Sesi Pleno I
Model Pelayanan Kesehatan Primer Terintegrasi
Peta Jalan dan Kemajuan Implementasi Integrasi Pelayanan Kesehatan Primer
(Moderator: Prof. dr. Ari Natalia Probandari, MPH, Ph.D – Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret)
Implementasi Integrasi Pelayanan Kesehatan Primer (ILP) telah memasuki fase yang semakin penting. Setelah diperkenalkan sebagai salah satu strategi utama Transformasi Sistem Kesehatan Indonesia, berbagai daerah mulai menerjemahkan konsep tersebut ke dalam praktik pelayanan sehari-hari. Namun, bagaimana kemajuan implementasinya? Apa tantangan yang dihadapi daerah? Dan bagaimana memastikan integrasi benar-benar menghasilkan pelayanan yang lebih berpusat pada masyarakat?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi pembuka Sesi Pleno I yang dimoderatori oleh Prof. dr. Ari Natalia Probandari, MPH, Ph.D. Dalam pengantarnya, Prof. Ari menekankan bahwa implementasi ILP kini tidak lagi berhenti pada tataran kebijakan, tetapi telah memasuki fase pembelajaran implementasi (implementation learning). Berbagai daerah telah mulai mengembangkan model pelayanan kesehatan primer yang terintegrasi dengan karakteristik dan tantangan yang berbeda-beda. Oleh karena itu, pembelajaran dari pengalaman lapangan menjadi sangat penting untuk memperkaya kebijakan nasional sekaligus mempercepat adopsi praktik baik di berbagai wilayah Indonesia.
Keynote Speech
dr. Elvieda Sariwati, M.Epid. – Direktur Tata Kelola Pelayanan Kesehatan Primer, Kementerian Kesehatan RI
Mengawal Transformasi Pelayanan Kesehatan Primer: Capaian dan Arah ILP
Membuka sesi pleno, dr. Elvieda Sariwati memaparkan arah implementasi ILP sebagai bagian dari transformasi sistem kesehatan Indonesia. Pihaknya menegaskan bahwa perubahan model pelayanan kesehatan primer bukan sekadar penyederhanaan layanan, melainkan respons terhadap perubahan pola penyakit dan tantangan kesehatan yang dihadapi Indonesia.
Berdasarkan berbagai hasil survei nasional, termasuk Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS), Indonesia mengalami pergeseran pola kematian. Jika sebelumnya perhatian lebih banyak tertuju pada penurunan angka kematian ibu dan bayi, kini beban kematian semakin didominasi oleh kelompok usia dewasa dan lanjut usia akibat penyakit tidak menular. Perubahan epidemiologi ini juga berdampak pada meningkatnya pembiayaan kesehatan yang harus ditanggung sistem kesehatan nasional.
Menurut dr. Elvieda, kondisi tersebut tidak dapat diatasi hanya dengan memperkuat pelayanan kuratif. Sebaliknya, Indonesia perlu membangun sistem kesehatan yang lebih berorientasi pada upaya promotif dan preventif, dengan pelayanan kesehatan primer sebagai fondasi utama.
“Pelayanan kesehatan primer merupakan titik kontak pertama masyarakat dengan sistem kesehatan. Oleh karena itu, penguatan layanan primer menjadi investasi jangka panjang untuk membangun sistem kesehatan yang tangguh,”jelasnya.
Dalam konteks tersebut, ILP mengubah paradigma pelayanan dari pendekatan berbasis program (programme-based services) menjadi pelayanan yang berorientasi pada siklus hidup (life-course approach). Melalui pendekatan ini, masyarakat diharapkan memperoleh pelayanan yang lebih komprehensif sesuai kebutuhan kesehatannya pada setiap fase kehidupan, tanpa terfragmentasi oleh berbagai program vertikal.
Transformasi tersebut juga memerlukan perubahan cara kerja di tingkat pelayanan. Tidak hanya memperkuat kapasitas tenaga kesehatan, tetapi juga membangun pelayanan berbasis tim, memperkuat pemberdayaan kader kesehatan, serta mengoptimalkan jejaring pelayanan mulai dari Posyandu, Pustu, hingga Puskesmas.
Sebagai landasan implementasi, Kementerian Kesehatan telah menerbitkan Permenkes Nomor 19 Tahun 2024 tentang Penyelenggaraan Pusat Kesehatan Masyarakat, yang menjadi dasar operasional pelaksanaan ILP di seluruh Indonesia. Regulasi tersebut diharapkan mampu mendorong penyelenggaraan Upaya Kesehatan Berbasis Siklus Hidup secara lebih terintegrasi, sekaligus memberikan fleksibilitas bagi daerah untuk menyesuaikan implementasi dengan konteks lokal masing-masing.
Menutup paparannya, dr. Elvieda menekankan bahwa penguatan ILP bukan sekadar program jangka pendek, melainkan investasi strategis untuk membangun ketahanan sistem kesehatan Indonesia. Keberhasilan implementasinya sangat bergantung pada kemampuan pemerintah pusat dan daerah dalam menjaga keberlanjutan kebijakan, memperkuat kolaborasi lintas sektor, serta memastikan bahwa transformasi pelayanan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.
Dr. dr. Trihono, M.Sc – Coordinator Primary Health Care (PHC) Consortium
Pemetaan Capaian Indeks ILP di Indonesia: Analisis Ranking Kabupaten/Kota
Melengkapi paparan mengenai arah kebijakan nasional, Dr. dr. Trihono, M.Sc. memperkenalkan Indeks Integrasi Pelayanan Kesehatan Primer (Indeks ILP) sebagai instrumen untuk mengukur sejauh mana implementasi ILP telah berjalan di tingkat kabupaten/kota maupun Puskesmas.
Menurutnya, transformasi pelayanan kesehatan memerlukan sistem pemantauan yang mampu menunjukkan perkembangan implementasi secara objektif dan terukur. Oleh karena itu, Indeks ILP dikembangkan dengan memanfaatkan indikator-indikator yang tidak hanya mencerminkan pilar-pilar utama ILP, tetapi juga tersedia secara rutin dalam sistem informasi kesehatan nasional sehingga dapat diperbarui setiap tahun.
Namun demikian, penyusunan indeks tersebut tidak terlepas dari berbagai tantangan. Salah satu kendala utama adalah belum tersedianya sebagian indikator proses di tingkat nasional, sehingga pengukuran lebih banyak menggunakan indikator keluaran (output indicators) yang telah terdokumentasi secara konsisten, seperti cakupan imunisasi dasar lengkap dan indikator pelayanan kesehatan primer lainnya.
Meski demikian, Dr. Trihono menegaskan bahwa keberadaan Indeks ILP merupakan langkah penting dalam membangun budaya pengambilan keputusan berbasis data. Indeks ini diharapkan bukan hanya menjadi alat monitoring dan evaluasi implementasi ILP, melainkan juga dapat dimanfaatkan sebagai dasar pembelajaran antar daerah, penyusunan kebijakan, hingga pemberian apresiasi bagi pemerintah daerah yang berhasil mempercepat transformasi pelayanan kesehatan primer.
Lebih jauh, pihaknya menekankan bahwa keberhasilan implementasi ILP tidak cukup diukur dari keberadaan regulasi ataupun jumlah kegiatan yang dilaksanakan, namun sejauh mana integrasi pelayanan mampu menghasilkan pelayanan kesehatan yang lebih efektif, efisien, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat di sepanjang siklus kehidupannya
Talkshow – Suara dari Lapangan: Tantangan dan Inovasi Implementasi ILP
Setelah memperoleh gambaran mengenai arah kebijakan nasional dan perkembangan implementasi ILP melalui dua keynote speech, sesi pleno dilanjutkan dengan talkshow bertajuk “Suara dari Lapangan: Tantangan dan Inovasi Implementasi ILP.” Berbeda dengan sesi sebelumnya yang berfokus pada kebijakan dan pengukuran implementasi, diskusi ini menghadirkan pengalaman nyata dari pemerintah daerah dan Puskesmas dalam menerjemahkan konsep Integrasi Pelayanan Kesehatan Primer ke dalam praktik sehari-hari.
Meskipun berasal dari wilayah dengan karakteristik geografis, kapasitas sumber daya, dan tantangan yang sangat beragam, para narasumber menyampaikan pesan yang serupa. Keberhasilan implementasi ILP tidak hanya ditentukan oleh tersedianya regulasi, tetapi juga oleh kepemimpinan daerah, kemampuan beradaptasi terhadap kondisi lokal, penguatan jejaring layanan, serta kolaborasi lintas sektor yang berkelanjutan.
Dr. dr. Agus, M.Kes, Sp.KKLP
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tengah
Mengawali diskusi, Dr. dr. Agus menggambarkan kompleksitas implementasi ILP di Provinsi Papua Tengah. Menurutnya, tantangan terbesar bukan hanya berasal dari keterbatasan fasilitas kesehatan, melainkan juga kondisi geografis yang menyebabkan akses pelayanan kesehatan dan distribusi logistik menjadi jauh lebih sulit dibandingkan banyak daerah lain di Indonesia.
Selain tantangan geografis, rendahnya jumlah Puskesmas yang telah terakreditasi juga berdampak pada keterbatasan sumber daya manusia kesehatan, terutama tenaga dokter. Kondisi tersebut berimplikasi pada kapasitas fasilitas kesehatan dalam menjalankan pelayanan yang terintegrasi sesuai prinsip ILP.
Namun demikian, keterbatasan tersebut tidak menjadi alasan untuk menghentikan transformasi pelayanan kesehatan primer. Dengan dukungan pemerintah daerah, Papua Tengah mulai menerjemahkan kebijakan ILP ke dalam berbagai strategi yang disesuaikan dengan kondisi lokal. Komitmen pemerintah daerah menjadi modal penting untuk memastikan bahwa integrasi pelayanan tetap dapat berjalan, meskipun menghadapi tantangan geografis yang tidak sederhana.
dr. Cristin Englin W. Liu
Kepala UPT Puskesmas Niki-Niki, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Timur
Pengalaman serupa juga disampaikan oleh dr. Cristin Englin W. Liu, yang menceritakan perjalanan implementasi ILP di Puskesmas Niki-Niki. Puskesmas ini telah menjadi lokasi uji coba Posyandu ILP sejak 2022, sehingga telah melalui berbagai proses penyesuaian seiring berkembangnya petunjuk teknis implementasi.
Hingga saat ini, baru 16 dari 30 Posyandu yang berhasil menerapkan pendekatan siklus hidup. Rendahnya cakupan tersebut tidak terlepas dari tantangan yang dihadapi wilayah pelayanan, mulai dari sulitnya akses geografis hingga keterbatasan tenaga kesehatan. Puskesmas hanya memiliki satu dokter yang sekaligus menjabat sebagai kepala puskesmas, didukung oleh satu tenaga promosi kesehatan, tanpa dokter gigi maupun analis kesehatan.
Dalam kondisi tersebut, keberhasilan implementasi ILP sangat bergantung pada kemampuan membangun kolaborasi dengan pemerintah desa dan masyarakat. Puskesmas secara aktif memperkuat koordinasi dengan kepala desa untuk meningkatkan pemahaman mengenai ILP, termasuk mendorong dukungan terhadap kader kesehatan yang selama ini masih menghadapi keterbatasan insentif. Selain itu, penempatan tenaga PPPK kesehatan di Puskesmas Pembantu (Pustu) menjadi salah satu solusi untuk memperkuat pelayanan di wilayah yang sulit dijangkau.
Pengalaman ini menunjukkan bahwa keberhasilan implementasi ILP di daerah terpencil ditentukan tidak hanya oleh ketersediaan sumber daya, tetapi juga oleh kapasitas untuk beradaptasi dan membangun kolaborasi dengan berbagai pihak di tingkat lokal.
dr. Karyadi
Kepala Puskesmas Plantungan, Kabupaten Kendal, Provinsi Jawa Tengah
Berbeda dengan tantangan geografis yang dihadapi Papua Tengah maupun Timor Tengah Selatan, dr. Karyadi menyoroti perubahan budaya organisasi sebagai faktor utama dalam implementasi ILP.
Menurutnya, keberhasilan transformasi tidak cukup hanya dengan menerbitkan kebijakan. Dibutuhkan komitmen bersama dari pemerintah daerah, dinas kesehatan, hingga seluruh tenaga kesehatan di Puskesmas untuk mengubah cara kerja yang sebelumnya berorientasi pada program-program vertikal menjadi pelayanan yang terintegrasi berdasarkan siklus hidup.
dr Karyadi menjelaskan bahwa proses adaptasi di Puskesmas Plantungan berlangsung relatif cepat. Dalam waktu sekitar 20 hari setelah mempelajari petunjuk teknis, seluruh tim mulai menerapkan pendekatan baru melalui penataan ulang pembagian tugas sesuai klaster siklus hidup, pelaksanaan pelatihan internal, serta penguatan komunikasi rutin antar petugas.
Perubahan tersebut tidak hanya berdampak pada organisasi pelayanan, tetapi juga mengubah cara pandang terhadap keberhasilan pelayanan kesehatan. Jika sebelumnya pencapaian lebih banyak diukur melalui target program, implementasi ILP mendorong tenaga kesehatan untuk lebih berfokus pada hasil kesehatan masyarakat (outcome). Menurutnya, transformasi tersebut hanya dapat berjalan apabila didukung oleh sistem informasi kesehatan yang terintegrasi serta kolaborasi lintas sektor yang kuat.
dr. Hari Pratono, M.Kes
Kepala Puskesmas Berbah, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
Menutup sesi diskusi, dr. Hari Pratono menunjukkan bahwa transformasi pelayanan kesehatan primer juga dapat dipercepat melalui inovasi digital yang lahir dari tingkat Puskesmas.
dr Hari menjelaskan bahwa implementasi ILP di Puskesmas Berbah menghadapi tantangan yang umum dijumpai di banyak daerah, seperti keterbatasan sumber daya manusia, kompleksitas pencatatan pelayanan, integrasi data, serta kebutuhan peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dan kader.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Puskesmas Berbah mengembangkan Sistem Pencatatan Terpadu Puskesmas Berbah (SITAPANDU PUBER), sebuah inovasi yang mendigitalisasi proses pencatatan Posyandu sehingga kader tidak lagi harus mengisi berbagai format pelaporan secara manual. Sistem ini juga dilengkapi notifikasi apabila ditemukan ketidaksesuaian data, sekaligus memungkinkan pemerintah desa dan kecamatan mengakses informasi secara lebih cepat untuk mendukung pengambilan keputusan.
Selain itu, Puskesmas Berbah mengembangkan KARO KASEH, sebuah sistem digital yang mendukung pelaksanaan kunjungan rumah secara lebih efektif melalui pelaporan real-time dan mekanisme penyelesaian masalah yang lebih cepat.
Sesi Pleno II
Digitalisasi Integrasi Layanan Primer
Digitalisasi Pelayanan Kesehatan Primer – Kebijakan, Inovasi, dan Implementasi di Indonesia
(Moderator: Hon. Associate Prof. Dewi Nur Aisyah, SKM, MSc, DIC, PhD – Head of Operations Kesprimkom P2, TTDK Kemenkes RI)
Pada pembukaan sesi, moderator menekankan bahwa transformasi digital kesehatan di Indonesia merupakan proses yang terus berkembang, bahkan mengalami percepatan sejak pandemi COVID-19. Pengembangan SATUSEHAT sebagai ekosistem data kesehatan nasional diarahkan untuk mewujudkan keterhubungan antar sistem informasi kesehatan melalui interoperabilitas. Transformasi tersebut merupakan perjalanan jangka panjang yang membutuhkan kolaborasi lintas sektor, standardisasi, serta penguatan tata kelola agar manfaat digitalisasi dapat dirasakan secara optimal oleh seluruh pemangku kepentingan.
Keynote Speech
Eko Sulistijo, SH, MT – Kepala Pusat Data dan Teknologi Informasi, Kemenkes RI
Transformasi Sistem Informasi Kesehatan untuk Mendukung Integrasi Pelayanan Kesehatan Primer (ILP)
Eko Sulistijo, SH, MT menjelaskan bahwa digitalisasi merupakan fondasi yang menopang seluruh enam pilar Transformasi Kesehatan Indonesia. Meskipun Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) menjadi salah satu pilar tersendiri, perannya sesungguhnya melintasi seluruh transformasi melalui penyediaan standar dan integrasi sistem informasi kesehatan. Tantangan implementasi masih dihadapi, baik dari aspek regulasi maupun kesiapan sumber daya manusia. Melalui regulasi terbaru yang diterbitkan pada 2024, pemerintah menegaskan bahwa penerapan sistem informasi kesehatan merupakan kebutuhan yang bersifat wajib, bukan lagi pilihan. Pihaknya juga memaparkan berbagai upaya penyederhanaan aplikasi kesehatan melalui konsolidasi sistem, termasuk pengembangan ASIK-CKG dan SIMPUS agar lebih efisien dan terstandarisasi. Saat ini sekitar 92% Puskesmas telah mengirimkan data melalui Rekam Medis Elektronik (RME), meskipun kualitas dan kelengkapan pencatatan masih menjadi ‘pekerjaan rumah’. Selain itu, ia menyoroti pentingnya penguatan kapasitas SDM teknologi informasi di fasilitas pelayanan primer untuk mendukung keamanan siber dan keberlanjutan implementasi sistem. Kolaborasi dengan BPJS Kesehatan juga terus diperkuat guna mewujudkan ekosistem digital yang semakin terintegrasi, sederhana, dan mampu mengurangi duplikasi data tenaga kesehatan maupun pasien.
Setiaji, ST, M.Si – Direktur Teknologi Informasi BPJS Kesehatan
Integrasi Ekosistem Digital JKN untuk Mendukung Transformasi Pelayanan Kesehatan Primer
Setiaji, ST, M.Si mengawali paparannya dengan menyoroti tingginya beban administratif yang masih dihadapi fasilitas kesehatan akibat banyaknya aplikasi yang harus digunakan secara bersamaan. Kondisi tersebut menyebabkan duplikasi input data oleh tenaga kesehatan, menurunkan kualitas data, serta memperpanjang waktu pelayanan kepada pasien. Menurutnya, sebagian besar aplikasi dikembangkan berdasarkan kebutuhan pelaporan program atau penyakit tertentu, sehingga belum mendukung pelayanan yang terintegrasi. Tantangan serupa juga masih ditemui pada ekosistem digital BPJS Kesehatan, termasuk Mobile JKN yang saat ini masih berbasis poli dan belum sepenuhnya mendukung pendekatan layanan berbasis klaster dalam ILP. Sebagai solusi, BPJS Kesehatan bersama Kementerian Kesehatan dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tengah mendorong implementasi kebijakan “No RME, No Claim” sebagai strategi percepatan adopsi Rekam Medis Elektronik secara nasional. Dengan RME yang terintegrasi, data pelayanan diharapkan cukup dicatat satu kali dan dapat dimanfaatkan oleh berbagai pihak tanpa perlu penginputan ulang pada aplikasi lain. Selain memperkuat interoperabilitas antar sistem, BPJS juga terus mengembangkan aplikasi P-Care agar dapat dimanfaatkan oleh fasilitas kesehatan yang belum memiliki SIMPUS. Setiaji menekankan bahwa tujuan akhir transformasi digital bukan sekadar digitalisasi pencatatan, melainkan membangun ekosistem layanan kesehatan yang lebih efisien, saling terhubung, dan berorientasi pada kebutuhan pasien.
Talkshow – Inovasi Digital dari Akar Rumput: Praktik Baik Dinas Kesehatan dan Puskesmas
dr. Achmad Rheza, Sp.OG., Subsp, F.E.R – Kepala Dinas Kesehatan Kota Mojokerto, Provinsi Jawa Timur
Praktik Baik Digitalisasi Pelayanan Kesehatan di Kota Mojokerto
Achmad Rheza, Sp.OG., Subsp, F.E.R memaparkan pengalaman Kota Mojokerto dalam mengembangkan inovasi digital yang berawal dari upaya menurunkan angka kematian ibu dan bayi. Berangkat dari tantangan pelayanan kesehatan maternal dan neonatal, Pemerintah Kota Mojokerto mengembangkan aplikasi GAYATRI, sebuah sistem terpadu yang mendukung pemantauan kesehatan ibu dan bayi, pelaksanaan program triple eliminasi, hingga perluasan layanan seperti Pemeriksaan Kesehatan Gratis. Inovasi ini memungkinkan pemerintah daerah memantau kondisi kesehatan masyarakat secara lebih komprehensif dan memberikan intervensi yang lebih tepat sasaran. Selain penguatan sistem digital, keberhasilan implementasi juga didukung oleh peran kader kesehatan PRAMESWARI yang aktif melakukan pemantauan kesehatan masyarakat di tingkat komunitas. Menurutnya, komitmen kuat pemerintah daerah, koordinasi lintas sektor, serta kerja sama seluruh pemangku kepentingan menjadi faktor penting dalam keberhasilan transformasi digital di Mojokerto. Berbagai inovasi tersebut telah berkontribusi pada penurunan prevalensi stunting dan menghasilkan penghargaan berupa insentif fiskal bagi Kota Mojokerto.
dr. Carlof, M.MRS, MQM – Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat
SIAGA PRIMA KSB: Sistem Integrasi dan Akselerasi Gerakan Primer Berbasis Risiko
Carlof, M.MRS, MQM menjelaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat mengembangkan program KSB Maju Kesehatan, yaitu sistem layanan terintegrasi berbasis keluarga yang menghubungkan berbagai pelayanan kesehatan dalam satu aplikasi. Melalui Kartu KSB Maju yang dilengkapi QR Code, setiap keluarga dapat mengakses berbagai layanan kesehatan serta bantuan pembiayaan secara lebih mudah. Sistem ini juga terintegrasi dengan Tim Reaksi Cepat (TRC), sehingga setiap laporan masyarakat dapat langsung dicatat dan ditindaklanjuti melalui aplikasi. Hingga saat ini, lebih dari 22 ribu masyarakat telah memperoleh manfaat dari inovasi tersebut. Keberhasilan implementasi KSB Maju kemudian menjadi fondasi pengembangan SIAGA PRIMA, yang dibangun atas tiga pilar utama, yaitu SIAGA Layanan, SIAGA Sistem, dan SIAGA Data. Data risiko kesehatan masyarakat dikumpulkan dan divisualisasikan melalui dashboard digital yang mendukung pengambilan keputusan secara cepat. Ke depan, Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat berencana mengembangkan Command Center sebagai pusat kendali layanan berbasis data sehingga informasi risiko dapat segera diterjemahkan menjadi intervensi pelayanan kesehatan yang lebih responsif dan tepat sasaran.
Oktovina Alfrida Reba, S.ST., M.Kes – Kepala Puskesmas Arso 3, Kab. Keerom, Provinsi Papua
Melalui ILP: Memperkuat Puskesmas Melayani Masyarakat
Oktovina Alfrida Reba, S.ST., M.Kes membagikan pengalaman Puskesmas Arso 3 sebagai salah satu lokasi percontohan Implementasi Integrasi Layanan Primer (ILP) pada tahun 2022–2023. Setelah pendampingan dari Kementerian Kesehatan, penguatan kapasitas dilanjutkan melalui dukungan PATH pada tahun 2024, terutama dalam pembentukan dan pengembangan kader kesehatan. Seluruh kader memperoleh pelatihan 25 kompetensi dasar dan diformalkan melalui kerja sama dengan pemerintah kampung, sehingga mampu menjalankan fungsi pendataan, skrining kesehatan, pelayanan Posyandu, hingga kunjungan rumah secara lebih sistematis. Oktovina juga memperkenalkan penggunaan aplikasi KaderKita sebagai sarana pencatatan dan pemantauan kegiatan kader. Aplikasi tersebut terbukti membantu Puskesmas dalam mengidentifikasi kebutuhan masyarakat serta menjadi dasar penyusunan Rencana Usulan Kegiatan (RUK). Namun demikian, hingga saat ini KaderKita belum terintegrasi dengan Rekam Medis Elektronik (RME) di Puskesmas sehingga tenaga kesehatan masih menghadapi beban duplikasi pencatatan. Meski demikian, implementasi ILP telah memberikan dampak positif terhadap peningkatan capaian Standar Pelayanan Minimal (SPM), yang menjadikan Puskesmas Arso 3 sebagai salah satu Puskesmas dengan capaian terbaik di Kabupaten Keerom. Sebagai penutup, ia menyampaikan pesan inspiratif, “ILP terbang tinggi, Cenderawasih terbang rendah; berdiri sama tinggi, duduk sama rendah,” sebagai simbol semangat kolaborasi dalam mewujudkan pelayanan kesehatan primer yang inklusif.
Rohyani Tri Rahayu, SKM, MM – Kepala Puskesmas Purbalingga, Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah
Praktik Baik Digitalisasi di Puskesmas Purbalingga
Rohyani Tri Rahayu, SKM, MM membuka paparannya dengan menggambarkan tantangan digitalisasi di fasilitas pelayanan primer, di mana jumlah aplikasi yang harus digunakan bahkan melebihi jumlah pegawai yang tersedia. Untuk menjawab tantangan tersebut, Puskesmas Purbalingga bersama Dinas Kesehatan mengimplementasikan SPHERES sebagai platform yang mendukung penguatan pelayanan kesehatan masyarakat melalui pemanfaatan data secara real-time. Inisiatif ini bukan hanya meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan dalam mengelola dan menganalisis data, melainkan juga mempercepat penyebaran pengetahuan untuk mendukung perumusan kebijakan di tingkat lokal hingga nasional. Rohyani menjelaskan bahwa implementasi SPHERES didukung oleh berbagai inovasi, seperti Public Health Data Theater (PHDT), dashboard SPHERES yang menampilkan indikator-indikator kinerja utama, serta forum DOJO Shinjitsu, yaitu diskusi intelektual berbasis data untuk mengevaluasi pelayanan kesehatan dan mendorong pengambilan keputusan yang lebih objektif. Upaya peningkatan kualitas data juga dilakukan melalui sosialisasi, kalibrasi, serta monitoring pengumpulan data secara berkala. Hasilnya, kualitas data klinis meningkat dan mendukung perbaikan diagnosis hipertensi sebagai tindak lanjut program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Selain itu, pemanfaatan teknologi Optical Character Recognition (OCR) dan aplikasi KuApps turut mempercepat proses pencatatan dan pengelolaan data di Puskesmas.
Titin Sumarni, S.ST., SKM., Bdn., M.Kes – Bidan Koordinator Puskesmas Karangpawitan, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat
Praktik Baik Digitalisasi di Puskesmas Karangpawitan
Titin Sumarni, S.ST., SKM., Bdn., M.Kes memaparkan bahwa digitalisasi di Puskesmas Karangpawitan lahir dari kebutuhan untuk mengatasi berbagai hambatan operasional, seperti proses pencatatan yang masih manual, data yang tersebar dan terfragmentasi, serta kebutuhan pencetakan dokumen yang berulang. Sebagai solusi, Puskesmas mengembangkan pemanfaatan KuApps, sebuah aplikasi yang dapat digunakan baik secara daring maupun luring (offline), sehingga tetap mendukung pencatatan layanan meskipun di wilayah dengan keterbatasan jaringan internet. Penggunaan aplikasi ini juga menyederhanakan pelaporan Posyandu, sehingga kader dapat lebih fokus pada pelayanan dan interaksi langsung dengan masyarakat. Ia menjelaskan bahwa sebelum pelaksanaan Posyandu, bidan dan kader terlebih dahulu berkoordinasi untuk menetapkan sasaran pelayanan, sementara proses edukasi dan pemantauan masyarakat dilakukan melalui grup WhatsApp, termasuk untuk skrining kesehatan dan kepatuhan konsumsi obat. Digitalisasi memungkinkan data tersedia secara real-time sehingga mendukung pengambilan keputusan yang lebih cepat, baik di tingkat Posyandu maupun Puskesmas. Selain itu, pembentukan grup respons cepat untuk pemantauan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) memperkuat tindak lanjut terhadap kasus-kasus prioritas. Meskipun wilayah kerja memiliki tantangan geografis yang berat, cakupan digitalisasi telah mencapai sekitar 95% dan terbukti meningkatkan efektivitas pelayanan kesehatan di Posyandu.
Peran PKMK UGM dalam Diseminasi Hasil Riset pada Leimena Conference 2026
Pada hari ke-2, Universitas Gadjah Mada, melalui Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK-KMK UGM, turut mengambil peran strategis dalam The Leimena Conference 2026 dengan menyampaikan sejumlah paparan hasil riset dan pendampingan kebijakan kesehatan.
Shita Listya Dewi, S.IP, MM, MPP
Konsep dan Pelaksanaan Mekanisme Umpan Balik Kebijakan dalam Evaluasi Kebijakan Berbasis Bukti – Sesi Paralel Kebijakan Berbasis Bukti, Peran Riset dalam ILP
Shita Listya Dewi tampil dalam Sesi Paralel “Kebijakan Berbasis Bukti: Peran Riset dalam ILP” membawakan topik Konsep dan Pelaksanaan Mekanisme Umpan Balik Kebijakan dalam Evaluasi Kebijakan Berbasis Bukti. Paparan ini menyoroti tantangan koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah di era desentralisasi, serta menawarkan usulan mekanisme umpan balik kebijakan melalui BKPK yang melibatkan penguatan ekosistem Health System and Policy Research Institutions (HPSRI). Gagasan tersebut dikembangkan dan diinisiasi oleh Results for Development (R4D) bekerja sama dengan UGM dan Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) sebagai upaya memperkuat ekosistem riset kebijakan berbasis bukti. Inisiatif ini bertujuan membangun mekanisme yang mampu menjembatani pembelajaran dari implementasi kebijakan di daerah agar dapat diterjemahkan secara sistematis ke dalam proses perumusan kebijakan di tingkat nasional.
Dalam paparannya, Shita memaparkan hasil analisis situasi di Jawa Barat, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Barat, sekaligus memperkenalkan instrumen penilaian yang mencakup empat dimensi yakni translasi, implementasi, evaluasi, dan komunikasi kebijakan, yang saat ini tengah diujicobakan. Instrumen tersebut diharapkan dapat menjadi jembatan agar pengalaman dan masukan implementasi dari daerah mengalir secara terinstitusionalisasi ke tingkat nasional, sehingga menghasilkan kebijakan yang lebih adaptif, responsif, dan berakar pada bukti lapangan.
Muhammad Asrullah, MPH, Ph.D
Penguatan Keberlanjutan Siaga Prima Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat – Sesi Paralel Adopsi Implementasi ILP melalui dukungan Health System Insight
Muhammad Asrullah membawakan paparan Penguatan Keberlanjutan SIAGA PRIMA Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat dalam Sesi Paralel “Adopsi Implementasi ILP melalui Dukungan Health System Insight”. Paparan ini menampilkan model ekosistem “Data–Keputusan–Aksi” yang mengubah bank data (MATASIDIK) menjadi keputusan lapangan konkret melalui analisis ARRIMES, penganggaran berbasis kebutuhan PRASANA, hingga penjangkauan proaktif TRC Ambulans, selain itu Asrullah juga menekankan pentingnya keputusan kelembagaan dan anggaran agar keberlanjutan program tidak sekadar bersifat aspirasional.
Likke Prawidya Putri, MPH, Ph.D
Panelist dari Integrated Panel Discussion: Decoding Decentralization – Lessons from PHC Strengthening in NTB – Sesi Paralel Decoding Decentralization for Better Essential Health Service Delivery: Lessons from PHC Strengthening in NTB
Likke Prawidya Putri, MPH, Ph.D., berperan sebagai salah satu panelis yang memaparkan hasil evaluasi program penguatan pelayanan kesehatan primer di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dan empat kabupaten. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program berhasil meningkatkan kapasitas dalam perencanaan, tata kelola, dan pengelolaan BLUD, serta mendorong inovasi pelayanan di tingkat puskesmas. Namun, keberlanjutan implementasi memerlukan dukungan pemerintah daerah melalui regulasi, penguatan SDM, pembiayaan, dan supervisi yang berkelanjutan agar dampaknya dapat dirasakan secara merata.
Reporter:
Muhammad Asrullah & Dhea Keyle Fortunandha (PKMK FK-KMK UGM)