Reportase
Leimena Conference 2026
Indonesia Primary Health Care Scientific Meeting
BRIN Auditorium, Jakarta | 27-29 Juli 2026
Leimena Conference 2026 diselenggarakan sebagai monumen intelektual yang menjembatani sejarah panjang kesehatan publik Indonesia dengan ambisi besar menuju Indonesia Emas 2045. Konferensi ini tidak sekadar menjadi ajang pertukaran data ilmiah, melainkan sebuah reaktualisasi dari semangat “Bandung Plan” 1951. Gagasan visioner yang diletakkan oleh dr. Johannes Leimena dan dr. Abdul Patah ini merupakan fondasi pelayanan kesehatan primer yang bahkan mendahului konsensus global Deklarasi Alma Ata tahun 1978.
Konferensi ini mempertemukan para pembuat kebijakan, akademisi, dan praktisi untuk memperkuat integrasi layanan primer (ILP). Melalui forum ini, narasi transformasi kesehatan diposisikan bukan sebagai program teknokratis semata, melainkan sebagai mesin penggerak kualitas hidup bangsa. Penyelenggaraan tahun ini menjadi sangat krusial karena menandai titik balik transisi sistem kesehatan nasional yang semakin responsif terhadap dinamika demografis dan tantangan global, yang secara teknis memerlukan standarisasi dan validasi berbasis data yang presisi di seluruh pelosok Indonesia.
Transformasi Layanan Primer Menjadi Fokus Utama Pembukaan Leimena Conference 2026
PKMK-Jakarta – Leimena Conference 2026 resmi dibuka dengan menegaskan komitmen pemerintah dan para mitra pembangunan dalam memperkuat transformasi layanan kesehatan primer sebagai fondasi sistem kesehatan Indonesia. Rangkaian pembukaan menghadirkan Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kementerian Kesehatan RI, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Duta Besar Australia untuk Indonesia, serta Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Seluruh pembicara menyoroti pentingnya kolaborasi, inovasi, dan kebijakan berbasis bukti untuk mewujudkan layanan kesehatan primer yang merata dan berkelanjutan.
Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kementerian Kesehatan RI, dr. Maria Endang Sumiwi, M.P.H., membuka sesi ilmiah bertajuk Setting the Stage: PHC Stronger Together: Indonesia’s Integrated Approach to Primary Health Care. Dalam paparannya, Maria menjelaskan bahwa transformasi layanan kesehatan primer terus dipercepat melalui implementasi Integrasi Layanan Primer (ILP), penguatan kapasitas kader Posyandu, serta pembangunan sistem pelayanan berbasis populasi hingga tingkat desa dan kelurahan.
Hingga pertengahan 2026, implementasi ILP telah menjangkau sekitar 9.000 Puskesmas atau 87 persen dari total 10.300 Puskesmas di Indonesia. Menurutnya, transformasi ini mengubah pendekatan pelayanan dari yang sebelumnya berbasis program menjadi pendekatan berbasis siklus hidup (life cycle approach) sehingga pelayanan menjadi lebih terintegrasi dan berpusat pada kebutuhan masyarakat. Penguatan sumber daya manusia juga menjadi perhatian utama. Sebanyak 1,5 juta kader Posyandu telah didata sebagai bagian dari standardisasi nasional, sementara 485.000 kader telah mengikuti uji kompetensi pada 25 keterampilan dasar untuk meningkatkan mutu layanan di tingkat komunitas.
Maria juga memperkenalkan rencana implementasi Unit Pelayanan Kesehatan Desa/Kelurahan (UPKDK) yang akan diawali melalui tahap percontohan sebelum diterapkan secara nasional. Kehadiran UPKDK memungkinkan identifikasi populasi dalam kelompok kecil, sekitar 500 hingga 1.000 penduduk, sehingga intervensi kesehatan dapat dilakukan secara lebih tepat sasaran. Selain itu, sebanyak 698 abstrak penelitian yang terkumpul dalam konferensi diharapkan menjadi sumber bukti ilmiah bagi pengembangan kebijakan kesehatan berbasis evidence.
Selanjutnya, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si., menyampaikan materi Strengthening Primary Health Care through National Research and Innovation. Ia menegaskan bahwa riset dan inovasi merupakan fondasi utama dalam membangun sistem kesehatan yang tangguh, terutama melalui pengembangan teknologi kesehatan, genomik, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), serta komputasi berperforma tinggi (High-Performance Computing/HPC).
Arif menjelaskan bahwa perubahan iklim telah memengaruhi kualitas pangan, termasuk penurunan kandungan zat gizi mikro, sehingga diperlukan inovasi varietas tanaman yang lebih resilien. Di sisi lain, BRIN mendukung modernisasi seluruh Puskesmas melalui penyediaan teknologi diagnostik seperti USG dan X-ray.
Pihaknya juga menyampaikan bahwa Indonesia telah memiliki fasilitas HPC yang termasuk salah satu yang tercanggih di Asia Tenggara dan masuk dalam jajaran Top 500 dunia. Infrastruktur tersebut menjadi modal penting bagi pengembangan precision public health, genomik, dan kecerdasan buatan. Menurutnya, pemanfaatan AI perlu berkembang dari sekadar decision support menuju execution support atau robotic medicine agar pelayanan medis menjadi semakin presisi. Namun demikian, inovasi kesehatan nasional tetap membutuhkan validasi global dan kolaborasi internasional agar mampu memberikan dampak yang lebih luas.
Perspektif internasional disampaikan oleh Rod Brazier, Duta Besar Australia untuk Indonesia, melalui sesi A Shared Vision for Health Equity: Journey Toward Universal Primary Health Care. Ia menegaskan bahwa kemitraan Indonesia dan Australia terus diperkuat melalui berbagai program, termasuk Kita Sehat dan Partnerships for Healthy Region, sebagai upaya mendukung transformasi layanan kesehatan primer.
Rod menekankan bahwa keberhasilan layanan kesehatan primer tidak hanya ditentukan oleh besarnya investasi, tetapi juga oleh kualitas interaksi antara tenaga kesehatan dan masyarakat. Rod mengapresiasi konsistensi Indonesia dalam menjaga momentum reformasi kesehatan yang berorientasi pada hasil serta menilai bahwa investasi di sektor kesehatan merupakan investasi pembangunan yang akan meningkatkan produktivitas ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Kolaborasi kedua negara diharapkan mampu memperkuat kemandirian sistem kesehatan Indonesia sekaligus meningkatkan ketahanan kesehatan kawasan.
Pada sesi sambutan pembukaan, Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin, menegaskan bahwa transformasi kesehatan merupakan strategi utama untuk meningkatkan produktivitas nasional dan membawa Indonesia keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle-income trap) menuju negara maju.
Menteri Kesehatan menjelaskan bahwa Indonesia perlu meningkatkan pendapatan nasional bruto (GNI) per kapita hingga sekitar USD14.000 agar dapat mencapai status negara maju. Menurutnya, bonus demografi pada periode 2035–2040 hanya akan memberikan manfaat apabila penduduk usia produktif tetap sehat dan memperoleh layanan kesehatan yang optimal.
Pihaknya juga mengingatkan bahwa struktur penduduk Indonesia telah berubah. Saat ini jumlah lansia mencapai sekitar 30 juta orang, melampaui jumlah balita yang sekitar 22 juta. Kondisi tersebut menuntut perubahan pendekatan pelayanan kesehatan dari yang berorientasi pada penyakit (disease-based) menjadi pelayanan yang berpusat pada manusia (people-centered) dengan pendekatan siklus hidup.Budi Gunadi Sadikin menekankan bahwa transformasi kesehatan tidak dapat hanya menjadi program pemerintah, tetapi harus berkembang menjadi gerakan bersama seluruh elemen masyarakat. Pihaknya juga mendorong para peneliti menghasilkan riset yang memberikan dampak nyata bagi keselamatan dan kualitas hidup masyarakat, bukan sekadar memenuhi target akademik maupun publikasi ilmiah. Dalam kesempatan tersebut, ia mengajak seluruh peserta untuk menjadikan warisan pemikiran dr. Johannes Leimena sebagai inspirasi dalam membangun layanan kesehatan yang hadir pada setiap fase kehidupan masyarakat Indonesia.
Sebagai puncak rangkaian pembukaan, Menteri Kesehatan bersama Kepala BRIN, Duta Besar Australia untuk Indonesia, serta Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas secara resmi meluncurkan Pedoman Unit Pelayanan Kesehatan Desa/Kelurahan (UPKDK). Peluncuran tersebut menjadi simbol dimulainya implementasi nasional UPKDK sebagai bagian dari transformasi layanan kesehatan primer di Indonesia.
Pedoman ini diharapkan menjadi acuan dalam mendekatkan layanan kesehatan hingga tingkat desa dan kelurahan melalui pendekatan berbasis populasi. Dengan sistem yang lebih terintegrasi, responsif, dan inklusif, UPKDK diharapkan mampu memperkuat pemantauan kesehatan masyarakat pada setiap fase kehidupan sekaligus mendukung terwujudnya visi Indonesia Emas 2045.
Keynote Speech
PHC Today, Tomorrow, and Beyond: A Global Vision for Our Region
Lluis Vinyals Torres (Director Division of Health Systems and Services, WHO WPRO)
WHO WPRO menyoroti bahwa cakupan Kesehatan semesta tidak mungkin dapat tercapai tanpa layanan primer yang kuat. OOP turun ke 20% dalam 40 tahun terakhir, salah satunya didorong oleh pengurangan kemiskinan dan tersedianya mekanisme cakupan Kesehatan semesta. Untuk memastikan layanan primer yang kuat, Indonesia harus segera mengatasi isu kesenjangan dan maldistribusi SDM Kesehatan, karena hanya 65% Puskesmas di Indonesia yang memiliki seluruh profesi Kesehatan yang diperlukan untuk menyediakan layanan yang komprehensif. Walau pun Indonesia telah menerapkan Jaminan Kesehatan Nasional, di antara kelompok termiskin populasi, 80% lebih masih memiliki risiko pengeluaran katastropik Ketika mengakses layanan Kesehatan. Oleh karena itu, WHO WPRO berharap Indonesia terus melanjutkan upaya dan prioritisasi layanan primer. WHO WPRO akan mendukung dalam kolaborasi dengan Pemerintah Indonesia untuk menerjemahkan bukti dan praktik baik global yang cocok untuk diterapkan di Indonesia.
Regional Policy Dialogue on Primary Health Care – Learning from the Western Pacific: Innovations in Integrated Primary Health Care
Moderator: Lluis Vinyals Torres (Director, Division of Health Systems and Services, WHO WPRO)
Japan – Haruka Sakamoto – Healthy Ageing and Community-Based Integrated Care
Fokus Utama dari pembicara adalah tentang sistem perawatan terintegrasi berbasis komunitas untuk menghadapi populasi yang menua (aging population). Jepang memiliki system cakupan Kesehatan semesta pada tahuan 1961 ketika populasinya masih “muda”, namun kini harus mengadaptasi layanannya karena populasinya semakin menua.
Poin Pembelajaran (Key Takeaways):
- Pengembangan layanan jangka panjang (long-term care insurance) yang terhubung langsung dengan fasilitas kesehatan primer.
- Layanan terintegrasi yang berbasis komunitas di Jepang difokuskan kepada kombinasi antara GP dan home visit, frailty screening untuk usia 75 tahun ke atas, perumahan yang diadaptasi untuk kebutuhan lansia, dan daily allowance support serta system transportasi yang juga disesuaikan. Layanan berbasis komunitas ini dikomandoi oleh care manager (seorang perawat), dan sistemnya dikepalai oleh masing-masing municipality, bukan oleh sektor Kesehatan.
- Kolaborasi erat antar-sektor di tingkat komunitas (community-based) guna memastikan lansia tetap mandiri, aktif, dan mendapatkan akses perawatan kesehatan yang berkesinambungan di lingkungan tempat tinggal mereka.
Fiji – Roderick Salenga, Delivering Primary Health Care in Small Island and Remote Settings
Fokus Utama pembicara adalah strategi distribusi layanan kesehatan primer di wilayah kepulauan kecil dan daerah terpencil (remote settings), karena Fiji merupakan salah satu negara kepulauan kecil di Pasifik.
Poin Pembelajaran (Key Takeaways):
- Adaptasi model pelayanan kesehatan yang fleksibel untuk mengatasi tantangan geografis, keterbatasan logistik, serta akses transportasi.
- Penguatan peran petugas kesehatan garis depan (frontline health workers) dan pendekatan penjangkauan (outreach services) guna menjangkau populasi yang terisolasi secara geografis.
- WHO mendukung 21 negara kepulauan di Pasifik melalui Multi country Cooperation Strategy (MCCS) 2024 – 2029. Fiji sebagai negara kepulauan kecil (populasi kurang dari 1 juta penduduk) menjadikan layanan primer sebagai tulang punggungnya.
- Bulan lalu, dokumen kebijakan strategis Fiji yang baru mengubah focus dari fragmented program menjadi coordinated team-based primary care, dan pola layanan yang seragam diubah menjadi fleksibel sesuai kebutuhan wilayah.
- Essential health benefit package kemudian disesuaikan untuk mencerminkan pola layanan tersebut. Hal ini penting karena titik awal essential health benefit tidak dilihat sebagai paket manfaat seragam yang cenderung ‘over-promised’ untuk sisi penyedia layanan yang belum tentu siap untuk melaksanakannya.
China, Ruikan Yang, NPO WHO Office China – Integrated People-centered care
Fokus Utama pembicara adalah transformasi layanan kesehatan melalui pendekatan yang berpusat pada masyarakat dan terintegrasi (Integrated People-Centered Care / IPCC). Hal ini penting karena kebutuhan Kesehatan yang berubah membutuhkan cara yang berbeda untuk menyediakan layanan, padahal saat ini terjadi beberapa mismatch antara kebutuhan dengan setting layanan. Sebagai contoh, dengan kelompok Masyarakat yang semakin menua membutuhkan layanan yang bersifat long-term dan continuous care, sedangkan system Kesehatan saat ini diorganisir untuk layanan yang bersifat episodic.
Poin Pembelajaran (Key Takeaways):
- Pentingnya integrasi layanan mulai dari tingkat pencegahan, promotif, kuratif, hingga rehabilitatif dalam satu sistem rujukan yang mulus. PCIC difokuskan pada kesetaraan dan akses, integrasi dan kontinuitas, kualitas dan efisiensi, dan tujuan akhirnya adalah ketahanan Kesehatan.
- Komponen PCIC adalah model layanan sepanjang life course, didukung oleh team cased care and input dari spesialis, didukung oleh pembayran menginsentif continuity of care, quality and outcome, serta digitalisasi.
- PCIC menggunakan siklus belajar : global evidence menginformasi reform design, proses adaptasi menjadi local reform, dan akhirnya ditetapkan sebagai national policy.
Mr. Jinam Choi, Republic of Korea – Digital tools supporting quality improvement
Fokus Utama pembicara adalah pemanfaatan digitalisasi untuk meningkatkan mutu dan efisiensi layanan primer.
Poin Pembelajaran (Key Takeaways):
- Integrasi teknologi dan pengelolaan data kesehatan berbasis digital membantu tenaga medis dalam pengambilan keputusan klinis yang lebih akurat.
- Di Korea, HIRA (big data infrastruktur) menjadi jembatan antara data Kementrian FDA, penyedia layanan/faskes, NHIS (system informasi asuransi), Kementerian Kesehatan, Kementerian Kehakiman (untuk informasi imigran), Kementerian Dalam Negeri (untuk informasi penduduk). HIRA menjalankan system untuk 140juta kasus per tahun, dan memungkinkan pemanfaatannya untuk AI.
- Namun, untuk memastikan HIRA dan bridging berbagai system ini, diperlukan standarisasi data.
- Digitalisasi mempercepat pemantauan indikator mutu layanan, pelaporan, serta akses pasien terhadap rekam medis yang terintegrasi.
Dr. Mrunal Shetye, UNICEF Indonesia – Strengthening Community Health Systems for Integrated Primary Health Care
Fokus Utama pembicara adalah bagaimana penguatan sistem kesehatan komunitas untuk mendukung integrasi layanan primer (ILP) di Indonesia.
Poin Pembelajaran (Key Takeaways):
- UNICEF menyampaikan pentingnya community-outreach sebagai tulang punggung layanan primer. Oleh karena itu, diperlukan penguatan kapasitas kader posyandu dan tenaga kesehatan desa sebagai garda terdepan promotif-preventif.
- Pentingnya dukungan lintas sektor dan kemitraan strategis sektor Kesehatan dengan sektor lain (seperti bersama UNICEF) dalam memastikan sistem kesehatan di tingkat akar rumput memiliki resiliensi dan sumber daya yang memadai.
Regional Policy Dialogue on Primary Health Care -Accelerating Primary Health Care in South-East Asia: Country Experiences, Digital Innovation, and Future Readiness
Moderator: Ibadat Dhillon
(Unit Head Primary Health Care, Human Resources for Health, and Traditional Complementary and Integrative Medicine, WHO SEARO)
PKMK-Jakarta. Sesi dialog kebijakan regional ini mempertemukan para pembuat kebijakan dan pakar kesehatan dari berbagai negara di kawasan Asia Tenggara dan Selatan untuk berbagi pengalaman terbaik (best practices) dalam mentransformasi layanan kesehatan primer (PHC). Diskusi dibuka oleh moderator dengan sorotan khusus dari WHO mengenai bagaimana akselerasi pertumbuhan penduduk lansia di Asia meningkat dari 7% ke 14% dari populasi hanya dalam waktu 2 dekade, jauh lebih cepat dari Kawasan lain. Oleh karena itu di kawasan Asia, transformasi Kesehatan berlangsung masif dan terjadi pergeseran yang mirip yaitu fokus pada layanan primer.
India – Kiran Gopal Vaska, CEO of India’s Ayushman Bharat Digital Mission & Additional CEO of National Health Authority Topik: Digital Health and Integrated Information System
Kiran menyampaikan sejumlah poin kunci diantaranya, India membagikan pengalamannya dalam membangun fondasi kesehatan digital nasional melalui Ayushman Bharat Digital Mission (ABDM). Sistem ini dirancang untuk menciptakan interoperabilitas data kesehatan secara mulus melalui penciptaan identitas kesehatan digital unik bagi setiap warga negara. Interoperabilitas menjadi kunci penting dalam transformasi Kesehatan di India yang semula berupa silo-silo. Kini, ada unique identifier di seluruh platform yang ada di sektor kesehatan. Hal ini memungkinkan pemerintah memiliki longitudinal health records untuk setiap anggota populasi, dan masyarakat juga bisa akses data mereka sendiri untuk melihat pola akses layanan kesehatan yang mereka lakukan, dan ringkasan (yang dibuat oleh AI) riwayat kesehatan mereka. Menariknya, data ini tersedia baik mereka mengakses layanan publik atau pun swasta. Integrasi informasi yang masif ini terbukti mampu memangkas birokrasi layanan, mempercepat rujukan, serta memastikan kesinambungan riwayat medis pasien dari fasilitas kesehatan tingkat pertama hingga lanjutan
Thailand – Dr. Tawaytibhongs Orawan, Deputy Director, Primary Care Support Division, Ministry of Public Health Thailand – Topik: Primary Health Care Reform and Universal Health Coverage
Tawaytibhongs menekankan keberhasilan Universal Health Coverage (UHC) sangat bergantung pada ketahanan layanan kesehatan primer di tingkat akar rumput. Reformasi PHC di Thailand berfokus pada penguatan peran jaringan relawan kesehatan desa yang berkolaborasi erat dengan tenaga medis profesional. Pendekatan ini digabungkan dengan tata layanan kesehatan primer sebelumnya. Hasilnya adalah model “3 Doctors” yang sarat dengan task-shifting. “Dokter pertama” sebenarnya adalah perawat atau kader Kesehatan desa, yang merupakan ujung tombak layanan berbasis komunitas. Apabila ada hal-hal yang mereka tidak bisa tangani, “dokter pertama” akan berkonsultasi dengan dokter kedua. Dokter kedua adalah dokter yang berbasis di faskes tingkat pertama. Sebagian fungsi dan wewenangnya didelegasikan kepada “dokter pertama”. Apabila ada hal-hal yang tidak bisa ditangani oleh dokter kedua, ia akan berkonsultasi dengan dokter ketiga. Dokter ketiga adalah dokter dengan spesialisasi family medicine. Pendekatan ini memastikan alokasi sumber daya yang adil, efisiensi pendanaan kesehatan, serta pendekatan preventif dan promotif yang menjangkau seluruh lapisan masyarakat secara merata.
Srilanka – Dr. S Kumarawansha, Director – Primary Care Services, Ministry of Health and Mass Media – Topik: Family medicine and comprehensive PHC
Kumarawansha memaparkan model pelayanan berbasis kedokteran keluarga (family medicine) sebagai inti dari layanan primer yang komprehensif. Hal ini dilakukan sebagai bagian dari pergeseran layanan primer yang terfragmentasi dan bersifat reaktif menjadi layanan yang berpusat pada masyarakat (people-centered), terintegrasi dan bersifat proaktif. Pendekatan ini menempatkan dokter keluarga dan tim medis sebagai kontak pertama yang berkesinambungan, tidak hanya menangani penyakit akut tetapi juga memantau kesehatan preventif jangka panjang keluarga. Srilanka menggunakan GIS mapping untuk melakukan utilisasi optimal dari klinik komunitas yang ada, upgrade (obat dan alkes layanan dasar + laboratorium diagnosis) dan melengkapinya dengan tim dokter keluarga. Masing-masing klinik bertanggungjawab atas 7000-10000 penduduk. Tim dibagi ke dua kelompok: tim layanan komunitas dan kunjungan rumah, dan tim berbasis faskes. Tim dokter keluarga di komunitas melakukan mapping kebutuhan populasinya, kemudian melakukan tim berbasis faskes menindaklanjuti dengan screening (PTM dan kanker untuk usia 30-an, dan skrining khusus lansia untuk usia 65an). Paket manfaat di-bundle untuk 17 paket layanan. Integrasi layanan komprehensif ini sukses menekan angka rujukan yang tidak perlu ke rumah sakit sekunder maupun tersier.
Dr. Eduardo P. Banzon, ADB
Topik: AI on the Frontline of Care: Lessons from Global Experience
Banzon memaparkan bagaimana teknologi kecerdasan buatan (AI) mulai mengubah lanskap layanan kesehatan primer secara global. AI di garis depan pelayanan terbukti membantu tenaga medis dalam mempercepat penegakan diagnosis awal, mengurangi kesalahan manusia, serta melakukan triase pasien secara efisien. Dukungan AI menjadi penting karena adanya layanan CKG akan meningkatkan beban penyedia layanan, sehingga AI di Indonesia harus diposisikan sebagai ‘penolong’ yang dapat mempercepat proses skrining, diagnosis, memberi rekomendasi tindakan, dan bahkan membantu proses pengambilan keputusan untuk dokter, serta mengurangi beban dokumentasi/pencatatan/pelaporan. ADB mendorong negara-negara di kawasan untuk mulai menyiapkan kerangka regulasi, infrastruktur etis, dan investasi strategis agar adopsi AI dapat diintegrasikan secara aman dan merata ke dalam sistem layanan primer.
Keynote Speech
Pembicara: Jend. Pol. (Purn.) Prof. Drs. H. Tito Karnavian, M.A., Ph.D. (Menteri Dalam Negeri RI)
Topik: Kepemimpinan Pemerintah Pemerintah Daerah dalam Mendukung Transformasi Pelayanan Kesehatan Primer
Menteri Dalam Negeri menekankan bahwa kepala daerah (Gubernur, Bupati, dan Wali Kota) memegang kendali kunci dalam memastikan keberhasilan transformasi layanan kesehatan primer di tingkat daerah. Kebijakan desentralisasi menuntut komitmen kepala daerah untuk mengintegrasikan program kesehatan nasional ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) dan penganggaran APBD yang berpihak pada preventif serta promotif.
Kementerian Dalam Negeri terus mendorong sinkronisasi pusat dan daerah agar fasilitas kesehatan tingkat pertama (Puskesmas, Pustu, hingga Posyandu) mendapatkan dukungan fiskal dan administratif yang memadai. Menteri Dalam Negeri berharap agar sektor Kesehatan terus melakukan perbaikan karena Presiden menunjukkan komitmen yang tinggi untuk meningkatkan kualitas masyarakat Indonesia.
Leaders Talk: Dari Komitmen ke Dampak
Moderator: dr. Widyastuti, MKM (Sekjen ADINKES)
Topik: Praktik Kepemimpinan Daerah dalam Memperkuat Pelayanan Kesehatan Primer
Sesi pleno ini menyoroti peran strategis kepemimpinan pemerintah pusat dan daerah dalam mengawal serta mengeksekusi transformasi layanan kesehatan primer (PHC) di Indonesia. Diskusi berfokus pada transisi dari sekadar komitmen politik menuju penciptaan dampak nyata di lapangan melalui sinergi lintas sektor, penguatan tata kelola pemerintahan daerah, serta optimalisasi sumber daya lokal. Diskusi berlangsung dalam format talkshow.
Perspektif kebijakan nasional
Panelis : dr. Benjamin Paulus Octavianus, Sp.P(K). (Wakil Menteri Kesehatan RI)
Wamenkes memaparkan peta jalan transformasi layanan primer yang bertumpu pada pendekatan siklus hidup manusia, digitalisasi layanan Posyandu, serta penguatan jejaring pelayanan hingga tingkat desa. Wamenkes menyampaikan beberapa prioritas Kementerian Kesehatan, misalnya peningkatan akses melalui pendirian RS di berbagai wilayah, upgrade peralatan Puskesmas, serta percepatan layanan preventif melalui cek kesehatan gratis.
Kolaborasi erat dengan Kementerian Dalam Negeri dan pemerintah daerah menjadi syarat mutlak agar standar pelayanan minimal (SPM) bidang kesehatan dapat tercapai secara merata di seluruh wilayah Indonesia.
DKI Jakarta: Inovasi Perkotaan dan Integrasi Layanan Megapolitan
Panelis: Ali Maulana Hakim (Asisten Kesra DKI Jakarta)
Beliau menyoroti tantangan unik pengelolaan kesehatan primer di wilayah perkotaan padat penduduk. Strategi difokuskan pada penguatan Puskesmas kelurahan, pemanfaatan ekosistem digital kesehatan terintegrasi, serta pelibatan aktif masyarakat urban dalam deteksi dini penyakit tidak menular (PTM). Komitmen Pemda DKI tercermin kuat di mana pada era efisiensi anggaran pun, Gubernur berpesan bahwa ini dikecualikan bagi pendidikan dan kesehatan melalui yang telah tepat sasaran.
Kota Bandung: Transformasi Berbasis Kolaborasi Digital dan Komunitas
Panelis: Muhammad Farhan, S.E. (Wali Kota Bandung, Prov. Jawa Barat)
Wali Kota Bandung membagikan praktik baik pemanfaatan teknologi informasi untuk memangkas antrean dan mempermudah akses layanan kesehatan primer bagi warga perkotaan melalui pemanfaatan kerjasama dengan swasta. Namun, tantangannya adalah beban kualitas Kesehatan lingkungan wilayah perkotaan yang belum optimal. Beliau mengakui bahwa sampai saat ini satuannya hanya berani mengukur kualitas udara, sementara kualitas air belum. Dan beliau juga mengakui bahwa salah satu dampaknya adalah stunting yang tinggi. Selain itu, beliau menyadari peran commercial determinant of health di perkotaan, salah satunya adalah kuliner di Bandung yang memberi dampak risiko PTM tinggi, sehingga diinisiasi kegiatan olahraga di sekolah ditingkatkan dari sekali seminggu menjadi 3 kali seminggu. Tingginya kerentanan lansia dan disabilitas juga membuat Kota Bandung memberi perhatian khusus pada layanan kesehatan jiwa, serta dukungan kebijakan sosial.
Kabupaten Dharmasraya: Mengatasi Tantangan Geografis dan Akses Perdesaan
Panelis: Annisa Suci Ramadhani, SH., LL.M (Bupati Dharmasraya, Prov. Sumatera Barat)
Bupati Dharmasraya menggarisbawahi pentingnya pemerataan infrastruktur kesehatan dasar untuk menjangkau masyarakat di wilayah kabupaten yang luas dan menantang secara geografis. Keberhasilan daerah ini didorong oleh alokasi anggaran yang tepat sasaran, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan di Puskesmas pembantu (Pustu), serta pendekatan jemput bola ke masyarakat.
Kabupaten Banyuwangi: Inovasi Pelayanan Publik dan Integrasi Posyandu
Panelis: Hj. Ipuk Fiestiandani, S.Pd., M.KP. (Bupati Banyuwangi, Prov. Jawa Timur)
Bupati Banyuwangi memaparkan keberhasilan program integrasi layanan primer yang berfokus pada penanganan stunting dan peningkatan layanan kesehatan ibu dan anak melalui inovasi berbasis digital di tingkat desa. Konsistensi kepemimpinan lokal dan keterlibatan aktif organisasi masyarakat terbukti mampu mengubah Posyandu menjadi pusat layanan kesehatan preventif yang modern dan adaptif.
Reporter:
dr. Garin Frige Janitra dan Shita Dewi (PKMK FKKMK UGM)
Sesi Pleno I
Model Pelayanan Kesehatan Primer Terintegrasi
Peta Jalan dan Kemajuan Implementasi Integrasi Pelayanan Kesehatan Primer
(Moderator: Prof. dr. Ari Natalia Probandari, MPH, Ph.D – Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret)
Implementasi Integrasi Pelayanan Kesehatan Primer (ILP) telah memasuki fase yang semakin penting. Setelah diperkenalkan sebagai salah satu strategi utama Transformasi Sistem Kesehatan Indonesia, berbagai daerah mulai menerjemahkan konsep tersebut ke dalam praktik pelayanan sehari-hari. Namun, bagaimana kemajuan implementasinya? Apa tantangan yang dihadapi daerah? Dan bagaimana memastikan integrasi benar-benar menghasilkan pelayanan yang lebih berpusat pada masyarakat?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi pembuka Sesi Pleno I yang dimoderatori oleh Prof. dr. Ari Natalia Probandari, MPH, Ph.D. Dalam pengantarnya, Prof. Ari menekankan bahwa implementasi ILP kini tidak lagi berhenti pada tataran kebijakan, tetapi telah memasuki fase pembelajaran implementasi (implementation learning). Berbagai daerah telah mulai mengembangkan model pelayanan kesehatan primer yang terintegrasi dengan karakteristik dan tantangan yang berbeda-beda. Oleh karena itu, pembelajaran dari pengalaman lapangan menjadi sangat penting untuk memperkaya kebijakan nasional sekaligus mempercepat adopsi praktik baik di berbagai wilayah Indonesia.
Keynote Speech
dr. Elvieda Sariwati, M.Epid. – Direktur Tata Kelola Pelayanan Kesehatan Primer, Kementerian Kesehatan RI
Mengawal Transformasi Pelayanan Kesehatan Primer: Capaian dan Arah ILP
Membuka sesi pleno, dr. Elvieda Sariwati memaparkan arah implementasi ILP sebagai bagian dari transformasi sistem kesehatan Indonesia. Pihaknya menegaskan bahwa perubahan model pelayanan kesehatan primer bukan sekadar penyederhanaan layanan, melainkan respons terhadap perubahan pola penyakit dan tantangan kesehatan yang dihadapi Indonesia.
Berdasarkan berbagai hasil survei nasional, termasuk Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS), Indonesia mengalami pergeseran pola kematian. Jika sebelumnya perhatian lebih banyak tertuju pada penurunan angka kematian ibu dan bayi, kini beban kematian semakin didominasi oleh kelompok usia dewasa dan lanjut usia akibat penyakit tidak menular. Perubahan epidemiologi ini juga berdampak pada meningkatnya pembiayaan kesehatan yang harus ditanggung sistem kesehatan nasional.
Menurut dr. Elvieda, kondisi tersebut tidak dapat diatasi hanya dengan memperkuat pelayanan kuratif. Sebaliknya, Indonesia perlu membangun sistem kesehatan yang lebih berorientasi pada upaya promotif dan preventif, dengan pelayanan kesehatan primer sebagai fondasi utama.
“Pelayanan kesehatan primer merupakan titik kontak pertama masyarakat dengan sistem kesehatan. Oleh karena itu, penguatan layanan primer menjadi investasi jangka panjang untuk membangun sistem kesehatan yang tangguh,”jelasnya.
Dalam konteks tersebut, ILP mengubah paradigma pelayanan dari pendekatan berbasis program (programme-based services) menjadi pelayanan yang berorientasi pada siklus hidup (life-course approach). Melalui pendekatan ini, masyarakat diharapkan memperoleh pelayanan yang lebih komprehensif sesuai kebutuhan kesehatannya pada setiap fase kehidupan, tanpa terfragmentasi oleh berbagai program vertikal.
Transformasi tersebut juga memerlukan perubahan cara kerja di tingkat pelayanan. Tidak hanya memperkuat kapasitas tenaga kesehatan, tetapi juga membangun pelayanan berbasis tim, memperkuat pemberdayaan kader kesehatan, serta mengoptimalkan jejaring pelayanan mulai dari Posyandu, Pustu, hingga Puskesmas.
Sebagai landasan implementasi, Kementerian Kesehatan telah menerbitkan Permenkes Nomor 19 Tahun 2024 tentang Penyelenggaraan Pusat Kesehatan Masyarakat, yang menjadi dasar operasional pelaksanaan ILP di seluruh Indonesia. Regulasi tersebut diharapkan mampu mendorong penyelenggaraan Upaya Kesehatan Berbasis Siklus Hidup secara lebih terintegrasi, sekaligus memberikan fleksibilitas bagi daerah untuk menyesuaikan implementasi dengan konteks lokal masing-masing.
Menutup paparannya, dr. Elvieda menekankan bahwa penguatan ILP bukan sekadar program jangka pendek, melainkan investasi strategis untuk membangun ketahanan sistem kesehatan Indonesia. Keberhasilan implementasinya sangat bergantung pada kemampuan pemerintah pusat dan daerah dalam menjaga keberlanjutan kebijakan, memperkuat kolaborasi lintas sektor, serta memastikan bahwa transformasi pelayanan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.
Dr. dr. Trihono, M.Sc – Coordinator Primary Health Care (PHC) Consortium
Pemetaan Capaian Indeks ILP di Indonesia: Analisis Ranking Kabupaten/Kota
Melengkapi paparan mengenai arah kebijakan nasional, Dr. dr. Trihono, M.Sc. memperkenalkan Indeks Integrasi Pelayanan Kesehatan Primer (Indeks ILP) sebagai instrumen untuk mengukur sejauh mana implementasi ILP telah berjalan di tingkat kabupaten/kota maupun Puskesmas.
Menurutnya, transformasi pelayanan kesehatan memerlukan sistem pemantauan yang mampu menunjukkan perkembangan implementasi secara objektif dan terukur. Oleh karena itu, Indeks ILP dikembangkan dengan memanfaatkan indikator-indikator yang tidak hanya mencerminkan pilar-pilar utama ILP, tetapi juga tersedia secara rutin dalam sistem informasi kesehatan nasional sehingga dapat diperbarui setiap tahun.
Namun demikian, penyusunan indeks tersebut tidak terlepas dari berbagai tantangan. Salah satu kendala utama adalah belum tersedianya sebagian indikator proses di tingkat nasional, sehingga pengukuran lebih banyak menggunakan indikator keluaran (output indicators) yang telah terdokumentasi secara konsisten, seperti cakupan imunisasi dasar lengkap dan indikator pelayanan kesehatan primer lainnya.
Meski demikian, Dr. Trihono menegaskan bahwa keberadaan Indeks ILP merupakan langkah penting dalam membangun budaya pengambilan keputusan berbasis data. Indeks ini diharapkan bukan hanya menjadi alat monitoring dan evaluasi implementasi ILP, melainkan juga dapat dimanfaatkan sebagai dasar pembelajaran antar daerah, penyusunan kebijakan, hingga pemberian apresiasi bagi pemerintah daerah yang berhasil mempercepat transformasi pelayanan kesehatan primer.
Lebih jauh, pihaknya menekankan bahwa keberhasilan implementasi ILP tidak cukup diukur dari keberadaan regulasi ataupun jumlah kegiatan yang dilaksanakan, namun sejauh mana integrasi pelayanan mampu menghasilkan pelayanan kesehatan yang lebih efektif, efisien, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat di sepanjang siklus kehidupannya
Talkshow – Suara dari Lapangan: Tantangan dan Inovasi Implementasi ILP
Setelah memperoleh gambaran mengenai arah kebijakan nasional dan perkembangan implementasi ILP melalui dua keynote speech, sesi pleno dilanjutkan dengan talkshow bertajuk “Suara dari Lapangan: Tantangan dan Inovasi Implementasi ILP.” Berbeda dengan sesi sebelumnya yang berfokus pada kebijakan dan pengukuran implementasi, diskusi ini menghadirkan pengalaman nyata dari pemerintah daerah dan Puskesmas dalam menerjemahkan konsep Integrasi Pelayanan Kesehatan Primer ke dalam praktik sehari-hari.
Meskipun berasal dari wilayah dengan karakteristik geografis, kapasitas sumber daya, dan tantangan yang sangat beragam, para narasumber menyampaikan pesan yang serupa. Keberhasilan implementasi ILP tidak hanya ditentukan oleh tersedianya regulasi, tetapi juga oleh kepemimpinan daerah, kemampuan beradaptasi terhadap kondisi lokal, penguatan jejaring layanan, serta kolaborasi lintas sektor yang berkelanjutan.
Dr. dr. Agus, M.Kes, Sp.KKLP
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tengah
Mengawali diskusi, Dr. dr. Agus menggambarkan kompleksitas implementasi ILP di Provinsi Papua Tengah. Menurutnya, tantangan terbesar bukan hanya berasal dari keterbatasan fasilitas kesehatan, melainkan juga kondisi geografis yang menyebabkan akses pelayanan kesehatan dan distribusi logistik menjadi jauh lebih sulit dibandingkan banyak daerah lain di Indonesia.
Selain tantangan geografis, rendahnya jumlah Puskesmas yang telah terakreditasi juga berdampak pada keterbatasan sumber daya manusia kesehatan, terutama tenaga dokter. Kondisi tersebut berimplikasi pada kapasitas fasilitas kesehatan dalam menjalankan pelayanan yang terintegrasi sesuai prinsip ILP.
Namun demikian, keterbatasan tersebut tidak menjadi alasan untuk menghentikan transformasi pelayanan kesehatan primer. Dengan dukungan pemerintah daerah, Papua Tengah mulai menerjemahkan kebijakan ILP ke dalam berbagai strategi yang disesuaikan dengan kondisi lokal. Komitmen pemerintah daerah menjadi modal penting untuk memastikan bahwa integrasi pelayanan tetap dapat berjalan, meskipun menghadapi tantangan geografis yang tidak sederhana.
dr. Cristin Englin W. Liu
Kepala UPT Puskesmas Niki-Niki, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Timur
Pengalaman serupa juga disampaikan oleh dr. Cristin Englin W. Liu, yang menceritakan perjalanan implementasi ILP di Puskesmas Niki-Niki. Puskesmas ini telah menjadi lokasi uji coba Posyandu ILP sejak 2022, sehingga telah melalui berbagai proses penyesuaian seiring berkembangnya petunjuk teknis implementasi.
Hingga saat ini, baru 16 dari 30 Posyandu yang berhasil menerapkan pendekatan siklus hidup. Rendahnya cakupan tersebut tidak terlepas dari tantangan yang dihadapi wilayah pelayanan, mulai dari sulitnya akses geografis hingga keterbatasan tenaga kesehatan. Puskesmas hanya memiliki satu dokter yang sekaligus menjabat sebagai kepala puskesmas, didukung oleh satu tenaga promosi kesehatan, tanpa dokter gigi maupun analis kesehatan.
Dalam kondisi tersebut, keberhasilan implementasi ILP sangat bergantung pada kemampuan membangun kolaborasi dengan pemerintah desa dan masyarakat. Puskesmas secara aktif memperkuat koordinasi dengan kepala desa untuk meningkatkan pemahaman mengenai ILP, termasuk mendorong dukungan terhadap kader kesehatan yang selama ini masih menghadapi keterbatasan insentif. Selain itu, penempatan tenaga PPPK kesehatan di Puskesmas Pembantu (Pustu) menjadi salah satu solusi untuk memperkuat pelayanan di wilayah yang sulit dijangkau.
Pengalaman ini menunjukkan bahwa keberhasilan implementasi ILP di daerah terpencil ditentukan tidak hanya oleh ketersediaan sumber daya, tetapi juga oleh kapasitas untuk beradaptasi dan membangun kolaborasi dengan berbagai pihak di tingkat lokal.
dr. Karyadi
Kepala Puskesmas Plantungan, Kabupaten Kendal, Provinsi Jawa Tengah
Berbeda dengan tantangan geografis yang dihadapi Papua Tengah maupun Timor Tengah Selatan, dr. Karyadi menyoroti perubahan budaya organisasi sebagai faktor utama dalam implementasi ILP.
Menurutnya, keberhasilan transformasi tidak cukup hanya dengan menerbitkan kebijakan. Dibutuhkan komitmen bersama dari pemerintah daerah, dinas kesehatan, hingga seluruh tenaga kesehatan di Puskesmas untuk mengubah cara kerja yang sebelumnya berorientasi pada program-program vertikal menjadi pelayanan yang terintegrasi berdasarkan siklus hidup.
dr Karyadi menjelaskan bahwa proses adaptasi di Puskesmas Plantungan berlangsung relatif cepat. Dalam waktu sekitar 20 hari setelah mempelajari petunjuk teknis, seluruh tim mulai menerapkan pendekatan baru melalui penataan ulang pembagian tugas sesuai klaster siklus hidup, pelaksanaan pelatihan internal, serta penguatan komunikasi rutin antar petugas.
Perubahan tersebut tidak hanya berdampak pada organisasi pelayanan, tetapi juga mengubah cara pandang terhadap keberhasilan pelayanan kesehatan. Jika sebelumnya pencapaian lebih banyak diukur melalui target program, implementasi ILP mendorong tenaga kesehatan untuk lebih berfokus pada hasil kesehatan masyarakat (outcome). Menurutnya, transformasi tersebut hanya dapat berjalan apabila didukung oleh sistem informasi kesehatan yang terintegrasi serta kolaborasi lintas sektor yang kuat.
dr. Hari Pratono, M.Kes
Kepala Puskesmas Berbah, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
Menutup sesi diskusi, dr. Hari Pratono menunjukkan bahwa transformasi pelayanan kesehatan primer juga dapat dipercepat melalui inovasi digital yang lahir dari tingkat Puskesmas.
dr Hari menjelaskan bahwa implementasi ILP di Puskesmas Berbah menghadapi tantangan yang umum dijumpai di banyak daerah, seperti keterbatasan sumber daya manusia, kompleksitas pencatatan pelayanan, integrasi data, serta kebutuhan peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dan kader.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Puskesmas Berbah mengembangkan Sistem Pencatatan Terpadu Puskesmas Berbah (SITAPANDU PUBER), sebuah inovasi yang mendigitalisasi proses pencatatan Posyandu sehingga kader tidak lagi harus mengisi berbagai format pelaporan secara manual. Sistem ini juga dilengkapi notifikasi apabila ditemukan ketidaksesuaian data, sekaligus memungkinkan pemerintah desa dan kecamatan mengakses informasi secara lebih cepat untuk mendukung pengambilan keputusan.
Selain itu, Puskesmas Berbah mengembangkan KARO KASEH, sebuah sistem digital yang mendukung pelaksanaan kunjungan rumah secara lebih efektif melalui pelaporan real-time dan mekanisme penyelesaian masalah yang lebih cepat.
Sesi Pleno II
Digitalisasi Integrasi Layanan Primer
Digitalisasi Pelayanan Kesehatan Primer – Kebijakan, Inovasi, dan Implementasi di Indonesia
(Moderator: Hon. Associate Prof. Dewi Nur Aisyah, SKM, MSc, DIC, PhD – Head of Operations Kesprimkom P2, TTDK Kemenkes RI)
Pada pembukaan sesi, moderator menekankan bahwa transformasi digital kesehatan di Indonesia merupakan proses yang terus berkembang, bahkan mengalami percepatan sejak pandemi COVID-19. Pengembangan SATUSEHAT sebagai ekosistem data kesehatan nasional diarahkan untuk mewujudkan keterhubungan antar sistem informasi kesehatan melalui interoperabilitas. Transformasi tersebut merupakan perjalanan jangka panjang yang membutuhkan kolaborasi lintas sektor, standardisasi, serta penguatan tata kelola agar manfaat digitalisasi dapat dirasakan secara optimal oleh seluruh pemangku kepentingan.
Keynote Speech
Eko Sulistijo, SH, MT – Kepala Pusat Data dan Teknologi Informasi, Kemenkes RI
Transformasi Sistem Informasi Kesehatan untuk Mendukung Integrasi Pelayanan Kesehatan Primer (ILP)
Eko Sulistijo, SH, MT menjelaskan bahwa digitalisasi merupakan fondasi yang menopang seluruh enam pilar Transformasi Kesehatan Indonesia. Meskipun Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) menjadi salah satu pilar tersendiri, perannya sesungguhnya melintasi seluruh transformasi melalui penyediaan standar dan integrasi sistem informasi kesehatan. Tantangan implementasi masih dihadapi, baik dari aspek regulasi maupun kesiapan sumber daya manusia. Melalui regulasi terbaru yang diterbitkan pada 2024, pemerintah menegaskan bahwa penerapan sistem informasi kesehatan merupakan kebutuhan yang bersifat wajib, bukan lagi pilihan. Pihaknya juga memaparkan berbagai upaya penyederhanaan aplikasi kesehatan melalui konsolidasi sistem, termasuk pengembangan ASIK-CKG dan SIMPUS agar lebih efisien dan terstandarisasi. Saat ini sekitar 92% Puskesmas telah mengirimkan data melalui Rekam Medis Elektronik (RME), meskipun kualitas dan kelengkapan pencatatan masih menjadi ‘pekerjaan rumah’. Selain itu, ia menyoroti pentingnya penguatan kapasitas SDM teknologi informasi di fasilitas pelayanan primer untuk mendukung keamanan siber dan keberlanjutan implementasi sistem. Kolaborasi dengan BPJS Kesehatan juga terus diperkuat guna mewujudkan ekosistem digital yang semakin terintegrasi, sederhana, dan mampu mengurangi duplikasi data tenaga kesehatan maupun pasien.
Setiaji, ST, M.Si – Direktur Teknologi Informasi BPJS Kesehatan
Integrasi Ekosistem Digital JKN untuk Mendukung Transformasi Pelayanan Kesehatan Primer
Setiaji, ST, M.Si mengawali paparannya dengan menyoroti tingginya beban administratif yang masih dihadapi fasilitas kesehatan akibat banyaknya aplikasi yang harus digunakan secara bersamaan. Kondisi tersebut menyebabkan duplikasi input data oleh tenaga kesehatan, menurunkan kualitas data, serta memperpanjang waktu pelayanan kepada pasien. Menurutnya, sebagian besar aplikasi dikembangkan berdasarkan kebutuhan pelaporan program atau penyakit tertentu, sehingga belum mendukung pelayanan yang terintegrasi. Tantangan serupa juga masih ditemui pada ekosistem digital BPJS Kesehatan, termasuk Mobile JKN yang saat ini masih berbasis poli dan belum sepenuhnya mendukung pendekatan layanan berbasis klaster dalam ILP. Sebagai solusi, BPJS Kesehatan bersama Kementerian Kesehatan dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tengah mendorong implementasi kebijakan “No RME, No Claim” sebagai strategi percepatan adopsi Rekam Medis Elektronik secara nasional. Dengan RME yang terintegrasi, data pelayanan diharapkan cukup dicatat satu kali dan dapat dimanfaatkan oleh berbagai pihak tanpa perlu penginputan ulang pada aplikasi lain. Selain memperkuat interoperabilitas antar sistem, BPJS juga terus mengembangkan aplikasi P-Care agar dapat dimanfaatkan oleh fasilitas kesehatan yang belum memiliki SIMPUS. Setiaji menekankan bahwa tujuan akhir transformasi digital bukan sekadar digitalisasi pencatatan, melainkan membangun ekosistem layanan kesehatan yang lebih efisien, saling terhubung, dan berorientasi pada kebutuhan pasien.
Talkshow – Inovasi Digital dari Akar Rumput: Praktik Baik Dinas Kesehatan dan Puskesmas
dr. Achmad Rheza, Sp.OG., Subsp, F.E.R – Kepala Dinas Kesehatan Kota Mojokerto, Provinsi Jawa Timur
Praktik Baik Digitalisasi Pelayanan Kesehatan di Kota Mojokerto
Achmad Rheza, Sp.OG., Subsp, F.E.R memaparkan pengalaman Kota Mojokerto dalam mengembangkan inovasi digital yang berawal dari upaya menurunkan angka kematian ibu dan bayi. Berangkat dari tantangan pelayanan kesehatan maternal dan neonatal, Pemerintah Kota Mojokerto mengembangkan aplikasi GAYATRI, sebuah sistem terpadu yang mendukung pemantauan kesehatan ibu dan bayi, pelaksanaan program triple eliminasi, hingga perluasan layanan seperti Pemeriksaan Kesehatan Gratis. Inovasi ini memungkinkan pemerintah daerah memantau kondisi kesehatan masyarakat secara lebih komprehensif dan memberikan intervensi yang lebih tepat sasaran. Selain penguatan sistem digital, keberhasilan implementasi juga didukung oleh peran kader kesehatan PRAMESWARI yang aktif melakukan pemantauan kesehatan masyarakat di tingkat komunitas. Menurutnya, komitmen kuat pemerintah daerah, koordinasi lintas sektor, serta kerja sama seluruh pemangku kepentingan menjadi faktor penting dalam keberhasilan transformasi digital di Mojokerto. Berbagai inovasi tersebut telah berkontribusi pada penurunan prevalensi stunting dan menghasilkan penghargaan berupa insentif fiskal bagi Kota Mojokerto.
dr. Carlof, M.MRS, MQM – Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat
SIAGA PRIMA KSB: Sistem Integrasi dan Akselerasi Gerakan Primer Berbasis Risiko
Carlof, M.MRS, MQM menjelaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat mengembangkan program KSB Maju Kesehatan, yaitu sistem layanan terintegrasi berbasis keluarga yang menghubungkan berbagai pelayanan kesehatan dalam satu aplikasi. Melalui Kartu KSB Maju yang dilengkapi QR Code, setiap keluarga dapat mengakses berbagai layanan kesehatan serta bantuan pembiayaan secara lebih mudah. Sistem ini juga terintegrasi dengan Tim Reaksi Cepat (TRC), sehingga setiap laporan masyarakat dapat langsung dicatat dan ditindaklanjuti melalui aplikasi. Hingga saat ini, lebih dari 22 ribu masyarakat telah memperoleh manfaat dari inovasi tersebut. Keberhasilan implementasi KSB Maju kemudian menjadi fondasi pengembangan SIAGA PRIMA, yang dibangun atas tiga pilar utama, yaitu SIAGA Layanan, SIAGA Sistem, dan SIAGA Data. Data risiko kesehatan masyarakat dikumpulkan dan divisualisasikan melalui dashboard digital yang mendukung pengambilan keputusan secara cepat. Ke depan, Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat berencana mengembangkan Command Center sebagai pusat kendali layanan berbasis data sehingga informasi risiko dapat segera diterjemahkan menjadi intervensi pelayanan kesehatan yang lebih responsif dan tepat sasaran.
Oktovina Alfrida Reba, S.ST., M.Kes – Kepala Puskesmas Arso 3, Kab. Keerom, Provinsi Papua
Melalui ILP: Memperkuat Puskesmas Melayani Masyarakat
Oktovina Alfrida Reba, S.ST., M.Kes membagikan pengalaman Puskesmas Arso 3 sebagai salah satu lokasi percontohan Implementasi Integrasi Layanan Primer (ILP) pada tahun 2022–2023. Setelah pendampingan dari Kementerian Kesehatan, penguatan kapasitas dilanjutkan melalui dukungan PATH pada tahun 2024, terutama dalam pembentukan dan pengembangan kader kesehatan. Seluruh kader memperoleh pelatihan 25 kompetensi dasar dan diformalkan melalui kerja sama dengan pemerintah kampung, sehingga mampu menjalankan fungsi pendataan, skrining kesehatan, pelayanan Posyandu, hingga kunjungan rumah secara lebih sistematis. Oktovina juga memperkenalkan penggunaan aplikasi KaderKita sebagai sarana pencatatan dan pemantauan kegiatan kader. Aplikasi tersebut terbukti membantu Puskesmas dalam mengidentifikasi kebutuhan masyarakat serta menjadi dasar penyusunan Rencana Usulan Kegiatan (RUK). Namun demikian, hingga saat ini KaderKita belum terintegrasi dengan Rekam Medis Elektronik (RME) di Puskesmas sehingga tenaga kesehatan masih menghadapi beban duplikasi pencatatan. Meski demikian, implementasi ILP telah memberikan dampak positif terhadap peningkatan capaian Standar Pelayanan Minimal (SPM), yang menjadikan Puskesmas Arso 3 sebagai salah satu Puskesmas dengan capaian terbaik di Kabupaten Keerom. Sebagai penutup, ia menyampaikan pesan inspiratif, “ILP terbang tinggi, Cenderawasih terbang rendah; berdiri sama tinggi, duduk sama rendah,” sebagai simbol semangat kolaborasi dalam mewujudkan pelayanan kesehatan primer yang inklusif.
Rohyani Tri Rahayu, SKM, MM – Kepala Puskesmas Purbalingga, Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah
Praktik Baik Digitalisasi di Puskesmas Purbalingga
Rohyani Tri Rahayu, SKM, MM membuka paparannya dengan menggambarkan tantangan digitalisasi di fasilitas pelayanan primer, di mana jumlah aplikasi yang harus digunakan bahkan melebihi jumlah pegawai yang tersedia. Untuk menjawab tantangan tersebut, Puskesmas Purbalingga bersama Dinas Kesehatan mengimplementasikan SPHERES sebagai platform yang mendukung penguatan pelayanan kesehatan masyarakat melalui pemanfaatan data secara real-time. Inisiatif ini bukan hanya meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan dalam mengelola dan menganalisis data, melainkan juga mempercepat penyebaran pengetahuan untuk mendukung perumusan kebijakan di tingkat lokal hingga nasional. Rohyani menjelaskan bahwa implementasi SPHERES didukung oleh berbagai inovasi, seperti Public Health Data Theater (PHDT), dashboard SPHERES yang menampilkan indikator-indikator kinerja utama, serta forum DOJO Shinjitsu, yaitu diskusi intelektual berbasis data untuk mengevaluasi pelayanan kesehatan dan mendorong pengambilan keputusan yang lebih objektif. Upaya peningkatan kualitas data juga dilakukan melalui sosialisasi, kalibrasi, serta monitoring pengumpulan data secara berkala. Hasilnya, kualitas data klinis meningkat dan mendukung perbaikan diagnosis hipertensi sebagai tindak lanjut program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Selain itu, pemanfaatan teknologi Optical Character Recognition (OCR) dan aplikasi KuApps turut mempercepat proses pencatatan dan pengelolaan data di Puskesmas.
Titin Sumarni, S.ST., SKM., Bdn., M.Kes – Bidan Koordinator Puskesmas Karangpawitan, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat
Praktik Baik Digitalisasi di Puskesmas Karangpawitan
Titin Sumarni, S.ST., SKM., Bdn., M.Kes memaparkan bahwa digitalisasi di Puskesmas Karangpawitan lahir dari kebutuhan untuk mengatasi berbagai hambatan operasional, seperti proses pencatatan yang masih manual, data yang tersebar dan terfragmentasi, serta kebutuhan pencetakan dokumen yang berulang. Sebagai solusi, Puskesmas mengembangkan pemanfaatan KuApps, sebuah aplikasi yang dapat digunakan baik secara daring maupun luring (offline), sehingga tetap mendukung pencatatan layanan meskipun di wilayah dengan keterbatasan jaringan internet. Penggunaan aplikasi ini juga menyederhanakan pelaporan Posyandu, sehingga kader dapat lebih fokus pada pelayanan dan interaksi langsung dengan masyarakat. Ia menjelaskan bahwa sebelum pelaksanaan Posyandu, bidan dan kader terlebih dahulu berkoordinasi untuk menetapkan sasaran pelayanan, sementara proses edukasi dan pemantauan masyarakat dilakukan melalui grup WhatsApp, termasuk untuk skrining kesehatan dan kepatuhan konsumsi obat. Digitalisasi memungkinkan data tersedia secara real-time sehingga mendukung pengambilan keputusan yang lebih cepat, baik di tingkat Posyandu maupun Puskesmas. Selain itu, pembentukan grup respons cepat untuk pemantauan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) memperkuat tindak lanjut terhadap kasus-kasus prioritas. Meskipun wilayah kerja memiliki tantangan geografis yang berat, cakupan digitalisasi telah mencapai sekitar 95% dan terbukti meningkatkan efektivitas pelayanan kesehatan di Posyandu.
Peran PKMK UGM dalam Diseminasi Hasil Riset pada Leimena Conference 2026
Pada hari ke-2, Universitas Gadjah Mada, melalui Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK-KMK UGM, turut mengambil peran strategis dalam The Leimena Conference 2026 dengan menyampaikan sejumlah paparan hasil riset dan pendampingan kebijakan kesehatan.
Shita Listya Dewi, S.IP, MM, MPP
Konsep dan Pelaksanaan Mekanisme Umpan Balik Kebijakan dalam Evaluasi Kebijakan Berbasis Bukti – Sesi Paralel Kebijakan Berbasis Bukti, Peran Riset dalam ILP
Shita Listya Dewi tampil dalam Sesi Paralel “Kebijakan Berbasis Bukti: Peran Riset dalam ILP” membawakan topik Konsep dan Pelaksanaan Mekanisme Umpan Balik Kebijakan dalam Evaluasi Kebijakan Berbasis Bukti. Paparan ini menyoroti tantangan koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah di era desentralisasi, serta menawarkan usulan mekanisme umpan balik kebijakan melalui BKPK yang melibatkan penguatan ekosistem Health System and Policy Research Institutions (HPSRI). Gagasan tersebut dikembangkan dan diinisiasi oleh Results for Development (R4D) bekerja sama dengan UGM dan Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) sebagai upaya memperkuat ekosistem riset kebijakan berbasis bukti. Inisiatif ini bertujuan membangun mekanisme yang mampu menjembatani pembelajaran dari implementasi kebijakan di daerah agar dapat diterjemahkan secara sistematis ke dalam proses perumusan kebijakan di tingkat nasional.
Dalam paparannya, Shita memaparkan hasil analisis situasi di Jawa Barat, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Barat, sekaligus memperkenalkan instrumen penilaian yang mencakup empat dimensi yakni translasi, implementasi, evaluasi, dan komunikasi kebijakan, yang saat ini tengah diujicobakan. Instrumen tersebut diharapkan dapat menjadi jembatan agar pengalaman dan masukan implementasi dari daerah mengalir secara terinstitusionalisasi ke tingkat nasional, sehingga menghasilkan kebijakan yang lebih adaptif, responsif, dan berakar pada bukti lapangan.
Muhammad Asrullah, MPH, Ph.D
Penguatan Keberlanjutan Siaga Prima Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat – Sesi Paralel Adopsi Implementasi ILP melalui dukungan Health System Insight
Muhammad Asrullah membawakan paparan Penguatan Keberlanjutan SIAGA PRIMA Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat dalam Sesi Paralel “Adopsi Implementasi ILP melalui Dukungan Health System Insight”. Paparan ini menampilkan model ekosistem “Data–Keputusan–Aksi” yang mengubah bank data (MATASIDIK) menjadi keputusan lapangan konkret melalui analisis ARRIMES, penganggaran berbasis kebutuhan PRASANA, hingga penjangkauan proaktif TRC Ambulans, selain itu Asrullah juga menekankan pentingnya keputusan kelembagaan dan anggaran agar keberlanjutan program tidak sekadar bersifat aspirasional.
Likke Prawidya Putri, MPH, Ph.D
Panelist dari Integrated Panel Discussion: Decoding Decentralization – Lessons from PHC Strengthening in NTB – Sesi Paralel Decoding Decentralization for Better Essential Health Service Delivery: Lessons from PHC Strengthening in NTB
Likke Prawidya Putri, MPH, Ph.D., berperan sebagai salah satu panelis yang memaparkan hasil evaluasi program penguatan pelayanan kesehatan primer di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dan empat kabupaten. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program berhasil meningkatkan kapasitas dalam perencanaan, tata kelola, dan pengelolaan BLUD, serta mendorong inovasi pelayanan di tingkat puskesmas. Namun, keberlanjutan implementasi memerlukan dukungan pemerintah daerah melalui regulasi, penguatan SDM, pembiayaan, dan supervisi yang berkelanjutan agar dampaknya dapat dirasakan secara merata.
Reporter:
Muhammad Asrullah & Dhea Keyle Fortunandha (PKMK FK-KMK UGM)
Sesi Pleno III
Pembiayaan Integrasi Pelayanan Kesehatan Primer (ILP)
Mewujudkan Pelayanan Kesehatan Primer yang Kuat Melalui Pendanaan yang Berkelanjutan
(Moderator: Ery Setiawan, S.K.M., M.E., Ph.D., AAK)
Mengawali sesi, moderator menjelaskan bahwa keberhasilan implementasi Integrasi Layanan Primer (ILP) ditopang oleh tiga domain utama. Pertama, perubahan paradigma pelayanan kesehatan, dari pendekatan yang sebelumnya berorientasi pada penyakit dan layanan per poli menjadi pelayanan yang holistik, berpusat pada individu, serta berorientasi pada siklus hidup. Kedua, perubahan struktur organisasi dan tata kelola layanan di tingkat Puskesmas, Puskesmas Pembantu (Pustu), dan Posyandu agar mampu mendukung model layanan yang lebih terintegrasi. Ketiga, penguatan Pemantauan Wilayah Setempat (PWS) sebagai instrumen untuk memantau kondisi kesehatan masyarakat dan menjadi dasar pengambilan keputusan berbasis data. Pihaknya menekankan bahwa ketiga domain tersebut memerlukan dukungan pembiayaan yang memadai agar dapat diimplementasikan secara efektif dan berkelanjutan. Oleh karena itu, aspek pendanaan menjadi elemen strategis yang tidak hanya menopang operasional layanan, tetapi juga memastikan transformasi pelayanan kesehatan primer dapat berjalan secara optimal dan memberikan dampak yang berkelanjutan bagi masyarakat.
Keynote Speech
Diah Lenggogeni, ST, M.Sc – Direktur Kesehatan dan Gizi Masyarakat BAPPENAS
Strategi Nasional Pembiayaan Pelayanan Kesehatan Primer Berkelanjutan
Diah Lenggogeni, ST, M.Sc. memaparkan tren anggaran kesehatan Indonesia dalam lima tahun terakhir. Belanja negara di sektor kesehatan terus mengalami peningkatan sekitar, dengan lonjakan yang lebih signifikan pada periode 2024–2026. Selain itu, porsi belanja kesehatan terhadap APBN juga meningkat. Peningkatan ini mencerminkan komitmen pemerintah dalam memperkuat sistem kesehatan nasional sekaligus mendukung agenda prioritas, termasuk program pemenuhan gizi. Di sisi lain, pihaknya juga menyoroti adanya perubahan komposisi pembiayaan kesehatan. Alokasi Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik Kesehatan menunjukkan tren penurunan secara bertahap hingga sekitar Rp1,8 triliun pada 2026, sementara DAK Non Fisik Kesehatan tetap relatif stabil di kisaran Rp12,68 triliun. Kondisi ini menunjukkan adanya pergeseran fokus pendanaan dari pembangunan infrastruktur menuju penguatan operasional dan penyelenggaraan pelayanan kesehatan di daerah, sehingga diharapkan mampu mendukung keberlanjutan transformasi pelayanan kesehatan primer di Indonesia.
Prof. Dr. Wahyu Pudji Nugraheni, SKM., M.Kes. – Kepala Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi, BRIN
Strategi Pembiayaan Penyakit Menular di Era Efisiensi Anggaran
Prof. Dr. Wahyu Pudji Nugraheni, SKM., M.Kes. menyoroti bahwa penyakit menular masih menjadi tantangan besar yang bukan hanya membebani sistem kesehatan, melainkan juga perekonomian. Di tengah kebijakan efisiensi anggaran, efisiensi tidak dimaknai sebagai pengurangan pembiayaan, melainkan memastikan setiap alokasi anggaran menghasilkan dampak kesehatan yang optimal. Beliau menekankan bahwa pembiayaan kesehatan saat ini masih didominasi untuk layanan kuratif, sementara investasi pada upaya promotif dan preventif masih terbatas, sehingga berpotensi menurunkan efektivitas program dalam jangka panjang.
Oleh karena itu, pendekatan yang berorientasi pada hasil (result-oriented financing) menjadi kunci dalam pengelolaan anggaran kesehatan. Dalam paparannya, ia juga menyampaikan hasil studi yang menunjukkan masih tingginya ketergantungan pemerintah daerah terhadap Dana Alokasi Khusus (DAK) dan Bantuan Operasional Kesehatan (BOK), sementara pemanfaatan skema pendanaan lain, seperti BLUD, belum optimal. Selain itu, struktur belanja kesehatan masih didominasi oleh belanja operasional sehingga perlu dilakukan penataan kembali agar lebih responsif terhadap kebutuhan epidemiologi. Beliau menegaskan bahwa pembiayaan kesehatan yang berkelanjutan memerlukan diversifikasi sumber pendanaan, alokasi anggaran yang berbasis kebutuhan, serta penguatan investasi pada upaya promotif dan preventif, sehingga setiap rupiah yang dibelanjakan dapat memberikan manfaat kesehatan yang lebih besar bagi masyarakat.
Talkshow – Merajut Pembiayaan Kesehatan: Dari Pusat hingga Desa
Prastuti Soewondo, S.E., M.P.H., Ph.D – Staf Khusus Menteri Kesehatan untuk Pembiayaan Kesehatan
Strategi Pembiayaan Kesehatan untuk Mendukung Implementasi Integrasi Layanan Primer
Prastuti Soewondo, S.E., M.P.H., Ph.D menyoroti bahwa keberhasilan implementasi Integrasi Layanan Primer (ILP) sangat bergantung pada keberlanjutan pembiayaan, khususnya untuk memastikan pendekatan berbasis klaster dapat diimplementasikan secara optimal di tingkat pelayanan primer. Berdasarkan National Health Accounts (NHA) yang dipublikasikan Kementerian Kesehatan setiap tahun, proporsi belanja kesehatan Indonesia masih relatif rendah dibandingkan negara-negara lain dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang serupa. Meskipun pertumbuhan PDB per kapita terus meningkat, belanja kesehatan per kapita masih sekitar 32% di bawah tingkat yang seharusnya, sehingga masih terdapat ruang yang besar untuk memperkuat advokasi peningkatan investasi kesehatan, terutama bagi pelayanan kesehatan primer (Primary Health Care/PHC).
Ia juga menyoroti tren penurunan proporsi pembiayaan PHC dalam total belanja kesehatan nasional, yaitu dari 18% (2014), menjadi 15% (2019), dan kembali menurun menjadi 12,9% pada 2024. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri di tengah upaya memperkuat layanan primer. Di sisi lain, skema kapitasi JKN sebenarnya telah menyediakan peluang peningkatan pendanaan melalui mekanisme insentif berbasis kinerja. Fasilitas kesehatan dapat memperoleh tambahan kapitasi apabila memenuhi 13 indikator kinerja, termasuk indikator yang berkaitan dengan Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM), seperti pelaksanaan Free Medical Check-Up (CKG) dan pemanfaatan data Pemantauan Wilayah Setempat (PWS) sebagai bagian dari penguatan pelayanan kesehatan primer.
Friendy Parulian Sihotang, S.Sos., M.T. – Direktur Fasilitasi dan Pemanfaatan Dana Desa, Kementerian Desa dan PDTT
Penggunaan Dana Desa untuk Dukungan Integrasi Layanan Primer
Friendy Parulian Sihotang, S.Sos., M.T., memaparkan peran strategis Dana Desa dalam mendukung implementasi Integrasi Layanan Primer (ILP). Narasumber menjelaskan bahwa regulasi penggunaan Dana Desa telah memberikan ruang yang luas bagi pemerintah desa untuk mendukung sektor kesehatan, diantaranya melalui pembiayaan kader kesehatan desa, penguatan UPKD/K, serta operasional Posyandu sebagai pelayanan kesehatan berbasis masyarakat. Berbagai program kesehatan, seperti penanganan stunting, pemberian makanan tambahan, pengendalian tuberkulosis, pelayanan kesehatan ibu hamil, hingga edukasi kesehatan bagi remaja dan calon ibu, telah didukung melalui pemanfaatan Dana Desa. Dalam paparannya, ia juga menekankan bahwa besarnya kontribusi Dana Desa terhadap sektor kesehatan sangat bergantung pada proses perencanaan di tingkat desa, khususnya melalui musyawarah desa (musdes) dan pra-musdes. Oleh karena itu, kader kesehatan dan para pemangku kepentingan di desa diharapkan berperan aktif dalam mengadvokasi agar kesehatan menjadi salah satu prioritas pembangunan desa. Dengan perencanaan yang partisipatif dan berbasis kebutuhan masyarakat, Dana Desa dapat dioptimalkan untuk memperkuat layanan kesehatan primer sekaligus meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di tingkat desa.
R. Wisnu Saputro, S.E., M.A.P – Kasubdit Badan Layanan Umum Daerah, Direktorat BUMD, BLUD, dan Barang Milik Daerah, Ditjen Keuangan Daerah, Kemendagri
Akuntabilitas BLUD dalam Konteks Pengelolaan Keuangan Daerah
Wisnu Saputro, S.E., M.A.P., Kasubdit Badan Layanan Umum Daerah, Direktorat BUMD, BLUD, dan Barang Milik Daerah, Ditjen Keuangan Daerah Kemendagri, menjelaskan bahwa penerapan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) pada puskesmas merupakan peluang strategis untuk meningkatkan kinerja layanan melalui pengelolaan keuangan yang lebih fleksibel. Sebagai salah satu pola pengelolaan keuangan, BLUD memungkinkan pendapatan puskesmas dikelola langsung melalui rekening kas BLUD, sehingga memberikan keleluasaan dalam memanfaatkan sumber daya keuangan untuk mendukung peningkatan pelayanan. Salah satu keunggulan utama BLUD adalah fleksibilitas dalam mengelola sisa anggaran (SILPA) yang dapat dimanfaatkan kembali sesuai Rencana Bisnis dan Anggaran (RBA), berbeda dengan mekanisme non-BLUD yang mengharuskan sisa dana kapitasi diperhitungkan sebagai dana tahun berikutnya. Kemudian beliau menekankan bahwa fleksibilitas tersebut membuka peluang bagi puskesmas untuk terus berinovasi dan mengembangkan pelayanan sesuai kebutuhan masyarakat, sehingga puskesmas tidak hanya berfokus pada pelayanan rutin, tetapi juga mampu menjawab tantangan kesehatan yang terus berkembang. Meski demikian, keberhasilan implementasi BLUD tidak hanya bergantung pada kapasitas pengelola puskesmas, tetapi juga memerlukan dukungan regulasi dan komitmen pemerintah daerah. Dengan prinsip kemandirian dan akuntabilitas dalam pengelolaan keuangan, BLUD diharapkan menjadi instrumen penting dalam memperkuat tata kelola puskesmas serta meningkatkan kualitas layanan kesehatan primer.
dr. Maya Febriyanti Purwandari, M.H. – Asisten Deputi Manajemen Inovasi dan Pengembangan BPJS Kesehatan
Optimalisasi Pembiayaan Kapitasi untuk Penguatan Implementasi Integrasi Layanan Primer
Maya Febriyanti Purwandari, M.H. memaparkan bahwa mekanisme pembayaran kapitasi telah menjadi skema yang familiar bagi seluruh Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan. Meskipun demikian, BPJS Kesehatan tidak mengatur secara rinci pemanfaatan dana kapitasi di tingkat fasilitas kesehatan, selain ketentuan umum mengenai proporsi penggunaannya, yaitu sekitar 60% untuk jasa pelayanan dan 40% untuk biaya operasional. Oleh karena itu, keberhasilan optimalisasi dana kapitasi sangat bergantung pada kemampuan manajemen masing-masing FKTP dalam mengalokasikan sumber daya secara efektif untuk mendukung pelayanan kesehatan primer. Lebih lanjut, pihaknya menjelaskan bahwa sejak 2023 besaran dana kapitasi telah mengalami peningkatan, disertai penguatan skema Kapitasi Berbasis Kinerja (KBK) melalui pemberian insentif bagi fasilitas kesehatan yang memenuhi indikator Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis). Skema ini diharapkan dapat mendorong FKTP untuk lebih proaktif dalam mengelola pasien penyakit kronis secara komprehensif sehingga komplikasi dapat dicegah sejak dini. Dengan pengelolaan Prolanis yang optimal, BPJS Kesehatan berharap pembiayaan yang selama ini banyak terserap untuk pelayanan kuratif dapat dialihkan menuju upaya promotif dan preventif yang sejalan dengan penguatan implementasi Integrasi Layanan Primer (ILP).
Sesi Pleno IV
Sumber Daya Manusia Kesehatan ILP
Kader Kesehatan Unggul untuk Pelayanan Kesehatan Primer yang Berdampak
(Moderator: Dr. dr. Andreasta Meliala, M.Kes. – Direktur Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada)
Mengawali sesi, Dr. dr. Andreasta Meliala, M.Kes., menyoroti pentingnya penguatan kader kesehatan sebagai salah satu pilar utama dalam transformasi pelayanan kesehatan primer. Penguatan kader tidak hanya berkaitan dengan peningkatan insentif dan kapasitas melalui pelatihan, tetapi juga membutuhkan dukungan kebijakan yang mampu menempatkan kader sebagai pengungkit utama kesehatan masyarakat. Pihaknya memberikan contoh praktik di berbagai negara yang telah mengembangkan kader dengan peran spesifik, seperti kader farmasi, pendamping terapi jangka panjang, hingga kader yang membantu masyarakat mengakses sistem jaminan kesehatan. Melalui diskusi yang menghadirkan pemangku kepentingan dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, hingga kader di lapangan, sesi ini bertujuan merumuskan strategi penguatan kader yang lebih komprehensif untuk mendukung implementasi Integrasi Layanan Primer (ILP).
Keynote Speech
dr. Niken Wastu Palupi, MKM – Direktur Promosi Kesehatan dan Kesehatan Komunitas, Kemenkes RI
Arah Kebijakan Nasional Penguatan Kader Posyandu dalam Mendukung ILP
Niken Wastu Palupi, MKM menjelaskan bahwa keberhasilan implementasi Integrasi Layanan Primer (ILP) tidak dapat dipisahkan dari peran Posyandu sebagai pelayanan kesehatan berbasis masyarakat. Transformasi Posyandu menjadi Posyandu Siklus Hidup mengintegrasikan pelayanan bagi seluruh kelompok sasaran, mulai dari bayi dan balita, ibu hamil dan menyusui, usia sekolah dan remaja, hingga lansia. Perubahan ini menuntut kader memiliki kapasitas yang lebih komprehensif, sehingga Kementerian Kesehatan telah menyusun 25 kompetensi dasar kader yang dikelompokkan dalam lima komponen pelayanan sesuai siklus hidup.
Selain itu, diterapkan pula sistem stratifikasi kompetensi kader menjadi tingkat Madya, Purna, dan Utama sebagai acuan pengembangan kapasitas secara berkelanjutan. Lebih lanjut, narasumber menekankan bahwa penguatan kader tidak hanya bergantung pada pelatihan, tetapi juga memerlukan ekosistem pendukung yang kuat. Komitmen pemerintah desa, dukungan mitra pembangunan, regulasi yang mendukung implementasi ILP, keterlibatan aktif masyarakat, serta pembiayaan dari berbagai sumber yang sah menjadi faktor penting untuk memastikan Posyandu mampu menjalankan perannya secara optimal. Dengan dukungan tersebut, kader diharapkan mampu menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan primer yang memberikan pelayanan promotif, preventif, hingga deteksi dini secara berkesinambungan di tingkat komunitas.
Nitta Rosalin, SE., MA – Direktur Fasilitasi LKAD PKK Posyandu, Ditjen Bina Pemdes, Kemendagri
Kader Posyandu: Dari Relawan Menjadi Agen Transformasi Kesehatan
Nitta Rosalin, SE., MA menegaskan bahwa Posyandu saat ini telah bertransformasi dari sekadar kegiatan pelayanan kesehatan menjadi bagian dari kelembagaan desa yang memiliki peran strategis dalam pembangunan masyarakat. Sebagai Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM), Posyandu mengedepankan partisipasi masyarakat dengan kader sebagai penggerak utama pelayanan di tingkat desa. Sejalan dengan implementasi Posyandu enam Standar Pelayanan Minimal (SPM), kader kini dituntut menguasai sedikitnya 25 kompetensi dasar agar mampu menjawab berbagai tantangan kesehatan masyarakat di setiap tahapan siklus hidup. Menurutnya, transformasi Posyandu hanya dapat berjalan apabila didukung oleh penguatan kelembagaan, peningkatan kapasitas dan kesejahteraan kader, serta apresiasi yang memadai atas kontribusi mereka. Selain itu, pelayanan promotif dan preventif perlu terus diperkuat agar Posyandu benar-benar menjadi pintu pertama masyarakat dalam memperoleh layanan kesehatan. Nitta menekankan bahwa transformasi Posyandu pada akhirnya bukan hanya tentang perubahan sistem, tetapi juga membangun kembali kepercayaan masyarakat terhadap layanan kesehatan yang dekat, mudah diakses, dan berkualitas.
Talkshow
Menguatkan Peran Kader Kesehatan: Praktik Baik, Tantangan, dan Inovasi Daerah
I Made Wira Dharmajaya, SH., MM. – Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah Kabupaten Badung Provinsi Bali
Menguatkan Peran Kader Kesehatan: Praktik Bai, Tantangan, dan Inovasi Daerah
I Made Wira Dharmajaya, SH., MM. memaparkan komitmen Pemerintah Kabupaten Badung dalam mengintegrasikan implementasi ILP ke dalam dokumen perencanaan pembangunan daerah. Menurutnya, ILP tidak lagi dipandang sebagai program milik Dinas Kesehatan semata, melainkan telah menjadi bagian dari agenda pembangunan daerah yang dituangkan dalam RPJMD Kabupaten Badung periode 2025-2030. Pendekatan ini memungkinkan seluruh perangkat daerah dan pemangku kepentingan terlibat dalam mendukung penguatan layanan kesehatan primer melalui perencanaan yang lebih terpadu. Selain aspek kebijakan, Pemerintah Kabupaten Badung juga telah menyiapkan proyeksi pembiayaan untuk mendukung implementasi ILP dalam jangka menengah. Meskipun alokasi tersebut masih bersifat proyeksi, langkah ini menunjukkan komitmen daerah dalam memastikan keberlanjutan program melalui dukungan anggaran yang terencana. Menurutnya, keberhasilan penguatan kader kesehatan memerlukan sinergi lintas sektor sehingga setiap program yang dirancang dapat diterjemahkan menjadi kegiatan nyata yang berdampak bagi masyarakat.
dr. Billy Daniel Messakh, Sp.B. – Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur
Integrasi Layanan Primer dan Kader Surabaya Hebat sebagai Ujung Tombak Ekosistem Kesehatan Kota Surabaya
Billy Daniel Messakh, Sp. B membagikan praktik baik Kota Surabaya dalam memperkuat peran kader melalui transformasi digital. Pemerintah Kota Surabaya mengembangkan aplikasi Sehat Warga yang terintegrasi dengan Pemantauan Wilayah Setempat (PWS) sehingga aktivitas dan kinerja kader dapat dipantau secara real time. Selain memudahkan pemantauan pelayanan di masyarakat, sistem ini juga menjadi dasar evaluasi kinerja kader melalui indikator yang berbasis merit sehingga pembinaan dapat dilakukan secara lebih objektif dan terukur. Pihaknya juga menekankan bahwa motivasi kader tidak hanya dibangun melalui insentif finansial, tetapi juga melalui pemberian penghargaan bagi kader teladan dan Posyandu berprestasi. Dengan organisasi kader yang tertata, sistem digital yang terintegrasi, dan mekanisme penghargaan yang jelas, Surabaya berupaya menciptakan ekosistem pelayanan kesehatan primer yang lebih responsif dan berkelanjutan. Menurutnya, kader yang kuat akan menjadi fondasi utama dalam menghadirkan layanan kesehatan yang lebih dekat dengan masyarakat.
Jusri Snae – Kader Pustu Oinlasi Puskesmas Siso Kabupaten Timor Tengah Selatan
Kader ‘Digital’ Mendukung Capaian ILP
Jusri Snae membagikan pengalaman sebagai kader kesehatan di wilayah Timor Tengah Selatan dalam mendukung implementasi ILP melalui pendekatan digital. Bersama tenaga kesehatan, kader bertanggung jawab melaksanakan pelayanan Posyandu siklus hidup, kunjungan rumah rutin maupun khusus, serta melakukan tindak lanjut terhadap masyarakat berisiko menggunakan aplikasi Pemantauan Wilayah Setempat (PWS). Pembagian wilayah kerja yang jelas membantu kader menjangkau seluruh sasaran pelayanan, namun perubahan menuju sistem digital juga menghadirkan tantangan baru, terutama dalam memahami pengisian formulir elektronik dan penggunaan berbagai aplikasi pendukung. Di sisi lain, pihaknya menyoroti bahwa besaran insentif yang diterima kader masih sangat terbatas dibandingkan dengan tanggung jawab yang semakin besar. Kebutuhan akan kuota internet, biaya transportasi untuk kunjungan rumah, hingga tuntutan penguasaan 25 kompetensi dasar menjadi tantangan tersendiri bagi kader di lapangan. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa transformasi digital perlu diiringi dengan dukungan pembiayaan, pendampingan teknis, serta peningkatan kesejahteraan agar kader dapat menjalankan perannya secara optimal.
Sofia Turrifqi – Kader Posyandu Mawar 3 Desa Bekutuk, Kab. Blora, Prov. Jawa Tengah
Menguatkan Peran Kader Kesehatan: Praktik Baik, Tantangan, dan Inovasi Daerah
Sofia Turrifqi menyampaikan bahwa kader Posyandu saat ini menghadapi berbagai tantangan seiring perubahan kebijakan, peningkatan beban administrasi, serta adaptasi terhadap penggunaan aplikasi digital yang belum sepenuhnya diimbangi dengan dukungan fasilitas maupun peningkatan kesejahteraan. Di tengah tuntutan untuk memastikan masyarakat tetap sehat dan produktif, ia juga menyampaikan harapan agar kader memperoleh perlindungan melalui BPJS Ketenagakerjaan sebagai bentuk penghargaan atas kontribusi mereka dalam pelayanan kesehatan masyarakat. Meski dihadapkan pada berbagai keterbatasan, Posyandu Mawar 3 terus menghadirkan inovasi untuk meningkatkan kualitas pelayanan, di antaranya BASKARA Posyandu untuk sistem presensi berbasis QR Code, PENATA BUKIA untuk mempermudah pencatatan Buku KIA, TIKAR JAMILAH untuk meningkatkan kunjungan remaja melalui kolaborasi dengan sekolah, KEREN BEKEN untuk skrining lansia, PELANGI Sehat Jiwa sebagai inovasi promosi kesehatan mental, serta KURMA RESTO untuk memperkuat kunjungan rumah. Berbagai inovasi tersebut menunjukkan bahwa kader memiliki potensi besar sebagai agen perubahan di masyarakat apabila didukung oleh kebijakan, pendampingan, dan sumber daya yang memadai.
Peran PKMK UGM dalam Diseminasi Hasil Riset pada Leimena Conference 2026
Pada hari ke-3, Universitas Gadjah Mada, melalui Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK-KMK UGM, turut mengambil peran strategis dalam The Leimena Conference 2026 dengan menyampaikan sejumlah paparan hasil riset dan pendampingan kebijakan kesehatan.
Likke Prawidya Putri, MPH, Ph.D. – Penilaian Awal Proyek ACTION terhadap Kesiapan Implementasi ILP
Sesi Paralel Potret Supply, Demand, dan Tata Kelola Implementasi ILP di Kota Bekasi dan Kabupaten Bogor
Likke Prawidya Putri memaparkan hasil Baseline Assessment Proyek ACTION yang dilaksanakan PKMK FK-KMK UGM bersama CHAI Indonesia untuk menilai kesiapan implementasi Integrasi Layanan Primer (ILP) di Kota Bekasi dan Kabupaten Bogor. Melalui pendekatan mixed methods yang melibatkan 583 partisipan, studi ini mengidentifikasi kesiapan implementasi ILP dari aspek tata kelola, pembiayaan, pelayanan kesehatan, logistik, sistem digital, serta pemanfaatan layanan oleh masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun kedua daerah telah memiliki komitmen dalam implementasi ILP melalui kebijakan dan penyesuaian struktur layanan, masih terdapat berbagai tantangan pada aspek pembiayaan, kapasitas sumber daya manusia, integrasi sistem informasi, serta koordinasi lintas sektor yang perlu diperkuat untuk mendukung implementasi ILP secara berkelanjutan.
Muhammad Asrullah, MPH, Ph.D. – Indeks Maturitas Integrasi Layanan Primer sebagai bagian dari – Penilaian Awal Proyek ACTION terhadap Kesiapan Implementasi ILP – Sesi Paralel Potret Supply, Demand, dan Tata Kelola Implementasi ILP di Kota Bekasi dan Kabupaten Bogor
Muhammad Asrullah melanjutkan sesi dengan memperkenalkan Indeks Maturitas ILP sebagai instrumen yang dirancang untuk mengukur tingkat kematangan implementasi ILP secara lebih komprehensif. Dalam paparannya, narasumber menjelaskan bahwa indeks tersebut dikembangkan berdasarkan hasil penilaian awal implementasi ILP di Kota Bekasi dan Kabupaten Bogor. Pengembangan indeks ini bertujuan melengkapi pendekatan pengukuran implementasi yang selama ini masih didominasi oleh indikator administratif, sehingga harapannya mampu memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai kualitas dan tingkat kematangan implementasi ILP di lapangan.
Berbeda dengan pengukuran administratif, Indeks Maturitas ILP ini dapat menilai kesiapan implementasi di seluruh level pelaksana, mulai dari kabupaten/kota, puskesmas, pustu, hingga desa, melalui 4 dimensi utama: tata kelola dan pembiayaan, pelayanan terintegrasi, sistem digital dan logistik, serta keterlibatan masyarakat. Indeks ini diharapkan menjadi acuan bagi pemerintah pusat dan daerah untuk memantau kemajuan implementasi ILP, mengidentifikasi kesenjangan, serta menyusun strategi penguatan yang lebih terarah dan berbasis bukti.
Shita Listya Dewi, S.IP, MM, MPP – Perlukan Opsi Integrasi Layanan Kesehatan Primer untuk Menjawab Tantangan Sumber Daya Kesehatan di Indonesia?
Sesi Paralel Presentasi Kategori Kesehatan Keluarga
Shita Dewi mempresentasikan hasil penelitian yang terpilih pada Leimena Conference 2026 mengenai implementasi Integrasi Layanan Primer (ILP) di Kabupaten Sumbawa Barat. Penelitian yang merupakan kolaborasi antara PKMK UGM dan Health Systems Insight (HSI) ini bertujuan menganalisis bagaimana konteks lokal mempengaruhi implementasi ILP, mulai dari tahap pelaksanaan hingga faktor-faktor yang menentukan keberlanjutannya. Melalui studi kasus di Kabupaten Sumbawa Barat, penelitian ini mengeksplorasi kesiapan sumber daya kesehatan, kapasitas sistem, serta dinamika kebijakan daerah dalam mendukung penerapan ILP sebagai model pelayanan kesehatan primer yang terintegrasi. Temuan penelitian diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai posisi implementasi ILP saat ini sekaligus mengidentifikasi tantangan dan peluang untuk replikasi di daerah lain.
PKMK UGM – Sesi Paralel Penggunaan Alat Bantu Perencanaan dan Penganggaran Satuan Biaya Nasional (PRASANA) untuk ILP
Pada kesempatan di sesi paralel lainnya, PKMK UGM bersama Health Systems Insight juga menyerahkan hasil diseminasi penelitian yang telah dilakukan termasuk salah satunya terkait penggunaan ARRIMES serta penelitian lainnya selama beberapa tahun kepada Direktur Tata Kelola Pelayanan Kesehatan Primer (Takel PKP), Kementerian Kesehatan RI. Penyerahan ini menjadi simbol komitmen kolaborasi antara akademisi, mitra pembangunan, dan pemerintah dalam menghasilkan bukti ilmiah (evidence) yang dapat dimanfaatkan untuk memperkuat kebijakan serta implementasi transformasi layanan kesehatan primer di Indonesia. Hasil penelitian tersebut diharapkan menjadi salah satu referensi dalam pengembangan model ILP yang adaptif terhadap konteks dan kebutuhan daerah, sehingga mampu mendukung keberlanjutan transformasi sistem kesehatan nasional.
Reporter:
Muhammad Asrullah & Dhea Keyle Fortunandha (PKMK FK-KMK UGM)

Kegiatan ini dibuka oleh Prof. Tippawan Liabsuetrakul, Head, Departement of Epidemology, Prince of Songkla University Thailand. Prof. Tippawan menegaskan bahwa penguatan sistem kesehatan menjadi kebutuhan mendesak di tengah meningkatnya tantangan kesehatan global, seperti penyakit infeksi yang terus bermunculan, ketimpangan kesehatan, transisi demografi, hingga ancaman perubahan iklim. Menurutnya, sistem kesehatan yang tangguh dan berkeadilan merupakan fondasi penting untuk menjamin keamanan kesehatan global sekaligus memastikan setiap masyarakat memperoleh akses layanan kesehatan yang setara. Forum ini diharapkan bukan hanya menjadi ajang akademik bagi mahasiswa pascasarjana, melainkan juga wadah bagi akademisi, peneliti, dan pembuat kebijakan untuk berbagi hasil riset, memperkuat kapasitas sumber daya manusia, serta membangun kolaborasi regional dan internasional di bidang sistem dan kebijakan kesehatan. Forum yang telah memasuki penyelenggaraan ke-20 ini merupakan hasil kolaborasi tiga perguruan tinggi di Asia Tenggara, yaitu Prince of Songkla University (Thailand), Universitas Gadjah Mada (Indonesia), dan Universiti Kebangsaan Malaysia (Malaysia), sebagai upaya bersama dalam menghasilkan penelitian berkualitas yang mampu menjawab kebutuhan kesehatan di tingkat nasional maupun global.
Sambutan berikutnya disampaikan oleh Asst. Prof. Kittipong Riabroi, Dean of Faculty of Medicine, Prince of Songkla University, Thailand. Dalam sambutannya, Prof. Kittipong menegaskan bahwa tema “Strengthening Health Systems for Global Health Security and Equity” sangat relevan dengan dinamika kesehatan global saat ini. Berbagai krisis yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa keamanan kesehatan dan keadilan kesehatan merupakan dua aspek yang tidak dapat dipisahkan. Menurutnya, sistem kesehatan tidak akan benar-benar tangguh apabila belum mampu menjamin akses layanan kesehatan yang berkualitas bagi seluruh masyarakat, khususnya kelompok rentan yang paling membutuhkan perlindungan. Selama dua hari ke depan, forum ini diharapkan menjadi wadah yang mempertemukan beragam perspektif global untuk mengeksplorasi kebijakan inovatif, berbagi hasil riset terbaru, serta merancang strategi praktis guna membangun sistem kesehatan yang tangguh menghadapi krisis di masa depan sekaligus mempersempit kesenjangan kesehatan. Prof. Kittipong mengajak seluruh peserta untuk terlibat aktif dalam pertukaran pengetahuan dan kolaborasi tersebut.
Sesi keynote speech pertama disampaikan oleh Prof. Hao Li, Department of Global Health, School of Public Health, Wuhan University, Tiongkok, yang mengangkat topik “The Future of Global Health Systems: A Vision for 2030 and Beyond”.
Assoc. Prof Aznida dari dari Faculty of Medicine, Universiti Kebangsaan Malaysia, menyoroti berbagai = tantangan yang dihadapi sistem kesehatan saat ini, termasuk ketahanan dalam menghadapi wabah (outbreak resilience), keamanan layanan kesehatan, serta keberlanjutan pendanaan untuk melindungi masayarakt dari ancaman biologis. Selain itu, peran sektor kesehatan swasta dinilai masih belum dimanfaatkan secara optimal dalam mendukung ketahanan sistem kesehatan. Berdasarkan pola health seeking behavior, pengguna layanan kesehatan saat ini didominasi oleh kelompok lanjut usia dengan penyakit kronis. Hal ini menunjukkan bahwa pemanfaatan layanan masih lebih berfokus pada pengobatan dibandingkan pencegahan dan promosi kesehatan.
Professor Apichai Wattanapisit, M.D., Ph.D. dari Faculty of Medicine, Prince of Songkla University, Thailand menyampaikan paparan bertajuk “Preparedness of a Primary Healthcare System for Equity”. Dalam paparannya, Prof. Apichai menekankan bahwa pencapaian kesetaraan kesehatan (health equity) memerlukan reposisi fundamental layanan kesehatan primer. Di tengah tantangan global yang dinamis, sistem kesehatan perlu berevolusi dari sekadar penyedia layanan medis menjadi mekanisme yang mampu mengatasi hambatan sistemik dan merespon kebutuhan masyarakat secara inklusif.
Prof. Yodi Mahendradata, M.Sc, Ph.D, FRSPH dari Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, Universitas Gadjah Mada, melanjutkan sesi dengan paparan berjudul “From preparedness to justice: communities structural vulnerabilities and pandemic readiness”. Dalam papparannya, Prof Yodi menyoroti pentingnya konsep justice di era pandemi. Menurutnya, pandemi COVID-19 bukan hanya krisis kesehatan, melainkan juga stress test yang mengungkap sekaligus memperdalam berbagai kerentanan sosial yang telah lama ada di masyarakat. Prof. Yodi menjelaskan bahwa meskipun virus secara biologis tidak membedakan individu, dampak pandemi sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial, ekonomi, dan lingkungan tempat seseorang hidup. Kelompok rentan seperti pekerja informal, masyarakat tanpa tempat tinggal, migran, dan kelompok marjinal menghadapi risiko yang jauh lebih besar karena keterbatasan akses terhadap tempat tinggal yang layak, air bersih, layanan kesehatan, perlindungan sosial, hingga identitas administratif. Melalui hasil penelitiannya terhadap masyarakat yang hidup di jalanan di Indonesia, Yodi menunjukkan bahwa banyak pesan kesehatan masyarakat, seperti stay at home atau mencuci tangan secara rutin, sulit diterapkan oleh kelompok yang bahkan tidak memiliki tempat tinggal maupun akses air bersih. Selain itu, bantuan pemerintah sering kali tidak menjangkau mereka karena tidak memiliki dokumen kependudukan atau alamat tetap, sehingga mereka menjadi “tidak terlihat” dalam sistem perlindungan sosial.
Pada sesi keynote virtual bertajuk “Human Resources for Health: Addressing Global Shortages and Retention”, Prof. Viroj Tangcharoensathien, M.D., Ph.D. dari International Health Policy Program, Thailand., membahas tantangan global terkait kekurangan tenaga kesehatan, faktor-faktor yang memengaruhi retensi tenaga kesehatan, serta berbagai strategi untuk memperkuat keberlanjutan sumber daya manusia kesehatan dalam mendukung pencapaian Universal Health Coverage (UHC).
Dr. Diah Ayu Puspandari, Apt, MBA, M Kes dari FK-KMK UGM menyoroti pencapaian ekuitas kesehatan di Indonesia sangat dipengaruhi oleh determinan sosial dan kompleksitas geografis negara kepulauan. Meskipun program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) telah berperan sebagai instrumen perlindungan finansial selama lebih dari satu dekade, tantangan dalam pemerataan akses layanan kesehatan dan distribusi tenaga kesehatan masih menjadi persoalan utama. Selain itu, kelompok masyarakat berpendapatan rendah masih menghadapi berbagai hambatan non medis, seperti biaya transportasi menuju fasilitas kesehatan dan kebutuhan caregiver, yang belum sepenuhnya terakomodasi dalam skema pembiayaan kesehatan, terutama di daerah terpencil dan sulit terjangkau.
Prof. Tippawan Liabsuetrakul dari Faculty of Medicine, Prince of Songkla University, Thailand, menekankan bahwa penyakit sering kali berakar jauh sebelum seseorang datang ke fasilitas kesehatan. Menurutnya, berbagai masalah kesehatan dipengaruhi oleh kondisi sosial, komunitas, komersial, dan politik yang membentuk kehidupan masyarakat sehari-hari. Pandangan tersebut disampaikan dalam paparannya mengenai respons sistem kesehatan terhadap penentu sosial kesehatan di kawasan Asia Tenggara.
Sesi penutup Plenary Session 2 disampaikan oleh Emeritus Professor Dato’ Dr. Syed Mohamed Aljunid dari School of Medicine, International Medical University (IMU), Malaysia. Dalam paparannya, Prof. Syed mengajak peserta melihat kesehatan dari perspektif yang lebih luas. Menurutnya, derajat kesehatan masyarakat bukan hanya ditentukan oleh pelayanan kesehatan, melainkan juga oleh berbagai social determinants of health, seperti pendidikan, tempat tinggal, pekerjaan, dan pendapatan. Oleh karena itu, kebijakan sosial pada hakikatnya juga merupakan kebijakan kesehatan dan membutuhkan kolaborasi lintas sektor melalui pendekatan Health in All Policies.
Prof. Supasit Pannarunothai dari Centre for Health Equity Monitoring Foundation, Thailand mengajak peserta menelusuri perjalanan tiga dekade reformasi sistem layanan primer di Thailand sekaligus merefleksikan bagaimana jejaring layanan primer seharusnya dibangun untuk mewujudkan akses dan pemerataan kesehatan yang lebih baik. Ia membuka presentasi dengan membandingkan ketersediaan layanan primer di Inggris (United Kingdom) dan Thailand—yang menurutnya masih mengalami kekurangan—lalu menegaskan atribut inti praktik layanan primer yang menjadi rujukan sepanjang paparan: berpusat pada orang (person-centred), holistik, terkoordinasi, berfokus pada komunitas, berkesinambungan, dan mudah diakses.
Mohd Rizal Abdul Manaf, M.D., M.P.H., Ph.D. dari Department of Public Health Medicine, Faculty of Medicine, Universiti Kebangsaan Malaysia, memaparkan pengalaman transformasi digital layanan kesehatan primer swasta di Malaysia. Menurutnya, transformasi digital di sektor kesehatan merupakan pilar ketahanan nasional, terutama setelah pandemi COVID-19 yang mengubah cara sistem kesehatan merespons kebutuhan masyarakat dan mengelola layanan kesehatan.
Sesi plenary ketiga ditutup dengan paparan dari Lutfan Lazuardi, M.D., M.P.H., Ph.D dari FK-KMK UGM dengan tajuk “Interoperable Health Information Systems to Support Continuum of Care in Primary Health Centers: Lessons from Indonesia”. Lutfan membuka paparannya dengan menggambarkan perjalanan layanan kesehatan masyarakat yang dimulai sejak pelayanan antenatal, persalinan, hingga pemantauan tumbuh kembang dan imunisasi anak. Seluruh layanan tersebut berlangsung di berbagai tingkat fasilitas kesehatan dan melibatkan banyak tenaga kesehatan. Oleh karena itu, kesinambungan pelayanan (continuum of care) hanya dapat terwujud apabila informasi kesehatan dapat dipertukarkan secara efektif antar fasilitas dan antar penyedia layanan.
Kegiatan kemudian dibuka dengan sambutan dari Dr. Sanson, yang menekankan bahwa perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan (
Pada sesi “



Pada sesi diskusi, berbagai topik dibahas, mulai dari strategi pemasaran medical tourism hingga transformasi digital dan inovasi layanan kesehatan di Bangkok Hospital Hat Yai. Terkait strategi pemasaran medical tourism, pihak rumah sakit menjelaskan bahwa situs web resmi tidak hanya berfungsi sebagai media informasi, tetapi juga sebagai platform digital untuk memasarkan layanan kesehatan preventif kepada pasien internasional. Melalui platform tersebut, calon pasien dapat mengakses informasi layanan, membandingkan berbagai paket medical check-up, melihat rincian manfaat yang ditawarkan, serta melakukan pembelian secara daring menggunakan sistem pembayaran elektronik.
Diskusi juga membahas transformasi digital dan inovasi layanan kesehatan yang diterapkan di Bangkok Hospital. Pihak rumah sakit menjelaskan bahwa sistem digital health telah digunakan di seluruh jaringan Bangkok Dusit Medical Services (BDMS), sementara pengembangan inovasi dilakukan secara terpusat di Thailand. Pengembangan sistem dikerjakan secara internal oleh tim yang terdiri atas tenaga IT, software developer, dan data analyst, sehingga memungkinkan proses inovasi yang lebih cepat sekaligus mengurangi ketergantungan pada pihak ketiga.
Prof. Julita Hendrartini menegaskan bahwa seri webinar ini lahir dari keprihatinan atas stagnasi pendanaan kesehatan di Indonesia. Selama kurang lebih 15 tahun terakhir, total pengeluaran kesehatan relatif bertahan di kisaran 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB), sementara sejumlah negara tetangga telah bergerak ke porsi yang lebih tinggi. Pertanyaan inti seri ini bersifat diagnostik: apakah desain kebijakan pendanaan kesehatan yang dibentuk oleh UU SJSN Tahun 2004 dan UU BPJS Tahun 2011 masih memadai untuk menjawab kebutuhan pembiayaan pelayanan kesehatan saat ini.
Novat Pugo Sambodo, S.E., MIDEC., Ph.D. membuka paparan dengan definisi konseptual. Mengutip Heller (2005), ruang fiskal (fiscal space) didefinisikan sebagai keleluasaan anggaran yang memungkinkan pemerintah menyediakan sumber daya untuk tujuan publik tanpa mengganggu kesinambungan fiskal atau solvabilitasnya. Merujuk Tandon dan Cashin (2010), ruang fiskal untuk kesehatan dapat bersumber dari lima jalur: (1) kondisi makroekonomi yang kondusif; (2) reprioritisasi kesehatan dalam anggaran pemerintah; (3) peningkatan sumber daya khusus sektor kesehatan, misalnya dana yang di-earmark; (4) hibah dan bantuan luar negeri untuk kesehatan; serta (5) peningkatan efisiensi belanja kesehatan yang ada.
Sesi utama disampaikan oleh Sarah binti Abdullah, President Malaysian Community Pharmacy Guild dan Training Facilitator Medisca Australia. Dalam paparannya, Sarah menjelaskan bahwa dunia kesehatan saat ini sedang mengalami peningkatan minat terhadap personalized medicine yang didorong oleh tren healthy aging, preventive care, hormonal optimization, wellness medicine, dan terapi integratif.
Dari sisi pasar, Sarah menunjukkan bahwa permintaan global terhadap layanan personalized medicine terus meningkat, terutama pada bidang terapi hormon, healthy aging, manajemen berat badan, dermatologi, nutritional medicine, dan regenerative medicine.
Dalam paparannya, Sarah memperkenalkan tiga pilar utama keselamatan dalam compounding, yaitu people, process, dan products. Pilar pertama berkaitan dengan kompetensi dan pelatihan tenaga kesehatan yang melakukan peracikan.
Prof. Laksono menyampaikan resume dari keseluruhan rangkaian seri webinar termasuk kegiatan di Hong Kong (1 Juni 2026), dengan menyoroti kondisi sistem asuransi kesehatan di Indonesia yang menunjukkan anomali. De-facto segmen Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) menyerupai asuransi komersial dengan menawarkan tiga tingkatan kelas pelayanan, dan mempunyai gejala adverse selection. Hal tersebut menimbulkan pertanyaan terkait peran JKN sebagai Jaring Pengaman Sosial (Social Safety Net). Sementara sektor asuransi kesehatan swasta tetap stagnan dengan claim ratio di atas 100% akibat kurangnya regulasi terintegrasi.
Dalam tanggapannya, Dr. dr. Etik Retno Wiyati selaku Sekretaris BKPK Kemenkes menekankan bahwa pengembangan asuransi kesehatan swasta (AKS) bukanlah upaya untuk melemahkan JKN, melainkan strategi untuk memperkuat ekosistem kesehatan. JKN dengan BPJS sebagai pelaku utama tetap menjadi instrumen penting perlindungan sosial. Pemerintah juga tengah melakukan langkah strategis melalui revisi regulasi, termasuk penguatan koordinasi antar penyelenggara jaminan dan penyediaan ruang bagi asuransi tambahan untuk menekan biaya pribadi (out-of-pocket) serta memastikan kelompok masyarakat mampu ikut berkontribusi secara proporsional dalam kerangka Universal Health Coverage.
PKMK-Yogyakarta.
Sesi dibuka dengan pengantar oleh Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc., PhD, Guru Besar Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan FK-KMK UGM. Dalam paparannya, Prof Laksono menjelaskan Indonesia saat ini sedang berada pada fase transformasi sistem kesehatan. Undang-Undang Kesehatan Tahun 2023 telah memasuki tahap penting dalam implementasinya, yang kemudian dilanjutkan dengan terbitnya PP Nomor 28 Tahun 2024. Selanjutnya, diterbitkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 13 Tahun 2026 tentang Pengelolaan Kesehatan. Perpres ini merupakan bentuk yang lebih teknis dan operasional dari UU Kesehatan, yang mengatur tata kelola sistem kesehatan nasional, integrasi antara pusat, daerah, dan desa, perencanaan berbasis RIBK, serta koordinasi lintas sektor. UGM saat ini mengembangkan sebuah sistem untuk membantu memahami kebijakan kesehatan secara lebih mudah dan terstruktur. Sistem ini dikemas dalam bentuk www.kebijakankesehatanindonesia.net yang dapat diakses sebagai sumber informasi kebijakan kesehatan di Indonesia.
Pemaparan materi disampaikan oleh Muhammad Hafiz Haunan, SKM, MHPM dari Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan FK-KMK UGM, yang menjelaskan jika Peraturan Presiden Nomor 13 Tahun 2026 tentang Pengelolaan Kesehatan merupakan regulasi baru yang menjadi rujukan penting dalam penyelenggaraan kesehatan di Indonesia, sebagai penyesuaian pasca UU Kesehatan Nomor 17 Tahun 2023. Perpres ini mengatur berbagai aspek, mulai dari penyelenggaraan upaya kesehatan, sumber daya kesehatan, hingga pembagian peran antar level pemerintahan secara lebih terintegrasi.
Pada sesi berikutnya, Karlina Dewi Sukarno, S.IP., MPP. menjelaskan prinsip dan kebijakan pelayanan kesehatan inklusif yang menekankan bahwa layanan harus menjangkau penyandang disabilitas sepanjang siklus kehidupan, baik di tingkat pelayanan primer maupun rujukan. Hal ini mencakup kemampuan fasilitas kesehatan dalam mengenali kebutuhan pengguna layanan, menyediakan informasi yang mudah diakses, serta memastikan tidak adanya hambatan tambahan dalam proses pelayanan. Inklusivitas juga menuntut perbaikan menyeluruh yang tidak hanya terbatas pada aksesibilitas fisik, tetapi juga mencakup alur pendaftaran, mekanisme komunikasi, pendampingan, waktu pelayanan, media informasi, serta kemampuan tenaga kesehatan dalam berinteraksi secara sensitif. Penguatan kebijakan ini memiliki landasan hukum pada UU Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan dan PP Nomor 28 Tahun 2024, yang implementasinya perlu diterjemahkan ke dalam prosedur pelayanan, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan, serta evaluasi berkelanjutan agar inklusivitas terintegrasi dalam sistem kesehatan.
Pada sesi berikutnya, Shita Listyadewi membahas pentingnya komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) yang inklusif dalam pelayanan kesehatan dengan menegaskan bahwa hambatan akses tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga mencakup keterbatasan komunikasi dan informasi yang dapat memengaruhi optimalnya pelayanan yang diterima penyandang disabilitas. Ia menjelaskan bahwa setiap ragam disabilitas memiliki kebutuhan komunikasi yang berbeda, sehingga diperlukan penyediaan berbagai media aksesibel seperti audio, Braille, teknologi pembaca layar, teks, bahasa isyarat, serta penyederhanaan bahasa bagi penyandang disabilitas intelektual, disertai perancangan materi KIE yang lebih representatif agar kelompok rentan merasa diakui sebagai bagian dari sasaran pelayanan kesehatan. Selain itu, Shita menekankan bahwa inklusivitas dapat diwujudkan melalui langkah sederhana seperti penggunaan bahasa yang mudah dipahami, ukuran huruf yang memadai, caption video, ilustrasi yang merepresentasikan keberagaman, serta pengembangan website yang aksesibel secara digital, mengingat penyandang disabilitas mencakup sekitar 6-10 persen populasi Indonesia sehingga komunikasi kesehatan inklusif harus menjadi bagian integral perencanaan layanan, dan seluruh diskusi menegaskan perlunya integrasi desain universal, desain inklusif, serta strategi komunikasi responsif agar layanan kesehatan benar-benar dapat diakses oleh semua orang.
Pada hari ketiga webinar, Eko Harsono dari Pusat Rehabilitasi YAKKUM menyampaikan materi yang menekankan bahwa pelayanan inklusif tidak dapat diberikan dengan pendekatan yang seragam karena kebutuhan penyandang disabilitas berbeda. Sehingga, tenaga kesehatan perlu terlebih dahulu mengenali kebutuhan pengguna sebelum menentukan bentuk bantuan yang tepat. Dalam pemaparannya, Eko menekankan pentingnya interaksi yang sensitif yang diawali dengan penghormatan kepada penyandang disabilitas sebagai subjek pelayanan. Ia juga menjelaskan bahwa pelayanan inklusif membutuhkan penyesuaian metode komunikasi melalui penyediaan informasi yang mudah dipahami. Hal tersebut meliputi waktu komunikasi yang memadai, serta penggunaan media pendukung seperti bahasa sederhana, materi visual, tulisan, juru bahasa isyarat, dan akomodasi lain sesuai kebutuhan, termasuk penguatan kompetensi tenaga kesehatan dalam etika komunikasi serta penggunaan kosakata dasar Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO). Dalam sesi diskusi, ditegaskan bahwa pelayanan inklusif harus diterapkan secara menyeluruh sejak pasien memasuki fasilitas kesehatan hingga selesai menerima layanan. Selain itu diperlukan adanya peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dan petugas lini depan, dengan pelibatan organisasi penyandang disabilitas dalam perencanaan, pelaksanaan, monitoring, dan evaluasi agar layanan benar-benar sesuai kebutuhan pengguna.


Seminar diawali dengan pengantar yang disampaikan oleh Shita Listya Dewi, mewakili Ketua Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) UGM. Dalam pengantarnya, disampaikan konteks utama terkait kondisi dan tantangan kesehatan lansia di Indonesia, termasuk ketersediaan layanan serta berbagai bentuk dukungan yang telah ada bagi kelompok lanjut usia. Indonesia saat ini tengah mengalami transisi demografi yang ditandai dengan meningkatnya proporsi penduduk lansia. Jumlah lansia diproyeksikan akan terus bertambah hingga mencapai lebih dari 65 juta jiwa pada 2045, suatu kondisi yang berpotensi menimbulkan beban finansial yang signifikan, khususnya dalam pembiayaan kesehatan. Isu utama yang mengemuka adalah bagaimana kelompok lansia dapat mengakses pelayanan kesehatan yang optimal melalui fasilitas kesehatan, seiring dengan meningkatnya kebutuhan layanan akibat penyakit kronis dan degeneratif. Dalam konteks tersebut, disoroti pula keberadaan berbagai bentuk dukungan bagi lansia, baik yang berbasis komunitas maupun yang berbasis fasilitas pelayanan kesehatan, sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan, kemandirian, dan kualitas hidup lansia di Indonesia.
Sesi dilanjutkan dengan penyampaian materi inti oleh Muh. Faozi Kurniawan, S.E., Ak., MPH, berjudul “Beban Pembiayaan Kesehatan Lansia di Indonesia (Analisis Data Sampel BPJS Kesehatan)”. Dalam paparannya, Pak Faozi memaparkan gambaran peningkatan populasi lansia di Indonesia yang diikuti dengan semakin kompleksnya tantangan dalam penyediaan pelayanan kesehatan dan sosial bagi kelompok ini. Tantangan tersebut mencakup keterbatasan kemampuan finansial lansia, keterbatasan anggaran kesehatan pemerintah, serta masih adanya kesenjangan akses pelayanan kesehatan antarwilayah. Lebih lanjut, berdasarkan analisis data sampel BPJS Kesehatan periode 2015–2024, disampaikan bahwa jumlah kunjungan kelompok pralansia dan lansia ke fasilitas pelayanan kesehatan menunjukkan tren peningkatan dari tahun ke tahun. Temuan ini menegaskan bahwa beban layanan dan pembiayaan kesehatan lansia akan terus meningkat, sehingga membuka berbagai isu strategis yang perlu didiskusikan bersama dalam merespons tantangan penuaan penduduk secara berkelanjutan.
Paparan narasumber kemudian ditanggapi tiga pembahas, yang menyoroti implikasi kebijakan, klinis, dan sistemik dari isu pembiayaan kesehatan lansia. Pembahas pertama, Dr. Dra. Diah Ayu Puspandari, Apt., M.Kes., MBA., AAK, selaku Kepala Pusat Kebijakan Pembiayaan dan Manajemen Asuransi Kesehatan (KPMAK) FK-KMK UGM, menyoroti isu kebijakan pendanaan kesehatan lansia serta peran asuransi swasta dalam menutup kesenjangan pembiayaan. Disampaikan bahwa Peraturan Presiden Nomor 28 Tahun 2024 telah secara eksplisit memasukkan upaya kesehatan lansia, namun hingga saat ini belum diturunkan ke dalam aturan teknis operasional yang mengikat, seperti Peraturan Menteri Kesehatan. Kondisi tersebut menunjukkan belum adanya standar pelayanan kesehatan lansia yang terdefinisi secara jelas. Lebih lanjut, Ibu Diah menjelaskan bahwa asuransi swasta berpotensi menjadi pelengkap dalam menutup celah pembiayaan yang belum sepenuhnya terakomodasi oleh skema publik. Namun demikian, peran ini masih menghadapi sejumlah tantangan, antara lain premi yang relatif tinggi, risiko klaim yang besar dan berulang, potensi terjadinya moral hazard dan adverse selection, serta rendahnya literasi asuransi di kalangan lansia di Indonesia. Ke depan, arah kebijakan pembiayaan kesehatan lansia perlu didorong menuju diversifikasi sumber pendanaan, integrasi layanan, penguatan desain manfaat, serta tata kelola regulasi yang lebih adaptif. Dalam konteks ini, pengembangan skema long-term care tidak hanya dipandang sebagai instrumen pembiayaan, tetapi juga sebagai simbol harapan bahwa proses menua tidak berarti ditinggalkan.