatkan kerentanan sistem kesehatan di seluruh dunia dan menjadikan Universal Health Coverage (UHC) lebih penting dari sebelumnya. Masato Kanda menegaskan pentingnya inisiasi UHC Peers sebagai komitmen untuk setiap negara terus belajar dari praktik terbaik dan tantangan implementasi UHC di Asia-Pasifik dan East Mediterranean Regional Office (EMRO).
Teodoro Herbosa — Secretary, Department of Health, Philippines
Sebagai salah satu contoh, Filipina memiliki rencana blueprint reformasi kesehatan 2023-2028 untuk memastikan sistem kesehatan yang lebih kuat, akses merata, dan layanan berbasis nilai. Ia memperkenalkan platform layanan inovatif seperti BUCAS untuk perawatan holistik berbasis tim multidisiplin di tingkat fasilitas kesehatan primer (Barangay).
Lena Nanushyan — First Deputy Minister of Health, Republic of Armenia
Armenia juga tengah bertransformasi menuju asuransi kesehatan publik wajib, kualitas layanan yang lebih baik, digitalisasi, dan penguatan SDM di daerah terpencil. Target mereka menaikkan anggaran belanja publik, agar memperkecil out-of-pocket payment, dan berfokus pada peningkatan pelayanan promotif preventif, seperti skrining penyakit, dan pelayanan penyakit kronis.
Soon man Kwon — Former Dean, Seoul National University, Republic of Korea
Soon Man Kwon menekankan pentingnya pembiayaan publik prabayar untuk menghapus hambatan finansial dan nonfinansial dalam akses pelayanan kesehatan bermutu. Ia menjelaskan bahwa negara dapat menghimpun berbagai sumber penerimaan publik untuk pembelian strategis pelayanan kesehatan, seperti iuran pegawai dan wirausaha (di Jepang, Korea, Taiwan), pajak khusus (di Ghana, Prancis, Korea), serta pendapatan umum (di Thailand, India, Pakistan, Kamboja). Namun, perlu komitmen subsidi pemerintah yang besar untuk memperluas cakupan pembiayaan publik ke sektor informal, mengingat tantangan administrasi, batasan definisi kelompok miskin dan informal, serta besarnya beban iuran sukarela yang menghambat kepesertaan.
Jyoti Yadav — Addl CEO, National Health Authority, India (AB-PM-JAY insurance)
Ayushman Bharat PM-JAY adalah skema jaminan kesehatan terbesar di dunia, mencakup perawatan sekunder dan tersier bagi lebih dari 120 juta keluarga dengan cakupan hingga Rs. 5 lakh per tahun, tanpa batas anggota keluarga, usia, atau gender, serta sepenuhnya cashless dan portabel. Skema ini fleksibel, memungkinkan tiap negara bagian menyesuaikan model implementasi, cakupan, dan paket layanan sesuai kebutuhan lokal, namun tetap menghadapi tantangan seperti isu privasi data, konektivitas internet, dan biaya administrasi di sektor informal.
Ali Ghufron Mukti — President Director, BPJS Kesehatan Indonesia
Indonesia mampu mencapai cakupan 98% populasi dalam 10 tahun melalui sistem tunggal BPJS yang terintegrasi secara nasional meski pemerintahan daerah terdesentralisasi. Inovasi digital dan advokasi komunitas terus dilakukan untuk memperluas kepesertaan dan meningkatkan layanan.
Edwin Mercado — President & CEO, PhilHealth
PhilHealth menargetkan penurunan pengeluaran langsung masyarakat hingga 25% melalui reformasi berbasis hukum yang jelas mencakup penggalangan dana, pooling, dan pembelian strategis. Tantangan besar tetap pada pencegahan fraud.
Eduardo Banzon — Director, SD1-HSD, ADB
Eduardo Banzon mengajak untuk belajar juga dari pengalaman UHC di EMRO yang erat kaitannya dengan keamanan kesehatan di tengah konflik. Ia menyoroti masih banyaknya masyarakat yang belum terlindungi layanan esensial dan tertekan secara finansial akibat biaya kesehatan.
Dr. Susan P. Mercado – WHO WPRO
Salah satu tantangan sistem kesehatan yang disampaikan oleh Dr. Susan yaitu kecepatan pembelajaran lembaga seringkali kalah cepat dibanding perubahan zaman, termasuk mengenai digitalisasi layanan kesehatan. Selain itu, beliau juga menekankan pentingnya inovasi dan kesiapan menghadapi perubahan iklim, populasi menua, serta komitmen seumur hidup untuk mencapai transformasi kesehatan.
Lian Yu-Chen — DDG, National Health Insurance Administration, Taipei, China
Terdapat dua elemen utama yang mempengaruhi keberhasilan transformasi kesehatan di Taipei, China, yaitu menekankan pentingnya infrastruktur digital yang kokoh dan integrasi rekam medis untuk menghindari pemborosan obat. Taipei, China, juga akan segera melakukan perluasan implementasi telemedisin dan e-resep untuk meningkatkan akses kesehatan di daerah pedesaan.
Breshna Arya — Senior Health Finance Specialist, The Global Fund
Dr. Arya menggarisbawahi peran Global Fund dalam memastikan UHC yang inklusif bagi semua, termasuk kelompok terpinggirkan yang masih menghadapi stigma dan diskriminasi. Ia juga menekankan pentingnya pendanaan untuk kader kesehatan masyarakat dan layanan NGO serta komitmen politik jangka panjang untuk warisan yang berkelanjutan.
Reporter: dr Ichlasul Amalia (FK-KMK UGM)
Sesi Paralel
Pengembangan Private Health Insurance sebagai langkah strategis untuk memajukan UHC
Sesi ini merupakan diskusi kerjasama antara ADB dengan ANHSS sebagai hasil pertemuan di Hongkong pada awal bulan Mei 2025. Ada beberapa pembicara sebagai berikut:
Prof EK Yeoh, Director Center for Health Systems and Policy Research, The Chinese University of Hongkong (CUHK)
Membahas mengenai “Review of the Role and Challenges of Private Health Insurance (PHI) in the Global Context”. Dalam paparannya disebutkan mengenai mengapa banyak negara membutuhkan PHI dengan berbagai alasan. Bahkan di Belanda dan Swiss merupakan kewajiban untuk ikut. Ada 3 peran: supplementary, complementary atau substitusi di berbagai negara. Di Asia Pacific, PHI perlu diteliti lebih mendalam untuk menjadi kebijakan publik yang baik untuk meningkatkan ketahanan Social Health Insurance. Oleh karena itu di Chinese University of Hongkong bekerja sama dengan ANHSS mengembangkan pengetahuan baru mengenai PHI melalui scoping review dan penelitian bersama di berbagai negara. Silahkan klik papernya.
April Wu dari The Chinese University of Hongkong (CUHK)
Menggambarkan PHI di Hongkong. Kebijakan pemerintah HK mendorong pengembangan PHI agar ada tambahan akses, peningkatan mutu, dan lebih banyak dana untuk kesehatan. Saat ini belanja kesehatan dari total GDP adalah sebesar 8.5%. Belanja pemerintah dari Total Belanja Kesehatan adalah 56%. Out of Pocket sebesar 27.3% dan PHI sebesar 15.5%. 42% warga HK mempunyai Askes Swasta. Ada 1.34 juta polis dengan 53% pemegang di bawah 40 tahun dan 33% di bawah 30 tahun.
Prof. Laksono Trisnantoro dari Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan di FK-KMK UGM
Menguraikan mengenai keadaan asuransi kesehatan swasta (PHI) di Indonesia. PHI dibutuhkan di Indonesia sebagai katup pengaman untuk SHI (Social Health Insurance, yang dikelola oleh BPJS) yang saat ini berada dalam tekanan. Akan tetapi kenyataanya sektor PHI di Indonesia masih buruk. Secara total di tahun 2023, perusahaan-perusahaan askes swasta mengalami kerugian. PHI memainkan peran yang sangat terbatas dalam sistem kesehatan Indonesia. Regulasi yang ada masih di dalam konteks asuransi jiwa, yang tidak sesuai untuk mengatasi risiko dan kebutuhan unik asuransi kesehatan. Infrastruktur juga tidak memadai untuk menangani tantangan seperti fraud. Banyak penyedia PHI beroperasi dengan kerugian, yang membuat perluasan menjadi sulit tanpa reformasi. Sebagai ringkasan PHI dapat melengkapi SHI jika dikembangkan dengan baik.
Prof. Siripen Supakankunti dari Chulalongkorn University Thailand
Memaparkan mengenai Pengalaman PHI di Thailand. Operasional PHI terutama di layanan kesehatan swasta yang melengkapi layanan publik. Layanan ini terutama di daerah perkotaan. Asuransi komersial swasta memasuki pasar Thailand hampir 100 tahun lalu. Penerimaan asuransi kesehatan swasta agak lambat. Asuransi kesehatan swasta diatur oleh Kantor Komisi Asuransi sejak 2007 (Departemen Asuransi, Kementerian Perdagangan hingga 2007).
Asuransi kesehatan swasta saat ini sebagian besar bersifat pelengkap. Ada berbagai pendorong penggunaan asuransi kesehatan swasta: Persepsi tentang kualitas dan ketepatan waktu layanan kesehatan yang dibiayai publik: Asuransi kesehatan swasta menawarkan pilihan rumah sakit swasta yang lebih luas. Masalah utama yang dihadapi adalah: penetrasi asuransi lebih rendah daripada rata-rata global, peningkatan kesadaran dan kepercayaan konsumen untuk mengurangi ketergantungan pada sistem publik (yang terlalu membebani), adanya tarif premi tinggi, penolakan perpanjangan, dan pembatasan cakupan khususnya untuk orang lanjut usia. Oleh karena itu Thailand sedang mengembangkan Balancing Act untuk menyeimbangkan pendanaan untuk UHC dan askes swasta.
Maria Elena Harrera, Professor (ret) Asian Institute of Management
Dari Filipina memaparkan mengenai PHI sebagai katalis untuk mencapai tujuan Sistem Kesehatan dan meningkatkan UHC. Disamping Philhealth yang mencakup 98% penduduk Filipina ada berbagai skema askes swasta. Perusahaan askes swasta beroperasi dengan 2 sasaran: (1) perusahaan dan SDMnya; (2) perorangan. Untuk perusahaan ada berbagai skema, antara lain HMO, comprehensif dengan credit line, dan berbagai mekanisme askes lainnya. Untuk individual model HMO, ada yang bersifat critical care, bersifat daily indemnity, guarantee cover dengan waktu tunggu. Ada berbagai isu yang dapat dipelajari: PHI yang bersifat supplemen dapat mengiris kekurangan dalam paket-paket UHC. Peranan sangat kontekstual dan spesifik untuk berbagai penyakit.
Selanjutnya ada pembahasan dari Thalia Georgiou, Managing Partner, Asiacare Group, konsultan manajemen asuransi kesehatan yang filenya dapat dicermati sebagai berikut:
Building Diagnostic Readiness for Future Pandemics
Salah satu sesi paralel pembuka forum di hari kedua, menyoroti pentingnya kesiapsiagaan sistem diagnostik dalam menghadapi persiapan pandemi di masa depan. Sesi ini juga menekankan bahwa keberhasilan deteksi, respon, dan penanggulangan wabah sangat bergantung pada ketersediaan diagnostik yang cepat, akurat, dan merata.
Prof. Rosanna Pelling dari London School of Hygiene & Tropical Medicine mengulas peran krusial diagnostik selama pandemi COVID-19. Diagnostik yang adekuat berperan penting dalam memperjelas definisi kasus, mendukung penelitian, memperkuat surveilans, dan memungkinkan uji klinis obat serta vaksin. Namun, pihaknya menyoroti tantangan besar dalam jalur akses diagnostik yang panjang dan terfragmentasi, serta proses regulasi yang memakan waktu bertahun-tahun.
Ketimpangan akses antar wilayah menjadi perhatian utama, khususnya bagi laboratorium kesehatan masyarakat yang membutuhkan alat diagnostik untuk respon cepat dan pengambilan kebijakan berbasis data. Rosanna juga menekankan pentingnya konektivitas sistem data, ketahanan sistem kesehatan, langkah pengendalian lintas batas, serta komunikasi yang efektif berbasis kepercayaan dan tata kelola kolaboratif.
Dr. Sarbjit Chadha menyoroti kesenjangan mencolok antara negara berpenghasilan tinggi dan rendah dalam akses serta kapasitas diagnostik. Sarbjit menyerukan aksi nyata dari pemerintah, ilmuwan, dan komunitas untuk menjembatani kesenjangan ini dan memperkuat sistem diagnostik global secara inklusif.
Shin Young-Soo dari WHO membahas program Pre-Qualification (PQ) WHO yang bertujuan memastikan kualitas diagnostik secara global. Ia juga menyoroti perlunya penyederhanaan lanskap regulasi agar inovasi diagnostik dapat lebih cepat tersedia di lapangan, khususnya di negara berkembang.
Sesi Paralel
Financing PHC and Community Health Workers (CHWs): Reaching the Unreached & Enhancing and Nurturing Resilient and Inclusive CHWs
Salah satu sesi paralel dalam forum ini, berjudul “Financing PHC and Community Health Workers (CHWs): Reaching the Unreached & Enhancing and Nurturing Resilient and Inclusive CHWs”, menyoroti peran krusial kader kesehatan sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan primer di komunitas. Namun di banyak negara, kader masih menghadapi tantangan serupa, yaitu jumlah yang belum mencukupi, beban kerja berlebih, dan insentif yang rendah. Dalam sesi ini, perwakilan dari pemerintah dan NGO berbagai negara berbagi praktik baik dan pendekatan inovatif untuk memastikan para kader mendapat dukungan yang layak, baik secara finansial maupun non-finansial, agar mereka dapat bekerja secara berkelanjutan dan bermartabat.
Dr. Vannarom dari Kementerian Kesehatan Kamboja menjelaskan kebijakan nasional yang menempatkan keterlibatan komunitas sebagai prioritas, termasuk mendorong kepemimpinan lokal dan menjawab kebutuhan kelompok rentan melalui program berbasis masyarakat.
Dr. Mar Wynn Bello dari Biro Kesehatan Masyarakat Filipina mengangkat isu kekurangan jumlah Barangay Health Workers (BHW), kader kesehatan di layanan primer (Barangay). Saat ini, hanya 19% yang sesuai standar rasio 1:20 rumah tangga. Beban kerja tinggi dan keterbatasan insentif menjadi hambatan utama. Namun, kebijakan baru yang telah disahkan presiden untuk memperluas pembiayaan dari pemerintah pusat hingga DPR, disertai peningkatan kesejahteraan, pelatihan rutin, serta dukungan perlengkapan standar dan pemahaman pengobatan tradisional.
Dr. Thesda dari Bhutan menjelaskan peran 780 relawan di lebih dari 500 pusat layanan primer dalam promosi dan rujukan kesehatan, terutama di wilayah pegunungan. Salah satu contohnya untuk mendukung cakupan imunisasi dasar lengkap pada anak-anak, terhalang tantangan geografis Bhutan yang mayoritas pegunungan, namun diatasi melalui program catch-up imunisasi dengan mengerahkan kader kesehatan ke wilayah tidak terjangkau untuk melakukan advokasi dan memastikan semua anak mendapatkan imunisasi yang diperlukan.
Afrika Muka Neto dari UNICEF Asia Selatan menegaskan bahwa setiap ibu dan anak harus memiliki akses layanan terintegrasi. UNICEF berkomitmen untuk mendukung pembiayaan berkelanjutan, advokasi kebijakan, dan pemantauan melalui kemitraan erat agar tak ada komunitas yang tertinggal.
Pada sesi diskusi panel, beberapa poin-poin penting juga disampaikan oleh panelis, diantaranya yaitu:
Neeraj Jain dari PATH menyebut tantangan umum berupa kekurangan tenaga, beban kerja tinggi, dan insentif rendah. Beberapa inovasi muncul, seperti pelatihan berkelanjutan dan pengakuan formal untuk kader-kader kesehatan di India, serta dukungan BRAC di Bangladesh.
Angela Chaudhuri dari Swasti menekankan bahwa kader bukan sekadar pelengkap, melainkan aktor kunci yang mampu menggerakkan komunitas. Investasi pada mereka harus dilihat dari dampak jangka panjang, bukan sekadar pengembalian biaya.
Manoj Jhalani dari WHO SEARO menutup dengan pesan bahwa kader kesehatan harus dilibatkan dalam perencanaan kebijakan, agar program dapat lebih dipercaya dan diimplementasikan secara efektif. Dukungan finansial maupun non-finansial, termasuk skema pensiun bagi para kader, juga perlu diintegrasikan dalam kebijakan kesehatan nasional.
Reporter: dr Ichlasul Amalia (FK-KMK UGM)
Sesi Pleno
Climate and Health Plenary
Sesi plenary ini membahas pentingnya isu global terkait dengan perubahan iklim dan kesehatan.
Terdapat Kerangka G20 untuk Iklim dan Kesehatan berfokus pada lima prinsip utama:
Memprioritaskan pembangunan yang tangguh terhadap perubahan iklim.
Mengembangkan sistem kesehatan yang rendah karbon dan berkelanjutan.
Melakukan dekarbonisasi rantai pasok sektor kesehatan.
Memobilisasi pembiayaan iklim.
Mendorong kolaborasi lintas sektor termasuk kesehatan hewan dalam pendekatan One Health.
Asian Development Bank (ADB) meluncurkan program unggulan Climate Health Initiative (CHI) serta membangun portal informasi sebagai sumber daya untuk mendukung aksi iklim dan kesehatan.
Dr. Soumya Swaminathan
(Mantan Peneliti Senior WHO) menekankan pentingnya Isu Iklim dan Kesehatan melalui Kepemimpinan Multilateral dan Penyesuaian Kebijakan Regional. Soumya menyampaikan bahwa dampak perubahan iklim terhadap kesehatan sangat luas seperti:
Gelombang panas ekstrem.
Ketahanan pangan terganggu.
Peningkatan penyakit tular vektor.
Polusi udara.
Kelangkaan air bersih.
Disrupsi sistem pelayanan kesehatan.
Data terkini terkait perubahan iklim dan dampaknya terdokumentasi dalam Laporan Lancet Countdown dan di kawasan Asia Pasifik, isu utamanya mencakup: Penyakit tular vektor (VBD), tekanan panas (heat stress) dan polusi udara.
Untuk merespon hal tersebut, beberapa solusi yang didorong seperti:
Menjadikan udara bersih sebagai aset.
Mendanai transisi menuju sistem ramah iklim.
Menetapkan target kualitas udara bersih sejalan dengan standar WHO dan memantau kemajuan bersama.
Bekerja bersama untuk solusi yang menguntungkan semua pihak.
Untuk itu, diperlukan komitmen di semua level — nasional, regional, dan global — untuk memastikan kesehatan menjadi prioritas dalam kebijakan iklim.
Di kawasan Asia Pasifik prioritas diberikan untuk:
Investasi dalam riset dan inovasi di bidang iklim dan kesehatan.
Memperkuat dan melembagakan kepemimpinan regional di isu ini.
Membangun institusi yang siap menghadapi tantangan masa depan iklim dan kesehatan.
Mr. Martin Edlund (CEO, Malaria No More)
Martin mempresentasikan terkait dengan inovasi untuk penyakit tular vektor. Beliau menyampaikan bahwa ada 4 miliar orang berada dalam risiko meningkatnya penyakit tular vektor dan hal ini diperparah oleh menurunnya dukungan donor dan ancaman pandemi. Perubahan iklim menambah kompleksitas tantangan ini. Solusi yang didorong adalah perlunya terobosan inovatif yang diperluas skalanya, tidak hanya terbatas pada tataran penelitian dan pengembangan saja.
Ada berbagai potensi solusi inovatif yang sudah dikembangkan dalam dan perlu diperluas skalanya untuk diimplementasikan secara luas di lapangan. Salah satu solusi inovatif adalah intervensi berbasis bakteri nyamuk yang diinfeksi wolbachia yang akan memblokir transmisi virus dengue. Setelah beberapa pilot proyek di Yogyakarta, Indonesia saat ini sedang memperluas cakupan intervensi ini dalam skala yang lebih luas ke daerah lainnya.
Sesi ini kemudian dilanjutkan dengan diskusi panel yang menghadirkan narasumber:
Mr. Syed Hussein Mujtaba (Climate and Health Expert, Pakistan)
Dr. Lucica Ditiu (Stop TB Partnership)
Mr. Robert Matiru (DIrector, Programme Division, Unitaid)
Dr. Ronald Law (Direktur Iklim dan Kesehatan, DOH Filipina)
Dr. Ricardo Baptista Leite (CEO Health AI)
Mr. Syed Hussein Mujtaba
Menyampaikan bahwa Pakistan sangat rentan terhadap perubahan iklim. Banjir besar pada 2022 menyebabkan 3 juta orang mengungsi dan kerugian lebih dari 30 miliar USD. Hal ini mengakibatkan peningkatan kejadian penyakit dan kematian, serta prevalensi stunting anak mencapai 44%. Mr. Hussein menyampaikan bahwa istilah-istilah seperti climate finance, blended finance, tidak cukup, tapi harus ditindaklanjuti dengan langkah nyata di lapangan.
Lucica Ditiu
Sementara Lucica menyampaikan bahwa sektor kesehatan belum menjadi prioritas. Kita perlu bersama-sama mendukung Kementerian Kesehatan untuk menjadikannya prioritas utama. Beliau menyampaikan bahwa dalam penanggulangan TB, inovasi sangat penting — mulai dari Rapid Molecular Test, Palm Health Test dengan swab, hingga X-ray.
Robert Matiru
Sementara Mr. Robert Matiru menekankan perlunya akses yang setara terhadap pelayanan kesehatan, termasuk dalam konteks perubahan iklim. Dalam merespon perubahan iklim, inovasi lintas sektor diperlukan — yang climate smart, tangguh, dan adaptif terhadap perubahan. Robert menekankan pentingnya memperhatikan beberapa hal yaitu:
Tidak hanya mengandalkan pembiayaan hibah.
Perlu diskusi vertikal dan aksi nyata di lapangan.
Teknologi yang tahan lama dan dekat dengan masyarakat sangat penting.
Ini adalah proses multisektoral: perlu sinergi antara bank, pemerintah, komunitas, dan sektor lain.
Dr. Ronald Law (DOH, Filipina)
Ronald menyampaikan bahwa Filipina dengan 7.600 pulau sangat rentan terhadap bencana alam seperti topan, letusan gunung berapi, dan gempa bumi. Bulan Juli ditetapkan sebagai bulan ketangguhan bencana nasional. Beberapa tindakan strategis yang dilakukan adalah Filipina adalah: Manajemen darurat kesehatan menjadi prioritas, termasuk dalam Universal Health Care Law, berpartisipasi di COP20 Dubai — untuk pertama kalinya ada Health Day di COP, mengembangkan sistem kesehatan yang tangguh terhadap iklim dan netral karbon, DOH telah memiliki kantor khusus dan roadmap terkait iklim dan kesehatan.
Dr. Ricardo Baptista Leite
Dr. Ricardo menyampaikan mengenai pentingnya mempromosikan kesehatan dan kesejahteraan melalui sains termasuk dengan kecerdasan buatan (AI). Saat ini hanya 70% target SDGs yang diperkirakan tercapai. Sehingga memerlukan aksi nyata dan inovasi. Kesepakatan tidak berguna tanpa implementasi nyata, terutama di tingkat lokal dan dengan dukungan sektor swasta. Meskipun ada “Paradoks AI dan Iklim” seperti AI berkontribusi terhadap beban iklim, misalnya AI membutuhkan konsumsi energi tinggi, termasuk pusat data (data center) yang menghabiskan jutaan galon air untuk mekanisme pendinginan (1,7 juta galon air per tahun untuk satu pusat data). Namun, AI juga membawa potensi positif:
Dari R&D hingga manajemen, AI digunakan untuk predictive analytics.
Dapat membantu mengidentifikasi potensi pandemi.
Membantu memastikan investasi tepat sasaran dan teknologi digunakan secara bertanggung jawab tanpa meninggalkan siapa pun.
Reporter: Dr Lutfan Lazuardi (FK-KMK UGM)
Sesi Pleno
Tapping the Demographic Dividend: Strengthening Early Childhood Development
Sesi ini menggarisbawahi bahwa investasi pada perkembangan anak usia dini (PAUD) merupakan strategi kunci untuk membentuk generasi sehat, produktif, dan tangguh sejak awal kehidupan. Dengan kerangka nurturing care yang mencakup kesehatan, gizi, stimulasi dini, dan perlindungan anak, pembicara dari berbagai lembaga menekankan perlunya pendekatan multisektor yang terintegrasi untuk menjangkau semua anak seawal mungkin.
dari kiri Gi Soon Song, Dr. Dinesh Arora, Scott Morris, Uma Mahadevan, Sumitra Mishra, Roopa Srinivasan, Anil Swarup
Gi Soon Song, Director of Human and Social Development, ADB membuka dengan data bahwa hanya 1 dari 5 anak di negara berpenghasilan rendah memiliki akses ke pendidikan prasekolah. Oleh karena itu, ADB kini mendorong transformasi dari pendekatan berbasis program menuju sistem terintegrasi yang menyatukan pelayanan gizi, kesehatan, pendidikan, dan perlindungan anak.
Paparan dilanjutkan oleh Dr. Dinesh Arora, Principal Health Specialist, ADB, yang menekankan konsep serve and return dalam stimulasi otak anak, dan menyebut bahwa investasi pada masa awal kehidupan memberi pengembalian tertinggi di masa depan.
Wakil Presiden ADB, Scott Morris, mengingatkan bahwa anak usia kurang dari 5 tahun sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim. Oleh karena itu, sistem PAUD perlu dirancang agar adaptif dan tahan terhadap krisis iklim.
Uma Mahadevan, perwakilan pemerintah daerah Karnataka, India, membagikan praktik baik dari Karnataka dalam menyediakan layanan penitipan anak bagi pekerja perempuan informal. Ia menekankan bahwa kurangnya layanan terstruktur menghambat partisipasi perempuan dalam pekerjaan berbayar.
Salah satu contoh baik peran sektor swasta di India, disampaikan oleh Sumitra Mishra, CEO Mobile Creche, dalam menyediakan layanan pengasuhan melalui kebijakan dan regulasi ketenagakerjaan. Implementasi inovasi yang dikembangkan mengadopsi model Care Diamond dan Nurturing Care Framework WHO.
Roopa Srinivasan menyampaikan bahwa keadilan sosial tak akan tercapai jika intervensi PAUD tidak ditingkatkan cakupannya, terutama bagi anak berkebutuhan khusus. Program Perkembangan Anak Usia Dini (ECD) dari Ummeed memberikan pelatihan dan pendampingan tentang cara mendukung tumbuh kembang anak usia 0–3 tahun melalui pendekatan berbasis bermain yang melibatkan pengasuh, menggunakan alat seperti Guide for Monitoring Child Development (GMCD), dengan metode lokakarya dan bimbingan berkelanjutan.
Anil Swarup menekankan peran ADB dan institusi lain yang mengembangkan program terkait anak usia dini, dalam memahami konteks lokal sebelum mereplikasi model di negara lain, dan memastikan keberlanjutan serta adaptasi kebijakan.
Foto dari kiri (2) Indu Bhushan; (3) Sofia Shakil; (4) Soumya; dan (5) Ana Maria Rodriguez
Indu Bhushan, board member Pehel Foundation, yang banyak bergerak dalam advokasi risiko paparan timbal (lead) pada anak yang berdampak jangka panjang, mulai dari gangguan kognitif hingga peningkatan risiko kriminalitas, sebagaimana dibuktikan melalui studi di AS. Salah satu solusi yang dapat dilakukan adalah meningkatkan awareness, edukasi remaja atau orang tua mengenai paparan timbal sebelum maupun saat hamil, adopsi dalam kurikulum sekolah, dan melibatkan lintas pemangku kebijakan untuk menyelesaikan permasalahan kesehatan yang berkaitan dengan perubahan iklim, termasuk paparan timbal dari lingkungan.
Sofia Shakil menekankan pentingnya membangun kemitraan strategis untuk memperluas cakupan intervensi yang terbukti berhasil, serta menyoroti dampak perubahan iklim dan migrasi terhadap akses layanan anak.
Soumya menyoroti perlunya integrasi intervensi sejak masa kehamilan dan penguatan kapasitas tenaga lapangan, disertai umpan balik data yang berguna dan tidak tersilo.
Ana Maria Rodriguez dari UNICEF menyampaikan beberapa saran teknis yang perlu dilaksanakan untuk memastikan keberhasilan program pendukung perkembangan anak usia dini, diantaranya perlunya kemauan politik, kebijakan lintas sektor, dan dukungan terhadap pengasuhan serta inovasi-inovasi dalam program PAUD.
Kirsten Hurley, Associate Professor dari Bloomberg School of Public Health, melengkapi perspektif pentingnya lingkungan yang mendukung perkembangan anak sejak dini melalui perspektif akademis dan peneliti. Beliau memaparkan hasil penelitiannya di India dengan penekanan bahwa intervensi harus dimulai sejak dini, fokus pada pengurangan risiko, dan memperkuat faktor protektif seperti gizi. Namun, tantangan selanjutnya adalah menerjemahkan hasil penelitian menjadi aksi di lapangan agar mencapai hasil yang diharapkan.
Sesi ini mempertegas bahwa penguatan PAUD adalah investasi strategis untuk memanfaatkan bonus demografi secara maksimal. Dibutuhkan kolaborasi multisektor, kebijakan terpadu, serta kemauan politik untuk menciptakan sistem pengasuhan yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan.
Reporter: dr Ichlasul Amalia (FK-KMK UGM)
Sesi Pleno
How Pandemic Response Drives UHC
Peter Sands, direktur dari the Global Fund membuka sesi plenary. Pesan kunci Peter bahwa kesiapan menghadapi pandemi merupakan salah satu contoh bagaimana investasi untuk kesehatan merupakan investasi terpenting yang bisa dilakukan oleh pemerintah, dan investasi yang didukung penuh oleh stakeholder. Hal ini mencakup tanggung jawab dan peran yang dapat diambil oleh institusi internasional mau pun negara-negara dengan sumber daya yang lebih. Jepang, contohnya, berkomitmen untuk membantu negara-negara di Asia dan Afrika untuk penyediaan perbekalan Kesehatan, seperti disampaikan oleh dr Yosuke Kita dari Kementerian Luar Negeri Jepang.
Sesi plenary menghadirkan pembicara dari Kementerian Kesehatan negara-negara di Pasifik, beberapa mitra pembangunan khususnya yg mendukung perbekalan kesehatan.
Fiji, salah satu negara kepulauan kecil di Pasifik, menghadapi tantangan dalam penyediaan oksigen selama pandemi COVID-19. Menteri Kesehatan Fiji menyatakan bahwa dukungan dari negara lain dan lembaga multi-negara membantu sistem kesehatan Fiji belajar untuk membangun resiliensi, khususnya bagi kantong-kantong populasi yang memiliki keterbatasan akses. Inovasi dan penerapan teknologi yang kontekstual (misalnya pemanfaatan panel surya) telah membantu Fiji untuk memastikan layanan kesehatan yang berkelanjutan. Serupa dengan pengalaman tersebut, Cook Island, negara kepulauan lain di Pasifik juga menyampaikan pengalamannya. Menteri Kesehatan Cook Island menyampaikan bahwa pandemi telah mengajarkan bahwa sistem kesehatan sangat rentan, tetapi juga membuka kesempatan untuk menyadari pentingnya perencanaan dan perawatan infrastruktur kesehatan, sistem transportasi dan logistik, serta penguatan SDM. Berikutnya wakil Menteri Kesehatan Armenia menyampaikan bahwa pandemi juga mengajarkan prioritisasi bagi pelayanan primer yang kuat dan pengembangan kemandirian obat dan perbekalan. Tahun ini, misalnya, Armenia menganggarkan peningkatan 40% untuk investasi research and development (R&D).
Dr Saima Wazed (Direktur Regional WHO SEARO) menggarisbawahi bahwa memiliki faskes saja tidak cukup. Sistem dan sumber daya harus dibangun. Selain itu, kolaborasi harus dibangun dengan mitra-mitra non pemerintah. Menyadari kerentanan saja tidak cukup, tetapi harus ada aksi mitigasi dan kemauan untuk menyingkirkan hambatan sistem.
Robert Matiru (Direktur Divisi Program, Unitaid) juga menyoroti dua hal (1) harus tersedia kolaborasi multi-finance yang menghasilkan proposal pembiayaan yang rasional dan koheren berbasis kebutuhan, (2) kemampuan untuk negosiasi dan berkolaborasi dengan sektor swasta. Unitaid memfasilitasi berdirinya Global Oxygen Alliance untuk memastikan keberlanjutan dari kolaborasi masa pandemi untuk ketersediaan oksigen, dengan cara (1) Crowd-Financing, (2) memastikan Capital Expenditure (capex) untuk market assurance dan hal-hal lain yang sering diabaikan, dan (3) membangun accountability matrix untuk investasi yang dihimpun.
Priya Basu, direktur Pandemic Fund dari Bank Dunia menyatakan dua prinsip utama untuk memperkuat kesiapan menghadapi pandemi: (1) itu harus menjadi inti dari membangun sistem kesehatan yang inklusif dan resilien: mampu menyediakan layanan di masa krisis mau pun tidak; (2) dukungan eksternal hanya bersifat komplemen terhadap komitmen dan sumberdaya domestic yang disediakan pemerintah.
Amanda McClelland (dari “Prevent Epidemics, Resolve in Save Live”, sebuah organisasi yang bermitra dengan pemerintah untuk membangun health security systems) juga menambahkan bahwa kesiapan pandemi tidak mungkin tercapai tanpa kemitraan dengan komunitas.
Reporter: Shita Dewi (PKMK UGM)
Sesi Paralel
Strategic Reforms on Health Financing: UHC Reforms on the Frontline
Penguatan sistem kesehatan khususnya dalam hal penyediaan jaminan kesehatan semesta merupakan salah satu tujuan dari sistem kesehatan. Tantangan utama dalam cakupan kesehatan semesta adalah ketidakcukupan dana, dan ini berusaha diatasi melalui (1) meningkatkan komitmen anggaran pemerintah dan mencari berbagai sumber pembiayaan publik untuk kesehatan, (2) meningkatkan pembayaran non publik, dan (3) efisiensi layanan. Sesi paralel kali ini membahas pengalaman dari 4 negara yang sangat berbeda konteks dan sumberdayanya, yaitu Indonesia, Mongolia, Vietnam dan Turki. Sesi ini dikhususkan untuk membahas bagaimana negara-negara ini melakukan upaya reformasi strategis untuk mencapai cakupan kesehatan semesta.
Indonesia
Dalam kesempatan ini, Prof. Ali Ghufron Mukti (Direktur Utama Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan/ BPJS-K) membahas upaya untuk mengejar kepersertaan dari sektor informal yang mampu. Inovasi yang dilakukan termasuk pemanfaatan berbagai platform pembayaran yg umum digunakan (sekitar 1 juta channel untuk pembayaran), mekanisme penyisiran berbasis komunitas dengan pemanfaatan kader JKN untuk edukasi mengenai kepersertaan dan kepatuhan pembayaran, pemanfaatan donasi/zakat, program rehab (cicilan), dan telekoleksi serta WA blasting.
Dalam hal strategic purchasing, BPJS-K menerapkan mekanisme Kerjasama (kontrak) dengan faskes public dan swasta, penjaminan mutu faskes (kredensialing) dan layanan (melalui kapitasi berbasis kinerja), pemanfaatan Health Technology Assessment (HTA) dalam penyusunan paket manfaat, dan sebagainya.
Vietnam
Sesi ini disampaikan oleh Dr. Vu Nu Anh, Deputy Director General Dari Health Insurance Department dari Kementerian Kesehatan Vietnam. Pada 2024, Vietnam menerbitkan UU Nomor 51 Tahun 2009 mengenai jaminan kesehatan, sebagai puncak dari upaya yang bermula dari berbagai mekanisme jaminan Kesehatan yang dimulai pada 1992. Saat ini, 12% dari revenue jaminan kesehatan Vietnam diharapkan berasal dari rumahtangga dan ini masih merupakan tantangan untuk pemenuhannya. Upaya yang dilakukan sejauh ini adalah meningkatkan subsidi pemerintah untuk kelompok miskin, penguatan primary care, serta efisiensi melalui pemanfaatan HTA, serta melakukan pilot sinergi antara cakupan jaminan kesehatan sosial dengan asuransi swasta.
Mongolia
Batbayar Ankhbayar, health financing specialist dari Kementerian Kesehatan Mongolia menyampaikan bahwa strategic purchasing menjadi strategi utama Mongolia untuk meningkatkan efisiensi dan mutu layanan di sektor kesehatan. Hal ini dilakukan dengan membuat system jaminan sosial single-pool pada 2021 (Health Insurance General Agency/HIGA sebagai purchaser utama) yang mencakup komponen selective contracting, pembayaran provider dengan prinsip outcome-based dan melakukan volume-based budgeting pada 2024.
Turki
Dalam kesempatan ini Ugursel Erol dari Lembaga Asuransi Sosial (Turki) membahas upaya penguatan tata kelola sebagai strategi utamanya. Salah satu contoh adalah (1) memastikan proses pengambilan keputusan yang melihatkan multi-stakeholder, misalnya keputusan mengenai reimbursement; (2) mekanisme alternatif untuk reimbursement yang transparan, dan juga direct supply yang berbasis pasien.
Dalam sesi diskusi yang dimoderatori oleh Piya Hanvoravongchai, para pembicara menambahkan pentingnya (1) sistem anti-fraud yang kuat, (2) reformasi regulasi, (3) mengubah persepsi ‘kesehatan adalah spending’ menjadi ‘kesehatan adalah investasi’ (baik persepsi pemerintah (Kementerian Keuangan) mau pun individu, serta (4) memastikan adanya learning health system untuk merespon tantangan sesuai konteks dan belajar dari pengalaman.
Reporter: Shita Dewi (PKMK UGM)
Sesi Parallel
Sustainable & Resilient Health Systems & Infrastructure: Thailand, Armenia & India
Sesi ini membahas tantangan umum serta berbagi contoh inovatif dari India, Armenia, dan Thailand dalam mengembangkan sistem dan infrastruktur kesehatan yang tangguh terhadap perubahan iklim. Resiliensi iklim didefinisikan sebagai kemampuan suatu sistem untuk merespons dan mengantisipasi bencana terkait iklim, dengan tetap menjaga keberlangsungan layanan. Ditekankan pula pentingnya mengaitkan dampak perubahan iklim terhadap kesehatan dengan respons yang menggunakan pendekatan health system building blocks, termasuk aspek Sumber Daya Manusia (SDM), Water, Sanitation and Hygiene (WASH), energi berkelanjutan, serta infrastruktur yang mendukung ketahanan terhadap iklim. Infrastruktur, teknologi, dan intervensi produk dibagi dalam tiga kategori utama:
Adaptasi sistem dan infrastruktur, termasuk pengembangan kebijakan dan regulasi.
Promosi teknologi baru yang mendukung ketangguhan terhadap iklim serta kelestarian lingkungan.
WHO juga telah menerbitkan Compendium of Health and Environment Interventions, yang menjadi repository global berisi sekitar 500 aksi/intervensi yang mendukung lingkungan yang lebih sehat dan sistem kesehatan yang lebih tangguh.
Mr. Angad Karandhe, Advisor, Government of Maharashtra, India Mr. Karandhe memaparkan upaya penguatan pelayanan kesehatan tersier dan pendidikan kedokteran di Maharashtra dalam menghadapi perubahan iklim. Dengan dukungan dari ADB, Maharashtra melakukan reformasi kebijakan yang semula hanya berfokus pada aspek infrastruktur, kini mencakup komponen lunak (soft components), seperti, pertama, pembentukan center of excellence untuk pendidikan kesehatan. Kedua, pengembangan kurikulum yang memasukkan isu perubahan iklim dan resiliensi iklim bagi mahasiswa dan tenaga pengajar di institusi pendidikan kedokteran. Ketiga pengenalan digital medical education sebagai pendekatan inovatif yang sekaligus memperkenalkan solusi digital dalam bidang kesehatan yang relevan untuk mengatasi tantangan iklim. Keempat, pembangunan infrastruktur kesehatan yang tangguh terhadap iklim, termasuk inisiatif green campus dan efisiensi energi.
Maria Hovakimyan, Deputy Director of the Health Project Implementation Unit, Ministry of Health, Armenia Dengan latar belakang sebagai ahli kebijakan kesehatan, Hovakimyan menjelaskan proses yang dijalani Armenia dalam membangun sistem kesehatan yang tangguh terhadap iklim. Kemudian, dukungan ADB mendorong Armenia mengambil sejumlah langkah diantaranya, pertama, melakukan pemetaan risiko kesehatan terkait perubahan iklim, seperti morbiditas dan mortalitas akibat gelombang panas (heat waves). Kedua, membangun infrastruktur dengan desain yang mendukung ketahanan iklim, seperti insulasi dinding yang memadai, sistem pencahayaan hemat energi, dan sistem daur ulang air. Ketiga, mengadopsi best practices yang sudah terbukti efektif untuk penguatan layanan primer (primary healthcare) yang tangguh terhadap iklim. Keepat, mengembangkan kurikulum pelayanan kesehatan primer yang menyertakan topik perubahan iklim. Kelima, membangun sistem peringatan dini (Early Warning System/EWS) untuk mengenali potensi masalah kesehatan, serta menyampaikan informasi secara proaktif kepada masyarakat agar mereka dapat lebih siap menghadapi dampaknya.
Dr. Wiwat Chatwangwan, Wakil Direktur Rumah Sakit Maharat Nakhon Ratchasima, Thailand Dr. Wiwat menyampaikan bahwa Thailand memiliki national policy framework yang memasukkan aspek ketangguhan (resilience) sebagai bagian integral dari sistem kesehatan. Salah satu inisiatif utamanya adalah pengembangan green hospital dengan tujuan: menjadi rumah sakit netral karbon dan menetapkan tolok ukur keberlanjutan (sustainability benchmark).
Beberapa langkah yang telah diambil termasuk pertama, inisiasi carbon footprint analysis untuk mengukur dan menurunkan emisi. Kedua, mendukung program “30 Baht Treatment Anywhere” yang memungkinkan akses layanan kesehatan di seluruh Thailand. Program ini didukung oleh aplikasi digital berbasis AI, yang mengurangi kebutuhan perjalanan pasien dan secara tidak langsung menurunkan emisi karbon. Ketiga, pemanfaatan teknologi seperti telemedicine, health wallet digital platform, serta health station (Care Kiosk) yang memperluas akses layanan kesehatan berbasis digital dan memperkuat sistem kesehatan yang adaptif terhadap perubahan iklim.
Reporter: dr. Lutfan Lazuardi (FK-KMK UGM)
Sesi Paralel
Behind the Deal: What Makes Healthcare PPPs Work (or Fail)?
Pada 1990-an, mayoritas RS di Inggris dibangun melalui skema Public Finance Initiative (PFI), dan banyak negara setelahnya mengadopsi model PFI ini, dimana sektor swasta membiayai, membangun dan merawat bangunan, fasilitas, teknologi dan infrastrukturnya; sementara layanan klinis disediakan oleh pihak pemerintah. Menariknya, di Asia Pasifik keberhasilan PPP sangat rendah (1%) sementara di regional lain lebih tinggi (misal: Amerika 20%, dan di Eropa rata-rata 18%).
Sesi ini berupa diskusi antara beberapa praktisi public private partnership (PPP) dan tantangannya. Pembicara termasuk Menteri Kesehatan Filipina, Wakil Menteri Uzbekistan, serta sektor swasta.
Persepsi umum pertama adalah bahwa PPP merupakan privatisasi dan bertentangan dengan prinsip penyediaan public goods oleh pemerintah, apalagi sektor swasta dianggap hanya beroerientasi pada profit sehingga akan membuat layanan kesehatan disediakan melalui kerangka PPP menjadi mahal.
Menteri Kesehatan Filipina menceritakan bahwa di Filipina, banyak infrastruktur (air, jalan, dan sebagainya) telah dibangun dengan kerangka PPP (difasilitasi oleh regulasi tentang BOT) dan berjalan baik, namun ketika dilakukan untuk sektor kesehatan, PPP dilabeli “privatisasi” dan muncul banyak tantangan. Proses PPP sejak inisiasi sampai terlaksana membutuhkan proses, waktu yang sangat Panjang, dinamika dukungan dan tantangan politik sangat turbulent, ditambah dengan ketika terjadi disrupsi perubahan dipemerintah. Lesson learned dari pengalaman Filipina menunjukkan bahwa selama proyek PPP masih dalam skala yang kecil (misalnya hanya unit pelayanan tertentu di RS e.g. robotic) atau terbatas (misalnya hanya faskes tingkat kota atau regional e.g. Makati Life Medical Center milik kota Makati), proses ini hanya membutuhkan persetujuan Kementerian Kesehatan di Filipina sehingga dapat diproses oleh unit PPP di Kementerian Kesehatan dan biasanya berakhir sukses. Menkes Filipina mengakui bahwa kekurangannya adalah proses PPP ini biasanya berlangsung tanpa adanya social marketing yang mengedukasi pemahaman lebih luas kepada masyarakat mengenai PPPs.
Persepsi umum lain adalah bahwa PPP dianggap ‘taktik’ pemerintah untuk by pass kebutuhan pendanaan besar. PPP dianggap mahal atau berbiaya tinggi. Oleh karena itu, bagi pemerintah, perlu penegasan tujuan dari pemerintah dalam keterlibatan swasta tersebut. Motivasi apa yang mendorong, masalah apa yang sebenarnya ingin dipecahkan melalui PPPs. Refleksi transparan mengenai hal ini akan membantu membentuk strategi dan model PPP yang tepat dan trustworthy. Sebagai contoh, PFI muncul di Inggris karena secara historis terlihat bahwa pembangunan infrastruktur di Inggis selama ini tidak efisien dan sering tidak tepat waktu. Sementara di Portugal, PPPs muncul karena tidak adanya tenaga kesehatan yang memadai di sektor publik untuk menyediakan layanan, sehingga PPP di Portugal mencakup kontrak untuk pembangunan infrastruktur dan dikombinasikan dengan kontrak untuk penyediaan layanan.
Dari perspektif pendanaan/investor/swasta, capital expenditure (capex per capex), memang investasi PPP berbiaya tinggi, namun bila dilihat dari lifecycle-nya maka sesungguhnya invetasi PPP cukup memberi value for money. Selain itu, disampaikan bahwa motivasi swasta tidak semata-mata tentang profit. Di Pakistan, misalnya, jejaring RS swasta yang bermitra dengan pemerintah melakukannya dalam kerangka layanan dan filantropi, nirlaba, dan berorientasi pada dampaknya bagi masyarakat. Kontrak dengan pemerintah diatur melalui serangkaian indikator(KPI) yang dipantau oleh pihak ketiga. KPI yang dipilih juga mencerminkan bagaimana prinsip kualitas layanan sangat dijunjung tinggi sehingga menumbuhkan kepercayaan (trust) dari masyarakat dan juga dari pemerintah.
Dalam sesi ini, para peserta diajak menyelami inisiatif Advance Warning Systems and Response (AWARE) dari Asian Development Bank (ADB), sebuah pendekatan inovatif yang menjembatani kesenjangan antara meningkatnya risiko kesehatan akibat perubahan iklim dan terbatasnya kapasitas sistem kesehatan untuk merespons. AWARE menghadirkan alat peringatan dini, data real-time, serta solusi yang berakar dari kebutuhan negara, dengan tujuan membangun sistem kesehatan yang lebih tangguh, adaptif, dan antisipatif di wilayah Asia-Pasifik.
Sesi yang dimoderatori oleh Angela Chaudhuri, CEO dari Swasti Health Catalyst ini, menghadirkan berbagai pembicara dari lintas sektor yang telah terlibat dalam perancangan dan implementasi AWARE di berbagai negara, mulai dari pengambil kebijakan, ahli teknologi, hingga pelaksana di lapangan.
Sesi dibuka oleh Dr. Dinesh Arora, Principal Health Specialist ADB, yang menjadi motor teknis di balik pengembangan AWARE. Dinesh memimpin pengintegrasian teknologi peringatan dini, data spasial, dan analitik prediktif untuk membantu pemerintah merespons risiko iklim secara lebih cepat dan tepat sasaran. Pembicara menekankan bahwa meskipun prediksi sangat membantu, tetap ada potensi ketidakpastian. Oleh karena itu, prioritas utama tetap pada pencegahan dan deteksi dini untuk meminimalkan dampak risiko kesehatan akibat perubahan iklim.
Materi panel disampaikan oleh Dr. Soumya Swaminathan, mantan Chief Scientist WHO, yang memberikan konteks global terhadap pentingnya sistem surveilans yang terstandar dan terintegrasi sehingga dapat dimanfaatkan saat menghadapi krisis kesehatan global. Banyak tools surveilans yang kini tersedia dan bisa digunakan, termasuk yang tidak kalah penting adalah social listening, memanfaatkan media sosial atau percakapan public sebagai sumber data tren kejadian penyakit, serta mengantisipasi misinformasi dan merancang strategi komunikasi risiko yang efektif.
Sesi AWARE turut menampilkan inisiatif konkret dari berbagai negara di Asia yang telah mengadopsi sistem peringatan dini berbasis data untuk memperkuat ketahanan kesehatan terhadap risiko perubahan iklim di India, Thailand, dan Filipina.
Dr. T.S. Selvavinayagam, Direktur Direktorat Kesehatan Masyarakat dan Pengobatan Pencegahan Tamil Nadu, India, memperkenalkan Scrub Typhus Advanced Warning System. Sistem ini menggunakan data iklim dari badan meteorologi, data spasial, dan laporan kasus rumah sakit untuk memperkirakan potensi wabah scrub typhus. Seluruh rumah sakit di wilayah tersebut diperingatkan sejak dini. Dengan dukungan analitik prediktif, sistem ini telah membantu menghubungkan pola cuaca dengan lonjakan penyakit, memungkinkan intervensi lebih cepat dan terarah.
Dr. Valerie Laloo, petugas surveilans penyakit di Meghalaya, India, mempresentasikan pengembangan sistem State One-Health Surveillance yang berfokus pada penyakit zoonotik. Inisiatif ini mengintegrasikan data dari rumah sakit, laboratorium manusia dan hewan, serta instansi meteorologi, dengan dukungan dari organisasi lokal. Tujuannya adalah membangun sistem peringatan dini yang mengurangi penyakit, kematian, dan dampak ekonomi—dengan pondasi tata kelola yang kuat sebagai penopangnya.
Gubernur Cielo Krisel Lagman-Luistro dari Tabaco City, Filipina, memberikan contoh nyata bagaimana pemerintah daerah menerapkan Community-based Monitoring System (CBMS) untuk memantau data kesehatan dan perubahan iklim di tingkat “barangay” (setara Puskesmas). Sistem ini mengagregasi data demografi, pendidikan, lapangan pekerjaan, dan kesehatan masyarakat melalui dashboard interaktif, yang memudahkan pemerintah kota dan pemangku kepentingan untuk mendeteksi anomali seperti lonjakan penyakit atau indikator kerentanan lainnya secara real-time.
Patipat Susumpao dari OpenDream Thailand, memaparkan pendekatan inovatif Community-Driven Participatory Surveillance, yang memberdayakan petani dan warga desa sebagai ‘detektif penyakit’. Melalui aplikasi mobile, mereka dapat melaporkan gejala penyakit hewan secara cepat, yang kemudian dianalisis dan ditindaklanjuti oleh petugas kesehatan dan dokter hewan. Dalam uji coba, deteksi wabah turun dari 24 jam menjadi 12 jam, dan waktu respons menjadi hanya 7–8 jam. Pendekatan ini tidak hanya menyelamatkan ternak, tetapi juga mencegah kerugian ekonomi jutaan dolar.
Biju Jacob, CTO dari Health Innovation Exchange (HIEx), bertanggung jawab atas pengembangan solusi digital dan arsitektur teknologi di balik AWARE. Ia mengembangkan sistem visualisasi data, pemantauan lingkungan, dan dashboard yang bisa digunakan pengambil kebijakan dalam waktu nyata.
Prof. Sir Gordon Duff, Presiden United in Diversity Foundation, berbagi wawasan tentang pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam membangun sistem kesehatan masa depan yang adaptif terhadap risiko iklim, dengan pendekatan inklusif dan berbasis solidaritas.
Ayako Inagaki, Direktur Senior Divisi Pengembangan Sosial dan Kemanusiaan ADB, menutup sesi ini dengan menjelaskan bagaimana ADB memperkuat sistem kesehatan di negara-negara berkembang melalui pendekatan responsif terhadap perubahan iklim. Ayako menekankan pentingnya penyediaan data yang akurat, sehingga pemangku kepentingan memiliki kepercayaan terhadap data, sehingga dapat memberikan respons yang lebih cepat dan Menyusun kebijakan berbasis data yang tepat, untuk membangun sistem kesehatan yang inklusif dan berkeadilan, khususnya untuk kelompok rentan.
Reporter: dr Ichlasul Amalia (FK-KMK UGM)
Sesi Pleno
How can pandemic preparedness and response make health systems more resilient?
Sesi plenary kali ini membahas beberapa pembelajaran dari era pandemi mengenai beberapa aspek yang perlu diperhatikan untuk memastikan ketahanan sistem kesehatan. Perspektif yang disoroti adalah pengalaman kemampuan negara untuk mengidentifikasi apa kelemahan utama dalam sistem kesehatan mereka yang kemudian direformasi. Sesi ini dimoderatori oleh Dr Nima Asgari (APO Health Systems and Policies).
Prof Dr Md Sayedur Rahman, Staf Khusus Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Keluarga, Bangladesh, mengingatkan bahwa sistem kesehatan harus dibangun bukan sekedar sebagai “respon” terhadap disrupsi, tetapi harus dibangun berakar dalam realita sosial and Masyarakat, menyasar berbagai determinan Kesehatan, karena hanya dengan cara itu system dapat resilient dan memiliki keberlanjutan.
Dr Gina Samaan, Direktur Regional Emergency, WHO WPRO menggarisbawahi apa yang bisa dilakukan sebagai suatu kawasan untuk menjaga health security.International health regulation (IHR) dan pandemic agreement adalah sebuah multilateral treaty yang menunjukkan bahwa pentingnya upaya multilateral untuk melengkapi kesiapan sistem kesehatan nasional menghadapi krisis Kesehatan. Sebagai contoh, upaya kawasan harus memperkuat sistem surveillance, forecasting dan modelling, R&D network, manufacture dan procurement, dan supply chain network.
Dr Battur Lkhagvaa, National Center for Public Health, Mongolia, merefleksi pengalaman pandemi yang menyingkapkan bahwa tata kelola sistem kesehatan untuk mendeteksi dan merespon krisis kesehatan seringkali terfragmentasi namun overlapped satu sama lain. Oleh karena itu, salah satu prioritas reformasi sistem kesehatan yang muncul dari pengalaman pandemi seharusnya adalah integrasi berbagai fungsi, institusi serta tata kelola yang membentuk ketahanan sistem kesehatan dalam konteks krisis kesehatan.
Berry Ropa, Health Security Program, PNG, menyampaikan bahwa kunci ketahanan sistem kesehatan adalah perencanaan yang bersifat proaktif, menggunakan pendekatan yang menyeluruh. Oleh karena itu, prioritas di PNG adalah pemanfaatan pendekatan OneHealth dalam pelatihan kepada SDM di berbagai sektor termasuk kader-kadernya, serta mendorong kolaborasi sipil-militer (konteks: kelompok militer biasanya adalah kelompok yang paling awal ditempatkan dalam situasi-situasi darurat dan krisis).
Prof Ren Minghui, Direktur Institute for Global Health, Peking University, mengingatkan tantangan yang harus segera diatasi untuk memperkuat kemampuan layanan primer sebagai garda terdepan ketahanan sistem kesehatan:
Defisiensi struktur gatekeeping, yang biasanya diperparah oleh (1) kelangkaan nakes khususnya dokter, (2) ketidaksiapan infrastruktur
Lemahnya integrasi di dalam sistem kesehatan versus fungsi kesmas yang biasanya diperburuk oleh (1) rendahnya remunerasi dan insentif untuk tenaga Kesehatan (nakes) dalam pelaksanaan fungsi kesmas dan (2) knowledge gap dalam menjalankan fungsi-fungsi kesehatan masyarakat (kesmas)
Kurang upaya keterlibatan dan pemberdayaan otoritas lokal dan tidak adanya mekanisme berbagi informasi
Dr Seung Sun Kim, Direktur Korea Disease Control Agency, menunjukkan bahwa digitalisasi merupakah kunci untuk mendeteksi dan merespon krisis secara real-time. Korea memanfaatkan big data yang dikumpulkan bukan hanya dari data faskes tetapi juga dari data jaminan sosial/asuransi, data sektor lain (non kesehatan), bahkan CCTV, dan menyusun OneHealth big data. Hal ini membuat mereka mampu membuat predictive analysis, AI untuk beberapa penyakit menular prioritas, misalnya AI untuk TB dan vector-borne diseases. Pesan kuncinya adalah memanfaatkan digitalisasi dan data lintas sektor.
Reporter: Shita Dewi (PKMK UGM)
Sesi Paralel
Indonesia’s Health System Transformation
Sesi ini menghadirkan diskusi mendalam tentang bagaimana pandemi COVID-19 menjadi katalis bagi Indonesia untuk mendorong reformasi sistem kesehatan secara menyeluruh. Sesi ini menghadirkan pemangku kepentingan kunci, mulai dari Kementerian Kesehatan Indonesia, BPJS Kesehatan, hingga Asian Development Bank (ADB).
Dalam sambutan pembuka, Scott Morris, Wakil Presiden ADB, menyoroti Indonesia sebagai negara yang menonjol dalam menghadapi krisis fiskal dan kesehatan. Morris menyebutkan bahwa Indonesia menunjukkan agenda transformasi yang berani melalui enam pilar reformasi sistem kesehatan, meskipun menghadapi tantangan geografis, sosial, dan ekonomi yang kompleks.
Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin menegaskan pentingnya enam pilar yang menjadi fondasi agenda Health System Transformation, yang dirancang pasca-pandemi untuk membentuk sistem kesehatan nasional yang lebih tangguh dan terintegrasi, meliputi transformasi layanan primer, layanan rujukan, ketahanan sistem, pembiayaan, sumber daya manusia, dan teknologi.
Budi menjelaskan bahwa pandemi COVID-19 bukan hanya menjadi ujian bagi sistem kesehatan Indonesia, melainkan juga peluang untuk melakukan reformasi besar-besaran. Pembicara memaparkan bahwa Kementerian Kesehatan Indonesia telah merevitalisasi lebih dari 10.000 Puskesmas dengan pendekatan layanan sepanjang siklus hidup (life-cycle approach), didukung digitalisasi sistem secara menyeluruh. Dukungan teknologi juga menjadi fokus utama, termasuk pemanfaatan konektivitas dari inisiatif Elon Musk untuk memperkuat layanan di daerah terpencil. Dalam hal infrastruktur, Kemenkes bekerjasama dengan ADB dan Bank Dunia untuk pengadaan alat-alat kesehatan esensial seperti USG, EKG, X-ray, hingga analyzer laboratorium di fasilitas layanan primer. Seluruh upaya ini bertujuan memastikan bahwa Puskesmas tidak hanya menjadi tempat pengobatan, melainkan juga pusat deteksi dini dan pencegahan penyakit.
Budi juga menyoroti reformasi di bidang pembiayaan dan SDM kesehatan. Pemerintah menggandakan alokasi anggaran untuk program promotif dan preventif, serta meningkatkan kontribusi BPJS Kesehatan untuk layanan primer. Dalam jangka panjang, Indonesia menargetkan setiap Puskesmas memiliki dokter layanan primer yang terlatih melalui program pascasarjana kedokteran keluarga. Selain itu, Kementerian Kesehatan saat ini tengah mendorong produksi dalam negeri untuk obat dan vaksin, serta merancang rilis kelompok risiko penyakit secara nasional tahun depan. Upaya ini diperkuat dengan sistem data kesehatan yang terintegrasi dan terstandar, termasuk kewajiban keamanan data yang kini diatur dalam undang-undang. Seluruh pendekatan ini menunjukkan strategi menyeluruh dalam membangun sistem kesehatan yang tangguh, efisien, dan siap menghadapi tantangan masa depan.
Pada sesi diskusi panel, para panelis menekankan pentingnya pendekatan sistemik dan lintas sektor dalam reformasi kesehatan:
Maria Endang Sumiwi, Dirjen Kesehatan Masyarakat, Kementerian Kesehatan Indonesia menyampaikan pentingnya pendekatan berbasis gaya hidup, bukan sekadar berbasis penyakit, untuk mengurangi potensi adanya data silo di sistem kesehatan layanan primer. Endang juga menyinggung inisiatif kebijakan baru “Birthday Checkup”, layanan medical check-up gratis tahunan bagi masyarakat.
Murti Utami, Plt. Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kementerian Kesehatan Indonesia menyoroti dua fokus penyakit prioritas: tuberkulosis, kanker dan beberapa rencana layanan kesehatan yang terfokus.
Prof Ali Ghufron Mukti, Direktur Utama BPJS Kesehatan Indonesia, menggarisbawahi upaya memperkuat pembiayaan komunitas, termasuk integrasi dengan sumber seperti zakat, serta perubahan sudut pandang Kementerian Keuangan bahwa kesehatan bukan lagi sekadar pengeluaran, tetapi investasi.
Closing remarks disampaikan oleh Eduardo Banzon dari ADB mengenai bagaimana Indonesia mengubah krisis menjadi peluang. Eduardo menegaskan perlunya keluar dari kerja sektoral yang terkotak-kotak, transformasi sistem kesehatan dapat terlaksana dengan berhenti bekerja secara silo dan mulai bertransformasi secara sistemik.
Reporter: dr. Ichlasul Amalia (FK-KMK UGM)
Sesi Parallel
Investasi di Kesehatan Mental
Sesi ini berupa diskusi dari WHO dengan para praktisi tentang pertanyaan-pertanyaan kunci dan aspek-aspek penting, yaitu:
Pelayanan kesehatan mental yang terintegrasi dan equitable
Pelayanan kesehatan mental harus beradaptasi sesuai dengan konteks, misalnya pandemi, perubahan iklim dan perubahan demografi
Pendekatan yang digunakan untuk mengatasi batasan-batasan, misalnya pelayanan yang harus tersedia melalui berbagai kanal (bahkan sampai ke level individu), di tingkat primer, dan sebagainya
Integrasi pelayanan kesehatan mental dalam layanan cakupan Kesehatan semesta
Peningkatan investasi dan anggaran untuk kesehatan mental
Mendorong advokasi kebijakan yang lebih inklusif
Didiskusikan pula pendekatan yang mungkin perlu dilakukan, yaitu melibatkan para penyintas dan/atau keluarga, khususnya dalam mendapatkan informasi yang diperlukan untuk merancang pelayanan yang sensitif, berorientasi pada kebutuhan mereka, sehingga sistem layanan dapat didisain untuk mengakomodasi kebutuhan tersebut.
Hal penting lain yang disinggung adalah isu pembiayaannya. Dalam diskusi mengenai penguatan sistem kesehatan untuk mencapai cakupan kesehatan semesta biasanya tidak menyentuh bagaimana cakupan untuk layanan tentang kesehatan mental. Hal ini terutama karena kelompok ini adalah kelompok yang tidak terlihat (kecuali dalam situasi Dimana kondisi pasien sudah sampai pada ODGJ atau harus menjalani rawat inap), padahal ada banyak stigma di seputar gangguan mental yang lain sehingga kebanyakan orang tidak mengakui, atau tidak didiagnosis sebagai gangguan mental. Tantangan besar lain dalam investasi kesehatan mental adalah bagaimana menghitung biaya untuk preventif promotifnya, serta menghitung ‘manfaat’ yang dihasilkan, misalnya menghindari eskalasi hingga muncul kebutuhan untuk rawat inap.
Reporter: Shita Dewi (PKMK UGM)
Sesi Parallel
Mengatasi Tantangan Obesitas
Sesi ini membahas tiga hal penting:
Topik pertama adalah obesitas merupakan krisis kesehatan global
Data Global Burden of Disease menunjukkan bahwa tren kenaikan obesitas di Asia merupakan yang tercepat di seluruh dunia, walaupun dari prevalensinya yang tertinggi adalah negara-negara Oseania (Australia, Fiji, Kiribati, Kepulauan Marshall, Federasi Mikronesia, Nauru, Selandia Baru, Palau, Papua Nugini, Samoa, Kepulauan Solomon, Tonga, Tuvalu, Vanuatu).
Data juga menunjukkan bahwa di Asia proporsi obesitas akan melampaui proporsi overweight, baik di kelompok anak mau pun kelompok usia. Hal ini mengindikasikan kegagalan preventif promotif kita. Hal ini diperparah oleh perubahan pola makan yang terpusat pada minuman berpemanis (SSB) dan calorie-densed serta kurangnya aktivitas fisik
Data juga menunjukkan bahwa kelompok yang lebih rentan terhadap obesitas adalah kelompok pendapatan rendah.
Topik kedua yang dibahas adalah mengenai biaya. Biaya kesehatan sebagai dampak dari obesitas meningkat 15% dalam dua decade terakhir. Di Asia Pasifik biayanya mencapai 0.78% GDP (data tahun 2013), di negara-negara SEARO mencapai 1,19% GDP dan di negara-negara WPRO 1.58% GDP (data tahun 2019).
Topik ketiga yang dibahas adalah terdapat begitu banyak pendekatan best-buy yang bisa dilakukan terkait obesitas, dan terdiri dari mayoritas pendekatan preventif promotif (termasuk aktivitas fisik dan pola makan sehat) atau pun kebijakan fiskal (misal cukai untuk SSB). Filipina menunjukkan pasca penetapan cukai SSB, terjadi penurunan konsumsi sebesar 8.7%. Pilihan kebijakan lain yang masih dapat dieksplor adalah kebijakan food system, memastikan pula bahwa pilihan sumber makanan yang sehat (sayur buah) lebih murah dan lebih mudah diakses daripada makanan cepat saji. Salah satu godaan terbesar untuk menggunakan pendekatan medis dan klinis terhadap obesitas (misalnya operasi atau penggunaan Ozempic) adalah karena tersedia data yang menunjukkan bagaimana dampak langsungnya. Sebaliknya, pendekatan-pendekatan preventif promotif biasanya sulit dibuktikan efektivitasnya dan dampaknya karena banyak dipengaruhi oleh hal-hal lain.
Untuk memastikan negara-negara mampu mengimplementasikan best-buy yang direkomendasikan oleh panduan WHO, WHO juga menyarankan pendekatan yang berbasis roadmap yang melibatkan multisektor. Namun, diakui bahwa dua tantangan terbesar adalah (a) perubahan perilaku, dan (b) pengumpulan serta pemantauan data.
Reporter: Shita Dewi (PKMK UGM)
Sesi Parallel
Strengthened Regional Vaccine Manufacturing and Regulation
Sesi ini membahas bagaimana pandemi COVID-19 mengungkap ketimpangan akses vaksin secara global dan pentingnya kapasitas manufaktur serta regulasi vaksin di tingkat regional. Asian Development Bank (ADB) menanggapi tantangan ini dengan pendekatan multisektor, termasuk dukungan terhadap biomanufaktur domestik, pengadaan bersama di tingkat regional, konvergensi regulasi, dan penguatan kapasitas otoritas regulatori nasional (National Regulatory Authorities/NRA).
Kunci Strategi ADB dalam Mendorong Ketahanan Kesehatan Regional
Dinesh Arora (Principal Health Specialist, ADB) membuka sesi dengan menyoroti tantangan dalam vaksinasi tidak hanya dari sisi suplai tetapi juga dari sisi permintaan. Adanya vaccine hesitancy (keraguan untuk vaksin) di beberapa negara, bukan hanya masalah kepercayaan, tapi juga terkait dengan hambatan informasi mengenai produk hingga literasi digital masyarakat yang tidak sejalan dengan sistem digital vaksinasi yang berkembang pesat.
Perspektif Mitra dan Praktisi Regional
Hani Kim (CEO, Right Foundation) menyampaikan bahwa keadilan akses harus dibangun dari hulu. “Jika ingin kecepatan, kita perlu berinvestasi pada jaringan produksi regional yang berlapis,” ujarnya. Ia juga mendorong agar produksi dan distribusi vaksin dipimpin oleh pemerintah, dengan penguatan data kependudukan dan perencanaan pra-produksi, terutama bagi komunitas marjinal.
Syed Ahmed (CEO, Techinvention) menggarisbawahi pentingnya melihat vaksin dari dua sisi: manusia dan hewan. Ia juga menekankan perlunya pendekatan berkelanjutan terhadap lingkungan dan sistem pengadaan yang tepat. “Kita juga harus mempertimbangkan cost-effectiveness dari jumlah dosis dan rute pemberian vaksin,” katanya.
Muhammad Salman (CEO, National Institute of Health, Pakistan) menyampaikan pengalaman negaranya dalam membangun kapasitas produksi dalam negeri sebagai respons terhadap pandemi, yang dapat menjadi contoh bagi negara berkembang lainnya.
Dr. Matthias Helble dari WHO menjelaskan bahwa investasi pada riset dan pengembangan dalam vaksin sangat berisiko dan butuh waktu panjang, sehingga kolaborasi regional dan regulasi yang harmonis menjadi semakin krusial.
Dr. Kavita Singh (DNDi) menekankan pendekatan pragmatis: mulai dari inisiatif yang sudah berjalan, memastikan relevansi teknologi dengan kebutuhan lokal, dan membangun platform riset regional berbasis prinsip open science.
Dr. Sarabjeet Chaddha (FIND) menyoroti potensi transformasi digital, termasuk pemanfaatan AI untuk memprediksi permintaan vaksin. Teknologi ini menurutnya menjadi alat penting dalam mengoptimalkan distribusi.
Sofia Shakil (Director, ADB) menutup sesi dengan menekankan pentingnya sistem kesehatan yang well-governed dan dapat diakses secara luas. Sofia menyebut bahwa penyakit tidak mengenal batas negara, sehingga kolaborasi lintas wilayah sangat penting. Menurutnya, investasi ADB diarahkan untuk memastikan ketersediaan vaksin yang adil, terjangkau, dan tepat waktu.
Sesi ini menegaskan bahwa produksi vaksin regional bukan hanya soal teknologi dan investasi, tetapi juga soal tata kelola, keadilan akses, dan kolaborasi lintas sektor. ADB dan para mitra menekankan bahwa infrastruktur regulasi yang kuat, sistem pengadaan yang efisien, serta integrasi teknologi dan data merupakan fondasi penting dalam membangun ketahanan kesehatan jangka panjang.
“If the next pandemic hits tomorrow, our success will depend on how well we’ve prepared regionally—through production, regulation, and trust”
Sesi ini menyoroti bagaimana perubahan iklim memperburuk beban penyakit menular di Asia dan Pasifik, serta bagaimana inisiatif baru “Ending Complex and Challenging Infectious and Tropical Diseases (ExCITD)” yang dipimpin oleh ADB bertujuan mempercepat eliminasi penyakit seperti malaria, TB, dan dengue melalui pendekatan sistemik dan kemitraan regional.
Tantangan dan Respons di Tengah Perubahan Iklim
Ayako Inagaki (Senior Director, ADB) membuka sesi dengan menekankan bahwa iklim yang berubah cepat menjadi pengganda risiko (force multiplier) bagi penyakit tropis. Kombinasi suhu tinggi, hujan ekstrem, dan urbanisasi yang tidak terencana telah memicu lonjakan kasus dengue, leptospirosis, TB, dan malaria. ExCITD dibentuk sebagai platform unggulan ADB untuk mendorong pembiayaan, inovasi, dan kemitraan lintas negara dalam merespons krisis ini.
Hon. Teodoro Herbosa (Menteri Kesehatan Filipina) menegaskan perlunya pendekatan regional dalam menanggulangi penyakit lintas batas seperti TB dan malaria. Ia menekankan pentingnya kesiapan sistem kesehatan dalam menghadapi penyakit akibat perubahan iklim yang tidak bisa diprediksi.
Dr. Soumya Swaminathan (mantan Chief Scientist WHO) menyoroti bahwa penyebab mendasar TB adalah malnutrisi. Ia mendorong adopsi inovasi seperti tongue swab untuk diagnosis TB, yang dikembangkan di India dan China. “Kita melihat potensi besar dari teknologi ini, meskipun sensitivitasnya masih perlu ditingkatkan,” ujarnya. Ia juga mencatat pentingnya pengembangan rejimen pengobatan TB baru yang lebih pendek dan efektif.
Urvashi B. Singh (Tuberculosis Program, India) dan Lucica Ditiu (Stop TB Partnership) menekankan pentingnya sistem surveilans yang kuat dan keterlibatan komunitas dalam mendeteksi dan menanggapi wabah sejak dini.
Nasiruddin M. A. Mirza (Pakistan) memaparkan kondisi negaranya yang masih bergulat dengan malaria dan TB, serta rekor kematian tertinggi akibat dengue pada 2023. Nasiruddin menyebutkan bahwa pertumbuhan kota yang tak terkendali dan sistem pengendalian vektor yang lemah turut memperburuk situasi. Sementara cakupan DOTS untuk TB meningkat, data masih terfragmentasi.
Dalam konteks pendanaan, Deepali Khanna (Rockefeller Foundation) dan Dinesh Arora (ADB) menggarisbawahi pentingnya blended finance untuk men-scale up inovasi di tengah menurunnya kontribusi donor tradisional. “Climate finance telah meningkat dua kali lipat dalam tiga tahun terakhir, namun kita tetap butuh hampir empat kali lipat untuk mencapai target 2030,” jelas Khanna.
Xavier Chan (APLMA) berbagi pengalaman selama satu dekade dalam upaya eliminasi malaria, terutama di wilayah seperti Papua dan Papua Nugini. Ia menekankan bahwa eliminasi mungkin dicapai bila negara bekerja secara regional dan menerapkan agenda eliminasi multidisease secara terpadu.
Jaya Singh Verma (FCDO) menyampaikan bahwa integrasi agenda iklim dan kesehatan sudah semakin mendesak. Negara tidak bisa bekerja sendiri. Kemitraan lintas sektor dan pendekatan lintas negara menjadi kunci.
Sesi ini ditutup dengan ajakan dari Dinesh Arora agar seluruh pemangku kepentingan berhenti bekerja dalam silo. “Kita punya alat, kita punya teknologi, yang kita butuhkan adalah advokasi dan pendekatan sistem kesehatan yang utuh. Mari kita bekerja sebagai satu tim,” tegasnya.
Reporter: dr Ichlasul Amalia (FK-KMK UGM)
Special Event
Symposium on Multilateral Financing: Pandemic Preparedness and Response
Opening remark: Dr. Scott Morris, Vice President ADB
Dalam pidatonya, Dr. Scott Morris, Vice President dari Asian Development Bank, menegaskan pentingnya penguatan sistem kesehatan (Health System Strengthening/HSS) sebagai landasan utama untuk menghadapi ancaman pandemi di masa depan. Morris menekankan bahwa investasi yang berkelanjutan dalam aspek-aspek kritis seperti logistik vaksin, sistem cold chain, serta digitalisasi layanan kesehatan, menjadi sangat penting agar sistem kesehatan kita tidak hanya mampu merespons krisis, tetapi juga mampu mengantisipasi ancaman yang akan terjadi di masa mendatang.
Lebih lanjut, Morris menyampaikan bahwa untuk benar-benar siap menghadapi pandemi berikutnya, kita tidak boleh berhenti pada apa yang telah dibangun. Inovasi harus terus dilanjutkan, dan surveilans penyakit harus bersifat lintas batas negara, karena patogen tidak mengenal perbatasan administratif. Di samping itu, pembiayaan yang inklusif dan memadai adalah kunci; jangan sampai ada negara, khususnya negara berpenghasilan rendah, yang tertinggal dalam kesiapsiagaan maupun respons pandemi.
Dalam konteks ini, kolaborasi menjadi elemen yang tidak bisa diabaikan. Pembicara mengajak seluruh pihak — pemerintah, mitra pembangunan, masyarakat sipil, dan sektor swasta — untuk bekerja bersama dalam aksi nyata yang berbasis pada bukti ilmiah dan dipicu oleh inovasi. Kolaborasi lintas sektor bukan hanya ideal, tetapi mutlak dibutuhkan agar sistem kesehatan global menjadi lebih tangguh dan adil.
Keynote: Dr. Soumya Swaminathan, Former Senior Researcher WHO
Dr. Soumya Swaminathan menyoroti bahwa kesiapsiagaan terhadap pandemi tidak bisa hanya bersifat reaktif. Kita perlu secara berkala melakukan evaluasi situasi di tingkat nasional, regional, dan global, untuk memahami pelajaran apa yang bisa diambil dan langkah apa yang harus diperbaiki ke depan. Dunia, menurutnya, tengah dihadapkan pada berbagai ancaman global — tidak hanya dari penyakit menular yang dapat bermutasi, tetapi juga dari faktor-faktor lain seperti konflik, polusi, hingga ancaman teknologi seperti keamanan siber.
Soumya juga menyoroti ketimpangan yang masih nyata dalam respons pandemi. Misalnya, pada Juli 2021, sebagian besar negara maju sudah berhasil memvaksinasi sebagian besar penduduknya, namun di negara berpenghasilan rendah, capaian vaksinasi bahkan belum mencapai 40%. Hal ini menunjukkan bahwa akses terhadap vaksin dan alat kesehatan lainnya masih belum merata, dan diperlukan mekanisme pengadaan serta distribusi yang lebih adil di tingkat regional dan global.
Pembicara menyampaikan 7 pilar dalam Kesepakatan Pandemi WHO yang mencakup penguatan koordinasi internasional, akses yang adil terhadap sumber daya, pendekatan One Health, serta sistem regulasi yang tangguh. Ia juga menekankan pentingnya memiliki sistem pengawasan rantai pasok global, akses patogen yang transparan, dan penguatan institusi regulasi — terutama untuk mempercepat adopsi teknologi kesehatan baru seperti vaksin mRNA.
Lebih jauh, Soumya menggarisbawahi empat pilar utama dari kerangka kerja Pandemic Preparedness and Emergency Response (PPER), yaitu: tata kelola dan pendanaan, data dan sistem peringatan dini, riset dan pengembangan kapasitas, serta kemitraan dan komunikasi risiko. Semua pilar ini perlu didukung oleh program transfer teknologi, terutama untuk pengembangan vaksin dan produk medis strategis.
Soumya menutup paparanya dengan menekankan bahwa dalam semua upaya tersebut, kita tidak boleh melupakan faktor sosial-ekonomi yang menjadi penggerak munculnya penyakit. Contohnya, pasar hewan beberapa negara bisa menjadi jalur transmisi penyakit zoonotik, seperti yang dicurigai dalam kasus COVID-19 di pasar di Wuhan. Oleh karena itu, pendekatan One Health, yang mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan, menjadi semakin relevan dalam mencegah pandemi masa depan.
Rosanna W Peeling, London School Hygiene and Tropical Medicine (LSHTM)
Salah satu pelajaran penting yang dipetik dari pandemi adalah perlunya kolaborasi erat antara sektor kesehatan manusia, kesehatan hewan, lingkungan, dan juga sektor komersial untuk mencegah kemunculan penyakit baru. Upaya ini diperkuat dengan adanya sistem peringatan dini dan respons global seperti Global Early Warning and Response System (GLEWS) yang fokus pada pengendalian penyakit hewan yang berpotensi menyebar ke manusia.
Selain itu, penting untuk berinvestasi dalam ilmu regulasi dan penilaian teknologi kesehatan (Health Technology Assessment) guna menjamin mutu, keamanan, dan akses yang tepat waktu terhadap berbagai intervensi medis, termasuk obat-obatan, vaksin, dan alat diagnostik.
Pandemi juga menyoroti ketimpangan dalam akses terhadap diagnosis dan berbagai bentuk penanggulangan medis lainnya, baik di dalam suatu negara maupun antar wilayah. Ketimpangan ini menjadi hambatan besar dalam mencapai respons kesehatan yang merata dan efektif.
Di sisi lain, dibutuhkan infrastruktur kesehatan masyarakat yang kuat untuk memungkinkan respon yang cepat dan efisien saat krisis terjadi. Infrastruktur ini juga penting untuk menerjemahkan hasil riset menjadi kebijakan yang bisa langsung diimplementasikan di lapangan.
Sistem data dan konektivitas menjadi landasan penting dalam upaya kesiapsiagaan. Dengan data yang terintegrasi dan konektivitas yang baik, deteksi dini dan pengambilan keputusan bisa dilakukan secara cepat dan tepat sasaran.
Keterlibatan masyarakat juga terbukti sangat menentukan dalam membangun ketahanan sistem kesehatan. Komunitas harus diposisikan sebagai bagian yang aktif dalam sistem, bukan sekadar penerima layanan, karena ketangguhan sistem kesehatan sangat dipengaruhi oleh peran serta masyarakat.
Dalam konteks pengendalian penyakit, pengawasan dan kebijakan di perbatasan terbukti efektif dalam memperlambat laju penyebaran SARS-CoV-2. Namun, efektivitas ini bergantung pada koordinasi, kebijakan berbasis data, dan komunikasi antarnegara.
Akhirnya, salah satu pelajaran strategis yang tak kalah penting adalah pentingnya membangun tata kelola yang baik dan hubungan kolaboratif lintas sektor bahkan di masa tenang, saat tidak terjadi wabah. Periode antar epidemi adalah waktu yang paling tepat untuk memperkuat sistem, menyusun protokol, dan membangun kepercayaan lintas lembaga dan lintas negara sebagai fondasi kesiapsiagaan ke depan.
Ms. Amanda McClelland, Prevent Pandemic, Resolve to Save Lives
Dalam situasi krisis, tiga hal utama yang harus dilindungi secara bersamaan adalah kehidupan manusia, perekonomian, dan kohesi sosial. Pandemi sebelumnya telah memberikan banyak pelajaran berharga. Salah satu yang paling jelas adalah bahwa kecepatan respons sangat penting, kepercayaan masyarakat menjadi pusat keberhasilan, dan ketimpangan justru semakin dalam saat krisis terjadi.
Oleh karena itu, sangat penting untuk membangun “DNA ketangguhan” dalam kegiatan sehari-hari pemerintahan dan masyarakat, agar saat krisis datang, kita sudah memiliki sistem yang siap bergerak cepat dan efektif. Dalam kondisi normal, pemerintahan perlu terus memperkuat sistem dan budaya kerja yang memungkinkan respons krisis yang terkoordinasi dan adaptif.
Data dan produk informasi yang relevan menjadi penunjang utama dalam pengambilan keputusan. Namun, hal ini hanya akan efektif bila didukung oleh struktur pemerintahan yang mampu menentukan prioritas secara jelas dan cepat.
Kita bisa belajar dari pengalaman negara seperti Afrika Selatan, Singapura, dan Selandia Baru, di mana komunikasi publik yang terbuka dan konsisten terbukti sangat penting untuk membangun dan menjaga kepercayaan masyarakat. Komunikasi yang efektif bukan hanya satu arah, tetapi perlu dikembangkan sebagai komunikasi dua arah yang menciptakan ruang bagi masyarakat untuk didengar dan terlibat.
Selain itu, kesiapsiagaan juga harus tertanam di tingkat pelayanan kesehatan dasar. Primary Health Care (PHC) harus diposisikan sebagai tulang punggung sistem kesehatan, bukan sebagai pelengkap. PHC yang siap menghadapi keadaan darurat akan memungkinkan respons masyarakat yang cepat dan efektif dalam menghadapi berbagai ancaman kesehatan.
Tak kalah penting, kepemimpinan memiliki peran sentral dalam respons krisis. Sehingga, dibutuhkan pemimpin yang mampu melihat situasi secara holistik, dapat menegosiasikan pendanaan, menghapus sekat-sekat antar sektor, serta mendorong pendekatan inovatif dalam menangani tantangan yang kompleks.
Dr. Hoon Sang Lee,RIGHT Foundation, Republic of Korea
Respon kesehatan masyarakat di Korea Selatan selama pandemi COVID-19 dikenal sebagai salah satu yang paling cepat dan sistematis. Secara umum, pendekatannya mengutamakan prinsip “trace, test, and treat”, namun dalam presentasi ini Dr. Hoon Sang Lee akan lebih menekankan pada bagaimana pemerintah Korea mengambil peran sentral dalam memimpin respons tersebut.
Sebelum pandemi COVID-19, Korea Selatan telah memiliki pengalaman menghadapi berbagai bencana kesehatan, termasuk wabah MERS pada 2015. Dari pengalaman tersebut, pemerintah Korea belajar pentingnya pengambilan keputusan yang cepat dan terkoordinasi. Maka saat COVID-19 mulai menyebar, Korea mampu mengambil langkah peningkatan level respons dengan sangat cepat, melalui mekanisme pengambilan keputusan yang cepat di tingkat pemerintah pusat.
Salah satu tantangan awal yang dihadapi adalah keterbatasan kapasitas laboratorium pengujian. Pada saat wabah MERS, Korea membutuhkan waktu hingga tiga bulan hanya untuk menyiapkan vaksin prototipe. Namun belajar dari hal tersebut, Korea CDC dan NIH bekerja sama dengan sektor industri untuk mempercepat riset dan pengembangan, serta memberikan otorisasi terhadap vaksin dan alat diagnostik prototipe pertama.
Dukungan infrastruktur kemudian diperluas secara cepat, termasuk pendirian lebih dari 600 lokasi pengambilan spesimen dan kolaborasi dengan 200 produsen industri vaksin. Hal ini memungkinkan peningkatan kapasitas testing dan pengobatan secara cepat dan masif.
Inovasi dan teknologi informasi (ICT) juga dimanfaatkan secara maksimal, khususnya untuk keperluan pelacakan kontak. Penggunaan teknologi ini memang menuai perdebatan, terutama terkait keseimbangan antara privasi individu dan kepentingan kesehatan masyarakat, namun pemerintah Korea berhasil menerapkan kebijakan yang tetap menjunjung nilai keterbukaan dan akuntabilitas.
Kampanye vaksinasi juga dilakukan secara sangat cepat dan efisien, dengan dukungan sistem verifikasi digital serta kebijakan berbasis teknologi yang memperkuat pelaksanaan di lapangan.
Keberhasilan Korea Selatan dalam merespons pandemi pada fase awal tidak lepas dari sejumlah faktor kunci, antara lain:
Sistem “test, trace, isolate” yang terintegrasi;
Asuransi kesehatan nasional yang mencakup seluruh populasi;
Penerapan physical distancing yang disiplin;
Pemanfaatan inovasi teknologi secara luas;
Keputusan kebijakan yang tepat waktu dan eksekusi yang cepat;
Serta pengalaman berharga dari wabah MERS 2015 yang memperkuat kesiapsiagaan institusional
Reporter: Dr Lutfan Lazuardi (FK-KMK UGM)
Session 2
Creating A Multilateral Financing Mechanism for Pandemic Preparedness
Bagian kedua dari sesi pagi ini membahas mengenai mekanisme pembiayaan multilateral yang berperan selama masa pandemi. Sesi ini khususnya membahas desain dan penyiapan pembiayaan multilateral baru yang berfungsi sebagai platform regional untuk risiko kesehatan, surveilans dan dan respons pandemi, dengan dukungan dari bank pembangunan multilateral, organisasi internasional dan donor. Mekanisme pembiayaan tersebut memastikan keterlibatan strategis dengan produsen dan pengembang vaksin dan melakukan pengadaan penanggulangan medis atas nama DMC.
Beberapa pembicara adalah Javier Guzmán, Division Chief, Health, Nutrition and Population, Inter-American Development Bank; Dr. Frederik Kristensen, Managing Director, Regionalized Vaccine Manufacturing Collaborative (RVMC) dan Robert Boothe, Principal Planning and Policy Economist, Strategy, Policy, and Partnerships Department, ADB.
Salah satu contoh mekanisme pembiayaan yang dimaksud misalnya adalah Asia Pacific Vaccine Access Facility(APVAX), mekanisme keuangan yang dibangun ADB untuk penyediaan pendanaan untuk dapat melakukan:
rapid response procurement: pengadaan vaksin secara cepat.
project investment component: investasi untuk infrastruktur, distribusi, outreach, pengembangan SDM dan sebagainya.
Hal lain yang juga disinggung adalah kemungkinan perlunya instrumen keuangan terpisah yaitu mekanisme pembiayaan untuk kebutuhan “surge” yang dapat dimobilisasi secara cepat. Para pembicara hampir sepakat bahwa mekanisme dan instrument keuangan apa pun yang tersedia harus memastikan kepentingan Kawasan, membangun kapasitas negara-negara penerima manfaat (baik untuk manufaktur atau kapasitas pendukung lain), tata Kelola serta transparansi proses dan akuntabilitasnya, serta kapasitas regulasi. Pertimbangan pertama dalam berinvestasi dalam pengembangan vaksin tentu saja adalah vaksin apa yang akan menjadi obyek investasinya: mRNA, DNA, recombinant vector vaccines, atau apa?
Terakhir, disinggung pula potensi dari pooled procurement atau strategic procurement, dan ini akan dibahas pada sesi berikutnya.
Reporter: Shita Dewi (PKMK)
Session 3
Ensuring Access to Medical Countermeasures through Strategic Procurement
Dr. Prashant Yadav, Senior Fellow for Global Health, Council on Foreign Relations (CFR) Strategic procurement
Pengadaan untuk Medical Countermeasures (MCM), seperti vaksin, diagnostik, dan terapi selama keadaan darurat kesehatan, bukanlah hal yang sederhana. Di satu sisi, proses ini dapat menimbulkan biaya yang sangat besar, tetapi di sisi lain, pengadaan tidak semata-mata soal harga. Prahant juga harus memprioritaskan inovasi dan mendorong persaingan yang sehat untuk menghasilkan produk terbaik.
Penting untuk melihat pengadaan ini dari perspektif rantai nilai secara menyeluruh, bukan hanya sebagai proses membeli produk akhir dari produsen. Dalam konteks produk medis, terdapat sejumlah karakteristik khusus yang membedakan proses ini dari pengadaan tradisional.
Pertama, dalam kondisi darurat seperti pandemi, pengadaan sering kali dilakukan dengan risiko tinggi, bahkan saat produk belum terbukti efektivitas atau keamanannya. Ini dikenal sebagai pengadaan berbasis risiko, di mana keputusan pembelian harus dilakukan sebelum ada produk yang benar-benar disetujui. Kedua, kecepatan adalah faktor kunci. Proses pengadaan harus berlangsung cepat, namun tetap mengikuti prinsip transparansi dan akuntabilitas publik. Setiap langkah harus bisa dipertanggungjawabkan dan terbuka untuk ditinjau oleh publik. Ketiga, keterlibatan dengan pemasok menjadi lebih kompleks. Pemerintah atau lembaga pengadaan perlu mengetahui seluruh portofolio produk dari masing-masing pemasok, tidak cukup hanya melihat satu produk. Ini sangat berbeda dari pendekatan pengadaan tradisional yang bersifat lebih sederhana dan satu arah.
Pengadaan MCM harus mampu memahami dan mengelola rantai pasok dari hulu ke hilir (end-to-end). Salah satu tantangan besar adalah lemahnya insentif bagi produsen untuk mempertahankan kapasitas produksi ketika tidak ada permintaan mendesak. Risiko pembelian (purchasing risk) juga tinggi, terutama saat kontrak dilakukan lebih awal sebelum ada kepastian produk berhasil dikembangkan. Misalnya, pada Agustus 2020, saat banyak kandidat vaksin COVID-19 masih dalam tahap pengembangan, muncul pertanyaan penting: Apakah kita harus membuat kontrak pengadaan di awal, padahal kita belum tahu kandidat mana yang akan berhasil? Jika vaksin tersebut gagal, maka risiko dan kerugiannya harus ditanggung.
Dalam kondisi seperti itu, kemampuan untuk melakukan perbandingan portofolio antar produsen melalui pemodelan menjadi sangat penting. Hal ini membantu memproyeksikan mana produk yang paling mungkin berhasil dan layak didanai.
Pertanyaan besar lainnya adalah: di tingkat mana sebaiknya pengadaan dilakukan? Apakah global, regional, atau nasional? Idealnya, pengadaan harus dilakukan secara multi-kanal. Jika suatu negara tidak mampu melakukan pengadaan sendiri, maka harus ada opsi untuk melakukannya secara kolektif di tingkat regional atau global.
Untuk menjawab tantangan ini, kita perlu pendekatan pengadaan multi-kanal (multichannel procurement) yang memungkinkan fleksibilitas dan kecepatan, serta melibatkan lebih banyak pemasok untuk mempercepat proses. Proses pengadaan harus tetap mengikuti langkah-langkah yang sistematis dan dipandu oleh pertimbangan yang jelas tentang manfaat dan risikonya di setiap tahap.
Pada akhirnya, pengadaan untuk MCM memerlukan kemitraan yang aktif dengan para pemasok, termasuk pemahaman yang menyeluruh terhadap portofolio produk yang mereka miliki, guna memastikan respons yang cepat, efisien, dan adaptif terhadap krisis kesehatan yang mungkin muncul.
Ms. Hui C. Yang, Head of Supply Operations, the Global Fund to Fight AIDS, Tuberculosis and Malaria
Saat ini, lebih dari 200 produk kesehatan penyelamat jiwa telah tersedia melalui platform digital yang dapat diakses oleh lebih dari 100 negara. Ini menunjukkan kemajuan besar dalam mempermudah akses terhadap produk kesehatan esensial secara global.
Selama pandemi COVID-19, pada tahun 2021 diperkenalkan pendanaan tambahan untuk memperkuat respons terhadap krisis yang masih berlangsung. Salah satu fokus utama adalah investasi dalam implementasi oksigen medis, serta pengenalan peralatan diagnostik digital di banyak negara untuk mempercepat deteksi dan penanganan kasus.
Dalam konteks strategic purchasing atau pembelian strategis, pembelajaran penting muncul dari berbagai tantangan yang dihadapi. Salah satu tantangan utama adalah disrupsi rantai pasok selama krisis seperti pandemi. Tantangan lainnya adalah keterbatasan data, baik dalam ketersediaannya maupun kualitasnya, sehingga menyulitkan identifikasi kebutuhan paling mendesak dan pengambilan keputusan yang tepat.
Selain itu, upaya membangun aliansi dalam rantai pasok menjadi hal yang tidak mudah. Dibutuhkan kerja keras dari berbagai mitra untuk memastikan tersedianya produk yang paling dibutuhkan di waktu dan tempat yang tepat.
Dari pengalaman tersebut, terdapat beberapa pelajaran penting yang bersifat menyeluruh. Salah satunya adalah bahwa inisiatif yang baik harus diperluas skala dan keberlanjutannya, tanpa harus selalu memulai dari awal (no need to reinvent the wheel). Kita juga belajar bagaimana mekanisme pengadaan dapat dimanfaatkan secara strategis, tidak hanya untuk mendapatkan produk, tetapi juga untuk memberikan insentif kepada perusahaan agar tetap berinovasi dan berkomitmen dalam mendukung kebutuhan global.
Akhirnya, membangun jejaring kemitraan yang kuat, baik di tingkat nasional, regional, maupun global, menjadi sangat penting untuk menciptakan sistem pengadaan dan distribusi yang tangguh, berkelanjutan, dan responsif terhadap tantangan kesehatan global.
Mr. Santiago Cornejo, Executive Manager, Regional Revolving Funds PAHO and former Director, Country Engagement at COVAX Facility
Setahun setelah pandemi COVID-19 diumumkan secara global, inisiatif COVAX berhasil menyiapkan dosis vaksin untuk negara-negara berpenghasilan rendah (LIC). Ini merupakan capaian besar dan menjadi pelajaran penting yang patut dicatat. Kami merasa cukup beruntung, karena dalam kasus COVID-19, sebagian besar kandidat vaksin yang dikembangkan ternyata berhasil. Namun, pengalaman ini juga mengungkapkan sejumlah tantangan mendasar yang perlu diantisipasi ke depan.
Salah satu tantangan utama adalah pembiayaan. Saat itu, tidak ada mekanisme pembiayaan yang memungkinkan pengambilan risiko, misalnya jika vaksin yang dikembangkan ternyata gagal. Kami tidak memiliki sumber daya terkait dengan ini.
Kendala lain muncul pada aspek sertifikasi dan proses produksi vaksin. Kami tidak memprediksi akan terjadi pembatasan ekspor-impor di saat krusial. Salah satu contoh nyata adalah terhambatnya pengiriman filter yang diperlukan dalam proses produksi vaksin, sehingga formula akhir tidak bisa diselesaikan tepat waktu.
Selain itu, penting untuk menyoroti perlunya mekanisme berbagi risiko (risk sharing) yang kuat dan bertingkat. Dalam hal ini, lapisan regional terbukti sangat penting sebagai titik tumpu respons yang lebih dekat dan fleksibel dibandingkan skema global yang bersifat lebih kompleks.
Dari pengalaman ini, terdapat beberapa elemen kunci yang harus diperhatikan untuk kesiapsiagaan pandemi di masa depan:
Pentingnya membangun kapasitas produksi vaksin di tingkat regional. Meski setiap negara ingin memproduksi vaksin sendiri, pendekatan ini belum tentu berkelanjutan tanpa kolaborasi regional.
Perlu adanya perjanjian pandemi (pandemic agreement) yang menjamin dana publik untuk menanggung risiko pengembangan produk.
Diperlukan instrumen keuangan baru yang menghubungkan antara pengadaan, permintaan, dan investasi jangka panjang.
Harus ada upaya yang konsisten untuk memperkuat layanan imunisasi rutin, karena infrastruktur yang kuat akan meningkatkan kemampuan sistem kesehatan dalam merespons pandemi secara cepat dan terstruktur.
Mr. Jesper Pedersen, Director, Procurement, Portfolio and Financial Management Department (PPFD), ADB
Dalam menghadapi pandemi, terdapat sejumlah hal yang dinilai berhasil dan menjadi pembelajaran penting, khususnya terkait peran Asian Development Bank (ADB). Salah satu keberhasilan utama adalah kemitraan yang kuat, terutama dalam membangun pengetahuan bersama antara berbagai pihak. Selain itu, kebijakan pengadaan ADB yang fleksibel dan tangguh juga menjadi kekuatan tersendiri. Dari sisi kebijakan, ADB mampu menyusun proses yang cepat, adaptif, dan memungkinkan persetujuan dalam waktu singkat, bahkan dalam urusan operasional harian.
Namun demikian, terdapat pula berbagai tantangan yang harus dihadapi. Salah satunya adalah keterbatasan dalam klausul kontrak, yang sebenarnya tidak terkait langsung dengan mekanisme pengadaannya. Tantangan lainnya adalah persyaratan administratif dan kebijakan antikorupsi, yang sering kali menjadi pertanyaan dari mitra dan pemasok—mengapa ADB memerlukan hal-hal tertentu dalam kontrak. Hal ini dapat memperlambat proses pengadaan, meskipun dilakukan demi akuntabilitas.
Pemahaman tentang siapa saja pelaku pasar juga sangat penting. ADB sebagai lembaga pembiayaan memiliki struktur yang berbeda dengan negara, sehingga perlu berinteraksi langsung dengan sektor swasta untuk menjembatani ekspektasi dan proses yang berbeda. Di sisi swasta sendiri, terdapat tantangan berupa kurangnya transparansi, terutama karena di beberapa wilayah seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa, kontrak-kontrak pengadaan sering disertai dengan Non-Disclosure Agreement (NDA) yang merupakan praktik umum di pasar, namun membuat isi perjanjiannya tidak dapat diakses oleh publik. Hal ini dapat menciptakan kesenjangan informasi dan menyulitkan proses koordinasi yang adil dan terbuka.
Pengalaman ini menunjukkan bahwa pengadaan kolaboratif (collaborative procurement) sangat penting untuk dibangun. Tidak hanya untuk merespons krisis, tetapi juga sebagai investasi dalam kapasitas regional yang berkelanjutan, yang bisa digunakan untuk menghadapi tantangan kesehatan lainnya di masa depan.
Reporter: Dr. Lutfan Lazuardi (FK-KMK UGM)
Session 4
Bridging Financing Gaps for Pandemic Preparedness
Moderator: Mr. Dinesh Arora, ADB Pembicara: Dr. Kalipso Chalkidou (WHO), Dr. Eduardo P. Banzon (ADB), Ms. Patricia Rhee (ADB), Dr. Ruchir Agarwal (Global Talent Lab)
Sesi ini mengeksplorasi pendekatan inovatif dalam menjembatani kekosongan pendanaan untuk kesiapsiagaan pandemi. Dr. Kalipso Chalkidou menekankan pentingnya pendekatan pembiayaan yang berbasis bukti dan efisiensi biaya untuk kesiapsiagaan pandemi. Kalipso mendorong investasi yang memberikan manfaat ganda (co-benefits), dengan mengintegrasikan kesiapsiagaan pandemi dan pencapaian cakupan kesehatan semesta (UHC) secara bertahap. Menurutnya, negara-negara perlu meningkatkan belanja kesehatan secara signifikan dan memanfaatkan pembiayaan konsesional. Namun, ia juga mengingatkan bahwa uang saja tidak cukup, namun sistem dan mekanisme pendukungnya juga harus berfungsi dengan baik agar pembiayaan dapat memberikan dampak nyata.
Sementara itu, Dr. Ruchir Agarwal menekankan pentingnya mobilisasi talenta global untuk mempercepat kesiapsiagaan sistem kesehatan. Agarwal mengulas dampak ekonomi jangka panjang (economic scars) akibat pandemi yang sebagian besar disebabkan oleh model pembiayaan berbasis negara per negara, dimana setiap pemerintah harus mengamankan dana dan pasokan secara mandiri. Pihaknya menekankan bahwa mengakhiri pandemi secepat mungkin adalah global public good yang membutuhkan pendekatan kolektif. Agarwal mengusulkan empat hal utama: (1) alokasi pembiayaan PPR perlu lebih difokuskan pada aspek pencegahan; (2) pentingnya pendanaan yang dapat diaktifkan sejak hari pertama pandemi (day zero financing); (3) investasi di bidang R&D memiliki potensi imbal hasil yang sangat tinggi; dan (4) perlunya membedakan antara tujuan pembangunan dan tujuan keamanan global dalam merancang strategi pembiayaan.
Dr. Eduardo Banzon membagikan pendekatan ADB dalam memajukan cakupan kesehatan semesta (UHC) sekaligus merespons ancaman kesehatan global. Banzon menyoroti masih lemahnya koordinasi antar sistem surveilans, minimnya kerja sama antarnegara, serta belum adanya mekanisme pengadaan global yang efektif. Meskipun surveilans adalah barang publik global (global good), tidak semua negara bersedia berinvestasi di dalamnya. Pembicara menggarisbawahi beberapa pelajaran penting dari pandemi: (1) pelacakan kontak yang kini berbasis elektronik perlu dipikirkan keberlanjutannya; (2) perlu ada skema pembiayaan jangka panjang untuk komunikasi kesehatan; (3) telemedicine sangat potensial, namun perlu kejelasan mekanisme pembayarannya; dan (4) dana darurat kesehatan masyarakat sebaiknya dibentuk agar dapat segera digunakan, berbeda dengan pengalaman saat COVID-19 dimana banyak dana tersendat atau sulit diakses dengan cepat.
Patricia Rhee menjelaskan aspek hukum dan kontraktual yang perlu dipertimbangkan dalam pembiayaan lintas negara, khususnya dalam pengadaan vaksin. ADB menggunakan kriteria tertentu untuk memastikan bahwa vaksin yang didanai telah memenuhi standar internasional, termasuk efektivitas, keamanan, dan rencana manufakturnya. Ia menekankan beberapa pelajaran penting dan agenda ke depan: (1) mempermudah jalur persetujuan regulatori di kawasan Asia Pasifik (mengacu pada standar WHO dan WLAs Level 3 dan 4), (2) memperkuat kapasitas produksi vaksin di kawasan Asia Pasifik, serta (3) mempercepat komitmen dalam skema at-risk procurement untuk mempercepat akses saat darurat kesehatan terjadi.
Reporter: dr Ichlasul Amalia (FK-KMK UGM)
Closing Session
High-level Roundtable Discussion on Ways Forward
Moderator: Mr. Scott Morris, Vice-President (East and Southeast Asia, and the Pacific), ADB H.E. Aminath Shirna, Minister of State for Health, Maldives
Pasokan medis selama krisis menjadi tantangan besar, terutama bagi negara-negara kepulauan kecil dengan wilayah yang tersebar, seperti negara kami yang memiliki lebih dari 100 pulau berpenghuni dan sangat bergantung pada impor alat dan barang medis. Dalam kondisi darurat, situasi ini membuat kami sangat rentan, karena akses terhadap pasokan medis sering datang terlambat, saat kebutuhan sudah sangat mendesak.
Aminath mewakili Kementerian Kesehatan Maldives percaya bahwa mekanisme multilateral yang ada saat ini perlu diperbaiki dan diubah menjadi lebih adil dan tangguh. Untuk mendukung negara-negara seperti kami, ada tiga hal penting yang perlu diperhatikan:
Sistem harus mampu bertindak cepat dan dapat diprediksi, dengan pendanaan yang berbasis indikator risiko, sehingga dapat langsung merespons sebelum krisis memburuk.
Mekanisme yang ada harus cukup fleksibel, karena rantai pasok dan faktor geografis menimbulkan risiko tersendiri bagi negara kepulauan dan wilayah terpencil.
Pendanaan harus berdampak nyata, yakni dalam bentuk akses langsung terhadap obat-obatan, alat kesehatan, peralatan diagnostik, dan dukungan lainnya.
Dalam hal ini, kerja sama regional merupakan bagian penting dari solusi. Maldives membutuhkan mekanisme regional yang memungkinkan dukungan bersama, koordinasi lintas negara, dan berbagi sumber daya secara adil. Oleh karena itu, pembentukan mekanisme pembiayaan khusus bagi negara-negara kecil dan rentan harus menjadi prioritas.
Mekanisme ini harus cepat, fleksibel, dan siap merespons setiap situasi darurat. Aminath juga menegaskan bahwa kesiapsiagaan terhadap pandemi bukan hanya persoalan teknis, tetapi juga menyangkut keadilan dan kemauan politik untuk memastikan tidak ada negara yang tertinggal dalam menghadapi krisis global di masa depan.
Mr. Farkhodjon Tashpulatov, Deputy Minister of Health, Uzbekistan
Pengalaman Uzbekistan selama pandemi menunjukkan tantangan besar dalam penyediaan vaksin. Pada saat itu, negara hanya mampu memvaksinasi sekitar 20% dari populasi, yang sebagian besar berasal dari kelompok berisiko tinggi. Kondisi ini menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan dan peningkatan kapasitas sistem kesehatan sangat penting, bukan hanya bagi satu negara, melainkan juga untuk semua negara tanpa terkecuali.
Dari pengalaman tersebut, terdapat beberapa poin penting yang perlu menjadi fokus ke depan:
Penguatan infrastruktur laboratorium dalam negeri sangat penting untuk mendukung deteksi dini, pengujian, dan respon cepat terhadap ancaman kesehatan.
Penting untuk membangun sistem keamanan kesehatan regional, yang memungkinkan kerja sama lintas negara dalam menghadapi krisis bersama.
Perlu adanya program kerja sama ekonomi terpusat dan regional, agar sumber daya dapat dialokasikan dan digunakan secara efisien dalam kondisi darurat.
Pengembangan platform digital menjadi krusial untuk mendukung sistem informasi kesehatan, pelacakan data, dan koordinasi logistik.
Dan yang tidak kalah penting, perlu jaminan akses yang adil terhadap pelatihan tenaga kesehatan, vaksin, serta segala bentuk dukungan medis, agar semua negara memiliki kesempatan yang setara dalam melindungi warganya.
Melalui pendekatan kolektif dan solidaritas regional yang kuat, negara-negara seperti Uzbekistan dapat lebih siap dalam menghadapi pandemi berikutnya—dengan sistem yang lebih tangguh, responsif, dan inklusif.
drg. Murti Utami, Deputy Minister and Acting Director General, Ministry of Health, Indonesia
Pengalaman pandemi menunjukkan bahwa sistem kesehatan kita, serta koordinasi regional dan global, masih lemah. Dalam sektor kesehatan, waktu berarti nyawa—semakin cepat kita bertindak, semakin banyak nyawa yang dapat diselamatkan. Indonesia meluncurkan kampanye imunisasi massal dalam waktu singkat, hanya 18 bulan setelah upaya pengembangan vaksin dimulai, dan berhasil mencapai lebih dari 2 juta suntikan per hari. Namun, pencapaian ini tidak lepas dari berbagai tantangan besar. Salah satu tantangan utama adalah keraguan dari berbagai pihak tentang kemampuan negara berkembang untuk membayar. Saat kami mendekati sejumlah perusahaan, ada pandangan skeptis dan pendekatan yang berorientasi pada keuntungan. Padahal, Indonesia menunjukkan komitmennya: kami siap membayar, kami menjalin kerja sama dengan GAVI, dan akhirnya berhasil mengamankan 1 juta dosis vaksin.
Pengalaman ini menunjukkan dua masalah kritis:
Negara-negara miskin tidak memiliki kapasitas yang memadai—tanpa uang, mereka tidak bisa mendapatkan vaksin, dan prosesnya bisa tertunda hingga 6–12 bulan.
Produksi vaksin berlangsung terlalu lambat, padahal pandemi menuntut respons yang cepat. Saat memegang kepemimpinan G20, Indonesia ikut mendorong pembentukan Pandemic Fund sebagai solusi jangka panjang, namun tetap dibutuhkan tindakan cepat dan pengambilan keputusan yang gesit.
Kesenjangan pembiayaan masih menjadi tantangan besar. Di sinilah peran strategis bank pembangunan multilateral seperti ADB menjadi sangat penting. Oleh karena itu, kami mengusulkan beberapa langkah konkret:
ADB dan negara-negara anggotanya perlu menyepakati jalur pembiayaan yang jelas untuk respon krisis kesehatan.
Pendekatan blended financing harus diperluas, menggabungkan sumber pendanaan publik dan swasta.
Negara berpendapatan tinggi perlu mulai membangun mekanisme pembiayaan mandiri.
Perlu mengeksplorasi inovasi pembiayaan untuk menarik lebih banyak modal dari sektor swasta.
Memperkuat platform riset dan kapasitas produksi lokal menjadi prioritas agar ketergantungan pada pasokan global bisa dikurangi.
Terakhir, akses terhadap pembiayaan dalam situasi krisis harus disederhanakan, agar negara dapat bertindak cepat tanpa terhambat birokrasi.
Ms. Ayako Inagaki, Senior Sector Director, Health and Social Development Sector Group, Sector Department 3, ADB
Dalam berbagai diskusi yang berkembang, muncul banyak gagasan mengenai pentingnya kemitraan dalam memperkuat ketahanan sistem kesehatan. Dari berbagai usulan tersebut, intervensi dapat dikelompokkan ke dalam empat area utama:
Dukungan keuangan yang cepat dan fleksibel selama kondisi darurat. Intervensi di tingkat nasional dan subnasional perlu diperkuat, dimulai dari sistem kesehatan yang terstruktur dan berfungsi dengan baik, termasuk sumber daya manusia kesehatan (SDMK), laboratorium, akses terhadap logistik dan alat medis di tingkat layanan primer. Selain itu, keterlibatan masyarakat juga menjadi kunci keberhasilan respons kesehatan.
Aliansi regional untuk penguatan kapasitas manufaktur. Diperlukan upaya membangun kerja sama regional untuk mendukung harmonisasi sistem regulasi, peningkatan kapasitas produksi lokal, serta berbagi data guna mendukung riset dan pengembangan.
Mekanisme pembiayaan yang fleksibel dan cepat dari ADB. Semakin banyak negara yang memiliki sistem regulasi dan kesiapsiagaan yang memadai, semakin siap pula ADB dalam memberikan dukungan pembiayaan yang cepat dan responsif terhadap kebutuhan negara anggota.
Kepemimpinan, pembiayaan berkelanjutan, dan komitmen politik jangka panjang. Keberhasilan tidak akan tercapai tanpa komitmen politik yang kuat dan berkelanjutan. Dalam hal ini, ADB bekerja sama dengan kementerian dan lembaga nasional melalui dialog tingkat tinggi untuk memastikan kepemimpinan yang visioner dan dukungan kebijakan yang konsisten.
Reporter: Dr Lutfan Lazuardi (FK-KMK UGM)
Catatan Akhir dari Tim UGM
Inclusive, Sustainable, Prosperous, and Resilient Health Systems in Asia and the Pacific (INSPIRE) merupakan forum kesehatan pertama yang telah sukses diselenggarakan oleh Asian Development Bank (ADB) pada 7–11 Juli 2025. Forum ini mempertemukan aktor lintas sektor dari 25 lebih negara untuk mendorong transformasi sistem kesehatan melalui inovasi, pembiayaan strategis, dan kolaborasi regional. Lebih dari 50 sesi panel, paralel, dan simposium membahas isu-isu utama seperti Universal Health Coverage (UHC), perubahan iklim, kesiapsiagaan pandemi, dan digitalisasi kesehatan. Climate-resilient health systems di kawasan Asia Pasifik juga menjadi salah satu fokus utama. Diskusi menekankan pentingnya integrasi adaptasi iklim ke dalam kebijakan kesehatan, infrastruktur tahan bencana, serta sistem peringatan dini berbasis data. Selain itu, forum ini juga memperkuat urgensi kolaborasi lintas sektor dan pembiayaan inovatif di sektor kesehatan. Sejumlah inisiatif strategis juga diluncurkan untuk memperkuat sistem kesehatan di kawasan Asia dan Pasifik, sebagai berikut:
Climate & Health Initiative, sebuah komitmen multipihak untuk mendorong integrasi perubahan iklim ke dalam perencanaan dan investasi sistem kesehatan melalui data, layanan adaptif, dan model tata kelola baru.
Leadership Course, program pelatihan kepemimpinan untuk membekali generasi baru pengambil kebijakan kesehatan;
UHC PEERS, platform pembelajaran dan pertukaran kebijakan antarnegara untuk mendukung Universal Health Coverage; serta
ExCITD, inisiatif regional untuk mengakhiri penyakit tropis kompleks melalui riset dan investasi kolaboratif.
Asian Coalition for Financing Research, Vaccine Development, and Innovations serta memulai dialog teknis untuk Connected Health Systems guna mendorong interoperabilitas digital lintas aktor.
Inovasi-inovasi dari sektor publik dan swasta ditampilkan dalam Innovations Marketplace, menjadi ruang kolaboratif bagi solusi kesehatan kontekstual dan berkelanjutan di Asia-Pasifik.
Implikasi untuk Indonesia dan Daerah
Dari forum INSPIRE ini, perlu dikembangkan di Indonesia berbagai hal sebagai berikut:
Penguatan Kepemimpinan untuk Koordinasi Lintas Sektor dan Antardaerah
INSPIRE menegaskan bahwa keberhasilan reformasi kesehatan, baik dalam menghadapi pandemi maupun perubahan iklim, sangat bergantung pada kepemimpinan yang kolaboratif, adaptif, dan visioner di semua level pemerintahan. Kepemimpinan yang kuat dibutuhkan untuk mengoordinasikan lintas dinas kesehatan, lingkungan, perencanaan, Pendidikan, dan memastikan kebijakan berjalan secara terpadu, terutama di tingkat daerah. Pelatihan dan penguatan kapasitas pimpinan daerah, termasuk kepala dinas dan bupati/wali kota, menjadi kunci untuk mendorong sinergi antar program dan sektor, serta mengoptimalkan sumber daya yang tersedia. Inisiatif seperti Future Health Accelerator Course dapat menjadi model pengembangan kepemimpinan kebijakan yang dapat diadopsi dan dikembangkan di Indonesia.
Kesiapan Pendanaan dan Pembiayaan Inovatif untuk Kesehatan
Sesi-sesi tentang pembiayaan multilateral dan blended financing memberi arah bagi Indonesia untuk mengeksplorasi mekanisme pendanaan baru seperti Advance Market Commitments dan Dana Khusus Pandemi. Ini membuka peluang kerja sama antara pemerintah pusat, daerah, Multilateral Development Banks (MDBs), dan mitra swasta. Sehingga sangat penting untuk menambah dana yang saat ini digali melalui Social Health Insurance, melalui pengembangan Private Health Insurance.
Peningkatan Urgensi Climate-Resilient Health Systems
INSPIRE memperkuat kebutuhan Indonesia, terutama sebagai daerah rawan bencana dan wilayah pesisir, untuk segera mengembangkan sistem kesehatan yang tangguh terhadap krisis iklim. Ini mencakup perencanaan infrastruktur tahan bencana, sistem peringatan dini kesehatan, serta integrasi data iklim ke dalam manajemen risiko kesehatan.
Untuk persiapan pertemuan INSPIRE di tahun-tahun depan perlu ada pembicara lebih banyak dari Indonesia. (LT)